Merry Riana (2014)

Merry Riana: Orang bilang tujuang hidup itu adalah mencapai sukses. Tapi apakah sukses itu?

merry-riana

Directed By: Hestu Saputra

Cast: Chelsea Islan, Dion Wiyoko, Kimberly Ryder, Feri Salim, Cynthya Lamusu, Ninik L. Karim, Sellen Fernandez

Synopsis:

Sama seperti kebanyakan warga keturunan Cina di Indonesia, Merry Riana (Chelsea Islam) dan keluarga menjadi incaran amukan massa pada saat terjadi demo besar- besaran yang ikut menggunlingkan kekuasaan orde baru. Namun dikarenakan kurangnya uang yang didapat, ayah Merry (Feri Salim) hanya bisa membeli 1 tiket ke Singapura untuk Merry saja. Ditambah bekal sebuah laptop dan uang seadanya.

Sebatang kara di negeri orang tanpa kenalan dan tanpa biaya yang cukup, Merry menghubungi teman sekolahnya yang berkuliah di sana, Irene Lee (Kimberly Ryder). Dan demi Merry bisa tinggal di asrama sampai kedua orangtuanya menjemput, Irene membantu Merry untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswi di kampusnya. Hanya saja, uang yang terbatas membuat Merry tidak mampu membayar biaya kuliah selama 4 tahun yang cukup tinggi. Dan untuk mengambil student loan, Merry harus menemukan seorang penjamin yang merupakan mahasiswa senior di sana. Di sinilah dia bertemu dengan Alva (Dion Wiyoko) yang juga merupakan teman Irene.

Berniat untuk membayar kuliahnya dan memperbaiki hidup, Merry kemudian berusaha untuk mencari uang dengan berbagai macam cara. Kegagalan yang datang bertubi- tubipun terpaksa harus dihadapinya. Dan semakin lama, hubungan Merry dan Alva semakin lebih dari sekedar teman biasa. Sementara itu, Irene juga memendam perasaan terhadap Alva.

Review:

daasdad

Sebuah film biopik memang jarang ditemukan di Indonesia. Padahal jika diamati, sebagian besar film yang mengangkat sepenggal kisah hidup public figure Indonesia semakin mudah ditemui di negara kita dan sebagian besar cukup mendatangkan senyum puas di wajah para produser. Sebut saja biopik Soekarno, Habibie dan Ainun, K. H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari, Romo Soegijapranata, Slank, Wolter Monginsidi, dan Tjoet Njak Dien. Ditambah beberapa yang segera akan rilis atau masih dalam tahap pengembangan, seperti Bung Hatta, Tjokroaminoto, dan petinju legendaris, Elias Piccal. Kali ini yang menjadi target pembuatan biopik adalah seorang motivator yang sedang naik daun berkat penggalan kisah hidupnya dalam menghasilkan 1 juta dollar di usia ke-26 yang ditulis di dalam buku, Merry Riana.

BrxFYkFCUAAqGMZ

Sama halnya dengan masalah yang dihadapi kebanyakan film biopik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia, adalah mencari pemain yang selain mirip dengan tampilan asli karakter, juga memiliki kemampuan akting yang menunjang. Karena biasanya, film- film biopik digarap dengan cukup serius. Bahkan di Amerika sana, sebagian besar film biopik akan difokuskan untuk ajang Oscar. Hanya saja di Hollywood, ahli make- up sudah cukup canggih dengan menggunakan bahan prostetik sehingga bisa menambahkan bagian- bagian wajah supaya mirip banget sama aslinya.

24225.75534619.592x342-trailer-terbaru-film-merry-riana-1411056

Selain faktor pemeran, pemilihan penggalan hidup mana yang akan difilmkan menjadi faktor terpenting untuk menariknya sebuah film biopik. Dan semua orang sudah tahu, pengalaman tinggal di Singapura dan bagaimana Merry struggling untuk sukses menjadi hal yang paling menarik untuk difilmkan. Hanya saja di paruh kedua film seperti kehilangan fokus. Maksudnya tagline film yang mengambil sub-judul buku Mimpi Sejuta Dollar, akan menimbulkan harapan bagaimana gambaran Merry akhirnya mendatangkan uang sejumlah sejuta dollar di usianya yang ke-26. Namun film ini ternyata terjebak dalam template sinetron negara kita. Di mana paruh kedua film malah berfokus pada hubungan asmara Merry dan Alva. Sehingga tujuan film yang memberikan inspirasi anak muda dalam menggapai sukses hanya disuguhkan dengan gambaran Merry berjuang di awal dan menghadapi beberapa kegagalan saja. Bukan pada saat dia sukses di usia ke-26 (mungkin ada sekuelnya kali ya).

chelsea-islan-merry-riana_20141223_155037

Namun terlepas dari pembelokan plot kisah tersebut, naskah yang diambil langsung dari buku biopik ini cukup bagus, untuk ukuran film Indonesia. Dalam arti kata kesinambungan kisah supaya tensi cerita tetap terjaga. Selain itu salah satu langkah cerdik diambil oleh sineas dengan merubah tahun lahir Merry dan Alva. Merry Riana yang aslinya lahir tahun 1980 dibuah menjadi tahun 1992. Hal ini memang disengaja supaya keadaan Merry kuliah bukanlah saat masa reformasi tahun 1998. Karena untuk menciptakan keadaaan tahun 1998- 2002, film ini memang memiliki kekurangan cukup banyak. Dalam hal detil keadaan. Seperti gadget yang digunakan, product placement yang memiliki kemasan baru, ataupun kendaraan yang menjadi latar belakang adegan. Dan daripada spending terlalu banyak uang untuk menyulap keadaan, memang akan lebih mudah dengan hanya merubah tahun lahir kedua karakter utama.

chelseadalam

Namun diluar tidak miripnya ketiga karakter utama dengan tampilan karakter aslinya, departemen casting cukup layak diberikan acungan jempol. Chelsea Islan, yang sekarang sedang naik daun menjadi Indonesian Sweetheart terbaru meneruskan tongkat estafet Dian Sastro, mampu berperan menjadi seorang karakter wanita cerdas yang possitive thingking dan baru saja mengetahui realita hidup. Dion Wiyoko cukup mampu berperan menjadi Alva yang baik, supportive, dan cool. Kimberly Ryder juga mampu menampilkan akting yang semakin membaik dalam memerankan template seorang best friend. Di antara keseluruhan karakter yang paling mencuri perhatian adalah bos Singapore Flyer yang saya pribadi tidak tahu nama pemerannya. Aktingnya sebagai bos banci yang gay dan lebay cukup menjadi scene stealer di setiap kemunculannya.

islaninsert5

Selain itu sama halnya dengan kebanyakan film Indonesia yang berbobot, beberapa cameo dari public figure yang cukup terkenal. Sebut saja seperti Merry Riana sendiri, Julia Perez, dan Mike Lucock yang difilm ini benar- benar mampu membaur dengan perannya sebagai bos penipu. Selian itu soundtract yang dinyanyikan oleh Marcell dan Andien cukup manis didengar di telinga.

Brw-7vjCUAAZHrH

So yes, terlepas dari berbagai macam kekurangan yang menjebak film ini ke dalam template sinetron di beberapa bagian, Merry Riana cukup menjelma menjadi sebuah sajian yang menghibur dan memberikan inspirasi (meskipun nanggung). Chelsea Islan membuktikan diri sekali lagi bahwa dia memiliki masa depan yang cukup cerah di dunia akting, asal cukup pandai dalam memilih peran. Dengan adanya film ini, saya semakin berharap ke depannya banyak lagi film- film biopik dengan kualitas yang baik dilahirkan oleh perfilman Indonesia. Dan sampai sekarang saya masih berharap ada yang mau mengangkat kisah biopik Warkop DKI atau Benyamin S. Untuk Benyamin S. bisa ditambah album soundtrack-nya berisi remake lagu- lagu sang legend yang dibawakan oleh artis- artis masa kini. It’s gonna be EPIC, man! (dnf)

Rating:

7.5/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s