Spider-Man: Homecoming (2017)

Poster

Directed By: Jon Watts

Cast: Tom Holland, Michael Keaton, Jon Favreau, Zendaya, Marisa Tomei, Robert Dowey Jr., Bookem Woodbine, Jacob Batalon, Donald Glover, Laura Harrier, Michael Chernus, Michael Mando, Logan Marshall- Green

Synopsis:

Paska membantu Iron Man (Robert Downey Jr.), dalam event Civil War, Peter Parker/ Spider-Man (Tom Holland) selalu menantikan saat- saat di mana dia bisa resmi diajak bergabung ke dalam Avengers. Hanya saja karena dirasa masih kecil dan belum dewasa, Peter harus tetap menjalani hari- harinya selayaknya remaja seumurannya. Curi- curi pandang dengan sang pujaan hati Liz (Laura Harrier), bergaul dengan sahabatnya Ned (Jacob Batalon) dan menghadapi komen sinis temannya Michelle (Zendaya), serta menerima bully dari Flash (Tony Revolori). Selain itu, demi menyalurkan kemampuan supernya, Peter hanya membantu lingkungan sekitar sambil menyembunyikannya dari Aunt May (Marisa Tomei).

Kesempatan didapat ketika Peter mengetahui tentang transaksi penjualan senjata gelap hasil peninggalan serangan alien di event The Avengers pertama. Geng yang terdiri dari Phineas Mason/ The Tinkerer (Michael Chernus), Jackson Brice/ Shocker I (Logan Marshall- Green), Herman Schultz/ Shocker II (Bookem Woodbine), dan dipimpin oleh Adrian Toomes/ Vulture (Michael Keaton). Demi membuktikan kemampuan dirinya, Peter mencoba meringkus kawanan penjahat tersebut setelah sebelumnya diacuhkan oleh Stark.

Review:

1

Sebagai karakter paling populer dari jagad Marvel Universe, kehadiran dan bergabungnya Laba- Laba Merah Spider- Man dan Wolverine ke dalam Marvel Cinematic Universe bisa dikatakan merupakan mimpi basah bagi para fans. Doa yang dipanjatkan, komen yang di post, bahkan surat yang dilayangkan ke Marvel sudah tidak terhitung agar mau bernegosiasi dengan Sony dan Fox untuk mau “memulangkan” setidaknya 2 karakter itu saja ke “rumah”nya agar bisa bahu membahu berjuang bersama Iron Man, Captain America, Hulk, dan Thor. Berita kerjasama antara Sony dan Disney/ Marvel untuk saling meminjam karakter untuk terwujudnya doa paling diinginkan oleh fans, menghadirkan titik cerah tersendiri. Fans tidak peduli siapa yang pegang lisensi, siapa yang distribusikan, siapa yang bikin. Yang penting Spider- Man nongol di MCU. Titik.

2

Sebagai pengenalan sekaligus memberikan menambah rasa penasaran, 2 karakter inti telah diperkenalkan tahun lalu di film Captain America: Civil War. Penampilan Tom Holland serta Marisa Tomei sebagai Peter Parker dan Aunt May langsug disambut positif. Holland dirasa sangat pas memerankan Peter baik secara usia yang tidak beda jauh dan kecanggungan sebagai seorang nerd, serta tingkahnya lebih polos ketimbang Garfield dan Maguire. Tomei sudah pasti memberikan pesona tersendiri bagi karakter tante/ ibu asuh Peter yang usianya dipangkas sekitar 20 tahunan dari yang sudah kita kenal selama ini. Apalagi tampang- tampang MIL* Tomei yang pastinya memberikan sensasi tersendiri bagi para penonton dan fanboy.

3

Me- reboot kisah karakter Web Slinger ini sudah pasti memiliki tantangan tersendiri, layaknya me- reboot karakter Batman. Jika dibandingkan memang kedua karakter favorit dari masing- masing kubu tersebut memiliki kesamaan. Selain merupakan karakter paling laris dari tiap publisher-nya, kedua karakter tersebut memiliki perbendaharaan karakter villain yang bejibun, paling banyak, menarik, terkenal, bahkan bisa dikatakan karakter- karakter villain-nya sendiri juga memiliki penggemar tersendiri. Sehingga mau beberapa kali di- reboot pun, kalau dari segi karakter villain, tidak akan membuat bosan. Tantangannya adalah dari segi penceritaan origins karakter. Penonton awampun sudah pasti hapal luar kepala apa yang menyebabkan mereka berdua memutuskan menjadi jagoan penegak kebetulan kebenaran. Untuk reboot Spider- Man: Homecoming ini Marvel tidak pusing- pusing untuk urusan ini. Daripada menghabiskan durasi untuk mereka ulang adegan pembunuhan Uncle Ben dan adegan Peter digigit laba- laba, lebih baik mereka memfokuskan pendalaman karakter sebagai anak bawang dan struggle terhadap kehidupan remaja.

4

Tidak menutup kemungkinan adanya komen banding- bandingin antara Tobey Maguire, Andrew Garfield, dan Tom Holland. Setiap orang pasti punya favorit Spider- Man masing- masing. Kalau Maguire menggambarkan Peter yang belajar cara bertanggung jawab, baik secara kemampuan maupun untuk masa depannya, Garfield digambarkan sebagai Peter yang lincah dan overacting, Holland menurut saya paling pas untuk menggambarkan Peter remaja. Berbeda dengan dua pendahulunya yang aksi- aksi sebagai Spider- Man dilandasi oleh “sentilan” tanggung jawab dari almarhum Pakde Ben, versi Holland digambarkan sebagai anak kecil yang beraksi karena noraknya anak kecil. Pastilah semua dari kita pada saat usia 15 tahun dan tiba- tiba punya kemampuan super, misal menggandakan uang pasti langsung menciptakan aliran sesat., misal seperti Peter Parker pasti akan norak setengah mati dan sok- sokan. Dan akan norak juga ketika melihat gadget -gadget super tim Avengers. Apalagi sampai diajak gabung dan bisa bertemu Captain America, Iron Man, dan yang lainnya. Jangankan kalian. Saya dulu abis nonton Gogle V di Istora Senayan, sampai 3 bulan tiap hari main Gogle- Gogle an terus ngaca- ngaca sambil gaya- gaya berantem.

5

Jajaran cast lainnya yang bagus adalah Michael Keaton. Meskipun telah terlalu sering membintangi film superhero dengan sayap, tapi Keaton tidak lantas memberikan akting yang repetitif. Karakter Toomes di sini pun digambarkan hanya sebagai seorang biasa- biasa saja yang harus menafkahi keluarganya. Dan di beberapa scene digambarkan dia cukup respek terhadap Spidey. Hanya saja dua karakter Shocker yang biasa- biasa saja. Begitu juga dengan porsi karakter The Tinkerer. Batalon dan Tomei sangat pas dalam porsinya masing- masing. Batalon sangat pas berperan sebagai Ned Leeds yang sebagai nerd kebanyakan. Norak juga pas tau sahabatnya adalah sang Spider- Man. Tomei sangat apik. Apalagi seperti saya sebutkan tadi. Memberikan nuansa tersendiri bagi karakter Bude May. Keputusan untuk memberikan sentuhan modern serta teknologi tinggi untuk Spidersuit merupakan keputusan yang menarik. Selain itu, menyelipkan berbagai macam twist di tengah film cukup meningkatkan kualitas cerita.

6

Keputusan untuk memfokuskan sepak terjang Spidey sebagai seorang friendly neighborhood, benar- benar tepat. Berbeda dengan film- film bioskopnya, Spidey di sini layaknya seri MCU versi Netflix. Kejahatan yang dihadapi adalah kejahatan- kejahatan jalanan. Dan tidak ada plot berbelit- belit, seperti menguasai dunia atau ancaman serius bagi umat manusia. Yang dihadapi di sini adalah small time crooks yang memiliki kesempatan untuk menggunakan senjata super. Setelah menyaksikan film ini, saya semakin berharap Marvel mau bekerja sama lagi dan melobi Sony untuk mau bekerja sama untuk film Venom, Silver and Black, dan The Sinister Six, yang kabarnya malah sebagai penerus franchise The Amazing Spider- Man, bukannya Homecoming. Dan harapan saya lagi lepasnya Hugh Jackman dari Fox, serta ending film Logan membuat Fox mau menjual kembali karakter Wolverine untuk muncul di MCU.  Btw, Spider- Man: Homecoming memberikan banyak trivia dan cameo- cameo karakter Spider- Man Universe. Selain itu ada 2 credit scene di pertengahan dan di ending. Yang pastinya sebagai hint, yang di ending merupakan credit scene paling menarik dari keseluruhan film- film MCU. Worth to watch. (dnf)

Rating:

8.5/10

Advertisements

The Mummy (2017)

Poster

Directed By: Alex Kurtzman

Cast: Tom Cruise, Sofia Boutella, Annabelle Wallis, Russell Crowe, Jake Johnson

Synopsis:

Saat sedang hendak mencari harta karun, dua orang prajurit, Nick Morton (Tom Cruise) dan Chris Vail (Jake Johnson) menemukan jalan masuk ke sebuah makam dari seorang putri kerajaan Mesir kuno, Princess Ahmanet (Sofia Boutella) yang dikutuk karena menjalankan sebuah kejahatan keji pada jamannya. Nick pun tanpa sengaja membangunkan sang putri. Untuk ini, Nick pun dikutuk untuk menjadi target persembahan sang putri kepada Dewa Set. Dengan bantuan seorang arkeolog Jenny Halsey (Annabelle Wallis) dan seorang dokter Henry Jekyll (Russell Crowe), Nick mencari jalan untuk menggugurkan kutukan tersebut.

Review:

1

Paska kesuksesan MCU, studio- studio saingan berbondong- bondong untuk menciptakan shared universe dari database film- film koleksinya untuk nantinya dikumpulkan ke dalam satu film. Salah satunya adalah Universal Monsters yang direinkarnasi ulang dengan julukan Dark Universe. Sedikit informasi mengenai Universal Monsters, adalah sekumpulan film- film dengan genre horor, sci- fi, dan thriller suspense yang dirilis oleh studio berlogo bola dunia tersebut dalam rentang dekade antara tahun 1920 sampai 1950an. Ada 4 karakter paling populer yang menjadi trade mark dari line franchise ini. Yaitu The Mummy, Dracula, Frankenstein, dan Wolfman. Karakter- karakter lainnya yang diperkenalkan lewat franchise ini antara lain adalah Gillman, The Invisible Man, The Phantom of The Opera, Quasimodo, Van Helsing dan Edgar Allan Poe.

2

Sebenarnya ini bukanlah kali pertama karakter- karakter horor klasik tersebut disatukan dalam sebuah franchise. Judul- judul film seperti Van Helsing, The Ghost Squad, atau yang belum lama tayang dwilogi Hotel Transylvania pernah mencoba formula ini. Termasuk line lego Monster Fighters, yang meskipun tidak memakai nama- nama karakter yang sama, tapi memakai sosok karakter yang sama dengan franchise ini. Untuk Dark Universe, film pertama yang dijadikan pembuka adalah The Mummy. Dengan mengadaptasi bebas dari film The Mummy tahun 1932. Menandakan ini kali kedua film tersebut diadaptasi bebas setelah sebelumnya sempat dilakukan oleh Stephen Sommers yang sekaligus membuktikan seorang Brendan Fraser pun mampu menjadi action hero bukan hanya sekedar komedian.

3

Sebelum menyaksikan film The Mummy baru ini hal yang perlu diperhatikan adalah, secara genre mungkin lebih mendekati versi tahun 1999 yang menggunakan pendekatan aksi petualangan dibaluti unsur komedi bukan seperti versi aslinya yang lebih menitikberatkan nuansa horor suspense. Begitu juga nantinya dengan film- film Dark Universe lainnya. Sebagai sebuah sajian aksi petualangan film ini sudah cukup menjanjikan. Meskipun secara naskah dan kemasan masih tidak sekuat versi Stephen Sommers yang mampu membuat penonton laksana menaiki wahana permainan, film ini cukup memberikan aksi seru yang cukup menegangkan. Hanya saja naskah masih terlalu dangkal. Sepertinya David Koepp dan Christopher McQuarrie terlalu sibuk untuk membuka franchise ketimbang memberikan cerita yang bagus sebagai sebuah film standalone.

4

Univesal sepertinya mengambil jalan yang cukup berbeda dengan Dark Universe ini dibanding yang diambil oleh DCEU, MCU, dan Monsterverse dalam hal pemilihan jajaran cast. Aktor- aktor yang telah terpilih tidak main- main, mereka adalah aktor- aktor papan atas jaminan sebuah film akan sukses secara komersil, selain tentunya Universal harus merogoh kocek dalam- dalam untuk mengiming- imingi aktor- aktor tersebut. Mereka adalah Johnny Depp, Javier Bardem, Russell Crowe, dan Tom Cruise. Tom Cruise diplot sebagai aktor untuk film pembuka sebagai magnet penonton. Jadi setidaknya kalau orang tidak tertarik dengan franchise-nya setidaknya akan tertarik untuk nonton Tom Cruise. Sayangnya di sini mantan Nicole Kidman ini tidak memberikan kemampuan terbaiknya. Tampilan serta akting Cruise sebagai Nick Morton di sini identik dengan Ethan Hunt. Sehingga di beberapa adegan aksi kita terasa seperti menonton film Mission: Impossible saja.

5

Untungnya Sofia Boutella mampu memainkan perannya dengan sempurna. Berbeda dengan yang sempat dibawakan oleh Boris Karloff dan Arnold Vosloo. Jika dibandingkan mungkin bisa dibandingkan dengan Cesar Romero, Jack Nicholson, dan Heath Ledger di mana masing- masing sukses membawakan karakter The Joker dengan sempurna dan memiliki ciri khas tersendiri. Dengan peran Princess Ahmanet ini, Sofia Boutella semakin menancapkan predikat Bad Ass Chick-nya setelah cukup menyita perhatian lewat jilid pertama Kingsman dan jilid ketiga Star Trek-nya Chris Pine. Boutella bahkan mampu mengalahkan sinar kebintangan saat harus beradu akting dengan Tom Cruise. Selain itu Russell Crowe juga cukup meyakinkan sebagai Jekyll/ Hide.

6

Meskipun memiliki naskah yang kurang sempurna, bisa dikatakan film ini mampu menjadikan pembuka untuk Dark Universe. Hanya saja pemilihan Tom Cruise mungkin bisa digantikan dengan aktor populer yang tidak memberikan stereotype terlalu sama dengan peran- peran lainnya. Mungkin misal Tom Hardy. Namun secara keseluruhan saya cukup optimis dengan kelangsungan Dark Universe ke depannya. Apalagi dengan diumumkannya karakter Phantom of The Opera dan Quasimodo akan diangkat juga melengkapi Frankenstein, Wolfman, Gillman, Van Helsing, dan The Invisible Man, yang telah terlebih dulu dipastikan akan muncul. Mudah- mudahan juga Universal akan segera memutuskan. Apakah akan tetap tidak memasukkan Dracula Untold ke dalam shared universe ini atau malah bagaimana. Karena keputusan tersebut akan mempengaruhi apakah perlu dibuatkan lagi film standalone Dracula atau melanjutkan kontrak Luke Evans, yang menurut saya sudah cukup sempurna memerankan Dracula dan cocok jika dimasukkan ke dalam Dark Universe. Karena apalah arti Dark Universe tanpa Dracula? (dnf)

Rating:

8/10

Wonder Woman (2017)

34718360706_186536dc8e_k

Directed By: Patty Jenkins

Cast: Gal Gadot, Chris Pine, David Thewlis, Connie Nielsen, Alena Anaya, Lucy Davis, Danny Huston, Robin Wright, Ewen Bremmer, Eugene Brave Rock, Said Taghmaoui

Synopsis:

Princess Diana (Gal Gadot) adalah seorang putri dari kaum Amazon, yang selalu di anak emaskan oleh sang ratu, Queen Hippolyta (Connie Nielsen). Suatu hari, Diana menyaksikan seorang pilot terjatuh di pesisir pantai Themyscira, pulau kaum Amazon. Dia adalah Steve Trevor (Chris Pine), seorang agen intelijen Inggris yang hendak menghentikan sepak terjang seorang jenderal Jerman, Erich Ludendorff (Danny Huston) yang bekerjasama dengan Isabel Maru/ Doctor Poison (Elena Anaya) untuk menciptakan gas beracun yang dapat menimbulkan kematian baik dari sisi kedua pihak yang berperang.

Diana yang merasakan adanya peran sang dewa perang, Ares dalam perang dunia ini, terpanggil untuk menemani Steve membunuh Ares dan menghentikan peran dunia, sebelum semakin banyak korban yang jatuh.

Review:

1

Sudah menjadi pehamaman umum, bahwa semua film superhero wanita biasanya sukses. Iya, sukses dimaki kritikus dan sukses jatuh di tanggan Box Office. Sebut saja Supergirl, Catwoman, dan Elektra. Itu juga yang membuat Marvel enggan membuat film solo Superhero ceweknya. Sampai dia menjawab tantangan DCEU lewat Captain Marvel yang akan dibandingkan dengan Wonder Woman, sebagai film superhero wanita pertama dari saga sinematik kedua kubu. Sebenarnya bukan karena paham seksisme, diskriminasi, atau apapun. Film- film tersebut memang memiliki kualitas yang sangat buruk. Terlebih Catwoman, yang miscast dari berbagai hal. Wonder Woman dipercaya mampu membalikkan persepsi publik tersebut dan menaikkan citra superhero wanita di mata penonton.

2

Belum apa- apa, film Wonder Woman sudah mendapatkan pandangan miring dengan penetapan Gal Gadot sebagai sang putri Amazon. Alasannya adalah badannya yang terlalu kerempeng dan postur yang jauh dari gambaran umum dari seorang Wonder Woman. Sekaligus dibanding- bandingkan dengan Lynda Carter yang jauh lebih berisi di versi tahun jadulnya. Namun seperti halnya Ben Affleck, yang saat diangkat sebagai Batman sempat mendapatkan kritikan pedas serta hujatan dari para fans, Gadot mampu menapik penilaian buruk tersebut lewat BvS: Batman v Superman tahun lalu. Bahkan penampilannya sebagai Wonder Woman di film itu mampu menyaingi kedua superhero pria yang menjadi judul filmnya. Kalau boleh saya bilang malahan mampu menjadi scene stealer di pertarungan klimaks. Lengkap dengan musik Is She With You gubahan Hans Zimmer dan Junkie XL. Lengkap sudah alasan menunggu kehadiran film solonya.

3

Yang menjadi kekuatan dari film ini adalah performa Gal Gadot yang memang nyaris sempurna menjadi Wonder Woman. Perpaduan kecantikan serta eksotisme wajahnya menjadikan gambaran superhero wanita yang diceritakan dari kaum ningrat sekaligus tidak melupakan sisi fierce seorang pahlawan. Ditambah lagi dengan dialek Gadot yang seksi dalam berbahasa inggris. Begitu juga Chris Pine sebagai Steve Trevor yang cukup bagus. Selain itu lagu- lagu pengiring juga bisa dikatakan cukup memberikan warna dari adegan yang sedang berlangsung di layar. Namun bukan berarti dari segi casting tidak terdapat kesalahan. Aktor yang memerankan karakter musuh utama benar- benar miscast abis. Tidak ada kecocokan dengan karakter musuh utama yang terkenal bengis. Dari bentukan mukanya pun sangat tidak cocok.

5

Pemilihan Patty Jenkins diharapkan dapat memberikan sentuhan feminim untuk film ini. Patty Jenkins yang baru kali keduanya menyutradarai film layar lebar setelah Monster ini ternyata menjadi kesalahan yang cukup fatal. Pasalnya, gambaran Wonder Woman yang ditampilkan cukup seru tahun lalu dan menimbulkan ekspektasi bahwa filmnya juga bakal seru, malah menghadirkan adegan- adegan boring yang cukup dragging. Terutama dalam mengembangkan hubungan dan chemistry antara Diana dan Steve. Plothole pun banyak terjadi di sana- sini. Salah satunya adalah penjelasan bahwa kaum Amazon mampu berbicara dalam 1000 bahasa yang membuat penonton maklum kenapa di Themyscira bahasa inggris menjadi bahasa sehari- hari. Hal ini juga diperlihatkan dalam beberapa adegan saat Diana berbicara dalam berbagai bahasa. Hanya banyak saat di mana Diana berbicara dengan penduduk Eropa Timur menggunakan Bahasa Inggris, sementara terdengar bahasa Prancis (kalo gak salah) menjadi bahasa sehari- hari di daerah tersebut. Untuk adegan aksi masih bisa dikatakan seru. Terutama adegan aksi di pertengahan film. Hanya saja adegan klimaksnya terasa biasa saja. Padahal masih bisa dibuat jauh lebih baik lagi.

6

Secara keseluruhan film Wonder Woman menimbulkan kekecewaan untuk saya pribadi. Meskipun secara kualitas masih terselamatkan lewat 2 casting utama serta tampilan grafis yang masih related dengan BvS dan Man of Steel. Mudah- mudahan DCEU mampu belajar banyak untuk film- film berikutnya. Seperti halnya Warner yang mulai tidak anti menghadirkan joke- joke ringan di film- filmnya. Terutama untuk Justice League, Aquaman, dan The Flash yang dipersiapkan untuk masuk daftar tayang dalam waktu dekat. (dnf)

Rating:

7/10

Power Rangers (2017)

Poster

Directed By: Dean Israelite

Cast: Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Ludi Lin, Becky G., Elizabeth Banks, Bryan Cranston, Bill Hader

Synopsis:

5 remaja dari kota kecil Angel Grove, Jason (Dacre Montgomery), Billy (RJ Cyler), Zach (Ludi Lin), Kimberly (Naomi Scott), dan Trini (Becky G.) menemukan 5 koin kuno dalam sebuah kejadian di sebuah tambang. Paska kejadian tersebut, kelimanya tiba- tiba memiliki kekuatan super. Setelah diberikan pengarahan oleh sesosok alien kuno Zordon (Bryan Cranston) dan robot asistennya, Alpha 5 (Bill Hader), mereka bertiga menjadi Power Rangers, yang bertugas untuk menjaga kehidupan di bumi dari ancaman Rita Repulsa (Elizabeth Banks).

Review:

1

Mungkin sedikit sekali orang yang tidak mengenal Power Rangers. Mau mereka yang sempat muda di tahun 90-an ataupun emak- emak kolot gak asik, pasti minimal akrab dengan sebutan itu. Mighty Morphin Power Rangers merupakan seri pertama, yang meliputi 3 season pertama dari franchise Power Rangers yang diadaptasi dari serial Super Sentai buatan Toei. Super Sentai merupakan salah satu serial lama milik Toei yang bisa dibandingkan dengan Kamen Rider ataupun Ultraman. Masyarakat Indonesia mengenal Super Sentai lewat salah satu serinya yang berjudul Goggle V. Ciri khas dari seri ini adalah satu tim superhero yang biasanya terdiri dari 5 orang (meski terkadang bisa 3, 6, atau lebih) yang memiliki kostum sama hanya dibedakan warna. Dan memiliki satu kendaraan yang bisa digabungkan menjadi robot gede. Power Rangers sendiri dibaptis menjadi salah satu pop culture yang cukup berpengaruh 2 dekade lalu. Diikuti dengan penjualan merchandise yang sampai sekarang masih memiliki fanbase yang cukup kuat. Bahkan kesuksesannya membuat salah satu franchise Kamen Rider sempat diadaptasi juga oleh Amerika. Yaitu serial Black Rider RX, yang versi Jepangnya juga menjadi salah satu memori manis bagi generasi 90-an.

2

Sebenarnya gaung- gaung reboot MMPR ke dalam layar lebar telah bergaung sejak lama. Namun hype tersebut kembali hadir ketika Joseph Khan membuat fanmade sekuel MMPR yang menceritakan kisah keenam anggota original dewasa harus menghadapi Rocky yang telah membelot ke pihak musuh. Adapun tone yang dewasa dengan tingkat violence cukup tinggi ternyata memberikan kepuasan tersendiri bagi para fans. Meskipun mendapatkan tanggapan positif, ternyata film tersebut juga mendapatkan tolakan dari beberapa cast, dan juga dari Saban sendiri. Namun menanggapi respon ini, Saban kemudian memberikan kabar gembira bahwa reboot resmi akan dibuat dengan artis yang diisukan pertama untuk didekati adalah Chloe Grace Moretz sebagai Pink Ranger.

3

Mengikuti trend sekarang yang lebih mendewasakan franchise yang akrab dengan anak- anak, Power Rangers kali ini lebih fokus kepada pengenalan karakter. Jadi bagi para fans yang mengharapkan aksi laga yang keren pasti akan kecewa. Resmi 80% durasi hanya didominasi oleh pengembangan karakter dan menceritakan origins dari pembentukan tim Power Rangers. Untuk segi naskah, saya rasa sudah cukup berhasil. Penggambaran bagaimana mereka, yang dari tidak mengenal satu sama lain lalu menjadi sebuah tim yang kompak dan solid sudah cukup baik. Terlebih dengan memberikan problematika yang cukup dewasa bagi para remaja ini (salah satunya adalah dengan merubah karakter Trini menjadi penyuka sesama jenis- terlepas dari tanggapan saya terhadap karakter LGBT di film anak- anak).

4

Reboot ini juga mencoba untuk lebih akrab dengan penonton dari segala ras. Untuk menghindari stereotype dan kemungkinan tanggapan rasis, beberapa karakter dirubah warna kulitnya sehingga berbeda dengan warna kostumnya. Jika versi aslinya, Zack (Black Ranger) adalah seorang berkulit hitam dan Trini (Yellow Ranger) adalah seorang Cina, kali ini Zack adalah seorang Cina dan Trini seorang latin. Ini untuk menghindari seorang Negro menjadi Ranger hitam dan seorang Cina menjadi Ranger kuning (Orang Amerika menyebut kulit orang- orang Cina sebagai berkulit kuning). Selain mereka, Billy dirubah dari orang bule menjadi orang negro. Tapi perubahan warna kulit, bagi saya pribadi bukan merupakan hal yang cukup mengganggu. Apalagi jika mengikuti franchise tersebut sudah paham bahwa tim Power Rangers dari seri apapun pasti memiliki ras yang berbeda. Tidak semuanya orang bule.

5

Jika membicarakan kekurangan film ini, seperti yang saya sebutkan tadi, terdapat pada penggarapan adegan aksinya. Oke, memang tujuannya untuk memfokuskan film kepada pengenalan tokoh dan pembentukan karakter. Namun bukan berarti, adegan aksi harus dianaktirikan. Adegan aksi yang langsung memborbardir sebagai klimaks film terasa terlalu singkat. Selepas adegan- adegan aksi yang, saya nilai terlalu melempem, perasaan yang timbul seperti “Hah? Gitu doang?”. Seharusnya Lionsgate bisa lebih serius dalam menggarap koreografi pertempurannya. Bahkan jika dibandigkan dengan serial TV-nya, saya masih cukup terhibur dengan adegan aksi dari serial TVnya. Kemudian yang cukup mengganjal adalah ukuran Zord, yang bagi saya kurang besar. Apalagi mengingat dari materi promo posternya, kita sempat ditipu dengan ukuran Zord yang digambarkan cukup besar, namun aslinya di film cuma segitu aja.

5

Secara garis besar, Power Rangers sukses menjadi sebuah origins movie yang berfungsi untuk meletakkan landasan bagi franchise yang direncanakan akan memiliki 6 film ini (amiin…). Namun sebagai sebuah sajian film superhero, masih kurang banyak. Khususnya dari penggarapan adegan laga. Jika memang secara skenario bisa lebih dewasa, seharusnya untuk adegan aksi laga juga bisa dibuat jauh lebih keren dan dewasa dibandingkan versi TVnya. Namun kita sebagai penonton, diberikan ekstra musik pengiring yang super keren banget. Terutama remake dari beberapa tembang lawas. Saya berharap di sekuel- sekuel berikutnya, Lionsgate akan lebih bisa mengajak cast- cast asli untuk menjadi cameo, atau mungkin diberikan peran pembantu di filmnya. Bukan hanya menampilkan 2 pemeran asli sebagai cameo seperti di film pertamanya ini saja. Oya, jangan segera beranjak, karena akan ada mid credit scene. Tunggu aja. Gak lama kok. Gak bakal bikin tukang sapu bioskop bengong- bengong bete di kursi depan kaya nonton Avengers. (dnf)

Rating:

7/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kong: Skull Island (2017)

Poster

Directed By: Jordan Vogt- Roberts

Cast: Tom Hiddleston, Brie Larson, Samuel L. Jackson, John Goodman, John C. Reilly, John Ortiz, Tian Jing, Toby Kebbell, Shea Wingham, Corey Hawkins

Synopsis:

Bill Randa (John Goodman), adalah seorang peneliti dari MONARCH, sebuah organisasi pemerintah yang meneliti tentang keberadaan mahluk- mahluk raksasa di perut bumi yang disebut sebagai M.U.T.O.s (Massive Unindentified Terrestrial Organisms), berhasil mendapatkan izin untuk meneliti sebuah pulau bernama Skull Island. Dengan bantuan pasukan tentara yang dipimpin oleh Preston Packard (Samuel L. Jackson), seorang fotografer yang bertugas untuk mendokumentasikan ekspesdisi terebut, Mason Weaver (Brie Larson), dan seorang tracker mantan pasukan khusus, James Conrad (Tom Hiddleston), mereka berhasil memasuki pulau rahasia yang dikelilingi oleh angin badai abadi. Tanpa diketahui seluruh tim, sebenarnya Randa memiliki misi untuk menangkap seekor gorila raksasa yang dipanggil Kong oleh penduduk asli pulau tersebut.

Review:

1

Kesuksesan MCU dalam menggabungkan beberapa karakter terkenal yang dibuatkan stand alone movie-nya dulu sebelum dikemudian hari dipertemukan di dalam sebuah film, ternyata menjadi fenomena tersendiri di dunia perfilman. Tidak sedikit studio- studio lain yang mengekor format ini. Setelah Warner Bros yang otomatis merasa tertantang untuk memfilmkan DCEU yang dianggap sebagai rival terkuat MCU, setidaknya ada 2 universe lagi yang dipersiapkan untuk meramaikan kancah industri layar lebar. Universal telah menyiapkan Universal Monsters Shared Universe, dan Legendary Entertainment dengan MonsterVerse. Sebenarnya shared universe macam ini bukanlah barang yang baru. Di industri perfilman telah ada istilah crossover movie. Crossover movie yang cukup terkenal seperti Alien vs Predator, Freddy vs Jason, dan LXG.

2

Ketika diumumkan akan di remake lagi, banyak fans yang mengharap Legendary Entertainment akan setia dengan template cerita original-nya. Seperti yang dilakuakn oleh Peter Jackson pada tahun 2005, yang disebut- sebut sebagai remake King Kong terbaik. Karena selain menggunakan plot cerita asli, namun juga memberikan petualangan yang lebih luas dan seru ketimbang versi tahun 1933. Tidak sedikit yang membayangkan kalau Brie Larson akan memerankan Ann Darrow, Tom Hiddleston sebagai Jack Driscoll, dan John Goodman sebagai Carl Denham. Namun setelah harapan tersebut dipatahkan dengan pengumuman resmi bahwa bukan hanya setting waktu yang diubah dari tahun 30an menjadi tahun 70an, pada masa perang Vietnam, kisahpun akan dibuat jauh berbeda. Nama- nama karakterpun akan dibuat baru, meskipun tidak dipungkiri beberapa karakter merupakan penggambaran ulang dari karakter lama, seperti James Conrad yang pemberani dan menjadi protagonis manusia utama seperti Jack Driscoll, Bill Randa yang bertubuh tambun, manipulatif, dan ambisius layaknya Carl Denham versi Jack Black, lalu Preston Packard yang memimpin pasukan seperti Captain Engelhorn. Hanya saja Mason Beaver bukan murni reinkarnasi dari Ann Darrow. Kong tidak jatuh hati dengannya. Satu- satunya hal yang diadopsi adalah Meaver merupakan satu- satunya karakter yang sempat kontak fisik dengan Kong tanpa tewas.

3

Sebenarnya bisa saja Legendary memberikan sedikit kegembiraan untuk para fans. Setidaknya, meskipun tetap mengubah setting waktu dan asal- usul Kong agar lebih masuk ke MonsterVerse, nama- nama karakter utama bisa saja tetap mempertahankan nama- nama legendaris tersebut; Carl Denham, Ann Darrow, dan Jack Driscoll. Bagi saya ini juga menambah kekecewaan setelah menilai lemahnya naskah yang dibuat serta banyaknya karakter- karakter mubazir dan tempelan, seperti San yang diperankan oleh Tian Jing, yang kelihatan banget sebagai pemuas pasar RRC, yang beberapa tahun ke belakang ini mengharuskan ada 1 karakter jagoan keturunan Chinese dalam tiap film blockbuster. Padahal sebenarnya, demi menonjolkan dan memuaskan pasar tersebut, karakter San bisa dibuat lebih memorable, atau karena sudah kadung menciptakan karakter baru, Tian Jing bisa menjadi karakter protagonis wanita utama.

4

Meskipun memiliki cerita yang lemah, namun adegan aksi dan special effect tidak usah diragukan. Walau sempat melempem dan dragging di pertengahan film, namun adegan- adegan aksi berikutnya cukup seru. Sebagai sebuah bagian dari MonsterVerse, Kong: Skull Island juga telah dengan baik meletakkan beberapa landasan cerita. Khususnya apa yang digambarkan pada after credit scene tentang apa yang telah menanti penonton pada setidaknya di 2 film ke depan; Godzilla: King of The Monsters (2019) dan Godzilla vs. Kong (2020). Kira- kira setelah Scarlet Witch dan Quicksilver membintangi Godzilla dan Kong: Skull Island dimeriahkan oleh Nick Fury, Loki, Captain Marvel, dan salah satu petugas Nova, apakah nantinya film- film berikutnya para monster raksasa akan bertemu dengan Captain Amerca, Thor, Hulk, Hawkeye, Black Widow, atau bahkan Star Lord dan Iron Man? (dnf)

Rating:

7/10

 

Logan (2017)

Poster

Directed By: James Mangold

Cast: Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen, Boyn Holbrook, Stephan Merchant, Elizebeth Rodriguez, Richard E. Grant

Synopsis:

Tidak jauh di masa depan, di mana mutant sudah jarang ditemukan dan anggota X-Men sudah mati atau hilang ditelan bumi, Logan (Hugh Jackman) mengasingkan diri sambil merawat Charles Xavier (Patrick Stewart) dengan bantuan Caliban (Stephan Merchant). Logan mengumpulkan uang untuk bisa membeli perahu dan tinggal di lautan bersama sang profesor. Namun ketenangan mereka diusik ketika seorang suster bernama Gabriela (Elizabeth Rodriguez) mendatanginya untuk meminta perlindungan bagi seoran anak kecil bernama Laura (Dafne Keen) yang menjadi incaran para Reavers, cyborg yang dipimpin oleh Donald Pierce (Boyd Holbrook). Ternyata Laura bukanlah sembarang anak kecil, namun memiliki sebuah rahasia yang bisa membuat Logan merasakan menjadi manusia lagi.

Review:

1

Tidak dipungkiri lagi, Hugh Jackman merupakan salah satu nilai jual tertinggi bagi Saga X-Men. Dibuktikan dengan wajahnya menjadi satu- satunya yang muncul di setiap judul filmnya. Bahkan untuk Deadpool, meski hanya berbentuk print out saja. Aktor yang bisa disandingkan dengan Robert Downey Jr. di MCU ini memang sangat beruntung. Mendapatkan peran salah satu mutant favorit dari tangan Dougray Scott, yang saat itu lebih memilih menjadi musuh Tom Cruise merupakan sebuah anugerah terbesar dalam karirnya. Keberuntungan juga datang ketika para fans ternyata puas dengan performa Jackman yang mampu menampilkan sosok Wolverine yang ganas dan brutal. Belum lagi tampilan Jackman yang bisa juga jadi daya tarik bagi penonton wanita yang terpaksa harus menemani pacarnya nonton X-Men.

3

Setelah kesuksesan Deadpool yang meski mengusung rating R, namun cukup memberikan keuntungan yang cukup tinggi, Fox merasa bahwa mereka harus menggunakan treatment yang sama untuk film solo ketiga Wolverine ini. Mengingat karakterisasi sang tokoh yang aslinya cukup brutal di komik. Dan memang dengan meningkatkan kadar violence cukup tinggi, membuat film ini jauh lebih menghibur ketimbang dua fim pendahulunya yang memilih rating PG-13. Cerita yang diambil dari storyline Old Man Logan dengan sedikit unsur Death of Wolverine memang cukup kuat, khususnya dalam menggambarkan Wolverine yang sudah tua dan tidak seprima dulu. Hal ini sebenarnya cukup bagus, mengingat raut wajah Jackman yang semakin tua dan tidak semulus di film X-Men dulu. Setidaknya lebih masuk akal dengan karakterisasi di film. James Mangold yang ikut turun langsung dalam penulisan naskah, mampu membuat cerita yang solid dan cukup manusiawi.

4

Ketika menyaksikan film Logan, feel yang didapat bukanlah menyaksikan film superhero. Tapi seperti menyaksikan film action seperti Jason Bourne, Mad Max, atau James Bond versi Daniel Craig. Tema cerita pun memiliki nuansa western yang cukup kental. Terlebih dalam menggambarkan kisah redemption seorang legend. Unsur drama yang dimasukan untuk menggambarkan sisi manusiawi Logan, cukup baik dan tidak membuat film menjadi terlalu dragging. Pemilihan jajaran cast juga cukup bagus. Boyd Holbrook yang cukup akrab bagi penonton Narcos, memang lebih cocok menjadi villain seperti dalam film Run All Night ketimbang menjadi protagonis seperti di film seri yang menceritakan sepak terjang Pablo Escobar itu. Sebagai aktris cilik, Dafne Keen mampu mengungguli Hugh Jackman. Dirinya mampu menjadi scene stealer karena menggabungkan pesona lugu anak kecil dan kebringasan seorang pembunuh terlatih. Mengingatkan kita kepada Chloe Moretz dalam Kick- Ass.

2

Sayangnya keputusan Jackman yang menyatakan akan berhenti memerankan Wolverine sempat membuat para fans kecewa. Banyak spekulasi yang menyebutkan bahwa X-Men akan di reboot lagi atau akan ada pemain baru yang menggantikan sosok Jackman sebagai sosok Wolverine. Sangat susah membayangkan ada aktor lain yang memerankan tanpa harus me reboot dari awal semua universe X-Men. Ditambah lagi Patrick Stewart yang juga mengumumkan dalam suatu wawancara bahwa film Logan merupakan penampilan terakhir dirinya sebagai Professor X. Belakangan Jackman mengerluarkan statement bahwa dirinya bersedia menggunakan cakar adamantium lagi jika Wolverine menjadi bagian dari MCU. Suatu hal yang cukup sulit, mengingat Fox cukup tambeng dalam mempertahankan hak film karakter- karakter X-Men. Meskipun fans mengharapkan studio ini akan luluh dan mengikuti jejak Sony untuk share dengan Disney. Or at least Wolverine- nya aja. (dnf)

Rating:

9/10

 

The LEGO Batman Movie (2017)

cym_yo1w8aqqn_z

Directed By: Chris McKay

Cast: Will Arnett, Michael Cera, Rosario Dawson, Ralph Fiennes, Zach Galifianakis, Billy Dee Williams

Synopsis:

Dikarenakan trauma masa kecilnya yang kehilangan kedua orang tua, Batman/ Bruce Wayne (Will Arnett) memiliki hati yang dingin dan tidak mau terlibat hubungan dengan siapapun. Termasuk tidak mau menganggap The Joker (Zach Galifianakis) sebagai musuh bebuyutannya. Hal ini membuat The Joker sakit hati, dan ingin merancanakan sebuah kejahatan yang akan menyadarkan Batman bahwa The Joker menjadi bagian penting dalam hidupnya. Mau tidak mau Batman harus mulai mencoba bekerja sama dengan orang- orang dekat yang selalu diacuhkannya, seperti Alfred (Ralph Fiennes), Barbara Gordon (Rosario Dawson), dan Dick Grayson (Michael Cera).

Review:

mv5bnwzlzgm4zmytmtc2zs00nzc4lwjimgytnzninmuxmgnlmjy3xkeyxkfqcgdeqxvyndk0mta4mty-_v1_

Kesuksesan The Lego Movie pada tahun 2014 lalu memberikan imbas yang cukup positif dan dinilai cukup meningkatkan penjualan pabrikan mainan asal Denmark ini. The Lego Movie juga cukup unik mengingat berbeda dengan adaptasi film yang berdasarkan toyline lainnya yang memilih animasi full atau live action, The Lego Movie menggunakan mainan Lego asli dan direkam dengan menggunakan teknik stop motion. Sebenarnya metode ini bukanlah hal baru bagi Lego. Karena sebelumnya, sudah banyak kolektor mainan yang membuat film dengan metode ini, termasuk kolektor Lego sendiri. Kini, demi memberikan gempuran akan proyek DCEU yang sedang kebut tayang untuk mengalahkan pesaingnya, MCU, Warner Bros membuat spin- off The Lego Batman Movie yang memfokuskan kepada karakter Batman. Setelah karakter Batman diperkanalkan dan menjadi salah satu scene stealer di film tersebut.

screen-shot-2017-01-08-at-11-37-09-am

The Lego Batman Movie dihujani oleh berbagai bintang terkenal sebagai pengisi suara. Will Arnett sekali lagi menunjukkan dirinya cukup pas untuk menyuarakan sang ksatria kegelapan yang bersuara berat, namun bisa terdengar bodoh untuk tuntutan film animasi. Di samping itu, barisan cast pendukung lainnya juga diselipi beberapa bintang populer seperti Ralph Feinnes, Zandaya, Ada Devine, Jonah Hill, Zoe Kravitz, Billy Dee Williams, Eddie Izzard, Seth Green, Channing Tatum, bahkan sang diva, Mariah Carey. Uniknya beberapa pengisi suara memiliki trivia sendiri. Seperti Billy Dee Williams yang kali ini benar- benar berhasil menjadi Two- Face dan bukan sekedar Harvey Dent, setelah sebelumnya direncankan akan meneruskan peran sang jaksa wilayah yang akan menjadi villain di film ketiga Tim Burton sebelum akhirnya diambil alih oleh Joel Schumacher dan menggunakan Tommy Lee Jones sebagai Dent. Lalu Ralph Feinnes yang menjadi Alfred dan harus berhadapan dengan karakter yang dipopulerkannya sendiri, Lord Voldemort. Dan Rosarion Dawson yang juga beberapa kali menyuarakan Wonder Woman.

screen_shot_2017-01-09_at_11-11-26_am-png

Penyajian cerita juga cukup baik. Meskipun memiliki tema yang cukup ringan dan cukup bersahabat bagi seluruh keluarga, namun McKay tidak lupa untuk menambahkan tone dark yang pastinya bakal memuaskan hard core fans Batman. Apalagi dengan cerdas tim penulis naskah dengan cerdas memasukan referensi ke kisah- kisah Batman lainnya. Baik dari film- film sebelumnya, seri animasi, bahkan beberapa referensi dari adegan legendaris dari komiknya. Meskipun memiliki tone yang cukup dark, namun nampak sepertinya film ini tidak ayalnya seperti wujud imajinasi anak kecil yang sedang bermain lego. Banyak hal yang cukup simple yang terlihat seperti keluar dari otak seorang anak kecil. Seperti Harvard For Police, yang seperti terlalu sederhana untuk menggambakan akademi terbaik yang melahirkan taruna- taruna penegak hukum terbaik. Ataupun bagaimana para Gothamites bersatu dan bekerja sama untuk menyelamatkan kota mereka dengan cara “stick together” yang terlihat cukup imajinatif dan terasa childish.

the-lego-batman-movie-villains-1

Film ini bisa dikatakan fans service dan pemuas mimpi basah para penggemar DC yang mengharapkan bersatunya karakter- karakter penerbit komik pujaannya tersebut di layar bioskop. Contoh seperti karakter Rogues Gallery yang ditampilkan bukan hanya yang sudah dikenal luas oleh awam seperti; The Joker, Bane, Two- Face, Catwoman, Harley Quinn, The Riddler, Scarecrow, dan Killer Croc saja, namun juga karakter- karakter yang cukup populer namun belum dikenal oleh awam seperti; Man- Bat, The Mutant Leader, Clayface, Killer Moth, Hush, The Gentleman Ghost, The Calendar Man, dan sebagainya. Begitu juga dengan karakter penjahat yang mungkin belum tentu juga dikenal oleh fans mediocre yang memang kurang begitu dikenal seperti; King Tut, The Crazy Quilt, Kite Man, Eraser, Zodiac Master, Orca, dan lain- lain, selain itu juga ada cameo karakter- karakter Justice League lainnya. Baik yang sudah terkenal, maupun yang tidak begitu terkenal. (selamet ye yang mau koleksi… mi instan dah dua bulan… ^_^).  (dnf)

Rating:

8.5/10