The Legend of Tarzan (2016)

Tarzan: Tarzan teman. Ikan teman. Teman tidak makan teman.

(Eh sori salah film Tarzan).

Leon Rom: He’s Tarzan. You’re Jane. He’ll come for you.

Poster

Directed By: David Yates

Cast: Rocco Siffredi, Rosa Caracciolo

Eh sori salah film Tarzan… duh!

Cast: Alexander Skarsgard, Christoph Waltz, Margot Robbie, Samuel L. Jackson, Djimon Hounsou

Synopsis:

Kapten Leon Rom (Christoph Waltz) adalah seorang utusan kerajaan Belgia yang ditugasi untuk mencari sebuah berlian legendaris yang berada di pedalaman hutan Kongo. Hanya saja, berlian tersebut dijaga oleh suku pribumi pimpinan Chief Mbonga (Djimon Hounsou). Merekapun membuat perjanjian, Chief Mbonga akan memberikan akses ke Sumber Daya Mineral tersebut jika Rom mau mendatangkan manusia yang sangat dibencinya, Tarzan (Alexander Skarsgard).

Tarzan sendiri kini sudah kembali ke dunia manusia, menyandang nama aslinya; John Clayton dan menikahi Jane (Margot Robbie). Dengan tipu muslihat pihak Belgia, Tarzan dan Jane kini harus kembali ke “rumah” mereka di pedalaman Kongo dengan ditemani seorang utusan Amerika Serikat yang mencurigai kebusukan kerajaan Belgia, George Washington Williams (Samuel L. Jackson).

Review:

1

Siapa yang tidak kenal Tarzan? Hayo yang cowok usia 30 tahun ke atas jangan senyum- senyum. Mikir Tarzan apa ayo?

Karakter hasil rekaan Edgar Rice Burroughs ini sangat terkenal bahkan bisa dipastikan kepopulerannya mampu menyaingi karakter- karakter pop era jaman modern. Karakter yang lekat dengan manusia yang dibesarkan oleh kawanan Gorila, Mangani ini masuk ke dalam jajaran top ten karakter yang sering diadaptasi ke dalam film. Kepopulerannya juga dirasakan di Indonesia. Salah satu komedian legendaris yang telah almarhum pernah mengadaptasinya ke dalam sebuah film di tahun 70-an berjudul Tarsan Kota. Bahkan salah satu pelawak senior dari Tanah Jawa memilih nama karakter ini sebagai nama panggungnya. Kalau saya sebut nama Toto Muryadi pasti banyak yang tidak tahu. Tapi kalau saya sebut Tarzan Srimulat, semua orang pasti tahu.

2

Sekilas mengenai latar belakang karakter ini. Tarzan dikisahkan menjadi yatim piatu setelah ayah ibunya tewas oleh kekejaman alam, ketika mereka bertiga terdampar di pedalaman hutan Kongo. Tarzan yang masih bayi dibesarkan oleh Kala, seekor gorila betina dari spesies Mangani. Meskipun mendapatkan pertentangan dari Kerchak, pimpinan kawanan gorila tersebut, namun Kala tetap membesarkan Tarzan layaknya anak sendiri. Ketika dewasa, Tarzan mampu membuktikan dirinya kuat dan layak menjadi raja hutan. Petualangannya biasanya berkisar mengenai invasi manusia, sekitar suku pedalaman, suku- suku primitif, atau permasalahan antar hewan. Belakangan diketahui bahwa Tarzan  memiliki nama asli John Clayton dan merupakan pewaris tunggal dinasti Greystoke di Inggris.

3

Seperti saya sebutkan di atas, karakter Tarzan sendiri sudah ratusan kali diadaptasi baik ke dalam bentuk film maupun serial TV. Dari live action sampai animasi. Jadi interaksi antara sang raja hutan dan hewan- hewan liar yang di-treat layaknya teman sepermainan sudah tidak aneh lagi. Tarzan berantem lawan binatang buas? Sajian youtube ala almarhum Steve Irwin tentunya akan lebih menegangkan. Tampilan hewan CGI yang menyerupai wujud aslinya? Well, dwilogi reboot Planet of The Apes, Life of Pi. dan yang terakhir, The Jungle Book sudah mampu menipu mata penonton. Lalu apa yang menjadi nilai lebih yang dijual oleh versi adaptasi terbarunya ini? Dari materi promo trailer dapat disimpulkan bahwa sinematografi dan product design merupakan jualan paling menonjol dari film ini. Dan memang ternyata benar. Tampilan layar yang menyerupai lukisan dan mengingatkan kita akan film King Kong garapan Peter Jackson, membuat nuansa syahdu serta kengerian pedalaman rimba Kongo mampu tertangkap dengan baik. Hanya saja, tidak didukung dengan gimmick 3D yang maksimal. Meskipun saya baru sempat menyaksikan dalam format 3D biasa, akan tetapi saya mampu membayangkan bahwa format 3D IMAX akan lebih memaksimalkan kualitas tampilan layar.

4

David Yates memilih pendekatan Tarzan seperti film- film superhero belakangan ini. Dengan memilih tone gelap, membuat sajian film terasa lebih dewasa. Dan memang bisa dikatakan The Legend of Tarzan bisa menjadi pem-balance atas tontonan The Jungle Book tempo hari yang sangat sukses menghibur, namun lebih ditujukan ke anak- anak. (Sayangnya ini termasuk dari beberapa film yang saya skip review karena kesibukan pekerjaan). Yates, yang juga sukses menangani beberapa film Harry Potter, lebih memilih kisah Tarzan, bukan seperti film kebanyakan, yang menceritakan kisahnya saat tinggal di hutan dan berkenalan dengan Jane Potter di sela- sela petualangannya. Di sini, Yates lebih memilih cerita Tarzan setelah dia settle di peradaban modern, menikahi Jane, dan harus kembali ke belantaran hutan demi menyelamatkan “teman- teman”nya. Adapun metode flashback yang meskipun cukup mengganggu, bisa menjelaskan latar belakang kisah hidupnya yang mengisi kekosongan penjelasan dari cerita intinya. Seperti asal usul Tarzan, pertemuan Tarzan dan Jane, serta alasan permusuhan gorila dan manusia yang berujung dendam kesumat yang dirasakan oleh Chief Mbonga.

5

Jajaran casting merupakan salah satu yang cukup menonjol di film ini. Kelima pemeran utamanya mampu memainkan perannya dengan sempurna. Alexander Skarsgard mampu memerankan karakter Tarzan yang cool dan atletis, serta sorotan matanya bisa menjelaskan kesendirian serta kesenduan yang dialaminya semasa tumbuh dewasa di tengah hutan. Djimon Hounsou sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Tampilan fisiknya sudah pas banget jadi kepala suku pedalaman Afrika. Samuel L. Jackson dan Christoph Waltz yang kali ini mengisi peran karakter sejarah yang memang pernah ada memberikan kesan tersendiri di film ini. Jackson yang mengisi porsi sidekick dengan polesan stereotype afro sidekick mampu menghadirkan joke yang segar. Waltz, yang aktingnya kali ini mengingatkan kita akan peran fenomenalnya sebagai Hans Landa, mampu menghadirkan karakter villain yang karismatik, sekaligus menakutkan. Margot Robbie bisa memerankan karakter Jane yang lovable dan jauh dari kesan sekedar damsell in distress. Wajah Robbie cukup understandable kenapa Tarzan langsung love at first sight di saat pertama kali bertemu. Ya mungkin belasan tahun cuman lihat gorila, terus lihat Margot Robbie? Cowok normal mana yang gak panas dingin? (dnf)

Rating:

7.5/10

 

One thought on “The Legend of Tarzan (2016)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s