Black Mass (2015)

Whitey Bulger: We get the FBI fight our wars, and we get to do whatever we want to do.

adadasdasdasd

Directed By: Scott Cooper

Cast: Johnny Depp, Joel Edgerton, Benedict Cumberbatch, Kevin Bacon, Jesse Plemons, Peter Sarsgaard, Dakota Johnson, Corey Stoll, Rory Cochrane, David Harbour, Adam Scott, Juno Temple, W. Earl Brown

Synopsis:

James “Whitey” Bulger (Johnny Depp) adalah seorang gangster keturunan irlandia yang cukup disegani di Selatan Boston. Namun usahanya terhalang pembagian wilayah dengan keluarga mafia Anguilo Brothers. Kesempatan emas datang lewat seorang agen FBI bernama John Connolly (Joel Edgerton) yang merupakan teman kecil James dan kakaknya, Billy Bulger (Benedict Cumberbatch). Whitey menjadi informan bagi Connolly yang berambisi untuk menggulingkan kerajaan kriminal Anguilo Brothers. Whitey meminta kekebalan hukum terhadap aktivitas kriminalnya sebagai imbalan dirinya menjadi informan FBI. Sementara atasan Connolly, Charley McGuire (Kevin Bacon) menyanggupinya selama Whitey dan gang Winter Hill-nya tidak melakukan pembunuhan dan transaksi narkoba.

Whitey melanggar janjinya. Dia tetap membunuh dan malah kerajaan kriminalnya semakin membesar. Connolly-pun mulai terbawa ke dunia kriminal dengan menjadi back- up hukum bagi Whitey dengan mengatasnamakan loyalitas masa kecil. Namun sepak terjang Whitey- Connolly mau tidak mau harus mulai tergoyahkan dengan hadirnya seorang agen bernama Fred Whysak di dalam tubuh FBI, yang anti korup dan berambisi untuk menangkap Whitey.

Review:

1

Semenjak melejit lewat serial 21 Jump Street, aktor Johnny Depp telah menjadi pujaan hati para wanita pada jamannya. Namun lewat beberapa peran di awal karirnya, Depp telah membuktikan potensinya dalam berakting. Sebut saja film What’s Eating Gilbert Grape? yang menampilkan aktingnya yang sangat menawan, di mana di film tersebut ikut hadir bintang cilik yang menampilkan akting sangat spektakuler dan seakan- akan memberikan heads-up bahwa suatu saat dirinya akan menjadi seorang bintang papan atas bernama Leonardo Di Caprio. Namun justru bukannya dikenal sebagai aktor watak, malahan Depp dikenal dengan peran- perannya yang absurd dengan akting yang aneh serta out-of-the-box. Predikat tersebut semakin menempel paska perannya di tahun 2003 sebagai bajak laut Jack Sparrow. Masyarakat lebih mengenel Depp dengan peran- perannya seperti Charlie Wonka, Mad Hatter, Edward Scissorshand, Sweeney Todd, atau Tonto. Justru peran- perannya yang lebih normal seperti dalam film The Rum Diary, The Tourist, Public Enemies,  dan Finding Neverland kurang begitu dikenal. Mungkin untuk judul film terakhir lebih dikenal di Indonesia karena pada tahun lalu, beberapa adegannya sempat menjadi trend dibuatkan meme. Itu tuh, adegan yang Johnny Depp duduk di bangku taman sama anak kecil dan kebanyakan isinya anak kecil curhat terus nangis di pelukan Johnny Depp.

2

Paska menurunnya prestasi box- office film- filmnya di beberapa tahun belakangan ini, mengharusnya Depp untuk lebih pintar memilih peran, sehingga masyarakat tidak hanya mengingatnya sebagai aktor versi lebih serius dari Jim Carrey saja. Lewat perannya sebagai gangster legendaris Whitey Bulger ini Depp membuktikan performance- nya yang bisa dibilang sangat wah. Bisa dikatakan ini adalah akting Depp terbaik sepanjang karirnya. Di satu sisi, Depp mampu menggambarkan seorang Whitey Bulger yang manusiawi, khususnya dalam menggambarkan hubungannya dengan sang anak. Di sisi lain, penonton diperlihatkan betapa begitu mengerikannya sosok Whitey Bulger yang tidak segan- segan membunuh. Memberikan bayangan bahwa dia adalah seorang kriminal yang pintar, licik, sekaligus kejam. Akting Depp ketika akan membunuh korbannya, atau hanya mengancam seseorang, sudah benar- benar membuat bulu kuduk berdiri. Sayapun sangat setuju dengan gembar- gembor kritikus yang menobatkan Depp untuk layak menjadi nominasi Oscar lewat perannya dalam film ini. Tidak luput pula tim make- up yang membuat Depp menjadi seperti seorang monster dan di beberapa adegan mengingatkan saya terhadap aktor Christopher Walker.

3

Sebagai lawan mainnya pun aktor yang sedang naik daun, Joel Edgerton memberikan akting yang tidak kalah luar biasanya. Meskipun tidak dapat mengungguli Depp, namun karakter Connolly terasa sangat blending dengan dirinya. Edgerton mampu memberikan kesan seorang hero, dan di sisi lainnya mampu memberikan kesan jijik dari seorang penonton terhadap aksinya dalam melindungi Whitey. Bukan hanya Edgerton, barisan aktor- aktris pendukung lainnya juga tidak bisa dianggap sepele. Cory Stoll dan Juno Temple, yang meskipun tampil sepintas lalu, namun mampu memberikan akting yang cukup apik. Terlebih untuk Stoll, di mana jika dibandingkan dengan film- film lainnya, di sinilah dirinya membuktikan kepiawaiannya berakting. Lalu ada sang Sherlock, Benedict Cumberbatch yang meskipun tidak bisa dibilang penampilan terbaik, namun usahanya dalam merubah logat british-nya ke logat irish, patut diacungi jempol. Rory Cochrane, W. Earl Brown, dan Peter Sarsgaard yang masing- masing memerankan gangster legendaris Steven Flemmi, John Martorano, dan Brian Halloran juga berakting sangat bagus.  Dan di antara keseluruhan supporting cast, saya paling suka dengan penampilan Jesse Plemons. Aktor yang mempunyai julukan Meth Damon karena kemiripannya dengan aktor Matt Damon ini dari raut wajah, sampai gesture sudah sangat pas dan cukup believable dalam berperan sebagai bodyguard/ supir Whitey, Kevin Weeks.

4

Nyawa dari plot dalam film ini adalah “persahabatan” dan “loyalitas”. Meskipun dalam menggambarkan keduanya, film ini menggunakan gambaran dari sisi dark side dan kriminalitas. Gambaran loyalitas dan persahabatan yang memang sudah kerap diangkat ke dalam film- film sejenis. Namun yang menjadi tambahan kekuatannya lagi adalah bagaimana Whitey sangat menjunjung tinggi nilai loyalitas tersebut. Ibaratnya prinsipnya adalah “Lo asik ama gue, gue bakal lebih asik. Lo rese ama gue, gue bakal lebih rese”. Gambaran tersebut juga sangat asyik diwakili dengan hubungan Whitey dengan karakter- karakter lainnya, seperti Steven Flemmi, Kevin Weeks, Brian Halloran, John Martorano, dan khususnya kepada John Connolly, yang rela mengecewakan atasa, teman, dan istrinya sendiri demi loyalitasnya terhadap Whitey. Meskipun di dalam dunia kriminal, tidak ada loyalitas yang abadi. In the end, everybody is for himself.

5

Naskah yang ditulis oleh Mark Mallouk dan Jez Butterworth berdasarkan buku berjudul Black Mass: The True Story of Unholy Alliance Between the FBI and The Irish Mob karangan Dick Lehr dan Gerard O’Neill yang dipublikasikan pada tahun 2001 ini sangatlah menarik. Pemilihan poin- poin penting yang disambungkan dalam jarak tahunan terstruktur dengan rapi. Meskipun kenyataannya banyak elemen- elemen yang diubah untuk mendramatisasi film. Seperti gambaran Connolly yang bertemu pertama kali dengan Whitey dan Flemmi di sebuah restoran, terpaksa dirubah menjadi teman kecil Whitey dan Billy. Tidak heran jika nantinya naskah yang apik ini akan dirilik oleh para juri Oscar untuk diberikan nominasi naskah adaptasi terbaik juga. Namun untuk menobatkan film ini untuk mendapatkan nominasi film terbaik, rasanya masih terlalu dini. Meskipun secara overall, film ini bisa dikategorikan sebuah sajian film gangster yang bagus. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s