BEYOND SKYLINE (2017)

Poster

Directed By: Liam O’Donnell

Cast: Frank Grillo, Bojana Novakovic, Iko Uwais, Yayan Ruhian, Jonny Weston, Jacob Vargas, Antonio Fargas, Callan Mulvey

Synopsis:

Kota Los Angeles diserang oleh pesawat luar angkasa. Alien tersebut menculik manusia untuk diambil otaknya dan dijadikan tentara kloningan Alien. Beberapa di antara warga yang ikut terculik adalah seorang polisi dan anaknya; Mark (Frank Grillo) dan Trent (Jonny Weston), masinis kereta Audrey (Bojana Novakovic), dan veteran perang Sarge (Antonio Fargas). Mereka berhasil membuat pesawat Alien tersebut jatuh di Laos.

Merekapun akhirnya diselamatkan oleh gerombolan pemberontak yang dipimpin oleh Sua (Iko Uwais) dan Harper (Callan Mulvey) yang juga merupakan sindikat perdagangan obat bius dan menjadi musuh bebuyutan The Chief (Yayan Ruhian), seorang tentara pemerintahan yang bertugas membasmi para pemberontak tersebut.

Review:

1

Ketika mendapatkan kabar bahwa 2 bintang laga lokal yang sudah Go International ikut dalam sebuah proyek film Sci- Fi, tidak sedikit moviegoer Indonesia yang menyambutnya dengan penuh harapan dan suka cita. Namun ketika mendengan bahwa film tersebut berjudul Beyond Skyline yang notabene adalah sekuel dari film Skyline yang rilis tahun 2010, saya pribadi mulai agak sedikit kecewa. Pasalnya film tersebut sangatlah buruk. Meskipun secar finansial menguntungkan dan mendapatkan laba hampir 8 kali dari budget hanya untuk peredearan domestik US saja, namun secara kualitas sangatlah buruk. Bisa dikatakan termasuk salah satu film yang forgettable. Tapi ya gimana, toh kita tetap harus mendukungkan? Apalagi syutingnya di beberapa obyek pariwisata di sekitaran Jawa Tengah.

2

Mengingat semengecewakannya film pertama, saya menonton film keduanya dengan ekspektasi yang rendah. Namun hasilnya ternyata masih cukup oke. Tidak bisa dikatakan wah, tapi untuk ukuran sebuah film yang bukan dari major studio, masih bisa dikatakan cukup menghibur. Dari segi naskah cukup ada peningkatan, meski masih banyak sekali plothole dan kemiripan dengan film- film sejenis. Beberapa hal sebenarnya masih bisa ditingkatkan. Seperti hubungan dan chemistry antar karakter. Contohnya hubungan ayah- anak Mike dan Trent yang tidak terlihat peduli satu sama lain. Bahkan ketika maut mengancam sekalipun.

3

Topi perlu diangkat untuk Liam O’Donnell yang berhasil membuat gebrakan dengan menghadirkan adegan yang lebih masif ketimbang film pertamanya. Belum lagi dengan pilihannya untuk memakai Frank Grillo, yang memang sedang naik daun di Hollywood sana paska keterlibatannya di MCU dan franchise The Purge. Special effect yang diolah dengan cukup apik juga menambah kesan tersendiri untuk film ini. Namun yang membuat film ini semakin seru adalah dengan terpilihnya Iko Uwais dan Yayan Ruhian sebagai fight coreographer yang ternyata dipadukan dengan adegan invasi alien malah efektif menjadi nilai plus dan pembeda film ini dengan film- film sejenis. Bisa dibilang ini adalah nilai jual tersendiri setelah kehadiran Frank Grillo. Mengingat demam The Raid belum juga pudar di Hollywood, dan pengaruhnya juga masih kerasa di beberapa film besar.

4

Sebagai sebuah hiburan film ini cukup berhasil, meski jangan terlalu berekspektasi seperti film sci-fi Alien macam Predator, Alien, atau Attack The Block. Namun sebagai sebuah harapan baru bagi Indonesia agar lebih dikenal dunia, sudah bisa dikatakan cukup berhasil. Lupakan masalah skenario yang masih perlu tambal sulam di sana- sini. Dan saksikan bagaimana pencak silat bisa memukul balik invaasi mahluk luar angkasa. (dnf)

Rating:

7/10

 

Advertisements

In The Heart of The Sea (2015)

Owen Chase: Look where we find ourselves. What offense did we give God to upset him so.

Poster

Directed By: Ron Howard

Cast: Chris Hemsworth, Benjamin Walker, Cillian Murphy, Tom Holland, Ben Whishaw, Brendan Gleeson

Synopsis:

Seorang novelis, Herman Melville (Ben Whishaw) mendatangi seorang lelaki tua, Thomas Nickerson (Brendan Gleeson) untuk melakukan riset tentang kejadian legendaris kapal Essex, yang diisukan tenggelam diserang oleh seekor paus sembur raksasa.

Cerita bergulir beberapa puluh tahun sebelumnya ketika, Thomas muda (Tom Holland) baru berusia 14 tahun menjadi awak kapal Essex, yang dikapteni oleh seorang keturunan bangsawan, George Pollard, Jr. (Benjamin Walker) dan memiliki kelasi kelas satu, Owen Chase (Chris Hemsworth) dan Matthew Joy (Cillian Murphy).

Dikarenakan ambisi mereka untuk membawa sebanyak mungkin minyak ikan paus, merekapun akhirnya pergi jauh ke sebuah perairan yang disinyalir memiliki ratusan ikan paus. Hanya saja tanpa mereka ketahui, ternyata kawanan paus tersebut dijaga oleh seekor paus raksasa, yang akan menjadi momok sangat mengerikan bagi seluruh awak kapal Essex.

Review:

1

Moby Dick adalah sebuah judul novel terkenal karangan Herman Melville yang sudah menjadi salah satu bacaan wajib bagi para pecinta literatur klasik. Sedikit plot mengenai kisah tersebut adalah tentang seorang kelasi muda, Ishmael yang menceritakan pengalamannya bertugas di kapal Pequod, yang dikomandoi oleh Captain Ahab, yang memiliki ambisi untuk memburu Moby Dick, seekor paus raksasa yang pernah menenggelamkan kapalnya dan menghilangkan kakinya. Tidak banyak yang tahu jika kisah tersebut dibuat atas dasar kekaguman Melville kepada kisah tragis kapal Essex yang ditenggelamkan oleh seekor paus raksasa. Salah satu survivor, Owen Chase, menyewa seorang penulis bayangan untuk mengabadikan kisahnya ke dalam sebuah buku berjudul Narrative of The Most Extraordinary and Distressing Shipwreck of Whale- Ship Essex, dan melalui tulisan inilah novel Melville mendapatkan inspirasi untuk Moby Dick. Lalu beberapta tahun kemudian, Thomas Nickerman menuliskan sebuah biografi berjudul The Loss of The Ship Essex Sunk by a Whale and The Ordeal of The Crew in Open Boats. Namun sayangnya, manuskrip tersebut hilang dan baru ditemukan dan dipublikasikan seabad kemudian, yaitu tahun 1984. Dengan menggunakan resensi dari kedua buku tadi, pada tahun 2000, Nathaniel Philbrick menerbitkan sebuah adaptasi lagi berjudul In The Heart of The Sea: The Tragedy of The Whaleship Essex.

2

Jika ditilik dari materi promosi, baik dari trailer maupun poster yang sudah dipublikasikan dari awal tahun ini, tidak sedikit yang menantikan film In The Heart of The Sea menjadi sebuah film monster, layaknya kisah Moby Dick, yang sudah kadung lebih terkenal. Namun jauh dari bayangan tersebut, gambaran mengenai men vs monster hanya ditampilkan sedikit sekali. Sehingga bagi mereka yang mengharapkan aksi layaknya Alan Grant vs Raptor, atau Jack Driscoll vs King Kong, atau si sexy Jennifer Lopez lawan Anaconda, sudah pasti akan kecewa. Namun bagi mereka yang haus akan sebuah film berbobot kualitas Oscar, bisa jadi In The Heart of The Sea menjadi sebuah sajian yang memuaskan.

3

Saya mencatat setidaknya ada 2 hal yang menjadi kekuatan besar dari film ini. Yang pertama adalah akting. Nyaris keseluruhan cast mampu mengeluarkan kemampuan aktingnya yang top notch dalam film ini. Dan jika ingin menyorot nama- nama yang paling bersinar kita bisa menyebutkan Benjamin Walker dan Tom Holland yang benar- benar mencuri perhatian. Kenapa saya menyebutkan kedua nama tersebut? Karena memang jika dibandingkan nama- nama lainnya, kedua nama ini yang masih belum terlalu terkenal. Benjamin Walker, sempat menuai pujian lewat aktingnya sebagai versi alternatif dari Abraham Lincoln yang gemar memburu vampire. Lalu Tom Holland, yang meskipun belum terkenal, namun namanya termasuk salah satu yang sedang diperbincangkan di tahun ini karena akan memakai kostum Spider- Man dalam sekuel Captain America tahun depan. Holland sempat menuai pujian juga sebagai si sulung yang berusaha bertahan hidup paska terkena tsunami di Thailand lewat The Impossible.

4

Dibandingkan nama- nama di atas, jajaran pendukung lainnya mungkin sudah lebih dikenal dan aktingnya juga sudah teruji. Cillian Murphy misalnya. Meskipun gagal mendapatkan peran Batman dan kalah oleh Christian Bale, namun kemampuannya mampu mencuri perhatian Nolan sehingga memberinya peran Scarecrow, dan menjadi satu- satunya villain yang muncul di keseluruhan seri The Dark Knight. Lalu ada Brendan Gleeson, yang memang sudah cukup terkenal dan kemampuan akting wataknya sudah tidak perlu diragukan lagi. Lalu ada Ben Whishaw yang mampu mencuri perhatian lewat Perfume: The Story of A Murderer, dan kemudian mulai menapakkan karirnya lewat peran Q dalam 2 seri James Bond terakhir. Bahkan Chris Hemsworth pun mampu membuktikan dirinya bisa melepaskan bayang- bayang sang dewa petir dan membuktikan untuk kedua kalinya, dirinya mampu memerankan karakter real setelah sukses lewat Rush yang juga disutradarai oleh Ron Howard.

5

Yang kedua adalah visual yang benar- benar bisa menimbulkan decak kagum. Hasil kerja Anthony Dod Mantle sebagai sinematografer sekali lagi bisa menampilkan tone sendu, seperti yang pernah dibawanya lewat Rush. Visual effet juga menjadi salah satu unsur kekuatan film ini. Visualisasi akan ikan- ikan paus, badai, serta kengerian samudera, mampu membuat penonton terbawa akan suasana hati ikut merasakan horor yang dialami para tokoh. Menurut komentar rekan- rekan saya yang menyaksikan film ini dalam format IMAX 3D, katanya film ini sangat- sangat worth it disaksikan dalam format tersebut. Namun sayangnya saya menyaksikannya dalam format reguler 2D. Sehingga efek 3D yang katanya sangat bagus baik dalam depth maupun pop-up tidak bisa saya rasakan.

6

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya di atas, In The Heart of The Sea merupakan sebuah sajian berbobot yang jauh dari bayangan men vs monster. Karena inti dari film ini adalah survival dan efek dari keserakahan manusia. Dengan pendekatan serealitis mungkin, tidak heran jika nantinya juri Oscar akan melirik film ini untuk mendapatkan nominasi naskah adaptasi terbaik. Dan dengan memiliki jejalan akting- akting yang sangat keren, saya akan heran jika nantinya tidak ada satupun aktor yang dilirik untuk mendapatkan nominasi peran terbaik, baik itu utama maupun pendukung. (dnf)

Rating:

8/10

Everest (2015)

Scott Fischer: You know what they say? It is not the altitude, it’s the the attitude.

Poster

Directed By: Baltasar Kormakur

Cast: Jason Clarke, Josh Brolin, Robin Wright, Emily Watson, Keira Knightley, Sam Worthington, Jake Gyllenhaal, John Hawkes, Naoko Mori, Michael Kelly, Martin Henderson, Thomas M. Wright, Elizabeth Debicki

Synopsis:

Beberapa kelompok pendaki gunung Everest yang diantaranya dipimpin oleh Rob Hall (Jason Clarke), Anatoli Bukreev (Ingvar Eggert Sigurdsson), dan Scott Fischer (Jake Gyllenhaal) melakukan ekspedisi pendakian komersil di puncak tertinggi di bumi tersebut. Mereka harus melawan cuaca ekstrim sekaligus medan berat untuk membawa klien- klien yang di antaranya terdiri dari Doug Hansen (John Hawkes), Jon Krakauer (Michael Kelly), Yasuko Namba (Naoko Mori), dan Beck Weathers (Josh Brolin) sampai ke puncak. Namun tanpa disadari, ini adalah pendakian terberat mereka yang bisa berujung kepada kematian.

Review:

1

Gunung Everest merupakan salah satu situs yang diaggap sebagai keajaiban dunia yang terbentuk secara alami. Memiliki catatan resmi ketinggian 8,848 meter, menjadikan Gunung Everest, yang terletak di pegunungan Himalaya menjadi puncak tertinggi jika diukur dari permukaan laut. Dikarenakan medannya yang begitu sulit serta julukannya sebagai puncak tertinggi, kontan tidak sedikit pendaki- pendaki profesional yang mencatat “menaklukan puncak Everest” sebagai salah satu dari “Things to do before I die”- nya. Bukan hanya itu, pendaki- pendaki amatir atau turis- turis yang tidak memiliki skill terlalu tinggi juga ingin merasakan sensasi mendaki gunung Everest. Meskipun tidak sampai ke puncak dan menancapkan bendera atau menulis misalnya tulisan “Munaroh + Mandra = Top 2015”, namun tidak sedikit yang menjadikan gunung ini menjadi salah satu sasaran target travelling para turis. Untuk itu tidak sedikit pendaki profesional yang menginvestasikan dananya untuk membuka jasa tour travelling ke gunung Everest yang sengaja disediakan untuk para pelancong dan pendaki amatir tersebut.

2

Film Everest diangkat dari sebuah novel non fiksi berjudul Into Thin Air yang ditulis oleh Jon Krakauer, yang merupakan salah satu saksi hidup kejadian di tahun 1996 tersebut. Buku yang menceritakan tentang musibah yang memakan korban di gunung Everest dalam 1 hari tersebut dengan memakan 8 korban (sebelum akhirnya dikalahkan oleh gempa di tahun 2015 yang memakan 19 korban) sempat menimbulkan kontroversi. Pasalnya, beberapa penjelasan dalam buku tersebut seperti menyudutkan Anatoli Bukreev yang digambarkan memiliki kesalahan dalam mengambil keputusan profesional. Namun pendaki profesional dari Rusia tersebut menjawabnya dengan sebuah buku berjudul The Climb. Buku ini dianggap sebagai salah satu bacaan wajib para pendaki, khususnya yang memiliki impian untuk menaklukan gunung Everest. Sebenarnya film Everest bukanlah usaha pertama kali memfilmkan buku Into Thin Air ini. Sebelumnya di tahun 1997 telah diadaptasi menjadi film TV dengan judul Into Thin Air: Death on Everest.

3

Hanya dengan melihat posternya saja sudah menjadi jaminan film ini bakal dihiasi oleh akting dengan kualitas terbaik. Pasalnya film yang memiliki ensemble cast banyak dan menarik ini melibatkan nama- nama jaminan kualitas akting yang apik di era sekarang. Sebut saja nama- nama seperti Josh Brolin, Jake Gyllenhaal, dan Jason Clarke yang diamini memiliki karir yang cukup baik pada tahun- tahun belakangan ini. Dan untuk menjadi pemanis film terpilihlah Keira Knightley sebagai istri karakter Jason Clarke. Dan memang benar, kualitas akting menjadi salah satu acungan jempol dan nilai jual film ini. Khususnya Josh Brolin dan Jason Clarke yang mampu memainkan emosi dengan sangat baik. Padahal jika diteliti (CMIIW), ini adalah kali pertamanya Jason Clarke memegang peran utama dalam sebuah film. Sam Worthington, yang sempat diprediksi bakal menjadi bintang besar lewat Terminator: Salvation namun tenggelam paska Avatar membuktikan dirinya masih mampu memiliki masa depan yang cerah di dalam industri perfilman. Lewat perannya sebagai Guy Cotter, Sam bermain cukup meyakinkan.

maxresdefault

Sinematografi yang dipercayakan kepada Salvatore Totino juga menjadi kunci keindahan film ini. Totino mampu menangkap kemegahan serta keindahan gunung Everest yang menawan. Gimmick 3D yang diusung oleh film ini juga bukan main- main. Meskipun tidak terlalu banyak, namun efek depth yang dihasilkan cukup memuaskan. Apalagi ketika memilih format IMAX untuk menyaksikan film ini. Dengan layar yang sangat lebar, format IMAX mampu memanjakan mata dengan pesona gunung Everest yang terlihat sangat megah. Special effect juga menjadi salah satu kuncian penting dalam film ini dengan menampilkan badai salju yang cukup mengerikan.

5

Hanya saja bagi yang menginginkan sebuah sajian thriller mencekan sudah harus siap- siap kecewa. Pasalnya Baltasar Kormakur terlalu sibuk dengan sisi drama dan pengembangan karakter, sehingga adegan- adegan menegangkan yang “dijual” lewat trailer tidak disajikan dengan sangat efektif. Seperti sekedar tempelan belaka. Penonton kurang mendapatkan feel menegangkan ketika para karakter harus berhadapan dengan badai salju, yang sebenarnya bisa menjadi puncak klimaks film ini. Entah ingin menggambarkannya serealitis mungkin atau ingin mendekatkan diri dengan efek dokumenter, tempelan disaster atau man vs nature hanya sekedar tempelan dan jika dibandingkan dengan film, let’s say, Cliffhanger atau Vertical Limit sangat kalah jauh. Mungkin juga memang naskah yang ditulis oleh William Nicholson dan Simon Beaufoy ini hanya berfokus kepada elemen- elemen dramanya saja.

6

Everest akhirnya menjadi sebuah film survival yang lebih mengedepankan drama ketimbang thirller-nya. Meskipun sempat menipu lewat jualan thriller lewat trailer-nya, namun ternyata kepuasan menyaksikan film ini didapat dari adu akting setiap pemain ditambah dengan lanskap- lanskap indah yang tersaji sempurna dalam sinematografi yang appik. Seharusnya apabila bisa menampilkan thriller aksi yang lebih menegangkan, film dapat menjadi tontonan yang sangat sempurna. Karena justru bahaya gunung serta ancaman maut dalam pendakian gunung tertinggi yang menjadi impian banyak orang ini, merupakan hal yang lebih menarik ditampilkan dalam genre sejenis ketimbang unsur drama yang berlebihan. Seraya dapat menimbulkan pertanyaan di akhir film. Pertanyaan bagi orang awam setelah mengetahui bahanya mendaki gunung Everest. Pertanyaan yang bisa kita lemparkan kepada para pendaki. Pertanyaan yang cocok kepada para penjelajah. Pertanyaan yang dilemparkan oleh karakter John Krakauer. “Why Everest?”

Rating:

7/10

San Andreas (2015)

Lawrence Hayes: The earth will literally crack and you will feel it on the east coast.

url

Directed By: Brad Peyton

Cast: Dwayne Johnson, Alexandra Daddario, Carla Gugino, Ioan Gruffud, Paul Giamatti, Hugo Johnston- Burt, Art Parkinson, Kylie Minoque, Will Yun Lee

Synopsis:

Sebuah gempa menghantam daerah Colorado dan menghancurkan Hoover Dam. Seorang ahli, Lawrence Hayes (Paul Gimatti) memperkirakan akan adanya aktivitas tektonik di patahan San Andreas yang akan menghasilkan gempa sangat tinggi. Karena itu, dia memperingati warga pesisir pantai barat Amerika Serikat agar segera evakuasi dan menyelamatkan diri.

Seorang komandan regu penyelamat dari kesatuan pemadam kebakaran, Ray Gaines (Dwayne Johnson) berusaha menyelamatkan diri di tengah hantaman gempa bumi berkekuatan dahsyat tersebut sambil menyelamatkan istrinya, Emma (Carla Gugino) dan Blake (Alexandra Daddario).

Review:

afqeffqwe

Banyak yang salah tangkap ketika Dwayne Johnson diberitakan terlibat dalam sebuah proyek film berjudul San Andreas. Khususnya gamer yang menginginkan salah satu franchise video game terkenal untuk difilmkan, Grand Theft Auto. Karena memang salah satu seri GTA berjudul Grand Theft Auto: San Andreas. Namun sebenarnya “San Andreas” yang dimaksud bukanlah kota fiktif dalam universe game tersebut. Namun mereferensi patahan San Anderas yang membujur sepanjang 1.300 km membelah wilayah California. Patahan San Andreas terdiri dari 3 segmen yang masing- masing memiliki tingkat risiko gempa berbeda- beda. Patahan San Andreas pertama kali ditemukan oleh seorang profesor dari Berkeley University, Andrew Lawson pada tahun 1895. Nama San Andreas sendiri diambil dari Laguna De San Andreas, sebuah danau yang berada di sekitar patahan tersebut. Dipercaya bahwa patahan ini mulai terbentuk 30 juta tahun yang lalu.

urlasaaqqqdcz

Sebenarnya apa yang ditawarkan oleh Brad Peyton dalam San Andreas tidak ada yang baru. Formula yang digunakan sudah kerap kali dipakai oleh film- film disaster sejenis. Pamer CGI, sudut pandang protagonis sebagai salah satu korban yang mencari keluarganya, ahli yang meneliti tentang bencana besar tersebut, dan yang pasti balutan melodrama untuk menggambarkan dampak bencana alam yang dialami. Film- film semacam 2012, The Day After Tomorrow, Dante’s Peak, serta yang baru saja kita saksikan, Into The Storm memiliki formula yang tidak jauh berbeda. Jadi apa yang ditawarkan dalam sebuah film disaster movie baru? Selain tentunya faktor bintang utama yang harus memakai nama besar, balutan CGI juga dirasakan perlu untuk menarik minat penonton.

maxresdefault

Jika menilik dari faktor- faktor tersebut, San Andreas sudah mencukupi syarat marketing untuk dapat menutupi kebosanan penonton dengan genre yang sempat menjadi trend di tahun 90-an ini. Dwayne Johnson sendiri memiliki star factor yang mendongkrak kesuksesan sebuah film dalam tangga Box Office. Tidak salah jika dia dijuluki sebagai penyelamat franchise. Selain itu CGI dan Special Effect yang disajikan juga mendukung untuk menarik minat penonton. Adegan- adegan seperti tsumami, gempa bumi, dan adegan- adegan Emmerich-esque lainnya membuktikan film ini pantas disebut sebagai summer movie. Efek kengerian dari adanya bencana alam mampu dirasakan penonton. Terlebih lagi dipadu dengan sound editing yang mumpuni yang mengharuskan kita memilih bioskop dengan kualitas suara jempolan untuk dapat lebih menikmati film ini.

qrfaaa

Namun salah satu faktor terpenting yang bisa membuat kita relate dengan keadaan para karakter di layar adalah faktor drama. Character development serta aspek drama tidak begitu diperhatikan. Memang sih, mayoritas orang melihat special effect-nya dalam sebuah film bencana alam. Namun tidak salah jika aspek drama juga diperhatikan. Skrip yang lemah membuat kita tidak terlalu perduli dengan nasib para karakter utama di layar. Beda dengan film seperti The Impossible yang kita ikut berempati dengan nasib protagonis. Saya berkata seperti ini karena saya menganggap sebuah disaster movie terbagi menjadi 2. Satu yang fun pendekatannya kepada sisi aksi. Yang kedua pendekatannya ke sisi drama. Dan faktor keluarga serta masa lalu Ray yang gagal menyelamatkan anaknya sudah mengindikasikan film ini akan lebih menggunakan approach dramatisasi dalam mengembangkan ceritanya. Seharusnya jika memang script tidak mampu mendukung, bisa menggunakan faktor fun aksi laga ketimbang drama seperti yang dilakukan Jan De Bont dalam Twister.

san-andreas

Lalu jika menilik dari penokohan karakter, memang dibuat serealistis mungkin. Terlihat di sini karakter Ray digambarkan lebih sebagai seorang father ketimbang seorang anggota regu penyelamat. Meskipun di awal film digambarkan kehandalan Ray dalam menyelamatkan seorang gadis, namun ketika bencana alam yang menjadi inti cerita mulai hadir, terlihat tidak ada usaha Ray dalam menyelamatkan orang- orang lain. Fokusnya hanya menyelamatkan anak- istrinya. Mungkin secara realistis ini yang akan kita lakukan semua. Tidak perduli orang mau mati apa hidup pas bencana alam, gak ada usaha juga untuk mengingatkan orang ketika memilih jalan yang salah, yang penting keluarga dan orang- orang tersayang selamat. Namun untuk sebuah sajian film fiksi, hal ini kurang memberikan efek heroisme serta patriotisme protagonis utama. Seharusnya adalah satu dua adegan yang menggambarkan Ray menyelamatkan orang lain. Ada sih sepasang kakek- nenek yang diselamatkan, namun itu setelah dia mengingatkan Ray dan Emma akan bahaya di depan. Jika ditilik dari sisi heroismenya, pahlawan sesungguhnya adalah sepasang kakak- adik asal Inggris, Ben dan Ollie yang diperankan masing- masing oleh Hugo Johnston- Burt dan Art Parkinson, yang lebih memilih menyelamatkan Blake, yang baru dikenalnya ketimbang mencari orang tuanya sendiri. Secara garis besar, San Andreas berfokus hanya yang penting keluarga Gaines selamat, gak peduli orang- orang yang lain. Toh gak ditolong juga sama jagoannya.

asadq

Dari jajaran cast, hanya Johnston- Burt dan Art Parkinson yang bermain sangat cemerlang. Paul Giamatti cukup pas memerankan seorang expert yang berjasa dalam meramalkan bencana alam yang akan dialami. Dwayne Johnson yang didapuk untuk meningkatkan perolehan box office murni hanya bertindak sebagai peningkat box office. Carla Gugino juga cukuplah sebagai love interest Ray. Mungkin dari “keluarga” Gaines, hanya Alexandra Daddario yang sempat bermain dalam True Detective yang sangat baik memainkan perannya sebagai damsel in distress. (Anyway, kalo ngomongin Daddario kenapa gue ingetnya True Detective ya? Khususnya Season 1 episode 2 ya?)

aqqqsa

Jika anda menilai sebuah film disaster movie secara stereotype harus memiliki tampilan visual yang heboh, film ini sudah cukup memuaskan anda. Untuk usaha pertamanya keluar dari zona aman, Brad Peyton, yang lebih berpengalaman menangani film keluarga, bisa dibilang lumayanlah dalam menghadirkan sebuah film bencana alam. Kesalahan terbesar ada pada Carlton Cuse yang meracik naskah dari hasil buah pemikiran Andre Fabrizio dan Jeremy Passmore. Seperti saya bilang tadi di atas, pendekatan “nilai keluarga” yang diemban tidak dibarengi dengan aspek drama yang menunjang. Sehingga terlihat seperti kehilangan arah. So, jika bukan karena spesial efek yang bagus, San Andreas sudah menjadi sebuah disaster. And such disaster is because of Carton Cuse’s fault. (dnf)

Rating:

7/10

Into The Storm (2014)

Gary: I have to save my son

into_the_storm_xlg

Directed By: Steven Quale

Cast: Richard Armitage, Sarah Wayne Callies, Matt Walsh, Max Deacon, Nathan Kress, Alycia Debnam Carey

Synopsis:

Sebuah kota kecil bernama Silverton terancam akan terkena sebuah bencana alam yang dahsyat. Tanpa disadari para penduduknya, kota tersebut akan terkena serangan angin tornado. Bukan hanya 1, namun beberapa angin tornado yang berkolisi dan titik pertemuannya adalah kota tersebut. Ini akan menjadi bencana tornado terbesar dengan kecepatan 300 mph.

Seorang wakil kepala sekolah bernama Gary (Richard Armitage) beserta anak keduanya, Trey (Nathan Kress), mau tidak mau harus keluar dari bilik perlindungan untuk mencari anak pertamanya, Donnie (Max Deacon) yang terjebak reruntuhan gedung pabrik tua.

Di tengah perjalanan dia bertemu dengan tim pemburu tornado yang dipimpin oleh Pete (Matt Walsh). Setelah berhasil menyelamatkan salah satu anggota tim, Allison (Sarah Wayne Callies), Gary akhirnya bergabung dengan tim tersebut untuk mencari sang anak. Karena disinyalir titik tornado berikutnya adalah reruntuhan pabrik tempat Donnie dan gebetannya, Kaitlyn (Alicia Debnam- Carey) terjebak.

Review:

gary-protects

Disaster Movie adalah sebuah genre film yang menceritakan sepak terjang beberapa kelompok manusia melawan kekuatan alam. Dalam pengembangan artinya, Disaster Movie tidak hanya bercerita tentang manusia melawan bencana alam, seperti gunung meletus, banjir, tsunami, angin topan, tornado, gempa bumi saja. Namun serangan- serangan seperti monster, alien, komputer, dan lain- lainnya dikategorikan sebagai sebuah disaster movie. Bahkan jika kita melihat di situs terpercaya untuk mencari info, wikipedia, mencantumkan film- film seperti Speed, Natural Born Killers, dan Eagle Eye sebagai sebuah disaster movie. Tapi bagi saya pribadi, disaster movie hanya terbatas menceritakan manusia melawan kekuatan alam.

media_into_the_storm_20140327

Disaster Movie sempat menjadi trend di tahun 90-an paska keberhasilan Independence Day. Hampir setiap tahunnya pasti memunculkan sebuah film unggulan yang bertemakan bencana alam. Salah satunya yang cukup memorable adalah film Twister, yang soundtrack- nya sempat menjadi hits di radio- radio. Ketika menyaksikan trailer Into The Storm, tidak sedikit orang yang menyamakan film ini dengan film yang dibintangi oleh Helen Hunt dan Bill Paxton tersebut. Karena memang sama- sama bertemakan serangan tornado.

1395682362000-1SNEAKPEEK-INTO-STORM-MOV-62983740

Untuk membedakan film ini dengan film- film disaster lainnya adalah penggunaan teknik found footage sebagai gaya penuturan. Penuturan semacam ini malah bagi saya pribadi jadi kurang efektif dan berpotensi sebagai sebuah plothole. Sebagai contoh, ketika orang- orang sibuk mengangkat reruntuhan bangunan untuk menyelamatkan korban yang tenggelam, sang kameramen malah tetap sibuk menge-syut film. Nalarnya sih pasti menyelamatkan nyawa orang akan lebih penting dibandingkan sebuah dokumentasi. Namun teknik found footage di beberapa adegan bisa cukup bagus untuk menambah aura kengerian saat para korban terkena serangan tornado.

Into-The-Storm-Still-Farm

Penulis cukup bagus dalam memberikan karakter- karakter yang akan menyegarkan film ini. Meskipun sebenarnya karakter- karakter tersebut sudah sangat biasa dalam template sebuah film disaster. Ada karakter utama yang mencari orang yang disayangi, ada orang yang tidak peduli dengan sesama, ada orang polos yang mati duluan, ada cewek tough yang bisa bertahan di tengah serangan bencana alam, dan bahkan tidak lupa pula menampilkan karakter- karakter jokers yang ditujukan untuk menurunkan tensi penonton di tengah adegan- adegan spektakuler yang tegang.

asafaq

Akting para pemain sebenarnya biasa saja. Bahkan untuk pemain sekelas Richard Armitage dan Sarah Wayne Callis. Justru di beberapa adegan akting Max Deacon cukup menonjol. Khususnya di adegan drama yang untuk ukuran film seperti ini, cukup menimbulkan simpati dan mengharukan.

into-the-storm-2014-07

Secara kualitas suara, film ini cukup juara. Suara angin kencang yang menggelegar cukup menggetarkan bangku bioskop. Sehingga saya sangat menyarankan untuk menyaksikan di bioskop dengan kualitas suara yang mumpuni. Grafik serta efek spesial yang disajikan juga cukup bagus. Mengingat budget yang tidak sebesar budget jika disutradarai Rolland Emmerich.

 

url

So, film Into The Storm berhasil menjadi sebuah disaster movie yang cukup fun. Dengan sajian visual yang cukup “wah” dan campuran karakter- karakter yang cukup komplit, menjadikan film ini memuaskan para penonton. Asal kita jangan berharap terlalu banyak dari segi naskah saja. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

Godzilla (2014)

Dr. Ichiro Serizawa: The arrogance of men is thinking nature is in our control. Not the other way around.

Image

Directed By:  Gareth Edwards

Cast: Aaron Taylor- Johnson, Bryan Cranston, Ken Watanabe, Elizabeth Olsen, Juliette Binoche, Carson Bolde

Synopsis:

Sepulang dari tugasnya di medan perang, Ford Brody (Aaron Taylor- Johnson) mendapat kabar bahwa ayahnya, Joe Brody (Bryan Cranston) ditangkap pihak berwajib di Jepang. Karenanya, belum sempat Ford melepas rindu bersama istrinya, Elle Brody (Elizabeth Olsen) dan anaknya Sam (Carson Bolde), Ford harus langsung pergi ke Jepang untuk menjemput sang ayah. Joe ditangkap karena memasuki wilayah berbahaya untuk menyelidiki fenomena misterius yang pernah menyerang Jepang dan membunuh rekan- rekan kerjanya 15 tahun yang lalu.

Ternyata fenomena aneh tersebut berhubungan dengan eksistensi 2 ekor monster yang menjadikan zat radioaktif sebagai makanannya. Untung saja, ada seekor monster berwujud kadal raksasa yang disebut Gojira, yang sudah dipersiapkan oleh alam sebagai pelindung manusia dari serangan monster- monster mematikan.

Review:

Image

Godzilla (lafal internasional untuk Gojira) tidak pelak menjadi sebuah ikon budaya pop mendunia yang sangat berpengaruh bagi industri- industri hiburan. Khususnya genre kaiju. Hell, it even has its own star in the Hollywood Walk of Fame. Kaiju sendiri adalah sebuah genre film yang menampilkan monster- monster raksasa. Banyak yang menyangka bahwa genre ini berasal dari Jepang. Namun sebenarnya jauh sebelum Godzilla, Gamera, Ultraman dan kawan- kawannya dikreasikan, Hollywood telah lebih dahulu memperkenalkan monster raksasa yang menyerang kota New York di film berjudul King Kong pada tahun 1933. Bahkan jika menilik sejarah, film kaiju pertama Jepang berjudul Wasei Kingu Kongu yang didasari film King Kong dan dirilis pada tahun yang sama. Namun sayangnya, kopi film ini dinyatakan hilang.

Image

Asal- usul penciptaan Gojira it sendiri adalah ketika seorang produser bernama Tomoyuki Tanaka yang gagal membuat film berjudul Eiko Kage- In. Sebagai informasi, Eiko Kage- In rencananya akan dijadikan sebuah film kerjasama bilateral Jepang dan Indonesia yang akan syuting di tanah air sebagai wujud persahabatan kedua negara paska penjajahan pada perang dunia kedua. Namun bagaikan seorang yang habis diselingkuhin sama pacarnya, otomatis tidak akan mau langsung bermaafan dan bertemanan dalam waktu dekat. Pemerintah Indonesia yang masih sakit hati langsung membatalkan visa kru- kru film itu dan film tersebut tidak pernah jadi dibuat. Paska kegagalan tersebut, Tanaka yang kebingungan dalam menemukan ide baru untuk Toho berfikiran untuk membuat sebuah film tentang seekor monster raksasa yang muncul dari samudera Pasifik dan memporak porandakan kota Tokyo. Jadi bisa dikatakan, pemerintah Indonesia ikut andil dalam penciptaan franchise ini. Jika dulu mereka tidak membatalkan visa dan film Eiko Kage- In jadi dibuat, mungkin Tanaka tidak akan mendapatkan ide untuk film Godzilla.

Image

Sebenarnya ini bukanlah kali pertama Hollywood mengangkat franchise Godzilla ke layar lebar. Pada tahun 1956 ada film berjudul Godzilla, King of The Monsters yang merupakan rip– off langsung dari film Gojira. Egoisme bangsa Amerika terlihat jelas dengan memasukan dengan paksa aktor- aktor Hollywood ke dalam film tersebut. Hal yang sama juga dilakukan di film Godzilla 1985 yang merupakan rip off dengan menggabungka footage The Return of Godzilla (1984) produksi Toho dengan adegan- adegan tambahan. Barulah pada tahun 1998, sutradara Roland Emmerich memvisualkan Godzilla ala Hollywood. Sebenarnya dari segi seru- seruan, film ini cukup menarik dan seru. Hanya saja, paska Jurassic Park, mengilhami para penulis naskah untuk membunuh karakter Godzilla yang mirip dinosaurus sebagai karakter antagonis. Keputusan ini menjadi ajang bulan- bulanan para fans. Dan kritikan pedaspun bermunculan dari berbagai pihak. Karena seperti diketahui bahwa Godzilla merupakan karakter anti- hero yang meskipun dalam aksinya menghancurkan gedung tinggi (udah pasti kerugian milyaran Yen dan korban ratusan jiwa), tetap saja dianggap sebagai pahlawan karena memerangi monster jahat.

Image

Karenanya, merupakan sebuah pe- er yang cukup berat bagi sutradara Gareth Edwards (bukan, bukan sutradara The Raid, namanya aja yang hampir bikin rancu) untuk me-reboot film ini tanpa mengecewakan para fans aslinya. Dan untuk menghindari hal ini, produksi film dari mulai penulisan naskah sampai proses editing langsung di bawah pengawasan ketat pihak Toho. Disain karakterpun dibuat lebih setia dengan versi aslinya lengkap dengan raungan khas serta sinar radioaktif yang menjadi senjata andalannya.

Image

Akting dari jajaran cast merupakan salah satu faktor terkuat film ini. Khususnya penampilan Cranston dan Binoche yang mampu memainkan emosi penonton. Chemistry Cranston dengan Taylor- Johnson sebagai pasangan ayah- anak juga cukup baik. Tapi menurut saya pribadi ini dikarenakan kemampuan Cranston dalam membimbing arah akting Taylor- Johnson. Ibarat kata tek- tok akting yang diberikan Cranston kepada juniornya cukup baik. Ini terbukti ketika di adegan- adegan yang mengharuskan sang Kick– Ass beradu akting dengan Walter White. Elizabeth Olsen mampu membuktikan bahwa dirinya mampu menaiki anak tangga kebintangan dengan membintangi film- film besar. Paka Godzilla, tahun depan Olsen akan membintangi The Avengers: Age of Ultron sebagai saudari kembar Aaron Taylor- Johnson.

Image

Storytelling film ini tanpa disadari terpengaruh oleh gaya penceritaan Nolan yang cenderung agak berat. Ya gak usah malu mengakuinya, karena emang paska kesuksesan The Dark Knight Trilogy, banyak film- film blockbuster yang menampilan tone serius ala Nolan. Dan dengan memilih gaya Nolan-esque macam ini unsur dramapun akan otomatis lebih berat. Selain itu Max Borenstein dan David Callaham sebagai penulis naskah mampu memainkan emosi penonton dengan baik, meskipun di beberapa scene terasa cukup dragging. Adegan pertarungan para monster ditampilkan dengan metode tarik- ulur (lu kira cinta nep, pake tarik ulur?). Namun ketika adegan fighting akhirnya muncul, benar- benar seru dan jaw- breaking abis. And Godzilla’s finishing move…. it is so EPIC….

Image

Namun kekurangan dari segi naskah adalah minimnya origins Godzilla itu sendiri. Berbeda dengan origins para villain yang lebih ditail diceritakan. Asal- usul sang kadal raksasa hanya diceritakan sekilas dan terkesan “yang penting ada asal- usulnya”.

Gaya visualisasi yang berfokus pada tone- tone gelap menambah unsur Nolan-Esque film ini. Berbeda dengan Pacific Rim yang lebih cenderung bernuansa heavy metal, di sini aura desperate serta hopeless dimainkan dengan permainan warna serta asap- asap kabut yang pantas diacungi jempol.

Image

Overall, Godzilla versi baru ini merupakan sebuah homage bagi para fans dan penebusan dosa Hollywood terhadap Jepang yang sempat melakukan pembunuhan karakter terhadap sang raja monster. Efek bombastis, storytelling yang kuat, serta visualisasi yang apik merupakan perpaduan yang kuat untuk menciptakan sajian musim panas bermutu. Sekuel? Well, ending film ini memang sangat membuka pintu pembuatan sekuel terbuka lebar. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

Pompeii (2014)

Gladiators: For those who about to die, we salute you

Image

Directed By: Paul W.S. Anderson

Cast: Kit Harington, Emily Browning, Adewale Akinnuoye- Agbaje, Kiefer Sutherland, Jared Harris, Carrie- Anne Moss, Jessica Lucas, Sasha Roiz

Synopsis:

Milo (Kit Harington) adalah seorang keturunan terakhir dari suku celtic penunggang kuda. Seluruh desa, serta kedua orangtuanya, tewas di tangan pasukan Romawi yang dipimpin oleh Jenderal Corvus (Kiefer Sutherland). Milo, yang tinggal sebatang kara ditangkap penjual budak dan dijadikan seorang gladiator.

17 tahun kemudian, Milo telah menjadi bintang arena gladiator dengan nama panggung, Celt. Perjalanan Milo membawanya ke kota Pompeii di mana akan diadakan pertandingan gladiator untuk menyambut kedatangan Senator Corvus yang akan mengadakan kerjasama bisnis dengan pemimpin kota, Severus (Jared Harris). Milo juga jatuh hati kepada putri tunggal Severus, Cassia (Emily Browning).

Ketika gunung Vesuvius meletus dan akan menghancurkan kota Pompeii, Milo harus berpacu melawan waktu untuk menyelamatkan sang kekasih sekaligus membalas dendam kematian orangtuanya dengan membunuh Senator Corvus serta ajudannya yang tidak kalah sadis, Proculus (Sasha Roiz).

Review:

Image

Kota Pompeii adalah kota kuno yang berada di kaki gunung Vesuvius. Jika dilihat secara geografis masa kini, Pompeii terletak di dekat kota Napoli. Para ahli berpendapat bahwa kota tersebut didirikan sekitar abad ke 6-7 Sebelum Masehi dan akhirnya berhasil ditaklukan oleh Romawi pada tahun 80 Sebelum Masehi. Di bawah kepemimpinan Romawi, Pompeii menjadi kota yang maju di abad pertama Masehi.

Pada tahun 79 Masehi, kota Pompeii mendapatkan musibah, yang hingga kini tercatat menjadi salah satu musibah terbesar dalam sejarah Italia, di mana gunung Vesuvius meletus dan menewaskan puluhan ribu jiwa. Akibatnya, kota Pompeii terkubur lahar beku sedalam 4 hingga 6 meter dan selama berabad- abad namanya dilupakan dan kisahnya hanya menjadi sebuah dongeng semata.

Image

Hingga akhirnya pada tahun 1599, sebuah proyek pembuatan kanal menemukan dinding- dinding bertuliskan decurio Pompeii (Balai Kota Pompeii). Penemuan ini diteruskan pada tahun 1748 oleh seorang insinyur asal Spanyol, Rocque Joaquin de Alcubierre. Kini, sebuah kota baru telah dibangun di pinggiran reruntuhan kota Pompeii, dan kota tersebut diberi nama Pompei (dengan satu “i”).

Itulah sedikit kisah sejarah yang mengilhami sineas asal Inggris yang telah berjasa menelurkan salah satu franchise film terlaris hasil adaptasi video game, Resident Evil. Pendekatan yang diambil oleh Anderson berbeda dengan pendekatan film- film tentang bencana alam lainnya. Mungkin dikarenakan bersetting jaman kuda gigit besi, maka tidak ada ilmuwan- ilmuwan yang menjadi template baku seorang protagonis di sebuah disaster movie.

Image

Sebagai gantinya, Anderson mencoba menggunakan elemen gladiator ala Spartacus, lengkap dengan tema romasa dan balas dendam sebagai sentral cerita. Apakah itu berhasil? Sebenarnya bisa saja menjadi sebuah sajian alternatif disaster movie. Namun sayang, di paruh pertama cerita terasa terlalu dragging. Pembangunan kisah cinta antara Milo dan Cassia terlalu cheesy dan Kit Harington tidak memiliki chemistry dengan Emily Browning.

Lain halnya dengan hubungan antara Milo dan Atticus. Di sini chemistry antara rival yang saling menghormati lalu kemudian menjadi sahabat sangat kuat ditampilkan Harington serta Agbaje. Brotherhood- nya cukup terasa. Bagaikan hubungan Spartacus dengan Crixus.

Image

Anderson, yang memang lebih terkenal sebagai sutradara film aksi, mampu menampilkan adegan perkelahian serta adegan- adegan laga lainnya dengan cukup seru. Rating PG-13 mampu dimaksimalkan dengan baik. Dalam arti kata, meskipun masih masuk dalam threshold sebuah sajian PG-13, namun Anderson bisa memuaskan penggemar laga dengan memasukan adegan perkelahian antar gladiator dengan cukup seru. Serta penggambaran korban- korban bencana alam dengan cukup meyakinkan.

Special effect menjadi nilai tersendiri bagi film ini. Dan untuk menggambarkan sebuah film bencana alam dengan baik, kinerja tim special effect patut diberikan apresiasi tersendiri.

Image

Jebolan film seri Game of Thrones, Kit Harington, yang didapuk menjadi pemeran utama sudah cukup bagus memerankan Milo, meskipun dari raut wajah masih perlu belajar bagaimana cara untuk memberikan ekspresi yang baik dalam berakting. Emily Browning, tampil biasa- biasa saja.

Dari jajaran cast yang agak menonjol adalah Adewale Akinnuoye- Agbaje, Kiefer Sutherland, serta Sasha Roiz. Agbaje, yang biasanya berakting kaku dan tidak meyakinkan, di sini mampu menjadi sosok mentor serta sahabat Milo dengan baik dan cukup bijaksana. Sutherland dan Roiz sebagai dua antagonis utama mampu tampil dengan cukup menyebalkan.

Image

Overall, Pompeii cukup baik dalam memberikan sebuah hiburan pop corn movie. Meskipun agak- agak dragging di paruh awal film, namun Anderson mampu membayarnya dengan baik di paruh akhir. Saya juga ingin mewakili beberapa suara hati para penonton pria, kan film ini mirip- mirip Spartacus, tapi kenapa ya Emily Browning tidak “tampil” seperti di Sleeping Beauty? Too bad I think. (dnf)

Rating:

8/10