Lights Out (2016)

Becca: You came back

Martin: So did you

Poster

Directed By: David F. Sandberg

Cast: Teresa Palmer, Mario Bello, Gabriel Bateman, Alexander DiPersia, Alicia Vela- Bailey, Billy Burke

Synopsis:

Setelah kematian sang ayah, Martin (Gabriel Bateman) merasakan keanehan yang dilakukan sang ibu, Sophie (Maria Bello) dan selalu diteror oleh sesosok misterius bernama Diana (Alicia Vela- Bailey) yang nampaknya takut terhadap cahaya. Sang kakak satu ibu lain ayah, Becca (Teresa Palmer) mencoba membantu memecahkan permasalahan ini karena sempat mengalami nasib yang sama ketika kecil dulu. Dengan dibantu oleh pacarnya, Bret (Alexander DiPersia), Becca mencoba menyibak rahasia di balik sosok Diana dan menyingkirkannya dari keluarganya untuk selamanya.

Review:

1

Membuat sebuah karya film merupakan impian semua orang yang mengaku memiliki hobi menonton film. Ada yang ingin menjadikannya sebagai sumber mata pencarian, ada yang sekedar menyalurkan hobi, adapula yang ingin eksis dan karyanya disaksikan orang banyak. Sayangnya, tidak banyak kesempatan yang terbuka untuk sineas- sineas amatir untuk menajamkan paruhnya dan menembus industri perfilman. Rekomendasi, channel, ataupun dewi fortuna harus selalu menepuk pundaknya agar bisa berkarir di dunia perfilman. Sehingga sebagai alternatifnya, muncullah film- film pendek ataupun film indie. Apalagi dengan maraknya sosial media yang memungkinkan untuk menyebarkan hasil karyanya untuk disaksikan para netizen, misalnya yang paling terkenal adalah youtube. Dan tidak sedikit pula film pendek yang mendapatkan atensi masyarakat luas sehingga menggelitik bos studio besar untuk membeli hak ciptanya dan dijadikan feature length. Seperti film Mama, When A Stranger Calls, District 9, dan The Babadook. Dan jika berhasil negosiasi, sutradara asli film pendeknya bisa memegang peranan sutradara pula di feature lenght-nya.

2

Di tahun 2013 ada sebuah film pendek berjudul Lights Out yang dinobatkan menjadi salah satu film pendek terseram yang pernah ada. Penyebaran secara viral menambah kepopuleran film ini. Gaya sang sutradara yang mampu membuat jump scare yang sangat efektif dengan memanfaatkan fobia sebagian penonton akan takut gelap diyakini menjadi modal yang sangat kuat untuk kepopulerna film pendeknya. Memang jika dilihat dari hasil akhirnya, film pendek Lights Out memiliki nuansa yang cukup mencekam dan menyeramkan. Meskipun kita dapat menebak ending-nya, namun tetap saja Sandberg mampu membuat penonton kaget. Apalagi sebagian besar orang menyaksikan film ini melalui komputer atau gadget yang mengharuskan mereka menggunakan earphone. Kontan efek suara mengagetkan di ending kisah mampu menggetarkan langsung ke dalam telinga.

3

Dan memang, yang menjadi kekuatan Sandberg adalah bagaimana dia mengolah jump scare dengan sangat efektif. Meskipun penonton sudah tau kapan setannya muncul, tapi tetap kesiapan melihat sang setan tetap tidak mampu menahan kekagetan dan kengeriannya. Dengan mengadaptasi ulang film pendeknya di opening sequence (lengkap dengan pemain film pendeknya, Lotta Losten, yang melakukan adegan pembuka), layaknya film When A Stranger Calls, Sandberg seakan- akan menekankan bahwa film ini akan memiliki tingkat keseraman dengan film pendeknya. Dan ternyata strenght point tersebut juga menjadi weakness bagi film ini. Sandberg bermain terlalu asyik di area kengerian dan horor hingga melupakan elemen- elemen lainnya. Seperti cerita dan pemain. Lights Out tidak menyimpan misteri yang cukup besar yang seharusnya dimiliki sebuah film horor atas apa dan siapa sosok mengerikan yang mengantui mereka (bahkan di trailer nya juga sudah disebut asal usul Diana).

4

 

Selain dari judul Lights Out nya sendiri, sosok yang menjadi jualan kuat di film ini adalah James Wan, yang diakui sebagai salah satu sutradara film horor modern yang berpengaruh dengan 3 franchise yang dilahirkannya; Saw, Insidious, dan The Conjuring, yang duduk di kursi produser. Namun layaknya film- film yang hanya diproduserinya tanpa dirinya turun langsung, segi naskah dan cerita tidak terlalu diperhatikan. Seakan- akan tim produksi dan sutradara yang bertanggung jawab hanya bergantung dengan jualan nama Wan semata. Padahal Wan, seperti kita ketahui, mampu membuat film horor yang seram, namun tidak melupakan cara bercerita dan pembangunan karakter yang kuat. Sehingga kita akan berempati terhadap apa yang dihadapi oleh karakter- karakter protagonisnya. Ambil contoh yang mungkin masih fresh di ingatan kita, The Conjuring 2, yang juga mampu membuat penonton dekat dan peduli terhadap ikatan batin karakter Ed dan Lorraine. Hal ini juga dialami oleh Lights Out yang sebenarnya memiliki 2 nama aktris kuat lintas generasi; Teresa Palmer dan Maria Bello. Hanya saja bakat aktingnya serasa disia- siakan.

5

Secara utuh, Lights Out bisa dikatakan cukup baik untuk ukuran sutradara debutan ini. Hanya saja mungkin beban yang ditanggung cukup berat, di mana biasanya dia hanya membuat film pendek tanpa pressure dari bos studio besar dan tekanan untuk membuat film tersebut balik modal. Mungkin satu atau dua film lagi, sutradara ini sudah bisa terlepas dari kebiasannya membuat film pendek. Ke depannya, Sandberg akan memegang kendali sekuel film yang juga merupakan spin- off dari salah satu karya James Wan, Annabelle. Untuk Lights Out sendiri, saya tidak begitu mengharapkan sekuel. Karena seperti yang sudah- sudah, terlalu banyaknya sekuel untuk film horor, menjadikan esensi seramnya hilang. Contoh saja film- film semacam Insidious, Final Destination, Saw, dan Paranormal Activity yang sudah tidak lagi sebagus film- film awalnya. (dnf)

Rating:

7/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s