Sicario (2015)

Alejandro: You’re asking me how the watch is made. For now just keep your eye on the time.

Poster

Directed By: Denis Villenueve

Cast: Emily Blunt, Josh Brolin, Benicio Del Toro, Victor Garber, Jon Bernthal, Daniel Kaluuya, Jeffrey Donovan

Synopsis:

Kate Macer (Emily Blunt) adalah seorang agen FBI yang menangani kasus penculikan. Dirinya terlibat dalam kasus pencullikan yang dilakukan oleh sebuah kartel obat bius. Kepiawaian Kate membuatnya direkrut oleh seorang agen pemerintah, Matt Graver (Josh Brolin) untuk ikut dalam satuan unit pasukan khusus yang akan menghancurkan kartel Meksiko, Semakin dalam Kate terlibat dalam misi khusus tersebut, semakin dirinya tidak menyetujui pendekatan yang dilakukan oleh Matt, apalagi dengan kebrutalan salah satu anggota tim, Alenjandro (Benicio Del Toro). Intuisi Kate pun menyebutkan ada agenda tersembunyi yang jauh lebih dalam di balik misi tersebut.

Review:

1

Drugs sudah menjadi menjadi musuh jutaan umat di muka bumi. Dari berbagai macam kalangan, sudah mendeklarasikan obat setan yang sudah terbukti dapat mendatangkan kematian, malfungsi otak, atau kejahatan- kejahatan lainnya. Baik dari kalangan praktisi pendidikan, politikus, bahkan dari pelaku industri seni seperti penyanyi dan pembuat film juga sudah melahirkan karya yang menyatakan peperangan terhadap narkoba ataupun hanya menggambarkan kerusakan yang dibuat oleh barang haram tersebut. Termasuk film Sicario ini yang menggambarkan perang terhadap narkoba, meskipun diselipi bumbu politik yang menggambarkan pemerintah Amerika juga tidak sebegitunya bersihnya dalam memberantas narkoba.

2

Salah satu kekuatan dari film Sicario adalah intensitas skrip yang dikreasikan oleh seorang Taylor Sheridan. Pembagian porsi drama dan aksi yang coba ditawarkan film ini sudah sangat pas. Dilema yang dirasakan oleh protagonis Kate, sebagai satu- satunya anggota tim yang masih memiliki moral dan kode etik dalam menjalankan tugas, selain rekannya, Reggie Wayne yang diperankan oleh Daniel Kaluuya. Sementara praktek penegakan hukum yang dilakukan oleh Matt dan Alejandro jauh dari nilai kode etik ataupun moral yang seharusnya diterapkan oleh aparat negara. Pengembangan konflik pun tersusun dengan rapi. Bagaikan membuka buku selembar demi selembar, Villenueve mencoba untuk memaparkan apa yang terjadi di layar tanpa harus terburu- buru dengan pace yang pas. Belum lagi twist di akhir kisah yang cukup seru.

3

Melihat film ini membuat saya langsung teringat dengan film- film genre aksi hasil buah tangan Michael Mann. Di mana penggambaran aksi dibuat serealitis mungkin, dengan suara tembakan ataupun ledakan yang seperti diambil dari sebuah film dokumenter. Dan mungkin juga ditambah dengan style film Peter Berg yang berjudul The Kingdom. Di mana dikedua film tersebut sama- sama menggambarkan sekelompok aparat pemerintah yang diharuskan menginvasi sebuah negara untuk menangkap seorang sosok penjahat yang ditakuti. Dan sekali lagi, film ini bukanlah hidangan yang bagi penonton yang mudah mual ataupun tidak tahan dengan adegan- adegan sadis. Karena memang banyak scene- scene yang cukup sadis dan disajikan secara realistis.

4

Ketiga cast utama sudah bermain sangat baik. Emily Blunt, yang baru- baru ini sempat dikecam publik Amerika karena salah bicara di depan TV, berhasil memerankan seorang Kate Macer yang terlibat konflik batin antara moral dan tugas. Josh Brolin bisa memerankan karakter slengean yang tidak menghargai orang lain. Dan memang bagi saya pribadi, karakter Matt Graver harus dimainkan oleh Josh Brolin. Baik dari gesture tubuh, maupun muka sudah sangat pas. Dan yang harus diberikan kredit paling tinggi adalah Benicio Del Toro, yang sudah lebih dari sempurna memerankan seorang konsultan taktikal bagi pemerintah yang sudah cukup makan asam garam dalam terlibat urusan dengan kartel obat bius.

5

Sicario, yang merupakan bahasa slank Meksiko untuk seorang pembunuh bayaran benar- benar sudah dapat memberikan pesannya dengan baik. Selain tentunya me-refer pembunuh bayaran sebenarnya, film ini juga menceritakan bahwa agen- agen pemerintah terkadang diharuskan untuk bertindak sebagai seorang pembunuh bayaran. Dalam arti kata, harus melupakan hati nuraninya dalam menjalankan misi dengan dalih “for a greater good”. Sebagai pembunuh bayaran bagi pemerintah dalam memerangi kejahatan ataupun melindungi negara. Terkadang dengan adanya perang melawan kejahatan ini membuat semua orang bertanya. “Who’s the bad guy and who’s the good guy?” (dnf)

Rating:

8/10

Black Mass (2015)

Whitey Bulger: We get the FBI fight our wars, and we get to do whatever we want to do.

adadasdasdasd

Directed By: Scott Cooper

Cast: Johnny Depp, Joel Edgerton, Benedict Cumberbatch, Kevin Bacon, Jesse Plemons, Peter Sarsgaard, Dakota Johnson, Corey Stoll, Rory Cochrane, David Harbour, Adam Scott, Juno Temple, W. Earl Brown

Synopsis:

James “Whitey” Bulger (Johnny Depp) adalah seorang gangster keturunan irlandia yang cukup disegani di Selatan Boston. Namun usahanya terhalang pembagian wilayah dengan keluarga mafia Anguilo Brothers. Kesempatan emas datang lewat seorang agen FBI bernama John Connolly (Joel Edgerton) yang merupakan teman kecil James dan kakaknya, Billy Bulger (Benedict Cumberbatch). Whitey menjadi informan bagi Connolly yang berambisi untuk menggulingkan kerajaan kriminal Anguilo Brothers. Whitey meminta kekebalan hukum terhadap aktivitas kriminalnya sebagai imbalan dirinya menjadi informan FBI. Sementara atasan Connolly, Charley McGuire (Kevin Bacon) menyanggupinya selama Whitey dan gang Winter Hill-nya tidak melakukan pembunuhan dan transaksi narkoba.

Whitey melanggar janjinya. Dia tetap membunuh dan malah kerajaan kriminalnya semakin membesar. Connolly-pun mulai terbawa ke dunia kriminal dengan menjadi back- up hukum bagi Whitey dengan mengatasnamakan loyalitas masa kecil. Namun sepak terjang Whitey- Connolly mau tidak mau harus mulai tergoyahkan dengan hadirnya seorang agen bernama Fred Whysak di dalam tubuh FBI, yang anti korup dan berambisi untuk menangkap Whitey.

Review:

1

Semenjak melejit lewat serial 21 Jump Street, aktor Johnny Depp telah menjadi pujaan hati para wanita pada jamannya. Namun lewat beberapa peran di awal karirnya, Depp telah membuktikan potensinya dalam berakting. Sebut saja film What’s Eating Gilbert Grape? yang menampilkan aktingnya yang sangat menawan, di mana di film tersebut ikut hadir bintang cilik yang menampilkan akting sangat spektakuler dan seakan- akan memberikan heads-up bahwa suatu saat dirinya akan menjadi seorang bintang papan atas bernama Leonardo Di Caprio. Namun justru bukannya dikenal sebagai aktor watak, malahan Depp dikenal dengan peran- perannya yang absurd dengan akting yang aneh serta out-of-the-box. Predikat tersebut semakin menempel paska perannya di tahun 2003 sebagai bajak laut Jack Sparrow. Masyarakat lebih mengenel Depp dengan peran- perannya seperti Charlie Wonka, Mad Hatter, Edward Scissorshand, Sweeney Todd, atau Tonto. Justru peran- perannya yang lebih normal seperti dalam film The Rum Diary, The Tourist, Public Enemies,  dan Finding Neverland kurang begitu dikenal. Mungkin untuk judul film terakhir lebih dikenal di Indonesia karena pada tahun lalu, beberapa adegannya sempat menjadi trend dibuatkan meme. Itu tuh, adegan yang Johnny Depp duduk di bangku taman sama anak kecil dan kebanyakan isinya anak kecil curhat terus nangis di pelukan Johnny Depp.

2

Paska menurunnya prestasi box- office film- filmnya di beberapa tahun belakangan ini, mengharusnya Depp untuk lebih pintar memilih peran, sehingga masyarakat tidak hanya mengingatnya sebagai aktor versi lebih serius dari Jim Carrey saja. Lewat perannya sebagai gangster legendaris Whitey Bulger ini Depp membuktikan performance- nya yang bisa dibilang sangat wah. Bisa dikatakan ini adalah akting Depp terbaik sepanjang karirnya. Di satu sisi, Depp mampu menggambarkan seorang Whitey Bulger yang manusiawi, khususnya dalam menggambarkan hubungannya dengan sang anak. Di sisi lain, penonton diperlihatkan betapa begitu mengerikannya sosok Whitey Bulger yang tidak segan- segan membunuh. Memberikan bayangan bahwa dia adalah seorang kriminal yang pintar, licik, sekaligus kejam. Akting Depp ketika akan membunuh korbannya, atau hanya mengancam seseorang, sudah benar- benar membuat bulu kuduk berdiri. Sayapun sangat setuju dengan gembar- gembor kritikus yang menobatkan Depp untuk layak menjadi nominasi Oscar lewat perannya dalam film ini. Tidak luput pula tim make- up yang membuat Depp menjadi seperti seorang monster dan di beberapa adegan mengingatkan saya terhadap aktor Christopher Walker.

3

Sebagai lawan mainnya pun aktor yang sedang naik daun, Joel Edgerton memberikan akting yang tidak kalah luar biasanya. Meskipun tidak dapat mengungguli Depp, namun karakter Connolly terasa sangat blending dengan dirinya. Edgerton mampu memberikan kesan seorang hero, dan di sisi lainnya mampu memberikan kesan jijik dari seorang penonton terhadap aksinya dalam melindungi Whitey. Bukan hanya Edgerton, barisan aktor- aktris pendukung lainnya juga tidak bisa dianggap sepele. Cory Stoll dan Juno Temple, yang meskipun tampil sepintas lalu, namun mampu memberikan akting yang cukup apik. Terlebih untuk Stoll, di mana jika dibandingkan dengan film- film lainnya, di sinilah dirinya membuktikan kepiawaiannya berakting. Lalu ada sang Sherlock, Benedict Cumberbatch yang meskipun tidak bisa dibilang penampilan terbaik, namun usahanya dalam merubah logat british-nya ke logat irish, patut diacungi jempol. Rory Cochrane, W. Earl Brown, dan Peter Sarsgaard yang masing- masing memerankan gangster legendaris Steven Flemmi, John Martorano, dan Brian Halloran juga berakting sangat bagus.  Dan di antara keseluruhan supporting cast, saya paling suka dengan penampilan Jesse Plemons. Aktor yang mempunyai julukan Meth Damon karena kemiripannya dengan aktor Matt Damon ini dari raut wajah, sampai gesture sudah sangat pas dan cukup believable dalam berperan sebagai bodyguard/ supir Whitey, Kevin Weeks.

4

Nyawa dari plot dalam film ini adalah “persahabatan” dan “loyalitas”. Meskipun dalam menggambarkan keduanya, film ini menggunakan gambaran dari sisi dark side dan kriminalitas. Gambaran loyalitas dan persahabatan yang memang sudah kerap diangkat ke dalam film- film sejenis. Namun yang menjadi tambahan kekuatannya lagi adalah bagaimana Whitey sangat menjunjung tinggi nilai loyalitas tersebut. Ibaratnya prinsipnya adalah “Lo asik ama gue, gue bakal lebih asik. Lo rese ama gue, gue bakal lebih rese”. Gambaran tersebut juga sangat asyik diwakili dengan hubungan Whitey dengan karakter- karakter lainnya, seperti Steven Flemmi, Kevin Weeks, Brian Halloran, John Martorano, dan khususnya kepada John Connolly, yang rela mengecewakan atasa, teman, dan istrinya sendiri demi loyalitasnya terhadap Whitey. Meskipun di dalam dunia kriminal, tidak ada loyalitas yang abadi. In the end, everybody is for himself.

5

Naskah yang ditulis oleh Mark Mallouk dan Jez Butterworth berdasarkan buku berjudul Black Mass: The True Story of Unholy Alliance Between the FBI and The Irish Mob karangan Dick Lehr dan Gerard O’Neill yang dipublikasikan pada tahun 2001 ini sangatlah menarik. Pemilihan poin- poin penting yang disambungkan dalam jarak tahunan terstruktur dengan rapi. Meskipun kenyataannya banyak elemen- elemen yang diubah untuk mendramatisasi film. Seperti gambaran Connolly yang bertemu pertama kali dengan Whitey dan Flemmi di sebuah restoran, terpaksa dirubah menjadi teman kecil Whitey dan Billy. Tidak heran jika nantinya naskah yang apik ini akan dirilik oleh para juri Oscar untuk diberikan nominasi naskah adaptasi terbaik juga. Namun untuk menobatkan film ini untuk mendapatkan nominasi film terbaik, rasanya masih terlalu dini. Meskipun secara overall, film ini bisa dikategorikan sebuah sajian film gangster yang bagus. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

Yakuza Apocalypse: The Great War of The Underworld/ Gokudou Daisensou (2015)

yakuza-apocalypse-the-great-war-of-the-underworld-2015-poster

Directed By: Takashi Miike

Cast: Hayato Ichihara, Yayan Ruhian, Mio Yuki, Riri Furanki, Riko Narumi, Reiko Takashima, Yuki Sakurai, Denden, Kiyohiko Shibukawa, Sho Aoyagi

Synopsis:

Sejak kecil Akira Kageyama (Hayato Ichihara) sangat mendambakan menjadi seorang Yakuza. Terlebih dirinya sangat mengagumi sosok Genyo Kamiura (Riri Furanki) yang biasa dipanggil The Boss. Selain kharismatik dan baik terhadap penduduk kota yang berada dalam perlindungannya, The Boss juga selalu selamat dalam berbagai usaha pembunuhan. Kageyama-pun akhirnya bergabung dengan organisasi The Boss.

Hingga suatu saat The Boss diserang oleh sepasang pembunuh bayaran hingga nyawanya dihabisi oleh Kyoken/ Mad Dog (Yayan Ruhian). Dalam keadaan sekarat, The Boss membocorkan rahasianya kepada Kageyama bahwa dia adalah seorang vampire dan meneruskan “kekuatannya” tersebut kepada Kageyama.

Kageyama-pun menggunakan kekuatan barunya tersebut untuk membalaskan dendam kepada pihak- pihak yang menyebabkan kematian The Boss.

Review:

url

Di ranah industri perfilman Negara Matahari Terbit, nama Takashi Miike merupakan nama yang patut diperhitungkan. Karya- karyanya kerap menimbulkan kontroversi. Miike senang sekali memasukkan unsur- unsur yang membuat pusing badan sensor, seperti tingkat kekerasan yang sangat tinggi serta adegan seks atau nude yang sudah menjadi ciri khas film- filmnya. Meskipun begitu, Miike dikenal memiliki pendekatan yang agak “nyeleneh”. Seperti menampilkan adegan kekerasan yang agak- agak comical. Mungkin jika ingin dibandingkan dengan industri Hollywood, gaya film- filmnya memiliki kesamaan dengan sutradra Robert Rodriguez dan Quentin Tarantino di karya- karya awal mereka.

yayan-ruhiyan11

Dikarenakan memiliki ciri- ciri tersebut, maka karya- karya Miike bisa dikategorikan sebagai film cult. Tapi bagi penonton Indonesia, tidak peduli siapa sutradaranya, in fact, nama tersebut kurang begitu dikenal di telinga penonton awam. Yang diperdulikan adalah penampilan perdana salah satu aktor jebolan The Raid dalam perfilman internasional, Yayan Ruhian. Miike tampak sangat mengagumi film kebanggan Indonesia tersebut. Tampak dari nama karakter yang diperankan Yayan Ruhian adalah Kyoken, atau dalam peredaran internasional disebut Mad Dog. Dan memang melalui film ini, Kang Yayan diuji kapabilitasnya dalam berperan di perfilman luar negeri. Dan penampilannya dalam film ini bisa saya katakan menjadi salah satu karakter yang berhasil mencuri perhatian. Sadis, tough, dan memiliki dark humor tersendiri. Di samping itu terlihat Kang Yayan mulai belajar dan bisa mengucapkan dialog dalam bahasa Inggris, maupun bahasa Jepang.

rsfsdfdssff

Tidak sedikit penonton awam yang membeli tiket ini karena mengharapkan aksi martial arts ala The Raid. Yang memang dari trailer juga sudah menjanjikan kadar aksi yang lumayan seru. Namun seperti saya bahas di awal, jika anda tidak akrab dengan karya- karya Miike, maka ada kemungkinan anda akan kecewa. Dan mungkin bagi penonton pria bisa dipuaskan sedikit dengan dark comedy dan violence-nya, yang sayangnya ada beberapa adegan yang dipotong oleh LSF. Tapi bagi penonton wanita, bisa menjadi sulit untuk menikmati film- film semacam ini. Namun film ini bisa dikatakan merupakan salah satu karya “nyeleneh” terbaik Miike. Kemampuannya dalam meramu ide- ide out of the box yang cukup weird malah menjadikan film ini semakin fun. Tidak sedikit adegan- adegan dalam film ini mengambil unsur manga. Miike juga melakukan penetrasi “nyeleneh”nya dengan pelan- pelan. Adegan- adegan awal memang lebih pop corn. Namun semakin melajunya durasi, Miike semakin menunjukkan trademark-nya. Setting di kota fiksi juga sangat baik. Miike dengan sangat piawai membangun setting sebuah district fiksi di sekitaran Tokyo dengan apik. Sinematografi juga menjadi salah satu unsur penting dalam film ini.

Screen-Shot-2015-02-09-at-11.21.13-AM-620x400

Jika berbicara masalah karakterisasi dalam film ini, Miike sengaja menampilkan ke-absurd-an karakter. Seperti minimnya penjelasan mengenai latar belakang karakter. Dan yang paling absurd adalah penampilan karakter Kaeru- Kun yang dianggap sebagai teroris paling berbahaya di dunia. You know what, saya berani jamin anda akan melongo melihat penampilan sosok tersebut. Dan selepas ada melongo akan terbagi menjadi dua kubu. Kubu yang semakin tidak betah untuk keluar bioskop, dan kubu yang semakin memuja kejeniusan Miike. Selain Kang Yayan, beberapa aktor Jepang juga berhasil memerankan karakternya dengan baik. Hayato Ichihara terlihat cukup cool sebagai seorang Yakuza. Gesture tubuhnya pun cukup meyakinkan. Riri Furanki juga sangat baik memerankan karakter bos Yakuza baik hati. Yang cukup menggelikan adalah penampilan aktris watak, Yuki Sakurai sebagai kapten Yakuza yang berkelamin pria. Namun kurangnya make-up penonton tidak tahu jika sebenarnya secara naskah dia seorang pria. Penonton hanya mengira dia adalah seorang wanita tomboi. Absudr kan?

dasdadeqrrqwe

Pada akhirnya Yakuza Apocalypse menjadi sebuah sajian cult bin absurd yang cukup menghibur. Kombinasi antara fantasi yang nyeleneh, aksi brutal, serta karakter- karakter aneh menjadikan film ini cukup bisa dijadikan alternatif hiburan. Apalagi bagi mereka yang menggemari genre dari film semacam Machete. Jika ingin dibandingkan dengan perfilman lokal, karya anak bangsa yang cukup absurd adalah Comic 8 yang tahun ini akan muncul sekuelnya. Namun dalam film ini terlihat Miike mencoba untuk tidak memunculkan adegan- adegan seks serta nudity yang biasanya harus muncul di filmnya. Eh bentar bentar deh… Emang kagak ada atau kena potong LSF ya? (dnf)

Rating:

8/10

SPL 2: A Time For Consequences (2015)

SPL2_Poster_Blue Red_outlined

Directed By: Cheang Pou-soi

Cast: Tony Jaa, Wu Jing, Simon Yam, Zhang Jin, Louis Koo, Jun Kung, Unda Kunteera Ydorchanng

Synopsis:

Chan Chi-kit (Wu Jing) adalah seorang polisi yang menyamar ke tubuh sindikat penculikan dan penjualan organ manusia ilegal yang dipimpin oleh Mr. Hung (Louis Koo). Dalam sebuah misi penculikan adik Mr. Hung, Hung Man-piu (Jun Kung) yang akan “diambil paksa” jantungnya demi kelangsungan hidup sang kakak, Kit terbongkar identitasnya sebagai seorang polisi. Setelah penyamarannya terkuak, Hung mengirim Kit ke sebuah penjara di Thailand yang dipimpin oleh kepala sipir kejam Ko Chun (Zhang Jin), yang ternyata merupakan rekan bisnis dari Hung.

Chan bertemu dengan salah seorang sipir penjara, Chatchhai (Tony Jaa) yang sedang mencari donor sumsum tulang belakang untuk anaknya yang terkenal leukimia. Chan Kwok- wah (Simon Yam), yang merupakan paman sekaligus atasan Kit, mencari keberadaan Kit sampai akhirnya mengunjungi penjara tersebut. Namun permasalahan yang dihadapi oleh Kit dan Wah tidaklah sulit karena mereka terjebak semakin jauh ke dalam sindikat tersebut yang bisa menghilangkan nyawa mereka. Bukan tidak mungkin, mereka akan menjadi “donor” paksa bagi sindikat mereka.

Review:

SPL2_thai_20140806-12-1

Bagi para penggemar perfilman Hong Kong, khususnya genre action, pasti tidak asing dengan sebuah film berjudul SPL (Sha Po Lang), yang rilis tahun 2005 dan memiliki judul peredaran internasional, Killzone. Film tersebut mendapatkan sambutan cukup baik dengan menggabungkan aksi drama kepolisian dengan genre martial arts yang diwakilkan oleh Donnie Yen, Sammo Hung, dan Wu Jing. Terlebih lagi, bisa dikatakan film tersebut adalah salah satu film terbaik Donnie Yen sepanjang karirnya dan ikut mengangkat namanya di industri perfilman Hong Kong. Isu- isu mengenai sekuelnya sudah banyak dihembuskan. Naskahpun sudah dipersiapkan. Namun akhirnya dijadikan film yang tidak berhubungan berjudul Fatal Move, yang juga diperankan oleh Sammo Hung, Simon Yam, dan Wu Jing. Setelah itu, isu lain tentang pembuatan SPL 2: Rise of Wong Po kembali terdengar, yang rencananya akan mempertemukan kembali Sammo Hung dan Wu Jing.

str2_daspl2_jaa_MAIN_da-770x470

Pada tahun 2013, sebuah sekuel resmi diumumkan kembali yang akan menghadirkan Tony Jaa, sebagai pengganti Donnie Yen, yang tidak lagi bergabung. Film sekuel ini kembali lagi menghadirkan Simon Yam, dengan peran yang sama, dan Wu Jing, dengan peran yang berbeda. Dan kali ini ahli Wu Shu tersebut didaulat sebagai salah satu karakter protagonis setelah di seri pertamanya memerankan Jack, karakter antagonis. Pemilihan Tony Jaa sebenarnya sebuah keputusan tepat. Selain menaikkan gengsi film ini ke level internasional, selain itu nama Jaa sendiri sudah mendapatkan sorotan di dunia barat. Terlebih film ini dirilis tidak jauh setelah dirinya menjadi lawan Paul Walker di installment ketujuh The Fast and The Furious, dan beradu akting dengan Dolph Lundgren di Skintrade. Otomatis hanya dengan melihat namanya saja dan materi promosi yang menggembar- gemborkan keterlibatan dirinya, orang akan langsung mengharapkan sebuah sajian seru martial arts yang hebat.

dfafadf

Dari aksi laganya memang cukup seru. Menampilkan perpaduan antara muay thai Jaa dengan wu shu Wu Jing dan Zhang Jin yang sangat top notch. Meskipun sebagai fans Tony Jaa, saya cukup kecewa karena secara perbandingan, aksinya di sini kalah jauh dengan film- film yang membesarkan dirinya, Ong Bak dan Tom Yum Goong. Namun sebenarnya hal itu memanglah disengaja. Karena treatment film ini adalah sebuah buddy cop movie yang memakai Jaa dan Wu Jing sebagai duet jagoan utamanya. Jadi secara screen presence memang harus membagi adil di antara keduanya. Dan jika diteliti ke arah tersebut, memang pembagian porsi aksi di antara keduanya sangatlah baik. Tidak tumpang tindih satu sama lain dan saling memberikan kesempatan untuk menunjukkan kebolehan. Ditambah lagi dengan penampilan Zhang Jin yang menjadi lawan tangguh mereka berdua.

b

Secara naskah, film ini memiliki cerita berbobot, yang sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan film pertamanya. Hanya saja, film ini terlalu banyak memasukkan unsur drama, yang membuat penurunan tensi penonton. Seperti adegan simbolik melodrama di tengah- tengah sekuens final fight yang cukup seru. Jujur sepanjang film, saya menantikan sajian martial arts yang ciamik. Dan secara pribadi baru ditemukan di ending, yang lalu dirusak dengan tampilan melodrama tersebut. Bukan berarti adegan- adegan sebelumnya tidak seru, namun fight yang benar- benar seru baru didapatkan di akhir film. Sekilas terlihat film ini banyak terinspirasi dari dwilogi The Raid. Dari final fight antara Tony Jaa- Wu Jing vs Zhang Jin yang mirip dengan Iko Uwais- Donny Alamsyah vs Yayan Ruhiyan. Lalu adegan prison riot yang nyata- nyata mirip dengan prison fight The Raid 2: Berandal lengkap dengan shot- shot panjangnya. Lalu tema undercover cop yang sangat kental.

handout_05jun15_fe_spl2

Dari segi kualitas akting, hampir keseluruhan pemain mengeluarkan kemampuang aktingnya secara maksimal. Tony Jaa yang biasanya kaku dalam berakting, di sini terlihat lebih luwes. Dan chemistry-nya dengan aktris cilik, Unda Kunteera Ydorchanng sangatlah bagus dan terjalin secara natural. Chemistry apik juga ditampilkan oleh Loius Koo dan Jun Kung yang menampilkan hubungan kakak- adik yang complicated. Wu Jing dan Zhang Jin tidaklah hanya menampilkan kemampuan fisiknya semata. Wu Jing berhasil menampilkan karakter messy sang polisi dengan meyakinkan. Sementara Zhang Jin berhasil menampilkan ekspresi dingin dengan sangat baik sebagai karakter antagonis. Dan yang paling apik di antara semuanya adalah penampilan aktor watak Simon Yam, yang ternyata juga cukup piawai menampilkan adegan laga.

sdadadasd

Sebenarnya sebagai sebuah sajian thriller kriminal, film ini bisa dibilang cukup baik. Namun dengan mengedepankan sosok Tony Jaa sebagai nilai jual utama untuk peredaran internasional membuahkan hasil yang mengecewakan bagi diri saya pribadi. Kenapa? Ya seperti saya sebutkan tadi. Saya mengharapkan adanya aksi muay thai Tony Jaa yang entertaining dan sadis. Mungkin jika pendekatan strategi marketing-nya berbeda, saya akan lebih terhibur. Di samping itu terlalu lebay dalam menggunakan elemen drama, membuat beberapa ketegangan dalam adegan aksinya menjadi menurun. Ya, intinya sih, akan banyak yang salah persepsi menyatakan film ini adalah sebuah film martial arts. Kalau saya pribadi sih bilangnya ini film thriller kriminal yang menggunakan unsur martial arts sebagai bumbu semata. (dnf)

Rating:

7/10

Run All Night (2015)

Jimmy Conlon: Wherever we go. When we cross the line, we’re going together.

200315

Directed By: Jaume Collet- Serra

Cast: Liam Neeson, Joel Kinnaman, Ed Harris, Common, Genesis Rodriguez, Boyd Holbrook, Bruce McGill, Vincent D’Onofrio, Nick Nolte

Synopsis:

Jimmy Conlon (Liam Neeson) adalah seorang pembunuh yang bekerja untuk mafia Irlandia yang juga sahabatnya sejak kecil, Shawn Maguire (Ed Harris). Kesetiaan Jimmy hanya bertumpu kepada Shawn, sampai suatu saat Jimmy membunuh anak Shawn, Danny Maguire (Boyd Holbrook). Jimmy membunuh Danny lantaran anak sahabatnya tersebut hendak membunuh anak Jimmy, Mike Conlon (Joel Kinnaman) yang tanpa sengaja menjadi saksi mata pembunuhan atas 2 anggota gangster Albania yang dilakukan oleh Danny.

Kini, Jimmy dan Mike harus melarikan diri dari berbagai macam ancaman. Dari anak buah Shawn, seorang pembunuh bayaran bernama Price (Common), serta aparat kepolisian yang dipimpin oleh Detective Harding (Vincent D’Onofrio) dalam satu malam terberat di dalam hidupnya.

Synopsis:

asdadadsa

Kebanyakan seorang aktor mendapatkan status action star di usianya yang relatif masih muda. Berbeda dengan Liam Neeson. Aktor dengan karakter suara yang khas ini, mendapatkan status action star-nya di usia yang tidak lagi muda lewat sebuah film action thriler kuda hitam, Taken. Paska film yang juga akhirnya melejitkan karirnya tersebut, Neeson, kerap kali diberikan peran utama dalam film aksi thriller. Yang biasanya memiliki kesamaan antara satu sama lainnya, memakai jaket kulit dan memiliki adegan dirinya mengancam seseorang lewat telepon.

run-all-night-ed-harris-liam-neeson

Sayangnya tidak bisa dipungkiri, selain trilogi Taken, tidak ada satupun film aksi thriller opa Liam yang mampu menyaingi franchise tersebut. Selain faktor umur yang sebenarnya tidak prima lagi untuk melakukan adegan aksi fisik, kebanyakan film- film tersebut benar- benar hanya mengandalkan performa Liam Neeson saja. Begitu juga dengan film Run All Night yang menandakan kali ketiganya Liam Neeson bekerja sama dengan sutradara Jaume Collet- Serra setelah sebelumnya berbarengan menyelesaikan proyek Unknown dan Non Stop.

url

Run All Night sebenarnya memiliki premis yang berpotensi bagus. Khususnya dalam memuaskan penggemar aksi thriller. Pasalnya film kejar- kejaran seperti ini memiliki kesempatan besar untuk menyajikan sajian aksi seru yang mampu menahan nafas penonton. Sebenarnya dalam segi aksi, film ini memiliki adegan aksi yang cukup seru. Hanya saja porsinya yang kurang, serta tidak begitu maksimalnya penggarapan scene- scene aksi, meskupun tidak bisa dipungkiri scene- scene aksinya masih cukup menghibur. Serra yang sebenarnya memiliki kemampuan membuat nuansa suspense yang cukup baik. Hanya saja, pendekatannya dalam film ini yang lebih memilih percampuran antara crime drama serta aksi thriller, malah menjadi bumerang tersendiri lantaran apa yang ingin dibangun lewat film ini malah tidak berhasil.

RUN ALL NIGHT

Neeson terlihat sudah tidak mampu lagi beradegan fisik. Kondisinya yang sudah tua sudah tidak memungkinkan lagi dirinya seprima dulu. Bahkan di beberapa adegan terlihat kewalahan. Namun dalam adegan drama masih mampu menunjukkan performa yang bagus. Sebaliknya dengan Kinnaman. Saat beradegan drama, dia kurang piawai. Namun saat beradegan aksi, dirinya mampu menunjukkan kualitas yang cukup baik berkat tampilan fisik serta postur tubuh yang memang menunjang untuk sebuah film aksi. Tidak salah dirinya terpilih menjadi Rick Flagg di film Suicide Squad nanti. Kekurangan lainnya adalah kurangnya chemistry antara Jimmy, baik dengan Shwan maupun dengan Mike. Ini menunjukan bahwa Serra kurang mampu mengarahkan aktor- aktornya untuk menampilkan akting drama dengan baik. Bahkan aktor sekelas Neeson dan Harrispun tidak mampu memberikan penampilan wahnya dalam memainkan 2 karakter yang sudah bersahabat sejak kecil.

run-all-night

Naskah yang ditulis oleh Brad Ingelsby memang memiliki kekurangan di sana- sini, bahkan cenderung dragging di banyak adegan. Saya cukup khawatir mengetahui Ingelsby terlibat sebagai penulis naskah reboot The Raid. Khawatir membayangkan bagaimana hasil akhir naskahnya mengingat 2 hasil karyanya berhasil membuat saya menguap- nguap di dalam bioskop. Run All Night dan Out of The Furnace. Selain faktor naskah dan akting, kualitas editing film ini bisa dikatakan cukup berantakan. Khususnya dalam adegan aksi yang bertempo cepat.

RUN ALL NIGHT

Sekali lagi, Run All Night, kurang mampu menyajikan sebuah sajian aksi berbobot. Sebaliknya, lewat Run All Night, membuktikan bahwa sudah saatnya Neeson pensiun dari genre aksi dan mulai kembali fokus ke drama. Atau misalnya ingin tetap berkecemplung… eh berkecimpung di film aksi, setidaknya hanya menjadi supporting actor yang tidak mengharuskan dirinya banyak melakukan adegan aksi fisik. (dnf)

Rating:

5.5/10

The Raid 2: Berandal (2014)

Bunawar: Divisi kita memang kecil. Tetapi ada alasannya kenapa kecil. Kepercayaan.

Image

Directed By: Gareth Evans

Cast: Iko Uwais, Arifin Putra, Julie Estelle, Oka Antara, Cecep Arif Rahman, Alex Abbad, Yayan Ruhian, Tio Pakusasewo, Kenichi Endo, Very Tri Yulisman, Cok Simbara, Roy Marthen, Pong Harjatmo, Ryuhei Matsuda, Kazuki Kitamura, Epy Kusnandar, Mike Luckock, Donny Alamsyah, Marsha Timothy, Dedi Sutomo

Synopsis:

Setelah berhasil keluar dari markas Bos Tama, Rama (Iko Uwais), atas anjuran kakaknya, Andi (Donny Alamsyah), langsung menemui Bunawar (Cok Simbara) yang ternyata adalah pimpinan divisi anti korupsi internal kepolisian. Bunawar menawarkan perlindungan bagi Rama dan keluarganya dengan syarat dia mau masuk ke divisi yang dipimpin dan menyamar ke organisasi Bangun (Tio Pakusadewo) untuk mengetahui nama- nama polisi korup yang terlibat dalam organisasinya.

Saat itu dunia hitam Jakarta dibagi ke dalam 2 kelompok mafia. Yang satu dipimpin oleh Bangun, dan yang satu lagi dikuasai oleh Yakuza di bawah pimpinan Goto (Kenichi Endo). Tersebutlah seorang mafia kecil yang ingin menjadi pimpinan tunggal dunia kriminal. Dia adalah Bejo (Alex Abbad). Mengetahui hal ini, Rama yang tadinya menolak, jadi menyetujui untuk bergabung ke dalam divisi Bunawar. Karena ternyata Rama memiliki dendam pribadi terhadap Bejo.

Rama-pun dijebloskan ke penjara untuk mendekati anak tunggal Bangun yang bernama Uco (Arifin Putra). Lambat laun kedekatan mereka menjadi semakin akrab, dan Rama diterima di organisasi Bangun. Selama menjalani misinya, Rama menjadi semakin bimbang. Kesetiaannya pun dipertanyakan. Apakah dia tetap menjadi seorang polisi yang menyamar, atau apakah hidupnya makin terbawa ke dunia kriminal.

Review:

Image

Terjebak dalam genre yang begitu- begitu saja, Indonesia telah diselamatkan oleh film keluaran 2011 (yang penayang di Indonesia kemudian diundur menjadi 2012) berjudul The Raid. Tanpa diduga, The Raid menjadi sebuah hits di Indonesia. Bukan hanya itu, The Raid, yang awalnya memiliki judul lokal Serbuan Maut ini telah membawa nama Indonesia ke industri perfilman dunia. Memang untuk sebuah film kelas festival, Indonesia telah memiliki judul- judul semacam Pasir Berbisik atau Nagabonar, Sang Penari, Sang Kiai, dan judul- judul lain yang sempat didaftarkan untuk masuk ke jajaran nominasi Best Foreign Language Film dalam ajang paling bergensi insan perfilman dunia. Namun untuk sebuah sajian pop corn movie baru The Raid- lah yang berhasil membuka mata dunia, bahwa Indonesia masih bisa buat film. Hingga sekarang film ini masuk ke dalam kategori cult.

Image

Kesuksesan The Raid berimbas pula bagi aktor- aktornya. Nama- nama seperti Iko Uwais dan Joe Taslim sempat menjajal bermain dalam film Hollywood. Gareth Evans juga sempat mengisi salah satu segmen film V/H/S 2. Sebenarnya kolaborasi trio Gareth- Iko- Yayan untuk sebuah film bioskop dimulai dari film Merantau yang sayangnya ketika beredar tidak banyak yang tahu. Mungkin dikarenakan banyaknya masyarakat Indonesia yang antipati dengan film Indonesia. Baru ketika The Raid sukes, film Merantau mendapat atensi tersendiri dari penonton- penonton yang pengen lihat “film pertamanya Iko“.

Image

Namun yang namanya sebuah kesuksesan bukan berarti tidak akan menemui halangan. Banyak kalangan- kalangan yang sinis menganggap The Raid bukan film Indonesia, hanya karena sutradaranya bule. Tapi anehnya mereka mengamini waktu dibilang film Brokeback Mountain dan The Sixth Sense adalah film Amerika. Mungkin mereka lupa googling kali ya untuk lihat kedua film tersebut sutradaranya orang apa.

Image

Naskah Berandal sendiri sebenarnya sudah siap dan akan difilmkan setelah Merantau. Bahkan sebuah teaser sempat dirilis. Namun dikarenakan adanya beberapa masalah, dari kompleksnya penggarapan hingga masalah pendanaan, maka tim Merantau Films memutuskan untuk membuat sebuah film lain dengan judul Serbuan Maut, yang kemudian diganti menjadi The Raid. Strategi yang dipakai adalah dengan mem-familiar-kan cerita bagi masyarakat internasional. Seperti seragam pasukan khusus dan penamaan salah satu karakter dengan menggunakan bahasa Inggris. Lalu sebelum resmi diedarkan di dalam negeri, film The Raid dimasukkan ke festival- festival luar yang Alhamdulillah mendapat respon positif di setiap penayangannya, hingga Sony Pictures Classic mau membeli hak edarnya.

Image

Dengan adanya kesuksesan The Raid, yang akhirnya diputuskan untuk menjadi sebuah trilogi dengan Berandal menjadi seri keduanya, sudah pasti akan memodifikasi sedikit naskah Berandal sehingga bisa masuk ke jalinan kisah yang telah dibangun oleh The Raid. Untuk menghindari pengulangan, Gareth Evans memutuskan untuk mengambil langkah yang pernah dilakukan oleh franchise The Fast and The Furious, yaitu merubah sedikit konsep cerita untuk menghindari kejenuhan penonton. Memang salah satu kritikan yang cukup populer dari film The Raid dulu adalah miskinnya cerita dan menonton film itu hanya seperti main game yang harus melawan musuh dari satu level ke level berikutnya sampai akhirnya harus melawan bos.

Image

Di The Raid 2: Berandal untuk menghindari kritikan yang sama, maka naskah filmpun lebih diperhatikan. Memang perbedaan yang paling mencolok dengan predesornya adalah dari segi naskah. The Raid 2: Berandal lebih memiliki cerita dibandingkan The Raid. Bagi anda yang suka dengan drama- drama kriminal, khususnya keluaran Asia pasti akan sangat akrab dengan tema yang diangkat oleh Berandal. Fokus cerita yang lebih mendalam bukan berarti The Raid 2: Berandal menjelma menjadi sebuah film yang boring. Namun malah menjadi sebuah crime drama yang menarik. Meskipun di beberapa scene masih terasa cukup dragging.

Image

Banyaknya penggunaan cast- cast, baik senior maupun pendatang baru yang sebagian besar sudah memiliki nama di Indonesia, ditambah 3 aktor Jepang, merupakan tantangan sendiri. Karena jika naskah tidak memberikan porsi yang baik bagi masing- masing mereka, pasti terasa seperti tempelan belaka. Dan meskipun nama- nama beken tersebut hanya memiliki satu- dua scene saja, namun karakteristik yang ditempelkan cukup baik dan mampu membekas di benak penonton.

Image

Penggunaan elemen drama juga menjadi tantangan tersendiri bagi aktor- aktor action yang biasanya hanya mengandalkan tinju dan tendangan saja. Iko Uwais dan Yayan Ruhian berhasil menjawab tantangan tersebut dengan baik. Iko mampu memberikan emosi yang baik untuk beberapa adegan. Sementara kang Yayan, di luar dugaan, bisa memberikan akting yang cukup menyentuh. Meski jangan disamakan dengan kualitas akting piala Citra, namun untuk ukuran aktor yang biasanya hanya berakting bak- bik- buk, apa yang ditampilkan kang Yayan di sini sudah cukup baik.

Image

Dari jajaran cast tambahan nama- nama seperti Arifin Putra dan Oka Antara. Arifin Putra, meskipun tadinya besar di dunia sinetron, namun semenjak tampil di Rumah Dara, aktingnya cukup diperhitungkan. Khususnya untuk film- film yang mengandung unsur kekerasan. Di sini Arifin mampu menampilkan karakter arogan yang memiliki daddy issues.  Oka Antara, yang baru saja tampil cukup baik lewat Killers ternyata mampu memberikan tampilan untuk karakter yang berbeda. Dan dia bisa membuktikan bahwa dia bisa juga tampil baik di action mengingat CV nya mostly untuk film drama saja. Selain itu Alex Abbad mampu memerankan karakter antagonis utama yang cukup menyebalkan. Sayangnya aktor- aktor Jepang yang dipakai hanya seperti syarat karena memiliki kerjasama dengan Jepang saja.

Image

Jika di The Raid ada Mad Dog dan machete gank yang mewakili karakter psikopat pembunuh dengan template khas tarantino-esque, di sini ada 4 karakter pembunuh baru yang masing- masing memiliki ciri khasnya masing- masing. Yayan Ruhian, untuk mengikuti petisi para fans kembali memerankan karakter baru bernama Prakoso yang uniknya memiliki unsur drama yang cukup kental. Mungkin itu juga yang membedakan kenapa hanya Prakoso saja karakter pembunuh di universe The Raid yang tidak memiliki nama panggilan. Sementara yang lainnya memiliki julukan seperti Mad Dog, Assassin, Hammer Girl, dan Baseball Bat Man. Penampilan kang Yayan di sini sepertinya terpaksa harus mengalah untuk memperkenalkan jagoan silat baru bernama Cecep Arif Rahman yang berperan cukup baik sebagai Assassin. Kang Cecep bisa membawakan karakter seorang pembunuh berdarah dingin yang minim bericara namun sadis dalam bertindak.

Image

Lalu ada pasangan kakak- adik pembunuh, Hammer Girl dan Baseball Bat Man yang diperankan oleh Julie Estelle dan Very Tri Yulisman. Dalam menghidupkan Hammer Girl, Julie telah bagus memberikan aura sadisnya. Dia bisa mengkombinasikan beauty dan deadly dengan baik. Dan meskipun tidak memiliki background fighting sama sekali, namun adegan- adegan laga yang diperankannya cukup meyakinkan. Very Tri Yulisman cukup cool menjadi Baseball Bat Man. Tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya selain kang Yayan, Very termasuk aktor yang sempat tampil di The Raid namun memerankan karakter yang berbeda.

Image

Adegan fighting dan action scene digarap lebih heboh. Jika dulu hanya melibatkan pertarungan tangan kosong, senjata api, serta senjata tajam saja, di sini Gareth coba mengesplor lebih jauh dengan melibatkan car chase. Dan aksi kejar- kejaran mobil tersebut sangat seru, bahkan bisa disejajarkan dengan film- film Hollywood. Dan siapa yang tidak naik adrenalinnya melihat adegan mud fighting yang benar- benar seru dan keren.

raid2_47

Koreografi yang kembali ditangani oleh Iko dan kang Yayan menawarkan pergumulan yang lebih sadis dan brutal. Ditambah dengan sinematografi yang memiliki tone berbeda dengan The Raid. Memang sejak film Merantau, sinematografi merupakan satu hal yang bagus namun luput dari pandangan para penonton, karena sudah tenggelam dengan aksi- aksi seru yang ditampilkan.

raid-2-berandal-img02

Namun bukan berarti film ini tidak memiliki kekurangan. Saya masih melihat beberapa plothole, seperti penggunaan salju yang sebenarnya rada aneh untuk setting-an Indonesia. Lalu beberapa plothole lainnya yang untungnya masih tertutup dengan kualitas naskah serta adegan aksi yang sangat seru.

Image

Overall, The Raid 2: Berandal merupakan sebuah action pack crime thriller yang mampu menaikkan level Indonesia, khususnya di dunia perfilman action Internasional. Saya sangat mengharapkan prestasi ini tidak hanya berhenti di geng Gareth saja. Namun juga bisa menular ke sineas- sineas lokal lainnya untuk menciptakan sajian lokal yang mampu dikonsumsi seluruh dunia. Next? Saya berharap, ketika nanti dirilis, The Raid 3 mampu mempertahankan prestasi ini. Dan jika tidak terlalu merepotkan…. spin- off Hammer Girl dan Baseball Bat Man, please… (dnf)

Rating:

9.5/10

Malavita (2013)

Warren: You’re a maniac.

Belle: Thank you.

Image

Directed By: Luc Besson

Cast: Robert De Niro, Michelle Pfeiffer, Dianna Agron, John D’Leo, Tommy Lee Jones

Synopsis:

Demi menghindari tuntutan hukum, seorang mafia bernama Giovanni Manzoni (Robert De Niro) terpaksa melaporkan organisasinya ke FBI. Untuk melindungi keluarganya, dia mengikuti Witness Protection Program di bawah pengawasan agen Robert Stansfield (Tommy Lee Jones) dan kerap tinggal berpindah- pindah tempat. Ketika berada di Normandia, Giovanni yang kali ini merubah identitasnya menjadi Fred Blake harus menghadapi hitman- hitman yang ditugasi membunuh dirinya dan keluarganya, Maggie (Michelle Pfeiffer), Belle (Dianna Agron), dan Warren (John D’Leo).

Review:

Image

Prancis adalah salah satu negara yang memiliki industri perfilman yang cukup maju. Banyak sineas- sineas dan pemain- pemain berbakat Hollywood yang berasal dari negara tersebut. Untuk sineas mungkin yang paling terkenal adalah Luc Besson. Selain dikarenakan cukup produktif, Besson dikenal mampu membuat sebuah film yang sesuai dengan selera penonton yang terbiasa dengan perfilman Hollywood.

Kali ini film yang dibuat diadaptasi dari sebuah novel berjudul Malavita. Film yang di Amerika diedarkan dengan judul The Family ini cukup menarik perhatian dikarenakan jajaran cast nya yang cukup menjanjikan. Dan dari materi trailer sudah terlihat film dibuat dengan gaya dark comedy yang cukup menarik.

Image

First of all, film ini bisa dikatakan sebuah tribute untuk film- film gangster Amerika. Namun dikisahkan dengan cukup unik. Film ini juga benar- benar mengandalkan para cast sebagai daya jual. Dan kelima pemain utamanya benar- benar pas dan bagus dalam menjalankan tugasnya masing- masing. Terlebih kedua bintang mudanya. Dianna Agron bisa memerankan karakter sweet girl yang bisa sadis. Sementara John D’Leo berhasil menjadi center of attention saya di film ini. Aktingnya sebagai seorang anak lelaki “penerus” ayah cukup meyakinkan.

Baik De Niro dan Jones terlihat comfort memerankan karakter yang sudah identik dengan mereka masing- masing. De Niro dengan karakter gangster sadisnya, dan Jones dengan karakter agen pemerintah yang kakunya. Pfeiffer juga bagus dalam memerankan seorang ibu yang tidak kalah psikopat dengan anggota keluarga lainnya.

Image

Namun kelemahan terfatal dari film ini adalah plot cerita yang sepertinya tidak jelas mau dibawa kemana. Mungkin plot semacam ini masih lebih enak jika dinikmati dalam bentuk novelnya saja. Luc Besson dan Michael Caleo sebagai yang bertanggung jawab dalam mengadaptasi skenario kurang mampu memberikan tensi ketegangan dan dialog- dialog cerdas sehingga terasa bosan di beberapa adegan. Beberapa plothole juga terasa cukup mengganggu. Padahal film mobster identik dengan sebuah film cerdas yang seringkali dilirik juri festival.

Untuk adegan sadis dan eksyennya saya rasa cukup nanggung. Aneh sepertinya mengingat sang produser, Martin Scorsese sebenarnya bisa memberikan masukan bagaimana untuk membuat sebuah mobster family yang baik mengingat dirinya sudah puas malang melintang membuat film serupa.

Image

Walhasil, film Malavita menjadi sebuah sajian serba tanggung yang sebenarnya bisa dibuat istimewa mengingat memiliki plot cerita unik dan jajaran cast yang sangat menjanjikan. Ohya, ada satu hal yang cukup menggelitik. Di mana karakter yang diperankan oleh Robert De Niro diajak nobar film Goodfellas. Seperti kita ketahui film tersebut disutradarai oleh Martin Scorsese dan dibintangutamai oleh Robert De Niro. (dnf)

Rating:

7/10