John Wick: Chapter 2 (2017)

john-wick-chapter-2-poster

Directed By: Chad Stahelski

Cast: Keanu Reeves, Ian McShane, Ruby Rose, Common, Riccardo Scamario, Claudia Gerini, Lance Reddick, Laurence Fishburne, Bridget Moynahan, John Leguizamo, Franco Nero, Peter Stomare

Synopsis:

Setelah memberikan “salam damai” kepada gembong mafia Abram Tarasov (Peter Stomare), John Wick (Keanu Reeves) kembali ingin menikmat masa pensiunnya sambil menenggelamkan diri di dalam kesedihan kehilangan sang istri. Namun belum lama, Wick hidup dalam damai, dia didatangi mantan koleganya sesama assassin, Santino D’Antonio (Riccardo Scamarcio) yang karena posisinya tinggi di organisasi pembunuh bayaran, pernah membantu Wick untuk keluar dari dunia hitam tersebut. Santino menagih hutang budi kepada Wick dengan mengutusnya untuk membunuh Gianna (Claudia Gerini), adiknya, yang menduduki jajaran kursi tertinggi di organisasi tersebut. Namun setelah Gianna mati, Wick dijadikan kambing hitam dan Santino mengerahkan seluruh assassin untuk membunuh Wick dengan bayaran 7 juta dollar. Termasuk Cassian (Common), mantan bodyguard Gianna dan Ares (Ruby Rose), pengawal Santino.

Review:

c78271b579196da417ab1aea7d4dab3d511bf216

Belakangan ini dunia perfilman Hollywood kembali dimeriahkan dengan hadirnya fim- film aksi yang mengingatkan dengan tahun 80-an. Dan Alhamdulillah, tidak sedikit yang kemudian menjelma menjadi franchise karena respon positif yang didapat. Seperti film The Expendables, Olympus Has Fallen, The Equalizer, John Wick, dan dengan bangga, Indonesia ikut menyumbang dengan sebuah film yang memberikan udara segar, The Raid. Film- film tersebut berhasil mengobati kerinduan penggemar laga, dengan format film kelas B, yang tidak memperdulikan kualitas cerita dan hanya mengejar adegan aksi laga yang seru. Dan tentunya tidak melupakan kadar violence yang cukup tinggi. Dan ternyata bagaikan trend mode rambut atau pakaian, hal ini kembali mengangkat genre aksi 80-an tersebut kembali digemari. Bahkan oleh penonton baru.

JW2_D29_8085.cr2

John Wick, yang dirilis tiga tahun lalu seakan ikut memberikan ke-happy-an dan film yang cukup fresh. Dengan mengandalkan koreografi Gun Kata yang cukup apik ternyata mampu menampilkan pesona film aksi yang cukup efektif. Belum lagi plot cerita yang sangat cheesy. Mana ada film aksi laga keras berat yang menjadikan anjing dibunuh dan mobil dicuri menjadi alasan sang protagonis untuk membunuh puluhan orang dan menyatakan perang dengan gembong mafia? Namun jika ditilik lagi, sebenarnya itu merupakan hal yang cukup manusiawi. Coba, kita saja yang orang awam jika dompet dicopet, pengen rasanya tuh copet dapat hukuman yang berat. Minimal pengen ikut gebukin. Apalagi seorang mantan pembunuh bayaran? Tapi di film keduanya ini, duet penulis naskah- sutradara Derek Kolstad dan Chad Stahelski memilih untuk memberikan cerita yang sedikit kompleks dan jauh dari kesan cheesy sambil memberikan base universe tersendiri bagi franchise ini.

john-wick-chapter-2-trailer

 

Dengan mencomot sedikit tema Wanted, Kolstad- Stahelski menggambarkan universe John Wick memiliki ratusan assassin yang sepertinya menjadi pilihan profesi umum layaknya dokter, pengacara, dan akuntan. Bahkan layaknya dokter yang memiliki IDI, profesi assassin digambarkan memiliki organisasi profesi yang untuk menetapkan standar kode etika profesi tersendiri. Dan bagaikan pengacara, yang di luar saling mengenal satu sama lain namun bisa jadi di dalam persidangan saling menyerang dengan sekuat tenaga, assassin juga digambarkan saling mengenal pribadi satu sama lainnya namun tidak menutup kemungkinan suatu saat harus saling berhadapan mengadu nyawa jika memiliki kontrak yang berseberangan atau mungkin kontrak untuk membunuh salah satu di antara mereka.

john-wick-chapter-2-2

Untuk aksi laga sudah tidak perlu ditanya lagi. Ibaratnya anekdot “don’t change the winning team”, studio tahu betul untuk tetap mempertahankan jajaran cast and crew lama untuk kembali memberikan usaha terbaiknya di sekuel ini. Mungkin hal itu juga yang membuat John Wick: Chapter 2  masih layak ditonton. Deretan adegan koreografi Gun Kata yang masih mampu memacu adrenalin. Sedikit informasi, Gun Kata atau Gun Fu atau Bullet Ballet atau Gymnastic Gunplay adalah perpaduan antara aksi bela diri yang dipadukan dengan penggunaan senjata api. Koreografi ini tidak lepas dari pengaruh perfilman Hong Kong seperti A Better Tomorrow dan film- film Hollywood yang ikut terpengaruh seperti Equilibrium dan Ultraviolet. Kembali ke review, selain adegan aksi laga yang efektif, film ini juga masih menggunakan sinematografi yang didominasi warna biru tua sebagai representasi kesendirian yang dirasakan oleh John Wick. Bukan hanya kehilangan sang istri. Namun kesendirian saat rekan- rekannya berusaha untuk membunuh dirinya.

nefnnzd5xuu1jh_1_b

Sebagai penutup, John Wick: Chapter 2, bisa dikatakan berhasil mengekskalasi kadar keasyikan dari film pertamanya. Tidak menutup kemungkinan franchise ini akan berkembang. Layaknya film Pirates of The Carribbean, paska kesuksesan film pertama langsung dipersiapkan film kedua dan ketiga yang bersambung. Ending jilid kedua ini mengisyaratkan film lanjutan yang akan lebih epic dibandingkan sebelumnya. Selain film, tidak menutup kemungkinan juga nantinya akan ada video game jika ada developer game yang berminat. Melihat template dan aksi Gun Kata memang sangat memungkinkan John Wick dibuatkan video game-nya. Misal bercerita tentang prekuel sebelum kejadian di film pertamanya sebelum Wick pensiun dari profesi haramnya. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s