The Hobbit: The Battle of The Five Armies

Bard: Will you have peace or war?

Thorin: I will have war!

poster

Directed By: Peter Jackson

Cast: Martin Freeman, Ian McKellen, Luke Evans, Richard Armitage, Orlando Bloom, Lee Pace, Evangeline Lily, Cate Blanchett, Hugo Weaving, Benedict Cumberbatch, Manu Bennett, John Tui

Synopsis:

Melanjutkan kisah sebelumnya, naga Smaug (Benedict Cumberbatch) yang mengamuk memporakporandakan Laketown dan merenggut ratusan jiwa penduduk. Bard (Luke Evans), yang berada di dalam penjara berusaha kabur dan berhasil membunuh sang naga. Brad dan penduduk kota yang selamat berjalan menuju Lonely Mountain untuk meminta sebagian harta yang dijanjikan oleh Thorin (Richard Armitage) jika berhasil membunuh Smaug. Namun ternyata hati Thorin sudah rusak dan lebih memilih perang daripada menepati janji.

Sementara itu berita kematian Smaug tersebar ke penjuru Middle Earth. Ribuan Orcs yang dipimpin oleh Azog (Manu Bennett) berjalan menuju Lonely Mountain untuk merebutnya dari tangan Thorin. Para Elves yang dipimpin oleh Thranduil (Lee Pace) juga bersiap untuk mengambil sebuah kalung yang menjadi hak para Elves dari tangan Dwarves. Mengetahui hal ini, Azog pun mengutus tangan kanannya, Bolg (John Tui) untuk menjemput pasukan dari kerajaan kuno Gundabad.

Maka pertempuran yang melibatkan 5 armada perang: para peri, kurcaci, manusia, pasukan Orcs dan Wargs, serta pasukan elang raksasa dan binatang buas dalam mempertahankan Lonely Mountain-pun tak terelakkan.

Review:

THE HOBBIT: THE DESOLATION OF SMAUG

Memanjangkan sebuah franchise yang laris manis telah menjadi pilihan yang digemari oleh para produsen film. Yang dimaksudkan dengan memanjangkan sebuah franchise di sini bukanlah hanya menciptakan sekuel, prekuel, ataupun spin- off belaka. Namun lebih menekankan dalam membuat seri terbaru kelanjutan ataupun prekuel dari sebuah franchise yang sebenarnya sudah tutup cerita. Jika disebut sebagai trilogi, triloginya sudah tamat. Banyak alasan yang dikemukakan untuk memanjangkan franchise tersebut. Seperti karena memang sumber ceritanya masih menyediakan cerita yang baru, sang kreator sudah mempersiapkan plot cerita sebelum franchise original- nya dibuat, dan yang paling populer alasannya adalah karena ingin memuaskan/ tuntutan para fans. Padahal secara nalar kita sudah ngerti kalau pemanjangan franchise tersebut memang semata- mata karena unsur UUD (Ujung- Ujungnya Duit).

The-Hobbit-The-Battle-of-the-Five-Armies-5

Sama halnya dengan franchise The Lord of The Rings. Franchise yang awalnya dianggap bakal menjadi flop terbesar namun malah menyelamatkan New Line Cinema dari kebangkrutan tersebut memang menjadi salah satu trilogi terbaik sepanjang masa. Film yang sampai seabad ke depan tidak mungkin dibuat reboot dengan hasil kualitas yang sama bagusnya ini telah menciptakan trend baru dalam industri perfilman. Di mana para sineas berbondong- bondong untuk memfilmkan kisah petualangan dari penulis legendaris yang ber-setting di dunia fantasi penulis. Sebut saja seperti The Chronicles of Narnia dan The Golden Compass. Selain itu, franchise ini juga sukses melejitkan beberapa talent yang ikut terlibat dalam pembuatannya. Sebut saja nama- nama seperti Orlando Bloom, Elijah Wood, Andy Serkis, Viggo Mortenssen, dan sang sutradara sendiri, Peter Jackson, yang langsung mendapatkan predikat sutradara Hollywood papan atas.

lpp

Seperti kita ketahui, franchise The Lord of The Rings itu sendiri telah diperpanjang ke belakang dengan mengadaptasi novel The Hobbit menjadi sebuah trilogi baru. Berbicara mengenai ide penciptaan The Hobbit, pada awalnya Peter Jackson dihubungi untuk membuat 2 film adaptasi dari novel The Hobbit. Namun dengan beberapa pertimbangan akhirnya novel The Lord of The Rings lah yang diangkat duluan dan dijadikan 3 film. Sama dengan jumlah bukunya.

hobbit-battle-five-armies

Dengan menggamit gimmick 3D dan HFR, The Hobbit trilogy mencoba untuk menawarkan sesuatu yang baru ke dalam industri layar lebar. Bagi yang belum tau, teknologi high frame rate (HFR) adalah penggunaan lebih dari 24 frame per detik dalam sebuah film bioskop. Normalnya film bioskop menampilkan 24 frame per detik. Untuk film The Hobbit trilogy, Peter Jackson menggunakan 48 frame per detik untuk menghasilkan gambar yang lebih halus. Bagi orang yang belum terbiasa akan terasa kurang nyaman karena terasa seperti nonton film di- fast forward. Namun tidak bisa dipungkiri, penggunaan HFR itu sendiri menjadi sebuah experience yang unik bagi penonton masa kini. Terlebih memang bisa dikatakan tidak ada film bioskop apapun yang menggunakan teknologi seperti ini dalam waktu berdekatan. Namun ke depannya 2 sekuel Avatar dan film adaptasi novel Animal Farm dikabarkan akan menggunakan teknologi ini.

THE HOBBIT: THE BATTLE OF THE FIVE ARMIES

Sebagai sebuah penutup trilogi, The Battle of The Five Armies, cukup membayar 2 tahun penantian para penggemar semenjak kemunculan An Unexpected Journey. Konklusi dari petualangan yang dijalani oleh 13 kurcaci beserta seorang/ seekor/ sebuah/ seonggok(?) Hobbit ini terealisasikan dengan sebuah sajian yang cukup bagus dan epik. Meskipun jika dibandingkan dengan The Return of The King, memang masih kurang epik apalagi dari segi scene pertempuran.

jaodahldsd

Saya tidak akan mencoba membahas korelasi antara film dan buku. Dan tidak akan berkomentar “emang di bukunya begitu”, karena jika saya ikut- ikutan berkomentar seperti itu sama aja saya mengada- ngada, karena saya sendiri belum baca bukunya. Namun jika ditilik dari apa yang tersaji di filmnya, sepertinya ada beberapa hal yang bisa diangkat lebih jauh lagi. Seperti pendalaman karakter. Di sini terlihat hanya Thorin saja yang mendapatkan porsi pendalaman karakter yang cukup baik. Berbeda dengan The Lord of The Rings yang menggambarkan karakteristik masing- masing anggota The Fellowship cukup jelas. Di trilogi The Hobbit, selain Kili dan Thorin, tidak ada satu karakter kurcaci lainnya yang diberikan latar belakang karakteristik cukup dengan baik.

XXX HOBBIT-BATTLE-FIVE-ARMIES-MOV-JY-1157-.JPG A ENT

Dari segi akting terlihat Richard Armitage lebih unggul dibandingkan teman- teman cast lainnya. Memerankan Aragon-nya The Hobbit, aktor yang sekilas mirip Hugh Jackman tersebut mampu menterjemahkan keserakahan, pergulatan batin, serta sisi baik dari Thorin ke dalam bahasa akting serta gerak- gerik tubuh. Jajaran cast lainnya menampilkan akting yang cukup lumayan.

The-Hobbit-The-Battle-of-the-Five-Armies-Bilbo-Baggins-850x560

Sama halnya dengan film- film sebelumnya, sinematografi film ini patut diacungi jempol. Ditambah dengan gimmick 3D yang bukan sekedar tempelan belaka. Beberapa adegan pop up dan depth masih cukup terasa meskipun tidak bisa dikatakan sangat bagus. Scoring yang digubah oleh Howard Shore cukup memberikan nyawa tersendiri bagi film ini.

The-Hobbit-The-Battle-of-The-Five-Armies

Overall, The Battle of the Five Armies menampilkan sebuah penutup yang cukup memuaskan namun masih sebenarnya masih bisa digali di beberapa aspek. Salah satunya adalah pendalaman karakter. Tapi bagi para fans, film ini akan cukup memuaskan. Terlebih dengan adanya cameo karakter- karakter dari The Lord of The Rings trilogy, juga pengantar untuk adegan- adegan yang akan muncul di trilogi pertamanya. Penutup film yang bisa dikatakan menjadi jembatan bagi trilogi pertamanya juga bisa dibilang cukup menarik. Yang jadi pertanyaan bagi saya hanya satu. Melihat keseluruhan tiga film sepertinya judul The Dwarf akan lebih cocok daripada judul The Hobbit. Iya gak sih? (dnf)

Rating:

8.5/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s