Everest (2015)

Scott Fischer: You know what they say? It is not the altitude, it’s the the attitude.

Poster

Directed By: Baltasar Kormakur

Cast: Jason Clarke, Josh Brolin, Robin Wright, Emily Watson, Keira Knightley, Sam Worthington, Jake Gyllenhaal, John Hawkes, Naoko Mori, Michael Kelly, Martin Henderson, Thomas M. Wright, Elizabeth Debicki

Synopsis:

Beberapa kelompok pendaki gunung Everest yang diantaranya dipimpin oleh Rob Hall (Jason Clarke), Anatoli Bukreev (Ingvar Eggert Sigurdsson), dan Scott Fischer (Jake Gyllenhaal) melakukan ekspedisi pendakian komersil di puncak tertinggi di bumi tersebut. Mereka harus melawan cuaca ekstrim sekaligus medan berat untuk membawa klien- klien yang di antaranya terdiri dari Doug Hansen (John Hawkes), Jon Krakauer (Michael Kelly), Yasuko Namba (Naoko Mori), dan Beck Weathers (Josh Brolin) sampai ke puncak. Namun tanpa disadari, ini adalah pendakian terberat mereka yang bisa berujung kepada kematian.

Review:

1

Gunung Everest merupakan salah satu situs yang diaggap sebagai keajaiban dunia yang terbentuk secara alami. Memiliki catatan resmi ketinggian 8,848 meter, menjadikan Gunung Everest, yang terletak di pegunungan Himalaya menjadi puncak tertinggi jika diukur dari permukaan laut. Dikarenakan medannya yang begitu sulit serta julukannya sebagai puncak tertinggi, kontan tidak sedikit pendaki- pendaki profesional yang mencatat “menaklukan puncak Everest” sebagai salah satu dari “Things to do before I die”- nya. Bukan hanya itu, pendaki- pendaki amatir atau turis- turis yang tidak memiliki skill terlalu tinggi juga ingin merasakan sensasi mendaki gunung Everest. Meskipun tidak sampai ke puncak dan menancapkan bendera atau menulis misalnya tulisan “Munaroh + Mandra = Top 2015”, namun tidak sedikit yang menjadikan gunung ini menjadi salah satu sasaran target travelling para turis. Untuk itu tidak sedikit pendaki profesional yang menginvestasikan dananya untuk membuka jasa tour travelling ke gunung Everest yang sengaja disediakan untuk para pelancong dan pendaki amatir tersebut.

2

Film Everest diangkat dari sebuah novel non fiksi berjudul Into Thin Air yang ditulis oleh Jon Krakauer, yang merupakan salah satu saksi hidup kejadian di tahun 1996 tersebut. Buku yang menceritakan tentang musibah yang memakan korban di gunung Everest dalam 1 hari tersebut dengan memakan 8 korban (sebelum akhirnya dikalahkan oleh gempa di tahun 2015 yang memakan 19 korban) sempat menimbulkan kontroversi. Pasalnya, beberapa penjelasan dalam buku tersebut seperti menyudutkan Anatoli Bukreev yang digambarkan memiliki kesalahan dalam mengambil keputusan profesional. Namun pendaki profesional dari Rusia tersebut menjawabnya dengan sebuah buku berjudul The Climb. Buku ini dianggap sebagai salah satu bacaan wajib para pendaki, khususnya yang memiliki impian untuk menaklukan gunung Everest. Sebenarnya film Everest bukanlah usaha pertama kali memfilmkan buku Into Thin Air ini. Sebelumnya di tahun 1997 telah diadaptasi menjadi film TV dengan judul Into Thin Air: Death on Everest.

3

Hanya dengan melihat posternya saja sudah menjadi jaminan film ini bakal dihiasi oleh akting dengan kualitas terbaik. Pasalnya film yang memiliki ensemble cast banyak dan menarik ini melibatkan nama- nama jaminan kualitas akting yang apik di era sekarang. Sebut saja nama- nama seperti Josh Brolin, Jake Gyllenhaal, dan Jason Clarke yang diamini memiliki karir yang cukup baik pada tahun- tahun belakangan ini. Dan untuk menjadi pemanis film terpilihlah Keira Knightley sebagai istri karakter Jason Clarke. Dan memang benar, kualitas akting menjadi salah satu acungan jempol dan nilai jual film ini. Khususnya Josh Brolin dan Jason Clarke yang mampu memainkan emosi dengan sangat baik. Padahal jika diteliti (CMIIW), ini adalah kali pertamanya Jason Clarke memegang peran utama dalam sebuah film. Sam Worthington, yang sempat diprediksi bakal menjadi bintang besar lewat Terminator: Salvation namun tenggelam paska Avatar membuktikan dirinya masih mampu memiliki masa depan yang cerah di dalam industri perfilman. Lewat perannya sebagai Guy Cotter, Sam bermain cukup meyakinkan.

maxresdefault

Sinematografi yang dipercayakan kepada Salvatore Totino juga menjadi kunci keindahan film ini. Totino mampu menangkap kemegahan serta keindahan gunung Everest yang menawan. Gimmick 3D yang diusung oleh film ini juga bukan main- main. Meskipun tidak terlalu banyak, namun efek depth yang dihasilkan cukup memuaskan. Apalagi ketika memilih format IMAX untuk menyaksikan film ini. Dengan layar yang sangat lebar, format IMAX mampu memanjakan mata dengan pesona gunung Everest yang terlihat sangat megah. Special effect juga menjadi salah satu kuncian penting dalam film ini dengan menampilkan badai salju yang cukup mengerikan.

5

Hanya saja bagi yang menginginkan sebuah sajian thriller mencekan sudah harus siap- siap kecewa. Pasalnya Baltasar Kormakur terlalu sibuk dengan sisi drama dan pengembangan karakter, sehingga adegan- adegan menegangkan yang “dijual” lewat trailer tidak disajikan dengan sangat efektif. Seperti sekedar tempelan belaka. Penonton kurang mendapatkan feel menegangkan ketika para karakter harus berhadapan dengan badai salju, yang sebenarnya bisa menjadi puncak klimaks film ini. Entah ingin menggambarkannya serealitis mungkin atau ingin mendekatkan diri dengan efek dokumenter, tempelan disaster atau man vs nature hanya sekedar tempelan dan jika dibandingkan dengan film, let’s say, Cliffhanger atau Vertical Limit sangat kalah jauh. Mungkin juga memang naskah yang ditulis oleh William Nicholson dan Simon Beaufoy ini hanya berfokus kepada elemen- elemen dramanya saja.

6

Everest akhirnya menjadi sebuah film survival yang lebih mengedepankan drama ketimbang thirller-nya. Meskipun sempat menipu lewat jualan thriller lewat trailer-nya, namun ternyata kepuasan menyaksikan film ini didapat dari adu akting setiap pemain ditambah dengan lanskap- lanskap indah yang tersaji sempurna dalam sinematografi yang appik. Seharusnya apabila bisa menampilkan thriller aksi yang lebih menegangkan, film dapat menjadi tontonan yang sangat sempurna. Karena justru bahaya gunung serta ancaman maut dalam pendakian gunung tertinggi yang menjadi impian banyak orang ini, merupakan hal yang lebih menarik ditampilkan dalam genre sejenis ketimbang unsur drama yang berlebihan. Seraya dapat menimbulkan pertanyaan di akhir film. Pertanyaan bagi orang awam setelah mengetahui bahanya mendaki gunung Everest. Pertanyaan yang bisa kita lemparkan kepada para pendaki. Pertanyaan yang cocok kepada para penjelajah. Pertanyaan yang dilemparkan oleh karakter John Krakauer. “Why Everest?”

Rating:

7/10

2 thoughts on “Everest (2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s