Cinderella (2015)

Cinderella: They’re all seeing you

Prince Kit: Believe me. They are seeing you.

187139

Directed By: Kenneth Branagh

Cast: Lily James, Cate Blanchett, Richard Madden, Helena Bonham Carter, Nonso Anozie, Stellan Skarsgard, Sophie McShera, Holliday Grainger, Derek Jacobi, Ben Chaplin, Hayley Atwell

Synopsis:

Ella (Lily James) adalah seorang piatu, yang sepeninggal ibunya (Hayley Atwell) hanya tinggal berdua dengan sang ayah (Ben Chaplin). Ketika sang ayah memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda bernama Lady Tremaine (Cate Blanchett), otomatis Ella mempunyai ibu tiri dan 2 orang kakak tiri bernama Anastasia (Holliday Grainger) dan Drisella (Sophie McShera). Namun malang, ayahnya meninggal ketika sedang berada di luar negeri. Ella pun mau tidak mau harus tinggal bersama keluarga tirinya, yang ternyata memperlakukan Ella layaknya pembantu. Bukan hanya itu, merekapun mempunyai julukan Cinderella, atau Ella yang kotor tertutup abu.

Ketika ingin kabur dari rumah, Ella bertemu dengan Kit (Richard Madden), yang tidak diketahuinya adalah seorang pangeran. Kit yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis misterius tersebut, langsung meminta ayahnya (Derek Jacobi) untuk mengundang seluruh rakyat jelata di acara pesta dansa yang diperuntukkan untuk memperkenalkan Kit dengan putri- putri, yang akan dijodohkan dengan dirinya.

Ella, yang dilarang untuk ikut ke pesta dansa tersebut, didatangi Fairy Godmother (Helena Bonham Carter), peri pelindung yang secara ajaib memberikan segala macam kebutuhan Cinderella untuk mendatangi pesta dansa tersebut. Namun dengan syarat, bahwa dia harus keluar dari pesta dansa sebelum dentingan terakhir jam 12 malam. Ella pun mendatangi pesta dansa tersebut dan bertemu dengan Kit. Tanpa disadari ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dengan terburu- buru, Cinderella melarikan diri dari istana. Kit yang hanya menemukan sepatu kaca sang gadis misterius tersebut, memerintahkan para pengawalnya untuk mencari seorang gadis yang memiliki kaki seukuran dengan sepatu tersebut dan akan menikahinya.

Review:

CINDERELLA

Trend mengangkat kisah dongeng ke dalam format film nampaknya sudah menjadi hype terbaru di blantika industri perfilman Hollywood. Mulai dari yang memiliki twist seperti Jack and The Giant Killer, Snow White and The Huntsman, Hensel & Gretel: Witch Hunter, Maleficent, Mirror Mirror, Into The Woods atau versi modern yang ber-setting di dunia yang lebih modern seperti Sleeping Beauty, bahkan merambah ke layar kaca seperti serial Grimm, Sleepy Hollow, dan Once Upon A Time. Disney pun tidak tinggal diam, melihat pesaing- pesaingnya satu persatu menambah pundi- pundi dengan mengangkat kisah dongeng klasik ke dalam format film. Dengan mendaulat dirinya sebagai satu- satunya studio yang paling berpangalaman dan paling mengerti esensi dari sebuah kisah fairy tale, Disney pun mulai membuka perbendaharaan film- film animasinya dan mengadaptasinya satu per satu ke dalam format live action. Setelah cukup berahsil dengan Alice in Wonderland dan Maleficent, kini Disney mengincar salah satu animasi klasiknya, Cinderella.

cinderella3

Sepertinya Disney lebih mementingkan film- film dengan karakter utamanya yang masuk dalam kategori Disney Princess, pasalnya setelah Sleeping Beauty, dan Cinderella, proyek Disney berikutnya adalah adaptasi Beauty and The Beast yang diperani oleh Emma Watson dan Luke Evans. Sebagai informasi, Disney Princess adalah salah satu media franchise yang menampilkan protagonis- protagonis wanita utama yang berbentuk manusia di film- film animasi keluaran Walt Disney. Beberapa member dari Disney Princess adalah Aurora, Snow White, Cinderella, Ariel, Belle, Jasmine, Pocahontas, Mulan, Tiana, Merida, Rapunzel, Anna, dan Elsa. Meskipun Anna dan Elsa masih digunakan di merchandise Frozen yang masih laku sampai sekarang. Bisa dikatakan menjadi Disney Princess merupakan impian anak- anak perempuan, di mana anak- anak laki- laki lebih memilih menjadi superhero seperti Batman, Spider- Man, Superman, ataupun Iron Man.

CINDERELLA

Kisah Cinderella sendiri sudah dikenal selama ratusan tahun. Bahkan memiliki beragam versi dari berbagai macam negara dan kebudayaan. Dari masa Mesir kuno, Cina, Prancis, Jerman, dan negara- negara lainnya. Namun versi yang paling terkenal adalah versi gubahan Basille, Charles Perrault, dan Brothers Grimm. Nama Cinderella pun sebenarnya versi bahasa Inggris dari kisah Brothers Grimm yang berjudul asli Cendrillon. Namun bagi masyarakat modern, jelas yang paling dikenal adalah versi animasi Walt Disney yang memiliki template dasar dari kisah Perrault dan Brothers Grimm.

CINDERELLA

Pada awalnya saya agak menyangsikan kecocokan Lily James menjadi Cinderella. Menurut saya, dirinya kurang polos dan terlalu memiliki aura bad girl untuk menjadi seorang Cinderella. Saya lebih memilih Imogen Poots atau Gabriell Wilde. Namun setelah menyaksikan filmnya, saya tahu saya salah. Terlepas dari  face template-nya yang memang jauh dari kesan wanita polos dan korban bully, namun James mampu berakting dan menyesuaikan diri dengan peran yang diembannya. Bahkan menurut saya pribadi, dia mampu menyeimbangi penampilan Cate Blanchett pada saat harus beradu akting dengan aktris senior tersebut. Menyinggung nama Blanchett, peran Lady Tremaine versi dirinya merupakan suatu karakter yang menarik. Meskipun memiliki karakter yang satu dimensi, namun Blanchett tidak usah berakting sangat kejam. Hanya menggunakan gesture dan lirikan matanya, sang Lady Galadriel ini mampu menimbulkan aura kengerian serta ancaman bagi sang protagonis. Memang dari segi cast tidak ada satupun yang terasa miscast. Bahkan Helena Bonham Carter bisa membuat penonton melupakan usianya yang terlalu muda untuk berperan sebagai Fairy Godmother. Bahkan Richard Madden-pun bisa memainkan akting kharismatik sebagai seorang prince charming.

cinderella-2015-download-wallpapers_961576931

Kenneth Branagh benar- benar cukup berhasil dalam mengangkat kisah dongeng klasik ini. Visi magical world of Disney benar- benar terwakili lewat tampilan universe Cinderella. Setting nuansa fairy tale yang sangat kental memang benar- benar memanjakan mata. Transformasi kehidupan Cinderella-pun mampu ditampilkan dengan baik. Skenario yang ditulis oleh Chris Weitz bisa menjawab beberapa pertanyaan orang dewasa yang memikirkan logika kisah Cinderella. Seperti plot pada jam 12 malam semua hasil sihir Fairy Godmother hilang, tapi kenapa sepatu kacanya gak hilang. Atau kenapa ibu tiri dan saudari- saudari tirinya tidak mampu mengenali Cinderella di pesta dansa, padahal mereka berempat sudah tinggal serumah selama bertahun- tahun.

187149Sadar betul kalau naskah yang diusung sudah sangat akrab di mata penonton, dan tidak menggunakan format twist ataupun reimagining, Branagh benar- benar mensupervisi dengan teliti dan sempurna segala aspek film ini. Thanks to Production Designer, film ini serasa menghadirkan nuansa live action dari imajinasi fantasi film- film animasi yang dituangkan secara live action. Ditambah dengan permainan warna yang apik, disain kostum yang menunjang, permainan sinematografi yang mumpuni, serta score musik yang jempolan. Kesemuanya memang menjadikan film Cinderella menjadi salah satu film terbaik dari kisah dongeng klasik. Dari segi special effect- pun, permainan CGI nya tidak setengah- setengah. Terutama saat menggambarkan efek magic yang dikeluarkan oleh Fairy Godmother. Tidak salah jika film Cinderella inipun nantinya akan dicap sebagai sebuah karya klasik, dan menjadi trend setter tersendiri bagi film- film sejenis.

url

Bisa dikatakan Cinderella adalah versi live action dari film animasi Cinderella yang dirilis tahun 1950. Karena berbeda dengan Maleficent ataupun Alice in Wonderland versi Tim Burton, Cinderella memilih untuk lebih setia dengan pakem animasinya dan tanpa melakukan usaha reimagining yang akhir- akhir ini lebih digemari sineas saat mengadaptasi dongeng klasik. Dan tidak salah jika saya nobatkan Cinderella adalah salah satu film adaptasi kisah dongeng terbaik yang pernah ada (dalam versi live action). Dan satu- satunya yang bisa menyaingi cuma Maleficent, hanya saja film yang dibintangi oleh Angelina Jolie tersebut tidak terlalu setia dan lebih memilih untuk menggunakan penceritaan dari sudut pandang berbeda. Anyway, jangan film ini juga memberikan bonus sebuah film pendek yang juga merupakan sekuel dari animasi Disney yang sedang digandrungi anak- anak perempuan dan juga animasi Disney paling laku. Sebuah sekuel dari Frozen berjudul Frozen Fever. Film pendek ini juga bisa dikatakan sebagai penyemangat para fans dalam menyambut sekuel Frozen yang sedang dalam tahap pengembangan. (dnf)

Rating:

8.5/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s