Insidious: Chapter 2 (2013)

Lady in White: Don’t you dare!

Image

Directed By: James Wan

Cast: Patrick Wilson, Rose Byrne, Barbara Hersey, Ty Simpkins, Lin Shaye, Leigh Whannell, Steve Coulter, Angus Sampson, Andrew Astor, Jocelin Donahue, Lindsay Seim, Tom Fitzpatrick, Danielle Bisutti

Synopsis:

Sehari setelah kejadian di film pertama, keluarga Lambert yang terdiri dari Josh (Jason Patrick), Renai (Rose Byrne), Dalton (Ty Simpkins), Foster (Andrew Astor), dan sang bayi, Cali harus tinggal sementara di rumah ibu Josh, Lorraine (Barbara Hersey) karena polisi sedang menyelidiki rumah kediaman mereka yang menjadi TKP pembunuhan Elise Rainier (Lin Shaye).

Di rumah ini, keluarga Lambert kembali diteror oleh kekuatan- kekuatan gaib tak kasat mata. Dari bunyi piano, mainan bayi, sampai sosok misterius yang mengikuti Josh sekembalinya dari The Futher. Untuk menghilangkan teror gaib tersebut mau tidak mau keluarga Lambert harus berurusan dengan masa lalu yang mengerikan.

Review:

Image

James Wan dan Oren Peli merupakan 2 nama insan perfilman muda yang turut memberikan sumbangsih yang cukup signifikan di industri perfilman horor. Jika Wan telah melahirkan salah satu film brilian berjudul Saw yang kelak menjadi sebuah franchise meskipun harus berganti sutradara, Peli membangkitkan kembali genre horror mockumentary lewat film fenomenalnya berjudul Paranormal Activity. Kolaborasi keduanya telah menghadirkan sebuah film yang pada tahun 2010 menjadi sebuah sleeper hit karena dengan piawainya menggabungkan elemen- elemen film horor klasik.

Dengan mengkombinasikan plot yang kerap diangkat di dalam film horor klasik: Haunted House dan Possessionfilm yang berjudul Insidious tersebut dianggap sebagai sebuah breakthrough karena mengangkat sebuah tema yang cukup unik. Yaitu Astral Projection.

Image

Penghasilan kotor domestik yang mencapai lebih dari 36 kali lipat budget produksinya, kontan membuat para produser gatel untuk membuat sekuelnya. Masih digawangi oleh Wan di kursi sutradara dan Peli sebagai produser, Insidious: Chapter 2 diharapkan mampu menyamai perolehan dan kualitas film pertamanya. Apalagi film The Conjuring yang disebut- sebut sebagai pemanasan sebelum menonton Insidious: Chapter 2 juga berhasil mendapat respon positif, baik dari penonton maupun kritikus.

Namun ternyata hasil akhirnya malah tidak sesuai dengan harapan. Entah mungkin karena film Insidious dan The Conjuring sebegitu menakutkan dan menegangkannya, atau naskah yang buruk membuat film ini malah bisa dikatakan cukup mengecewakan. Naskah yang ditulis oleh scriptwriter yang juga sohib Wan, Leigh Whannell kurang mampu membangun aura mistis maupun kengerian yang diharapkan. Cerita film ini memiliki terlalu banyak plothole yang cukup aneh, meski jika dipikirkan dengan logika film hororpun. Salah satunya adalah tema time travel yang sampai film habispun tidak diberikan penjelasan sedikitpun. Oke, meskipun di film pertamanya dijelaskan penghuni The Further adalah arwah- arwah yang terjebak dalam suatu tempat tanpa batasan ruang dan waktu, tetap saja i need some explanation about this time travel thing. Menyangkut masalah time travel ini saya sangat menyarankan untuk menonton dulu film pertamanya sebelum menonton film ini.

Image

Untungnya di tangan Wan, plot time travel tersebut ditampilkan dengan cukup cerdik sehingga bisa membuat para penonton yang sudah menonton film pertama akan berkata dalam hati “oooo jadi gitu toh ceritanya…”. Satu hal cerdik yang merupakan salah satu (jika tidak mau dibilang satu- satunya) hal yang cukup menarik dari plot cerita ini. Sebenarnya jika kita sering menonton Saw, yang juga ditulis oleh Whannell, hal semacam ini sudah sering ditampilkan di film. Di mana sebuah adegan di sekuel berinteraksi dengan adegan lainnya di prekuel.

Wan yang memang menjadi salah satu sutradara muda spesialis horor yang cukup diperhitungkan kurang begitu maksimal dalam membuat film ini. Adegan- adegan seram dan horor yang biasanya menjadi nilai jual di filmnya tidak begitu memberikan efek takut. Mahluk- mahluk astral baru, seperti Lady in White juga kurang memiliki bentukan fisik yang menyeramkan. Malah jika dibandingkan dengan Lipstick- Face Demon di film pertamanya, masih jauh lebih seram sosok hantu yang sekilas mirip Darth Maul di Star Wars franchise tersebut.

Image

Hal lain yang cukup mengecewakan adalah musik yang tidak seseram film pertamanya. Entah apa sudah kebal atau bagaimana, saya merasa musik gubahan Joseph Bishara di film ini kurang begitu bisa memberikan nyawa dan menambah efek kengerian seperti yang diharapkan. Padahal seperti kita ketahui, Bishara sebenarnya cukup piawai dalam menggubah sebuah musik yang memberikan efek depressing dan intimidating. Selain itu keputusan untuk meniadakan lagu Tip Toe Through The Tulips yang sudah terlanjur menjadi trademark franchise ini menurut saya adalah keputusan yang salah. Ini bagaikan tidak adanya kalimat “I’ll be back” di franchise Terminator atau “Yippi- Ki- Yey” di franchise Die Hard. Padahal di trailernya, lagu yang dinyanyikan Tiny Tim tersebut sempat terdengar.

Penampilan para aktor sudah cukup pas. Dan di sini Whannell bisa lebih narsis lagi dengan membawa peran komikal pelepas stress yang dibawakan oleh dirinya dan Angus Sampson diberikan porsi yang cukup banyak. Patrick Wilson dan Rose Byrne sekali lagi mampu menampilkan template horror couple dengan baik. Namun yang cukup janggal adalah tampilan (bukan penampilan) Ty Simpkins dan Andrew Astor,  yang memerankan Dalton dan Foster terlihat lebih tua. Sebenarnya bisa dimaklumi, mengingat di film jarak antara film pertama dan kedua hanya satu hari. Sementara di kehidupan nyata, perilisan film memakan jeda waktu 3 tahun. Dan usia mereka berada di masa pertumbuhan.

Image

Namun sebenarnya yang menjadi favorit saya adalah penampilan Jocelin Donahue sebagai Lorraine muda dan Lindsay Seim sebagai Elise muda. Penampilan keduanya tersebut cukup menarik, baik secara fisik maupun dari segi akting. Bahkan Seim mampu meniru Lin Shaye yang berperan sebagai Elise tua, baik dari gaya berbicara, body language, cara berjalan, dan juga suaranya.

Insidious: Chapter 2 sekali lagi menjadi satu pembuktian bahwa sekuel film horor selalu mengalami penurunan kualitas. Kita masih ingat sekuel- sekuel “yang dipaksakan” dari franchise Saw, Final Destination, dan Paranormal Activity yang memiliki kualitas jauh di bawah seri pertamanya. Malah kalau boleh saya bilang semakin kemari semakin buruk. Itulah hal yang saya takutkan dari film Insidious ini. Apalagi sehubungan dengan keputusan Wan yang tidak akan menyutradarai film horor lagi, membuat sekuel kedua Insidious yang kabarnya sudah dipersiapkan naskahnya oleh Whannell sudah pasti akan disutradarai oleh sutradara baru. Ya semoga saja The Conjuring yang juga tengah dipersiapkan sekuelnya tidak mengalami hal serupa dengan film- film yang saya sebutkan tadi. Setidaknya saya masih memimpikan sebuah franchise horor yang tidak mengalami degradasi kualitas di setiap serinya.

Image

Sebagai akhir kata, Insidious: Chapter 2 mengalami penurunan kualitas. Jika film Insidious dan The Conjuring yang berhasil membuat takut penonton dengan musik intimidating, twist, serta staging scare effects yang cukup efektif, film ini malah melempem kehilangan jati dirinya. Saya semakin setuju dengan keputusan James Wan yang menyebutkan 2 film horornya di tahun 2013 ini sebagai film horor terakhirnya, dan di ke depan dia akan menyutradarai film dengan genre berbeda dimulai dari seri ketujuh The Fast and The Furious yang akan dirilis tahun depan. Anyway, can you notice James Wan cameo in this movie? (dnf)

Rating:

7/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s