The Woman in Black 2: Angel of Death (2015)

Eve Parkins: Are you sure there’s nobody else living here?

186125

Directed By: Tom Harper

Cast: Phoebe Fox, Jeremy Irvine, Helen McCrory, Oaklee Pendergast, Leanne Best, Adrian Rawlins

Synopsis:

Pada era perang dunia 2, London menjadi salah satu kota yang terkena bombardir pesawat tempur. Karenanya banyak anak- anak yang terlantar menjadi yatim piatu, atau terancam keselamatannya. Untuk menghindari hal buruk yang menimpa anak- anak didiknya, seorang guru, Eve Parkins (Phoebe Fox) dan kepala sekolah Jean Hogg (Helen McCrory) ditugasi untuk membawa anak- anak tersebut mengungsi ke kota kecil Crythin Gifford dan tinggal sementara di rumah yang sudah lama tidak dihuni, Eel Marsh House.

Tanpa disadari, di rumah tersebut tinggal arwah penasaran seorang wanita yang disebut The Woman in Black (Leanne Best) yang kerap mengincar nyawa anak- anak setelah melihat penampakannya. The Woman in Black mengincar murid yang paling dekat dengan Eve, Edward (Oaklee Pendergast).

Dengan bantuan seorang teman pilotnya, Harry Burnstow (Jeremy Irvine), Eve pun kemudian menyelidiki perihal keberadaan The Woman in Black dan menemukan kenyataan yang mengerikan sekaligus memilukan.

Review:

00723-WiB AOD-Photo Nick Wall.NEF

Masih ingat dengan film The Woman in Black yang rilis di tahun 2012? Film yang menjadi ajang pembuktian kemampuan akting Daniel Radcliffe dalam melepas imej Harry Potter tersebut sukses mendapatkan pendapatan kotor sebesar USD 127 juta untuk peredaran seluruh dunia. Kesuksesan tersebut berhasil dikarenakan aura horor yang lumayan menegangkan (meskipun seriously not scary enough for me) selain juga Radcliffe- Effect yang, seperti saya sebutkan tadi, banyaknya penonton yang penasaran dengan upaya Radcliffe melepas imej karakter yang meningkatkan statusnya di dunia hiburan tersebut.

The-Woman-in-Black-Angel-of-Death-1

Melihat keuntungan yang sudah saya sebutkan di atas tadi, tidak ada satu produserpun yang tidak tergiur melanjutkan film menjadi sebuah franchise. Syukur- syukur bisa mensejajarkan diri dengan Insidious dan The Conjuring yang digadang- gadang menjadi barometer film horor belakangan ini. Namun novel berjudul sama yang menjadi basis film The Woman in Black karangan Susan Hill tidak memiliki kisah lanjutan. Untuk itu sebuah buku novelisasi film sekuelnya dibuat dan dirilis terlebih dahulu sebelum filmnya mulai produksi di tahun 2013 dengan judul The Woman in Black: Angel of Death dengan Martyn Waites menggantikan posisi Susan Hill sebagai penulis.

The-Woman-in-Black-Angels-of-Death-2015-HD-Wallpapers

Apa yang menjadi salah satu kekuatan terbesar di film pertamanya tidak bisa dijumpai di film ini. Yaitu nama besar seorang pemain. Porsi Radcliffe di sini digantikan oleh aktris who-the-hell-is-she? Phoebe Fox. Namun selain memanfaatkan wajah ayu-sendu-klasik nya, Fox kurang bisa memanfaatkan kesempatan mengembankan aktingnya lewat peran Eve, yang di banyak adegan ini benar- benar diberikan kesempatan untuk mengembangkan karakternya. Sehingga jalinan emosi antara penonton dan Eve kurang bisa terbentuk. Terlebih penampilan Jeremy Irvine yang kesannya hanya menambah unsur eye candy semata. Justru yang cukup apik adalah penampilan aktor cilik Oaklee Pendergast dengan wajah template aktor cilik pemeran horor.

1331198118

Plot kisah yang ditulis oleh Jon Crocker terlihat kurang terarah. Dengan lebih berfokus kepada karakter protagonis utamanya, background story sang “malaikat maut” kurang begitu dieksplor lebih jauh. Mostly apa yang dikisahkan tentang sejarah The Woman in Black sudah diketahui penonton lewat film pertamanya. Eksekusi yang terlalu terburu- buru juga menjadi salah satu faktor yang membuat film ini kurang begitu berkesan.

woman-in-black-2-trailer

Scare tactics yang ditampilkan hanya mengulang film pertamanya ditambah dengan apa yang sudah sering ditampilkan di film- film sejenis. Tidak ada hal baru yang bisa membuat penonton terkejut di film ini. Sehingga greget dan efek seram yang dihadirkan oleh film ini kurang bisa terwujud. Beda dengan film pertamanya yang cukup bisa membangun atmosfir kengerian lewat psychological horror yang digunakannya.

The-Woman-in-Black-2-Angel-of-Death-Trailer

Namun upaya tim disain produksi patut diacungi jempol. Efek suram, kesendiran, dan desperate yang ditampilkan di lingkungan Eel Marsh House cukup digambarkan dengan baik. Ditambah efek kabut yang semakin membuat sunspense factor semakin terasa. Sinematografi oleh George Steel juga cukup menyelamatkan film ini, meskipun belum sampai di tingkatan excellent.

BN-GG178_black_G_20150102134318

Dan akhirnya The Woman in Black 2: Angel of Death menjadi sebuah sekuel yang biasa- biasa saja tanpa mampu menyaingi film pertamanya. Perpaduan antara akting yang standar, scare tactics yang gagal, serta plot cerita yang kurang menarik menjadikan film ini semakin melengkapi paham sequel sucks. Untung saja kekuatan sinematografi serta disain produksi cukup mampu menyelamatkan film ini dengan membawa nuansa horor yang cukup mencekam ke mata penonton. If there’s another sequel, I hope it will be directed by Justin Lin. (dnf)

Rating:

7/10

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s