Sing (2016)

sing2016

Directed By: Garth Jennings, Christophe Lourdelet

Cast: Matthew McConaughey, Reese Witherspoon, Seth McFarlane, Scarlett Johansson, John C. Reilly, Tori Kelly, Taron Egerton, Nick Kroll

Synopsis:

Buster Moon (Matthew McCognauhey) adalah seekor koala yang sangat mencintai theatre. Cita- citanya tercapai ketika dia berhasil memiliki theatre yang menjadi cinta pertamanya itu. Hanya saja, dirinya kurang beruntung dalam berbisnis. Untuk memulihkan keadaan ekonominya, Moon mencoba untuk mengadakan audisi tarik suara yang kemudian memilih beberapa ekor finalis; Mike si tikus (Seth McFarlane), Meena si gajah (Tori Kelly), Johnny si gorilla (Taron Egerton), Ash si landak (Scarlett Johansson), dan duo babi, Rosita (Reese Witherspoon) dan Gunter (Nick Kroll).

Review:

1

Bagi yang mengikuti industri musik pasti mengetahui paska munculnya kontes adu bakat yang dimotori oleh World Idol, melahirkan banyak sekali bakat- bakat alami penyanyi amatir yang membangun mimpi untuk menjadi artis. Selain itu dengan kesuksesan franchise acara tersebut, melahirkan acara- acara sejenis di setiap negara. Seperti The Voice, Akademi Fantasi, dan mungkin yang sedang booming di negara kita Dangdut D’Academy. Tak heran jika kemudian membuat anak- anak muda tertarik untuk menekuni bidang ini, setelah sebelumnya hingga medio 90-an, anak- anak remaja berbondong- bondong untuk mendirikan band amatir. Beberapa filmpun telah menceritakan perihal dunia tarik suara (bukan film musikal), seperti Pitch Perfect dan Duets yang berfokus masing- masing kepada Group Acapella Performance dan Duet.

 

Adapun seperti kebanyakan film yang menonjolkan musik, yang perlu diperhatikan adalah cast harus memiliki kualitas olah vokal yang menjual. Begitu juga dengan film ini. Meskipun nama- nama yang dipilih masuk ke dalam jajaran cast kebanyakan adalah bintang film populer, namun dengan pedenya mereka mampu menyanyikan lagu layaknya seorang biduan. Wallahu A’lam sih pake effect apa di mix macem- macem. Hanya saja, tidak sedikit yang menduga bahwa performance suara pada saat karakter sedang bernyanyi dibawakan oleh voice cast berbeda dengan aktor tersebut. Sebut saja Seth McFarlane yang mampu bernyanyi ala Frank Sinatra, Johansson yang mamppu menghidupkan karakter yang berkiblat pada Avril Lavigne, Taron Egerton yang bisa membawakan versi gorillanya Bruno Mars, dan Reese Witherspoon yang memiliki karakter penyanyi seperti Taylor Swift.

4

Kumpulan tembang populer yang dipilih dan di remix cukup menarik. Musik yang dipilih dari berbagai macam genre memang sangat menghibur. Hanya saja, terkadang penempatan musik dirasa kurang tepat. Seperti ada satu karakter yang dipersiapkan untuk tampil sebagai biduan pamungkas, malah di penampilan akhirnya tampil dengan performance yang menurun jika dibandingkan dengan performance di beberapa scene sebelumnya. Ibarat kata, seorang finalis kontes adu bakat dari audisi sampai semi final berhasil memikat hati, namun pada saat grand final malah salah memillih lagu dan mengalami penurunan kualitas. Oke, mungkin bukan kesalahannya. Mungkin kesalahan pemilihan lagu dan komposer yang kurang oke dalam mempersiapkan tembang final tersebut.

3

Sayangnya dari segi cerita sangat biasa- biasa saja. Apalagi belum lama ini ada animasi Moana, yang memang sangat bagus dalam segi cerita. Terlihat memang fokus dalam film ini adalah performance tarik suara dan bukan dari plot kisah. Untungnya masih tertolong dengan design karakter yang cukup bersahabat (mengingatkan Zootopia malahan) dan joke yang masih tepat sasaran. Dengan kata lain, Sing bisa dijadikan hiburan pilihan. Terutama bagi anda yang menggemari dunia tarik suara (seperti saya). Dijamin akan terhibur. Saya sangat sangat dan sangat mengharapkan sekuelnya. Karena memang ceritanya bisa dikembangkan lebih luas lagi. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

Advertisements

Tiga Dara (1957)

Poster

Directed By: Usmar Ismail

Cast: Chitra Dewi, Mieke Widjaya, Indriati Iskak, Bambang Irawan, Rendra Karno, Hasan Sanusi, Fifi Young

Synopsis:

Seorang duda bernama Iskandar (Hasan Sanusi) memiliki tiga anak cantik yang bernama Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Widjaya), dan Nenny (Indriati Iskak). Sepeninggal sang ibu, ketiga saudari ini dirawat dan dibesarkan oleh neneknya (Fifi Young). Tidak seperti Nenny yang masih kecil dan Nana yang mudah bergaul, Nunung adalah seorang anak rumahan yang kolot dan kaku. Sifat tersebut membuat sang nenek khawatir akan cucu tertutanya ini menjadi perawan tua. Beberapa kali dia coba menjodohkan Nunung namun selalu gagal. Hingga suatu hari dia bertemu dengan Toto (Rendra Karno) yang jatuh hati terhadap Nunung. Namun sifat Nunung yang dingin dan jual mahal membuat Nana merebut kesempatan untuk mendekati Toto, meski sebenarnya ada kawannya yang setia menantikan cintanya, Herman (Bambang Irawan).

Review:

1

Meskipun selalu dianaktirikan di negaranya sendiri, film Indonesia pernah merasakan masa- masa kejayaannya beberapa dekade yang lalu. Sebelum akhirnya terpuruk ke lembah film erotis, banyak judul- judul menarik yang menorehkan tinta sendiri di industri perfilman nasional. Sebut saja judul seperti Tiga Dara. Film yang dulunya dibuat untuk mengangkat keterpurukan Perfini ini diakui sebagai salah satu film yang memiliki pengaruh. Pada masanya, Tiga Dara sangat populer hingga betahan 12 minggu lebih di bioskop dan mengangkat nama- nama pemainnya, yang selain cantik juga memiliki skill akting yang baik. Namun meskipun sempat menyandang Penata Musik Terbaik dalam FFI 1960 dan diputar dalam Festival Film Venesia pada tahun 1959, sayangnya sang sutradara menganggap hasil akhir film ini melenceng dari visi awal Perfini, selain kekecewaan pribadi yang tidak ingin membuat film komersil. Setidaknya film ini sudah mendapatkan remake 2 kali. Pertama pada tahun 1980 dengan judul Tiga Dara Mencari Cinta, yang dibintangi oleh almarhum Jojon. Dan yang berikutnya berjudul Ini Kisah Tiga Dara yang ditangani oleh Nia Dinata dan akan tayang bulan September besok.

2

Film Tiga Dara mendapatkan kesempatan untuk menjadi film Indonesia kedua yang direstorasi setelah Lewat Djam Malam. Tidak tanggung- tanggung, restorasi yang dilakukan ke dalam format 4K. Hasil akhirnya ternyata di luar dugaan. Ketajaman gambar yang dihasilkan tidak kalah dengan hasil- hasil restorasi film- film hitam putih negara lain. Sebut saja misalnya film hasil restorasi universal monsters macam Dracula dan Frankenstein. Ya meskipun untuk kualitas suara masih belum terlalu maksimal, tapi masih bisa dinikmati.

3

Kisah Tiga Dara sangatlah sederhana. Jika dibandingkan dengan film- film modern, mungkin film ini sangat simple (seperti film- film Indonesia pada masa itu). Namun dari ke- simpe-an tersebut melahirkan sebuah sajian manis dengan plot yang masih relevan untuk ukuran masa kini. Seperti halnya ketakutan orang tua terhadap anak gadisnya yang belum menikah meski akan menginjak usia 30. Selain itu penonton akan dibuat tertawa dengan adegan- adegan di layar. Baik itu adegan komedi yang sengaja diciptakan untuk mengundang tawa, maupun trend, fashion, sudut pandang masa itu yang mungkin membuat penonton masa kini sedikit menyungging senyuman. Seperti trend pakaian, gaya pergaulan, maupun ukuran cowok keren masa itu. Lagu dan musik- musik yang ditampilkan juga enak didengar dan mampu mewakilkan adegan yang sedang berjalan di layar.

5

Jajaran cast membawakan perannya dengan sangat baik. Bahkan untuk ukuran sekarangpun, akting serta chemistry-nya sudah terjalin dengan bagus. Bisa dikatakan, permainan akting yang dibawakan sangat natural dan tidak seperti dibuat- buat. Apalagi ketiga pemain utamanya. Kemampuan olah vokalnya pun patut diacungi jempol. Almarhumah Chitra Dewi bisa membawakan peran Nunung yang kolot, jutek, dan kalau mau disebut dengan istilah modern “Girl Power” yang cukup menonjol, di mana dia digambarkan seperti tidak butuh laki- laki. Mieke Widjaya mampu berperan bitchy dan centil. Satu hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa aktris senior yang seumur hidup saya melihat biasanya membawakan peran ibu- ibu ternyata bisa berperan cukup nakal. Lalu Indriati Iskak yang bisa dikatakan membawakan peran center of the heart-nya ketiga saudari dengan tampilannya yang polos dan centil.

5

Setelah Tiga Dara, setidaknya akan ada 10 film Indonesia lainnya yang positif mendapatkan kesempatan untuk direstorasi. Di antaranya adalah film Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Asrul Sani. Dan beberapa di antaran lainnya merupakan film Benyamin S dan Rhoma Irama. Upaya restorasi ini adalah untuk menyelamatkan film Indonesia agar bisa disaksikan kembali mengingat media asli yang disimpan di Pusat Sinematek Indonesia sudah semakin mengkhawatirkan. Format baru yang memiliki ketajaman yang cukup tinggi. Diharapkan nantinya penonton kita akan lebih mencintai film nasional dan tidak segera melupakan, bahwa bangsa kita sempat membuat film- film apik yang meski sudah berpuluh- puluh tahun masih enak untuk dinikmati. Hanya saja harapan saya pribadi adalah film- film hasil restorasi tersebut akan dibuatkan format home video. Anyway, ternyata sebelumnya Rudy Soedjarwo pernah berniat me-remake film ini di tahun 2004 dengan pemain Dian Sastro, Kris Dayanti, dan Siti Nurhaliza. Cuman gak kesampaian. (dnf)

Score:

8/10

Ghostbusters (2016)

Cabbie: I don’t go to Chinatown, I don’t do wackos. And I ain’t afraid of no ghosts!

Poster

Directed By: Paul Feig

Cast: Kristen Wiig, Melissa McCarthy, Kate McKinnon, Leslie Jones, Chris Hemsworth, Neil Casey, Andy Garcia

Synopsis:

Setelah dipecat dari pekerjaannya, seorang ilmuwan Erin Gilbert (Kristen Wiig) kembali bergabung dengan rekan masa kecilnya, yang sama- sama percaya akan eksistensi hantu dan ingin membuktikannya. Ditemani dengan seorang ilmuwan nuklir, Jillian Hotzzman (Kate McKinnon), mereka menelusuri tempat- tempat yang diyakini berhantu. Lama kelamaan mereka menjadikan penelitian ini menjadi profesi mereka untuk mengusir hantu. Dibantu oleh seorang idiot bernama Kevin (Chris Hemsworth) dan petugas kereta api bawah tanah, Patty Tolan (Leslie Jones), mereka mendirikan tim yang kelak dijuluki Ghostbusters.

Tantangan awal datang dari seorang aneh yang berniat untuk membangkitkan arwah- arwah yang mendiami sudut- sudut kota New York, Rowan North (Neil Casey) untuk membalaskan dendam atas perlakuan buruk dari orang- orang.

Review:

1

Bagi generasi 80-an tentu tidak akan asing dengan franchise Ghostbusters yang dipopulerkan di negara kita lewat serial animasi The Real Ghostbusters yang tayang pada zaman awal era TV Swasta yang saat itu masih pakai decoder. Franchise yang juga menjelma menjadi salah satu simbol pop culture di tahun 80-an ini sudah akrab dengan para pecinta serial animasi. Di negara asalnya, franchise ini memberikan torehan tersendiri di sejarah industri perfilman, dengan menggabungkan elemen horor dengan komedi. Pada zamannya, genre horor lekat dengan adegan- adegan menakutkan. Franchise ini tidak jarang digabung dengan franchise Teenage Mutant Ninja Turtles. Tidak sekali dua kali kedua seri tersebut dibuatkan cross over. Mungkin dikarenakan jumlah anggota yang sama- sama berjumlah 4 orang. Legacy franchise ini  juga menelurkan film- film sejenis yang memiliki template tim berjumlah 4 orang yang melawan musuh- musuh unik. Seperti Evolution dan Pixels.

2

Franchise yang terlahir dari ide komedian Dan Aykroyd dan Harold Ramis ini aslinya diperuntukkan untuk menaikkan pamor rekan mainnya di Saturday Night Live, James Belushi. Namun karena satu dan lain hal, Belushi gagal main yang kemudian porsinya digantikan oleh Bill Murray. Isu untuk melanjutkan sekuel film ini sebenarnya sudah tercetus dalam beberapa dekade ke belakang. Hanya saja begitu banyaknya batu ganjalan membuat ide tersebut tidak terlaksana. Sampai akhirnya salah satu motor, Bill Murray sudah tidak tertarik lagi untuk ikut serta dalam sekuel. Dan Harold Ramis meninggal pada tahun tahun 2014 lalu.

ghostbusters-2016-reboot-movie-review-chris-hemsworth

Akhirnya lampu hijau penerusan franchise ini nyala setelah Paul Feig resmi terpilih menduduki bangku sutradara. Langkah pertama yang diambil adalah mengganti semua karakter utamanya, baik nama maupun jenis kelamin. Hal yang riskan sebenarnya, mengingat pro dan kontra pastinya tidak akan terbendung. Terutama yang kontra. Tidak aneh sebenarnya bagi yang mengetahui latar belakang Feig yang tumbuh di lingkungan wanita yang feminim membuat dirinya memiliki jiwa yang sexist. Dalam hal ini memandang wanita berada di atas pria. Dapat terlihat dari film- filmnya yang kebanyakan mengedepankan karakter wanita. Terutama Melissa McCarthy yang sudah menjadi duet mautnya dan terbukti membantu kesuksesan film- filmnya. Gayung bersambut, petinggi Sony Pictures, menyetujui usulan berisiko besar tersebut. Bahkan demi mengukuhkan ke-sexist-annya, Feig menghadirkan karakter Kevin yang layaknya seorang model iklan Calvin Klein yang diperankan oleh Chris Hemsworth menjadi seseorang yang bodoh. Hal ini untuk menyindir stereotype karakter- karakter wanita beauty but no brainer yang kerap muncul di film- film Hollywood.

4

Hasilnya? Entah karena sudah terlanjut memasang ekspektasi yang rendah serendahnya atau memang kepiawaian Feig, ternyata cukup sukses memberikan warna baru dari franchise ini. Meskipun memiliki karakter- karakter wanita sebagai tokoh utama, namun Feig masih menyadari bahwa penggemar franchise ini mayoritas pria. Sehingga masalah- masalah yang dikedepankan bukan masalah yang feminim. Malahan bagi saya pribadi, jika seandainya karakter- karakter baru tersebut diganti menjadi pria tidak akan ada bedanya tanpa harus mengganti naskah. Feig juga membayar kekecewaan para fans dengan menghadirkan segudang tribute dan easter egg yang muncul di sana- sini. Dari reka ulang adegan dari film originalnya, kemunculan keseluruhan pemeran utama (bahkan Harold Ramis yang sudah meninggal pun diberikan tribute tersendiri di film ini), kemunculan hantu- hantu ikonik, sampai after credit scene dan mid credit scene yang pastinya akan membuat fans kegirangan. Jika berbicara tribute bahkan sampai pemilihan keempat aktris utama bisa dikatakan sebuah tribute. Keempatnya adalah jebolan Saturday Night Live, sama halnya dengan Harold Ramis, Dan Aykroyd, Bill Murray, dan Rick Moranis.

5

Komedi yang dihadirkan terasa cukup segar. Tampilan para hantu pun dibuat sedemikian mirip dengan template hantu- hantu di film pertamanya. Jika ingin berbicara mengenai para cast-nya, sorotan terbesar patut diberikan kepada Kate McKinnon yang tampil cukup memukau di film ini. Karakternya yang unik bisa menjadi scene stealer di setiap kehadirannya. Di samping di antara keempatnya bagi saya pribadi, dia yang paling cantik. (hehehehe… dasar cowok). Melissa McCarthy tidak terlalu membawakan perannya yang sudah sangat menempel, yaitu menjadi wanita gemuk menyebalkan yang self center. Kristen Wiig dan Leslie Jones bermain dengan cukup pas sebagai perannya masing- masing.

6

It the end, Paul Feig telah berhasil mengkreasikan ulang franchise lawas ini dengan sangat baik. Sisi feminisnya telah diaplikasikan ke dalam film ini sehingga cukup memberikan warna baru yang membedakan dengan film lamanya. Sekuel? Yes, please. (dnf)

Rating:

8/10

Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of The Shadows (2016)

Bebop: Rock…

Rocksteady: Right here, Beeps

Bebop: My man…

Poster

Directed By: Dave Green

Cast: Megan Fox, Stephen Amell, Will Arnett, Laura Linney, Tyler Perry, Alan Ritchson, Noel Fisher, Pete Ploszek, Jeremy Howard, Brian Tee, Stephen Farrelly, Gary Anthony Williams, Brad Garrett, Britanny Ishibashi, Danny Woodburn, Tony Shalhoub, Jane Wu

Synopsis:

Setelah berhasil mengalahkan Shredder (Brian Tee), keempat kura- kura ninja bersaudara; Leonardo (Pete Ploszek), Raphael (Alan Ritchson), Donatello (Jeremy Howard), dan Michelangelo (Noel Fisher) kembali menjalani rutinitasnya dengan menghindari kontak langsung dengan manusia. Kredit gelar kepahlawanan diwakilkan oleh Vernon Fenwick (Will Arnett) yang menjalani kehidupannya bak seorang selebriti.

Namun Shredder berhasil keluar dari penjara berkat bantuan Baxter Stockman (Tyler Perry), seorang pakar ilmiah. Selepas dari penjara, Shredder membuat perjanjian dengan seorang mahluk dari dimensi lain, Kraang (Brad Garrett) untuk membantunya mencari pecahan alat teleportasi yang bisa mengantar Kraang untuk memusnahkan umat manusia. Dengan dibantu oleh pakar ilmiah, Baxter Stockman (Tyler Perry), dan 2 mutant Bebop (Gary Anthony WIlliams) dan Rocksteady (Stephen Farrelly), Shredder harus bersiap mengalahkan para kura- kura yang dibantu oleh April O’Neill (Megan Fox) dan Casey Jones (Stephen Amell) yang tidak menginginkan rencana jahat tersebut terlaksana.

Review:

1

Teenage Mutant Ninja Turtles atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Kura- Kura Ninja” di Indonesia merupakan sebuah franchise yang berasal dari komik yang awalnya dibuat untuk memarodikan komik- komik tahun 80-an, salah satunya adalah Daredevil.  Di Indonesia, franchise ini dipopulerkan oleh serial animasinya yang sempat ditayangkan televisi nasional di medio akhir 80-an. Kisahnya kurang lebih menceritakan sepak terjang 4 ekor kura- kuran humanoid yang dididik oleh seekor tikus mutant dengan latihan keras ala ninja untuk melindungi kota New York dari kejahatan Shredder dan para Foot Clan- nya. Paska kesuksesan franchise Transformers, banyak franchise kartun lawas yang dibuatkan versi movie-nya. Baik itu berupa reboot ataupun adaptasi film pertamanya. Di antaranya yang akan tayang ada G.I. Joe dan Master of The Universe atau yang lebih dikenal dengan sebutan “pelem he-man”.

2

Pada tahun 2014 lalu, muncullah adaptasi Kura- Kura Ninja terbaru yang diproduseri oleh Michael Bay. Responpun beragam diterima. Ada yang menilai film ini cukup fun dan menghibur. Ada yang menilai film ini layaknya film komik masa kini, yaitu menggunakan unsur dark. Dan ada juga yang kecewa lantaran terlalu kekanak- kanakan dan disain karakternya terlalu menyeramkan buat anak- anak. Apapun itu, pendaptan box office cukup membuat pihak produser tergiur untuk menciptakan sekuelnya. Syukur- syukur nanti menjelma menjadi sebuah trilogy yang baru. Namun meskipun kursi penyutradaraan diberikan kepada orang lain, namun pengaruh Michael Bay sangatlah terasa di kedua film ini. Dan mungkin dikarenakan faktor Bay dan Megan Fox, tidak sedikit yang membanding- bandingkan film ini dengan Transformers.

3

Film ini memang murni sebagai fans service. Selain dikarenakan munculnya karakter- karakter favorit baru yang cukup legendaris di franchise-nya, seperti Kraang, Casey Jones, Baxter Stockman, dan juga yang benar- benar sangat diinginkan oleh para fans; Bebop dan Rocksteady, film ini juga cukup banyak memberikan trivia serta easter egg untuk penggemarnya. Namun sayangnya, selain menjadi daya tarik tersendiri, hal ini malah justru juga menjadi bumerang bagi filmnya. Karena hal ini malah jadi menganaktirikan karakter lainnya yang sudah lebih dulu diperkenalkan, yaitu Splinter. Dan kehadiran Kraang serta Casey Jones justru dirasa seperti tempelan belaka. Casey Jones yang memiliki trademark topeng hoki dan tongkat hoki ini malah hanya sekali menggunakannya, sehingga kemunculannya lebih ke arah untuk menciptakan love interest April O’Neill (which is gak salah juga sebenarnya) ketimbang menampilkan sosok anti hero yang suka membantu para kura- kura. Lain halnya dengan Bebop dan Rocksteady yang terasa seperti scene stealer, dan bisa dikatakan menjadi satu- satunya karakter antagonis yang cukup menarik dari sekuel ini. Jika ditilik dari banyaknya karakter, hal ini seperti hanya untuk mengejar penjualan merchandise dan action figure belaka. Sama halnya dengan franchise Transformers yang selalu kebanjiran karakter baru tapi terlalu dangkal dalam memberikan ruang untuk tampil.

4

Duet Williams dan Farrelly benar- benar bisa menghidupkan duet karakter “brawns without brains” dengan baik. Tektokan lawakannya juga cukup menghibur. Beda dengan Stephen Amell. Entah kenapa semenjak di Arrow, saya merasa dirinya kurang pas untuk beradegan laga. Sepertinya wajah serta perawakannya lebih cocok untuk genre drama romantis. Aktingnya juga kurang pas sebagai Casey Jones, di mana terlihat usaha Amell untuk menampilkan sisi slenge’an tapi tetap saja tidak bisa dan malah terlihat kaku. Penampilannya sebagai Jones, sangat jauh di bawah versi Elias Koteas, yang bagi saya pribadi sudah sangat pas di adaptasi tahun 1990 dulu. Apalagi Tyler Perry yang terlihat seperti orang bodoh. Megan Fox juga seperti hanya sekedar pemanis. Begitu juga dengan Brian Tee, yang menggantikan posisi Tohoru Masamune sebagai Shredder, tapi sayangnya tidak bisa menampilkan aura kengerian seperti yang dibawakan oleh Masamune dulu.

5

Namun bukan berarti film ini tidak berusaha untuk memberikan adegan seru. Scene di pesawat yang berlanjut di sungai Amazon bisa dikatakan akan memberikan keseruan layaknya adegan kejar- kejaran di gunung es pada film pertamanya. Oke, memang menyaksikan film macam ini tidak usah terlalu memusingkan kedalaman sebuah cerita atau naskah yang memiliki kualitas bagus. Namun jika film pertamanya sudah cukup berhasil, sineas akan dituntut untuk menghasilkan sekuel yang jauh di atas prekuelnya. Kasus TMNT ini mengingatkan saya kepada kasus Transformers, di mana seri pertamanya dinilai sangat bagus dan menarik, namun sayangnya diikuti oleh sekuel- sekuel yang mengalami degradasi kualitas. Namun menariknya masih tetap ditunggu dan orang- orang yang mencaci makin filmnya, tetap rela mengantri untuk menonton filmnya di bioskop pada minggu pertama penayangan. Out of The Shadows bukan hanya tidak menyajikan tontonan yang memiliki peningkatan kualitas, namun tidak memberikan kesan yang cukup membekas di hati. Masih ingat di film pertamanya, adegan “MC MIKEY” dicap sebagai salah satu momen paling menarik pada tahun 2014 oleh banyak penonton? (dnf)

Rating:

6.5/10

Kung Fu Panda 3 (2016)

Master Shifu: If you only can do what you can do, you will never be more than who you are now.

Kung-Fu-Panda-3-Second-Teaser-Poster

Directed By: Allesandro Carloni, Jennifer Yuh

Cast: Jack Black, Bryan Cranston, Dustin Hoffman, J.K. Simmons, Angelina Jolie, Jackie Chan, David Cross, Seth Rogen, Lucy Liu, James Hong, Randall Duk King, Kate Hudson

Synopsis:

Kai (J.K. Simmons) adalah mantan sahabat yang kemudian menjadi musuh bebuyutan Master Oogway (Randall Duk King) yang berhasil menyerap seluruh chi yang dimiliki oleh arwah- arwah para master Kung Fu. Setelah berhasil mengalahkan sang rival, Kai kembali ke alam manusia untuk menghadapi seluruh master- master Kung Fu yang masih hidup dan menyerap chi-nya sebelum akhirnya akan menyerap chi Po (Jack Black), panda yang dipercaya menjadi satu- satunya yang bisa mengalahkan Kai.

Untuk menghadapi Kai, Po harus kembali ke desa rahasia para Panda bersama sang ayah, Li Shan (Bryan Cranston) karena para pandalah yang memiliki ilmu chi paling kuat. Karena tanpa menguasai chi, Po tidak mungkin dapat mengalahkan Kai. Sekepergian Po, tinggallah para master- master Jade Temple, Shifu (Dustin Hoffman), Tigress (Angelina Jolie), Monkey (Jackie Chan), Mantis (Seth Rogen), Viper (Lucy Liu), dan Crane (David Cross) yang akan melindungi The Valley of Peace dari ancaman Kai.

Review:

1

Paska kesuksesan Shrek yang luar biasa, studio animasi yang jika dirunut sejarahnya berasal dari studio animasi milik Steven Spielberg, Amblimation, telah menjadi salah satu studio animasi terdepan dalam urusan animasi 3Dnya. Dreamworks Animation bersaing ketat dengan Pixar dan Bluesky Studios, meskipun secara prestige dan kedalaman cerita, masih belum bisa menyaingi Pixar. Namun jika dilihat dari segi menghibur dan fun, Dreaworks Animation masih bisa dikatakan berada dalam posisi terdepan bersama Bluesky. Meskipun sempat kalah ketika beberapa filmnya memiliki gelar twin movie dengan Disney. Antz harus kalah dengan A Bug’s Life, Shark Tale harus kalah telak dengan Finding Nemo, namun Madagascar berhasil mengalahkan animasi The Wild-nya Disney dengan gambar yang lebih menarik dan cerita yang lebih menghibur. Kini, setidaknya sudah ada 3 franchise unggulan Dreamworks yang masih laku dibuatkan sekuel sampai beberapa tahun ke depan, Madagascar, How To Train Your Dragon, Kung Fu Panda, dan menyusul tahun depan Crood akan mendapatkan sekuel pertamanya.

2

Sekuel kedua sekaligus penerus serial TV Kung Fu Panda kali ini akan mengambil tema tentang chi. Sedikit informasi tentang chi, dalam istilah tradisional China kuno, Chi atau yang terkadang disebut dengan qi adalah sebuah energi yang mengalir yang membentuk kehidupan bagi mahluk hidup. Ada yang mengartikan chi adalah udara yang kita hirup. Pasalnya udara (oksigen) tersebut ketika dialirkan ke seluruh tubuh dapat memberikan kehidupan bagi organ- organ tubuh sekaligus menjadi dasar bagi tenaga yang kita miliki. Konsep chi sendiri sebenarnya banyak ditemukan di dalam kebudayaan lain. Sebut saja prana dalam Hindu, pneuma bagi bangsa Yunani kuno, dan mana dalam kebudayaan Hawaii. Bagi masyarakat modern banyak yang mengerti chi adalah sebuah energi yang dimiliki oleh para ahli bela diri, khususnya para gamer yang memahami chi adalah energi lepas yang bisa dilontarkan karakter dalam game fighting. Atau The Force yang sangat populer dalam universe Star Wars.

3

Perpaduan antara unsur barat dengan seni mandarin menjadi style tersendiri bagi franchise ini. Jika dibangingkan dengan 2 film pendahulunya, Kung Fu Panda 3 memiliki unsur mandarin yang lebih kental. Bisa jadi ini dikarenakan adanya campur tangan studio Cina dalam proses produksinya. Sebagai central role, Jack Black mampu mengantarkan joke- joke segarnya ke dalam animasi yang begitu apik ini. Unsur lain yang bisa menjadi salah satu nilai kuat dalam film ini adalah plot fatherhood yang cukup kental di film ini. Dengan memberikan porsi lebih banyak kepada karakter Mr. Ping, yang menjadi ayah angkat Po jika dibandingkan 2 film pendahulunya, membuat film ini memiliki nilai emosional tersendiri. Hanya saja unsur rivalitas antar ayah, yang seharusnya masih bisa digali lebih dalam, terasa serba tanggung di film ini. Padahal jika seandainya mau ditampilkan lebih intens, akan dapat menimbulkan komedi yang lebih segar.

4

Dari segi voice casting, aktor- aktris yang kembali memerankan karakternya masing- masing sudah semakin bagus. Dari bagian pendatang baru, J.K. Simmons sudah mampu memberikan unsur villain yang cukup menyeramkan bagi karakter Kai. Lalu Bryan Cranston juga bisa menyuarakan seorang ayah yang santai dengan sempurna. Bisa dibilang dirinya berhasil memberikan sosok Po versi tua, sehingga chemistry ayah- anak di antara Jack Black dan dirinya sangat terasa. Yang cukup mengagetkan adalah karakter Mei Mei yang dari penggambaran sangat pas dengan Rebel Wilson. Dari chubby-nya, kepedeannya, sampai sok kerennya. Bahkan dari suaranya pun saya pikir itu suara Rebel Wilson. Salut untuk Kate Hudson, yang ternyata mengisi suara karakter tersebut. Pasalnya sebenarnya memang karakter Mei Mei digambarkan untuk Wilson, namun dikarenakan konflik jadwal akhirnya peran tersebut diberikan kepada putri Goldie Hawn tersebut. Dan ternyata dirinya berhasil meniru suara dan cara berbicara Wilson dengan sempurna.5

Seperti halnya 2 predesornya, selain mengadaptasi aksi- aksi laga dari film Kung Fu, Kung Fu Panda 3 juga memiliki nilai- nilai filsafat yang cukup kental, layaknya kebudayaan Cina dan ajaran Kung Fu, yang pada dasarnya tidak jauh dari nilai- nilai kehidupan. Meskipun jika ditilik dari segi tensi ketegangan, masih di bawah film pertamanya dan dari dark story dan dramanya masih tidak semenyentuh film keduanya, film ketiga ini bisa dikatakan cukup menghibur dan menjadi tontonan yang mengasyikan. Dan sudah dapat dipastikan bahwa film ini bukanlah pelengkap trilogi dan menutup franchise Kung Fu Panda, pasalnya pihak studio sudah mengkonfirmasi bahwa ke depannya akan ada sekuel lagi, hanya saja masih belum dapat dipastikan kapan dirilis. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

Zootopia (2016)

Judy Hopps: Zootopia, where anyone can be anything.

Poster

Directed By: Byron Howard, Rich Moore, Jared Bush

Cast: Ginnifer Goodwin, Jason Bateman, Idris Elba, Jenny Slate, Shakira, Nate Torrance, Bonnie Hunt, Don Lake, J.K. Simmons, Octavia Spencer, Alan Tudyk, Tommy Chong, Maurice LaMarce

Synopsis:

Dikisahkan dunia fauna telah mengalami evolusi yang cukup besar. Tatanan kehidupannya semakin beradab dan telah meninggalkan nafsu kebinatangan sehingga herbivora dan karnivora bisa hidup berdampingan dan menjalankan aktivitas sehari- hari layaknya manusia. Seekor kelinci muda bernama Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) dari kota kecil Bunnybarrows memiliki cita- cita untuk menjadi seorang (seekor?) polisi. Meskipun banyak meragukan dikarenakan karakteristik kelinci yang lucu, lemah, kecil berbanding terbalik dengan polisi yang tangguh dan kuat.

Untuk menggapai cita- citanya dia pergi ke Zootopia, sebuah kota idaman dan bergabung dengan Zootopia Police Department di bawah pimpinan Chief Bogo (Idris Elba). Hanya saja diskriminasi spesies membuatnya ditempatkan hanya sebagai polisi lalu lintas yang bertugas untuk menilang kendaraan yang parkir sembarangan. Namun sebuah kesempatan datang ketika Chief Bogo “terpaksa” menugasinya untuk mencari seekor anjing air bernama Mr. Otterman yang hilang. Dengan dibantu oleh seekor rubah manipulatif, Nick Wilde (Jason Bateman), Judy harus mengusut kasus yang tampaknya ringan tersebut yang tidak disadari berujung kepada sebuah konspirasi besar yang dapat menentukan nasib kehidupan masyarakat Zootopia.

Review:

1

Semenjak manusia bisa melahirkan karya cerita atau dongeng, metode Antropomorfisme sudah menjadi salah satu pilihan bercerita. Istilah antropomorfisme adalah di mana objek selain manusia dikarakteristikan memiliki atribut sifat, perilaku, tindak- tanduk seperti manusia. Objek- objek tersebut bisa berupa benda mati atau yang paling sering digunakan adalah hewan. Hal ini kembali kita bisa lihat dalam kepercayaan paganisme kuno di mana dewa- dewi memiliki karakteristik seperti manusia. Khususnya bisa ditemukan di kepercayaan mesir kuno, di mana penggunaan patung- patung hewan sering digunakan sebagai simbol dewa- dewi mereka. Semakin hari, berkembangnya antropomorfisme akhirnya melahirkan literatur fabel yang biasanya bercerita seputar dunia hewan yang memiliki sifat seperti manusia. Indonesiapun memiliki fabel yang cukup terkenal dengan tokoh sentral seekor kancil.

2

Di era indsutri perfilman modern, studio Walt Disney dianggap sebagai pelopor dalam penggunaan antropomorfisme dalam bercerita. Dengan tokoh- tokoh terkenal seperti Mickey Mouse dan Donald Duck. Seiring dengan perkembangan jaman, semakin banyak karakter- karakter dan film- film yang mengedepankan istilah ini. Di antaranya yang terkenal bisa kita sebutkan semacam Looney Tunes, Ice Age, dan meskipun tidak murni antropomorfisme, karakter Scooby Doo bisa dibilang memiliki beberapa sifat layaknya manusia biasa. Kali ini, Walt Disney, setelah sukses meneruskan kedigdayaan Disney Animated Feature Film-nya di ranah animasi 2D lewat Big Hero 6 dan yang fenomenal, Frozen, melahirkan sebuah film berjudul Zootopia yang murni mengangkat tema antropomorfisme. Sebagai satu dari dua film Animated Feature yang dirilis tahun ini (Moana akan dirilis November tahun ini).

Zootopia+godfather

Perkembangan industri film animasi bisa dikatakan hampir sama dengan industri komik, video game, dan lainnya. Permintaan akan tema yang lebih kompleks dan plot cerita yang lebih dewasa telah menggeser perannya sebagai hiburan anak- anak menjadi hiburan yang bisa ditujukan ke range usia yang beragam. Seperti halnya film Zootopia ini. Meskipun memiliki disain karakter yang cukup bersahabat dengan anak- anak, namun cerita yang ditawarkan cukup kompleks bagi anak- anak. Dan pada akhirnya, anak- anak hanya akan menyaksikan adegan- adegan seru dan lucu saja tanpa memperdulikan cerita buddy cop movie yang menjadi momok terdepan dari film ini. Bahkan beberapa joke memang diperuntukkan bagi penonton dewasa. Khususnya tribute dari karakter Don Corleone yang diwakilkan oleh karakter tikus tanah Mr. Big. Beberapa parodi film The Godfather jelas tidak akan dimengerti oleh anak- anak kecil. Dari segi cerita juga, naskah yang ditulis secara keroyokan ini cukup rapi dan bagus. Dan sebagai service tambahan juga memiliki plot twist yang sebenarnya sudah bisa ditebak di pertengahan cerita.

4

Secara disain karakter, Disney mencoba untuk tetap menggunakan metode klasik dalam memoles karakter- karakter yang muncul. Nuansa penggambaran klasik memang cukup kental dari karakter- karakter yang ada. Disain- disain karakter Judy Hopps, Mayor Lionheart, Chief Bogo terasa seperti disain animasi yang dibuat pada tahun 1960an dengan teknik yang lebih modern. Selain Mr. Big yang memang diadaptasi dari Don Corleone, karakter Nick Wilde mengambil template dari karakter Robin Hood ala Walt Disney yang dirilis tahun 1973. Bagi saya pribadi malahan karakter sloth yang kebetulan dipekejakan di dinas lalu lintas mengingatkan dengan kinerja birokrasi pemerintah yang biasanya terlalu lama dalam mengerjakan sesuatu. Karakter- karakter tersebut didukung pula oleh voice cast yang cukup sempurna dalam memberikan nyawa bagi setiap guratan tinta animasinya. Selain disain karakter, disain kota Zootopia sendiri cukup menarik. Digambarkan sebagai tempat meraih mimpi jutaan hewan dari berbagai belahan dunia membuat kota ini memiliki distrik- distrik yang memiliki suhu dan gambaran ekosistem yang beragam. Seperti Sahara Square, Tundratown, Little Rodentia, Rainforest District, Savanna Cetral, dan Downtown.

5

Secara implisit sebenarnya Zootopia ingin menyindir tatanan kehidupan sosial yang memiliki multikultur dan multiras. Dalam arti kata, sebenarnya Zootopia sendiri menyindir kehidupan negeri Paman Sam. Di mana adanya negara tersebut digambarkan sebagai negara maju dengan sejuta harapan dan mimpi. Namun pada kenyataannya, dengan adanya berbagai macam ras dan kultur membuat lahirnya stereotype terhadap beberapa warga keturunan. Contoh ras hispanik dan negro yang dicap sebagai ras bermasalah dan selalu hidup berseberangan dengan hukum. Lalu adanya kesenjangan sosial terhadap keturunan Arab, yang selalu dicurigai sebagai teroris. Termasuk juga kesempatan untuk mendapatkan kemajuan hanya terhadap beberapa warna kulit dan isu rasisme yang sebenarnya cukup mendarah daging di negara tersebut. Sindiran- sindiran di mana kita bisa menuju sebuah kota utopia (kota dengan kesempurnaan yang luar biasa dari berbagai aspek), hanya bisa terjadi jika tidak adanya kesenjangan sosial dan kesempatan yang sama rata bagi setiap penduduknya. Steretotype negatif pun harus dihilangkan sehingga tidak adanya kecurigaan di antara penduduknya. Hanya satu pertanyaan saya selama nonton film ini. Para manusia kemana?(dnf)

Rating:

8/10

Deadpool (2016)

Colossus: I’m gonna take you to the Professor

Deadpool: Stewart or McAvoy?

Poster

Directed By: Tim Miller

Cast: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, Ed Skrein, T.J. Miller, Gina Carano, Brianna Hildebrand, Stefan Kapicic, Greg Lasalle, Stan Lee

Synopsis:

Wade Wilson (Ryan Reynolds) adalah mantan pasukan khusus yang mempergunakan keahliannya sebagai tukang pukul. Hidupnya terasa sempurna dengan hadirnya Vanessa Carlysle (Morena Baccarin), seorang PSK yang menjadi kekasihnya. Namun setelah dirinya divonis mengindap kanker ganas, kehidupan Wade terasa berubah 180 derajat. Ancaman kematian bisa datang kapan saja. Namun sebuah harapan mulai hadir setelah Wade ditawari sebuah program ilegal yang mampu menyembuhkan penyakitnya.

Ternyata program, yang dipimpin oleh Ajax (Ed Skrein) tersebut ditujukan untuk menciptakan mutant baru untuk dijual ke penawar tertinggi. Memang, penyakit Wade sembuh, dan Wade mendapatkan kemampuan super yang memungkinkannya untuk menyembuhkan dan menumbuhkan ulang sel- selnya yang rusak. Dalam arti kata, Wade menjadi susah mati. Hanya saja, secara fisik, Wade menjadi rusak parah.

Wade yang berhasil kabur, kemudian mencari Ajax untuk memperbaiki kondisi fisiknya. Ajax dibantu oleh tangan kanannya, Angel Dust (Gina Carano), sementara Wade, yang kemudian menamakan dirinya Deadpool, dibantu oleh 2 anggota X- Men, Colossus (Stefan Kapicic/ Greg Lasalle) dan Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand).

Review:

1

Di ranah industri komik, karakter Deadpool merupakan salah satu karakter favorit yang mungkin kurang begitu dikenal non fanboy, namun bagi para penggila komik, namanya sudah memiliki daya tarik sendiri. Pasalnya, berbeda dengan karakter- karakter komik lainnya, karakter Deadpool, yang digambarkan memiliki perpaduan antara violence dan komedi, mendobrak industri komik dengan gaya narasinya yang breaking the fourth wall. Maksudnya di sini adalah, Deadpool kerap berbicara dan berinteraksi dengan pembacanya. Hal ini disebabkan bahwa Deadpool memiliki kepribadian yang aneh yang membuatnya berfikiran bahwa dirinya adalah seorang karakter komik, dan petualangannya tidak lain dan tidak bukan merupakan plot cerita komik serialnya. Sehingga hal ini sering membuat bingung karakter komik yang diceritakan sedang berbagi panel dengannya.

2

Deadpool sendiri merupakan hasil dari buah pemikiran kolaborasi duo Rob Liefeld dan Fabian Nicieza. Jika Liefeld bertanggung jawab dalam membuat nama karakter dan disain karakternya, Nicieza bertangung jawab dalam memberikan kepribadian unik sang anti-hero. Disain karakter Liefeld yang tanpa sengaja dipengaruhi oleh kecintaannya terhadap serial Teen Titans, membuat Nicieza menyadari kemiripan antara karakter tersebut dengan Deathstroke, sehingga tercetuslah nama Deadpool dan alter-egonya, Wade Wilson yang juga merupakan plesetan dari Slade Wilson, nama asli Deathstroke. Bahkan Nicieza sempat berkelakar bahwa Slade dan Wade adalah 2 saudara yang memiliki hubungan cukup jauh. Satu hal yang tidak mungkin karena keduanya diproduksi oleh 2 publisher raksasa komik yang saling bersaing, DC dan Marvel.

3

Sebenarnya ini bukanlah kali pertama karakter Deadpool (Wade Wilson- red) diangkat ke layar kaca. Pada tahun 2009, di dalam film spin- off, X- Men Origins: Wolverine, Wade Wilson sempat muncul menjadi salah satu karakter pembantu. Namun seiring jalannya cerita, Wilson bukan menjelma menjadi Deadpool, melainkan menjadi Weapon XI. Namun para fans cukup suka dan menilai penampilan Ryan Reynolds sebagai Deadpool sangatlah pas. Meskipun keputusan studio untuk karakter tersebut dihujat para fans. Sejak saat itu, rencana proyek film ini sempat terkatung- katung. Dan Reynolds pun merupakan salah satu pihak yang sangat keukeuh untuk mengangkat Deadpool menjadi sebuah film stand- alone. Hingga akhirnya pada Januari 2012, Reynolds memfilmkan dirinya dalam sebuah footage untuk meyakinkan pihak studio. Footage yang akhirnya dipost online pada 1 Agustus 2014 tersebut mendapatkan respon yang sangat luar biasa dari kalangan fans. Sehingga lampu hijau langsung dinyalakan oleh para pembesar Fox.

4

Reynolds benar- benar membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi Deadpool. Hal ini sebenarnya juga menjadi pengobat paska keterpurukan film Green Lantern yang dibintangi olehnya. Selain mantan suami Black Widow tersebut, nama- nama pemeran pendukung lainnya juga tidak kalah apik dalam membawakan karakter. Tercatat ada 3 nama yang menurut saya sangat baik dalam berperan di film ini. Pertama adalah Briana Hildebrand yang cukup mencuri perhatian dengan memadukan unsur gothic-rebellious-skinhead-teenager nya dengan aura bad- ass yang cukup memukau. Kemudian ada Morena Baccarin yang bisa menetralisir unsur testoteron dengan penampilannya yang dimaksudkan untuk memancing sisi melankolis dari Deadpool. Kemudian ada Ed Skrein, yang ternyata lebih cocok jadi penjahat ketimbang meneruskan tongka estafet Frank Martin dari tangan Jason Statham. Hanya saja karakter Colossus yang sempat tampil di dua film X- Men, di film ini tampak bodoh. Penggambaran karakternya yang naif dan polos malah cenderung membuat dirinya seperti seorang mindless muscle henchman. Penampilannya di film ini mengingatkan saya kepada karakter Bane di versi Batman & Robin.

5

Menyaksikan Deadpool jelas merupakan perpaduan antara aksi seru, sadis, serta komedi- komedi sarkastik. Hanya saja joke- joke yang dilemparkan cenderung menyindir pop culture dan industri hiburan Amerika Serikat. Bahkan film Green Lantern, franchise X-Men, dan Ryan Reynolds sendiri menjadi target olok- olok. Joke- joke semacam ini akan sangat tepat sasaran jika anda mengerti dan mengikuti pop culture dan lebih jauh lagi, mengikuti industri hiburan film. Sehingga bagi penonton awam, joke- joke cerdas tersebut terasa garing, bahkan mungkin tidak sadar itu adalah sebuah joke. Contoh seperti ketika Deadpool mau dibawa menghadap Professor X oleh Colossus, dia menanyakan Professor X versi James McAvoy atau Patrick Stewart. Lebih jauh lagi dia juga menyindir kesulitan untuk mengerti timeline franchise X-Men yang semakin hari semakin rumit.

6

Tim Miller, sebagai sutradara yang masih cukup hijau dinilai cukup sukses dalam memfilmkan Deadpool. Sehingga bagi Fox sendiri, ini merupakan sebuah persembahan permintaan maaf yang manis paska telah menodai Fantastic Four tahun lalu dengan sebuah prestasi buruk, dan bahkan dicap sebagai salah satu film superhero terburuk yang pernah ada. Janganlah lagi membebani diri anda dengan masalah plot cerita yang murahan atau naskah yang buruk. Karena inti dari film ini adalah seru- seruan semata. Jika saya ingin membandingkan film ini mungkin bisa disamakan dengan Expendables 2. Dalam arti dari segi violence, aksi, dan joke- joke sindiran pop culture dan industri hiburan. Dan jangan lupa menyaksikan film ini sampai akhir, karena akan ada after credit scene yang sangat menarik sekaligus hint mengenai kelanjutan film ini.

7

Film Deadpool sudah jelas akan disesaki dengan berbagai macam adegan laga yang akan menjadi sasaran empuk pihak sensor. Dan memang, cukup banyak adegan yang disensor dari film ini. Bahkan tidak sedikit penonton dan fanboy yang kecewa dengan keputusan LSF untuk mensensor beberapa adegan dari film ini. Tapi seharusnya kita masih bersyukur. Karena di negara Cina, bahkan film ini dilarang beredar. Kita masih bersyukur tidak harus menggunakan paspor untuk hanya menyaksikan film ini. Dan sebagai pengingat film ini diperuntukkan untuk dewasa. Karena karakter Deadpool juga memang diciptakan untuk reader dewasa. Mungkin masih banyak di luar sana, orang tua yang berfikiran dangkal yang masih men-generalisir bahwa semua film superhero untuk anak- anak. Bahkan tidak sedikit pihak- pihak, termasuk Fox sendiri yang membuat campign untuk melarang orang tua membawa anak kecilnya menonton film ini. Ya, semoga kita semua termasuk orang tua smart yang membawa anak kita menyaksikan film sesuai rating dan batasan usianya. Chimichanga! (dnf)

Rating:

8.5/10