Sabtu Bersama Bapak (2016)

Gunawan Garnida: Tapi aku tidak bisa melihat mereka menikah.

Itje Garnida: Aku yang akan mengantarkan mereka menikah.

Poster

Directed By: Monty Tiwa

Cast: Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Arifin Putra, Deva Mahenra, Acha Septriasa, Sheila Dara Aisha

Synopsis:

Setelah mendapatkan kabar bahwa kanker yang dideritanya hanya menyisakan waktu yang tidak terlalu lama lagi, seorang ayah bernama Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) mempersiapkan segala sesuatunya untuk istri, Itje (Ira Wibowo) dan kedua anaknya, Satya dan Cakra. Hanya satu yang mengganjal, dia tidak bisa hadir saat anak- anaknya butuh ketika beranjak dewasa, dan tidak bisa memberikan nasihat- nasihat yang mungkin dipertuntukkan di setiap fase hidup anaknya. Untuk itu dia menggunakan sisa umurya untuk membuat rekaman yang berisi nasihat- nasihat serta bimbingan spiritual yang kelak ditonton anak- anaknya setiap hari Sabtu sore.

25 tahun kemudian, kedua anaknya telah tumbuh sukses di bidangnya masing- masing. Satya (Arifin Putra) telah menikahi Risa (Acha Septriasa) dan memiliki dua orang putra. Sarjana geologinya mengantarkan dirinya bekerja di tambang minyak lepas pantai di Prancis. Cakra (Deva Mahenra) telah menduduki jabatan Deputy Direktur sebuah bank di usianya yang baru 30 tahun. Namun mereka masih memiliki permasalahannya masing- masing. Satya yang mengidolakan sang ayah, berusaha memimpin keluarganya seperti sang ayah memimpin. Tanpa disadari, gaya kepemimpinan setiap ayah akan sangat berbeda tergantung zaman dan sifat keluarganya masing- masing. Cakra yang kaku, memiliki kesulitan untuk mendekati bawahannya, Ayu (Sheila Dara Aisha) yang dicintainya. Kedua kakak beradik itupun mulai mencoba mencari jalan keluar dan belajar bagaimana mereka bisa menjadi laki- laki bagi keluarga yang dipimpinnya.

Review:

1

Sabtu Bersama Bapak merupakan sebuah buku yang menjadi best seller di mana- mana. Kesuksesannya dibuktikan dengan sudah lebih dari 20 kali dicetak ulang dan tetap masih menjadi incaran para penggemar buku. Apa yang membuat buku ini begitu sukses? Buku yang ditulis oleh Adhitya Mulya memiliki tema yang cukup dekat di masyarakan kita. Yaitu parenting, seiring dengan minat dan concern sang penulis novel Jomblo ini terhadap dunia parenting yang cukup tinggi. Kisahnya pun digulirkan dengan cukup hangat. Meskipun memiliki tema yang sebenarnya mampu menguras air mata, namun di lain sisi, Kang Adit mampu membawakan joke- joke dan komedi yang mampu mengundang tawa pembaca. Hal ini memang sudah tidak diragukan lagi, mengingat di awal karir, dia sukses menorehkan hasil yang cukup baik lewat novel Jomblo.

2

Mendapatkan predikat best seller, sudah pasti akan memancing minat para produser untuk memfilmkan kisahnya. Hanya melihat dari trailer-nya saja, para penggemar novelnya sudah dijanjikan banjir air mata dengan cuplikan- cuplikan adegan yang mampu melayangkan imajinasi pembaca dan mengingat kata demi kata yang sepertinya digambarkan oleh cuplikan adegan- adegan di trailer. Namun di sinilah kesalahan para pembaca mulai terbentuk. Dengan membuat bar ekspektasi yang cukup tinggi setelah melihat trailer, calon penonton sudah membayangkan haru biru setiap adegan yang tadinya hanya bisa dibaca lewat kata- kata saja. Seperti halnya pesan Deva Mahenra sebelum gala premiere dimulai minggu lalu, bahwa sebaiknya kita melupakan pernah membaca bukunya dan mencoba untuk menerima filmnya menjadi sebuah sajian baru yang memiliki nilai tersendiri. Namun apakah itu mudah? Sabtu Bersama Bapak bukanlah novel pertama yang difilmkan dengan ekspektasi tinggi karena kesuksesan bukunya. Bahkan bukan hanya novel, hampir dipastikan semua film yang diangkat dari media tertentu (komik, video game, remake) sudah pasti harus ikhlas dibanding- bandingkan dengan sumber asilnya.

3

Oke, kalau begitu bagaimana dengan saya yang sudah kadung menyukai bukunya dan sukses mewek pada saat membaca dan menyaksikan trailer-nya? Otomatis jika saya mencoba membanding- bandingkan sepertinya tidak fair. Banyak elemen- elemen yang diubah di film ini (dihilangkan- red), yang bagi saya pribadi akan menambah kesan saat mengikuti cerita. Seperti runutan perjodohan Cakra yang berujung pada sebuah twist yang sangat apik di buku, lalu adegan epilog yang terasa dibuat- buat, berbeda dengan tulisan di buku yang sangat natural. Dan bagi saya so far merupakan epilog buku terbaik yang pernah saya baca. So, jadi kalau sudah baca bukunya tidak dapat menikmati film ini? Eh entar dulu, bisa juga menikmati jika kitanya mau menerima film ini sebagai sebuah sajian alternatif dari kisah Sabtu Bersama Bapak. Sulit. Tapi bukan tidak mungkin.

4

Film ini masih menyisihkan pesan- pesan moral dan bagaimana Adhitya Mulya membagikan input how to be a good father seperti yang dituliskan melalui buku lainnya yang berjudul Parenting Stories. Pesan- pesan moral itu, meskipun tidak sebanyak di novel, masih ada dan bisa disaksikan di film ini. Baik dari adegan flashback, rekaman video, maupun karakter kedua anaknya. Meskipun memiliki kisah haru biru, namun seperti nafas yang dihembuskan novelnya, film ini masih menawarkan adegan- adegan komedi, yang kebanyakan dibawakan oleh Deva Mahenra bersama Ernest Prakasa dan Jennifer Arnelita yang berperan sebagai dua bawahan Cakra, Firman dan Wati. Dan bisa dikatakan karena kelucuan- kelucuan itulah yang membuat Cakra sebagai karakter yang paling menarik di film ini. Berbeda dengan kisah hidup Satya yang cenderung lebih serius.

5

Dari pemilihan pemainnya sendiri, bagi saya pribadi sudah sangat pas. Meskipun jika ingin setia dengan novelnya, saya rasa Deva Mahenra terlalu tampan menjadi Cakra, mengingat gambaran si bungsu yang digambarkan tidak terlalu menarik bagi wanita. Namun dengan aktingnya yang kikuk serta rada- rada stiff, Deva mampu menebusnya sehingga secara karakter, Cakra bisa mirip dengan penggambaran sifat di novelnya. Arifin Putra sangat pas dan mampu menggambarkan karakter Satya yang keras. Acha Septriasa juga bisa memberikan karakter istri yang penyabar yang setia untuk menyenangkan hati suami sekaligus mengurus rumah tangga. Sheila Dara Aisha, sebagai Ayu juga sudah sangat pas. Wajahnya, yang mungkin di antara para pemain utama, termasuk yang paling kurang familiar di dunia perfilman, malah menjadi pilihan yang baik dalam menggambarkan karakter Ayu, yang sebagai karyawati baru cantik. Bisa kita bayangkan kita bertemu karyawati baru ( yang pastinya mukanya tidak familiar) dan ternyata cantik.

6

Pemilihan Ira Wibowo sebagai sang ibu juga pas. Sebenarnya pemilihan pemain karakter Itje agak- agak tricky. Di satu sisi harus menggambarkan karakter Itje dengan usia 30an awal di adegan flashback, di sisi lain harus menggambarkan karakternya berusia 50 tahunan di adegan masa kini. Kenapa cukup tricky? Di sini casting dihadapkan dua pilihan. Antara memilih pemain berusia muda dengan nantinya di make up tua di setting masa kini, atau memilih pemain tua dengan make up muda di setting flashback. Pemilihan Ira Wibowo, yang secara usia sudah berusia akhir 40-an namun masih memiliki kecantikan yang awet muda serta kulit yang masih kencang, membuatnya mampu memainkan peran Itje di dua jaman yang berbeda. Harga yang harus dibayar adalah membuat tampilan Abimana yang berperan sebagai sang suami nampak lebih tua ketimbang deskripsi di buku. Jika di buku digambarkan berusia sekitaran 36 tahunan (kalau tidak salah), namun jika melihat versi film, seperti berusia 40-an awal. Namun secara akting? Tidak usah diragukan lagi, performa Abimana yang segera akan berperan sebagai pelawak legendaris, Dono, sudah pasti sangat apik. Dia mampu menngeluarkan sisi kebapakan dan seorang family man yang dibutuhkan dari karakter Gunawan Garnida.

7

Pesan yang ingin disampaikan oleh film ini adalah kita harus bisa menghargai waktu dan keluarga. Bagi anak yang masih memiliki orang tua, abdikan waktumu untuk menemani sisa umurnya. Karena tidak sedikit orang tua yang mengorbankan banyak hal, bahkan sampai yang tidak mampu kita bayangkan, demi masa depan dan kebahagiaan sang anak. Bukan hanya mengorbankan waktu dan nyawa saja. Bahkan juga mengorbankan masa depan dan kebahagiaannya sendiri. Bagi mereka yang sudah tidak memiliki orang tua, rajin- rajinlah berdoa, panjatkan doa ke Sang Pencipta agar mau meringankan jalannya di akhirat dan mengampuni semua dosa- dosanya, karena hanya itu yang mampu kita lakukan. Bagi para orang tua, jangan korbankan waktumu untuk bersama anak- anak demi pengabdian terlalu tinggi terhadap pekerjaan, bos, dan kehidupan sosial. Pada saat kalian nanti tua dan sakit- sakitan kehidupan sosial kalian yang akan merawat. Pada saat nanti kalian tidak mampu ke kamar mandi sendiri, bukan manager kalian nanti yang membopong. Pada saat kalian sudah pikun, bukan bos kalian yang akan setia mengajak mengobrol. Bagi pekerjaan kalian adalah asset. Jika sudah tidak mampu berproduksi, kalian dapat digantikan dengan mudah. Tapi bagi keluarga, kalian tidak akan tergantikan. Jadi hargailah waktu. Hargailah keluarga. Selepas baca review ini, segeralah telepon keluarga kalian. Dan ucapkan. Aku sayang mama/ papa/ kamu, istriku/ kamu, suamiku/ kamu, anakku. (dnf)

Rating:

8/10

PS: Review ini aku persembahkan untuk Papa dan Mama di Surga. Dan juga untuk istri dan anak- anakku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s