Pixels (2015)

Sam Brenner: Pac-Man’s a bad guy?

10865871_612372792222920_6931055041149370545_o

Directed By: Chris Columbus

Cast: Adam Sandler, Kevin James, Peter Dinklage, Michelle Monaghan, Josh Gad, Brian Cox, Sean Bean, Ashley Benson

Synopsis:

Pada tahun 1982, bumi mengorbitkan sebuah kapsul luar angkasa yang berisikan kebudayaan bumi pada masa itu, termasuk rekaman permainan video game. Entah bagaimana, sebuah ras alien menemukan kapsul tersebut dan menimbulkan kesalahpahaman bahwa permainan video game adalah pernyataan perang dari manusia bumi.

23 tahun kemudian, bumi diserang oleh ras alien tersebut yang menggunakan strategi, atribut, senjata, serta kendaraan perang layaknya permainan video game tersebut. Presiden Amerika Serikat, Will Cooper (Kevin James) menugaskan 3 kawan lamanya yang expert dalam bermain video game, Sam Brenner (Adam Sandler), Ludlow Lamonsoff (Josh Gad), dan Eddie Plant (Peter Dinklage) untuk membantu menyusun strategi perang dan memimpin NAVY SEALS di bawah komando Admiral Potter (Brian Cox). Untuk mengalahkan visualisasi video game tersebut, mereka harus menggunakan senjata khusus yang diciptakan oleh Violet Van Patten (Michelle Monaghan).

Review:

109595

Masih ingat dengan meme- meme atau tulisan- tulisan tentang alangkah menyenangkannya tahun 80 dan 90-an? Salah satu di antaranya adalah generasi yang tumbuh di era tersebut ikut merasakan perkembangan video game. Mulai dari permainan game konsol, atau yang menggunakan mesin portable yang bisa dimainkan di rumah, sampai game arcade atau yang biasa kita sebut dengan ding- dong (Entah bagaimana jenis video game macam ini disebut ding- dong. Mungkin karena bunyinya seperti mesin judi jaman dulu). Sebenarnya sampai sekarangpun permainan ding- dong masih bisa kita temukan, namun istilah tersebut sudah tidak lazim dipakai lagi. Dan bagi saya pribadi experience bermain ding- dong jaman sekarang sudah tidak seasyik jaman saya sekolah dulu. Di mana bisa dijadikan ajang cabut sekolah, sosialisasi dengan teman- teman, belajar jurus- jurus street fighter, atau perasaan was- was takut dipalak koin ding- dongnya sama anak- anak yang lebih besar. Pada era tersebut juga permainan video game masih memiliki gameplay standar dan tidak mengindahkan storyline. Tidak seperti jaman sekarang, di mana storyline menjadi salah satu nilai plus sebuah video game. Dan tidak jarang malah cerita video game lebih enak diikuti dan lebih bagus ketimbang cerita film karena tidak tergantung pada durasi.

pixels960

Sayangnya film- film yang diadaptasi dari video game rata- rata tidak menoreh hasil yang memuaskan. Dan thanks to seorang sutradara jago tinju bernama Uwe Boll yang memberikan sumbangsih atas kehancuran adaptasi video game. Namun setidaknya belum lama ini Disney Pictures sempat membuat para gamer puas melihat sebuah film dengan naskah original yang memiliki tribute tersendiri untuk dunia video game, Wreck- It Ralph. Hasilnya pun cukup memuaskan. Dan tidak lama berselang kemudian, muncullah berita bahwa Adam Sandler juga akan membuat sebuah film yang akan menjadi tribute bagi dunia video game. Namun jika Wreck- It Ralph juga menghadirkan tribute ke video game baru, Adam Sandler lewat film berjudul Pixels hanya akan lebih berkonsentrasi pada dunia video game dari tahun 80-an. Yup, hal ini sudah mengindikasikan bahwa film ini memang benar- benar merupakan fans service buat gamer yang tumbuh di tahun 80-an. Buat gamer- gamer muda mungkin tidak akan terlalu mengenal karakter- karakter seperti Paperboy, Q*bert, dan Donkey Kong.

Pixels-Josh-Gad-Adam-Sandler

Pertama- tama perlu didasari, bahwa ini adalah filmnya Adam Sandler. Joke- joke yang ditimbulkan sudah pasti tidak jauh- jauh dari penghinaan fisik, kasar, dan sedikit kotor, atau yang biasa disebut dengan toilet joke. Dan memang harus diakui, film- film komedi Sandler makin lama makin kurang berbobot. Joke- joke-nya pun makin terlihat garing. Sandler masih lebih baik jika bermain di film komedi romantis atau film- film inspirasional macam Click dan Big Daddy, yang memiliki nilai kehangatan tersendiri. So, yang perlu digarisbawahi di sini adalah, Sandler harus memiliki hal lain yang perlu ditawarkan ketimbang komedi- komedi basinya dalam membuat sebuah film baru. Dan kali ini yang dipilihnya adalah nilai kenangan para gamer jadul. Khususnya gamer arcade. Dan dalam mengusung misinya tersebut saya menilai Sandler sudah cukup berhasil. Karena pada dasarnya nyawa dari film ini adalah “what if we be a part of the game we used to play.” atau dalam bahasa Indonesia-nya, “bagaimana rasanya jika kita menjadi bagian dari video game yang biasa kita mainkan.” Karena hampir semua strategi dan taktik perang di film ini mengambil gameplay dari video game tersebut. Sehingga bayang- bayang para gamer untuk menjadi bagian dari permainan, bisa terrealisasi dalam film ini.

2848306-pixels_movie4

Di atas kertas, sebenarnya film yang didasari sebuah film pendek tahun 2010 ini memiliki premis yang cukup baik. Hanya saja, meskipun Chris Columbus- lah sebagai sutradaranya, kita semua tau kalau Sandler- lah yang menentukan bagaimana warna film ini akan disajikan. Seandainya Sandler tidak terlibat dalam film ini, saya yakin hasilnya akan menjadi lebih baik. Sajian visual-nya cukup diacungi jempol. CGI piksel pecahan dari benda yang dihancurkan dan gambaran karakter video game tetap setia pada game aslinya. Donkey Kong, Pac- Man masih digambarkan dengan piksel- piksel khas game dengan bit rendah. Mungkin hanya karakter Lady Lisa (Ashley Benson) yang sangat halus seperti manusia biasa. Dan gimmick 3D nya pun tidak main- main. Di beberapa scene kedalaman 3D yang ditimpulkan sangat baik, meskipun saya tidak notice ada satupun adegan yang memiliki adegan pop up yang bagus. Namun setidaknya tidak terlalu mubazir jika memilih format 3D dalam menonton film ini.

pixels-lady-lisa

Dari departemen casting, bisa dikatakan tidak terlalu baik. Sandler memang terkenal sering ikut terlibat dalam pemilihan pemain filmnya. Karenanya tidak jarang teman- teman baiknya selalu ikut bermain dalam filmnya, meskipun hanya sekedar cameo. Dan selain sisi nepotisme, sepertinya Sandler memang tidak memiliki kejelian dalam memilih pemain. Kevin James sangatlah tidak pas dalam menjadi presiden. Oke, ini film komedi, tapi setidaknya bisalah dicari salah satu aktor yang memang believable jadi seorang presidenJosh Gad juga sangat jayus dan tidak lucu. Bahkan cenderung overacting. Peter Dinklage masih bagus dan sangat pas bermain sebagai gamer seleberiti yang tengil. Dan bagaimana dengan Adam Sandler? Sudahlah tidak usah dipikirkan. Dia itu yang punya film. Jadi mau main jadi apa juga terserah dia. Tapi setidaknya dia mengajak Ashley Benson sebagai Lady Lisa. Dan itu benar- benar bisa menjadi penetralisir kedodoran dalam segi casting.

1280x720-kL2

So, di luar jeleknya segi casting dan semakin garingnya joke- joke di film- film Adam Sandler, setidaknya Pixels sudah berhasil menghadirkan sentuhan nostalgia dan feel yang dicari- cari para gamer selama ini. Dan film ini juga wajib diacungi jempol, sebagai salah satu film summer blockbuster yang memiliki ide original. Jangan berharap terlalu banyak dalam segi cerita. Ini film Sandler, dan 80% kemungkinan cerita akan sucks. Jadi, nasihat saya, jika anda ingin menyaksikan sebuah sajian berbobot, tidak perlu repot- repot menonton film ini. Tapi, jika anda seorang hardcore gamer yang berangan- angan ingin menjadi bagian dalam sebuah video game, – atau anda seorang fans Sandler, yang menilai Adam Sandler lebih jenius daripada Leslie Nielsen, anda akan mudah terpuaskan dengan film yang bisa diibaratkan adalah gabungan Ghostbusters, Evolution, dan Wreck- It Ralph ini. (dnf)

Rating:

7/10

2 thoughts on “Pixels (2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s