Godzilla (2014)

Dr. Ichiro Serizawa: The arrogance of men is thinking nature is in our control. Not the other way around.

Image

Directed By:  Gareth Edwards

Cast: Aaron Taylor- Johnson, Bryan Cranston, Ken Watanabe, Elizabeth Olsen, Juliette Binoche, Carson Bolde

Synopsis:

Sepulang dari tugasnya di medan perang, Ford Brody (Aaron Taylor- Johnson) mendapat kabar bahwa ayahnya, Joe Brody (Bryan Cranston) ditangkap pihak berwajib di Jepang. Karenanya, belum sempat Ford melepas rindu bersama istrinya, Elle Brody (Elizabeth Olsen) dan anaknya Sam (Carson Bolde), Ford harus langsung pergi ke Jepang untuk menjemput sang ayah. Joe ditangkap karena memasuki wilayah berbahaya untuk menyelidiki fenomena misterius yang pernah menyerang Jepang dan membunuh rekan- rekan kerjanya 15 tahun yang lalu.

Ternyata fenomena aneh tersebut berhubungan dengan eksistensi 2 ekor monster yang menjadikan zat radioaktif sebagai makanannya. Untung saja, ada seekor monster berwujud kadal raksasa yang disebut Gojira, yang sudah dipersiapkan oleh alam sebagai pelindung manusia dari serangan monster- monster mematikan.

Review:

Image

Godzilla (lafal internasional untuk Gojira) tidak pelak menjadi sebuah ikon budaya pop mendunia yang sangat berpengaruh bagi industri- industri hiburan. Khususnya genre kaiju. Hell, it even has its own star in the Hollywood Walk of Fame. Kaiju sendiri adalah sebuah genre film yang menampilkan monster- monster raksasa. Banyak yang menyangka bahwa genre ini berasal dari Jepang. Namun sebenarnya jauh sebelum Godzilla, Gamera, Ultraman dan kawan- kawannya dikreasikan, Hollywood telah lebih dahulu memperkenalkan monster raksasa yang menyerang kota New York di film berjudul King Kong pada tahun 1933. Bahkan jika menilik sejarah, film kaiju pertama Jepang berjudul Wasei Kingu Kongu yang didasari film King Kong dan dirilis pada tahun yang sama. Namun sayangnya, kopi film ini dinyatakan hilang.

Image

Asal- usul penciptaan Gojira it sendiri adalah ketika seorang produser bernama Tomoyuki Tanaka yang gagal membuat film berjudul Eiko Kage- In. Sebagai informasi, Eiko Kage- In rencananya akan dijadikan sebuah film kerjasama bilateral Jepang dan Indonesia yang akan syuting di tanah air sebagai wujud persahabatan kedua negara paska penjajahan pada perang dunia kedua. Namun bagaikan seorang yang habis diselingkuhin sama pacarnya, otomatis tidak akan mau langsung bermaafan dan bertemanan dalam waktu dekat. Pemerintah Indonesia yang masih sakit hati langsung membatalkan visa kru- kru film itu dan film tersebut tidak pernah jadi dibuat. Paska kegagalan tersebut, Tanaka yang kebingungan dalam menemukan ide baru untuk Toho berfikiran untuk membuat sebuah film tentang seekor monster raksasa yang muncul dari samudera Pasifik dan memporak porandakan kota Tokyo. Jadi bisa dikatakan, pemerintah Indonesia ikut andil dalam penciptaan franchise ini. Jika dulu mereka tidak membatalkan visa dan film Eiko Kage- In jadi dibuat, mungkin Tanaka tidak akan mendapatkan ide untuk film Godzilla.

Image

Sebenarnya ini bukanlah kali pertama Hollywood mengangkat franchise Godzilla ke layar lebar. Pada tahun 1956 ada film berjudul Godzilla, King of The Monsters yang merupakan rip– off langsung dari film Gojira. Egoisme bangsa Amerika terlihat jelas dengan memasukan dengan paksa aktor- aktor Hollywood ke dalam film tersebut. Hal yang sama juga dilakukan di film Godzilla 1985 yang merupakan rip off dengan menggabungka footage The Return of Godzilla (1984) produksi Toho dengan adegan- adegan tambahan. Barulah pada tahun 1998, sutradara Roland Emmerich memvisualkan Godzilla ala Hollywood. Sebenarnya dari segi seru- seruan, film ini cukup menarik dan seru. Hanya saja, paska Jurassic Park, mengilhami para penulis naskah untuk membunuh karakter Godzilla yang mirip dinosaurus sebagai karakter antagonis. Keputusan ini menjadi ajang bulan- bulanan para fans. Dan kritikan pedaspun bermunculan dari berbagai pihak. Karena seperti diketahui bahwa Godzilla merupakan karakter anti- hero yang meskipun dalam aksinya menghancurkan gedung tinggi (udah pasti kerugian milyaran Yen dan korban ratusan jiwa), tetap saja dianggap sebagai pahlawan karena memerangi monster jahat.

Image

Karenanya, merupakan sebuah pe- er yang cukup berat bagi sutradara Gareth Edwards (bukan, bukan sutradara The Raid, namanya aja yang hampir bikin rancu) untuk me-reboot film ini tanpa mengecewakan para fans aslinya. Dan untuk menghindari hal ini, produksi film dari mulai penulisan naskah sampai proses editing langsung di bawah pengawasan ketat pihak Toho. Disain karakterpun dibuat lebih setia dengan versi aslinya lengkap dengan raungan khas serta sinar radioaktif yang menjadi senjata andalannya.

Image

Akting dari jajaran cast merupakan salah satu faktor terkuat film ini. Khususnya penampilan Cranston dan Binoche yang mampu memainkan emosi penonton. Chemistry Cranston dengan Taylor- Johnson sebagai pasangan ayah- anak juga cukup baik. Tapi menurut saya pribadi ini dikarenakan kemampuan Cranston dalam membimbing arah akting Taylor- Johnson. Ibarat kata tek- tok akting yang diberikan Cranston kepada juniornya cukup baik. Ini terbukti ketika di adegan- adegan yang mengharuskan sang Kick– Ass beradu akting dengan Walter White. Elizabeth Olsen mampu membuktikan bahwa dirinya mampu menaiki anak tangga kebintangan dengan membintangi film- film besar. Paka Godzilla, tahun depan Olsen akan membintangi The Avengers: Age of Ultron sebagai saudari kembar Aaron Taylor- Johnson.

Image

Storytelling film ini tanpa disadari terpengaruh oleh gaya penceritaan Nolan yang cenderung agak berat. Ya gak usah malu mengakuinya, karena emang paska kesuksesan The Dark Knight Trilogy, banyak film- film blockbuster yang menampilan tone serius ala Nolan. Dan dengan memilih gaya Nolan-esque macam ini unsur dramapun akan otomatis lebih berat. Selain itu Max Borenstein dan David Callaham sebagai penulis naskah mampu memainkan emosi penonton dengan baik, meskipun di beberapa scene terasa cukup dragging. Adegan pertarungan para monster ditampilkan dengan metode tarik- ulur (lu kira cinta nep, pake tarik ulur?). Namun ketika adegan fighting akhirnya muncul, benar- benar seru dan jaw- breaking abis. And Godzilla’s finishing move…. it is so EPIC….

Image

Namun kekurangan dari segi naskah adalah minimnya origins Godzilla itu sendiri. Berbeda dengan origins para villain yang lebih ditail diceritakan. Asal- usul sang kadal raksasa hanya diceritakan sekilas dan terkesan “yang penting ada asal- usulnya”.

Gaya visualisasi yang berfokus pada tone- tone gelap menambah unsur Nolan-Esque film ini. Berbeda dengan Pacific Rim yang lebih cenderung bernuansa heavy metal, di sini aura desperate serta hopeless dimainkan dengan permainan warna serta asap- asap kabut yang pantas diacungi jempol.

Image

Overall, Godzilla versi baru ini merupakan sebuah homage bagi para fans dan penebusan dosa Hollywood terhadap Jepang yang sempat melakukan pembunuhan karakter terhadap sang raja monster. Efek bombastis, storytelling yang kuat, serta visualisasi yang apik merupakan perpaduan yang kuat untuk menciptakan sajian musim panas bermutu. Sekuel? Well, ending film ini memang sangat membuka pintu pembuatan sekuel terbuka lebar. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

4 thoughts on “Godzilla (2014)

  1. Dulu pas nonton film Godzilla (1998) untuk ketiga kalinya di layar televisi, aku masih menganggap film tersebut cukup spektakuler dan menghibur, tapi kemarin aku menyadari bahwa Godzilla 1998 ga da apa-apanya dibanding film ini. Ahaha..

    Banyak bgt adegan2 yg bener2 epic di film ini. Sound & visual efeknya mantep bgt, gaya visualisasinya sgt cocok & patut mendapat acungan jempol. Sudah ada dua Gareth yg berhasil memukau dgn film-filmnya yg super tahun ini.

    Semoga sequelnya kelak lebih membahas origin-nya Godzilla, karena dunia kan udah tau ada Godzilla, jadi mungkin perlu ada penelitian atau semacamnya, ahaha..
    Satu lagi, perlu ada karakter manusia yg menarik & memorable. Di film ini yg agak mending cuma si Heisenberg dan istrinya (yg aku ga tau namanya, tp inget dia pernah main di film “Bee Season” dan “The English Patient”),, itu juga cuma nongol bentar di film ini.

  2. Godzilla keren banget…itu film pertamaku di dunia..Elizabeth Olsen sama Aaron Taylor Johnson cocok 100% Coba kalo mereka beneran nikah aku dukung deh…..

  3. Semoga Godzilla yang ke 3 do tahun 2018 yang main filmnya sama Maya yang sekarang seperti:
    Ford brody( Aaron Taylor Johnson)
    Elle brody ( Elizabeth Olsen)
    Dan yang lainnya tapi yang paling terutama ford sama elle brody yang diperankan oleh Aaron Taylor sama Elizabeth Olsen ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s