300: Rise of an Empire (2014)

Themistocles: Better we show them, we chose to die on our feet, rather than live on our knees!

Image

Directed By: Noam Murro

Cast: Sullivan Stapleton, Eva Green, Lena Headey, Rodrigo Santoro

Synopsis:

Menyaksikan kematian ayahnya di tangan jenderal Yunani Themistocles (Sullivan Stapleton) dalam sebuah penyerbuan ke Yunani, ditambah hasutan jenderal perang Persia, Artemesia (Eva Green) membuat sang pangeran Xerxes (Rodrigo Santoro) menyimpan dendam dan bersumpah untuk menaklukan Yunani.

Bertahun- tahun kemudian, setelah bermandikan cairan mistis, Xerxes menjelma menjadi seorang God-King dan kembali ke Persia untuk memimpin dan mendeklarasikan perang dengan Yunani.

Themistocles yang menyadari besarnya kekuatan armada Persia di bawah kepemimpinan Artemesia, mengajak para dewan rakyat untuk bersatu dan melawan tentara Persia. Namun tidak banyak yang mendukung, termasuk Queen Gorgo (Lena Headey) dari Sparta, yang ingin bertindak netral dan hanya ingin Sparta tidak terikat baik dengan Yunani maupun Persia. Tinggallah Themistocles dan pasukannya yang menahan gempuran tentara Persia.

Namun kematian aksi heroik serta pengorbanan raja Leonidas menjadi kesempatan bagi Themistocles untuk membakar semangat patriotisme para dewan untuk mendukung rencananya agar Yunani bersatu dan melawan serangan tentara Persia.

Review:

Image

Pada tahun 2006 sebuah film yang diadaptasi dari novel grafis karangan Frank Miller dirilis. Film yang berjudul 300 itu tanpa diduga film tersebut menjadi sebuah sleeper hit yang sekarang telah masuk kategori cult. Film itu memiliki budget 65 Juta USD mendapatkan penghasilan global 456 juta USD.

Image

Bukan hanya sukses secara komersil, film ini juga berhasil melejitkan Zack Snyder dan Gerard Butler menjadi sutradara serta aktor kelas A. Film inipun menciptakan trend baru dalam penggambaran visual sebuah film yang seperti lukisan cat air. Teknik yang kemudian dipakai di film semacam Immortals. Selain itu adegan- adegan dari film ini kerap kali dipakai di film- film lain, seperti action scene tentara Sparta lari sambil membunuh musuh satu per satu.

Kesuksesan yang diraih film 300 sudah pasti akan berujung dibuatkan seri lanjutannya. Kali ini seri keduanya ini agak- agak sedikit rancu, apakah disebut sebagai sebuah sekuel ataukah prekuel. Yang jelas timeline film ini diceritakan dari sebelum awal kisah 300 dan akhir kisahnya setelah akhir kisah 300. Dengan kata lain timeline film 300 di antara keseluruhan timeline film 300: Rise of an Empire. Kisah dalam seri kedua ini diambil dari novel grafis berjudul Xerxes, yang sampai filmnya rilispun masih belum dirilis.

Image

Kali ini Zack Snyder tidak lagi duduk di bangku sutradara. Tali kemudi diberikan kepada sutradara “hijau” Noam Murro. Sebenarnya ini adalah perjudian yang riskan. Karena sepanjang karirnya, Murro baru menyutradarai 2 film, itupun satu di antaranya merupakan film pendek untuk konsumsi TV. Sementara proyek 300: Rise of an Empire ini bisa dikatakan proyek besar karena predesornya sendiri dianggap sukses dan notabene baik fans maupun non fans akan berharap banyak pada kisah keduanya ini.

Namun Snyder tidak serta merta meninggalkan begitu saja proyek pada Murro. Sutradara yang, selain Christopher Nolan, belakangan ini dianggap sebagai Joss Wheddon- nya DC, masih tetap mensupervisi.

Image

Rasa syukur masih bisa diucapkan. Mengingat dengan adanya supervisi dari Snyder, film ini masih bisa dikatakan cukup indah. Tampilan “wah” layaknya membuka lembaran komiknya masih dipertahankan. Karena memang jualan paling utama dari seri ini adalah tampilan macam itu. Ditambah dengan gimmick 3D yang menurut saya pribadi cukup efektif untuk unsur depth, meskipun dari segi pop- up masih kurang baik.

Dari segi plot sebenarnya apa yang tertuang di film ini masih merupakan pengulangan dari predesornya. Hanya saja bagaimana tim penulis naskah “memaksakan” cerita yang seharusnya habis di 300 saja ini dibuat, merupakan suatu effort yang patut diapresiasi. Cerita yang dihadirkan tidak terasa dipaksakan, malah cenderung fun untuk dinikmati.

Image

Action scene juga lebih sadis dan koreografinya lebih baik dibandingkan predesornya. Adegan- adegan perang serta taktik tempur yang digunakan juga cukup menghibur. Hanya saja masih banyak pengulangan- pengulangan adegan legendaris dari film pertamanya. Namun bagi saya pribadi, itu bisa dijadikan sebuah tribute.

Bagi para wanita dan…. ehem…. beberapa pria juga akan terhibur melihat parade otot pria- pria kekar. Dan bagi para pria, ada bonus sex scene yang sayangnya harus dipotong demi kepentingan sensor. Too bad, I will see you in the bluray format, Eva Green.

Image

Yang kurang di sini adalah pemilihan pemeran utama. Sullivan Stapleton tidak bisa menghadirkan karisma seorang pemimpin layaknya Gerard Butler. Tapi untuk melakukan adegan laga, masih tidak memalukan. Jadi bisa dikatakan, untuk menjadi seorang tentara perang, Stapleton masih pas. Namun untuk seorang jenderal perang, dia masih harus belajar banyak lagi bagaimana berakting untuk bisa menimbulkan karisma seorang pemimpin.

Berbeda dengan Eva Green. Dia tampak pas berperan sebagai Artemesia. Kombinasi antara beauty dan deadly mampu menghidupkan karakter jenderal perang yang menguasai taktik bertempur di laut serta permainan pedang ini dengan baik.

ImagePemain- pemain lain yang kembali memainkan karakternya masing- masing juga merupakan nilai plus dari film ini. Dan di antaraya saya tertarik dengan akting Rodrigo Santoro yang tampak lebih matang dibandingkan film pertamanya.

Secara keseluruhan film ini masih bisa dikatakan cukup fun. Meskipun jika dibandingkan dengan film pertamanya masih jauh di bawah. Elemen- elemen yang menjadi ciri khas film pertamanya masih dipertahankan. Snyder dan para penulis naskah juga masih menyelipkan ending yang mengarah ke pembuatan sekuel. Yang menandakan bahwa seri ini masih akan terus berlanjut. Hanya saja, harapan saya, Snyder akan mau langsung turun tangan menyutradarai film ini. Or at least, meng-hire sutradara yang lebih berpengalaman lagi. Supaya hasilnya bisa menyaingi film pertamanya. (dnf)

Rating:

7.5/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s