The LEGO Batman Movie (2017)

cym_yo1w8aqqn_z

Directed By: Chris McKay

Cast: Will Arnett, Michael Cera, Rosario Dawson, Ralph Fiennes, Zach Galifianakis, Billy Dee Williams

Synopsis:

Dikarenakan trauma masa kecilnya yang kehilangan kedua orang tua, Batman/ Bruce Wayne (Will Arnett) memiliki hati yang dingin dan tidak mau terlibat hubungan dengan siapapun. Termasuk tidak mau menganggap The Joker (Zach Galifianakis) sebagai musuh bebuyutannya. Hal ini membuat The Joker sakit hati, dan ingin merancanakan sebuah kejahatan yang akan menyadarkan Batman bahwa The Joker menjadi bagian penting dalam hidupnya. Mau tidak mau Batman harus mulai mencoba bekerja sama dengan orang- orang dekat yang selalu diacuhkannya, seperti Alfred (Ralph Fiennes), Barbara Gordon (Rosario Dawson), dan Dick Grayson (Michael Cera).

Review:

mv5bnwzlzgm4zmytmtc2zs00nzc4lwjimgytnzninmuxmgnlmjy3xkeyxkfqcgdeqxvyndk0mta4mty-_v1_

Kesuksesan The Lego Movie pada tahun 2014 lalu memberikan imbas yang cukup positif dan dinilai cukup meningkatkan penjualan pabrikan mainan asal Denmark ini. The Lego Movie juga cukup unik mengingat berbeda dengan adaptasi film yang berdasarkan toyline lainnya yang memilih animasi full atau live action, The Lego Movie menggunakan mainan Lego asli dan direkam dengan menggunakan teknik stop motion. Sebenarnya metode ini bukanlah hal baru bagi Lego. Karena sebelumnya, sudah banyak kolektor mainan yang membuat film dengan metode ini, termasuk kolektor Lego sendiri. Kini, demi memberikan gempuran akan proyek DCEU yang sedang kebut tayang untuk mengalahkan pesaingnya, MCU, Warner Bros membuat spin- off The Lego Batman Movie yang memfokuskan kepada karakter Batman. Setelah karakter Batman diperkanalkan dan menjadi salah satu scene stealer di film tersebut.

screen-shot-2017-01-08-at-11-37-09-am

The Lego Batman Movie dihujani oleh berbagai bintang terkenal sebagai pengisi suara. Will Arnett sekali lagi menunjukkan dirinya cukup pas untuk menyuarakan sang ksatria kegelapan yang bersuara berat, namun bisa terdengar bodoh untuk tuntutan film animasi. Di samping itu, barisan cast pendukung lainnya juga diselipi beberapa bintang populer seperti Ralph Feinnes, Zandaya, Ada Devine, Jonah Hill, Zoe Kravitz, Billy Dee Williams, Eddie Izzard, Seth Green, Channing Tatum, bahkan sang diva, Mariah Carey. Uniknya beberapa pengisi suara memiliki trivia sendiri. Seperti Billy Dee Williams yang kali ini benar- benar berhasil menjadi Two- Face dan bukan sekedar Harvey Dent, setelah sebelumnya direncankan akan meneruskan peran sang jaksa wilayah yang akan menjadi villain di film ketiga Tim Burton sebelum akhirnya diambil alih oleh Joel Schumacher dan menggunakan Tommy Lee Jones sebagai Dent. Lalu Ralph Feinnes yang menjadi Alfred dan harus berhadapan dengan karakter yang dipopulerkannya sendiri, Lord Voldemort. Dan Rosarion Dawson yang juga beberapa kali menyuarakan Wonder Woman.

screen_shot_2017-01-09_at_11-11-26_am-png

Penyajian cerita juga cukup baik. Meskipun memiliki tema yang cukup ringan dan cukup bersahabat bagi seluruh keluarga, namun McKay tidak lupa untuk menambahkan tone dark yang pastinya bakal memuaskan hard core fans Batman. Apalagi dengan cerdas tim penulis naskah dengan cerdas memasukan referensi ke kisah- kisah Batman lainnya. Baik dari film- film sebelumnya, seri animasi, bahkan beberapa referensi dari adegan legendaris dari komiknya. Meskipun memiliki tone yang cukup dark, namun nampak sepertinya film ini tidak ayalnya seperti wujud imajinasi anak kecil yang sedang bermain lego. Banyak hal yang cukup simple yang terlihat seperti keluar dari otak seorang anak kecil. Seperti Harvard For Police, yang seperti terlalu sederhana untuk menggambakan akademi terbaik yang melahirkan taruna- taruna penegak hukum terbaik. Ataupun bagaimana para Gothamites bersatu dan bekerja sama untuk menyelamatkan kota mereka dengan cara “stick together” yang terlihat cukup imajinatif dan terasa childish.

the-lego-batman-movie-villains-1

Film ini bisa dikatakan fans service dan pemuas mimpi basah para penggemar DC yang mengharapkan bersatunya karakter- karakter penerbit komik pujaannya tersebut di layar bioskop. Contoh seperti karakter Rogues Gallery yang ditampilkan bukan hanya yang sudah dikenal luas oleh awam seperti; The Joker, Bane, Two- Face, Catwoman, Harley Quinn, The Riddler, Scarecrow, dan Killer Croc saja, namun juga karakter- karakter yang cukup populer namun belum dikenal oleh awam seperti; Man- Bat, The Mutant Leader, Clayface, Killer Moth, Hush, The Gentleman Ghost, The Calendar Man, dan sebagainya. Begitu juga dengan karakter penjahat yang mungkin belum tentu juga dikenal oleh fans mediocre yang memang kurang begitu dikenal seperti; King Tut, The Crazy Quilt, Kite Man, Eraser, Zodiac Master, Orca, dan lain- lain, selain itu juga ada cameo karakter- karakter Justice League lainnya. Baik yang sudah terkenal, maupun yang tidak begitu terkenal. (selamet ye yang mau koleksi… mi instan dah dua bulan… ^_^).  (dnf)

Rating:

8.5/10

Advertisements

Sing (2016)

sing2016

Directed By: Garth Jennings, Christophe Lourdelet

Cast: Matthew McConaughey, Reese Witherspoon, Seth McFarlane, Scarlett Johansson, John C. Reilly, Tori Kelly, Taron Egerton, Nick Kroll

Synopsis:

Buster Moon (Matthew McCognauhey) adalah seekor koala yang sangat mencintai theatre. Cita- citanya tercapai ketika dia berhasil memiliki theatre yang menjadi cinta pertamanya itu. Hanya saja, dirinya kurang beruntung dalam berbisnis. Untuk memulihkan keadaan ekonominya, Moon mencoba untuk mengadakan audisi tarik suara yang kemudian memilih beberapa ekor finalis; Mike si tikus (Seth McFarlane), Meena si gajah (Tori Kelly), Johnny si gorilla (Taron Egerton), Ash si landak (Scarlett Johansson), dan duo babi, Rosita (Reese Witherspoon) dan Gunter (Nick Kroll).

Review:

1

Bagi yang mengikuti industri musik pasti mengetahui paska munculnya kontes adu bakat yang dimotori oleh World Idol, melahirkan banyak sekali bakat- bakat alami penyanyi amatir yang membangun mimpi untuk menjadi artis. Selain itu dengan kesuksesan franchise acara tersebut, melahirkan acara- acara sejenis di setiap negara. Seperti The Voice, Akademi Fantasi, dan mungkin yang sedang booming di negara kita Dangdut D’Academy. Tak heran jika kemudian membuat anak- anak muda tertarik untuk menekuni bidang ini, setelah sebelumnya hingga medio 90-an, anak- anak remaja berbondong- bondong untuk mendirikan band amatir. Beberapa filmpun telah menceritakan perihal dunia tarik suara (bukan film musikal), seperti Pitch Perfect dan Duets yang berfokus masing- masing kepada Group Acapella Performance dan Duet.

 

Adapun seperti kebanyakan film yang menonjolkan musik, yang perlu diperhatikan adalah cast harus memiliki kualitas olah vokal yang menjual. Begitu juga dengan film ini. Meskipun nama- nama yang dipilih masuk ke dalam jajaran cast kebanyakan adalah bintang film populer, namun dengan pedenya mereka mampu menyanyikan lagu layaknya seorang biduan. Wallahu A’lam sih pake effect apa di mix macem- macem. Hanya saja, tidak sedikit yang menduga bahwa performance suara pada saat karakter sedang bernyanyi dibawakan oleh voice cast berbeda dengan aktor tersebut. Sebut saja Seth McFarlane yang mampu bernyanyi ala Frank Sinatra, Johansson yang mamppu menghidupkan karakter yang berkiblat pada Avril Lavigne, Taron Egerton yang bisa membawakan versi gorillanya Bruno Mars, dan Reese Witherspoon yang memiliki karakter penyanyi seperti Taylor Swift.

4

Kumpulan tembang populer yang dipilih dan di remix cukup menarik. Musik yang dipilih dari berbagai macam genre memang sangat menghibur. Hanya saja, terkadang penempatan musik dirasa kurang tepat. Seperti ada satu karakter yang dipersiapkan untuk tampil sebagai biduan pamungkas, malah di penampilan akhirnya tampil dengan performance yang menurun jika dibandingkan dengan performance di beberapa scene sebelumnya. Ibarat kata, seorang finalis kontes adu bakat dari audisi sampai semi final berhasil memikat hati, namun pada saat grand final malah salah memillih lagu dan mengalami penurunan kualitas. Oke, mungkin bukan kesalahannya. Mungkin kesalahan pemilihan lagu dan komposer yang kurang oke dalam mempersiapkan tembang final tersebut.

3

Sayangnya dari segi cerita sangat biasa- biasa saja. Apalagi belum lama ini ada animasi Moana, yang memang sangat bagus dalam segi cerita. Terlihat memang fokus dalam film ini adalah performance tarik suara dan bukan dari plot kisah. Untungnya masih tertolong dengan design karakter yang cukup bersahabat (mengingatkan Zootopia malahan) dan joke yang masih tepat sasaran. Dengan kata lain, Sing bisa dijadikan hiburan pilihan. Terutama bagi anda yang menggemari dunia tarik suara (seperti saya). Dijamin akan terhibur. Saya sangat sangat dan sangat mengharapkan sekuelnya. Karena memang ceritanya bisa dikembangkan lebih luas lagi. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

Finding Dory (2016)

Jenny: You can do whatever you put your mind to.

Poster

Directed By: Andrew Stanton, Angun McLane

Cast: Ellen DeGeneres, Albert Brooks, Hayden Rollence, Ed O’Neill, Kaitlin Olson, Ty Burrell, Diane Keaton, Eugene Levy, Idris Elba, Dominic West, Bill Hader, Sigourney Weaver

Synopsis:

Dory (Ellen DeGeneres) yang mengidap penyakit short- term memory loss tiba- tiba mengingat sedikit- sedikit mengenai masa lalunya, di mana dia terpisah dengan kedua orang tuanya, Jenny (Diane Keaton) dan Charlie (Eugene Levy). Dengan bantuan Marlin (Albert Brooks) dan Nemo (Hayden Rollence), ikan blue tang ini kemudian menyebrangi samudera dari Australia ke pesisir pantai California untuk menemui kedua orang tuanya tersebut.

Review:

1

Jika ingin menyebutkan salah satu film animasi, yang bukan hanya sukses secara komersil, tapi juga menciptakan sebuah trend tersendiri, kita bisa menyebutkan judul animasi keluaran Pixar tahun 2003, Finding Nemo. Pasalnya, bukan hanya filmnya yang mendapatkan apresiasi positif dan mencetak box office yang cukup besar. Namun dengan hadirnya film tersebut, menciptakan trend tersendiri akan hobi ikan hias, khususnya ikan hias laut. Clown fish dan blue tang yang merupakan 2 jenis ikan hias laut yang menjadi spesies karakter utamanya, menjadi incaran para kolektor. Dari dewasa sampai anak- anak. Di pasaran Indonesia sendiri, dijual dengan sebutan ikan nemo dan ikan dory. Meskipun ada juga spesies ikan lain yang bernama ikan dori (google aja, ikan bernama spesies ikan dori jauh dari kesan lucu, menggemaskan layaknya blue tang, dan saya rasa tidak ada orang yang ingin memeliharanya sebagai seekor pet fish.

gallery_findingdory_7_c7217635

Berselang 13 tahun setelah perilisannya, Pixar mencoba untuk membangkitkan kembali hype tersebut. Hal ini disambut dengan berbagai macam tanggapan. Baik itu excitement bagi mereka yang menggemari film pertamanya, maupun kekhawatiran dari pihak- pihak konservasi hewan laut, karena ditakutkan akan meningkatkan perburuan ikan blue tang, dan mengancam kelestariannya di habitat aslinya. Namun juga banyak pihak yang mengharapkan film ini bisa menjadi semacam edukasi yang menghibur terhadap kelestarian hewan laut bagi anak- anak kecil.

3

Dari segi cerita, sebenarnya tidak ada ide fresh yang ditawarkan oleh Finding Dory ini. Selayaknya judulnya saja, kisah ini tidak lain hanya memindahkan pencarian dari karakter Nemo ke Dory. Namun pilihan memindahkan setting kisah yang mayoritas dari lautan lepas ke sebuah wahana konservasi pelestarian ikan laut, merupakan sebuah pilihan yang tepat. Sebagaimana saya sebutkan tadi, dengan begini, setidaknya sineas bisa mengajari para anak kecil, bahwa ikan laut lebih baik berenang bebas di laut. Penangkapan bukan dimaksudkan untuk di “penjara” dalam sebuah akuarium kecil, namun untuk membantu spesiesnya itu sendiri. Yaitu untuk melestarikan atau mengobati jika ada yang sakit dan terluka. Seperti quote yang kerap disebutkan oleh Sigourney Weaver dalam film ini, “Rescue, Rehabilitation, and Release”.

4

Ellen DeGeneres sebagai Dory mampu memberikan nyawa terhadap karakter tersebut. Bisa dikatakan kemampuannya dalam men-dub bisa menghidupkan karakterisasi sifat Dory yang polos, kekanakkan, dan naif tersebut. Di lain pihak, absennya karakter- karakter yang cukup mencuri perhatian dari film pertamanya, seperti Bruce the Shark dan Nigel digantikan dengan karakter- karakter yang cukup menarik seperti trio singa laut, Destiny, dan Bailey.

5

Dengan animasi yang halus serta memanjakan mata, Finding Dory mampu memberikan hiburan tersendiri, baik bagi para anak- anak, maupun para dewasa yang dulu sempat menyaksikan film pertamanya. Joke- joke yang cukup safe bagi anak- anak juga membuat film layak untuk dijadikan tontonan hiburan bagi seluruh keluarga. Berbeda dengan film- film animasi sekarang yang memiliki tema lebih dewasa dan hanya menyisakan “gambar” nya saja untuk dinikmati oleh penonton anak- anak. Anyway, jangan beranjak sampai credit title selesai. Ada stinger yang menarik, khususnya bagi anda yang menonton film pertamanya. (dnf)

Rating:

8/10

Kung Fu Panda 3 (2016)

Master Shifu: If you only can do what you can do, you will never be more than who you are now.

Kung-Fu-Panda-3-Second-Teaser-Poster

Directed By: Allesandro Carloni, Jennifer Yuh

Cast: Jack Black, Bryan Cranston, Dustin Hoffman, J.K. Simmons, Angelina Jolie, Jackie Chan, David Cross, Seth Rogen, Lucy Liu, James Hong, Randall Duk King, Kate Hudson

Synopsis:

Kai (J.K. Simmons) adalah mantan sahabat yang kemudian menjadi musuh bebuyutan Master Oogway (Randall Duk King) yang berhasil menyerap seluruh chi yang dimiliki oleh arwah- arwah para master Kung Fu. Setelah berhasil mengalahkan sang rival, Kai kembali ke alam manusia untuk menghadapi seluruh master- master Kung Fu yang masih hidup dan menyerap chi-nya sebelum akhirnya akan menyerap chi Po (Jack Black), panda yang dipercaya menjadi satu- satunya yang bisa mengalahkan Kai.

Untuk menghadapi Kai, Po harus kembali ke desa rahasia para Panda bersama sang ayah, Li Shan (Bryan Cranston) karena para pandalah yang memiliki ilmu chi paling kuat. Karena tanpa menguasai chi, Po tidak mungkin dapat mengalahkan Kai. Sekepergian Po, tinggallah para master- master Jade Temple, Shifu (Dustin Hoffman), Tigress (Angelina Jolie), Monkey (Jackie Chan), Mantis (Seth Rogen), Viper (Lucy Liu), dan Crane (David Cross) yang akan melindungi The Valley of Peace dari ancaman Kai.

Review:

1

Paska kesuksesan Shrek yang luar biasa, studio animasi yang jika dirunut sejarahnya berasal dari studio animasi milik Steven Spielberg, Amblimation, telah menjadi salah satu studio animasi terdepan dalam urusan animasi 3Dnya. Dreamworks Animation bersaing ketat dengan Pixar dan Bluesky Studios, meskipun secara prestige dan kedalaman cerita, masih belum bisa menyaingi Pixar. Namun jika dilihat dari segi menghibur dan fun, Dreaworks Animation masih bisa dikatakan berada dalam posisi terdepan bersama Bluesky. Meskipun sempat kalah ketika beberapa filmnya memiliki gelar twin movie dengan Disney. Antz harus kalah dengan A Bug’s Life, Shark Tale harus kalah telak dengan Finding Nemo, namun Madagascar berhasil mengalahkan animasi The Wild-nya Disney dengan gambar yang lebih menarik dan cerita yang lebih menghibur. Kini, setidaknya sudah ada 3 franchise unggulan Dreamworks yang masih laku dibuatkan sekuel sampai beberapa tahun ke depan, Madagascar, How To Train Your Dragon, Kung Fu Panda, dan menyusul tahun depan Crood akan mendapatkan sekuel pertamanya.

2

Sekuel kedua sekaligus penerus serial TV Kung Fu Panda kali ini akan mengambil tema tentang chi. Sedikit informasi tentang chi, dalam istilah tradisional China kuno, Chi atau yang terkadang disebut dengan qi adalah sebuah energi yang mengalir yang membentuk kehidupan bagi mahluk hidup. Ada yang mengartikan chi adalah udara yang kita hirup. Pasalnya udara (oksigen) tersebut ketika dialirkan ke seluruh tubuh dapat memberikan kehidupan bagi organ- organ tubuh sekaligus menjadi dasar bagi tenaga yang kita miliki. Konsep chi sendiri sebenarnya banyak ditemukan di dalam kebudayaan lain. Sebut saja prana dalam Hindu, pneuma bagi bangsa Yunani kuno, dan mana dalam kebudayaan Hawaii. Bagi masyarakat modern banyak yang mengerti chi adalah sebuah energi yang dimiliki oleh para ahli bela diri, khususnya para gamer yang memahami chi adalah energi lepas yang bisa dilontarkan karakter dalam game fighting. Atau The Force yang sangat populer dalam universe Star Wars.

3

Perpaduan antara unsur barat dengan seni mandarin menjadi style tersendiri bagi franchise ini. Jika dibangingkan dengan 2 film pendahulunya, Kung Fu Panda 3 memiliki unsur mandarin yang lebih kental. Bisa jadi ini dikarenakan adanya campur tangan studio Cina dalam proses produksinya. Sebagai central role, Jack Black mampu mengantarkan joke- joke segarnya ke dalam animasi yang begitu apik ini. Unsur lain yang bisa menjadi salah satu nilai kuat dalam film ini adalah plot fatherhood yang cukup kental di film ini. Dengan memberikan porsi lebih banyak kepada karakter Mr. Ping, yang menjadi ayah angkat Po jika dibandingkan 2 film pendahulunya, membuat film ini memiliki nilai emosional tersendiri. Hanya saja unsur rivalitas antar ayah, yang seharusnya masih bisa digali lebih dalam, terasa serba tanggung di film ini. Padahal jika seandainya mau ditampilkan lebih intens, akan dapat menimbulkan komedi yang lebih segar.

4

Dari segi voice casting, aktor- aktris yang kembali memerankan karakternya masing- masing sudah semakin bagus. Dari bagian pendatang baru, J.K. Simmons sudah mampu memberikan unsur villain yang cukup menyeramkan bagi karakter Kai. Lalu Bryan Cranston juga bisa menyuarakan seorang ayah yang santai dengan sempurna. Bisa dibilang dirinya berhasil memberikan sosok Po versi tua, sehingga chemistry ayah- anak di antara Jack Black dan dirinya sangat terasa. Yang cukup mengagetkan adalah karakter Mei Mei yang dari penggambaran sangat pas dengan Rebel Wilson. Dari chubby-nya, kepedeannya, sampai sok kerennya. Bahkan dari suaranya pun saya pikir itu suara Rebel Wilson. Salut untuk Kate Hudson, yang ternyata mengisi suara karakter tersebut. Pasalnya sebenarnya memang karakter Mei Mei digambarkan untuk Wilson, namun dikarenakan konflik jadwal akhirnya peran tersebut diberikan kepada putri Goldie Hawn tersebut. Dan ternyata dirinya berhasil meniru suara dan cara berbicara Wilson dengan sempurna.5

Seperti halnya 2 predesornya, selain mengadaptasi aksi- aksi laga dari film Kung Fu, Kung Fu Panda 3 juga memiliki nilai- nilai filsafat yang cukup kental, layaknya kebudayaan Cina dan ajaran Kung Fu, yang pada dasarnya tidak jauh dari nilai- nilai kehidupan. Meskipun jika ditilik dari segi tensi ketegangan, masih di bawah film pertamanya dan dari dark story dan dramanya masih tidak semenyentuh film keduanya, film ketiga ini bisa dikatakan cukup menghibur dan menjadi tontonan yang mengasyikan. Dan sudah dapat dipastikan bahwa film ini bukanlah pelengkap trilogi dan menutup franchise Kung Fu Panda, pasalnya pihak studio sudah mengkonfirmasi bahwa ke depannya akan ada sekuel lagi, hanya saja masih belum dapat dipastikan kapan dirilis. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

Zootopia (2016)

Judy Hopps: Zootopia, where anyone can be anything.

Poster

Directed By: Byron Howard, Rich Moore, Jared Bush

Cast: Ginnifer Goodwin, Jason Bateman, Idris Elba, Jenny Slate, Shakira, Nate Torrance, Bonnie Hunt, Don Lake, J.K. Simmons, Octavia Spencer, Alan Tudyk, Tommy Chong, Maurice LaMarce

Synopsis:

Dikisahkan dunia fauna telah mengalami evolusi yang cukup besar. Tatanan kehidupannya semakin beradab dan telah meninggalkan nafsu kebinatangan sehingga herbivora dan karnivora bisa hidup berdampingan dan menjalankan aktivitas sehari- hari layaknya manusia. Seekor kelinci muda bernama Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) dari kota kecil Bunnybarrows memiliki cita- cita untuk menjadi seorang (seekor?) polisi. Meskipun banyak meragukan dikarenakan karakteristik kelinci yang lucu, lemah, kecil berbanding terbalik dengan polisi yang tangguh dan kuat.

Untuk menggapai cita- citanya dia pergi ke Zootopia, sebuah kota idaman dan bergabung dengan Zootopia Police Department di bawah pimpinan Chief Bogo (Idris Elba). Hanya saja diskriminasi spesies membuatnya ditempatkan hanya sebagai polisi lalu lintas yang bertugas untuk menilang kendaraan yang parkir sembarangan. Namun sebuah kesempatan datang ketika Chief Bogo “terpaksa” menugasinya untuk mencari seekor anjing air bernama Mr. Otterman yang hilang. Dengan dibantu oleh seekor rubah manipulatif, Nick Wilde (Jason Bateman), Judy harus mengusut kasus yang tampaknya ringan tersebut yang tidak disadari berujung kepada sebuah konspirasi besar yang dapat menentukan nasib kehidupan masyarakat Zootopia.

Review:

1

Semenjak manusia bisa melahirkan karya cerita atau dongeng, metode Antropomorfisme sudah menjadi salah satu pilihan bercerita. Istilah antropomorfisme adalah di mana objek selain manusia dikarakteristikan memiliki atribut sifat, perilaku, tindak- tanduk seperti manusia. Objek- objek tersebut bisa berupa benda mati atau yang paling sering digunakan adalah hewan. Hal ini kembali kita bisa lihat dalam kepercayaan paganisme kuno di mana dewa- dewi memiliki karakteristik seperti manusia. Khususnya bisa ditemukan di kepercayaan mesir kuno, di mana penggunaan patung- patung hewan sering digunakan sebagai simbol dewa- dewi mereka. Semakin hari, berkembangnya antropomorfisme akhirnya melahirkan literatur fabel yang biasanya bercerita seputar dunia hewan yang memiliki sifat seperti manusia. Indonesiapun memiliki fabel yang cukup terkenal dengan tokoh sentral seekor kancil.

2

Di era indsutri perfilman modern, studio Walt Disney dianggap sebagai pelopor dalam penggunaan antropomorfisme dalam bercerita. Dengan tokoh- tokoh terkenal seperti Mickey Mouse dan Donald Duck. Seiring dengan perkembangan jaman, semakin banyak karakter- karakter dan film- film yang mengedepankan istilah ini. Di antaranya yang terkenal bisa kita sebutkan semacam Looney Tunes, Ice Age, dan meskipun tidak murni antropomorfisme, karakter Scooby Doo bisa dibilang memiliki beberapa sifat layaknya manusia biasa. Kali ini, Walt Disney, setelah sukses meneruskan kedigdayaan Disney Animated Feature Film-nya di ranah animasi 2D lewat Big Hero 6 dan yang fenomenal, Frozen, melahirkan sebuah film berjudul Zootopia yang murni mengangkat tema antropomorfisme. Sebagai satu dari dua film Animated Feature yang dirilis tahun ini (Moana akan dirilis November tahun ini).

Zootopia+godfather

Perkembangan industri film animasi bisa dikatakan hampir sama dengan industri komik, video game, dan lainnya. Permintaan akan tema yang lebih kompleks dan plot cerita yang lebih dewasa telah menggeser perannya sebagai hiburan anak- anak menjadi hiburan yang bisa ditujukan ke range usia yang beragam. Seperti halnya film Zootopia ini. Meskipun memiliki disain karakter yang cukup bersahabat dengan anak- anak, namun cerita yang ditawarkan cukup kompleks bagi anak- anak. Dan pada akhirnya, anak- anak hanya akan menyaksikan adegan- adegan seru dan lucu saja tanpa memperdulikan cerita buddy cop movie yang menjadi momok terdepan dari film ini. Bahkan beberapa joke memang diperuntukkan bagi penonton dewasa. Khususnya tribute dari karakter Don Corleone yang diwakilkan oleh karakter tikus tanah Mr. Big. Beberapa parodi film The Godfather jelas tidak akan dimengerti oleh anak- anak kecil. Dari segi cerita juga, naskah yang ditulis secara keroyokan ini cukup rapi dan bagus. Dan sebagai service tambahan juga memiliki plot twist yang sebenarnya sudah bisa ditebak di pertengahan cerita.

4

Secara disain karakter, Disney mencoba untuk tetap menggunakan metode klasik dalam memoles karakter- karakter yang muncul. Nuansa penggambaran klasik memang cukup kental dari karakter- karakter yang ada. Disain- disain karakter Judy Hopps, Mayor Lionheart, Chief Bogo terasa seperti disain animasi yang dibuat pada tahun 1960an dengan teknik yang lebih modern. Selain Mr. Big yang memang diadaptasi dari Don Corleone, karakter Nick Wilde mengambil template dari karakter Robin Hood ala Walt Disney yang dirilis tahun 1973. Bagi saya pribadi malahan karakter sloth yang kebetulan dipekejakan di dinas lalu lintas mengingatkan dengan kinerja birokrasi pemerintah yang biasanya terlalu lama dalam mengerjakan sesuatu. Karakter- karakter tersebut didukung pula oleh voice cast yang cukup sempurna dalam memberikan nyawa bagi setiap guratan tinta animasinya. Selain disain karakter, disain kota Zootopia sendiri cukup menarik. Digambarkan sebagai tempat meraih mimpi jutaan hewan dari berbagai belahan dunia membuat kota ini memiliki distrik- distrik yang memiliki suhu dan gambaran ekosistem yang beragam. Seperti Sahara Square, Tundratown, Little Rodentia, Rainforest District, Savanna Cetral, dan Downtown.

5

Secara implisit sebenarnya Zootopia ingin menyindir tatanan kehidupan sosial yang memiliki multikultur dan multiras. Dalam arti kata, sebenarnya Zootopia sendiri menyindir kehidupan negeri Paman Sam. Di mana adanya negara tersebut digambarkan sebagai negara maju dengan sejuta harapan dan mimpi. Namun pada kenyataannya, dengan adanya berbagai macam ras dan kultur membuat lahirnya stereotype terhadap beberapa warga keturunan. Contoh ras hispanik dan negro yang dicap sebagai ras bermasalah dan selalu hidup berseberangan dengan hukum. Lalu adanya kesenjangan sosial terhadap keturunan Arab, yang selalu dicurigai sebagai teroris. Termasuk juga kesempatan untuk mendapatkan kemajuan hanya terhadap beberapa warna kulit dan isu rasisme yang sebenarnya cukup mendarah daging di negara tersebut. Sindiran- sindiran di mana kita bisa menuju sebuah kota utopia (kota dengan kesempurnaan yang luar biasa dari berbagai aspek), hanya bisa terjadi jika tidak adanya kesenjangan sosial dan kesempatan yang sama rata bagi setiap penduduknya. Steretotype negatif pun harus dihilangkan sehingga tidak adanya kecurigaan di antara penduduknya. Hanya satu pertanyaan saya selama nonton film ini. Para manusia kemana?(dnf)

Rating:

8/10

The Peanuts Movie (2015)

Linus: Charlie Brown, you’re the only person I know who can turn a book report into a lifelong commitment

Poster

Directed By: Steve Martino

Cast: Bill Melendez, Noah Schnapp

Synopsis:

Charlie Brown (Noah Schnapp) adalah seorang anak SD yang memiliki seekor anjing bernama Snoopy (Bill Melendez). Adapun dirinya yang sembrono dan selalu bernasib sial, selalu dijadikan bulan- bulanan oleh teman- temannya. Suatu hari, sebuah keluarga baru pindah ke seberang rumahnya. Keluarga tersebut memiliki seorang putri seumuran Charlie Brown yang sangat cantik. Charlie Brown pun berusaha dengan segala macam upaya untuk dapat berteman dengannya.

Review:

1

Peanuts adalah seri komik strip yang dibuat oleh Charles M. Schultz dari tanggal 2 Oktober 1950 hingga sehari setelah kematiannya, 13 Februari 2000. Jika menyebut nama Peanuts, mayoritas orang Indonesia pasti akan asing mendengarnya, terutama anak- anak. Namun jika menyebutkan Snoopy, sudah pasti akan familiar. Peanuts sendiri menceritakan tentang kehidupan Charlie Brown dan anjing Snoopy-nya. Tidak ada arti ataupun makna dari penggunaan kata Peanuts itu sendiri. Judul tersebut digunakan oleh United Feature Syndicate ketika memilih karya Schultz sebelumnya, Lil’ Folks untuk diterbitkan. Dan penggunaan kata Peanuts sendiri dilempar secara spontan untuk membedakan seri tersebut dengan Lil’ Folks yang merupakan cikal bakal komik Peanuts.

2

Rasanya sudah lama tidak ada film animasi yang benar- benar “aman” bagi anak- anak. Dalam artian “aman” adalah ceritanya mudah dipahami, animasinya cerah, serta joke- joke-nya jauh dari kata kasar dan sadis. Jangan menyebutkan judul- judul seperti Ice Age dan Despicable Me yang bagi saya masih ada unsur- unsur violence-nya. Atau film- film rilisan Pixar, yang meskipun sangat hangat ditonton sekeluarga, namun bagi saya pribadi, kebanyakan ceritanya masih cukup berat untuk dicerna oleh anak- anak. Untunglah akhirnya ada The Peanuts Movie yang memang sangat friendly untuk dijadikan tontonan anak- anak. Kisah yang dialami memang tidak jauh dari kehidupan anak- anak. Yaitu first love. For the record, semakin hari memang secara nyata sudah semakin cepatnya perasaan ketertarikan dengan lawan jenis dialami oleh anak- anak. Bahkan sebelum usia akhil balik-nya.

3

Hal yang patut diperhatikan dari film The Peanuts Movie ini adalah langkah yang diambil dalam me-kini-kan komik strip yang digubah oleh Schultz ke masa sekarang, tanpa perlu meninggalkan trademark yang sudah kadung dibawakan selama puluhan tahun. Seperti tetap menggunakan telepon kabel (meski sekarang jamannya pake whatsapp), lalu Snoopy masih menggunakan mesin ketik sebagai salah satu khayalannya menjadi seorang novelis (meski sekarang udah pada pake laptop). Begitupun dengan karakteristik- karakteristik asli dari para karakter yang hinggap di benak para pecinta komiknya. Schroeder dengan pianonya, orang- orang dewasa yang tidak tampak di layar dan berbicara dengan dialog yang tidak jelas, lalu Lucy yang membuka praktek konsultasi jiwa dengan bayarannya hanya 1 nickel, Snoopy dengan fantasinya sebagai pilot di Perang Dunia I melawan musuh bebuyutannya, Red Baron. Hal- hal ini seakan memang untuk memperkenalkan The Peanuts kepada generasi baru, dengan tidak melupakan cinta dari fans lamanya.

rs_1024x588-151105121156-1024-peanuts-movie-2

Kualitas animasinya jelas sangat jempolan. Dengan didominasi warna- warna cerah sudah bisa memanjakan mata penonton. Cara mereka untuk men 3D kan karakternya juga sangat baik dengan masih memberikan ciri khas komik stripnya. Meski begitu, adanya sentuhan animasi manual yang dikerjakan tangan membuat feel komik stripnya masih terasa. Seperti huruf “Z” yang keluar di balon dialog saat Woodstock sedang tidur. Pilihan musik pengiring juga sangat baik, menambah feel hangat filmnya itu sendiri. Kehangatan dan cara sang sutradara untuk lebih membumikan film ini adalah dengan menggunakan anak- anak sebagai voice cast. Bukan dengan menggunakan aktor remaja terkenal untuk memerankan karakter yang masih duduk di bangku SD, seperti yang sering dilakukan film- film Hollywood lainnya.

5

The Peanuts Movie, yang untuk di Indonesia memillih judul Snoopy and Charlie Brown: The Peanuts Movie untuk lebih menekankan ini filmnya Snoopy, menjadi sebuah sajian anak- anak yang selain menghibur juga memberikan sesuatu. Dalam arti kata, anak- anak diajarkan untuk tampil apa adanya dan tidak mudah menyerah. Seperti halnya Charlie Brown yang mencoba untuk menjadi orang lain, namun malah gagal. Dan usaha Charlie Brown untuk menarik hati sang primadona, jelas menjadi nasihat bagi si kecil untuk tidak mudah menyerah. Mungkin bagi penonton dewasa, film ini akan sangat membosankan. But, trust me, bagi anak- anak, film ini sangat- sangat begitu indah. (dnf)

Rating:

8/10

Battle of Surabaya (2015)

Yumna: Kau pikir aku penghianat?

Poster

Directed By: Aryanto Yuniawan

Cast: Dominic, Maudy Ayunda, Reza Rahadian, Jason Williams

Synopsis:

Setelah kekalahan Jepang oleh tentara Sekutu, Jepang menyatakan kekalahannya. Belanda, yang menjadi bagian dari tentara Sekutu mengklaim Indonesia sebagai hasil jarahan perang. Belanda pun mencoba masuk kembali ke Indonesia dengan memboncengi tentara Sekutu. Sementara itu Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya. Beberapa tokoh seperti Residen Sudirman, Bung Tomo, Gubernur Suryo, Moestopo membangkitkan semangat pemuda Surabaya untuk menghadang agresi militer Belanda tersebut. Namun bukan hanya dari pihak Belanda, beberapa ronin pasukan khusus Jepang yang menamakan dirinya Kipas Hitam ingin memperjuangkan hak Jepang kembali di tanah Indonesia.

Musa (Dominic), adalah seorang kurir yang bertugas untuk mengantarkan berbagai macam pesan di antara pos perjuangan tentara Indonesia. Dengan dibantu oleh Danu (Reza Rahadian), seorang bekas tentara PETA dan Yumna (Maudy Ayunda), pujaan hati Musa yang diam- diam memiliki masa lalu rahasia, Musa mencoba untuk menjalankan misi demi misi pengantaran pesan tersebut.

Review:

1

Tidak heran jika saya menyebutkan bahwa Battle of Surabaya sebagai sebuah paket komplit untuk membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia. Pasalnya selain temanya yang memang memiliki semangat patriotisme tinggi, ini juga menjadi salah satu ajang pembuktian bahwa Indonesia tidak ketinggalan dalam dunia animasi dengan negara- negara lainnya. Memang dari Sumber Daya Manusia, sebenarnya banyak sekali animator- animator handal Indonesia yang mampu mempersembahkan sajian yang apik. Hanya saja kurangnya respon masyarakat dan enggannya para produser mempergunakan jasanya banyak yang lebih memilih mencari nafkah menjadi animator- animator untuk negara- negara lainnya. Jangan heran jika film- film blockbuster luar negeri banyak yang mempergunakan animator Indonesia ke dalam tim animasinya. Jangan jauh- jauh untuk genre animasi, coba jujur dengan diri sendiri? Berapa banyak dari kita yang jika diajak nonton film Indonesia jawabannya “ah 3 bulan lagi ada di TV”, “Film Indonesia gak berbobot”, “Kalahlah sama film luar”. Helloooo…. di mana merah dan putih lo, Tong…????

2

Battle of Surabaya cukup mendapatkan berbagai macam penghargaan internasional. Bahkan dari trailer-nya pun sudah mendapatkan respon positif dari dunia luar. Tidak heran Walt Disney cukup tertarik dan menaruh minat yang besar pada proyek ini. Masih dalam tahap produksi, pihak produser sudah melakukan negosiasi dengan studio animasi terbesar skala dunia tersebut. Walt Disney membantu dalam urusan peredaran internasional dan menjadi advisor dalam berbagai macam unsur teknis, termasuk plot ceritanya. Namun yang cukup disayangkan, nantinya untuk peredaran internasional, nama- nama karakter fiksi akan diganti menjadi nama- nama yang lebih akrab di telinga orang bule ketimbang “Musa”, “Yumna”, dan “Danu”. Mungkin nantinya jika diganti menjadi “Moses”, “Jennifer”, dan “David” akan lebih ackward. Lucu aja denger orang bernama Moses melakukan sholat. Hahahaa… gak maksud SARA ya… Nama gue Daniel, tapi gue juga diwajibkan untuk Sholat kok…

3

Dari materi promosi yang sudah beredar dapat disimpulkan bahwa tim produksi menjadikan karya- karya Hayao Miyazaki dari studio Ghibli menjadi referensi untuk teknik animasinya. Bahkan tidak dapat dipungkiri jika memang anime Jepang menjadi salah satu unsur terkuat dalam film ini. Bukan hanya dari teknik animasinya saja, namun juga dari karakterisasinya. Salah satu contohnya adalah gerombolan Kipas Hitam yang benar- benar mirip dengan film- film anime. Namun dalam unsur animasinya, film ini memang layak diacungi 4 jempol (2 kaki dan 2 tangan). Mungkin penonton awam luar tidak akan mengira film ini berasal dari Indonesia, mereka akan mengira benar- benar hasil studio Ghibli. Oke, ini bisa menjadi hal positif maupun negatif. Positifnya adalah skill anak negeri sudah bisa menyamai skill orang Jepang. Namun negatifnya takutnya kita tidak memiliki style sendiri dalam dunia animasi. Memang hal ini masih menjadi PR bagi negeri kita, karena kebanyakan karya- karya yang maju yang berkiblat pada style Jepang atau Amerika. Tapi saya optimis, ini masih dalam tahap pencarian jati diri. Ke depannya pasti akan menemukan style sendiri.

4

Sound cukup baik. Beberapa adegan pertempuran cukup digarap dengan menarik. Hanya saja yang menjadi kendala ada alur cerita yang masih sangat lemah. Tampak sepertinya penulis naskah ingin memasukan berbagai macam plot dan sub- plot yang malah membuat dragging di banyak scene. Dan jika penonton mengharapkan banyaknya adegan pertempuran karena judulnya yang di awali kata “Battle” akan kecewa. Karena memang yang menjadi fokus setting waktu di sini adalah paska pertempuran Surabaya tanggal 10 November tersebut. Terlalu banyaknya adegan- adegan drama mendayu- dayu khas Ghibli juga mungkin menjadi bumerang bagi film ini. Namun final scene adegan terakhir cukup memberikan keseruan tersendiri. Dan sesuai dengan tagline “There is no Victory in War” cukup terwakili dengan banyaknya korban- korban yang harus menderita, bukan hanya dari pihak Indonesia, yang menjadi pihak terjajah. Namun juga dari orang- orang Jepang dan Belanda, dari pihak penjajah yang digambarkan memiliki sisi manusia dan sangat membenci perang. Maka itu, sebagai bentuk sebuah pesan perdamaian, film ini juga cocok ditonton negara di luar Indonesia.

5

Catatan penting lainnya yang harus ditengok adalah jajaran voice cast. Nama Maudy Ayunda dan Reza Rahadian jelas memberikan spotlight tersendiri. Namun yang disayangkan adalah minimnya dialek Suroboyo di sini. Kecuali beberapa karakter, yang itupun untuk menggambarkan sisi komikal dan menjadi penyegar dengan bumbu komedi saja. Padahal film ini ber-setting di Surabaya. Sudah seharunya nuansa kental arek- arek Suroboyo-nya lebih terasa di sini. Coba kita tengok film Reza sebelumnya, Guru Bangsa: Tjokroaminoto, yang benar- benar memperhatikan detail dialek Jawa-nya. Namun mungkin memang ini merupakan usaha untuk menembus pasar internasional. Namun sebenarnya jika ingin memperkenalkan budaya Indonesia ke luar, bisa memasukkan unsur tersebut, sehingga internasional tahu kita memiliki keberagaman suku dan dialek serta bahasa masing- masing layaknya Cina yang memiliki bahasa dan dialek di tiap daerahnya.

6

Untuk disain karakter yang memang mengambil referensi style Jepang mungkin agak sedikit aneh jika diaplikasikan kepada karakteristik karakter. Maksud saya, agak kurang cocok misalnya tokoh utama yang beretnik Jawa memiliki muka layaknya Orang Jepang. Ya, secara otomatis otak kita akan menerima gambar anime adalah orang Jepang. Jangan pedulikan itu. Karena tim animator juga telah melakukan effort terbaiknya untuk meng-anime-kan wajah- wajah tokoh- tokoh penting sejarah Indonesia. Dalam arti kata, meskipun dengan style anime-nya, namun wajah- wajah familiar seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Tomo masih mirip dengan wajah aslinya. Sehingga cukup bisa diterima.

7

Namun secara garis besar, Battle of Surabaya merupakan sebuah karya kebanggaan anak negeri, khususnya dalam genre animasi. Terlepas dari berbagai kekurangan yang saya bahas di atas, film ini patut disaksikan di bioskop oleh orang- orang yang mengaku sebagai orang Indonesia. Untuk ukuran digarap dari studio sederhana milik sebuah kampus di Jogakarta, bernama STMIK Amikom, film ini memang meraih pencapaian yang luar biasa. Tidak heran jika nantinya film ini dilirik juri Oscar untuk best animated feature. Karena memang juri- juri Oscar, demen film- film yang beginian. Ke depannya saya berharap, Battle of Surabaya akan membuka jalur bagi studio- studio animasi Indonesia untuk menghadirkan feature length berbobot. Minimal setahun sekali. Dan ke depannya banyak genre- genre lain dari industri perfilman Indonesia yang dilirik dunia internasional setelah Battle of Surabaya ini dan yang sebelumnya, dwilogi The Raid. (dnf)

Rating:

7.5/10