The Great Wall (2016)

Poster

Directed By: Zhang Yimou

Cast: Matt Damon, Pedro Pascal, Andy Lau, Willem Dafoe, Tian Jing

Synopsis:

William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascal) adalah dua tentara bayaran yang selamat dari tim ekspedisi untuk mencari bubuk mesiu di daratan Cina kuno. Mereka berlindung di tembok panjang yang ternyata berfungsi untuk menghalau monster kuno yang gemar memakan daging manusia. Merekapun mau tidak mau harus ikut membantu para pejuang, yang di antaranya adalah Komandan Lin Mei (Tian Jing) dan ahli strategi Wang (Andy Lau).

Review:

1

Tembok Cina merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia yang dijadikan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1987. Tembok yang dibangun secara bertahap selama lebih dari 2000 tahun ini sebenarnya merupakan kesatuan dari berbagai macam tembok. Meski banyak spekulasi tentang fungsi dibangunnya tembok ini, namun salah satu yang paling terkenal adalah sebagai penghalang dari serangan bangsa dari utara. Sehingga seringkali tembok cina dianggap sebagai simbol kesatuan dari rakyat Cina, yang pada saat itu terdiri dari berbagai macam kerajaan. Sama halnya dengan situs- situs warisan budaya di dunia, tembok Cina juga diselimuti dengan berbagai macam legenda, mitos, serta cerita rakyat. Tidak sedikit malahan kisah fiksi baru yang dibuat untuk menggambarkan latar belakang bangunan tersebut. Salah satunya adalah film The Great Wall ini.

2

Zhang Yimou telah membuktikan sekali lagi kemampuannya untuk mencampur gaya perfilman Hong Kong serta Hollywood. Seperti yang pernah dia lakukan lewat The Flowers of War tahun 2011 lalu. Salah satu kekuatan dari film ini adalah kemampuan tim sinematografi hasil kerjasama antara Stuart Dryburgh dan Xiaoding Zhao. Dryburgh yang kemampuannya dalam sisi pewarnaan telah kita nikmati lewat The Secret Life of Walter Mitty sangat sempurna saat mengkolaborasikand iri dengan Zhao yang tangannya sangat cekatan dalam memadukan warna- warni yang kontras. Sehingga, seperti bisa dilihat dari pemilihan warna kostum, film ini layaknya membaca komik tiongkok atau kartun mandarin yang biasanya warna- warni kostum sangat dominan dan berwarna- warni.

3

Tanpa drama dragging yang terlalu berbelit- belit khas film Mandarin, film The Great Wall menyajikan tempo kisah yang sangat cepat. Bahkan dari awalpun, film sudah dibuka dengan sajian penyerangan para monster yang cukup menegangkan sambil menunjukkan kemampuan tempur para tokoh. Hanya saja pertempuran klimkas kurang begitu digarap dengan baik, meskipun sebenarnya masih cukup watchable. Penyelesaian yang ditawarkan terlalu simple untuk suatu wabah yang sudah meneror daratan Tiongkok selama ribuan tahun ini.

4

Pemilihan pemain juga sangat pas. Dan yang cukup menarik perhatian adalah Pedro Pascal, yang kembali bisa berperan sebagai sidekick yang setia dan manusiawi, seperti yang pernah dia bawakan dalam serial Narcos. Dan yang benar- benar paling menarik adalah Tian Jing. Apalagi kalau bukan dari segi bentukan yang memang benar- benar menyegarkan mata. Aktris yang ke depannya akan mendapatkan peran- peran yang cukup signifikan dalam film- film unggulan seperti Kong: Skull Island serta sekuel Pacific Rim ini bisa saja akan menjadi Michelle Yeoh berikutnya yang namanya cukup terdengar di perfilman Hollywood. Who Knows?

5

^^^^^^^ INI DIA TIAN JING… Cakep kan…!!!!

Rating:

7.5/10

Advertisements

Yakuza Apocalypse: The Great War of The Underworld/ Gokudou Daisensou (2015)

yakuza-apocalypse-the-great-war-of-the-underworld-2015-poster

Directed By: Takashi Miike

Cast: Hayato Ichihara, Yayan Ruhian, Mio Yuki, Riri Furanki, Riko Narumi, Reiko Takashima, Yuki Sakurai, Denden, Kiyohiko Shibukawa, Sho Aoyagi

Synopsis:

Sejak kecil Akira Kageyama (Hayato Ichihara) sangat mendambakan menjadi seorang Yakuza. Terlebih dirinya sangat mengagumi sosok Genyo Kamiura (Riri Furanki) yang biasa dipanggil The Boss. Selain kharismatik dan baik terhadap penduduk kota yang berada dalam perlindungannya, The Boss juga selalu selamat dalam berbagai usaha pembunuhan. Kageyama-pun akhirnya bergabung dengan organisasi The Boss.

Hingga suatu saat The Boss diserang oleh sepasang pembunuh bayaran hingga nyawanya dihabisi oleh Kyoken/ Mad Dog (Yayan Ruhian). Dalam keadaan sekarat, The Boss membocorkan rahasianya kepada Kageyama bahwa dia adalah seorang vampire dan meneruskan “kekuatannya” tersebut kepada Kageyama.

Kageyama-pun menggunakan kekuatan barunya tersebut untuk membalaskan dendam kepada pihak- pihak yang menyebabkan kematian The Boss.

Review:

url

Di ranah industri perfilman Negara Matahari Terbit, nama Takashi Miike merupakan nama yang patut diperhitungkan. Karya- karyanya kerap menimbulkan kontroversi. Miike senang sekali memasukkan unsur- unsur yang membuat pusing badan sensor, seperti tingkat kekerasan yang sangat tinggi serta adegan seks atau nude yang sudah menjadi ciri khas film- filmnya. Meskipun begitu, Miike dikenal memiliki pendekatan yang agak “nyeleneh”. Seperti menampilkan adegan kekerasan yang agak- agak comical. Mungkin jika ingin dibandingkan dengan industri Hollywood, gaya film- filmnya memiliki kesamaan dengan sutradra Robert Rodriguez dan Quentin Tarantino di karya- karya awal mereka.

yayan-ruhiyan11

Dikarenakan memiliki ciri- ciri tersebut, maka karya- karya Miike bisa dikategorikan sebagai film cult. Tapi bagi penonton Indonesia, tidak peduli siapa sutradaranya, in fact, nama tersebut kurang begitu dikenal di telinga penonton awam. Yang diperdulikan adalah penampilan perdana salah satu aktor jebolan The Raid dalam perfilman internasional, Yayan Ruhian. Miike tampak sangat mengagumi film kebanggan Indonesia tersebut. Tampak dari nama karakter yang diperankan Yayan Ruhian adalah Kyoken, atau dalam peredaran internasional disebut Mad Dog. Dan memang melalui film ini, Kang Yayan diuji kapabilitasnya dalam berperan di perfilman luar negeri. Dan penampilannya dalam film ini bisa saya katakan menjadi salah satu karakter yang berhasil mencuri perhatian. Sadis, tough, dan memiliki dark humor tersendiri. Di samping itu terlihat Kang Yayan mulai belajar dan bisa mengucapkan dialog dalam bahasa Inggris, maupun bahasa Jepang.

rsfsdfdssff

Tidak sedikit penonton awam yang membeli tiket ini karena mengharapkan aksi martial arts ala The Raid. Yang memang dari trailer juga sudah menjanjikan kadar aksi yang lumayan seru. Namun seperti saya bahas di awal, jika anda tidak akrab dengan karya- karya Miike, maka ada kemungkinan anda akan kecewa. Dan mungkin bagi penonton pria bisa dipuaskan sedikit dengan dark comedy dan violence-nya, yang sayangnya ada beberapa adegan yang dipotong oleh LSF. Tapi bagi penonton wanita, bisa menjadi sulit untuk menikmati film- film semacam ini. Namun film ini bisa dikatakan merupakan salah satu karya “nyeleneh” terbaik Miike. Kemampuannya dalam meramu ide- ide out of the box yang cukup weird malah menjadikan film ini semakin fun. Tidak sedikit adegan- adegan dalam film ini mengambil unsur manga. Miike juga melakukan penetrasi “nyeleneh”nya dengan pelan- pelan. Adegan- adegan awal memang lebih pop corn. Namun semakin melajunya durasi, Miike semakin menunjukkan trademark-nya. Setting di kota fiksi juga sangat baik. Miike dengan sangat piawai membangun setting sebuah district fiksi di sekitaran Tokyo dengan apik. Sinematografi juga menjadi salah satu unsur penting dalam film ini.

Screen-Shot-2015-02-09-at-11.21.13-AM-620x400

Jika berbicara masalah karakterisasi dalam film ini, Miike sengaja menampilkan ke-absurd-an karakter. Seperti minimnya penjelasan mengenai latar belakang karakter. Dan yang paling absurd adalah penampilan karakter Kaeru- Kun yang dianggap sebagai teroris paling berbahaya di dunia. You know what, saya berani jamin anda akan melongo melihat penampilan sosok tersebut. Dan selepas ada melongo akan terbagi menjadi dua kubu. Kubu yang semakin tidak betah untuk keluar bioskop, dan kubu yang semakin memuja kejeniusan Miike. Selain Kang Yayan, beberapa aktor Jepang juga berhasil memerankan karakternya dengan baik. Hayato Ichihara terlihat cukup cool sebagai seorang Yakuza. Gesture tubuhnya pun cukup meyakinkan. Riri Furanki juga sangat baik memerankan karakter bos Yakuza baik hati. Yang cukup menggelikan adalah penampilan aktris watak, Yuki Sakurai sebagai kapten Yakuza yang berkelamin pria. Namun kurangnya make-up penonton tidak tahu jika sebenarnya secara naskah dia seorang pria. Penonton hanya mengira dia adalah seorang wanita tomboi. Absudr kan?

dasdadeqrrqwe

Pada akhirnya Yakuza Apocalypse menjadi sebuah sajian cult bin absurd yang cukup menghibur. Kombinasi antara fantasi yang nyeleneh, aksi brutal, serta karakter- karakter aneh menjadikan film ini cukup bisa dijadikan alternatif hiburan. Apalagi bagi mereka yang menggemari genre dari film semacam Machete. Jika ingin dibandingkan dengan perfilman lokal, karya anak bangsa yang cukup absurd adalah Comic 8 yang tahun ini akan muncul sekuelnya. Namun dalam film ini terlihat Miike mencoba untuk tidak memunculkan adegan- adegan seks serta nudity yang biasanya harus muncul di filmnya. Eh bentar bentar deh… Emang kagak ada atau kena potong LSF ya? (dnf)

Rating:

8/10

SPL 2: A Time For Consequences (2015)

SPL2_Poster_Blue Red_outlined

Directed By: Cheang Pou-soi

Cast: Tony Jaa, Wu Jing, Simon Yam, Zhang Jin, Louis Koo, Jun Kung, Unda Kunteera Ydorchanng

Synopsis:

Chan Chi-kit (Wu Jing) adalah seorang polisi yang menyamar ke tubuh sindikat penculikan dan penjualan organ manusia ilegal yang dipimpin oleh Mr. Hung (Louis Koo). Dalam sebuah misi penculikan adik Mr. Hung, Hung Man-piu (Jun Kung) yang akan “diambil paksa” jantungnya demi kelangsungan hidup sang kakak, Kit terbongkar identitasnya sebagai seorang polisi. Setelah penyamarannya terkuak, Hung mengirim Kit ke sebuah penjara di Thailand yang dipimpin oleh kepala sipir kejam Ko Chun (Zhang Jin), yang ternyata merupakan rekan bisnis dari Hung.

Chan bertemu dengan salah seorang sipir penjara, Chatchhai (Tony Jaa) yang sedang mencari donor sumsum tulang belakang untuk anaknya yang terkenal leukimia. Chan Kwok- wah (Simon Yam), yang merupakan paman sekaligus atasan Kit, mencari keberadaan Kit sampai akhirnya mengunjungi penjara tersebut. Namun permasalahan yang dihadapi oleh Kit dan Wah tidaklah sulit karena mereka terjebak semakin jauh ke dalam sindikat tersebut yang bisa menghilangkan nyawa mereka. Bukan tidak mungkin, mereka akan menjadi “donor” paksa bagi sindikat mereka.

Review:

SPL2_thai_20140806-12-1

Bagi para penggemar perfilman Hong Kong, khususnya genre action, pasti tidak asing dengan sebuah film berjudul SPL (Sha Po Lang), yang rilis tahun 2005 dan memiliki judul peredaran internasional, Killzone. Film tersebut mendapatkan sambutan cukup baik dengan menggabungkan aksi drama kepolisian dengan genre martial arts yang diwakilkan oleh Donnie Yen, Sammo Hung, dan Wu Jing. Terlebih lagi, bisa dikatakan film tersebut adalah salah satu film terbaik Donnie Yen sepanjang karirnya dan ikut mengangkat namanya di industri perfilman Hong Kong. Isu- isu mengenai sekuelnya sudah banyak dihembuskan. Naskahpun sudah dipersiapkan. Namun akhirnya dijadikan film yang tidak berhubungan berjudul Fatal Move, yang juga diperankan oleh Sammo Hung, Simon Yam, dan Wu Jing. Setelah itu, isu lain tentang pembuatan SPL 2: Rise of Wong Po kembali terdengar, yang rencananya akan mempertemukan kembali Sammo Hung dan Wu Jing.

str2_daspl2_jaa_MAIN_da-770x470

Pada tahun 2013, sebuah sekuel resmi diumumkan kembali yang akan menghadirkan Tony Jaa, sebagai pengganti Donnie Yen, yang tidak lagi bergabung. Film sekuel ini kembali lagi menghadirkan Simon Yam, dengan peran yang sama, dan Wu Jing, dengan peran yang berbeda. Dan kali ini ahli Wu Shu tersebut didaulat sebagai salah satu karakter protagonis setelah di seri pertamanya memerankan Jack, karakter antagonis. Pemilihan Tony Jaa sebenarnya sebuah keputusan tepat. Selain menaikkan gengsi film ini ke level internasional, selain itu nama Jaa sendiri sudah mendapatkan sorotan di dunia barat. Terlebih film ini dirilis tidak jauh setelah dirinya menjadi lawan Paul Walker di installment ketujuh The Fast and The Furious, dan beradu akting dengan Dolph Lundgren di Skintrade. Otomatis hanya dengan melihat namanya saja dan materi promosi yang menggembar- gemborkan keterlibatan dirinya, orang akan langsung mengharapkan sebuah sajian seru martial arts yang hebat.

dfafadf

Dari aksi laganya memang cukup seru. Menampilkan perpaduan antara muay thai Jaa dengan wu shu Wu Jing dan Zhang Jin yang sangat top notch. Meskipun sebagai fans Tony Jaa, saya cukup kecewa karena secara perbandingan, aksinya di sini kalah jauh dengan film- film yang membesarkan dirinya, Ong Bak dan Tom Yum Goong. Namun sebenarnya hal itu memanglah disengaja. Karena treatment film ini adalah sebuah buddy cop movie yang memakai Jaa dan Wu Jing sebagai duet jagoan utamanya. Jadi secara screen presence memang harus membagi adil di antara keduanya. Dan jika diteliti ke arah tersebut, memang pembagian porsi aksi di antara keduanya sangatlah baik. Tidak tumpang tindih satu sama lain dan saling memberikan kesempatan untuk menunjukkan kebolehan. Ditambah lagi dengan penampilan Zhang Jin yang menjadi lawan tangguh mereka berdua.

b

Secara naskah, film ini memiliki cerita berbobot, yang sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan film pertamanya. Hanya saja, film ini terlalu banyak memasukkan unsur drama, yang membuat penurunan tensi penonton. Seperti adegan simbolik melodrama di tengah- tengah sekuens final fight yang cukup seru. Jujur sepanjang film, saya menantikan sajian martial arts yang ciamik. Dan secara pribadi baru ditemukan di ending, yang lalu dirusak dengan tampilan melodrama tersebut. Bukan berarti adegan- adegan sebelumnya tidak seru, namun fight yang benar- benar seru baru didapatkan di akhir film. Sekilas terlihat film ini banyak terinspirasi dari dwilogi The Raid. Dari final fight antara Tony Jaa- Wu Jing vs Zhang Jin yang mirip dengan Iko Uwais- Donny Alamsyah vs Yayan Ruhiyan. Lalu adegan prison riot yang nyata- nyata mirip dengan prison fight The Raid 2: Berandal lengkap dengan shot- shot panjangnya. Lalu tema undercover cop yang sangat kental.

handout_05jun15_fe_spl2

Dari segi kualitas akting, hampir keseluruhan pemain mengeluarkan kemampuang aktingnya secara maksimal. Tony Jaa yang biasanya kaku dalam berakting, di sini terlihat lebih luwes. Dan chemistry-nya dengan aktris cilik, Unda Kunteera Ydorchanng sangatlah bagus dan terjalin secara natural. Chemistry apik juga ditampilkan oleh Loius Koo dan Jun Kung yang menampilkan hubungan kakak- adik yang complicated. Wu Jing dan Zhang Jin tidaklah hanya menampilkan kemampuan fisiknya semata. Wu Jing berhasil menampilkan karakter messy sang polisi dengan meyakinkan. Sementara Zhang Jin berhasil menampilkan ekspresi dingin dengan sangat baik sebagai karakter antagonis. Dan yang paling apik di antara semuanya adalah penampilan aktor watak Simon Yam, yang ternyata juga cukup piawai menampilkan adegan laga.

sdadadasd

Sebenarnya sebagai sebuah sajian thriller kriminal, film ini bisa dibilang cukup baik. Namun dengan mengedepankan sosok Tony Jaa sebagai nilai jual utama untuk peredaran internasional membuahkan hasil yang mengecewakan bagi diri saya pribadi. Kenapa? Ya seperti saya sebutkan tadi. Saya mengharapkan adanya aksi muay thai Tony Jaa yang entertaining dan sadis. Mungkin jika pendekatan strategi marketing-nya berbeda, saya akan lebih terhibur. Di samping itu terlalu lebay dalam menggunakan elemen drama, membuat beberapa ketegangan dalam adegan aksinya menjadi menurun. Ya, intinya sih, akan banyak yang salah persepsi menyatakan film ini adalah sebuah film martial arts. Kalau saya pribadi sih bilangnya ini film thriller kriminal yang menggunakan unsur martial arts sebagai bumbu semata. (dnf)

Rating:

7/10

I Fine, Thank You, Love You (2014)

03

Directed By: Mez Tharathorn

Cast: Preechaya Pongthananikorn, Sunny Suwanmethanon, Sora Aoi

Synopsis:

Pleng (Preechaya Pongthananikorn) adalah seorang guru bahasa Inggris yang diminta bantuan salah satu mantan muridnya, Kaya (Sora Aoi), yang akan dipindah tugaskan ke Amerika Serikat, untuk menyampaikan pesan putusnya kepada pacarnya, Gym (Sunny Suwanmehanon). Masalahnya, Kaya, yang orang Jepang tidak bisa bahasa Thai, sementara Gym sama sekali buta bahasa Inggris.

Untuk itu, Gym, meminta les privat kepada Pleng, agar mau mengajarinya bahasa Inggris sehingga bisa mengikuti ujian saringan untuk pindah tugas ke Amerika Serikat dan menemui Kaya.

Review:

20150112_showbiz_ifine

Sedikit banyak film- film Thailand sudah memiliki tempat tersendiri di hati penonton Indonesia. Pasalnya, selain untuk variasi tontonan, yang biasa didominasi film- film Paman Sam dan Asia lainnya, seperti Hong Kong dan Korea, kedekatan budaya membuat film Thailand terasa lebih kena dibandingkan dengan film- film Amerika dan Eropa. Terlebih ketika terjadinya embargo film- film Hollywood beberapa tahun yang lalu, membuat perkembangan penjualan film Thailand meningkat cukup drastis di pasar bioskop Indonesia. Dan genre favorit tetap aksi, komedi romantis, dan horor.

asdada

I Fine Thank You I Love You, adalah persembahan terbaru dari sutradara Mez Tharathorn, yang sempat membuat hit film berjudul ATM. Apa yang tersaji di film ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan film- film komedi romantsi Thailand lainnya. Hanya saja ditambah dengan permainan kata- kata bahasa Inggris yang dibuat sedikit konyol dengan lidah Thailand. Apa yang juga sering dilakukan di lawakan dan joke- joke dari Indonesia sendiri.

url

Namun yang menjadi kekuatan film ini adalah chemistry sempurna yang dibawakan oleh Ice (panggilan akrab Preechaya Pongthananikorn) dan Sunny. Ice mampu membawakan peran seorang wanita karir cerdas dan cantik, meskipun sebenarnya terasa pengulangan karakter yang dimainkannya di film ATM. Sunny juga bagus menggambarkan karakter Gym, yang cuek namun memiliki sisi gentleman dan caring yang cukup tinggi.

daadad

Pemain- pemain pendukungnya juga cukup baik dalam memerankan karakternya masing- masing. Terutama untuk peran- peran komedi yang dibawakan oleh segerombolan aktor- aktris lucu asal negeri gajah putih tersebut. Dan penampilan bintang JAV terkenal, yang akhir- akhir ini mulai merambah ke industri film yang lebih “sehat”, Sora Aoi. Dan penampilan Sora Aoi itu tersendiri pastinya akan menjadi nilai plus bagi penonton pria. Dan satu hal yang perlu dicatat di film ini. Berbeda ketika industri film Nasional, yang saat menggaet bintang- bintang porno untuk menjadi nilai jual sebuah film, penampilan Sora Aoi di sini masih terlihat normal tanpa harus mengumbar aurat. Meskipun karakternya yang gila seks ditampilkan sebagai tribute tersendiri untuk profesi aslinya.

im_fine_thai_film

Kisah yang ditampilkan cenderung ringan tapi cukup menghibur. Semua unsur untuk menampilkan sebuah komedi romantis yang baik tidak absen melengkapi film ini. Mulai dari hubungan dari dislike menjadi like antara 2 karakter utama, comedy relief yang cukup menimbulkan senyum di wajah penonton, sampai adegan haru biru yang menjadi suatu keharusan sebuah cerita cinta. Eksekusi adegan yang tidak terlalu bertele- tele juga menjadi satu keutamaan film ini enak untuk dinikmati penonton.

i-fine-thank-you-love-you-ost-top-itunes-store-thailand-640x350

So, I Fine Thank You Love You, menjadi sebuah sajian komedi romantis Thailand, yang meskipun tidak terlalu istimewa, tapi cukup memuaskan pecinta genre sejenis. Perpaduan antara chemistry karakter serta alur cerita yang baik membuat film ini cukup baik dijadikan tontonan alternatif. (dnf)

Rating:

8/10

PK (2014)

17pk-poll1

Directed By: Rajkumar Hirani

Cast: Aamir Khan, Anushka Sharma, Sanjay Dutt, Sushan Singh Rajput, Saurabh Shukla, Pariksat Sahni

Synopsis:

Seorang alien mendarat di bumi untuk mempelajari manusia. Namun sayang, kalung remote yang menjadi alat pemanggil kapal luar angkasanya dicuri manusia bumi. Lantas alien tersebut, yang belakangan dipanggil PK (Aamir Khan) berkeliling menanyakan keberadaan remote-nya. Namun semua orang yang ditanya menganjurkan dia bertanya pada Tuhan. PK, yang di planetnya tidak memahami konsep keTuhanan merasa bingung dengan banyaknya Tuhan di bumi.

Jaggu (Anushka Sharma), seorang reporter, yang baru saja putus dari kekasihnya Shafaraz (Sushan Singh Rajput), tertarik dan mencoba mengangkat kisah PK yang unik ke acara TVnya. Dan ternyata acara tersebut meraih rating yang tinggi.

Di lain sisi, ternyata remote PK berada di tangan Tapasvi Maharaj, seorang pemuka agama yang sangat disanjung tinggi ayah Jaggu (Parikshat Sahni). Maka terjadilah perang dingin antara PK dan Tapasvi.

Review:

pk-1st-week-box-office-expect

Mengangkat sebuah kisah sensitif yang menyangkut, atau menyindir, suatu kepercayaan tertentu memang gampang- gampang susah. Terlebih jika film semacam itu dibuat di Indonesia. Sikap open- minded memang harus dimiliki penonton yang kepercayaannya disindir. Publik Amerika Serikat tergolong open- minded melihat banyaknya film- film yang memarodikan Tuhan mereka sendiri.

29-pk-24

Berbeda dengan negara- negara Asia, yang masih menjunjung tinggi nilai sakral dari sebuah ajaran agama. Gambaran sindiran atas sebuah ajaran agama sangatlah sensitif, bahkan bisa membuat perang saudara. Tidak heran jika isu- isu sensitif agama sering dijadikan alat adu domba pihak- pihak yang ingin mengambil keuntungan atas terjadinya sebuah perang saudara di satu wilayah tertentu. Hal yang masih sangat familiar bahkan di negara kita sendiri.

chaar-kadam

PK adalah sebuah film yang cukup menjadi hit di negaranya yang menyindir sikap manusia terhadap agama dan atribut- atributnya. Seperti bagaimana seorang pemuka agama salah menginterpertasikan ajaran agama sehingga pengikutnya salah juga dalam menjalankan ibadah, bagaimana seorang pemuka agama menggunakan ajaran agama demi kepentingan dirinya sendiri, dan bagaimana kita memahami perbedaan tiap agama tanpa harus melabelkan suatu agama tertentu dengan hal- hal yang buruk.

aamir-khan-pk-trailer

Karakter PK itu sendiri digambarkan seperti anak kecil yang mencari kebenaran tentang Tuhan. Diawali dengan turun dari langit tanpa sehelai benangpun di tubuhnya menyimbolkan keadaan kita saat lahir yang telanjang. Lalu sifatnya yang kritis, spontan, lugu, dan selalu ingin tahu memang mewakili sifat- sifat anak kecil dalam tahap pembelajarannya. Dan kesemuanya itu mampu digambarkan secara sempurna oleh seorang Aamir Khan, yang dengan akting anehnya mampu mengungguli akting aneh Johnnie Depp di film apapun.

pk07-oct23

Selain Aamir Khan, pemeran- pemeran lainnya cukup baik dalam memainkan karakternya masing- masing. Anushka Sharma, cukup pas membawakan peran love interest yang menyenangkan. Saurabh Shukla sangat menarik memerankan karakter villain yang komikal dengan gayanya yang annoying. Tidak ketinggalan penampilan legenda Bollywood, Sanjay Dutt, yang berperan sebagai Bhairon Singh, salah satu teman PK.

Aamir-Khan-In-PK-Movie-Photos-540x303

Digawangi oleh duet yang 5 tahun lalu sukses dengan 3 Idiots, Aamir Khan dan Rajkumar Hirani, PK memiliki sebuah plot berat dan sensitif yang dibawakan secara ringan dan menggelitik. Yang mungkin cenderung bisa sedikit offensive, namun apa yang dituangkan lewat naskah yang juga ditulis sang sutradara, sangatlah make sense. Dan sebenarnya PK itu sendiri tidak menyindir ajaran satu agama tertentu, melainkan misdirection yang dilakukan oleh pemuka agamanya.

anushka-sharma-in-pk-movie-2

Komedi yang disajikan tergolong cerdas dan dialog- dialog yang dituangkan lewat film ini tidak kalah cerdasnya. Flow serta tensi cerita tetap terjaga sampai akhir. Lagu- lagu khas film India yang biasanya membuat saya bosan, kali ini malah tak terduga, cukup membuat saya betah di kursi bioskop. Selain karena dibawakan dengan cukup fun, lagu- lagu tersebut memang sangat pas dengan narasi film.

PK-Movie-Stills-HD

Overall, PK menjadi sajian penutup akhir tahun yang manis dan sangat heartwarming. Dengan dialog bagus, komedi cerdas, plot cerita sempurna, dan akting yang over the top Aamir Khan, twist cerdas di akhir kisah yang sangat tidak terduga, PK memang pantas jika saya sebut sebagai salah satu film terbaik tahun 2014. Saya sangat menyarankan anda semua untuk menyaksikan film ini di bioskop. (dnf)

Rating:

9/10

Stand By Me Doraemon (2014)

Nobita: Doraemon…!!!

Doraemon-Stand-By-Me-Doraemon-Movie-3D-Poster-Wallpaper-723x1024

Directed By: Takashi Yamazaki, Ryuichi Yagi

Cast: Wasabi Mizuta, Megumi Ohara, Yumi Kakazu, Tomokazu Seki, Subaru Kimura, Yoshiko Kamei, Vanilla Yamazaki, Shihoko Hagino

Synopsis:

Nobita (Megumi Ohara) adalah seorang anak pemalas, bodoh, tidak berprestasi, dan lamban. Kebodohannya membuat dirinya kelak tidak diterima bekerja di perusahaan manapun. Karenanya ketika dewasa, dia lebih memilih membuka perusahaan sendiri. Namun perusahaan tersebut kelak akan terbakar dan Nobita meninggalkan hutang yang cukup banyak sampai ke anak- cucu.

Untuk menghindari hal tersebut, Sewashi (Yoshiko Kamei), anak dari cucu Nobita datang dengan mesin waktu dari abad ke-22 mengunjungi Nobita yang masih berusia 10 tahun. Sewashi memerintahkan Doraemon (Wasabi Mizuta), kucing robotnya, untuk membantu Nobita agar memperbaiki hidupnya. Sewashi membuat program kalau Doraemon tidak bisa kembali ke masa depan apabila belum membuat Nobita bahagia.

Doraemon pun membantu Nobita dalam kehidupannya sehari- hari dengan alat- alat dari masa depan yang disimpannya di dalam kantong ajaib. Mulai dari membantu agar tidak terlambat sekolah, jago berolah raga, mendapatkan nilai bagus, sampai membantu Nobita dari teman- temannya yang suka mem-bully, Suneo (Tomokazu Seki) dan Gian (Subaru Kimura).

Namun Doraemon merasa, bahwa kebahagiaan Nobita adalah membuatnya dapat menikahi wanita pujaannya, Shizuka (Yumi Kakazu), dan bukannya Jaiko (Vanilla Yamazaki), adik Gian, yang memang secara takdir akan menikahi Nobita. Tapi ini adalah hal yang sulit, mengingat Shizuka sangat dekat dengan teman sekelas yang dalam semua hal merupakan kebalikan Nobita, Dekisugi (Shihoko Hagino). Mulai dari tampan, pintar, jago berolahraga, kaya, dan rajin.

Review:

sbmd

Tong teng tong teng… “Baling- baling bambu…”

Siapa sih yang gak familiar dengan cathchphrase tersebut? Bagi sebagian besar manusia Indonesia yang berusia di atas 25 tahun, pasti sudah tidak asing lagi dengan suara kucing robot Doraemon saat membacakan judul cerita pendek yang menjadi bagian dari serial film yang dulu akrab menyapa kita di hari Minggu jam 8 pagi tersebut. Lengkap dengan jingle pendek yang menjadi ciri khasnya.

doraemon_stand_by_me

Doraemon diperkenalkan pada tahun 1969 oleh 2 orang penulis dengan nama pena Fujiko Fujio. Fujiko Fujio merupakan gabungan 2 orang sahabat sejak kecil yang sama- sama memiliki hobi menggambar, Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko. Ketika dewasa mereka memutuskan mendirikan studio gambar, dan salah satunya melahirkan kisah robot kucing ini. Tapi sayangnya, pada tahun 1987, mereka memutuskan untuk berpisah dikarenakan perbedaan minat. Fujimoto tetap melanjutkan manga untuk anak- anak, termasuk Doraemon dan mengganti nama penanya menjadi Fujiko F. Fujio, dan Abiko lebih berkonsentrasi pada komedi dewasa.

url

Yang menjadikan manga Doraemon begitu populer adalah protagonis utamanya, Nobita, yang digambarkan sangat jauh berbeda dengan karakter- karakter protagonis lainnya; malas, bodoh, penakut, selalu bernasib sial, dan hal- hal buruk lainnya. Selain itu kantong ajaib yang dimiliki Doraemon mampu mengeluarkan benda- benda ajaib yang membantu Nobita mengerjakan masalah- masalah yang umum ditemui oleh anak kecil seumurnya. Seperti mendapatkan nilai tinggi tanpa harus belajar, mengindari omelan orang tua, dan lain- lain. Dan memang hal ini sempat membuat para orang tua Jepang dulu khawatir, takut anak- anak mereka akan semakin malas mencontoh perilaku Nobita yang selalu bergantung dengan alat- alat Doraemon.

url

Di dalam popular culture, serial Doraemon juga memberikan beberapa pengaruh. Seperti media- media Jepang yang selalu membandingkan alat- alat modern dengan alat- alat yang dikeluarkan oleh Doraemon. Di Indonesia sendiri, salah satu pengaruhnya adalah pemberian nama panggilan Gian bagi laki- laki bertubuh tinggi besar oleh teman- temannya (gak kok… gua gak curhat!!!!)

066673500_1417500786-stand-by-me-doraemon-07

Kini, untuk memperingati 80 tahun almarhum Fujiko F. Fujio, yang sudah wafat pada tahun 1996 kemarin, sebuah animasi 3D dirilis ke dalam format bioskop. Secara garis besar, film Stand By Me Doraemon adalah kumpulan 5 cerita pendek dari manga Doraemon yang diubah sedikit untuk memberikan benang merah keseluruhan film. Film ini juga menampilkan beberapa potongan adegan dari judul cerita pendek lainnya, khususnya saat Doraemon memperkenalkan beberapa gadget-nya. Maka, bagi para penggemar serial ini sudah tidak akan asing lagi dan dapat menebak apa yang dapat terjadi di scene berikutnya.

Giant-and-Suneo-Funny-Stand-By-Me-Movie-Wallpaper-1024x575

Salah satu yang menarik dari film ini adalah penggunaan computer graphic amimated yang sudah sangat maju. Ditambah dengan efek 3D. Namun sayangnya saat tulisan ini dibuat saya belum sempat menyaksikan dalam format 3D. Namun dari beberapa adegan yang terlihat tampak bahwa adegan- adegan tersebut akan sangat cool dilihat dalam format 3D. Dengan adanya teknik animasi komputer yang lebih modern ini mampu menggambarkan mimik dan raut muka para karakter menjadi lebih lucu. Jauh lebih lucu ketika kita melihatnya dalam format 2D di TV dulu.

Doraemon-Stand-By-Me-Shizuka

Voice cast yang ditampilkan juga cukup mendukung karakteristik masing- masing tokoh. Terlebih karakter Doraemon, yang jadi lebih menggemaskan lewat dub yang diberikan oleh Wasabi Mizuta.  Alunan musik yang manis dan sangat pas dengan suasana adegan di layar juga menjadi salah satu faktor kuat yang mendukung film ini.

standbyme-maxresdefault

Naskah yang ditulis oleh Takashi Yamazaki cukup baik. Yamazaki mampu membuat penonton tertawa sekaligus sedih ketika melihat adegan- adegan mengharukan yang muncul di layar. Korelasi yang manis di antara 5 cerita pendek yang aslinya terpisah merupakan suatu hal menarik yang membuat penonton tetap betah duduk di bangku bioskop. Meskipun lebih memiliki efek yang mengena bagi penonton dewasa, tapi Stand By Me Doraemon juga menampilkan nilai- nilai yang patut dicontoh anak- anak kecil. Dan nilai- nilai tersebut keluar dari sosok seorang Nobita yang di beberapa adegan sempat digambarkan bisa mandiri tanpa menghandalkan peralatan Doraemon untuk menyelesaikan masalah.

024680000_1417647749-doraemon-still1

Khusus untuk perasaan haru yang cukup digembar- gemborkan lewat marketing film ini, saya mencatat setidaknya ada 2 hal yang membuat air mata haru para penonton. Yang pertama adalah adegan- adegan sedih. Yang kedua adalah perasaan nostalgia masa kecil. Dan efek yang lebih kena di saya pribadi adalah efek nomor 2. Bagaimana rasanya dulu kita sempat tumbuh ditemani kisah- kisah Doraemon. Atau tampilan animasi canggih di layar, yang dulu sempat kita saksikan dalam format animasi lebih kuno.

sdfadaadads

Secara pribadi saya merasa memiliki bonding yang kuat dengan film ini. Karena ketika kecil dulu saya sangat menggemari serial ini. Dan manga Doraemon adalah serial manga pertama yang saya koleksi sampai lengkap ketika kecil dulu. Bonding yang paling kuat antara saya pribadi dan serial ini adalah ketika muncul pertama kali di salah satu stasiun TV swasta kita saya masih berusia 10 tahun dan duduk di kelas 4 SD. Dan Nobita juga berusia 10 tahun dan duduk di kelas 4 SD.

81

Sebagai kalimat penutup, Stand By Me Doraemon adalah sebuah sajian animasi yang diperuntukkan bagi anak- anak namun akan lebih memiliki dampak lebih dalam bagi penonton dewasa. Dikarenakan faktor nostalgia masa kecil yang dibalut oleh teknik animasi yang jauh lebih modern. Saya sangat menyarankan para pembaca untuk menyaksikan film ini di bioskop. Khususnya bagi mereka yang berusia di atas 25 tahun. Ah, saya jadi ingin meminjam mesin waktu Doraemon. Saya mau lihat ekspresi saya saat kecil dulu ketika hari Minggu pagi sudah mantengin TV. Sambil duduk manis. Dan memiliki imajinasi indah akan alat- alat ajaib Doraemon. Sambil befikir. Seandainya saya juga punya Doraemon. (dnf)

Rating:

8.5/10

Kung Fu Jungle (2014)

Kung-Fu-Jungle-Donnie-Yen-cover

Directed By: Teddy Chan

Cast: Donnie Yen, Wang Baoqiang, Charlie Young, Michelle Bai

Synopsis:

Ha Hou- mou (Donnie Yen) adalah seorang instruktur bela diri kepolisian yang tanpa sengaja membunuh seorang ahli bela diri dalam adu tanding untuk membuktikan siapa yang terbaik. Diapun divonis 5 tahun untuk menebus kesalahannya.

Namun 3 tahun setelah menjalankan masa tahanannya, terjadilah sebuah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ahli bela diri yang memiliki kelainan fisik pada kaki, Fung Yu-sau (Wang Baoqiang). Ha yang mengetahui motif pelaku, menawarkan diri untuk membantu memecahkan kasus tersebut yang dipimpin oleh polisi wanita, Luk Yue-sum (Charlie Young) dengan bayaran pembebasan dirinya.

Review:

kfj-pics-1

Hong Kong merupakan surga bagi penikmat film bela diri. Karena memang dari negara inilah, martial arts movie diperkenalkan dan menjadi populer di dunia. Hal ini tidak lepas dari sepak terjang Shaw Brothers, sebuah production house asal Hong Kong yang sangat populer di era 60-80an.

adadqq

Dari setiap generasi, perfilman Hong Kong-pun turut menyumbangkan nama- nama yang menjadi imej seorang martial arts- action superstar. Sebut saja Bruce Lee yang merajai genre tersebut di tahun 70-an. Lalu selama kurang lebih 2 dekade, nama- nama seperti Jacky Chan dan Jet Li menjadi jaminan kesuksesan sebuah film martial arts di medio 80 sampai 90-an. Untuk tahun 2000-an, muncul sebuah nama, yang sebenarnya sudah cukup lama malang melintang di industri perfilman, bahkan sempat mengambil peran di film- film Hollywood, namun pamornya masih belum mampu mengalahkan nama- nama yang saya sebutkan tadi. Dia adalah Donnie Yen.

kungfujungle-lemmebreakthat_0

Meskipun sebelumnya sempat naik daun lewat SPL, Flashpoint, dan Seven Swords, titik balik karir Donnie Yen tidak luput dari kesuksesan film Ip Man, yang selain melabungkan namanya ke dalam jajaran bintang papan atas Hong Kong, juga membuat tren terbaru perfilman Kung Fu yang mengangkat guru Bruce Lee tersebut menjadi protagonis utama. Sama halnya dengan karakter Wong Fei Hung yang sempat beken di tahun 80-an.

Kung Fu Jungle Pics - 12

Paska film Ip Man, Yen sempat bermain dalam film- film aksi ebla diri lainnya, yang memiliki kualitas menurun, namun berkat kebesaran namanya menuai box office yang cukup tinggi. Sebut saja semacam Special ID, The Monkey King, dan Ice Man. Namun semua itu terbayarkan dengan penampilan terakhir dari filmKung Fu Jungle, yang mempunyai judul asli 一個人的武林 ini.

kung-fu-jungle-004

Bisa dikatakan bahwa film ini sendiri merupakan surat cinta untuk genre film aksi bela diri. Terlebih untuk film- film legendaris. Karena selain memasukkan beraneka ragam seni bela diri, dengan cerdas Teddy Chan memasukan filosofi dasar ilmu bela diri sebagai plot utama dari rangkaian pembunuhan berantai yang menjadi inti cerita film ini. Selain itu surat cinta tersebut juga dibumbui dengan keterlibatan nama- nama dari perfilman Hong Kong lintas generasi yang sudah tidak asing lagi bagi mereka yang mengikuti industri perfilman Hong Kong.

kung-fu-jungle-009

Film ini juga tidak lupa menampilkan adegan- adegan aksi dengan koreografi yang patut diacungi jempol. Chan sadar betul apa yang diharapkan penonton dari sebuah film Donnie Yen. Dengan piawai Yen beserta beberapa nama yang masuk ke dalam tim koreografi meracik perpaduan unsur seni bela diri, bukan hanya Kung Fu, menjadi indah di dalam layar. Sama halnya yang dilakukan oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian lewat The Raid, di mana mereka berhasil mencampur aduk berbagai macam seni bela diri, lengkap dengan ciri khas masing- masing cabang.

KFJ008-thumb-909x545-50738

Yang menjadi nilai lebih dari film ini ketimbang film- film terakhir Donnie Yen adalah naskah yang baik serta storytelling yang menarik. Tanpa melupakan unsur drama mellow yang menjadi ciri khas film- film Asia, Kung Fu Jungle tetap mampu menjaga tensi ketegangan dari awal sampai akhir. Hanya saja ending yang disiapkan untuk mengakhiri sebuah pertarungan klimaks yang seru, sangatlah mengecewakan.

kung-fu-jungle-2014-001-donnie-yen

Dari jajaran cast masih masuk kategori biasa- biasa saja. Namun penampilan Wang Baoqiang, yang memang mempunyai cita- cita menjadi seorang action superstar sejak kecil, patut diacungi jempol. Wang mampu berperan sebagai seorang psikopat gila yang sangat berbahaya. Dari gaya berlaku sampai gaya tersenyumnya memang sangat cocok menggamarkan seseorang yang rada korslet otaknya. Selain Wang mungkin cameo- cameo bintang film lintas generasi akan memberikan senyum simpul bagi penggemar film- film Hong Kong.

url

Last but not least, Kung Fu Jungle merupakan sebuah sajian terbaik Donnie Yen paska Ip Man 2. Dengan koreografi yang menarik serta cara bercerita yang baik, menjadikan film ini sebagai ajang pembuktian eksistensi Donnie Yen masih belum berakhir. Setidaknya untuk 10 tahun ke depan. (dnf)

Rating:

8/10