Power Rangers (2017)

Poster

Directed By: Dean Israelite

Cast: Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Ludi Lin, Becky G., Elizabeth Banks, Bryan Cranston, Bill Hader

Synopsis:

5 remaja dari kota kecil Angel Grove, Jason (Dacre Montgomery), Billy (RJ Cyler), Zach (Ludi Lin), Kimberly (Naomi Scott), dan Trini (Becky G.) menemukan 5 koin kuno dalam sebuah kejadian di sebuah tambang. Paska kejadian tersebut, kelimanya tiba- tiba memiliki kekuatan super. Setelah diberikan pengarahan oleh sesosok alien kuno Zordon (Bryan Cranston) dan robot asistennya, Alpha 5 (Bill Hader), mereka bertiga menjadi Power Rangers, yang bertugas untuk menjaga kehidupan di bumi dari ancaman Rita Repulsa (Elizabeth Banks).

Review:

1

Mungkin sedikit sekali orang yang tidak mengenal Power Rangers. Mau mereka yang sempat muda di tahun 90-an ataupun emak- emak kolot gak asik, pasti minimal akrab dengan sebutan itu. Mighty Morphin Power Rangers merupakan seri pertama, yang meliputi 3 season pertama dari franchise Power Rangers yang diadaptasi dari serial Super Sentai buatan Toei. Super Sentai merupakan salah satu serial lama milik Toei yang bisa dibandingkan dengan Kamen Rider ataupun Ultraman. Masyarakat Indonesia mengenal Super Sentai lewat salah satu serinya yang berjudul Goggle V. Ciri khas dari seri ini adalah satu tim superhero yang biasanya terdiri dari 5 orang (meski terkadang bisa 3, 6, atau lebih) yang memiliki kostum sama hanya dibedakan warna. Dan memiliki satu kendaraan yang bisa digabungkan menjadi robot gede. Power Rangers sendiri dibaptis menjadi salah satu pop culture yang cukup berpengaruh 2 dekade lalu. Diikuti dengan penjualan merchandise yang sampai sekarang masih memiliki fanbase yang cukup kuat. Bahkan kesuksesannya membuat salah satu franchise Kamen Rider sempat diadaptasi juga oleh Amerika. Yaitu serial Black Rider RX, yang versi Jepangnya juga menjadi salah satu memori manis bagi generasi 90-an.

2

Sebenarnya gaung- gaung reboot MMPR ke dalam layar lebar telah bergaung sejak lama. Namun hype tersebut kembali hadir ketika Joseph Khan membuat fanmade sekuel MMPR yang menceritakan kisah keenam anggota original dewasa harus menghadapi Rocky yang telah membelot ke pihak musuh. Adapun tone yang dewasa dengan tingkat violence cukup tinggi ternyata memberikan kepuasan tersendiri bagi para fans. Meskipun mendapatkan tanggapan positif, ternyata film tersebut juga mendapatkan tolakan dari beberapa cast, dan juga dari Saban sendiri. Namun menanggapi respon ini, Saban kemudian memberikan kabar gembira bahwa reboot resmi akan dibuat dengan artis yang diisukan pertama untuk didekati adalah Chloe Grace Moretz sebagai Pink Ranger.

3

Mengikuti trend sekarang yang lebih mendewasakan franchise yang akrab dengan anak- anak, Power Rangers kali ini lebih fokus kepada pengenalan karakter. Jadi bagi para fans yang mengharapkan aksi laga yang keren pasti akan kecewa. Resmi 80% durasi hanya didominasi oleh pengembangan karakter dan menceritakan origins dari pembentukan tim Power Rangers. Untuk segi naskah, saya rasa sudah cukup berhasil. Penggambaran bagaimana mereka, yang dari tidak mengenal satu sama lain lalu menjadi sebuah tim yang kompak dan solid sudah cukup baik. Terlebih dengan memberikan problematika yang cukup dewasa bagi para remaja ini (salah satunya adalah dengan merubah karakter Trini menjadi penyuka sesama jenis- terlepas dari tanggapan saya terhadap karakter LGBT di film anak- anak).

4

Reboot ini juga mencoba untuk lebih akrab dengan penonton dari segala ras. Untuk menghindari stereotype dan kemungkinan tanggapan rasis, beberapa karakter dirubah warna kulitnya sehingga berbeda dengan warna kostumnya. Jika versi aslinya, Zack (Black Ranger) adalah seorang berkulit hitam dan Trini (Yellow Ranger) adalah seorang Cina, kali ini Zack adalah seorang Cina dan Trini seorang latin. Ini untuk menghindari seorang Negro menjadi Ranger hitam dan seorang Cina menjadi Ranger kuning (Orang Amerika menyebut kulit orang- orang Cina sebagai berkulit kuning). Selain mereka, Billy dirubah dari orang bule menjadi orang negro. Tapi perubahan warna kulit, bagi saya pribadi bukan merupakan hal yang cukup mengganggu. Apalagi jika mengikuti franchise tersebut sudah paham bahwa tim Power Rangers dari seri apapun pasti memiliki ras yang berbeda. Tidak semuanya orang bule.

5

Jika membicarakan kekurangan film ini, seperti yang saya sebutkan tadi, terdapat pada penggarapan adegan aksinya. Oke, memang tujuannya untuk memfokuskan film kepada pengenalan tokoh dan pembentukan karakter. Namun bukan berarti, adegan aksi harus dianaktirikan. Adegan aksi yang langsung memborbardir sebagai klimaks film terasa terlalu singkat. Selepas adegan- adegan aksi yang, saya nilai terlalu melempem, perasaan yang timbul seperti “Hah? Gitu doang?”. Seharusnya Lionsgate bisa lebih serius dalam menggarap koreografi pertempurannya. Bahkan jika dibandigkan dengan serial TV-nya, saya masih cukup terhibur dengan adegan aksi dari serial TVnya. Kemudian yang cukup mengganjal adalah ukuran Zord, yang bagi saya kurang besar. Apalagi mengingat dari materi promo posternya, kita sempat ditipu dengan ukuran Zord yang digambarkan cukup besar, namun aslinya di film cuma segitu aja.

5

Secara garis besar, Power Rangers sukses menjadi sebuah origins movie yang berfungsi untuk meletakkan landasan bagi franchise yang direncanakan akan memiliki 6 film ini (amiin…). Namun sebagai sebuah sajian film superhero, masih kurang banyak. Khususnya dari penggarapan adegan laga. Jika memang secara skenario bisa lebih dewasa, seharusnya untuk adegan aksi laga juga bisa dibuat jauh lebih keren dan dewasa dibandingkan versi TVnya. Namun kita sebagai penonton, diberikan ekstra musik pengiring yang super keren banget. Terutama remake dari beberapa tembang lawas. Saya berharap di sekuel- sekuel berikutnya, Lionsgate akan lebih bisa mengajak cast- cast asli untuk menjadi cameo, atau mungkin diberikan peran pembantu di filmnya. Bukan hanya menampilkan 2 pemeran asli sebagai cameo seperti di film pertamanya ini saja. Oya, jangan segera beranjak, karena akan ada mid credit scene. Tunggu aja. Gak lama kok. Gak bakal bikin tukang sapu bioskop bengong- bengong bete di kursi depan kaya nonton Avengers. (dnf)

Rating:

7/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kong: Skull Island (2017)

Poster

Directed By: Jordan Vogt- Roberts

Cast: Tom Hiddleston, Brie Larson, Samuel L. Jackson, John Goodman, John C. Reilly, John Ortiz, Tian Jing, Toby Kebbell, Shea Wingham, Corey Hawkins

Synopsis:

Bill Randa (John Goodman), adalah seorang peneliti dari MONARCH, sebuah organisasi pemerintah yang meneliti tentang keberadaan mahluk- mahluk raksasa di perut bumi yang disebut sebagai M.U.T.O.s (Massive Unindentified Terrestrial Organisms), berhasil mendapatkan izin untuk meneliti sebuah pulau bernama Skull Island. Dengan bantuan pasukan tentara yang dipimpin oleh Preston Packard (Samuel L. Jackson), seorang fotografer yang bertugas untuk mendokumentasikan ekspesdisi terebut, Mason Weaver (Brie Larson), dan seorang tracker mantan pasukan khusus, James Conrad (Tom Hiddleston), mereka berhasil memasuki pulau rahasia yang dikelilingi oleh angin badai abadi. Tanpa diketahui seluruh tim, sebenarnya Randa memiliki misi untuk menangkap seekor gorila raksasa yang dipanggil Kong oleh penduduk asli pulau tersebut.

Review:

1

Kesuksesan MCU dalam menggabungkan beberapa karakter terkenal yang dibuatkan stand alone movie-nya dulu sebelum dikemudian hari dipertemukan di dalam sebuah film, ternyata menjadi fenomena tersendiri di dunia perfilman. Tidak sedikit studio- studio lain yang mengekor format ini. Setelah Warner Bros yang otomatis merasa tertantang untuk memfilmkan DCEU yang dianggap sebagai rival terkuat MCU, setidaknya ada 2 universe lagi yang dipersiapkan untuk meramaikan kancah industri layar lebar. Universal telah menyiapkan Universal Monsters Shared Universe, dan Legendary Entertainment dengan MonsterVerse. Sebenarnya shared universe macam ini bukanlah barang yang baru. Di industri perfilman telah ada istilah crossover movie. Crossover movie yang cukup terkenal seperti Alien vs Predator, Freddy vs Jason, dan LXG.

2

Ketika diumumkan akan di remake lagi, banyak fans yang mengharap Legendary Entertainment akan setia dengan template cerita original-nya. Seperti yang dilakuakn oleh Peter Jackson pada tahun 2005, yang disebut- sebut sebagai remake King Kong terbaik. Karena selain menggunakan plot cerita asli, namun juga memberikan petualangan yang lebih luas dan seru ketimbang versi tahun 1933. Tidak sedikit yang membayangkan kalau Brie Larson akan memerankan Ann Darrow, Tom Hiddleston sebagai Jack Driscoll, dan John Goodman sebagai Carl Denham. Namun setelah harapan tersebut dipatahkan dengan pengumuman resmi bahwa bukan hanya setting waktu yang diubah dari tahun 30an menjadi tahun 70an, pada masa perang Vietnam, kisahpun akan dibuat jauh berbeda. Nama- nama karakterpun akan dibuat baru, meskipun tidak dipungkiri beberapa karakter merupakan penggambaran ulang dari karakter lama, seperti James Conrad yang pemberani dan menjadi protagonis manusia utama seperti Jack Driscoll, Bill Randa yang bertubuh tambun, manipulatif, dan ambisius layaknya Carl Denham versi Jack Black, lalu Preston Packard yang memimpin pasukan seperti Captain Engelhorn. Hanya saja Mason Beaver bukan murni reinkarnasi dari Ann Darrow. Kong tidak jatuh hati dengannya. Satu- satunya hal yang diadopsi adalah Meaver merupakan satu- satunya karakter yang sempat kontak fisik dengan Kong tanpa tewas.

3

Sebenarnya bisa saja Legendary memberikan sedikit kegembiraan untuk para fans. Setidaknya, meskipun tetap mengubah setting waktu dan asal- usul Kong agar lebih masuk ke MonsterVerse, nama- nama karakter utama bisa saja tetap mempertahankan nama- nama legendaris tersebut; Carl Denham, Ann Darrow, dan Jack Driscoll. Bagi saya ini juga menambah kekecewaan setelah menilai lemahnya naskah yang dibuat serta banyaknya karakter- karakter mubazir dan tempelan, seperti San yang diperankan oleh Tian Jing, yang kelihatan banget sebagai pemuas pasar RRC, yang beberapa tahun ke belakang ini mengharuskan ada 1 karakter jagoan keturunan Chinese dalam tiap film blockbuster. Padahal sebenarnya, demi menonjolkan dan memuaskan pasar tersebut, karakter San bisa dibuat lebih memorable, atau karena sudah kadung menciptakan karakter baru, Tian Jing bisa menjadi karakter protagonis wanita utama.

4

Meskipun memiliki cerita yang lemah, namun adegan aksi dan special effect tidak usah diragukan. Walau sempat melempem dan dragging di pertengahan film, namun adegan- adegan aksi berikutnya cukup seru. Sebagai sebuah bagian dari MonsterVerse, Kong: Skull Island juga telah dengan baik meletakkan beberapa landasan cerita. Khususnya apa yang digambarkan pada after credit scene tentang apa yang telah menanti penonton pada setidaknya di 2 film ke depan; Godzilla: King of The Monsters (2019) dan Godzilla vs. Kong (2020). Kira- kira setelah Scarlet Witch dan Quicksilver membintangi Godzilla dan Kong: Skull Island dimeriahkan oleh Nick Fury, Loki, Captain Marvel, dan salah satu petugas Nova, apakah nantinya film- film berikutnya para monster raksasa akan bertemu dengan Captain Amerca, Thor, Hulk, Hawkeye, Black Widow, atau bahkan Star Lord dan Iron Man? (dnf)

Rating:

7/10

 

The LEGO Batman Movie (2017)

cym_yo1w8aqqn_z

Directed By: Chris McKay

Cast: Will Arnett, Michael Cera, Rosario Dawson, Ralph Fiennes, Zach Galifianakis, Billy Dee Williams

Synopsis:

Dikarenakan trauma masa kecilnya yang kehilangan kedua orang tua, Batman/ Bruce Wayne (Will Arnett) memiliki hati yang dingin dan tidak mau terlibat hubungan dengan siapapun. Termasuk tidak mau menganggap The Joker (Zach Galifianakis) sebagai musuh bebuyutannya. Hal ini membuat The Joker sakit hati, dan ingin merancanakan sebuah kejahatan yang akan menyadarkan Batman bahwa The Joker menjadi bagian penting dalam hidupnya. Mau tidak mau Batman harus mulai mencoba bekerja sama dengan orang- orang dekat yang selalu diacuhkannya, seperti Alfred (Ralph Fiennes), Barbara Gordon (Rosario Dawson), dan Dick Grayson (Michael Cera).

Review:

mv5bnwzlzgm4zmytmtc2zs00nzc4lwjimgytnzninmuxmgnlmjy3xkeyxkfqcgdeqxvyndk0mta4mty-_v1_

Kesuksesan The Lego Movie pada tahun 2014 lalu memberikan imbas yang cukup positif dan dinilai cukup meningkatkan penjualan pabrikan mainan asal Denmark ini. The Lego Movie juga cukup unik mengingat berbeda dengan adaptasi film yang berdasarkan toyline lainnya yang memilih animasi full atau live action, The Lego Movie menggunakan mainan Lego asli dan direkam dengan menggunakan teknik stop motion. Sebenarnya metode ini bukanlah hal baru bagi Lego. Karena sebelumnya, sudah banyak kolektor mainan yang membuat film dengan metode ini, termasuk kolektor Lego sendiri. Kini, demi memberikan gempuran akan proyek DCEU yang sedang kebut tayang untuk mengalahkan pesaingnya, MCU, Warner Bros membuat spin- off The Lego Batman Movie yang memfokuskan kepada karakter Batman. Setelah karakter Batman diperkanalkan dan menjadi salah satu scene stealer di film tersebut.

screen-shot-2017-01-08-at-11-37-09-am

The Lego Batman Movie dihujani oleh berbagai bintang terkenal sebagai pengisi suara. Will Arnett sekali lagi menunjukkan dirinya cukup pas untuk menyuarakan sang ksatria kegelapan yang bersuara berat, namun bisa terdengar bodoh untuk tuntutan film animasi. Di samping itu, barisan cast pendukung lainnya juga diselipi beberapa bintang populer seperti Ralph Feinnes, Zandaya, Ada Devine, Jonah Hill, Zoe Kravitz, Billy Dee Williams, Eddie Izzard, Seth Green, Channing Tatum, bahkan sang diva, Mariah Carey. Uniknya beberapa pengisi suara memiliki trivia sendiri. Seperti Billy Dee Williams yang kali ini benar- benar berhasil menjadi Two- Face dan bukan sekedar Harvey Dent, setelah sebelumnya direncankan akan meneruskan peran sang jaksa wilayah yang akan menjadi villain di film ketiga Tim Burton sebelum akhirnya diambil alih oleh Joel Schumacher dan menggunakan Tommy Lee Jones sebagai Dent. Lalu Ralph Feinnes yang menjadi Alfred dan harus berhadapan dengan karakter yang dipopulerkannya sendiri, Lord Voldemort. Dan Rosarion Dawson yang juga beberapa kali menyuarakan Wonder Woman.

screen_shot_2017-01-09_at_11-11-26_am-png

Penyajian cerita juga cukup baik. Meskipun memiliki tema yang cukup ringan dan cukup bersahabat bagi seluruh keluarga, namun McKay tidak lupa untuk menambahkan tone dark yang pastinya bakal memuaskan hard core fans Batman. Apalagi dengan cerdas tim penulis naskah dengan cerdas memasukan referensi ke kisah- kisah Batman lainnya. Baik dari film- film sebelumnya, seri animasi, bahkan beberapa referensi dari adegan legendaris dari komiknya. Meskipun memiliki tone yang cukup dark, namun nampak sepertinya film ini tidak ayalnya seperti wujud imajinasi anak kecil yang sedang bermain lego. Banyak hal yang cukup simple yang terlihat seperti keluar dari otak seorang anak kecil. Seperti Harvard For Police, yang seperti terlalu sederhana untuk menggambakan akademi terbaik yang melahirkan taruna- taruna penegak hukum terbaik. Ataupun bagaimana para Gothamites bersatu dan bekerja sama untuk menyelamatkan kota mereka dengan cara “stick together” yang terlihat cukup imajinatif dan terasa childish.

the-lego-batman-movie-villains-1

Film ini bisa dikatakan fans service dan pemuas mimpi basah para penggemar DC yang mengharapkan bersatunya karakter- karakter penerbit komik pujaannya tersebut di layar bioskop. Contoh seperti karakter Rogues Gallery yang ditampilkan bukan hanya yang sudah dikenal luas oleh awam seperti; The Joker, Bane, Two- Face, Catwoman, Harley Quinn, The Riddler, Scarecrow, dan Killer Croc saja, namun juga karakter- karakter yang cukup populer namun belum dikenal oleh awam seperti; Man- Bat, The Mutant Leader, Clayface, Killer Moth, Hush, The Gentleman Ghost, The Calendar Man, dan sebagainya. Begitu juga dengan karakter penjahat yang mungkin belum tentu juga dikenal oleh fans mediocre yang memang kurang begitu dikenal seperti; King Tut, The Crazy Quilt, Kite Man, Eraser, Zodiac Master, Orca, dan lain- lain, selain itu juga ada cameo karakter- karakter Justice League lainnya. Baik yang sudah terkenal, maupun yang tidak begitu terkenal. (selamet ye yang mau koleksi… mi instan dah dua bulan… ^_^).  (dnf)

Rating:

8.5/10

The Great Wall (2016)

Poster

Directed By: Zhang Yimou

Cast: Matt Damon, Pedro Pascal, Andy Lau, Willem Dafoe, Tian Jing

Synopsis:

William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascal) adalah dua tentara bayaran yang selamat dari tim ekspedisi untuk mencari bubuk mesiu di daratan Cina kuno. Mereka berlindung di tembok panjang yang ternyata berfungsi untuk menghalau monster kuno yang gemar memakan daging manusia. Merekapun mau tidak mau harus ikut membantu para pejuang, yang di antaranya adalah Komandan Lin Mei (Tian Jing) dan ahli strategi Wang (Andy Lau).

Review:

1

Tembok Cina merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia yang dijadikan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1987. Tembok yang dibangun secara bertahap selama lebih dari 2000 tahun ini sebenarnya merupakan kesatuan dari berbagai macam tembok. Meski banyak spekulasi tentang fungsi dibangunnya tembok ini, namun salah satu yang paling terkenal adalah sebagai penghalang dari serangan bangsa dari utara. Sehingga seringkali tembok cina dianggap sebagai simbol kesatuan dari rakyat Cina, yang pada saat itu terdiri dari berbagai macam kerajaan. Sama halnya dengan situs- situs warisan budaya di dunia, tembok Cina juga diselimuti dengan berbagai macam legenda, mitos, serta cerita rakyat. Tidak sedikit malahan kisah fiksi baru yang dibuat untuk menggambarkan latar belakang bangunan tersebut. Salah satunya adalah film The Great Wall ini.

2

Zhang Yimou telah membuktikan sekali lagi kemampuannya untuk mencampur gaya perfilman Hong Kong serta Hollywood. Seperti yang pernah dia lakukan lewat The Flowers of War tahun 2011 lalu. Salah satu kekuatan dari film ini adalah kemampuan tim sinematografi hasil kerjasama antara Stuart Dryburgh dan Xiaoding Zhao. Dryburgh yang kemampuannya dalam sisi pewarnaan telah kita nikmati lewat The Secret Life of Walter Mitty sangat sempurna saat mengkolaborasikand iri dengan Zhao yang tangannya sangat cekatan dalam memadukan warna- warni yang kontras. Sehingga, seperti bisa dilihat dari pemilihan warna kostum, film ini layaknya membaca komik tiongkok atau kartun mandarin yang biasanya warna- warni kostum sangat dominan dan berwarna- warni.

3

Tanpa drama dragging yang terlalu berbelit- belit khas film Mandarin, film The Great Wall menyajikan tempo kisah yang sangat cepat. Bahkan dari awalpun, film sudah dibuka dengan sajian penyerangan para monster yang cukup menegangkan sambil menunjukkan kemampuan tempur para tokoh. Hanya saja pertempuran klimkas kurang begitu digarap dengan baik, meskipun sebenarnya masih cukup watchable. Penyelesaian yang ditawarkan terlalu simple untuk suatu wabah yang sudah meneror daratan Tiongkok selama ribuan tahun ini.

4

Pemilihan pemain juga sangat pas. Dan yang cukup menarik perhatian adalah Pedro Pascal, yang kembali bisa berperan sebagai sidekick yang setia dan manusiawi, seperti yang pernah dia bawakan dalam serial Narcos. Dan yang benar- benar paling menarik adalah Tian Jing. Apalagi kalau bukan dari segi bentukan yang memang benar- benar menyegarkan mata. Aktris yang ke depannya akan mendapatkan peran- peran yang cukup signifikan dalam film- film unggulan seperti Kong: Skull Island serta sekuel Pacific Rim ini bisa saja akan menjadi Michelle Yeoh berikutnya yang namanya cukup terdengar di perfilman Hollywood. Who Knows?

5

^^^^^^^ INI DIA TIAN JING… Cakep kan…!!!!

Rating:

7.5/10

Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

fantastic_beasts_and_where_to_find_them_ver4_xxlg

Directed By: David Yates

Cast: Eddie Redmayne, Collin Farrell, Katherine Waterston, Alison Sudol, Dan Fogler, Ezra Miller

Synopsis:

Newt Scamander (Eddie Redmayne) adalah seorang penulis yang mendarat di kota New York dalam rangka melengkapi misinya untuk melestarikan hewan- hewan fantasi yang ada di seluruh dunia. Dia terjebak di sebuah insiden yang dapat membahayakan dunia sihir dan dunia manusia, setelah beberapa hewan fantasinya lepas. Dengan dibantu oleh dua penyihir adik- kakak, Tina (Katherine Waterston) dan Queenie (Alison Sudol) serta seorang manusia biasa, Kowalski (Dan Fogler) mereka harus menyelamatkan hewan- hewan fantasi sebelum menjadi kambing hitam dari semua insiden tersebut.

Review:

ghostbusters-2016-reboot-movie-review-chris-hemsworth

Siapa yang tidak tahu Harry Potter? Nama penyihir paling terkenal tersebut sudah menjadi salah satu ikon industri hiburan, layaknya James Bond, Superman, ataupun Batman. Pasalnya karakter yang diangkat dari buku seri hasil imajinasi J.K. Rowling ini bisa dikatakan cukup sukses di tangga box office dan kerap mendapatkan rating positif dari berbagai macam situs review film. Keberadaannya juga telah menciptakan trend tersendiri di genre aksi fantasi yang diekori oleh pengadaptasian literatur- literatur Young Adult lainnya. Namun sampai sekarang belum ada satupun yang berhasil mencetak rekor adaptasi keseluruhan ceritanya. Kecuali Twilight yang bagi saya pribadi berbeda dengan genre yang diusung oleh Harry Potter. Jika dibandingkan Harry Potter mungkin lebih mirip dengan karya- karya Rick Riordan.

2

Lalu ketika film dan bukunya tamat apakah berhenti sampai di situ saja? Well, siapa sih yang gak doyan duit? Selama masih ada permintaan dan kans yang baik di pasar, sudah pasti tidak akan disia- siakan. Beberapa di antaranya adalah menerbitkan buku Quiditch Throught The Ages dan Fantastic Beasts and Where to Find Them yang merupakan buku yang diposisikan sebagai buku yang dibaca Harry Potter. Dan yang belum lama ini adalah dengan membuat naskah drama Harry Potter and The Cursed Child yang sempat menuai kontroversi karena me-negro-kan karakter Hermione. Khusus buku Fantastic Beasts and Where to Find Them didaulat sebagai ensiklopedia hewan- hewan fantasi di dunia Harry Potter, baik yang sempat tampil maupun yang belum. Menariknya lagi, buku yang merupakan salah satu buku kurikulum di tahun pertama sekolah sihir Hogwarts ini ditulis oleh Newt Scamander, karakter fiksi yang sempat disebut dalam beberapa kisah dan menjadi nama pena Rowling dalam menulis buku ini. Namun untuk filmnya, dikisahkan sebagai latar belakang kisah pembuatan buku ini oleh Scamander yang direncanakan akan bergulir selama 5 seri.

sfsfsdfs

Dua hal yang sangat menarik dalam film ini. Yang pertama adalah casting yang nyaris sempurna. Eddie Redmayne memang sangat pas dalam menghidupkan karakter Scamander. Dan memang dirinya merupakan pilihan tepat untuk memerankan karakter- karakter aneh dan freak, seperti yang pernah dibawakannya lewat The Theory of Everything dan The Danish Girl. Berikutnya nama Dan Fogler memberikan sisi komikal dalam film ini yang mengingatkan kita pada karakter sidekick Ron Weasley. Dan mungkin jika ingin menyebutkan satu aktor lagi, Collin Farrell bermain sangat pas sebagai karakter antagonis. Yang kedua yang mampu membuat film ini menjadi menarik adalah polesan CGI yang begitu indah. Apalagi dalam menampilkan karakter mahluk- mahluk fantasi yang lucu dan juga mengerikan. Layaknya film- film Harpot lainnya, CGI menjadi salah satu unsur utama yang sangat diperhatikan dalam membawakan dunia magis ke dalam layar.

maxresdefault

Dengan memilih film ini sebagai adaptasi bebas dari buku yang juga dikarangnya, membuat J.K. Rowling menjadi bebas berekspresi tanpa harus terikat oleh buku yang biasanya menjadi kendala dalam mengadaptasi cerita. Seperti yang sudah diketahui oleh penonton, saat mengadaptasi buku biasanya membuat sebuah film kehilangan esensi dan tidak lagi semenarik saat membaca buku. Terbatasnya imajinasi yang dipatok dalam sebuah film serta plot yang mungkin diperingkas untuk keperluan durasi, yang terkadang menjadi bumerang bagi studio dan mendatangkan hujatan dari fans setianya. Tapi saat membuat cerita bebas dari buku yang sudah ada, menjadi sebuah ceritaan yang menarik dan tentunya akan terbebas dari kekangan- kekangan yang seperti saya sebutkan tadi. Dan hal itu sangat dimanfaatkan oleh penulis yang tercatat sebagai penulis buku terkaya itu. Eksplorasi imajinasinya terlihat dalam lebih fokusnya dia dalam membuat sajian sihir- sihiran, meski secara plot tidak sehebat seri Harpotnya. Namun hal tersebut tidak menjadi ganjalan karena akhirnya menjadikan film ini mudah dinikmati oleh setiap kalangan. Ditambah lagi sebuah “kejutan” di akhir kisah yang pastinya akan memuaskan bukan hanya Potterhead semata, tapi seluruh penonton.

FTB933_FBST_DTR4 2055.tif

Fantastic Beats and Where to Find Them berhasil meneruskan tongkat estafet Harpot franchise yang telah berakhir lewat Harry Potter and The Deadly Hallows: Part II pada tahun 2011 lalu. Dengan harapan, nantinya mampu menyaingi MCU atau jika memungkinkan Star Wars dan James Bond dalam eksis di industri layar perak. Tidak menutup kemungkinan jika nantinya seri ini sukses sampai 5 seri, seperti yang sudah direncanakan, Warner Bros akan meneruskan dengan mengadaptasi secara bebas buku Quidicth Through The Ages. (dnf)

Rating:

7.5/10

Suicide Squad (2016)

Harley Quinn: We’re bad guys. That’s what we do.

Poster

Directed By: David Ayer

Cast: Will Smith, Margot Robbie, Joel Kinnaman, Viola Davis, Karen Fukuhara, Jai Courtney. Adewale Akinnuoye- Agbaje, Jared Leto, Jay Hernandez, Cara Delevingne, Ike Barinnholtz, Ben Affleck, Scott Eastwood

Synopsis:

Amanda Waller (Viola Davis) adalah seorang petinggi di agensi pemerintahan yang menyelidiki perihal eksistensi metahuman (atau manusia yang memiliki kekuatan khusus). Dia memiliki wacana untuk membentuk sebuah kesatuan yang bernama Task Force X yang tediri dari penjahat- penjahat dengan kemampuan di atas manusia normal yaitu: Enchantress/ June Moone (Cara Delevingne), Deadshot/ Floyd Lawton (Will Smith), Harley Quinn/ Harleen Quinzel (Margot Robbie), Captain Boomerang/ Digger Harkness (Jai Courtney), El Diablo/ Chato Santana (Jay Hernandez), Killer Croc/ Waylon Jones (Adewale Akinnuoye- Agbaje), dan Slipknot/ Christopher Weiss (Adam Beach).

Ketika Enchantress berhasil kabur dari pengawasan Rick Flag (Joel Kinnaman), bawahan Waller yang bertugas untuk mengawasi gerak- gerik Task Force X di lapangan, yang juga kekasih June, pemerintah memerintahkan Amanda untuk mengaktifkan para anggota lainnya untuk menangkap Enchantress yang telah bekerja sama dengan kakaknya, Incubus untuk memusnahkan umat manusia. Rick Flag pun ditugaskan kembali untuk mengawasi para anggota lapangan dengan dibantu oleh Katana/ Tatsu Yamashiro (Karen Fukuhara) yang menjadi “bodyguard” bagi Flag.

Namun ancaman bagi Task Force X bukan hanya datang dari Enhantress belaka, namun juga dari The Joker (Jared Leto) yang menggunakan berbagai macam cara untuk membebaskan Harley Quinn, kekasihnya.

Review:

suicide-squad-movie-2016-katana-karen-fukuhara-1024x512

Bisa dikatakan Marvel sekarang telah menjadi baromoter dan trend setter sendiri bagi film bergenre superhero. Berbeda dengan beberapa dekade sebelumnya, di mana kubu lawan, DC Comics unggul dalam film- film adaptasi komiknya. Namun entah karena takut, atau tidak pede, ide untuk menyatukan para jagoan utamanya dalam sebuah film Justice League, malah “dicuri” oleh Marvel dengan membuat landasan yang rapi untuk sebuah franchise yang disebut sebagai Marvel Cinematic Universe. Merasa kebakaran jenggot, DC, yang telah telah beberapa tahun langsung tancap gas dengan mengumumkan beberapa proyek filmnya ke depan pada acara Comic Con beberapa tahun lalu. Di antara jajaran film yang diumumkan, Suicide Squad-lah yang seakan memberikan janji manis untuk mengangkangi eksistensi MCU. Pasalnya premis yang disebutkan adalah menggambarkan jagoannya adalah barisan para penjahat dari anggota Justice League. Hal ini memang sudah biasa di dunia komik, di mana para penjahat populer diberikan satu seri komik tersendiri di mana alur cerita mengharuskan dirinya menjadi karakter protagonis. Namun untuk dunia film genre superhero, ini adalah hal baru. Sebenarnya jika seandainya film Sinisters Six jadi dibuat oleh Sony, bisa menyaingi kisah Suicide Squad ini.

2

Materi promosi yang begitu gencar sekaligus barisan trailer dan TV Spot yang ternyata bukan hanya direspon positif oleh fans DC, namun juga oleh fans awam yang langsung menjadikan film Suicide Squad masuk ke daftar tunggu, membuat kepopuleran film ini menjadi meningkat. Belum lagi animasi Assault on Arkham yang sangat bagus dan memberikan gambaran sesuai untuk Suicide Squad mendekati komiknya, digemari oleh berbagai golongan penonton.  Namun ternyata materi promosi yang nyaris sempurna tersebut menjadi bumeran tersendiri bagi filmnya. Ekspektasi yang terlalu tinggi malahan menjadikan film ini sedikit banyak melahirkan banyak kekecewaan. Meskipun sebenarnya secara sajian hiburan masih cukup menghibur, tetapi jika dibandingkan dengan ekspektasi yang sudah kadung tinggi, film ini justru kurang begitu greget.

suicidesquad.0.0

Oke, sebelum menyebutkan apa saja yang mengecewakan, saya coba menjabarkan apa saja nilai positif dari film ini. Pertama sudah tentu barisan aktor- aktris yang terpilih untuk merepresentasi karakter- karakter komiknya. Acungan jempol paling banyak patut kita berikan kepada Margot Robbie. Bahkan jika dibandingkan dengan Jared Leto, penampilan Robbie lebih mendekati bayangan Harley Quinn, bagi yang mengikuti komiknya. Campuran antara kegilaan dibalik sosok Harleen Quinnzel yang naif bisa dimainkan dengan apik oleh aktris yang belakangan lagi naik daun ini. Hampir dipastikan setiap penampilannya mampu mencuri perhatian. Bisa jadi karakter Harley Quinn akan meningkat kepopulerannya bagi para penonton awam. Dan film solonya sendiri sudah dipastikan akan hadir, dengan Robbie yang akan memproduseri secara langsung. Berikutnya adalah Joel Kinnaman yang nyaris sempurna memerankan Rick Flag dan Cara Delevigne sebagai Enchantress yang tampilannya cukup mengerikan. Didaulat sebagai garda terdepan sekaligus pendongkrak box office, bagi saya pribadi Will Smith (sesuai ekspektasi) fail sebagai Deadshot. Deadshot yang hadir di film ini tipikal another-will-smith-character dan bukannya Floyd Lawton yang mampu menggambarkan aura seorang pembunuh bayaran nomor satu. Bahkan Will Smith di film ini lebih mirip seperti Mike Lowrey di dwilogi Bad Boys.

4

Jared Leto sudah pas berperan sebagai The Joker. Namun performance-nya belum mampu menyaingin Heath Ledger atau Jack Nicholson. Oke, secara akting, aktor kelas Oscar ini telah mampu memberikan gambaran The Joker yang berbeda. Namun memang bebannya di film ini paling berat, mengingat keseluruh aktor yang sempat memerankan peran ini, baik Nicholson, Ledger, Cesar Romero, atau Mark Hamill sekalipun telah memberikan gambaran sempurna akan sosok badut psikopat itu dan mampu memberikan touch berbeda di antaranya. Dan jika mengingat bebannya yang terlalu berat, sekaligus scene appearance-nya yang tidak terlalu dominan di film ini, masih bisa dimaklumilah, sekaligus berharap di film solo Batman nanti akan lebih sempurna lagi. Penampilan Leto dan Robbie mampu menggambarkan dengan sempurna hubungan Mad Love antara The Joker dan Harley Quinn. Dan selepas film ini bisa dipastikan mereka akan menjadi the sweetest couple bagi para pecinta film superhero. Viola Davis bermain cukup menyebalkan dan sudah mampu membawakan karakter abu- abu Amanda Waller dengan sempurna. Sisa aktor- aktris lainnya, baik itu Karen Fukuhara,  Jay Hernandez, Jai Courtney, dan aktor yang namanya paling susah saya hafal dan setiap nulis harus cek google dulu, Adewale Akkinuoye- Agbaje sudah cukup blend dengan karakternya masing- masing, hanya saja memang penampilannya sekedar minor characters belaka. Terlebih karakter Killer Croc hanya sebagai karakter pengganti saja. Tadinya Ayer mau memakai karakter King Shark yang lebih dikenal sebagai anggota Suicide Squad ketimbang Croc, namun karena akan menharuskan penggunaan full CGI, maka karakter manusia hiu tersebut digantikan oleh manusia buaya.

5

Naskah merupakan salah satu kelemahan dari film ini. Ditambah dengan skill Ayer yang menurun dibandingkan film- filmnya yang lalu. Plot yang disajikan oleh film ini bisa kita pisahkan menjadi 2 bagian. Yang pertama di treat sebagai origins story dari keseluruh karakter. Character treatment merupakan hal yang cukup menonjol dari film ini. Salah satunya ada origins story masing- masing karakter yang dibuat hanya dalam beberapa menit saja. Bagian pertama ini seakan mendobrak tradisi MCU dan DCCU yang menyiapkan film solo untuk memberikan origins serta latar belakang karakter sebelum disatukan dalam sebuah film. Sebenarnya bagian pertama ini bisa dibuat lebih baik lagi. Tapi dengan apa yang sudah disajikan oleh Ayer, saya rasa sudah cukup. Bagian kedua adalah aksi para member dalam misi pertamanya bersama- sama ini. Di bagian keduanya ini, kisah yang dihadirkan sangat mirip dengan naskah video game. Di mana sekelompok tim naik helikopter, ditembak jatuh, lalu harus meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menuju tujuan misi dengan melewati beberapa rintangan dan harus menghadapi pasukan musuh. Hanya saja ketidakberaturan dalam penulisan naskah membuat bagian keduanya ini terasa hambar dan tidak rapi. Bahkan misi yang harus dijalankanpun tidak tergambar jelas, meskipun sebenarnya misi sebenarnya merupakan sebuah twist, namun tidak terasa seperti twist.

suicide-squad07

Editing adalah salah satu hal terpenting dalam film ini yang malah tidak dilakukan dengan baik. Lompatan antara scene membuat capek mata. Belum lagi dengan script yang terlalu lemah. Seakan ingin memberikan plot berlapis yang berhasi di delivery oleh Assault on Arkham, malahan dibuat hambar dengan editing yang buruk dan cara bertutur Ayer yang kurang enak. Namun untuk adegan laganya sudah disajikan cukup seru. Kesalahan fatal lainnya adalah racikan original score serta sound editing yang buruk, bahkan mengingatkan saya pada film- film kelas B atau sinetron- sinetron dengan score yang tidak mampu menghidupkan adegan yang tersaji di layar. Hambar. Untungnya barisan soundtrack yang dihadirkan, baik itu lagu yang khusus diciptakan untuk film ini maupun lagu yang sudah terkenal yang dipinjam untuk film ini, cukup memberikan feel dan meningkatkan beat setiap adegan yang diwakilkan. Tak ayal dengan skrip yang lemah, editing yang buruk, maupun score yang jelek membuat film ini tak ayal seperti film kelas B semata.

6

Ayer juga memberikan fans service yang cukup banyak di film ini. Tanpa bermaksud untuk spoiler, banyak gimmick, adegan, cameo, mid credit scene yang mengarah kepada Justice League ataupun easter egg yang ditampilkan, sudah cukup baik. Dan hal itu menjadi salah satu sisi positifnya. Suicide Squad juga semakin menjelaskan bahwa DC tidak ingin terlalu terkekang dengan komitmennya dalam film tanpa joke dan terlalu serius. Suicide Squad dipenuhi banyak joke ringan yang mampu menambahkan keasyikan tersendiri. Mungkin belajar dari BvS, yang terlalu serius. Dan lagi secara bisnis, jika bisa menghibur 1000 orang kenapa harus menghibur 100 orang? Jika bisa menghibur seluruh penonton, kenapa hanya terfokus untuk memuaskan fans sejati saja? (dnf)

Rating:

7.5/10

Star Trek Beyond (2016)

Bones: Afraid of dying is what keeps us alive.

star-trek-beyond-poster-international

Directed By: Justin Lin

Cast: Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban, Zoe Saldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Idris Elba, Joe Taslim, Sofia Boutella, Lydia Wilson

Synopsis:

Setelah diberikan tugas untuk membantu seorang alien bernama Kalara (Lydia Wilson), kapal USS Enterprise diserang oleh pasukan alien yang dipimpin oleh Krall (Idris Elba) yang dibantu oleh tangan kanan setianya, Manas (Joe Taslim). Penyerangan tersebut mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit dari USS Enterprise. Beberapa kru, yang diantaranya adalah Sulu (John Cho) dan Uhura (Zoe Saldana) disekap dan dijadikan tawanan oleh Krall, sementara kru lainnya yang terdiri dari Captain Kirk (Chris Pine), Spock (Zachary Quinto), Bones (Karl Urban), Scotty (Simon Pegg), Chekov (Anton Yelchin), dibantu oleh seorang alien bernama Jaylah (Sofia Boutella) berhasil selamat dan mau tidak mau harus mencari kawan- kawan lainnya untuk kabur dari planet tersebut.

Review:

1

Paska diputuskan untuk meneruskan versi layar lebar dengan memfokuskan cerita kepada alternate reality-nya, Star Trek telah menjelma menjadi sebuah franchise yang digemari bukan hanya tertutup kepada geeks saja. Berbeda dengan film- film versi original-nya, Star Trek yang dibawakan oleh JJ Abrams lebih pop corn dan lebih dapat diterima khalayak ramai dengan lebih menonjolkan segi aksi seru ketimbang drama fiksi ilmiah dengan kandungan yang berat. Hal ini mendatangkan apresiasi yang beragam, baik itu apresiasi positif dengan adanya penambahan jumlah member trekkie, dan juga sebaliknya apresiasi negatif yang tidak terlalu menyukai gambaran Star Trek yang terlalu “summer movie”.

2

Bagi mereka yang menyukai gebrakan Abrams tadi, pasti akan menyukai film ketiganya ini. Pasalnya, dari materi trailer sudah terasa feel yang jauh berbeda dengan versi klasiknya. Suguhan aksi serta adegan laga yang menghibur menghiasi trailer- trailer-nya. Dan memang, naskah yang kali ini ditulis oleh Simon Pegg jauh dari warna sciene fiction berat. Apalagi ditangani oleh Justin Lin, seorang sutradara yang berhasil mengangkat franchise The Fast and The Furious dari keterpurukan. Bukan hanya itu, Lin juga berhasil merubah citra franchise tersebut dari sebuah drag race movie menjadi sebuah heist movie dengan skala internasional. Kepiawaiannya pula yang membuat jilid ketiga dari sebuah seri terlupakan menjadi sebuah bagian yang cukup signifikan dalam kesinambungan franchise. Fingerprints Lin sangat kental terasa di film ini. Bagaikan masih mengukuhkan dirinya sebagai sutradara franchise balapan, Lin memasukkan unsur aksi kebut- kebutan motor yang cukup bagus. Ditambah dengan joke- joke fresh hasil kolaborasinya dengan Simon Pegg sebagai penulis naskah.

star-trek-beyond-3

Simon Pegg memanfaatkan posisinya sebagai penulis naskah dengan memberikan porsi yang lebih kepada karakter- karakter pendukung lainnya untuk lebih memiliki peranan dalam keutuhan cerita. Apalagi untuk karakternya, Scotty. Hanya saja, karakter Jaylah, yang digadang- gadang seolah- seolah akan memiliki peran sentral yang menonjol, jika dilihat dari materi posternya, menjelma menjadi karakter tempelan yang kurang begitu kuat. Ini bukan karena sang aktris, Sofia Boutella yang kurang maksimal. Namun karena terlalu banyaknya karakter yang diberikan peran. Sementara hal lain yang harus dikorbankan adalah bromance antara Kirk dan Spock yang pada 2 film pendahulunya menjadi satu kekuatan dalam plot cerita.

5

Star Trek Beyond sekali lagi berhasil menempatkan diri sebagai sebuah sajian block buster yang cukup wah. Namun mungkin tidak begitu mengasyikan bagi mereka yang passion akan sciene fiction-nya sudah terlalu mengakar apalagi bagi mereka yang tidak menyukai 2 film pendahulunya. Untungnya bagi penonton Indonesia, ditambahi sebuah bonus. Dengan terlibatnya aktor laga yang juga mantan atlit Judo, Joe Taslim. Bahkan meskipun 99% kemunculannya menggunakan make up, karakternya sebagai henchman cukup membanggakan dan bukan hanya musuh numpang lewat, seperti yang disebut- sebut oleh para hater. (dnf)

 

Rating:

7.5/10