Insidious: Chapter 3 (2015)

Elise Rainier: You have to be very careful. If you call out to one of the dead all of them can hear you. Insidious3_Tsr_1Sht_FM22.jpg-720x1066 Directed By: Leigh Whannell Cast: Stefani Scott, Lin Shaye, Dermot Mulroney, Leigh Whannell, Angus Sampson, Tate Berney, Michael Reid MacKay, Tom Fitzpatrick, Hayley Kiyoko Synopsis: Quinn Brenner (Stefanie Scott) mendatangi seorang cenayang bernama Elise Rainier (Lin Shaye). Quinn yang baru 1.5 ditinggal mati ibunya merasakan sang mendiang ibu mencoba berkomunikasi dengannya, sehingga dia meminta bantuan Elise untuk membantunya berkomunikasi. Namun Elise yang memiliki trauma dengan masa lalunya, sehingga tidak ingin berhubungan dengan dunia arwah lagi terpaksa menolak permintaan Quinn. Namun Quinn tetap mencoba berkomunikasi dengan sang ibu seorang diri. Semenjak saat itu, Quinn merasakan kehadiran sosok menyeramkan yang mengancam nyawanya. Elise yang merasa bertanggung jawab dengan keadaan Quinn, mau tidak mau harus menghadapi hantu dari masa lalunya untuk kembali masuk ke alam gaib demi menyelamatkan Quinn. Review: 3S7C1741.CR2 Jauh sebelum menjamurnya franchise yang mewajibkan sebuah film laris dibuatkan seri, film bergenre horor sudah lebih dulu melakukan praktik macam ini. Coba saja hitung berapa seri judul film semacam Halloween, Friday the 13th, A Nightmare on Elm Street, Child’s Play, dan Texas Chainsaw Massacre. Jadi tidak heran, di era modern, film- film horor yang mendapatkan tempat di hati penonton langsung dibuatkan sekuelnya. Bahkan tidak sedikit yang mengeluarkan seri tiap tahun, seperti Saw dan Paranormal Activity. Mungkin untuk penggemar film horor, ini adalah mimpi manis karena bisa ditakut- takuti di dalam biosko. Namun tidak sedikit juga yang merasa jengah dan malahan dengan semakin banyaknya seri membuat greget terhadap film tersebut semakin berkurang. Hal yang sama juga coba ditirukan oleh Insidious dan The Conjuring. 2 film yang menasbihkan nama seorang James Wan menjadi master of horror baru di abad millenium. IL1A2449.CR2 Bagi James Wan tidak masalah seri Insidious dan The Conjuring mau diteruskan atau tidak. Toh, dengan kesuksesan 2 film tersebut tawaran penyutradaraan sudah berdatangan. Namun bagi Leigh Whannell meneruskan seri Insidious adalah fardhu ‘ain hukumnya, alias wajib banget. Karena bisa dikatakan hanya lewat film inilah namanya dikenal masyarakat. Bertindak sebagai penulis, pencetus ide, sekaligus pemain dalam ketiga filmnya adalah pencapaian terbaik sepanjang karirnya. Kontan saja, demi menggembungkan saldo tabungan, dia harus meneruskan film ini. Mumpung hype masyarakat masih cukup tinggi dan belum bosan. Taktik yang digunakannya adalah merubah fokus cerita menjadikan karakter Elise Rainier sebagai breakthorugh character (karakter yang aslinya hanya sebagai pemeran pembantu namun memiliki porsi lebih besar, atau malah dijadikan tokoh utama di seri berikutnya). Semua orang yang nonton dari seri pertama tahu jika fokus awal kisah film pertamanya adalah keluarga Lambert, sementara Elise, Tucker, dan Specs hanya berperan sebagai tim pengusir hantu yang membantu mereka. Namun di ending film kedua sudah memberikan bocoran bahwa fokus franchise jadi berubah dengan menceritakan sepak terjang para pemburu hantu tersebut. INSIDIOUSCHAPTER3TRAILFEAT Jika berbicara masalah origins, Leigh Whannell sebenarnya sudah cukup rapi memberikan background story dari kejadian dari film sebelumnya. Kita mengingat bagaimana dengan cerdasnya Whannell menyambungkan pengalaman saat Josh Lambert berada di The Further pada seri kedua dengan yang dialaminya di dunia nyata pada seri pertama. Meskipun elemen time travel di film kedua tersebut agak- agak bikin ilfeel. Di installment ketiganya ini, Whannell juga cukup memberikan akar yang bagus dan rapi dalam menceritakan awal mula dari keseluruhan kisah. Bagaimana hubungan antara Elise dan The Black Bride yang bagaikan Batman dan The Joker, awal mula munculnya istilah “The Further”, dan awal mula pertemuan Elise dengan Tucker dan Specs bernar- benar dikemas secara mulus dan enak untuk diikuti. Whannell juga masih cukup bagus membangun tensi ketegangan dengan secara taktis menampilkan jump scare moments dengan efektif. Meskipun masih terlihat gaya Wan yang membuat saya yakin, sutradara Furious 7 tersebut masih memiliki andil di dalam mengarahkan film ini. Bisa jadi sebagai advisor dalam debut penyutradaraan sahabat baiknya ini. InsidiousRedDoorSlide1 Hanya saja, sebagaimana masterpiece film- film horor lainnya, tidak ada hal baru yang ditawarkan dari film ini. Ide- ide fresh yang menjadikan film pertamanya sukses luar biasa seakan hanya diulang di film- film berikutnya. Penggambaran The Further-nya pun sudah tidak seseram dulu. Mungkin karena sudah installment ketiga, jadi efek kengerian sudah tidak didapat lagi. Begitu juga dengan penampakan hantu yang sudah tidak semisterius dan semenakutkan seri pertamanya. Ketakutan masih dihadirkan lewat sentuhan musik, yang kali ini masih ditangani oleh Joseph Bishara. Namun sekali lagi, Bishara seperti mengalami penurunan kualitas. Kita masih ingat bagaimana di seri pertama Insidious dan The Conjuring, musik sangat berperan penting. Sound- sound yang sangat depressing serta intimidating membuat penonton merasakan ketegangan sekaligus kengerian melihat adegan di layar. Di seri ketiganya ini tidak banyak ditemukan sound- sound yang menjadi ciri khas tersebut. IL1A5544.CR2 Stefani Scott memberikan akting yang cukup baik. Ekspresi wajah mampu memadukan antara kepolosan serta keputusasaan. Aktor yang dulunya sempat diprediksikan akan menjadi bintang besar dan disebut- sebut mirip dengan Robert Downey Jr., Dermot Mulroney bermain sangat biasa sekali. Kredit terbesar masih diberikan kepada trio Lin Shaye- Leigh Whannell- Angus Sampson. Lin Shaye mampu menampilkan akting yang memukau dalam menunjukkan transformasi dari awalnya yang agak kurang pede dengan kemampuannya, menjadi pribadi yang ceria di ending. Dan sekali lagi Whannell dan Sampson mampu memberikan faktor komikal yang membuat tensi ketegangan menjadi agak tenang melihat penampilan bodoh, lucu, sekaligus kocak mereka. The Man Who Can’t Breathe yang diperankan oleh Michael Reid MacKay tidak seseram The Black Bride. Maksudnya dari tampilan fisiknya. Malah sekilas mirip Lord Voldemort. insidious3thumb-1426707112443_1280w Insidious: Chapter 3 bisa dikatakan memiliki peningkatan intensitas ketegangan dan kengerian dibandingkan film keduanya. Namun masih jauh di bawah film pertamanya. Tapi jika kita melihat dari segi cerita, bagiaman Whannell membangun sebuah saga franchise masih patut diacungkan jempol. Satu hal yang membuat film ini tidak begitu seram adalah royalnya menampilkan adegan- adegan seram di dalam trailer. Satu hal yang menjadi kesalahan dari film The Conjuring dan Insidious: Chapter 2. Sehingga bagi para trailer hunter sudah tidak begitu mengagetkan lagi. Mudah- mudahan nanti jika dibuatkan sekuelnya lagi, kesalahan ini bisa dijadikan pelajaran, sehingga tidak terlalu banyak mengumbar adegan seram di trailer-nya. Sekuel? Well, ending film ini masih mengisyaratkan adanya sekuel lagi. Jangan lupakan cameo James Wan di film ini. So, into the Further we go. (dnf) Rating: 7.5/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s