Transformers: Age of Extinction (2014)

Optimus Prime: This is not war. It’s human extinction!

Image

Directed By: Michael Bay

Cast: Mark Wahlberg, Nicola Petz, Jack Reynor, Stanley Tucci, Kelsey Grammer, Titus Welliver, Sophia Myles, Bingbing Li, T.J. Miller

Synopsis:

Dengan niat ingin memusnahkan kaum Transformers dari muka bumi, demi menghindari perang robot yang banyak memakan korban jiwa dan harta, pihak pemerintah yang dipimpin oleh Direktur Black Ops CIA, Harold Attinger (Kelsey Grammer), memburu para robots in disguise, dan memusnahkan mereka, apapun risikonya. Target utamanya adalah pimpinan Autobots, Optimus Prime (Peter Cullen). Namun CIA tidak sendiri, mereka juga dibantu oleh sekelompok Transformers pemburu, yang dipimpin oleh Lockdown (Mark Ryan).

Optimus yang dalam keadaan “terluka” dalam misi penyergapan CIA, tanpa sengaja diselamatkan oleh seorang ahli robotik Cade Yeager (Mark Wahlberg). Ternyata, niat Cade, yang ingin mempelajari teknologi Transformers dengan memperbaiki Optimus berdampak buruk terhadap dirinya, anaknya; Tessa (Nicola Petz), serta pacar sang anak; Shane Dyson (Jack Reynor). Mereka menjadi incaran oknum- oknum CIA yang ternyata memiliki agenda terselubung di balik perburuan para Transformers tersebut.

Review:

Image

Hollywood memang tidak salah didapuk menjadi pusat industri film dunia. Pasalnya ide- ide yang ditawarkan dalam bentuk naskah film tidak hanya monoton dari satu sumber. Sudah bosan dengan adaptasi novel, komik, dan game, serta sempat mencoba mengadaptasi wahana permainan, Hollywood mulai melirik line mainan untuk dijadikan franchise baru di dunia film layar lebar. Toy line yang pertama sukses mempopulerkan genre ini sebuah film adalah Transformers, yang ketika dirilis pada tahun 2007 mencetak hits dan lampu hijau pembuatan sekuel pun langsung diberikan para produser. Kesuksesan film tersebut menelurkan film- film lain yang juga diadaptasi dari toy line, seperti GI. Joe dan Lego. Meskipun sebenarnya adaptasi toy line ini pernah juga dilakukan lewat film Masters of The Universe atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan “pelem He-Man” dengan bintang Dolph Lundgren.

Image

Sedikit tentang latar belakang Transformers, line mainan tersebut adalah hasil kerjasama Takara Tomy dan Hasbro yang rilis pertama kali pada tahun 1984. Sebenarnya Transformers itu sendiri adalah buah pemikiran Hasbro yang dikembangkan dari line Diaclone dan Microman produksi Takara Tomy. Sehingga tidak heran para kolektor Transformers akan sering bertanya “Transformers-nya Hasbro apa Takara?” Kesuksesan line ini menelurkan adaptasi ke dalam bentuk- bentuk media lainnya, seperti komik, film seri animasi, film lepas animasi, game, serta merchandise- merchandise lainnya. Dengan banyaknya pengembangan kisah- kisah melahirkan mini universe- mini universe baru yang mempunyai cerita, pengembangan karakter, serta fanbase tersendiri. Seperti G-1 (Generation 1), G-2 (Generation 2),Beast Wars, Animated, serta Transformers Movie.

Image

Pada masa awal kemunculan line tersebut, Hasbro dan Takara mendapatkan pesaing yang cukup kuat dari line Gobots yang diproduksi oleh Tonka. Pada awalnya Tonka menciptakan Gobots karena mengendus rencana Hasbro untuk mengembangkan produk baru dari Diaclone dan Microman produksi Takara Tomy. Dan Tonka telah mencuri start dengan merilis line tersebut pada tahn 1983, 1 tahun sebelum Transformers dirilis. Namun persaingan tersebut berhenti pada tahun 1991 ketika Tonka secara resmi diakuisisi oleh Hasbro. Dan Gobots mendapatkan pengembangan cerita terbaru dan bahkan menjadi spin- off tersendiri dari universe Transformers.

Image

Jika menilai sebuah franchise Transformers adalah efek crash, boom, bang dari pertempuran para robot. Apalagi mengingat ini adalah film Michael Bay. Jauh- jauhlah dalam mengharapkan sebuah cerita yang bagus. Karena cerita yang bagus bukanlah spesialisasi Michael Bay. Menyadari hal ini maka pada film pertamanya Bay berkolaborasi dengan 2 penulis handalan Hollywood, Roberto Orci dan Alex Kurtzman. Sehingga tidak heran film pertamanya sangat bagus, baik dari segi aksi maupun segi cerita.

Image

Namun sayang, sejak film ketiga, duo penulis handal tersebut memilih untuk meninggalkan franchise ini karena terbentuk jadwal dengan proyek lain. Dan tinggallah Ehren Kruger, yang ikut juga dalam menulis cerita film kedua, yang harus meneruskan tahta kursi scriptwriter. Padahal kemampuan menulisnya tidak sebagus duo penulis naskah film pertamanya. Dan Kruger ingin ikut- ikut mengeksplorasi cerita yang deep serta complicated. Ini juga yang terjadi di film keempatnya ini. Dengan unsur pemaksaan untuk mengikuti trend film superhero masa kini yang dark serta lebih dewasa, Kruger malah membuat film ini menjadi melempem. Padahal kemampuan Bay dalam mengolah adegan- adegan aksi sudah cukup baik. Meskipun editing masih terasa lompat- lompat dan agak kacau.

Image

Plot- plot kisah serta dilema yang dialami Transformers mejadi terasa hambar dan mengganggu. Sebenarnya jika ditulis lewat tangan yang handal, porsi drama serta pengembangan karakter tersebut bisa menjadi nilai lebih dari franchise ini. Namun segala macam persoalan serta interaksi antar karakter yang ada malah terasa seperti sinetron. Ditambah lagi dengan performa 3 bintang utamanya yang kurang pas dan terkesan sebagai tempelan saja. Wahlberg masih kurang pas sebagai seseorang yang memiliki daddy issue. Mungkin jika tidak bentrok dengan syuting Hercules dan jadi membintangi film ini, Dwayne Johnson akan tampil lebih baik. Karakter yang dibawakan oleh Nicola Peltz dan Jack Reynor terlihat sia- sia dan tidak begitu penting. Malah justru penampilan Stanley Tucci serta Kelsey Grammer, yang masing- masing memerankan Joshua Joyce dan Harold Attinger yang lebih menonjol.

Image

Penampilan Dinobots, yang memang sudah diimpi- impikan oleh para fans sejak sekuel pertama cukup bisa mengobati rasa penasaran dengan tampilan serta aksi Transformers yang bisa berubah menjadi dinosaurus tersebut. Selain itu penjelasan mengenai tidak terpakainya beberapa karakter lama dan menggunakan karakter baru masih terbilang cukup baik. Gimmick 3D yang dipakai lumayan bagus, meski terasa efektif hanya di beberapa scene saja.

Image

Dengan performa yang semakin menurun, bahkan bagi saya pribadi menganggap Age of Extinction adalah seri terburuk dari franchise robot alien ini, menambah list panjang trilogi- trilogi yang seharusnya tutup di seri ketiganya saja. Durasi yang terlampau lamapun membuat film ini sangat membosankan. Dan mengingat Age of Extinction memberikan hint akan adanya sekuel, Michael Bay harus belajar untuk mengajak scriptwriter yang lebih kompeten. Fire Kruger and re-hire Orciand Kurtzmanand you will get a better sequel. Or don’t hire Kruger but don’t let him explore any drama. Just stay focus on the Crash, the Boom, and the Bang. (dnf)

Rating:

6/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s