San Andreas (2015)

Lawrence Hayes: The earth will literally crack and you will feel it on the east coast.

url

Directed By: Brad Peyton

Cast: Dwayne Johnson, Alexandra Daddario, Carla Gugino, Ioan Gruffud, Paul Giamatti, Hugo Johnston- Burt, Art Parkinson, Kylie Minoque, Will Yun Lee

Synopsis:

Sebuah gempa menghantam daerah Colorado dan menghancurkan Hoover Dam. Seorang ahli, Lawrence Hayes (Paul Gimatti) memperkirakan akan adanya aktivitas tektonik di patahan San Andreas yang akan menghasilkan gempa sangat tinggi. Karena itu, dia memperingati warga pesisir pantai barat Amerika Serikat agar segera evakuasi dan menyelamatkan diri.

Seorang komandan regu penyelamat dari kesatuan pemadam kebakaran, Ray Gaines (Dwayne Johnson) berusaha menyelamatkan diri di tengah hantaman gempa bumi berkekuatan dahsyat tersebut sambil menyelamatkan istrinya, Emma (Carla Gugino) dan Blake (Alexandra Daddario).

Review:

afqeffqwe

Banyak yang salah tangkap ketika Dwayne Johnson diberitakan terlibat dalam sebuah proyek film berjudul San Andreas. Khususnya gamer yang menginginkan salah satu franchise video game terkenal untuk difilmkan, Grand Theft Auto. Karena memang salah satu seri GTA berjudul Grand Theft Auto: San Andreas. Namun sebenarnya “San Andreas” yang dimaksud bukanlah kota fiktif dalam universe game tersebut. Namun mereferensi patahan San Anderas yang membujur sepanjang 1.300 km membelah wilayah California. Patahan San Andreas terdiri dari 3 segmen yang masing- masing memiliki tingkat risiko gempa berbeda- beda. Patahan San Andreas pertama kali ditemukan oleh seorang profesor dari Berkeley University, Andrew Lawson pada tahun 1895. Nama San Andreas sendiri diambil dari Laguna De San Andreas, sebuah danau yang berada di sekitar patahan tersebut. Dipercaya bahwa patahan ini mulai terbentuk 30 juta tahun yang lalu.

urlasaaqqqdcz

Sebenarnya apa yang ditawarkan oleh Brad Peyton dalam San Andreas tidak ada yang baru. Formula yang digunakan sudah kerap kali dipakai oleh film- film disaster sejenis. Pamer CGI, sudut pandang protagonis sebagai salah satu korban yang mencari keluarganya, ahli yang meneliti tentang bencana besar tersebut, dan yang pasti balutan melodrama untuk menggambarkan dampak bencana alam yang dialami. Film- film semacam 2012, The Day After Tomorrow, Dante’s Peak, serta yang baru saja kita saksikan, Into The Storm memiliki formula yang tidak jauh berbeda. Jadi apa yang ditawarkan dalam sebuah film disaster movie baru? Selain tentunya faktor bintang utama yang harus memakai nama besar, balutan CGI juga dirasakan perlu untuk menarik minat penonton.

maxresdefault

Jika menilik dari faktor- faktor tersebut, San Andreas sudah mencukupi syarat marketing untuk dapat menutupi kebosanan penonton dengan genre yang sempat menjadi trend di tahun 90-an ini. Dwayne Johnson sendiri memiliki star factor yang mendongkrak kesuksesan sebuah film dalam tangga Box Office. Tidak salah jika dia dijuluki sebagai penyelamat franchise. Selain itu CGI dan Special Effect yang disajikan juga mendukung untuk menarik minat penonton. Adegan- adegan seperti tsumami, gempa bumi, dan adegan- adegan Emmerich-esque lainnya membuktikan film ini pantas disebut sebagai summer movie. Efek kengerian dari adanya bencana alam mampu dirasakan penonton. Terlebih lagi dipadu dengan sound editing yang mumpuni yang mengharuskan kita memilih bioskop dengan kualitas suara jempolan untuk dapat lebih menikmati film ini.

qrfaaa

Namun salah satu faktor terpenting yang bisa membuat kita relate dengan keadaan para karakter di layar adalah faktor drama. Character development serta aspek drama tidak begitu diperhatikan. Memang sih, mayoritas orang melihat special effect-nya dalam sebuah film bencana alam. Namun tidak salah jika aspek drama juga diperhatikan. Skrip yang lemah membuat kita tidak terlalu perduli dengan nasib para karakter utama di layar. Beda dengan film seperti The Impossible yang kita ikut berempati dengan nasib protagonis. Saya berkata seperti ini karena saya menganggap sebuah disaster movie terbagi menjadi 2. Satu yang fun pendekatannya kepada sisi aksi. Yang kedua pendekatannya ke sisi drama. Dan faktor keluarga serta masa lalu Ray yang gagal menyelamatkan anaknya sudah mengindikasikan film ini akan lebih menggunakan approach dramatisasi dalam mengembangkan ceritanya. Seharusnya jika memang script tidak mampu mendukung, bisa menggunakan faktor fun aksi laga ketimbang drama seperti yang dilakukan Jan De Bont dalam Twister.

san-andreas

Lalu jika menilik dari penokohan karakter, memang dibuat serealistis mungkin. Terlihat di sini karakter Ray digambarkan lebih sebagai seorang father ketimbang seorang anggota regu penyelamat. Meskipun di awal film digambarkan kehandalan Ray dalam menyelamatkan seorang gadis, namun ketika bencana alam yang menjadi inti cerita mulai hadir, terlihat tidak ada usaha Ray dalam menyelamatkan orang- orang lain. Fokusnya hanya menyelamatkan anak- istrinya. Mungkin secara realistis ini yang akan kita lakukan semua. Tidak perduli orang mau mati apa hidup pas bencana alam, gak ada usaha juga untuk mengingatkan orang ketika memilih jalan yang salah, yang penting keluarga dan orang- orang tersayang selamat. Namun untuk sebuah sajian film fiksi, hal ini kurang memberikan efek heroisme serta patriotisme protagonis utama. Seharusnya adalah satu dua adegan yang menggambarkan Ray menyelamatkan orang lain. Ada sih sepasang kakek- nenek yang diselamatkan, namun itu setelah dia mengingatkan Ray dan Emma akan bahaya di depan. Jika ditilik dari sisi heroismenya, pahlawan sesungguhnya adalah sepasang kakak- adik asal Inggris, Ben dan Ollie yang diperankan masing- masing oleh Hugo Johnston- Burt dan Art Parkinson, yang lebih memilih menyelamatkan Blake, yang baru dikenalnya ketimbang mencari orang tuanya sendiri. Secara garis besar, San Andreas berfokus hanya yang penting keluarga Gaines selamat, gak peduli orang- orang yang lain. Toh gak ditolong juga sama jagoannya.

asadq

Dari jajaran cast, hanya Johnston- Burt dan Art Parkinson yang bermain sangat cemerlang. Paul Giamatti cukup pas memerankan seorang expert yang berjasa dalam meramalkan bencana alam yang akan dialami. Dwayne Johnson yang didapuk untuk meningkatkan perolehan box office murni hanya bertindak sebagai peningkat box office. Carla Gugino juga cukuplah sebagai love interest Ray. Mungkin dari “keluarga” Gaines, hanya Alexandra Daddario yang sempat bermain dalam True Detective yang sangat baik memainkan perannya sebagai damsel in distress. (Anyway, kalo ngomongin Daddario kenapa gue ingetnya True Detective ya? Khususnya Season 1 episode 2 ya?)

aqqqsa

Jika anda menilai sebuah film disaster movie secara stereotype harus memiliki tampilan visual yang heboh, film ini sudah cukup memuaskan anda. Untuk usaha pertamanya keluar dari zona aman, Brad Peyton, yang lebih berpengalaman menangani film keluarga, bisa dibilang lumayanlah dalam menghadirkan sebuah film bencana alam. Kesalahan terbesar ada pada Carlton Cuse yang meracik naskah dari hasil buah pemikiran Andre Fabrizio dan Jeremy Passmore. Seperti saya bilang tadi di atas, pendekatan “nilai keluarga” yang diemban tidak dibarengi dengan aspek drama yang menunjang. Sehingga terlihat seperti kehilangan arah. So, jika bukan karena spesial efek yang bagus, San Andreas sudah menjadi sebuah disaster. And such disaster is because of Carton Cuse’s fault. (dnf)

Rating:

7/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s