12 Years A Slave (2013)

Solomon Northup: I don’t want to survive. I want to live.

Image

Directed By: Steve McQueen

Cast: Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Paul Giamatti, Brad Pitt, Lupita Nyong’o, Paul Dano, Sarah Paulson

Synopsis:

Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) adalah seorang keturunan afro- american yang bebas dan hidup tenang di New York bersama istri dan kedua anaknya. Sampai suatu saat dia menjadi korban penculikan dan identitasnya dipalsukan menjadi Platt, budak yang kabur dari Georgia. Selama 12 tahun, Solomon harus mengabdi kepada 2 orang majikan yang berbeda. Yang pertama adalah seorang majikan baik hati bernama William Ford (Benedict Cumberbatch) yang menghargai bakat milik Solomon serta mempelakukan para budak selayaknya sesama manusia. Namun dikarenakan satu masalah yang disebabkan oleh anak buah Ford, Tibeats (Paul Dano), mau tidak mau Ford harus memberikan Solomon demi keselamatannya kepada majikan baru yang kejam dan tidak berperikemanusiaan, Edwin Epps (Michael Fassbender).

Selama menjadi budak, Solomon harus berpura- pura tidak bisa menulis dan membaca. Ini demi keselamatan dirinya. Karena bagaimanapun juga, Solomon yakin suatu hari nanti dia akan berkumpul lagi bersama keluarganya.

Review:

Image

Slavery bisa dikatakan menjadi satu catatan terburuk dalam sejarah Amerika Serikat. Sebenarnya sistem perbudakan sudah menjadi kebiasaan dari jaman baheula. Namun di Amerika Serikat sendiri efek perbudakan mengarah kepada beberapa isu- isu serta sejarah- sejarah kelam lainnya. Seperti halnya civil war, pembunuhan Abraham Lincoln, lalu perilaku rasial yang masih terasa sampai sekarang. Memang rasialisme di Amerika bukan hanya terasa antara orang bule dan negro saja. Namun memang yang paling tersorot adalah 2 ras tersebut karena merupakan 2 ras penduduk terbesar dan selain itu karena memiliki catatan gelap tentang perbudakan.

Di Hollywood sendiri, tema perbudakan sama bisa dikatakan sama halnya dengan tema NAZI. Di mana eksploitasi penderitaan korban- korban perbudakan digambarkan kurang lebih sama dengan korban- korban genocide. Tahun lalu setidaknya ada 2 film yang berlatar perbudakan yang sempat heboh di bursa Oscar; Django Unchained dan Lincoln. Tahun ini film 12 Years A Slave- lah yang mewakili tema sensitif ini.

Image

12 Years A Slave diangkat dari memoir sang tokoh utama sendiri, Solomon Northup yang menceritakan pengalaman pahitnya selama 12 tahun menjadi budak. Disutradarai oleh sutradara negro Steve McQueen yang sukses mendapat apresiasi lewat Shame dan Hunger. OOT, seriously, pertama kali saya denger nama nih sutradara saya bingung, setau saya Steve McQueen udah meninggal. Tatu- taunya cuman namanya aja yang sama dengan aktor legendaris itu.

Sebagai seorang sutradara, Steve McQueen mencoba untuk sejujur mungkin dalam menggambarkan keadaan perbudakan jaman dulu. Di mana perbudakan bukan hanya sebagai gaya hidup. Namun juga kebutuhan dalam menjalankan usaha. Seperti tergambar lewat karakter Ford yang merupakan orang baik hati, namun demi menjalankan usahanya, dia harus mempekerjakan budak. Isu rasialisme juga dibawakan dengan tidak terlalu over. Tidak seperti film- film kebanyakan yang menggambarkan orang- orang bule masih aneh melihat negro bebas berkeliaran di jalan dan menggunakan ornamen layaknya orang yang bebas, di film ini Solomon dan keluarganya bebas berkeliaran di jalan menikmati hidupnya yang bebas dan berinteraksi dengan para bule. Meskipun ada satu dua orang yang digambarkan aneh melihat keadaan ini, namun tidak terlalu over.

Image

Selain itu naskah yang disadur ulang oleh John Ridley ini menggambarkan dampak- dampak perbudakan terhadap berbagai lapisan masyarakat dengan cukup baik. Alur cerita yang ditulis tidak membosankan meskipun durasi kurang lebih 134 menit. Hasil ketikan Ridley serta arahan McQueen mampu menjaga emosi penonton dari awal sampai akhir.

Penggambaran berbagai karakter pemilik budak diwakilkan dengan sangat baik oleh Ford dan Epps. Ford yang baik hati mampu melindungi para budaknya dan tidak memperlakukan budaknya layaknya hewan peliharaan. Peran ini dibawakan dengan cukup baik oleh Benedict Cumberbatch. Mukanya yang biasa tampil “dingin” di sini bisa terlihat ramah dan memancarkan rasa kemanusiaan yang baik. Untuk karakter jahat diwakili oleh Epps yang dimainkan dengan sangat sangat sangat apik oleh sang Magneto muda, Michael Fassbender. Bisa dikatakan ini adalah performance Fassy terbaik so far. Genuine evil yang dipancarkannya sangat natural dan tidak dibuat- buat.

Image

Chiwetel Ejiofor yang biasanya hanya kebagian peran pembantu, di sini dipercaya untuk memikul peran utama, Solomon Northup. Dia memerankan seorang budak di mana pada saat itu kebebasan berbicara tidak diberikan. Ngomong ini salah, ngomong itu salah. Maka itu Chiwetel menggunakan dialog melalui body language, ekspresi wajah, serta pancaran sinar mata yang believe it or not, sangat bagus. Jika dia pintar memilih peran, tidak menutup kemungkinan beberapa tahun kemudian dia bisa mendapatkan Oscar bukan sekedar nominasi.

Namun center of emotion dari film ini adalah Lupita Nyong’o yang perannya di sini mengantarkannya meraih piala Oscar. Sebagai seorang first timer, Lupita sudah cukup berhasil memerankan budak pemuas nafsu Epps, Patsy. Dialog- dialog dan permainan emosinya cukup bagus.

Image

Pemeran- pemeran pendukung lainnya tidak kalah apik. Ada Paul Giamatti, yang meskipun hanya mendapatkan scene sedikit namun sudah cukup baik dalam memerankan Freeman, penjual budak yang tidak punya hati. Lalu ada Sarah Paulson yang memerankan istri Edwin Epps. Wajahnya yang dingin namun sadis mampu menghidupkan karakter tersebut dengan apik. Selain itu Paul Dano, yang sempat bermain keren lewat Prisoners (dan sampai sekarang saya masih heran dia tidak masuk nominasi lewat Prisoners) tampil dengan cukup baik sebagai mandor yang berselisih paham dengan Solomon.

Score yang diaransemen dengan cukup baik oleh Hans Zimmer menambah nyawa film ini. Selain itu set decoration lengkap dengan make up effect mampu menggambarkan keadaan jaman perbudakan serealistis mungkin.

Image

Secara overall, 12 Years A Slave merupakan sebuah paket lengkap yang bagus untuk menonton sebuah film bermutu. Flow cerita yang mengalir secara natural dan emosi yang tetap terjaga sampai akhir, ditambah parade akting yang bagus. Tidak heran jika para juri Oscar menasbihkan gelar Best Picture kepada film ini. (dnf)

Rating:

9/10

4 thoughts on “12 Years A Slave (2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s