Exodus: Gods and Kings (2014)

Ramses: You say you didn’t cause all this. You say this is not your fault. So let’s just see who’s more effective at killing. You, your God, or me.

url

Directed By: Ridley Scott

Cast: Christian Bale, Joel Edgerton, Ben Kingsley, Sigourney Weaver, Hiam Abbas, John Turturro, Aaron Paul, Maria Valverde, Ben Medhelsohn, Isaac Andrews, Tara Fitzgerald

Synopsis:

Moses (Christian Bale) dan Ramses (Joel Edgerton) dibesarkan sebagai saudara angkat di dalam istana Pharaoh Seti (John Turturro). Semeninggal sang Firaun, Ramses langsung duduk memegang tampuk pemerintahan tertinggi kerajaan Mesir. Dan Moses sebagai penasihatnya.

Namun sebuah berita mengejutkan terdengar. Moses sebenarnya anak seorang Yahudi yang memiliki nama asli Musa. Ketika sedang terjadi pembantaian anak- anak Yahudi dulu, orang tua Musa memerintahkan kakaknya, Miriam (Tara Fitzgerald) untuk menghanyutkan Musa ke sungai yang akhirnya ditemukan oleh keluarga kerajaan, Bithia (Hiam Abbass) dan mengangkatnya menjadi anak. Sementara Miriam diangkat menjadi pengasuh Musa.

Mendengar berita ini, Ramses langsung membuang Musa ke pengasingan. Musa kemudian tinggal di perkampungan Yahudi dan menikahi Zipporah (Maria Valverde). 9 tahun dalam pengasingan, Musa mendapatkan wahyu dari Tuhan dalam bentuk seorang bocah Malak (Isaac Andrews). Tuhan memerintahkan Musa untuk kembali ke Memphis, Mesir, untuk membebaskan umat Yahudi yang sudah diperbudak selama 400 tahun.

Review:

exodus-gods-kings-cast

Mengangkat sebuah kisah epos biopik merupakan sebuah pekerjaan seni yang cukup menantang. Mulai dari kemiripan sang aktor sampai penganggalan kisah hidup mana yang diangkat akan menjadi buah bibir di kalangan pecinta film. Ditambah kemiripan kejadian dengan kejadian sebenarnya. Apalagi jika kisah tersebut sudah diketahui seluruh umat manusia, dan karakter tersebut cukup terkenal. Terlebih lagi, jika kisah epos yang diangkat cukup sensitif. Dalam arti kata terkait dengan sosok seorang Nabi, yang diakui di berbagai macam kitab agama- agama besar. Karena sudah pasti akan ada sedikit perbedaan di antara kitab- kitab tersebut. Dan akan muncul kalangan- kalangan yang cukup kritis jika kisah tersebut berbeda dengan kitab yang diimaninya.

Exodus

Masih fresh dalam ingatan kita bagaimana dulu film Noah di-banned di negara kita karena ternyata kisahnya sama sekali berbeda dengan kitab- kitab di manapun karena memang memilih pendekatan fantasi sebagai nafas utama film tersebut. Melihat hal tersebut, sudah pasti banyak kalangan, yang menganggap Exodus: Gods and Kings, akan mendapatkan perlakuan yang sama. Namun ternyata hal tersebut tidak terbukti, dan film yang mempertemukan Christian Bale dan Joel Edgerton ini bisa dinikmati di layar bioksop Indonesia.

d

Kecaman dari beberapa pihak sudah tidak mungkin lagi dibendung. Ketakutan akan melencengnya kisah Nabi tersebut, yang mungkin berbuntut kepada kesalahpahaman orang- orang dalam mengerti kisah biopik seorang Nabi, menjadi penyebab utama ketakutan beberapa pihak yang ingin menjaga agar kisah Nabi yang diyakininya untuk sama persis dengan kisah yang tertuang di kitabnya masing- masing. Berbeda dengan para moviegoer yang mungkin lebih mengerti bahwa kisah epos macam ini akan sama halnya dengan kisah- kisah biopik atau sejarah lainnya. Akan ada beberapa unsur yang dirubah demi kepentingan dramatisasi, tanpa harus merubah plot inti kisah sejarah tersebut.

exodus-moses-nun

Kisah Exodus: Gods and Kings ini mengambil plot inti perpecahan kedua anak yang tumbuh sebagai saudara yang mengarah ke dalam sebuah kisah eksodus besar- besaran yang diketahui seluruh umat manusia. Hanya sayang, naskah yang ditulis oleh Adam Cooper, Bill Collage, Jeffrey Caine, dan Steven Zaillian ini kurang kuat dan kehilangan tensi di sebagian besar adegan. Mungkin untuk sisi aksi dan adventure-nya cukup menakjubkan, namun untuk sisi dramanya terlalu dragging dan miskin dialog- dialog yang menarik. Berbeda dengan karya epik Ridley Scott, lainnya, Gladiator, yang saya rasa di banyak hal mirip dengan film ini. Di film yang melejitkan nama Russell Crowe itu, Scott mampu menjaga tensi kisah dari awal sampai habis dan menambahkan bonus- bonus dialog cerdas yang beberapa di antaranya menjadi memorable movie quotes.

Free-Exodus-Gods-and-Kings-Images

Saya mencoba untuk tidak mengkritik kemiripan kisah ini dengan apa yang tertuang di dalam kitab agama yang saya yakini. Saya hanya mencoba untuk mengulas dari kisah perjuangan Nabi Musa yang diketahui secara umum. Dan dengan cara inipun saya menemukan beberapa kekecewaan. Dalam sebuah kisah epik, apalagi yang memiliki sebuah moment yang menjadi ciri khas kisah tersebut, sudah pasti trademark moment itu menjadi satu hal yang dinanti- nantikan oleh penonton. Dalam film ini, Scott merubah sedikit trademark moment dari kisah Nabi Musa, yang bagi saya pribadi mengurangi keasyikan dalam menonton. Bahkan dalam urusan trademark moment ini saya lebih menyukai film Prince of Eqypt.

exodus_01-plague-battles-and-big-waves-in-first-exodus-gods-and-kings-trailer

Film ini sebenarnya didukung oleh jajaran cast yang kompeten. Saya mencatat ada 3 nama yang memiliki akting cukup brilian. Sebagai Musa (versi Ridley Scott), Christian Bale mampu menampilkan sosok pria yang sebenarnya masih mencari kebenaran tentang Tuhan, namun harus menjalankan tugas berat dari Tuhan untuk dirinya. Joel Edgerton cukup apik menampilkan Ramses yang cukup humanis. Dalam arti kata, di sini sosok Ramses tidak digambarkan sebagai karakter hitam belaka. Dia masih memiliki sosok seorang pria biasa- biasa saja yang mencintai keluarganya. Penontonpun dituntun untuk lebih memaklumi sifat jahat Ramses, yang menentang Tuhan. Selain itu, yang mengejutkan adalah penampilan aktor cilik Isaac Andrews, sebagai personifikasi dari suara Tuhan. Andrews mampu menampilkan akting yang cukup baik untuk ukuran aktor seumuran dirinya.

vlcsnap-2014-10-01-12h27m33s19-1024x428

Chemistry di antara kedua aktor utama juga cukup terjalin baik. Gambaran persaudaraan yang berujung kepada permusuhan mampu ditampilkan dengan apik. Bisa jadi ini dikarenakan bukan yang pertama kalianya Bale dan Edgerton menampilkan sosok brother. Sebelumnya lewat The Fighters dan Warrior masing- masing telah menampilkan akting yang over the top sebagai seorang brother.

Exodus Gods And Kings 1

Special effect serta sinematografi yang dihadirkan cukup bagus. Terlebih dalam menggambarkan 10 wabah yang menyerang Mesir. Kinerja tim spesial efek serta sinematografi cukup memuaskan dalam menggambarkan efek kengerian serta depresi yang dibawa oleh wabah- wabah tersebut. Adegan klimaks dalam menyeberangi dasar laut juga cukup breathtaking, meski menurut saya pribadi kurang begitu maksimal.

exodus-gods-kings

Overall, Exodus: Gods and Kings masih berada di bawah ekspektasi saya dari sebuah kisah epik yang bisa menggugah dan menarik. Faktor penyebab terbesarnya adalah dari segi naskah. Meskipun memiliki bakat- bakat potensial dari segi cast dan crew lainnya, namun ternyata naskah tidak mampu menyulam kisah epos dengan baik. Ditambah sebuah trademark moment yang dimodifikasi, namun malah menghilangkan ciri khas kisah Nabi Musa tersebut. Entah mengapa, dengan adanya Noah dan Exodus: Gods and Kings, saya memiliki feeling ke depannya, bakal ada lagi kisah- kisah biblical yang mengalami modifikasi sana- sini. Dan yang pastinya bakal ada pihak yang pro dan kontra. (dnf)

Rating:

7/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s