Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)

Tjokroaminoto: Hijrah yang terbaik yaitu setinggi- tinggi ilmu, sepintar- pintar siasat, dan semurni- murni Tauhid

POSTER

Directed By: Garin Nugroho

Cast: Reza Rahadian, Putri Ayudya, Christine Hakim, Ibnu Jamil, Deva Mahendra, Egi Fedly, Tanta Ginting, Chelsea Islan, Maia Estianty, Didi Petet, Sujiwo Tedjo, Alex Komang, Alex Abbad, Christoffer Nelwan, Gunawan Maryanto, Unit, Ade Firman Hakim

Synospsis:

Sedari kecil, Tjokroaminoto (Christoffer Nelwan) sudah merasakan dan menjadi saksi kekejaman pemerintahan Belanda dalam memperlakukan penduduk Indonesia. Setelah dewasa, Tjokro (Reza Rahadian) mendapatkan panggilan untuk melakukan perubahan dengan mendirikan organisasi Bumiputera pertama Sarekat Islam. Sarekat Islam sendiri adalah perubahan dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H. Samanhudi untuk menampung pedagang- pedagang Islam pribumi yang menolak masuknya monopoli perdagangan oleh penjajah Belanda. Tjokro merubahnya dengan lebih memperluas cakupan organisasi dari sekedar mengurus isu sosial dan ekonomi menjadi isu politik dan agama. SI berhasil merangkul 2 juta anggota yang mencakup hampir seluruh wilayah Hindia Belanda.

Rintangan yang dihadapi bukan hanya datang dari pihak Belanda saja. Namun juga perpecahan di dalam kubu SI yang merasa langkah damai dan menghindari konflik yang diambil Tjokro tidaklah relevan dengan keadaan pada saat itu. Pecahan kubu yang dipimpin oleh Smaoen (Tanta Ginting) mau tidak mau mulai menghancurkan organisasi dari dalam.

Review:

gurubangsa

Saya pernah diwawancara oleh sebuah stasiun radio lokal akhir tahun lalu. Adapun isi wawancara tersebut adalah menggambarkan trend film Indonesia dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan. Salah satu genre yang saya sebut adalah biopik. Meskipun belum terlalu mendapatkan kemujuran dari segi penjualan tiket dibandingkan film horor sex, genre biopik mendapatkan tempat tersendiri di hati penggemar film- film bermutu. Dan kebanyakan mendapatkan apresiasi yang cukup positif dari kritikus. Sebut saja biopik- biopik dari Soegija, Habibie dan Ainun, Soekarno, Tjoet Njak Dien, dan K.H. Ahmad Dahlan. Ke depannya setidaknya ada 2 tokoh public figure lagi yang siap dibuatkan biopik layar kaca, yaitu Elias Piccal dan Bung Hatta.

mewah-dan-berkelas-jaminan-kualitas-gur-556e1c

Kesulitan dalam membuat sebuah film biopik adalah mereka ulang detil setting dan kemiripan aktor dengan karakter yang dimainkan, baik secara fisik maupun dari gesture tubuh. Guru Bangsa: Tjokroaminoto sudah cukup berhasil dalam melengkapi 2 kesulitan tersebut. Detail setting lokasi Surabaya, Ponorogo, dan Semarang, serta beberapa kota- kota di pulau Jawa lainnya di era awal tahun 1900-an telah berhasil direka ulang dengan menggunakan riset yang mendalam, baik dari saksi hidup, gambar- gambar, maupun diskusi dengan para ahli. Dalam memilih aktor yang mirip dengan titular character memang menjadi kesulitan yang biasa dihadapai dalam sebuah film biopik. Jalan keluarnya adalah dengan meng-hire aktor watak yang mampu berakting dengan brilian sehingga cukup membuat penonton tidak mempermasalahkan ketidakmiripan fisik. Reza Rahadian, yang sebelumnya berhasil dengan gemilang memainkan karakter Habibie, didaulat menjadi sang guru bangsa. Dan memang kemampuan aktingnya mampu memberikan kewibawaan tersendiri bagi pahlawan nasional yang dianggap sebagai “guru” bagi Presiden pertama kita ini.

url

Di samping Reza, ensamble cast yang lain juga patut diacungi jempol. Tanta Ginting, Ibnu Jamil, Ade Firman Hakim, Deva Mahendra, serta pendatang baru, Putri Ayudya mampu memerankan karakter- karakter bersejarah (masing- masing sebagai Smaeon, Agus Salim, Musso, Koesno/ Soekarno muda, dan Suharsikin) dengan kualitas akting di atas rata- rata. Bahkan bagi Deva Mahendra, bisa dikatakan ini merupakan ajang pembuktian kemampuan aktingnya, berbeda dengan pasangan mainnya di Tetangga Masa Gitu, Chelsea Islan yang terjebak dalam stereotype akting sinetron yang cenderung lebay. Tribute tersendiri juga patut disandangkan bagi jajaran aktor- aktris senior pemeran pembantu yang bermain sangat sempurna, seperti Didi Petet, Christine Hakim, Sujiwo Tedjo, serta mendiang Alex Komang dalam penampilan terakhirnya.

00066389

Kemasan cerita yang menggunakan metode opera panggung jawa, merupakan pilihan tepat. Kisah yang memang khas dengan budaya- budaya Jawa, baik dari bahasa, kebiasaan, celetukan- celetukan, bahkan joke- joke keseharian masyarakat Jawa yang dibawakan dengan sangat brilian oleh Unit sebagai Mbok Tun, yang menjelma menjadi salah satu scene stealer film ini. Perpaduan dengan nilai- nilai Islam juga menjadi salah satu alur penceritaan yang cukup apik. Digambarkan bahwa ada 2 nasihat Nabi Muhammad yang menjadi cambukan Tjokro dalam melakukan perubahan. Yaitu Hijrah (berpindah ke tempat yang lebih baik) dan Iqra (membaca/ belajar). Selain itu, production values lainnya yang tidak kalah penting adalah sinematografi dan departemen wardrobe.

332412_620

Namun bukan berarti Guru Bangsa: Tjokroaminoto lantas tidak memiliki kekurangan. Gaya bertutur Garin serta durasi yang kurang lebih 160 menit belum tentu bisa diterima sebagian besar masyarakat. Ditambah lagi turun- naiknya tensi cerita serta terlalu banyaknya aspek- aspek kehidupan Tjokro yang ingin diceritakan dan karakter- karakter yang dimunculkan. Sehingga penuh sesak dan banyak yang seharusnya bisa diceritakan detil namun tidak. Apalagi bagi mereka yang buta sama sekali akan sejarang Indonesia akan kesulitan untuk catch- up dengan apa yang sedang terjadi di layar. Plot cerita yang melambat di pertengahan durasi untuk malah membuat jenuh penonton.

00069047

Di balik kekurangan- kekurangan tersebut, Guru Bangsa: Tjokroaminoto merupakan sajian manis yang menggambarkan penggalan hidup seorang pahlawan nasional, dengan memorable quote yang berjibun serta punchline- punchline yang menarik. Gambaran akan situasi Hindia Belanda kala itu juga terwakilkan secara indah lewat stock photo yang ditampilkan pada opening title. Dan bisa dikatakan ini merupakan salah satu opening title film Indonesia terbaik dalam beberapa tahun ke belakang. Dan juga efek dari perjuangan Tjorko yang ditampilkan lewat stock shot pada ending title, mampu merefleksikan ketidak sia- siaan perjuangan sang guru bangsa ini. Dan untuk lebih menambah atmosfir tempo doeloe, lagu Terang Bulan yang mendayu- dayu siap mengantarkan lamunan penonton ke masa periode setting film. (dnf)

 

Rating:

8/10

One thought on “Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s