It Follows (2014)

Hugh: It could look like someone you know or it could be a stranger in a crowd. Whatever helps it get close to you.

poster

Directed By: David Robert Mitchell

Cast: Maika Monroe, Jake Weary, Lili Sepe, Olivia Luccardi, Keir Gilchrist, Daniel Zovatto

Synopsis:

Seorang remaja Jay Height (Maika Monroe), mendapatkan kutukan diikuti sesosok mahluk, yang kerap muncul dalam berbagai wujud manusia, yang mengancam jiwanya. Kutukan tersebut didapatnya setelah berhubungan sex dengan pacarnya, Hugh (Jake Weary).

Dibantu dengan adiknya, Kelly (Lili Sepe), kedua temannya, Paul (Keir Gilchrist) dan Yara (Olivia Luccardi), juga tetangganya, Greg (Daniel Zovatto), Jay mencari keberadaan Hugh yang menghilang paska insiden tersebut untuk mencari tahu bagaimana menghilangkan kutukan tersebut.

Review:

cannesitfollows

Mengkreasikan sebuah sajian horor tidak melulu memerlukan budget yang wah. Spesial effect seadanya dan jajaran cast yang tidak mahal bisa menghasilkan sebuah sajian mencekam yang bisa menakut- nakuti penonton. Sebut saja beberapa film horor belakangan ini yang mendapatkan apresiasi positif dari penonton semacam You’re Next, Insidious, V/H/S, dan Paranormal Activity yang memiliki budget tidak lebih dari 5 juta dollar. Yang terpenting adalah memanfaatkan secara maksimal elemen- elemen yang ada. Karena memang sebuah film horor tidak mengharuskan adanya efek ledakan yang wah ataupun CGI yang mahal. Justru semakin banyaknya penggunaan CGI biasanya malah menjadikan efek seramnya semakin berkurang.

kydfthg

Sama halnya dengan It Follows, yang sebelum dirilis secara luas tahun ini sudah terlebih dulu malang melintang di berbagai event festival internasional. Dan selalu mendapatkan nilai positif dari para penonton maupun kritikus. Adalah seorang sutradara muda, David Robert Mitchell, yang baru menelurkan 3 karya (termasuk film pendek), yang memutuskan untuk men-treat It Follows seperti layaknya film- film horor tahun 70-an. Mitchell lebih mengeksplorasi dari pembangunan atmosfir mencekam lewat permainan kamera dan suara.

asadq

Jika ingin dibandingkan, It Follows mirip dengan film The Shining karya Stanley Kubrick yang mampu menaikkan tensi ketegangan lewat atmosfir yang mampu membuat penonton stress sepanjang film. Memang It Follows, seperti disebutkan di atas, bisa dikatakan sebagai sebuah tribute bagi film genre horor tahun 70-an. Elemen- elemen dari era tersebut memang cukup terasa ari plot kisah, seperti teenage sex, girls in two piece, dan sedikit sajian slasher.

url

Naskah yang ditulis langsung oleh sang sutradara memberikan cukup keleluasaan bagi sang “It” menampilkan diri dengan menimbulkan efek teror yang cukup dalam. Namun tidak menyajikan dialog- dialog ataupun kesempatan pengembangan karakter. Dan thanks God, Mitchell tidak melakukan itu. Karena memang kualitas akting, adalah salah satu (atau mungkin satu- satunya) kelemahan dalam film ini. Sehingga akan amat disayangkan jika akting yang lemah harus membawakan peran yang kompleks. Mungkin hanya Maika Monroe dan Keir Gilchrist yang berakting cukup lumayan. Dan jika diperhatikan di antara absennya pengembangan karakter, hanya karakter Jay dan Paul yang berkembang (meski tidak banyak). Tidak salah jika kemudian Monroe didaulat menjadi anak Bill Pullman di sekuel Independence Day nanti.

it-follows-2015

Pergerakan kamera yang pelan, bagi dari camera movement maupun zoom mampu membantu memberikan perasaan diteror yang dirasakan tokoh di layar. Secara visual juga Mitchell mampu menciptakan universe yang bisa mereprentasikan loneliness dan depresi sang karakter dengan baik. Penggunaan warna- warna sendu memang berhasil membuat film ini benar- benar terasa seperti film 70-an. Kredit khusus patut diberikan kepada komposer Rich Vreeland yang mempunyai nama panggung Disasterpeace. Layaknya Joseph Bishara untuk Insidious dan The Conjuring, Vreeland mampu membangun atmosfir ketegangan lewat komposisi- komposisi musik dan suara yang mencekam dan disturbing.

suxfgse

Dengan treatment layaknya film indie dan atmosfir tahun 70-an, It Follows mampu menjadi sebuah sajian horor mencekam tanpa mahluk seram, yes penampakan wujud It memang jauh dari kata seram, namun bagaimana dia muncul dan elemen- elemen yang mengiringi kemunculannyalah yang menjadikannya seram. Jika masih bingung, bayangkanlah kemunculan- kemunculan hantu di film The Sixth Sense, yang tidak terlalu seram secara wujud namun cukup seram saat dimunculkan. Dan ada satu pelajaran yang bisa diambil dari film ini. Don’t do free sex. Or if you got the curse, never stop doing it. Hehe. Just Kidding. (dnf)

Rating:

8/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s