The Raid 2: Berandal (2014)

Bunawar: Divisi kita memang kecil. Tetapi ada alasannya kenapa kecil. Kepercayaan.

Image

Directed By: Gareth Evans

Cast: Iko Uwais, Arifin Putra, Julie Estelle, Oka Antara, Cecep Arif Rahman, Alex Abbad, Yayan Ruhian, Tio Pakusasewo, Kenichi Endo, Very Tri Yulisman, Cok Simbara, Roy Marthen, Pong Harjatmo, Ryuhei Matsuda, Kazuki Kitamura, Epy Kusnandar, Mike Luckock, Donny Alamsyah, Marsha Timothy, Dedi Sutomo

Synopsis:

Setelah berhasil keluar dari markas Bos Tama, Rama (Iko Uwais), atas anjuran kakaknya, Andi (Donny Alamsyah), langsung menemui Bunawar (Cok Simbara) yang ternyata adalah pimpinan divisi anti korupsi internal kepolisian. Bunawar menawarkan perlindungan bagi Rama dan keluarganya dengan syarat dia mau masuk ke divisi yang dipimpin dan menyamar ke organisasi Bangun (Tio Pakusadewo) untuk mengetahui nama- nama polisi korup yang terlibat dalam organisasinya.

Saat itu dunia hitam Jakarta dibagi ke dalam 2 kelompok mafia. Yang satu dipimpin oleh Bangun, dan yang satu lagi dikuasai oleh Yakuza di bawah pimpinan Goto (Kenichi Endo). Tersebutlah seorang mafia kecil yang ingin menjadi pimpinan tunggal dunia kriminal. Dia adalah Bejo (Alex Abbad). Mengetahui hal ini, Rama yang tadinya menolak, jadi menyetujui untuk bergabung ke dalam divisi Bunawar. Karena ternyata Rama memiliki dendam pribadi terhadap Bejo.

Rama-pun dijebloskan ke penjara untuk mendekati anak tunggal Bangun yang bernama Uco (Arifin Putra). Lambat laun kedekatan mereka menjadi semakin akrab, dan Rama diterima di organisasi Bangun. Selama menjalani misinya, Rama menjadi semakin bimbang. Kesetiaannya pun dipertanyakan. Apakah dia tetap menjadi seorang polisi yang menyamar, atau apakah hidupnya makin terbawa ke dunia kriminal.

Review:

Image

Terjebak dalam genre yang begitu- begitu saja, Indonesia telah diselamatkan oleh film keluaran 2011 (yang penayang di Indonesia kemudian diundur menjadi 2012) berjudul The Raid. Tanpa diduga, The Raid menjadi sebuah hits di Indonesia. Bukan hanya itu, The Raid, yang awalnya memiliki judul lokal Serbuan Maut ini telah membawa nama Indonesia ke industri perfilman dunia. Memang untuk sebuah film kelas festival, Indonesia telah memiliki judul- judul semacam Pasir Berbisik atau Nagabonar, Sang Penari, Sang Kiai, dan judul- judul lain yang sempat didaftarkan untuk masuk ke jajaran nominasi Best Foreign Language Film dalam ajang paling bergensi insan perfilman dunia. Namun untuk sebuah sajian pop corn movie baru The Raid- lah yang berhasil membuka mata dunia, bahwa Indonesia masih bisa buat film. Hingga sekarang film ini masuk ke dalam kategori cult.

Image

Kesuksesan The Raid berimbas pula bagi aktor- aktornya. Nama- nama seperti Iko Uwais dan Joe Taslim sempat menjajal bermain dalam film Hollywood. Gareth Evans juga sempat mengisi salah satu segmen film V/H/S 2. Sebenarnya kolaborasi trio Gareth- Iko- Yayan untuk sebuah film bioskop dimulai dari film Merantau yang sayangnya ketika beredar tidak banyak yang tahu. Mungkin dikarenakan banyaknya masyarakat Indonesia yang antipati dengan film Indonesia. Baru ketika The Raid sukes, film Merantau mendapat atensi tersendiri dari penonton- penonton yang pengen lihat “film pertamanya Iko“.

Image

Namun yang namanya sebuah kesuksesan bukan berarti tidak akan menemui halangan. Banyak kalangan- kalangan yang sinis menganggap The Raid bukan film Indonesia, hanya karena sutradaranya bule. Tapi anehnya mereka mengamini waktu dibilang film Brokeback Mountain dan The Sixth Sense adalah film Amerika. Mungkin mereka lupa googling kali ya untuk lihat kedua film tersebut sutradaranya orang apa.

Image

Naskah Berandal sendiri sebenarnya sudah siap dan akan difilmkan setelah Merantau. Bahkan sebuah teaser sempat dirilis. Namun dikarenakan adanya beberapa masalah, dari kompleksnya penggarapan hingga masalah pendanaan, maka tim Merantau Films memutuskan untuk membuat sebuah film lain dengan judul Serbuan Maut, yang kemudian diganti menjadi The Raid. Strategi yang dipakai adalah dengan mem-familiar-kan cerita bagi masyarakat internasional. Seperti seragam pasukan khusus dan penamaan salah satu karakter dengan menggunakan bahasa Inggris. Lalu sebelum resmi diedarkan di dalam negeri, film The Raid dimasukkan ke festival- festival luar yang Alhamdulillah mendapat respon positif di setiap penayangannya, hingga Sony Pictures Classic mau membeli hak edarnya.

Image

Dengan adanya kesuksesan The Raid, yang akhirnya diputuskan untuk menjadi sebuah trilogi dengan Berandal menjadi seri keduanya, sudah pasti akan memodifikasi sedikit naskah Berandal sehingga bisa masuk ke jalinan kisah yang telah dibangun oleh The Raid. Untuk menghindari pengulangan, Gareth Evans memutuskan untuk mengambil langkah yang pernah dilakukan oleh franchise The Fast and The Furious, yaitu merubah sedikit konsep cerita untuk menghindari kejenuhan penonton. Memang salah satu kritikan yang cukup populer dari film The Raid dulu adalah miskinnya cerita dan menonton film itu hanya seperti main game yang harus melawan musuh dari satu level ke level berikutnya sampai akhirnya harus melawan bos.

Image

Di The Raid 2: Berandal untuk menghindari kritikan yang sama, maka naskah filmpun lebih diperhatikan. Memang perbedaan yang paling mencolok dengan predesornya adalah dari segi naskah. The Raid 2: Berandal lebih memiliki cerita dibandingkan The Raid. Bagi anda yang suka dengan drama- drama kriminal, khususnya keluaran Asia pasti akan sangat akrab dengan tema yang diangkat oleh Berandal. Fokus cerita yang lebih mendalam bukan berarti The Raid 2: Berandal menjelma menjadi sebuah film yang boring. Namun malah menjadi sebuah crime drama yang menarik. Meskipun di beberapa scene masih terasa cukup dragging.

Image

Banyaknya penggunaan cast- cast, baik senior maupun pendatang baru yang sebagian besar sudah memiliki nama di Indonesia, ditambah 3 aktor Jepang, merupakan tantangan sendiri. Karena jika naskah tidak memberikan porsi yang baik bagi masing- masing mereka, pasti terasa seperti tempelan belaka. Dan meskipun nama- nama beken tersebut hanya memiliki satu- dua scene saja, namun karakteristik yang ditempelkan cukup baik dan mampu membekas di benak penonton.

Image

Penggunaan elemen drama juga menjadi tantangan tersendiri bagi aktor- aktor action yang biasanya hanya mengandalkan tinju dan tendangan saja. Iko Uwais dan Yayan Ruhian berhasil menjawab tantangan tersebut dengan baik. Iko mampu memberikan emosi yang baik untuk beberapa adegan. Sementara kang Yayan, di luar dugaan, bisa memberikan akting yang cukup menyentuh. Meski jangan disamakan dengan kualitas akting piala Citra, namun untuk ukuran aktor yang biasanya hanya berakting bak- bik- buk, apa yang ditampilkan kang Yayan di sini sudah cukup baik.

Image

Dari jajaran cast tambahan nama- nama seperti Arifin Putra dan Oka Antara. Arifin Putra, meskipun tadinya besar di dunia sinetron, namun semenjak tampil di Rumah Dara, aktingnya cukup diperhitungkan. Khususnya untuk film- film yang mengandung unsur kekerasan. Di sini Arifin mampu menampilkan karakter arogan yang memiliki daddy issues.  Oka Antara, yang baru saja tampil cukup baik lewat Killers ternyata mampu memberikan tampilan untuk karakter yang berbeda. Dan dia bisa membuktikan bahwa dia bisa juga tampil baik di action mengingat CV nya mostly untuk film drama saja. Selain itu Alex Abbad mampu memerankan karakter antagonis utama yang cukup menyebalkan. Sayangnya aktor- aktor Jepang yang dipakai hanya seperti syarat karena memiliki kerjasama dengan Jepang saja.

Image

Jika di The Raid ada Mad Dog dan machete gank yang mewakili karakter psikopat pembunuh dengan template khas tarantino-esque, di sini ada 4 karakter pembunuh baru yang masing- masing memiliki ciri khasnya masing- masing. Yayan Ruhian, untuk mengikuti petisi para fans kembali memerankan karakter baru bernama Prakoso yang uniknya memiliki unsur drama yang cukup kental. Mungkin itu juga yang membedakan kenapa hanya Prakoso saja karakter pembunuh di universe The Raid yang tidak memiliki nama panggilan. Sementara yang lainnya memiliki julukan seperti Mad Dog, Assassin, Hammer Girl, dan Baseball Bat Man. Penampilan kang Yayan di sini sepertinya terpaksa harus mengalah untuk memperkenalkan jagoan silat baru bernama Cecep Arif Rahman yang berperan cukup baik sebagai Assassin. Kang Cecep bisa membawakan karakter seorang pembunuh berdarah dingin yang minim bericara namun sadis dalam bertindak.

Image

Lalu ada pasangan kakak- adik pembunuh, Hammer Girl dan Baseball Bat Man yang diperankan oleh Julie Estelle dan Very Tri Yulisman. Dalam menghidupkan Hammer Girl, Julie telah bagus memberikan aura sadisnya. Dia bisa mengkombinasikan beauty dan deadly dengan baik. Dan meskipun tidak memiliki background fighting sama sekali, namun adegan- adegan laga yang diperankannya cukup meyakinkan. Very Tri Yulisman cukup cool menjadi Baseball Bat Man. Tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya selain kang Yayan, Very termasuk aktor yang sempat tampil di The Raid namun memerankan karakter yang berbeda.

Image

Adegan fighting dan action scene digarap lebih heboh. Jika dulu hanya melibatkan pertarungan tangan kosong, senjata api, serta senjata tajam saja, di sini Gareth coba mengesplor lebih jauh dengan melibatkan car chase. Dan aksi kejar- kejaran mobil tersebut sangat seru, bahkan bisa disejajarkan dengan film- film Hollywood. Dan siapa yang tidak naik adrenalinnya melihat adegan mud fighting yang benar- benar seru dan keren.

raid2_47

Koreografi yang kembali ditangani oleh Iko dan kang Yayan menawarkan pergumulan yang lebih sadis dan brutal. Ditambah dengan sinematografi yang memiliki tone berbeda dengan The Raid. Memang sejak film Merantau, sinematografi merupakan satu hal yang bagus namun luput dari pandangan para penonton, karena sudah tenggelam dengan aksi- aksi seru yang ditampilkan.

raid-2-berandal-img02

Namun bukan berarti film ini tidak memiliki kekurangan. Saya masih melihat beberapa plothole, seperti penggunaan salju yang sebenarnya rada aneh untuk setting-an Indonesia. Lalu beberapa plothole lainnya yang untungnya masih tertutup dengan kualitas naskah serta adegan aksi yang sangat seru.

Image

Overall, The Raid 2: Berandal merupakan sebuah action pack crime thriller yang mampu menaikkan level Indonesia, khususnya di dunia perfilman action Internasional. Saya sangat mengharapkan prestasi ini tidak hanya berhenti di geng Gareth saja. Namun juga bisa menular ke sineas- sineas lokal lainnya untuk menciptakan sajian lokal yang mampu dikonsumsi seluruh dunia. Next? Saya berharap, ketika nanti dirilis, The Raid 3 mampu mempertahankan prestasi ini. Dan jika tidak terlalu merepotkan…. spin- off Hammer Girl dan Baseball Bat Man, please… (dnf)

Rating:

9.5/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s