Hitman: Agent 47

Sanders: Let’s start it with tell me your name

Agent 47: Fourty- Seven

Sanders: That’s not a name

Agent 47: No. But it is my name.

Poster

Directed By: Aleksander Bach

Cast: Rupert Friend, Zachary Quinto, Hannah Ware, Dan Bakkedahl, Ciaran Hinds, Thomas Kretschmann, Angelababy, Johannes Suhm

Synopsis:

Seorang proyek rekayasa genetika yang diprakarsai oleh Latvenko (muda oleh Johannes Suhm/ tua oleh Ciaran Hinds) berhasil menciptakan pembunuh- pembunuh bayaran yang memiliki kecepatan, refleks, kekuatan, dan kepintaran di atas manusia normal. Namun setelah menyadari kesalahannya, Latvenko lenyap di telan bumi tanpa ada berita keberadaannya sama sekali. Beberapa tahun kemudian, salah satu hasil rekayasa genetikanya, Agent 47 (Rupert Friend) diberikan tugas untuk melacak dan menangkap Katia Van Dees (Hannah Ware) yang dipercaya merupakan anak dari Latvenko dan satu- satunya yang bisa mengetahui keberadaan sang ayah. Di sisi lain, sebuah perusahaan bernama Syndicata International, yang dipimpin oleh Le Clerq (Thomas Kretschmann) ingin mengulang kembali proyek “haram” Latvenko tersebut dan mengutus salah satu agennya, John Smith (Zachary Quinto) untuk juga mencari dan menangkap Katia.

Review:

1

Hitman merupakan sebuah franchise video game yang dikembangkan oleh IO Interactive dan dipasarkan oleh Eidos Interactive sebelum dibeli oleh Square Enix. Plot inti dari seri game tersebut adalah menceritakan sepak terjang seorang pembunuh bayaran hasil kloning dan rekayasa genetika yang dipekerjakan sebuah organisasi bernama International Contracts Agency (ICA) dalam menyelesaikan “kontrak kerja”-nya. Sebagian besar misi yang ada di setiap serinya mengharuskan pemain untuk mengendalikan Agent 47 untuk melacak keberadaan dan membunuh target- targetnya. Meskipun disebut sebagai stealth- based action adventure, namun metode yang dipakai untuk menyelesaikan tiap misi tergantung kepada pemain. Bisa dengan metode stealth (sembunyi- sembunyi dan membunuh secara diam- diam) ataupun secara full frontal (tembak- tembakan menghadapi seluruh lawan). Tentu saja semakin discreet dia menyelesaikan misi, score yang dicapai akan semakin tinggi. Begitu juga dengan metode membunuhnya, bisa diam- diam, full frontal, membuat jebakan, ataupun membuat seolah- olah korban tewas karena kecelakaan. Dan semakin kreatif cara membunuh akan semakin tinggi score yang diraih.

2

Sebenarnya pada tahun 2007 video game series ini telah diadaptasi menjadi sebuah film dengan menampilkan duet bintang yang akan bersinar saat itu, Timothy Olyphant dan Olga Kurylenko. Meskipun secara keseluruhan mendapatkan komentar negatif, namun berhasil mendapatkan raihan pendapatan yang bisa dibilang cukup sukses. Timothy Olyphant pun dianggap cukup pas untuk memerankan karakter Agent 47 dan bisa menampilkan tampang dinginnya. Sebuah sekuelpun langsung disiapkan untuk meneruskan franchise, yang memiliki beberapa perbedaan dengan game-nya, salah satunya adalah ICA yang diganti nama menjadi The Organization. Hanya saja beberapa alasan menyebabkan sekuel tersebut batal untuk dilanjutkan. Salah satunya adalah Olyphant yang enggan tampil kembali sebagai Agent 47 dan menyatakan penampilannya di film pertamanya juga adalah keterpaksaan belaka, demi untuk membayar rumah barunya, karena pada saat itu serial yang tengah dibintanginya, Deadwoon, tidak dihentikan penayangannya.

3

Secara garis besar, proyek reboot ini memiliki pendekatan yang hampir sama dengan pendahulunya. Dengan konsep loosely based, film reboot ini tidak memasukan dan mengganti beberapa unsur dari franchise game-nya, terutama dari cara pendekatan menyelesaikan misinya. Secara konsep cerita yang dikembangkan oleh Skip Woods, sebenarnya cukup menarik. Hanya saja Fox melakukan kesalahan fatal dengan mengontrak sutradara debutan, Aleksander Bach, untuk mengerjakan proyek semi raksasa ini. Pasalnya mayoritas proyek film yang diangkat dari video game memang memiliki risiko flop yang cukup besar dan kecenderungan mendapatkan respon negatif. Terlebih dari penggemar setianya. Alasan terutama adalah tidak didapatnya experience yang didapat dari memainkan video game- nya. Hal ini juga sempat menjadi ganjalan film pertamanya, di mana nuansa stealth yang didapat dari video game- nya tidak bisa dirasakan. Dan kesalahan tersebut lagi- lagi diulang oleh Bach. Entah mungkin karena kemalasan dalam menampilkan unsur ketegangan yang bisa didapat, jika menggunakan metode stealth atau memang ingin mengumbar adegan dar-der-dor di dalam filmnya.

4

Gaya bercerita sutradara karbitan tersebut juga sangat lemah. Di banyak scene film terasa terlalu dragging dengan adegan seru yang tidak seru dan dialog yang tidak berbobot. Ditambah lagi sound editing yang jauh dari kata sempurna membuat musik yang digubah oleh Marco Beltrami menjadi sekedar numpang lewat dan tidak bisa mengangkat feel adegan yang ada di layar. Dan untuk adegan “ngobrol” tercatat hanya adegan di interogation room yang bisa saya anggap bagus. Namun begitu, untungnya Bach masih bisa menyelamatkan film ini lewat beberapa adegan laga yang cukup bisa memancing adrenalin. Dan untungnya adegan fight-nya digarap oleh Jon Valera yang terbilang cukup sukses menampilkan gun- kata dalam film John Wick. Dan teknik martial arts dengan menggunakan senjata api tersebut kembali diselipkan di film ini, meskipun tidak semenonjol di film John Wick. Dan tercatat pula beberapa scene, khususnya scene di pabrik pesawat terbang, mampu digarap cukup menarik dengan menampilkan kreatifitas Agent 47 dalam membunuh lawan- lawannya. Oiya, jika mau diakui ada unsur stealth, hanya di scene tersebut aja yang paling kental unsur stealth-nya.

5

Dari segi casting, Rupert Friend, yang menggantikan Paul Walker sebagai Agent 47 cukup bisa menampilan aura dingin seorang pembunuh bayaran. Dengan tampilan layaknya Orlado Bloom yang dibotak, bagi saya pribadi justru jauh lebih meyakinkan jika seandainya peran tersebut jadi dibawakan oleh mendiang Paul Walker. Zachary Quinto malah sangat lemah dan tidak bisa menghadirkan aura sebagai rival utama Agent 47. Kharismanya masih kalah jauh dibandingkan Rupert Friend. Quinto tidak bisa bermain sebaik ketika memerankan Captain Spock. Dan entah kenapa Angelababy dipasangkan untuk menjadi handler Agent 47, Diana Burnwood. Meskipun mayoritas di game karakter Diana hanya ditampilkan lewat suara saja, namun di seri Absolution terlihat jelas bahwa Diana memiliki ras caucasian. Yang paling parah adalah pemilihan Hannah Ware. Pertama, sudah pasti saya dan penonton- penonton pria akan membandingkan dirinya dengan Olga Kurylenko. Dan saya sebagai laki- laki menjawab bahwa Kurylenko jauh lebih cantik dan seksi. Kedua, untuk Ware juga tidak mampu menampilkan karakter seorang femme fatale dan sangat canggung dalam melakukan adegan aksi laga. Belum lagi aktingnya yang standar banget.

6

Secara keseluruhan saya menyatakan bahwa film ini merupakan salah satu contoh reboot yang gagal. Meskipun memiliki peran utama yang sangat pas dan adegan laga yang cukup seru, namun kesalahan Fox dalam memilih sutradara karbitan, Aleksander Bach, merusak potensi film ini.Tidak heran jika ke depannya, let’s say, 10 tahun lagi, film ini akan di reboot ulang. Karena sebenarnya franchise Hitman sebenarnya memiliki potensi kesuksesan yang cukup besar sebagai sebuah film. Ya asal dipegang oleh tangan yang benar dan mengerti esensi dari franchise game tersebut. Untungnya, Bach masih menggunakan bebereapa fans service dengan menampilkan beberapa ciri khas game tersebut. Dan yang bakal bikin fans suka adalah penggambaran adegan bathtub yang fenomenal dan sempat menjadi material promo di seri Hitman: Blood Money. (dnf)

Rating:

6.5/10

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s