SPL 2: A Time For Consequences (2015)

SPL2_Poster_Blue Red_outlined

Directed By: Cheang Pou-soi

Cast: Tony Jaa, Wu Jing, Simon Yam, Zhang Jin, Louis Koo, Jun Kung, Unda Kunteera Ydorchanng

Synopsis:

Chan Chi-kit (Wu Jing) adalah seorang polisi yang menyamar ke tubuh sindikat penculikan dan penjualan organ manusia ilegal yang dipimpin oleh Mr. Hung (Louis Koo). Dalam sebuah misi penculikan adik Mr. Hung, Hung Man-piu (Jun Kung) yang akan “diambil paksa” jantungnya demi kelangsungan hidup sang kakak, Kit terbongkar identitasnya sebagai seorang polisi. Setelah penyamarannya terkuak, Hung mengirim Kit ke sebuah penjara di Thailand yang dipimpin oleh kepala sipir kejam Ko Chun (Zhang Jin), yang ternyata merupakan rekan bisnis dari Hung.

Chan bertemu dengan salah seorang sipir penjara, Chatchhai (Tony Jaa) yang sedang mencari donor sumsum tulang belakang untuk anaknya yang terkenal leukimia. Chan Kwok- wah (Simon Yam), yang merupakan paman sekaligus atasan Kit, mencari keberadaan Kit sampai akhirnya mengunjungi penjara tersebut. Namun permasalahan yang dihadapi oleh Kit dan Wah tidaklah sulit karena mereka terjebak semakin jauh ke dalam sindikat tersebut yang bisa menghilangkan nyawa mereka. Bukan tidak mungkin, mereka akan menjadi “donor” paksa bagi sindikat mereka.

Review:

SPL2_thai_20140806-12-1

Bagi para penggemar perfilman Hong Kong, khususnya genre action, pasti tidak asing dengan sebuah film berjudul SPL (Sha Po Lang), yang rilis tahun 2005 dan memiliki judul peredaran internasional, Killzone. Film tersebut mendapatkan sambutan cukup baik dengan menggabungkan aksi drama kepolisian dengan genre martial arts yang diwakilkan oleh Donnie Yen, Sammo Hung, dan Wu Jing. Terlebih lagi, bisa dikatakan film tersebut adalah salah satu film terbaik Donnie Yen sepanjang karirnya dan ikut mengangkat namanya di industri perfilman Hong Kong. Isu- isu mengenai sekuelnya sudah banyak dihembuskan. Naskahpun sudah dipersiapkan. Namun akhirnya dijadikan film yang tidak berhubungan berjudul Fatal Move, yang juga diperankan oleh Sammo Hung, Simon Yam, dan Wu Jing. Setelah itu, isu lain tentang pembuatan SPL 2: Rise of Wong Po kembali terdengar, yang rencananya akan mempertemukan kembali Sammo Hung dan Wu Jing.

str2_daspl2_jaa_MAIN_da-770x470

Pada tahun 2013, sebuah sekuel resmi diumumkan kembali yang akan menghadirkan Tony Jaa, sebagai pengganti Donnie Yen, yang tidak lagi bergabung. Film sekuel ini kembali lagi menghadirkan Simon Yam, dengan peran yang sama, dan Wu Jing, dengan peran yang berbeda. Dan kali ini ahli Wu Shu tersebut didaulat sebagai salah satu karakter protagonis setelah di seri pertamanya memerankan Jack, karakter antagonis. Pemilihan Tony Jaa sebenarnya sebuah keputusan tepat. Selain menaikkan gengsi film ini ke level internasional, selain itu nama Jaa sendiri sudah mendapatkan sorotan di dunia barat. Terlebih film ini dirilis tidak jauh setelah dirinya menjadi lawan Paul Walker di installment ketujuh The Fast and The Furious, dan beradu akting dengan Dolph Lundgren di Skintrade. Otomatis hanya dengan melihat namanya saja dan materi promosi yang menggembar- gemborkan keterlibatan dirinya, orang akan langsung mengharapkan sebuah sajian seru martial arts yang hebat.

dfafadf

Dari aksi laganya memang cukup seru. Menampilkan perpaduan antara muay thai Jaa dengan wu shu Wu Jing dan Zhang Jin yang sangat top notch. Meskipun sebagai fans Tony Jaa, saya cukup kecewa karena secara perbandingan, aksinya di sini kalah jauh dengan film- film yang membesarkan dirinya, Ong Bak dan Tom Yum Goong. Namun sebenarnya hal itu memanglah disengaja. Karena treatment film ini adalah sebuah buddy cop movie yang memakai Jaa dan Wu Jing sebagai duet jagoan utamanya. Jadi secara screen presence memang harus membagi adil di antara keduanya. Dan jika diteliti ke arah tersebut, memang pembagian porsi aksi di antara keduanya sangatlah baik. Tidak tumpang tindih satu sama lain dan saling memberikan kesempatan untuk menunjukkan kebolehan. Ditambah lagi dengan penampilan Zhang Jin yang menjadi lawan tangguh mereka berdua.

b

Secara naskah, film ini memiliki cerita berbobot, yang sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan film pertamanya. Hanya saja, film ini terlalu banyak memasukkan unsur drama, yang membuat penurunan tensi penonton. Seperti adegan simbolik melodrama di tengah- tengah sekuens final fight yang cukup seru. Jujur sepanjang film, saya menantikan sajian martial arts yang ciamik. Dan secara pribadi baru ditemukan di ending, yang lalu dirusak dengan tampilan melodrama tersebut. Bukan berarti adegan- adegan sebelumnya tidak seru, namun fight yang benar- benar seru baru didapatkan di akhir film. Sekilas terlihat film ini banyak terinspirasi dari dwilogi The Raid. Dari final fight antara Tony Jaa- Wu Jing vs Zhang Jin yang mirip dengan Iko Uwais- Donny Alamsyah vs Yayan Ruhiyan. Lalu adegan prison riot yang nyata- nyata mirip dengan prison fight The Raid 2: Berandal lengkap dengan shot- shot panjangnya. Lalu tema undercover cop yang sangat kental.

handout_05jun15_fe_spl2

Dari segi kualitas akting, hampir keseluruhan pemain mengeluarkan kemampuang aktingnya secara maksimal. Tony Jaa yang biasanya kaku dalam berakting, di sini terlihat lebih luwes. Dan chemistry-nya dengan aktris cilik, Unda Kunteera Ydorchanng sangatlah bagus dan terjalin secara natural. Chemistry apik juga ditampilkan oleh Loius Koo dan Jun Kung yang menampilkan hubungan kakak- adik yang complicated. Wu Jing dan Zhang Jin tidaklah hanya menampilkan kemampuan fisiknya semata. Wu Jing berhasil menampilkan karakter messy sang polisi dengan meyakinkan. Sementara Zhang Jin berhasil menampilkan ekspresi dingin dengan sangat baik sebagai karakter antagonis. Dan yang paling apik di antara semuanya adalah penampilan aktor watak Simon Yam, yang ternyata juga cukup piawai menampilkan adegan laga.

sdadadasd

Sebenarnya sebagai sebuah sajian thriller kriminal, film ini bisa dibilang cukup baik. Namun dengan mengedepankan sosok Tony Jaa sebagai nilai jual utama untuk peredaran internasional membuahkan hasil yang mengecewakan bagi diri saya pribadi. Kenapa? Ya seperti saya sebutkan tadi. Saya mengharapkan adanya aksi muay thai Tony Jaa yang entertaining dan sadis. Mungkin jika pendekatan strategi marketing-nya berbeda, saya akan lebih terhibur. Di samping itu terlalu lebay dalam menggunakan elemen drama, membuat beberapa ketegangan dalam adegan aksinya menjadi menurun. Ya, intinya sih, akan banyak yang salah persepsi menyatakan film ini adalah sebuah film martial arts. Kalau saya pribadi sih bilangnya ini film thriller kriminal yang menggunakan unsur martial arts sebagai bumbu semata. (dnf)

Rating:

7/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s