The Mortal Instruments: City of Bones (2013)

Hodge Starkweather: Everything you’ve heard… about monsters, about nightmares, legends whispered around campfires. All the stories are true.

Image

Directed By: Harald Zwart

Cast: Lily Collins, Jamie Campbell Bower, Robert Sheehan, Kevin Zegers, Jemima West, Lena Headey, Jared Harris, Jonathan Rhys Meyers, Stephen R. Hart, Aidan Turner, Kevin Durand, Godfrey Gao

Synopsis:

Sepengetahuan Clary (Lily Collins) hidupnya normal seperti anak- anak sebayanya. Tinggal bersama orangtua tunggalnya Jocelyn (Lena Headey) dan bersahabat dengan teman kecilnya Simon (Robert Sheehan). Hal ini berubah ketika Clary mulai bisa melihat hal- hal yang tidak dapat dilihat manusia biasa. Seperti simbol- simbol aneh dan penampakan hal- hal ghaib lainnya.

Kejadian berikutnya adalah sang ibu yang hilang diculik oleh sepasang shadowhunter (pemburu iblis) Pangborn (Kevin Durand) dan Blackwell (Robert Maillet). Untuk itu mau tidak mau Clary harus bekerja sama dengan seorang shadowhunter muda, Jace (Jamie Campbell Bower) untuk menyibak misteri masa lalunya sebelum bisa menyelamatkan sang bunda.

Review:

Image

Young Adult Fiction adalah sebuah genre dalam literatur karya seni sastra yang sudah ada lebih dari seabad. Genre yang sering disingkat YA ini memang dikhususkan bagi pembaca muda usia anak- anak sampai remaja. Biasanya memiliki karaktistik sebuah adventure dan tokoh utama yang memiliki usia tidak jauh dengan target pembaca. Karya- karya seperti The Adventures of Tom Sawyer, Alice in Wonderland, The Jungle Book, The Adventures of Huckleberry Finn, dan Oliver Twist dipercaya sebagai karya- karya awal untuk genre ini.

Pada perkembangannya di tahun 1950an genre ini mengalami penambahan plot dengan memasukan unsur romance atau sekelompok anak muda yang harus menjalani sebuah kejadian. Mungkin dari era ini yang paling terkenal saat difilmkan adalah novel karya S.E. Hilton yang berjudul The Outsiders.

Image

Di era sekarang ini orang hanya melihat sebuah karya sastra Young Adult sebagai sebuah karya cheesy yang bercerita seputar cinta monyet. Thanks to Stephanie Meyers yang sukses dengan saga Twilight- nya, publik jadi lebih mengenal novel Young Adult sebagai sebuah cerita romance anak muda yang terlibat cinta segitiga di sebuah parallel universe yang memasukkan unsur- unsur yang sering muncul di film- film yang disukai kaum pria. Sebut saja seperti zombie di Warm Bodies, manhunt di The Hunger Games, alien di The Host. Adapun ciri lainnya adalah memasukan sebuah universe menjadi sebuah petualangan yang biasanya berdurasi tahunan dari anak- anak hingga dewasa, seperti dunia sihir di Harry Potter Saga, mitologi dewa- dewi di karya- karya Rick Riordan.

Kali ini yang diangkat di saga  The Mortal Instruments adalah karakter- karakter demonsmonsters, and angels. Dengan perpaduan antara Van Helsing, game Devil May Cry, dan plot khas YA diharapkan kisah ini menjadi sebuah saga baru yang sukses di layar lebar layaknya The Twilight Saga.

Image

Pertama- tama saya bukanlah pembaca novelnya. Jadi tidak akan membandingkan film ini dengan novelnya. Saya murni akan menilai sebagai seorang penonton film yang buta sama sekali dengan segala tetek bengek universe The Mortal Instruments.

Sebagai sebuah sajian Young Adult, sebenarnya saga karya Cassandra Clare sudah memilliki kelengkapan karakteristik pendukungnya. Namun sayangnya skrip yang ditulis oleh penulis debutan Jessica Postigo sangat berantakan. Terlihat Postigo begitu terburu- buru untuk memindahkan apa yang menjadi visi Clare dalam komik menjadi versi film. Opening scene dibuka dengan adegan yang terlalu terburu- buru dan buruk. Apalagi ditambah adegan cheesy aneh yang bener- bener terlihat murahan. Menambah turun nilai film ini.

Image

Untuk adegan fighting sebenarnya cukup seru, namun digambarkan dengan kurang berbobot. Mungkin demi rating PG-13 nampak beberapa adegan yang sebenarnya bisa dibuat lebih gore dan sadis jadi setengah- setengah. Sebut saja seperti kurang ganasnya werewolf dan vampire dalam membunuh mangsanya. Atau adegan demon vaporize ketika dibunuh yang digarap dengan spesial efek asal- asalan. Namun beberapa scene saya akui cukup tegang, seperti saat Clary berhadapan dengan anjing iblis di apartemen ibunya.

Untungnya adegan- adegan eksyen tersebut diiringi dengan musik gubahan komposer Atli Orvarsson yang meskipun namanya kurang dikenal namun sudah sering ikut proyek- proyek film besar, meskipun bukan sebagai komposer utama. Sebut saja film- film seperti Man Of Steel, Iron Man, Sherlock Holmes, dan Pirates of The Carribbean: At World’s End. Thanks to him, adegan- adegan seru tersebut jadi cukup bagus untuk dinikmati.

Image

Untuk urusan akting jangan harapkan akting brilian dari jajaran cast. Bahkan aktor- aktris sekelas Jared Harris dan Lena Headey yang sepertinya tidak begitu maksimal dalam beratking. Terlebih peran Harris yang digambarkan dengan sangat tidak jelas pola pikirnya. Untuk jajaran pemeran mudanya tidak usah disebutkan. Namun setidaknya Lily Collins masih lebih cantik, lebih smart, dan aktingnya lebih bagus dibandingkan Kristen Stewart. And for this point of cast, I think all male audience will forgive the cheesiness of this movie.

Di antara para pemeran utama saya paling tidak sreg melihat penampilan Jamie Campbell Bower. Saya tidak tahu seperti apa karakter Jace di novelnya, namun untuk sebagai salah satu shadowhunter terhebat yang pernah ada penampilan fisiknya kurang mendukung. Badannya terlalu cungkring. Seharusnya untuk mempersiapkan peran ini, sang aktor seharusnya mengikuti jalan yang ditempuh Taylor Lautner. Menjalani work out mati- matian sehingga tubuhnya lebih terbentuk. Dan dari mukanya pun kurang meyakinkan untuk menjadi seorang jagoan. Bahkan penampilannya menurut saya kalah dengan penampilan Robert Sheehan yang lebih mencuri perhatian. Entah mungkin karena penampilannya yang lucu, atau karena secara fisik seperti perpaduan Jay Baruchel dan James Franco.

Image

Well, overall film ini memang jika dibandingkan dengan film- film sejenis masih tergolong cukup menghibur. Hanya saja saya berharap di sekuel, yang sedang dalam proses syuting, ditangani lebih serius dan lebih bagus lagi. Khususnya membuat adegan romance yang lebih berkelas dan adegan eksyen yang digarap lebih bagus dan seru. Niscaya akan lebih bisa menggaet penonton pria. Karena sebenarnya intrik- intrik dan twist yang ada di film ini cukup menarik.

Oh yeah, one more thing. Menyaksikan film- film Young Adult saya selalu bertanya- tanya dengan adanya sebuah ketidakadilan dunia. Mengapa jika seorang wanita yang terjebak di antara cinta 2 pria dimaklumi dan malah mendapatkan simpati. Namun ketika pria yang terjebak di antar cinta 2 wanita dianggap sebagai bajingan, playboy, penjahat kelamin, dan sebutan- sebutan buruk lainnya. Life’s not fair, is it? (dnf)

Rating:

6.5/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s