Goosebumps (2015)

R.L. Stine: Hello, my name is R.L. Stine. Every story ever told can be broken into three parts. The beginning. The middle. And the twist.

Poster

Directed By: Rob Letterman

Cast: Jack Black, Dylan Minnette, Odeya Rush, Ryan Lee, Amy Ryan, Jillian Bell

Synopsis:

Zach (Dylan Minnette) dan ibunya, Gale (Amy Ryan) pindah ke sebuah kota kecil untuk memulai hidup baru paska kematian sang ayah. Dia bertetangga dengan seorang gadis cantik bernama Hannah (Odeya Rush) yang memiliki ayah yang penyendiri dan protektif, R.L. Stine (Jack Black). Sang ayah adalah seorang penulis terkenal yang menciptakan serial horor remaja bernama Goosebumps.

Ketika sedang menyelidiki kejanggalan sang tetangga, Zach yang dibantu oleh temannya, Champ (Ryan Lee), tanpa sengaja membuka skrip asli buku- buku Goosebumps. Dan ternyata hal tersebut membuat setiap karakter monster/ hantu/ villain yang ada di buku- buku tersebut menjadi keluar dan siap menghancurkan kota. Kini mau tidak mau, Zach, Champ, Hannah, dan Stine harus bahu membahu untuk mencari jalan keluar dan mengalahkan para monster tersebut.

Review:

1

Bagi para pecinta buku horor dan mereka yang sempat mengalami masa remaja di tahun 90-an, pasti sudah tidak asing dengan serial Goosebumps yang dulu di Indonesia sempat diterbitkan. Serial tersebut merupakan buah pemikiran dari seorang penulis bernama R.L. Stine yang populer di tahun itu. Goosebumps sendiri merupakan kumpulan cerita fiksi horor remaja yang dikarakteristikan sebagai “Scary book but also funny” oleh sang penulis. Adapun yang menjadi ciri khas dari Goosebumps adalah bahwa di setiap serinya menampilkan karakter protagonis berbeda dengan sudut pandang penceritaan dari orang pertama. Setting lokasi yang ditampilkan biasanya sebuah tempat sepi yang terisolir. Baik itu merupakan daerah pinggiran kota, kota kecil, lokasi perkemahan, ataupun hutan. Yang menjadikan novel ini menjadi salah satu kisah horor sehat remaja, jika dibandingkan dengan teen horror flick lainnya adalah Stine menjauhkan diri dari kekerasan, kematian yang sadis, sex, dan penggunaan obat terlarang. Sekaligus memiliki cerita yang pendek untuk bisa disebut sebagai sebuah novel dan tidak luput pula menyelipkan twist ending yang sangat bagus.

2

Goosebumps memiliki 67 judul buku untuk serial aslinya, termasuk beberapa judul yang cukup populer seperti, Night of The Living Dummy, Monster Blood, The Ghost Next Door, The Haunted Mask, The Ghost Next Door, The Abominable Snowman of Pasadena, Vampire Breath, The Werewolf of Fever Swamp, dan The Scarecrow Walks at Midnight. Selain menerbitkan serial utamanya, R.L. Stine juga menerbitkan beberapa serial spin- off seperti Goosebumps Series 2000, Give Yourself Goosebumps, Tales to Give you Goosebumps, Goosebumps Triple Header, Goosebumps Horroland, Goosebumps Most Wanted, dan juga menulis sebuah seri novel yang diperuntukkan bagi pembaca yang lebih tua dari target pasar Goosebumps, Fear Street. Serial ini juga menjadi salah satu trendsetter seri horor remaja yang ke depannya semakin menjamur. Termasuk kumpulan serial horor/ fantasi lokal yang ditulis oleh penulis- penulis remaja berjudul Fantasteen.

3

Film Goosebumps bukanlah kali pertama yang mengangkat serial ini ke ranah perfilman. Sebelumnya sudah ada serial berjudul sama yang ditayangkan selama 4 musim dari tahun 1995 hingga tahun 1998. Namun berbeda dengan serialnya, adaptasi film yang pertama kali dikaitkan oleh sutradara Tim Burton pada tahun 1998 ini tidak mengangkat salah satu kisah novelnya, melainkan malah membuat sebuah cerita fiksi yang melibatkan sang novelis dengan karakter- karakter horor yang diciptakannya. Namun meskipun seperti menciptakan satu seri tambahan rip off semua seri Goosebumps, namun apa yang disajikan di layar masih memiliki nafas Goosebumps. Meskipun sang novelis tidak ikut terlibat dalam penciptaan naskah. Kejahatan villain yang cukup komikal, aksi yang fun, serta nihilnya adegan kematian (even buat karakter penjahat), ditambah twist ending di akhir kisah bisa dikatakan sebuah tribute sendiri terhadap gaya penulisan Stine.

4

Dan bisa dikatakan film ini merupakan wujud penjiwaan dari novel- novel itu sediri. Apa yang disajikan di layar sudah bisa membayar imajinas para fans terhadap film yang memiliki teori “What if…” ini. Oke, saya tambahkan penjelasan sedikit. Buku serial Goosebumps memiliki karakteristik fun ketimbang horor yang benar- benar mengerikan. Well, meskipun adik ipar saya sendiri cerita dia sempat menangis- nangis ketakutan ketika tanpa sengaja membaca novel The Night of Living Dummy punya istri saya dulu. Nah, secara poster dan permainan warna, film ini sudah sangat colorful. Meskipun sisi dark yang menjadi trademark sebuah film horor tetap dipertahankan. Dan bagi pecinta seri bukunya, Rob Letterman sekali lagi memanjakan lebih jauh dengan menampilkan segudang karakter villain yang menjadi keasyikan sendiri dalam mencarinya di layar. Di samping beberapa karakter yang benar- benar ditampilkan secara nyata seperti The Scarecrow (The Scarecrow Walks at Night), Slappy (Night of The Living Dummy), The Abominable Snowman (The Abominable Snowman of Pasadena), Will Blake/ Werewolf (The Werewolf of Fever Swamp), film ini juga menyelipkan beberapa karakter yang mungkin hanya tampil sekelebat seperti Carly Beth (The Haunted Mask), Mutant Plants (Stay Out of The Basement), The Lord High Executioner (A Night in Tower Terror), dan puluhan karakter lainnya. Sekaligus membuat beberapa adegan sebagai referrence ke beberapa novel seperti Stay Out of The Basement dan The Ghost Next Door.

5

Secara cast, Jack Black menjadi kunci utama dalam menjual film ini. Khususnya bagi mereka yang tidak menggemari bukunya. Dan usaha Black cukup komikal dalam memerankan Stine versi film. Yes, saya bilang versi film, karena aslinya R.L. Stine sudah sangat tua dan jauh berbeda dengan versi Jack Black. Kecuali kacamata dan sisiran rambutnya. Dan untungnya tidak banyak yang mempermasalahkan hal ini. Mungkin bagi penonton- penonton kritis akan mempermasalahkan dengan tampilan Stine yang seperti orang berusia 40 tahunan yang seharusnya jika dikaitkan dengan orang aslinya, Stine berusia 40 tahunan, hal- hal modern seperti Instagram belum lahir. Kemudian ada duet Dylan Minnette dan Odeya Rush yang dari tampang, tampilan, muka, gaya berbicara, gesture sudah cocok memerankan versi remaja Joseph Gordon- Levitt dan Mila Kunis. Namun yang menjadi scene stealer di film ini sebenarnya adalah Ryan Lee yang sangat lucu dan menarik memerankan karakter sidekick yang pathetic.

6

Fans atau bukan, Goosebumps bisa menjadi sebuah tontonan yang menghibur. Dengan metode kisah seperti Jumanji, film ini layak untuk dijadikan tontonan remaja menyambut Halloween. Namun mungkin yang menjadi kendala ketika film ini sukses adalah untuk pembuatan sekuelnya. Dan hal tersebut bakal menjadi tantangan tersendiri untuk tim penulis naskah. Pasalnya sudah hampir keseluruhan karakter jahat ditampilkan di film ini. Ya moga- moga saja, ketika nanti difilmkan, mungkin akan membuat sebuah gebrakan baru. Ya mungkin cerita bergulir 15 tahun paska kejadian. Dengan bintang utama Joseph Gordon- Levitt dan Mila Kunis. (dnf)

Rating:

8/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s