Headshot (2016)

tiff-2016-headshot-poster

Directed By: Timo Tjahjanto, Kimo Stamboel

Cast: Iko Uwais, Julie Estelle, Chelsea Islan, Sunny Pang, Very Tri Yulisman, Zack Lee, David Hendrawan, Ganindra Bimo

Synopsis:

Seorang pemuda (Iko Uwais) ditemukan tidak sadarkan diri dengan luka tembakan di kepala. Dirinya dirawat di Rumah Sakit oleh seorang mahasiswi kedokteran Ailin (Chelsea Islan). Tidak mengetahui namanya sendiri, Ailin memberikan nama Ishmael. Namun ternyata, Ishmael, yang kemudian diketahui memiliki nama asli Abdi, menjadi incaran seorang gembong kriminal, Lee (Sunny Pang) yang mengutus anak buah- anak buahnya, Rika (Julie Estelle), Besi (Very Tri Yulisman), Tano (Zack Lee), dan Tejo (David Hendrawan) untuk membunuh Abdi.

Review:

1

Paska kesuksesan The Raid pada tahun 2011, yang diikuti sebuah sekuel 3 tahun kemudian, melahirkan trend baru di dunia perfilman Nasional. Kesuksesan, baik secara finansial maupun secara respon, membuat banyak produser yang tergiur untuk sedikit mengecap dan memanfaatkan momen tersebut. Ada beberapa yang beruntung bisa mengajak alumni The Raid, sebut saja seperti Iko Uwais, Cecep Arif Rahman, atau Kang “Greget” Yayan Ruhiyan. Tapi ada juga yang mencoba dengan bintang baru (dalam dunia perfilman). Namun tidak banyak yang bisa menyamai kualitas film arahan Gareth Evans tersebut. Kebanyakan masuk kategori “numpang lewat” saja. Di antara beberapa sineas yang mencoba untuk mengikuti jejak The Raid adalah duet sutradara yang terkenal dengan film- film “sakit” nya, Mo Brothers.

2

Secara materi promosi, film ini cukup berhasil menarik minat pecinta film nasional. (meskipun banyak yang suka ngomong “ah film Indonesia.. pasti jelek” atau “ah 2 bulan lagi juga masuk TV) —> shame on you, guys! Apalagi dengan masuknya 3 aktor gawang terdepan sekuel The Raid dan track record Mo Brothers yang selalu melahirkan karya berkualitas. Ditambah dengan strategi mereka yang selalu menayangkan terlebih dahulu di festival- festival film Internasional, sudah pasti akan menjadi daya jual tersendiri. Trailer yang dirilis juga berhasil mencuri perhatian (siapa sih yang gak meleleh lihat Chelsea Islan tampang baik- baik pakai kacamata?). Namun sayangnya, hasil akhirnya tidak sehebat yang diharapkan. Oke, secara kualitas film aksi sudah cukup bagus, tapi secara keseluruhan film cukup disayangkan.

3

Kita sudah pasti tidak mengharapkan cerita yang sangat kompleks atau bagus. Jika kita menoleh ke belakang, The Raid memiliki cerita standar, namun menonjolkan kualitas aksi, yang bahkan menjadi trend setter tersendiri secara internasional. Namun berbanding terbalik dengan sekuelnya. Meskipun secara kualitas aksi mengalami peningkatan dan tidak mengecewakan, namun cerita yang terlalu dibuat kompleks malah menjadi bumerang tersendiri dengan adanya kekecewaan- kekecewaan penonton. Seharusnya Mo Brothers bisa belajar dari situ. Secara premis, memang film Headshot sangat simple. Dengan perpaduan antar plot Hard to Kill, The Bourne Identity, dan Ninja Assassins, penonton mengharapkan aksi yang full package. Namun hasil akhirnya, ternyata Mo Brothers mencoba untuk memberikan sub plot yang cukup dragging.

4

Sebenarnya jika ingin membuat cerita lebih kompleks, akan lebih menarik jika unsur yang ditonjolkannya adalah pergolakan batin Abdi dalam melawan saudara- saudara angkatnya dalam perkelahian sampai mati ketimbang mengedepankan unsur romance nanggung yang malah membuat film terasa cheesy. Tensi ketegangan juga relatif menurun sejalan dengan durasi film. Adegan pembuka yang memperkenalkan sosok Lee yang sadis, manipulatif, dan pintar cukup memberikan janji positif terhadap penonton. Hingga pertengahan film, bisa dikatakan adegan aksinya cukup menegangkan. Sayangnya di pertengahan sempat mengalami penurunan. Namun Uwais Team kemudian membayarnya dengan pertarungan klimaks antara Abdi dan Lee yang sedikit mengingatkan kita kepada pertarungan Mad Dog melawan Rama dan Andi di film The Raid.

5

Saya merasa skill Iko kurang begitu dikeluarkan secara maksimal di dalam film ini. Kita masih ingat bagaimana dia dan tim menjadi bagian koreografi dalam film The Raid 2, yang cukup berhasil dan efektif. Di sini kualitas koreografinya mengalami penurunan. Namun saya cukup maklum, mengingat film ini tidak murni hanya martial arts. Penggunaan senjata api juga menjadi bagian penting di beberapa action sequence. Tapi jika berbincara mengenai jajaran cast, pemilihan pemain sudah cukup baik. Masing- masing bintang filmnya sudah berhasil membawakan karakternya masing- masing lebih hidup. Apalagi Sunny Pang yang berhasil memainkan karakter villain dengan sangat baik. Dan aktor Singapura ini menunjukkan kebolehannya dalam berbahasa Indonesia.

6

Jika ingin diambil kesimpulan, film Headshot masih masuk kategori watchable. Apalagi bagi kalian yang kangen dengan penampilan Iko Uwais ngebantai lawan- lawannya. Meskipun masih memiliki banyak kekurangan di sana- sini, namun setidaknya film ini masih memiliki kualitas yang cukup baik dibandingkan dengan pengekor- pengekor The Raid lainnya. Saya berharap di film berikutnya, The Night Comes For Us, Timo bisa membuat film aksi laga yang lebih brutal dan mengurangi scene- scene dragging-nya. Lho? Jadi diproduksi ya The Night Comes For Us? Insya Allah jadi brosis… Di antara jajaran pemain ada nama- nama Iko Uwais, Joe Taslim, Sunny Pang, Julie Estelle, Zack Lee, Abimana Aryasatya, Hannah Al Rasyid, Shareefa Daanish, dan (ehem ehem ehem)… Dian Sastro. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s