Ready Player One (2018)

Poster.jpg

Directed By: Steven Spielberg

Cast: Tye Sheridan, Olivia Cooke, Ben Mendhelson, Mark Rylance, Simon Pegg, Lena Waithe, Philip Zhao, Win Morisaki, Hannah John- Kamen

Synopsis:

Di masa depan, di mana teknologi Virtual Reality sudah menjadi barang sehari- hari, banyak manusia mencoba keluar dari realitas kehidupannya dan masuk ke dalam Oasis, sebuah dunia virtual di mana para pemain menjalani aktivitasnya dengan berperan sebagai Avatar yang dipilihnya. Layaknya sebuah video game, di dalam Oasis juga terdapat misi- misi yang bisa dipilih untuk mendapatkan koin. Koin tersebut bisa digunakan sebagai alat tukar di dunia Oasis, ataupun membeli keperluan permainan yang bisa dikirim ke dunia nyata.

Oasis diciptakan oleh duo James Halliday (Mark Rylance) dan Odgen Morrow (Simon Pegg). Ketika Halliday meninggal, dia memberikan misi bagi para pemain untuk menemukan 3 buah artefak yang menjadi petunjuk letak Easter Egg, di mana si penemu bisa mendapatkan hak dan seluruh saham Oasis, artinya dia bisa mempunyai kontrol penuh terhadap dunia yang menjadi pusat peradaban dunia pada saat itu.

5 tahun sejak meninggalnya Halliday, belum ada satupun yang berhasil mendapatkannya. Hingga akhirnya seorang pemain yang memiliki username Perzival (Tye Sheridan) bersama 4 temannya; Art3mis (Olivia Cooke), Aech (Lena Waithe), Daito (Win Morisaki), dan Sho (Philip Zao) berhasil menemukan satu per satu artefak tersebut. Untuk itu kelimanya dikejar oleh Sorrento (Ben Mendelsohn), direktur IOI, yang memiliki misi untuk menguasai Oasis.

Review:

1

Sekali lagi Steven Spielberg telah dengan sangat brilian berhasil menelurkan sebuah film yang (seperti film- filmnya yang lain) kelak akan mendapat predikat “film klasik” dan juga cult. Bagaimana tidak? Film ini memiliki paket lengkap dan menjadi sebuah love letter bagi budaya populer. Khususnya dari era tahun 1980 sampai 2010an. Tidak menutup kemungkinan film ini kelak juga akan menjadi referensi bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah pop culutre di masa yang akan datang. Menyaksikan film ini sedikit mengingatkan kita saat menyaksikan film The Cabin in The Woods, yang memiliki banyak referensi karakter- karakter film horor. Tapi yang lebih mengasyikan dari film The Cabin in The Woods, jika pada film tersebut masih sangat jelas menemukan referensi budaya pop horor klasik, karena hanya muncul di scene- scene tertentu, di film ini Spielberg dengan cerdas menebar refernsi tersebut hampir di setiap scene sepanjang durasi. Sebagian sangat mudah dikenali, sebagian lagi bergerak sangat cepat dan (atau) diambil dari sudut yang sangat jauh. Jadi tidak cukup sekali menonton film ini untuk menemukan referensi- referensi tersebut.

2

Berbicara mengenai referensi budaya pop, yang menjadi salah satu daya jual film ini, sayangnya ada beberapa referensi yang muncul di novel, tapi karena masalah license jadi tidak bisa ditampilkan di versi filmnya. Namun hal ini tidak lantas kadar keasyikan film ini jadi meluntur. Karena seperti saya bilang tadi, nonton ratusan kali pun belum tentu bisa menemukan semua refernsi dan pesan tersembunyi. Karena cara Spielberg memunculkannya, bukan hanya berupa karakter atau kendaraan saja, kadang berupa meniru adegan atau hanya berupa insignia dan logo dari film lain. Uniknya lagi, Spielberg juga memasukkan trivia dari filmnya sendiri.

5

Bukan hanya sekedar memunculkan referensi atau cameo saja, naskah film ini layaknya sebuah permainan video game. Di mana ada beberapa orang yang bermain secara lurus memutar otak, ada juga yang membayar lebih untuk mendapatkan artefak yang sudah diambil gamer lain. Selain itu setting film yang mayoritas di The Oasis dan bagaimana para gamer lebih suka menghabiskan waktu di sana ketimbang di dunia nyata, dan hanya berhenti untuk kebutuhan inti seperti tidur, makan, dan buang air, seperti sindiran kepada gamer- gamer atau penghamba budaya populer yang lebih suka menghabiskan waktu dengan hobinya tersebut ketimbang pergi keluar bersosilasi dan menjalankan realitas hidup yang lebih nyata.

3

“Lantas kalau saya misal dulu sekolah kerjaannya cuma belajar, gak gaul, gak main game, gak nonton film, terus gak punya temen apakah bisa juga menikmati film ini?”

Masih bisa. Meski film ini memiliki titik kuat dalam menyelipkan tribute pop culture, namun dari segi cerita serta naskah juga tetap mengasyikan. Adegan laganya pun cukup seru. Dengan menyelipkan twist yang cukup berbobot, film ini bisa menutup kisahnya dengan sangat manis. Jadi bisa dikatakan film Ready Player One adalah sebuah sajian tribute bagi budaya populer, namun bisa dinikmati seluruh kalangan. Tidak salah jika saya menasbihkan film ini sebagai salah satu film terbaik Steven Spielberg, dan film terbaik tahun 2018… so far (dnf)

Rating:

9.5/10

Advertisements

Pacific Rim: Uprising (2018)

Poster.jpg

Directed By: Steven S. DeKnight

Cast: John Boyega, Scott Eastwood, Cailee Spaeny, Burn Gorman, Charlie Day, Jing Tian, Adria Arjona, Rinko Kikuchi

Synopsis:

Jake Pentecost (John Boyega), anak dari Stecker Pentecost, seorang pahlawan yang berhasil menutup gerbang antar dimensi tempat masuknya para Kaiju ke bumi, lebih memilih menjadi kriminal ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Namun demi menghindari penjara, Jake terpaksa melatih para kadet pilot Jaeger muda, bersama dengan mantan rekannya, Nate Lambert (Scott Eastwood). Karena meskipun ancaman kaiju sudah tidak ada, namun para ahli memperkirakan akan kemungkinan adanya serangan para monster raksasa tersebut kembali.

Review:

2

Pada tahun 2013 muncullah sebuah film yang merupakan penggabungan 2 genre populer anime yang juga merupakan favorit masa kecil Guillermo Del Torro; Kaiju dan Mecha. Sebagai sedikit dan penjelasan, Mecha adalah sebuah sebutan genre film yang berisikan fantasi science fiction, di mana kisah berkutat pada robot raksasa yang digerakan oleh manusia. Sebut saja semacam Gundam, Evangelion, dan Mazinger Z. Sementara kaiju adalah film yang memiliki kisah fokus monster raksasa. Contoh paling populer adalah Godzilla. Del Torro berhasil menggabungkan 2 genre favoritnya tersebut sekaligus menjadikan sajian mimpi basah para fanboy dengan menampilkan pertempuran antara Mecha dan Kaiju versi Hollywood.

1

Satu hal yang kental terasa dari film ini adalah semakin terasanya pengaruh RRC terhadap industri perfilman Hollywood. Sebenarnya bukan hanya film ini saja, namun selama 1 dekade belakangan ini sudah mempengaruhi beberapa film mega budget. Sebut saja seperti penggunaan Ben Kingsley sebagai The Mandarin, yang diganti etnisnya untuk menghindari karakteristik penjahat utama. Lewat film Pacific Rim: Uprising ini, beberapa hal nampak dengan jelas dipengaruhi. Sebut saja dengan peletakan lokasi markas komando serta karakter- karakter inti yang menggunakan artis mandarin. Padahal jika ingin dijadikan tribute, lebih pas jika aktor/ aktris Jepang yang dikedepankan (selain Rinko). Untung saja, adegan klimaks masih memilih kota Tokyo sebagai setting lokasinya. Sebenarnya wajar saja RRC terasa sebagai sentral cerita ini. Terasa seolah- olah aktor- aktris bule dan negro hanya sebagai tempelan supaya laku secara global. Film Pacific Rim sendiri sebenarnya ditutup dengan sebuah akhir yang tidak membuka adanya sekuel, namun Gross Profit dari RRC yang cukup bombastis yang membuat film ini dilanjutkan menjadi sebuah sekuel.

4

Ada lagi yang membedakan film ini dengan seri sebelumnya. Kali ini, naskah terasa ingin merangkul penonton remaja dengan memasukan banyak karakter teenager yang nampaknya bakalan didapuk sebagai generasi lanjutan jika franchise ini berlanjut terus. Sentuhan komedinya pun juga cukup baik. Penanganan adegan final fight nya cukup seru. Banyaknya kritikan pertempuaran di malam hari yang menjadi mayoritas adegan laga di film pertama, menjadikan film keduanya ini lebih memillih siang hari sebagai setting waktu di setiap adegan pertempuran raksasanya. Dan bagi saya pribadi, ini menjadi pilihan yang bagus. Mengingat hasilnya kita bisa lebih bisa mengikuti koreo berkelahi para robot dan monsternya.

6

Jika ditanya apa yang menjadi kekurangan film ini saya akan menjawab karakterisasi masing- masing tokohnya. Jika pada film pertama trio Charlie Hunnam, Idris Elba, serta Rinko Kikuchi digali cukup dalam, kali ini tidak ada karakter yang cukup berkesan. Kemunculan duet ilmuwan nyentrik yang diperankan oleh Charlie Day dan Burn Gorman juga tidak semenarik dulu. Jika di film pertamanya penampilannya cukup apik ala- ala trio ilmuwan aneh yang menjadi pemburu hantu, kali ini comeback mereka berdua tidak bisa memberikan efek komedi cerdas seperti dulu lagi. John Boyega, yang meski harus diakui di film ini lebih keren daripada jadi Finn di Star Wars, namun karakternya terlalu dangkal. Scott Eastwood yang sebenarnya bisa di treat sebagai penghibur penonton wanita, untuk mengobati absennya Charlie Hunnam karena bentrok syuting, juga terasa hanya sebagai pemanis – yang -penting- ada- jagoan- ganteng. Apalagi karakter Jules yang diperankan Adria Arjona yang kayaknya cuman sebagai pemanis – yang -penting- ada – jagoan- cantik- sexy saja. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Death Wish (2018)

Poster

Directed By: Eli Roth

Cast: Bruce Willis, Vincent D’Onofrio, Elizabeth Shue, Camila Morrone

Synopsis:

Setelah sebuah perampokan menewaskan istri dan membuat anaknya koma, seorang dokter bernama Paul Kersey (Bruce Willis) terpanggil untuk melindungi warga Chicago dari kejahatan jalannya. Dengan berbekal sebuah pistol Glock, Kersey menghabisi setiap pelaku kriminal yang ditemuinya. Sampai suatu hari, dia menemukan petunjuk atas perampokan tersebut. Tidak percaya dengan kinerja polisi, Kersey pun akhirnya memutuskan untuk mendatangi semua yang terlibat dan membunuhnya satu per satu.

Review:

1.jpg

Pada tahun 1974, sebuah film berjudul Death Wish dirilis. Menjadi salah satu film yang semakin menguatkan nama Charles Bronson menjadi salah satu icon bintang macho. Meskipun akhirnya diikuti dengan beberapa sekuel, pada saat rilis, film ini banyak menerima review positif dan juga kritikan tajam. Kritikan diarahkan kepada filosofi main hakim sendiri yang diusung dan ditakutkannya semakin banyaknya orang yang langsung menghukum pelaku kriminal tanpa adanya proses hukum yang benar. Menjadi sebuah pop culture pada saat itu, film ini menelurkan genre baru dan film- film sejenis dengan tema yang mirip. Sebut saja semacam The Brave One, Law Abiding Citizen, dan Death Sentence. Biasanya kemiripan didapat dari seorang protagonis yang kehilangan orang yang disayang karena suatu tindakan kriminal dan terpaksa main hakim sendiri akibat kurang kompetennya petugas hukum dalam mengungkap kasusnya. Sebenarnya plot semacam ini sudah sering dituangkan menjadi origins karakter komik. Sebut saja yang paling mendekati adalah Batman dan The Punisher.

2

Satu hal yang perlu dicermati sebelum menyaksikan film ini adalah, bahwa film semacam ini tidak memerlukan akting yang memukau ataupun naskah kelas Oscar. Yang penting ditonjolkan adalah bagaimana menyaksikan sang jagoan menghukum satu per satu penjahat yang telah merusak kehidupan bahagianya. Dan dengan ditambahnya nama Eli Roth yang menggawangi proyek ini, sudah pasti aksi balas dendamanya akan dipenuhi dengan adegan gore dan violence dengan level yang cukup “memuaskan”. Pemilihan Bruce Willis untuk menggenggam tongkat estafet yang dulunya dipegang almarhum Charles Bronson, juga cukup pas. Willis paling dikenal dengan karakter John McClane yang memang di franchise filmnya terkenal dengan adegan yang cukup kerasa. Sehingga kemasan violence film ini sudah cukup baik.

3

Perubahan profesi Kersey dari seorang arsitek menjadi seorang dokter juga cukup baik. Meskipun alasannya cukup cheesy, di mana dengan menjadikan Kersey berprofesi sebagai dokter memberikan simbol dualisme Kersey, di mana di satu sisi dia akan berbuat sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa dan di satu sisi dia juga cukup ahli dalam mencabut nyawa. Meskipun memiliki rating R, Roth menurunkan kadar violence-nya. Di mana di versi original, anak dari Kersey versi Bronson mengalami pelecehan seksual dan pemerkosaan oleh pelaku kriminal, di sini cukup dibuat menjadi koma tanpa adanya adegan pemerkosaan yang cukup disturbing. Dan jika dibandingkan dengan film- film Roth sebelumnya, sebenarnya adegan violence dalam film ini agak menurun kadarnya.

4.jpg

Apakah Eli Roth berhasil dalam me-reboot film ini? Jika hanya menjadi sebuah tontonan film aksi kelas B low budget bisa dikatakan cukup berhasil. Namun jika ingin menyamai versi lamanya, kayanya masih terlalu jauh. Bisa jadi karena sudah jamaknya film dengan tema semacam ini. Berbeda dengan di tahun 1974 ketika film semacam ini masih cukup jarang. Apakah film ini cukup menghibur? Bagi saya iya. Dengan apiknya tensi adegan aksi disertai dengan dark comedy yang apik, rasanya akan cukup menghibur. Namun yang sangat disayangkan adalah adegan final fight yang saya rasa terlalu singkat. Harusnya bisa didurasikan lebih lama lagi. (dnf)

Rating:

7/10

Insidious: The Last Key (2018)

Poster

Directed By: Adam Robitel

Cast: Lin Shaye, Leigh Whannell, Angus Sampson, Kirk Aceveda, Caitlin Gerard, Spencer Locke, Josh Stewart, Teresa Ferrer, Ava Kolker, Pierce Pope, Bruce Davison

Synopsis:

Elise Reinier (Lin Shaye) mendapat telepon dari seseorang yang mengaku mendapatkan gangguan mahluk halus di rumahnya. Ternyata rumah tersebut adalah rumah di mana Elise tumbuh sejak kecil bersama adik dan ayahnya yang kasar dan suka menyiksa. Kali ini Elise mau tidak mau harus menghadapi lagi kekuatan jahat yang sempat membunuh ibunya dan membuat ayahnya gemar menyiksa.

Review:

4

Pada tahun 2011, sebuah film horor yang akan menjadi trendsetter baru dalam dunia perfilman horor dirilis. Selain mengembalikan genre horor klasik, film ini juga mendudukkan sang sutradara, James Wan, menjadi salah satu nama yang cukup diperhitungkan di genre tersebut. Kehadiran film Insidious- yang diteruskan dengan The Conjuring- membuat peta perfilman horor semakin bergeser. Dari yang tadinya booming dengan film Slasher, found footage, ataupun phsycological thriller, kini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan film horor klasik. Di mana lebih menekankan kepada letak kamera, lighting, serta musik yang depressing.

Insidious: The Last Key (2018)

Dan seperti halnya film- film horor jenius lainnya, Insidious pun mendapatkan jilid- jilid penerus, yang sayangnya makin hari makin menurun kualitasnya. Hal ini diakibatkan dengan cerita yang cenderung dipaksakan. Bukannya untuk spoiler, dan saya rasa yang baca review ini sudah nonton film pertamanya. Di film pertama cerita terfokus kepada keluarga Lambert dengan karakter Elise Rainier sebagai peran pembantu yang membantu keluarga malang tersebut untuk melepaskan gangguan gaib dari roh jahat. Dan di akhir kisahpun, Elise diceritakan mati. Mungkin ini merupakan salah satu kesalahan. Mungkin juga awalnya tidak akan terpikirkan kalau film ini akan menjadi sebuah kuda hitam yang memiliki kesuksesan besar. Di film kedua, naskah masih bagus dengan meneruskan kisah di mana film pertama berakhir. Dan karakter Elise (yang merupakan scene stealer di film pertama selain setan yang mirip Darth Maul) dan dua asistennya (kalau ini kudu muncul, karena salah satunya diperankan oleh Leigh Whannell…. kenapa? Karena dia yang nulis naskah) masih dimunculkan dengan alur yang tidak dipaksakan.

3

Nah di film ketiga baru keadaan memaksakan itu semakin terasa. Menyadari tidak memungkinkannya film dilanjutkan sebagai sebuah sekuel, film ketigapun dibuatkan sebagai prekuel. Dengan karakter Elise menangani kasus sebelum kasus keluarga Lambert. Untungnya Whannell masih bisa menggunakan metode time travel sehingga masih ada nyambung- nyambungnya lah dengan film pertama. Di film keempat ini begitu juga. Karena harus ada film keempat, jadi mau tidak mau film ini dijadikan sebuah prekuel lagi. Secara skenario, jika menjadi sebuah film tersendiri, sebenarnya cukup baik. Insidious: The Last Key memberikan twist berlapis yang pastinya akan memuaskan penggemar twist.

6

Adegan horornya cukup lumayan menegangkan, meski jika dibandingkan dengan pendahulunya mengalami penurunan. Whannell di sini cukup jeli mengeksplor potensi duet karakter Specs dan Tucker yang bisa menjadi faktor komedi yang bisa membuat penonton tenang di tengah ketakutan. Menyadari juga bahwa franchie ini masih berpotensi menjadi mesin pencetak uang, tapi usia Lin Shaye sudah terlalu tua, Whannell pun di sini menyiapkan dua karakter keponakan Elise, yang digambarkan salah satunya memiliki “bakat” yang sama dengan tantenya. Jadi setidaknya karakter Imogen (Caitlin Gerard) dan Melissa (Spencer Locke) bisa melanjutkan tongkat estafet jika nantinya diputuskan untuk dibuat jilid berikutnya.

5

Terlepas dari skenario yang cenderung dipaksakan, Insidious: The Last Key bisa menjadi tontonan yang cukup menarik. Apalagi bagi yang mengharapkan adegan- adegan seram. Dan penonton- penonton aneh lainnya, yang bayar tiket film horor tapi sepanjang film cuma tutup mata. (dnf)

Rating:

6.5/10

Justice League (2017)

Poster

Directed By: Zack Snyder

Cast: Ben Affleck, Henry Cavill, Gal Gadot, Ezra Miller, Jason Momoa, Ray Fisher, Jeremy Irons, Amy Adams, J.K. Simmons, Ciaran Hinds

Synopsis:

Paska tewasnya Superman/ Clark Kent (Henry Cavill), Bruce Wayne/ Batman (Ben Affleck) mengajak Wonder Woman/ Diana Prince (Gal Gadot) untuk merekrut manusia- manusia dengan kemampuan super. Mereka berhasil merekrut 3 superhero, yaitu Aquaman/ Arthur Curry (Jason Momoa), setengah manusia dan setengah penduduk atlantis; The Flash/ Barry Allen (Ezra Miller) yang mampu bergerak cepat; Cyborg/ Victor Stone (Ray Fisher), mantan pemain football yang sebagian besar organnya diganti mesin.

Tugas pertama mereka adalah menghentikan Steppenwolf (Ciaran Hinds) untuk membangkitkan “ibu”. Merasa mereka kewalahan, kelima pahlawan super tersebut setuju untuk menghidupkan kembali Superman untuk memimpin Justice League melawan Steppenwolf.

Review:

1

YEEEEESSSSS!!!!!!! JUSTICE LEAGUE DIBUAT FILMNYA….!!!! Begitulah kira- kira perasaan saya ketika mendengar kabar bahwa Warner Bros dan DC mengejar ketinggalannya dengan sang pesaing dengan lebih mendahulukan film Justice League ketimbang film stand alone masing- masing member-nya (kecuali Superman dan Wonder Woman yang sudah lebih dulu rilis). Setengah tahun sebelumnya, DC juga sempat mengeluarkan sebuah film “versus” yang digadang- gadang sebagai teaser untuk film Justice League. Pasalnya di film berjudul Batman v Superman: Dawn of Justice itu ditampilkan 3 jagoan raksasa DC yang biasa disebut dengan istilah Trinity. Yaitu Superman, Batman, dan Wonder Woman. Meskipun film tersebut dipuji sebagian besar fanboy, namun berbeda dengan kritikus yang menjadikan film ini sebagai bulan- bulanan. Alasan utamanya adalah cerita yang tidak jelas. Ternyata kesalahan terjadi atas intervensi studio yang meng-cut beberapa menit durasi yang efeknya membuat rating film tersebut turun. Hal ini diamini dengan sebagian besar kritikus yang sudah menilai versi theatrical- nya namun sangat puas dengan versi extended-nya yang ternyata memberikan cerita yang lebih lengkap dan rapi menutup plothole- plothole versi theatrical- nya.

2

Tone yang terlalu dark juga menjadi salah satu efek yang membuat penonton yang sudah terbiasa melihat nuansa warna- warni Marvel jadi terlalu boring. Dan ketika tone warna- warni dicoba lewat film Suicide Squad, malah banyak kritikus yang tidak suka. Nilai plus diperoleh lewat Wonder Woman, yang meskipun menurut saya pribadi agak slow dan ditambah miscast untuk villain utama, tapi ternyata dikagumi oleh para kritikus dan dianggap sebagai titik balik DCEU. Lewat film Justice League ini DCEU kembali menjawab semua keraguan para kritikus dengan sajian yang cukup apik. Dengan sentuhan Joss Whedon sebagai penulis, kisah yang disajikan tidak seberat dan se-dark BvS ataupun Man of Steel. Bisa dikatakan kisah yang disajikan mirip dengan penyajian film animasi yang serba simple. Begitu juga dengan segi action yang sangat pop corn.

4

Berbicara mengenai adegan laga, warna yang diberikan oleh Whedon sangat terasa. Pilihan memilihnya untuk menggantikan posisi Snyder yang hiatus di tengah produksi pasca tragedi yang menimpa anaknya mengingatkan kita saat J.J. Abrams dinobatkan untuk mengembalikan franchise Star Wars ke layar lebar setelah melakukan hal yang sama dengan franchise Star Trek. Bisa dikatakan Whedon merupakan otak di balik kesuksesan The Avengers. Film pertama yang menggabungkan karakter- karakter Marvel. Sementara Justice League adalah Avengers-nya DC Comics. Adegan- adegan laga yang pop corn banget dan seru pastinya akan lebih mudah diterima ketimbang versi Snyder yang lebih stylish.

5

Kekuatan lain dari film ini adalah chemistry antar karakter yang sangat dinamis dan bisa menyatu dengan apik. Ben Affleck yang awalnya dipandang sebelah mata sebagai Batman, dan bisa mematahkan penilaian buruk tersebut lewat BvS, kali ini bermain juga lebih manusiawi. Hanya saja untuk violence level-nya terasa lebih berkurang ketimbang BvS. Bruce Wayne di sini juga digambarkan lebih manusiawi. Begitu juga dengan Gal Gadot yang sekali lagi dengan logat seksinya (meleleh banget setiap dia nyebut “Kal El”) bisa memberikan pesona cantik seorang superhero wanita. 3 karakter lain yang diperkenalkan di film ini juga bisa membaur dengan sempurna dengan 3 karakter lain yang sudah lebih dulu dikenal. Khususnya bagi Jason Momoa dan Erza Miller. Momoa bisa memberikan kesan bad ass seorang Aquaman dengan sempurna dengan tampilan ala frontman band hard rock. Lalu Erza Miller yang didapuk untuk memberikan nuansa komedi di dalam tubuh Liga Keadilan. Meskipun di beberapa scene terasa dipaksakan, namun lucunya cukup efektif. Yang justru agak kurang bersinar adalah Ray Fisher. Entah karena terpilih untuk memberikan “warna kulit” berbeda, atau memang jam terbang aktingnya masih paling minim dibanding rekan- rekannya. Penampilannya sebagai Cyborg, terasa tertutupi oleh bayang- bayang karakter lainnya.

6

Yang sebenarnya memiliki potensi fans service serta kejutan sebenarnya adalah kemunculan Henry Cavill sebagai Superman. Ini saya bukan spoiler, tapi memang dari berbagai interview cast Cavill selalu dimunculkan. Seharusnya melihat persiapan materi promosi yang hanya mengedepankan 5 karakter Justice League, seharusnya keterlibatan Cavill dirahasiakan saja sejak awal. Pastinya akan menambah euphoria tersendiri ketika tau- tau melihat dirinya muncul. Oiya muncul lengkap sama pacarnya yang tante- tante (baca: Amy Adams). Overall, secara pribadi dan sebagai seorang fanboy, Justice League merupakan sebuah one package yang memuaskan. Hanya saja sangat disayangkan lagi- lagi Warner Bros memangkas beberapa menit durasi yang nantinya buat jadi bahan jualan Home Video-nya. Dan jangan lupakan menyaksikan 2 stinger di pertengahan kredit dan akhir kredit yang pastinya akan membuat para fans jejeritan tepuk tangan. Yah, meskipun sangat disayangkan credit scene kedua sempat bocor di internet. Dan buat elo- elo yang udah nyebarin nyebarin di sosmed… SHAME ON YOU!!! (dnf)

Rating:

8.5/10

BEYOND SKYLINE (2017)

Poster

Directed By: Liam O’Donnell

Cast: Frank Grillo, Bojana Novakovic, Iko Uwais, Yayan Ruhian, Jonny Weston, Jacob Vargas, Antonio Fargas, Callan Mulvey

Synopsis:

Kota Los Angeles diserang oleh pesawat luar angkasa. Alien tersebut menculik manusia untuk diambil otaknya dan dijadikan tentara kloningan Alien. Beberapa di antara warga yang ikut terculik adalah seorang polisi dan anaknya; Mark (Frank Grillo) dan Trent (Jonny Weston), masinis kereta Audrey (Bojana Novakovic), dan veteran perang Sarge (Antonio Fargas). Mereka berhasil membuat pesawat Alien tersebut jatuh di Laos.

Merekapun akhirnya diselamatkan oleh gerombolan pemberontak yang dipimpin oleh Sua (Iko Uwais) dan Harper (Callan Mulvey) yang juga merupakan sindikat perdagangan obat bius dan menjadi musuh bebuyutan The Chief (Yayan Ruhian), seorang tentara pemerintahan yang bertugas membasmi para pemberontak tersebut.

Review:

1

Ketika mendapatkan kabar bahwa 2 bintang laga lokal yang sudah Go International ikut dalam sebuah proyek film Sci- Fi, tidak sedikit moviegoer Indonesia yang menyambutnya dengan penuh harapan dan suka cita. Namun ketika mendengan bahwa film tersebut berjudul Beyond Skyline yang notabene adalah sekuel dari film Skyline yang rilis tahun 2010, saya pribadi mulai agak sedikit kecewa. Pasalnya film tersebut sangatlah buruk. Meskipun secar finansial menguntungkan dan mendapatkan laba hampir 8 kali dari budget hanya untuk peredearan domestik US saja, namun secara kualitas sangatlah buruk. Bisa dikatakan termasuk salah satu film yang forgettable. Tapi ya gimana, toh kita tetap harus mendukungkan? Apalagi syutingnya di beberapa obyek pariwisata di sekitaran Jawa Tengah.

2

Mengingat semengecewakannya film pertama, saya menonton film keduanya dengan ekspektasi yang rendah. Namun hasilnya ternyata masih cukup oke. Tidak bisa dikatakan wah, tapi untuk ukuran sebuah film yang bukan dari major studio, masih bisa dikatakan cukup menghibur. Dari segi naskah cukup ada peningkatan, meski masih banyak sekali plothole dan kemiripan dengan film- film sejenis. Beberapa hal sebenarnya masih bisa ditingkatkan. Seperti hubungan dan chemistry antar karakter. Contohnya hubungan ayah- anak Mike dan Trent yang tidak terlihat peduli satu sama lain. Bahkan ketika maut mengancam sekalipun.

3

Topi perlu diangkat untuk Liam O’Donnell yang berhasil membuat gebrakan dengan menghadirkan adegan yang lebih masif ketimbang film pertamanya. Belum lagi dengan pilihannya untuk memakai Frank Grillo, yang memang sedang naik daun di Hollywood sana paska keterlibatannya di MCU dan franchise The Purge. Special effect yang diolah dengan cukup apik juga menambah kesan tersendiri untuk film ini. Namun yang membuat film ini semakin seru adalah dengan terpilihnya Iko Uwais dan Yayan Ruhian sebagai fight coreographer yang ternyata dipadukan dengan adegan invasi alien malah efektif menjadi nilai plus dan pembeda film ini dengan film- film sejenis. Bisa dibilang ini adalah nilai jual tersendiri setelah kehadiran Frank Grillo. Mengingat demam The Raid belum juga pudar di Hollywood, dan pengaruhnya juga masih kerasa di beberapa film besar.

4

Sebagai sebuah hiburan film ini cukup berhasil, meski jangan terlalu berekspektasi seperti film sci-fi Alien macam Predator, Alien, atau Attack The Block. Namun sebagai sebuah harapan baru bagi Indonesia agar lebih dikenal dunia, sudah bisa dikatakan cukup berhasil. Lupakan masalah skenario yang masih perlu tambal sulam di sana- sini. Dan saksikan bagaimana pencak silat bisa memukul balik invaasi mahluk luar angkasa. (dnf)

Rating:

7/10

 

It (2017)

Poster.jpg

Directed By: Andy Muschietti

Cast: Jaeden Liebeher, Jeremy Ray Taylor, Sophia Lillis, Finn Wolfhard, Chosen Jacobs, Jack Dylan Grazer, Wyatt Oleff, Bill Skarsgard, Nicholas Hamilton, Jackson Robert Scott

Synopsis:

Setelah kehilangan adiknya, Georgie (Jackson Robert Scott), seorang anak culun Bill Denbrough (Jaeden Lieberher) mengajak ketiga temannya; Richie (Finn Wolfhard), Eddie (Jack Dylan Grazer), dan Stan (Wyatt Oleff) untuk menghabiskan liburan musim panas mencari keberedaan sang adik, yang ternyata merupakan salah satu dari puluhan anak kecil yang hilang di kota kecil Derry.

Bersama dengan ketiga teman yang akhirnya ikut bergabung; Beverly (Sophia Lillis), Ben (Jeremy Ray Taylor), dan Mike (Chosen Jacobs), mereka akhirnya mengetahui bahwa ada sesosok mahluk menyeramkan berwujud badut bernama Pennywise (Bill Skarsgard) di balik hilangnya anak- anak tersebut. Pennywise ternyata merupakan sebuah mahluk mematikan yang gemar memakan daging dan ketakutan anak kecil dengan muncul sebagai sosok yang paling ditakutkan sang korban.

Review:

1

Coulrophobia adalah perasaan takut yang berlebih pada sosok badut. Badut bisa bikin takut? Meskipun bertujuan untuk pentas komedi dan menghibur, tapi tidak sedikit anak kecil (bahkan orang dewasa) yang merasa ketakutan melihat badut. Dengan make up yang sangat tebal serta perilaku aneh (yang sebenarnya adalah bagian dari aksi komedinya), badut sering diasosiakan dengan sosok yang menyeramkan. Ditambah lagi ada beberapa kejadian kriminal yang dilakukan oleh orang berkostum badut. Salah satunya adalah kasus penculikan, pelecehan seksual, dan pembunuhan yang dilakukan oleh John Wayne Gacy Jr. yang selalu tampil sebagai Pogo The Clown, karakter badut yang diciptakannya. Di dalam dunia hiburan ada sebutan Evil Clown, yaitu karakter badut yang dalam pementasannya biasanya bersifat jahat atau menggunakan elemen horor dalam atraksi pentasnya. Bahkan dalam pop culure tidak sedikit karakter jahat digambarkan sebagai sosok badut. Yang paling terkenal adalah musuh bebuyutan Iron Man yang bernama The Joker. Lho kok Iron Man? Sengaja kok bukan typo. Semua pada taulah ya itu musuhnya siapa.

2

Salah satu film yang sempat membuat penonton ngeri akan karakter badut adalah film It, yang kemudian menaikkan pamor pemerannya, Tim Curry. Efeknya bahkan sempat kita rasakan (ngehe kan?). Saat film miniseri tersebut ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta lokal di media 90-an, tidak sedikit anak- anak yang langsung parno akan sosok badut. It terlahir dari buah pemikiran legenda novel horor, Stephen King. Miniseri tersebut juga ikut memberikan sumbangsih dalam industri hiburan. Salah satunya adalah serial Stranger Things, yang sedikit banyak memiliki plot yang mirip dengan It. Dalam dunia industri perfilman nasional juga sempat dibuat film Badoet, yang memang terinspirasi dari film tersebut.

3

Dalam remake- nya kali ini, meskipun memiliki beberapa tribute untuk film original- nya, seperti opening scene yang memilukan dan kostum Pennywise tahun 90-an yang muncul di dalam satu adegan, film ini memiliki berbagai macam perubahan. Di antaranya adalah menaikkan unsur violence dan darah mendekati novel aslinya. Namun demi pertimbangan rating, tetap harus mengesampingkan adegan sex orgy yang dilakukan oleh ketujuh karakter utama. Perbedaan lainnya adalah jenis ketakutan yang dibikin berbeda dibandingkan film lamanya yang memang lebih mendekati novelnya. Namun tetap menampilkan bentuk ketakutan yang sama, di antaranya adalah ketakutan karakter cewek akan menstruasi pertama yang digambarkan dengan “lebih berdarah” di film ini. (Kalau gini harusnya karakter cowoknya digambarkan phobia sama cewek PMS aja ya sekalian… Lebih serem kali daripada badut setan… tapi ya masa IT nya muncul jadi pembalut terus neror- neror orang).

4

Jika ingin disebut apa kekuatan paling besar dari film ini. Saya akan menyebutkan jajaran cast. Keuntungan dari film yang menampilkan karakter anak- anak adalah, bahwa tim casting tidak perlu mencari anak- anak yang sudah beken, karena memang rata- rata masih bau kencur di industri hiburan. Jadi murni yang terpilih memang yang berhasil mengalahkan ratusan kandidat lainnya dalam proses casting. Begitu juga dengan film ini yang bisa dikatakan para aktor- aktris ciliknya begitu membaur dengan karakternya masing- masing. Begitu juga dengan chemistry di antaranya yang benar- benar sempurna. Dan yang tidak ketinggalan adalah Bill Skarsgard, yang bisa tampil sangat creepy sebagai Pennywise. Dari gerak- geriknya serta tatapan matanya yang begitu “mengganggu”. Meskipun jika ingin dibandingkan dengan versi Tim Curry, versi Skarsgard tidak terlalu se playful Curry. Namun untuk membayarnya, kali ini dia bisa menampilkan tampilan Pennywise yang lebih sadis.

5

Usaha sang sutradara untuk meminimalisir penggunaan CGI dan memberikan efek horor yang lebih membumi patut diapresiasikan. Selain itu, bagi yang sempat menonton film aslinya atau membaca bukunya pasti sudah tahu kalau kisah It sendiri dibagi menjadi 2 fase. Fase saat The Losers Club masih anak- anak dan fase di mana mereka sudah dewasa. Jadi tidak usah kaget kalau film It kali ini hanya merupakan bagian pertama dari dua film jika melihat jajaran cast hanya menampilkan karakter utama versi anak- anak saja. Karena berbeda dengan versi tahun 1990, yang memiliki penceritaan flashback, dalam versi remake- nya kali ini timeline diceritakan secara linear, di mana sudah dapat dipastikan akan ada sekuelnya. Menurut kabar salah satu cast yang dipertimbangkan adalah Jessica Chastain sebagai Beverly Marsh dewasa. (dnf)

Rating:

7.5/10