Logan (2017)

Poster

Directed By: James Mangold

Cast: Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen, Boyn Holbrook, Stephan Merchant, Elizebeth Rodriguez, Richard E. Grant

Synopsis:

Tidak jauh di masa depan, di mana mutant sudah jarang ditemukan dan anggota X-Men sudah mati atau hilang ditelan bumi, Logan (Hugh Jackman) mengasingkan diri sambil merawat Charles Xavier (Patrick Stewart) dengan bantuan Caliban (Stephan Merchant). Logan mengumpulkan uang untuk bisa membeli perahu dan tinggal di lautan bersama sang profesor. Namun ketenangan mereka diusik ketika seorang suster bernama Gabriela (Elizabeth Rodriguez) mendatanginya untuk meminta perlindungan bagi seoran anak kecil bernama Laura (Dafne Keen) yang menjadi incaran para Reavers, cyborg yang dipimpin oleh Donald Pierce (Boyd Holbrook). Ternyata Laura bukanlah sembarang anak kecil, namun memiliki sebuah rahasia yang bisa membuat Logan merasakan menjadi manusia lagi.

Review:

1

Tidak dipungkiri lagi, Hugh Jackman merupakan salah satu nilai jual tertinggi bagi Saga X-Men. Dibuktikan dengan wajahnya menjadi satu- satunya yang muncul di setiap judul filmnya. Bahkan untuk Deadpool, meski hanya berbentuk print out saja. Aktor yang bisa disandingkan dengan Robert Downey Jr. di MCU ini memang sangat beruntung. Mendapatkan peran salah satu mutant favorit dari tangan Dougray Scott, yang saat itu lebih memilih menjadi musuh Tom Cruise merupakan sebuah anugerah terbesar dalam karirnya. Keberuntungan juga datang ketika para fans ternyata puas dengan performa Jackman yang mampu menampilkan sosok Wolverine yang ganas dan brutal. Belum lagi tampilan Jackman yang bisa juga jadi daya tarik bagi penonton wanita yang terpaksa harus menemani pacarnya nonton X-Men.

3

Setelah kesuksesan Deadpool yang meski mengusung rating R, namun cukup memberikan keuntungan yang cukup tinggi, Fox merasa bahwa mereka harus menggunakan treatment yang sama untuk film solo ketiga Wolverine ini. Mengingat karakterisasi sang tokoh yang aslinya cukup brutal di komik. Dan memang dengan meningkatkan kadar violence cukup tinggi, membuat film ini jauh lebih menghibur ketimbang dua fim pendahulunya yang memilih rating PG-13. Cerita yang diambil dari storyline Old Man Logan dengan sedikit unsur Death of Wolverine memang cukup kuat, khususnya dalam menggambarkan Wolverine yang sudah tua dan tidak seprima dulu. Hal ini sebenarnya cukup bagus, mengingat raut wajah Jackman yang semakin tua dan tidak semulus di film X-Men dulu. Setidaknya lebih masuk akal dengan karakterisasi di film. James Mangold yang ikut turun langsung dalam penulisan naskah, mampu membuat cerita yang solid dan cukup manusiawi.

4

Ketika menyaksikan film Logan, feel yang didapat bukanlah menyaksikan film superhero. Tapi seperti menyaksikan film action seperti Jason Bourne, Mad Max, atau James Bond versi Daniel Craig. Tema cerita pun memiliki nuansa western yang cukup kental. Terlebih dalam menggambarkan kisah redemption seorang legend. Unsur drama yang dimasukan untuk menggambarkan sisi manusiawi Logan, cukup baik dan tidak membuat film menjadi terlalu dragging. Pemilihan jajaran cast juga cukup bagus. Boyd Holbrook yang cukup akrab bagi penonton Narcos, memang lebih cocok menjadi villain seperti dalam film Run All Night ketimbang menjadi protagonis seperti di film seri yang menceritakan sepak terjang Pablo Escobar itu. Sebagai aktris cilik, Dafne Keen mampu mengungguli Hugh Jackman. Dirinya mampu menjadi scene stealer karena menggabungkan pesona lugu anak kecil dan kebringasan seorang pembunuh terlatih. Mengingatkan kita kepada Chloe Moretz dalam Kick- Ass.

2

Sayangnya keputusan Jackman yang menyatakan akan berhenti memerankan Wolverine sempat membuat para fans kecewa. Banyak spekulasi yang menyebutkan bahwa X-Men akan di reboot lagi atau akan ada pemain baru yang menggantikan sosok Jackman sebagai sosok Wolverine. Sangat susah membayangkan ada aktor lain yang memerankan tanpa harus me reboot dari awal semua universe X-Men. Ditambah lagi Patrick Stewart yang juga mengumumkan dalam suatu wawancara bahwa film Logan merupakan penampilan terakhir dirinya sebagai Professor X. Belakangan Jackman mengerluarkan statement bahwa dirinya bersedia menggunakan cakar adamantium lagi jika Wolverine menjadi bagian dari MCU. Suatu hal yang cukup sulit, mengingat Fox cukup tambeng dalam mempertahankan hak film karakter- karakter X-Men. Meskipun fans mengharapkan studio ini akan luluh dan mengikuti jejak Sony untuk share dengan Disney. Or at least Wolverine- nya aja. (dnf)

Rating:

9/10

 

Advertisements

Tiga Dara (1957)

Poster

Directed By: Usmar Ismail

Cast: Chitra Dewi, Mieke Widjaya, Indriati Iskak, Bambang Irawan, Rendra Karno, Hasan Sanusi, Fifi Young

Synopsis:

Seorang duda bernama Iskandar (Hasan Sanusi) memiliki tiga anak cantik yang bernama Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Widjaya), dan Nenny (Indriati Iskak). Sepeninggal sang ibu, ketiga saudari ini dirawat dan dibesarkan oleh neneknya (Fifi Young). Tidak seperti Nenny yang masih kecil dan Nana yang mudah bergaul, Nunung adalah seorang anak rumahan yang kolot dan kaku. Sifat tersebut membuat sang nenek khawatir akan cucu tertutanya ini menjadi perawan tua. Beberapa kali dia coba menjodohkan Nunung namun selalu gagal. Hingga suatu hari dia bertemu dengan Toto (Rendra Karno) yang jatuh hati terhadap Nunung. Namun sifat Nunung yang dingin dan jual mahal membuat Nana merebut kesempatan untuk mendekati Toto, meski sebenarnya ada kawannya yang setia menantikan cintanya, Herman (Bambang Irawan).

Review:

1

Meskipun selalu dianaktirikan di negaranya sendiri, film Indonesia pernah merasakan masa- masa kejayaannya beberapa dekade yang lalu. Sebelum akhirnya terpuruk ke lembah film erotis, banyak judul- judul menarik yang menorehkan tinta sendiri di industri perfilman nasional. Sebut saja judul seperti Tiga Dara. Film yang dulunya dibuat untuk mengangkat keterpurukan Perfini ini diakui sebagai salah satu film yang memiliki pengaruh. Pada masanya, Tiga Dara sangat populer hingga betahan 12 minggu lebih di bioskop dan mengangkat nama- nama pemainnya, yang selain cantik juga memiliki skill akting yang baik. Namun meskipun sempat menyandang Penata Musik Terbaik dalam FFI 1960 dan diputar dalam Festival Film Venesia pada tahun 1959, sayangnya sang sutradara menganggap hasil akhir film ini melenceng dari visi awal Perfini, selain kekecewaan pribadi yang tidak ingin membuat film komersil. Setidaknya film ini sudah mendapatkan remake 2 kali. Pertama pada tahun 1980 dengan judul Tiga Dara Mencari Cinta, yang dibintangi oleh almarhum Jojon. Dan yang berikutnya berjudul Ini Kisah Tiga Dara yang ditangani oleh Nia Dinata dan akan tayang bulan September besok.

2

Film Tiga Dara mendapatkan kesempatan untuk menjadi film Indonesia kedua yang direstorasi setelah Lewat Djam Malam. Tidak tanggung- tanggung, restorasi yang dilakukan ke dalam format 4K. Hasil akhirnya ternyata di luar dugaan. Ketajaman gambar yang dihasilkan tidak kalah dengan hasil- hasil restorasi film- film hitam putih negara lain. Sebut saja misalnya film hasil restorasi universal monsters macam Dracula dan Frankenstein. Ya meskipun untuk kualitas suara masih belum terlalu maksimal, tapi masih bisa dinikmati.

3

Kisah Tiga Dara sangatlah sederhana. Jika dibandingkan dengan film- film modern, mungkin film ini sangat simple (seperti film- film Indonesia pada masa itu). Namun dari ke- simpe-an tersebut melahirkan sebuah sajian manis dengan plot yang masih relevan untuk ukuran masa kini. Seperti halnya ketakutan orang tua terhadap anak gadisnya yang belum menikah meski akan menginjak usia 30. Selain itu penonton akan dibuat tertawa dengan adegan- adegan di layar. Baik itu adegan komedi yang sengaja diciptakan untuk mengundang tawa, maupun trend, fashion, sudut pandang masa itu yang mungkin membuat penonton masa kini sedikit menyungging senyuman. Seperti trend pakaian, gaya pergaulan, maupun ukuran cowok keren masa itu. Lagu dan musik- musik yang ditampilkan juga enak didengar dan mampu mewakilkan adegan yang sedang berjalan di layar.

5

Jajaran cast membawakan perannya dengan sangat baik. Bahkan untuk ukuran sekarangpun, akting serta chemistry-nya sudah terjalin dengan bagus. Bisa dikatakan, permainan akting yang dibawakan sangat natural dan tidak seperti dibuat- buat. Apalagi ketiga pemain utamanya. Kemampuan olah vokalnya pun patut diacungi jempol. Almarhumah Chitra Dewi bisa membawakan peran Nunung yang kolot, jutek, dan kalau mau disebut dengan istilah modern “Girl Power” yang cukup menonjol, di mana dia digambarkan seperti tidak butuh laki- laki. Mieke Widjaya mampu berperan bitchy dan centil. Satu hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa aktris senior yang seumur hidup saya melihat biasanya membawakan peran ibu- ibu ternyata bisa berperan cukup nakal. Lalu Indriati Iskak yang bisa dikatakan membawakan peran center of the heart-nya ketiga saudari dengan tampilannya yang polos dan centil.

5

Setelah Tiga Dara, setidaknya akan ada 10 film Indonesia lainnya yang positif mendapatkan kesempatan untuk direstorasi. Di antaranya adalah film Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Asrul Sani. Dan beberapa di antaran lainnya merupakan film Benyamin S dan Rhoma Irama. Upaya restorasi ini adalah untuk menyelamatkan film Indonesia agar bisa disaksikan kembali mengingat media asli yang disimpan di Pusat Sinematek Indonesia sudah semakin mengkhawatirkan. Format baru yang memiliki ketajaman yang cukup tinggi. Diharapkan nantinya penonton kita akan lebih mencintai film nasional dan tidak segera melupakan, bahwa bangsa kita sempat membuat film- film apik yang meski sudah berpuluh- puluh tahun masih enak untuk dinikmati. Hanya saja harapan saya pribadi adalah film- film hasil restorasi tersebut akan dibuatkan format home video. Anyway, ternyata sebelumnya Rudy Soedjarwo pernah berniat me-remake film ini di tahun 2004 dengan pemain Dian Sastro, Kris Dayanti, dan Siti Nurhaliza. Cuman gak kesampaian. (dnf)

Score:

8/10

3 Srikandi (2016)

Yana, Suma, Lilies: Indonesia! Indonesia! Indonesia!

Poster

Directed By: Imam Brotoseno

Cast: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan, Tara Basro

Synopsis:

Pada tahun 1988, Indonesia mengikuti kompetisi Olimpiade di Seoul, Korea Selatan. Salah satu cabang yang diikuti adalah panahan wanita yang beranggotakan Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari), Kusuma Wardhani (Tara Basro), dan Lilies Handayani (Chelsea Islan). Sebelum berangkat ke Seoul, mereka telah digembleng secara keras oleh mantan atlit panahan pria yang dijuluki Robinhood Indonesia, Donald Pandiangan (Reza Rahadian). Cita- cita mereka hanya satu, yaitu menghadiahkan sebuah medali kepada Indonesia setelah hanya bisa bermimpi untuk mendapatkannya setelah 36 tahun mengikuti Olimpiade.

Review:

1

Pertama- tama saya ucapakan selamat kepada Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang telah membawa medali emas di olimpiade Rio De Janeiro kemarin malam. Sebuah hadiah atas ulang tahun Indonesia yang ke 71. Sebenarnya bukan hal yang mengejutkan lagi, Indonesia memang terkenal dengan prestasinya di cabang bulu tangkis. Semenjak kemenangan Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti di Barcelona pada tahun 1992, hampir setiap olimpiade, cabang olah raga yang pertama kali diperlombakan di ajang olimpiade mulai tahun 1992 ini selalu selalu memberikan medali emas kepada Indonesia (WAITT A MINUTE…!!! Berarti setiap olimpiade yang ada badminton-nya Indonesia selalu dapet emas?). Selain bulu tangkis, angkat besi merupakan cabang olah raga yang selalu menyumbangkan medali. Tapi medali pertama yang berhasil didapatkan Indonesia adalah dari cabang panahan.

2

3 Srikandi telah memiliki segala macam kriteria plot sebuah film olahraga. Sekelompok unlikely team yang dicap remeh, pelatih yang memiliki metode unik lengkap dengan speech pembangkit motivasi, dan perjuangan untuk mendapatkan kemenangan yang tidak mudah. Yang memberikan kekuatan terhadap 3 Srikandi adalah performa 4 pemain utama yang benar- benar outstanding. Reza Rahadian, yang meskipun banyak yang bilang “ye die lagi die lagi yang maen”, tapi kemampuan aktingnya memang pantas untuk selalu dipilih. Apalagi memerankan peran- peran yang sulit. Menjadi seorang Donald Pandiangan, bukanlah perkara yang sulit baginya jika dibandingkan dengan peran- peran briliannya seperti dalam My Stupid Boss dan dwilogi Habibie. Bunga Citra Lestari yang menggantikan posisi Dian Sastro dikarenakan bentrok jadwal syuting meskipun sudah mengikuti tahap pra produksi, mampu tampil paling dewasa dan sebagai pemimpin tim yang baik. Chelsea Islan memberikan performa terbaiknya dalam film ini. Dia berhasil menghilangkan stereotype aktingnya yang selalu menempel dalam setiap perannya. Lalu ada Tara Basro yang mampu mengimbangi rekan- rekan pemainnya.

3

Kekuatan berikutnya ada dalam segi naskah yang ditulis oleh sutradara dan dibantu oleh Swastika Nohara. Naskahnya tidak terkesan cheesy dan mampu menggali kemampuan akting para pemain sekaligus mengeluarkan chemistry di antara karakter. Baik itu di antara ketiga atlit, atlit dan orang- orang terdekatnya, maupun dengan sang pelatih, Donald. Bonding yang rapi inilah yang membuat penonton merasakan kedekatan emosional terhadap karakter- karakter yang muncul di layar. Selain itu Imam Brotoseno mampu menampilkan setting tahun 1988 dengan baik. Hanya saja pada saat menampilkan negara Korea Selatan, kesan modernnya masih terasa dengan tampilan gedung- gedung dan pusat perbelanjaan serta trend fashion yang nampak meskipun hanya sekilas. Tapi itu bisa dimaklumi, mengingat memang sangat sulit untuk mengatur itu semua di negara lain. Namun Imam Brotoseno mampu menghindarkan “penyakit” film biopik yang biasanya muncul dari segi product placement. Di mana tuntutan sponsor dalam menampilkan produknya meskipun menurut setting cerita produk tersebut belum ada. Hal lainnya yang patut diacungi jempol dalam membawa aura 80-an adalah pemilihan lagu yang langsung dinyanyikan oleh penyanyi aslinya.

4

3 Srikandi berhasil mengangkat semangat nasionalisme dari dunia olahraga. Tidak salah film ini ditayangkan menyambut olimpiade dan di bulan hari kemerdekaan kita. Banyak momen- momen yang dibangun dalam film ini yang mungkin cukup mengharukan. Hanya sayang, minimnya respon masyarakat terhadap film ini selayaknya minimnya respon masyarakat terhadap film- film nasional yang berbobot lainnya. Tidak menutup kemungkinan setelah film ini nanti akan dibuatkan biopik Alan Budikusuma dan Susi Susanti yang menyumbangkan medali emas pertama kali untuk Indonesia. Yang main? Mungkin Boy William dan Chelsea Islan (lagi). (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

Sabtu Bersama Bapak (2016)

Gunawan Garnida: Tapi aku tidak bisa melihat mereka menikah.

Itje Garnida: Aku yang akan mengantarkan mereka menikah.

Poster

Directed By: Monty Tiwa

Cast: Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Arifin Putra, Deva Mahenra, Acha Septriasa, Sheila Dara Aisha

Synopsis:

Setelah mendapatkan kabar bahwa kanker yang dideritanya hanya menyisakan waktu yang tidak terlalu lama lagi, seorang ayah bernama Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) mempersiapkan segala sesuatunya untuk istri, Itje (Ira Wibowo) dan kedua anaknya, Satya dan Cakra. Hanya satu yang mengganjal, dia tidak bisa hadir saat anak- anaknya butuh ketika beranjak dewasa, dan tidak bisa memberikan nasihat- nasihat yang mungkin dipertuntukkan di setiap fase hidup anaknya. Untuk itu dia menggunakan sisa umurya untuk membuat rekaman yang berisi nasihat- nasihat serta bimbingan spiritual yang kelak ditonton anak- anaknya setiap hari Sabtu sore.

25 tahun kemudian, kedua anaknya telah tumbuh sukses di bidangnya masing- masing. Satya (Arifin Putra) telah menikahi Risa (Acha Septriasa) dan memiliki dua orang putra. Sarjana geologinya mengantarkan dirinya bekerja di tambang minyak lepas pantai di Prancis. Cakra (Deva Mahenra) telah menduduki jabatan Deputy Direktur sebuah bank di usianya yang baru 30 tahun. Namun mereka masih memiliki permasalahannya masing- masing. Satya yang mengidolakan sang ayah, berusaha memimpin keluarganya seperti sang ayah memimpin. Tanpa disadari, gaya kepemimpinan setiap ayah akan sangat berbeda tergantung zaman dan sifat keluarganya masing- masing. Cakra yang kaku, memiliki kesulitan untuk mendekati bawahannya, Ayu (Sheila Dara Aisha) yang dicintainya. Kedua kakak beradik itupun mulai mencoba mencari jalan keluar dan belajar bagaimana mereka bisa menjadi laki- laki bagi keluarga yang dipimpinnya.

Review:

1

Sabtu Bersama Bapak merupakan sebuah buku yang menjadi best seller di mana- mana. Kesuksesannya dibuktikan dengan sudah lebih dari 20 kali dicetak ulang dan tetap masih menjadi incaran para penggemar buku. Apa yang membuat buku ini begitu sukses? Buku yang ditulis oleh Adhitya Mulya memiliki tema yang cukup dekat di masyarakan kita. Yaitu parenting, seiring dengan minat dan concern sang penulis novel Jomblo ini terhadap dunia parenting yang cukup tinggi. Kisahnya pun digulirkan dengan cukup hangat. Meskipun memiliki tema yang sebenarnya mampu menguras air mata, namun di lain sisi, Kang Adit mampu membawakan joke- joke dan komedi yang mampu mengundang tawa pembaca. Hal ini memang sudah tidak diragukan lagi, mengingat di awal karir, dia sukses menorehkan hasil yang cukup baik lewat novel Jomblo.

2

Mendapatkan predikat best seller, sudah pasti akan memancing minat para produser untuk memfilmkan kisahnya. Hanya melihat dari trailer-nya saja, para penggemar novelnya sudah dijanjikan banjir air mata dengan cuplikan- cuplikan adegan yang mampu melayangkan imajinasi pembaca dan mengingat kata demi kata yang sepertinya digambarkan oleh cuplikan adegan- adegan di trailer. Namun di sinilah kesalahan para pembaca mulai terbentuk. Dengan membuat bar ekspektasi yang cukup tinggi setelah melihat trailer, calon penonton sudah membayangkan haru biru setiap adegan yang tadinya hanya bisa dibaca lewat kata- kata saja. Seperti halnya pesan Deva Mahenra sebelum gala premiere dimulai minggu lalu, bahwa sebaiknya kita melupakan pernah membaca bukunya dan mencoba untuk menerima filmnya menjadi sebuah sajian baru yang memiliki nilai tersendiri. Namun apakah itu mudah? Sabtu Bersama Bapak bukanlah novel pertama yang difilmkan dengan ekspektasi tinggi karena kesuksesan bukunya. Bahkan bukan hanya novel, hampir dipastikan semua film yang diangkat dari media tertentu (komik, video game, remake) sudah pasti harus ikhlas dibanding- bandingkan dengan sumber asilnya.

3

Oke, kalau begitu bagaimana dengan saya yang sudah kadung menyukai bukunya dan sukses mewek pada saat membaca dan menyaksikan trailer-nya? Otomatis jika saya mencoba membanding- bandingkan sepertinya tidak fair. Banyak elemen- elemen yang diubah di film ini (dihilangkan- red), yang bagi saya pribadi akan menambah kesan saat mengikuti cerita. Seperti runutan perjodohan Cakra yang berujung pada sebuah twist yang sangat apik di buku, lalu adegan epilog yang terasa dibuat- buat, berbeda dengan tulisan di buku yang sangat natural. Dan bagi saya so far merupakan epilog buku terbaik yang pernah saya baca. So, jadi kalau sudah baca bukunya tidak dapat menikmati film ini? Eh entar dulu, bisa juga menikmati jika kitanya mau menerima film ini sebagai sebuah sajian alternatif dari kisah Sabtu Bersama Bapak. Sulit. Tapi bukan tidak mungkin.

4

Film ini masih menyisihkan pesan- pesan moral dan bagaimana Adhitya Mulya membagikan input how to be a good father seperti yang dituliskan melalui buku lainnya yang berjudul Parenting Stories. Pesan- pesan moral itu, meskipun tidak sebanyak di novel, masih ada dan bisa disaksikan di film ini. Baik dari adegan flashback, rekaman video, maupun karakter kedua anaknya. Meskipun memiliki kisah haru biru, namun seperti nafas yang dihembuskan novelnya, film ini masih menawarkan adegan- adegan komedi, yang kebanyakan dibawakan oleh Deva Mahenra bersama Ernest Prakasa dan Jennifer Arnelita yang berperan sebagai dua bawahan Cakra, Firman dan Wati. Dan bisa dikatakan karena kelucuan- kelucuan itulah yang membuat Cakra sebagai karakter yang paling menarik di film ini. Berbeda dengan kisah hidup Satya yang cenderung lebih serius.

5

Dari pemilihan pemainnya sendiri, bagi saya pribadi sudah sangat pas. Meskipun jika ingin setia dengan novelnya, saya rasa Deva Mahenra terlalu tampan menjadi Cakra, mengingat gambaran si bungsu yang digambarkan tidak terlalu menarik bagi wanita. Namun dengan aktingnya yang kikuk serta rada- rada stiff, Deva mampu menebusnya sehingga secara karakter, Cakra bisa mirip dengan penggambaran sifat di novelnya. Arifin Putra sangat pas dan mampu menggambarkan karakter Satya yang keras. Acha Septriasa juga bisa memberikan karakter istri yang penyabar yang setia untuk menyenangkan hati suami sekaligus mengurus rumah tangga. Sheila Dara Aisha, sebagai Ayu juga sudah sangat pas. Wajahnya, yang mungkin di antara para pemain utama, termasuk yang paling kurang familiar di dunia perfilman, malah menjadi pilihan yang baik dalam menggambarkan karakter Ayu, yang sebagai karyawati baru cantik. Bisa kita bayangkan kita bertemu karyawati baru ( yang pastinya mukanya tidak familiar) dan ternyata cantik.

6

Pemilihan Ira Wibowo sebagai sang ibu juga pas. Sebenarnya pemilihan pemain karakter Itje agak- agak tricky. Di satu sisi harus menggambarkan karakter Itje dengan usia 30an awal di adegan flashback, di sisi lain harus menggambarkan karakternya berusia 50 tahunan di adegan masa kini. Kenapa cukup tricky? Di sini casting dihadapkan dua pilihan. Antara memilih pemain berusia muda dengan nantinya di make up tua di setting masa kini, atau memilih pemain tua dengan make up muda di setting flashback. Pemilihan Ira Wibowo, yang secara usia sudah berusia akhir 40-an namun masih memiliki kecantikan yang awet muda serta kulit yang masih kencang, membuatnya mampu memainkan peran Itje di dua jaman yang berbeda. Harga yang harus dibayar adalah membuat tampilan Abimana yang berperan sebagai sang suami nampak lebih tua ketimbang deskripsi di buku. Jika di buku digambarkan berusia sekitaran 36 tahunan (kalau tidak salah), namun jika melihat versi film, seperti berusia 40-an awal. Namun secara akting? Tidak usah diragukan lagi, performa Abimana yang segera akan berperan sebagai pelawak legendaris, Dono, sudah pasti sangat apik. Dia mampu menngeluarkan sisi kebapakan dan seorang family man yang dibutuhkan dari karakter Gunawan Garnida.

7

Pesan yang ingin disampaikan oleh film ini adalah kita harus bisa menghargai waktu dan keluarga. Bagi anak yang masih memiliki orang tua, abdikan waktumu untuk menemani sisa umurnya. Karena tidak sedikit orang tua yang mengorbankan banyak hal, bahkan sampai yang tidak mampu kita bayangkan, demi masa depan dan kebahagiaan sang anak. Bukan hanya mengorbankan waktu dan nyawa saja. Bahkan juga mengorbankan masa depan dan kebahagiaannya sendiri. Bagi mereka yang sudah tidak memiliki orang tua, rajin- rajinlah berdoa, panjatkan doa ke Sang Pencipta agar mau meringankan jalannya di akhirat dan mengampuni semua dosa- dosanya, karena hanya itu yang mampu kita lakukan. Bagi para orang tua, jangan korbankan waktumu untuk bersama anak- anak demi pengabdian terlalu tinggi terhadap pekerjaan, bos, dan kehidupan sosial. Pada saat kalian nanti tua dan sakit- sakitan kehidupan sosial kalian yang akan merawat. Pada saat nanti kalian tidak mampu ke kamar mandi sendiri, bukan manager kalian nanti yang membopong. Pada saat kalian sudah pikun, bukan bos kalian yang akan setia mengajak mengobrol. Bagi pekerjaan kalian adalah asset. Jika sudah tidak mampu berproduksi, kalian dapat digantikan dengan mudah. Tapi bagi keluarga, kalian tidak akan tergantikan. Jadi hargailah waktu. Hargailah keluarga. Selepas baca review ini, segeralah telepon keluarga kalian. Dan ucapkan. Aku sayang mama/ papa/ kamu, istriku/ kamu, suamiku/ kamu, anakku. (dnf)

Rating:

8/10

PS: Review ini aku persembahkan untuk Papa dan Mama di Surga. Dan juga untuk istri dan anak- anakku.

Money Monster (2016)

Lee Gates: The name is Lee Gates. The show is Money Monster.

money_monster_poster_2

Directed By: Jodie Foster

Cast: George Clooney, Julia Roberts, Jack O’Connell, Dominic West, Caitriona Balfe, Giancarlo Esposito, Christopher Denham

Synopsis:

Money Monster adalah sebuah acara yang membahas tentang pasar saham dan investasi dan dipandu oleh Lee Gates (George Clooney). Ketika saham IBIS Global Capital turun dan membuat para pemegang saham kehilangan USD 800 Juta, Gates berencana untuk memanggil sang CEO, Walt Camby (Dominic West) untuk melakukan wawancara live di acaranya. Namun dikarenakan urusan bisnis, Walt tidak bisa hadir dan digantikan oleh Kepala bagian humas, Diane Lester (Caitriona Balfe).

Namun sebuah insiden terjadi. Salah seorang investor yang kehilangan USD 60 ribu karena berinvestasi di IBIS atas saran Lee di salah satu episode Money Monster, Kyle Budwell (Jack O’Connell) menyandera Lee dan dengan tetap siaran langsung menuntut penjelasan dari Camby atas kerugian tersebut. Penjelasan resmi tentang adanya glitch dalam sistem algoritma dianggap omong kosong oleh Kyle.

Sutradara acara Patty Fenn (Julia Roberts) mencium adanya praktek busuk yang dilakukan oleh Camby. Dengan bantuan Diane, Patty mencoba mencari tahu latar belakang perihal kerugian massal tersebut sambil berpicu dengan waktu sebelum Captain Marcus Powell dari kepolisian membunuh Kyle.

Review:

1

Di era modern sekarang ini, tanpa disadari uang sudah memperbudak manusia. Tidak sedikit manusia yang rela menghabiskan lebih dari 20 jam tiap hari hanya untuk bisa membayar tagihan listrik dan telepon. Bahkan tidak sedikit pula yang mengorbankan keluarganya dengan tidak memberikan perhatian yang cukup. Dan dengan kerasnya persaingan kerja yang sayangnya membuat kebutuhan hidup lebih tinggi daripada pendapatan membuat manusia berfikir untuk mencari sumber penghasilan tambahan. Ada yang memiliki kerja paruh waktu, ada yang menjalankan bisnis, dan adapula yang menginvestasikan sejumlah uangnya di pasar modal. Malangnya tidak semua investor mengerti dan memahami seluk beluk pasar modal. Mereka mempercayakan begitu saja kepada pialang dan tidak jarang mengikuti nasihat dan petunjuk orang- orang yang dianggap ahli dalam bidang pasar modal. Bagi mereka yang beruntung, akan menambah pundi- pundi kekayannya. Namun bagi yang merugi, tidak sedikit yang hidupunya semakin terpuruk.

money-monster-dom-DF-08070_r_rgb.0

Money Monster mencoba menceritakan pengaruh buruk dari sebuah investasi buta yang dilakukan oleh seseorang dan ditambah dengan praktek miring sebuah korporasi raksasa. Bisa dikatakan film ini mencoba untuk menggabungkan antara film tentang TV yang sempat menjadi trend 2-3 dekade lalu dan film tentang praktek ekonomi, meskipun tidak sejlimet Big Short. Nilai kuat dari film ini jatuh kepada akting para pemain, terutama 3 pemeran utamanya. George Clooney sejak pertama penampilannya di awal film sudah mampu menciptakan imej egosentris yang nyebelin dan menganggap dirinya paling penting. Dan peran Lee Gates memang pantas diberikan kepadanya. Julia Roberts bermain sangat pas menjadi woman of the show, yang tough dan benar- benar memegang kendali. Tapi kredit paling besar patut diberikan kepada Jack O’Connell. Bagi saya pribadi, akting aktor muda tersebut mampu mengimbangi senior- seniornya, bahkan bisa mengungguli dengan ledakan- ledakan emosi, yang mampu memberikan simpati pada penonton sejak awal kemunculannya.

3

Jika ingin berbicara mengenai naskah, sebenarnya film ini memiliki naskah yang sangat sederhana. Apa yang disajikan lewat naskah film ini sebenarnya bisa dibilang sangat dangkal. Bahkan penonton pun sudah bisa menduga akhir cerita film ini hanya dengan menyaksikan 10 menit awal film saja. Hanya saja keberuntungan membuat naskah ini bisa dipegang oleh sutradara yang kompeten. Jodie Foster telah membutikan dirinya masuk ke dalam jajaran bintang film sukses yang juga sukses menjadi sutradara mengikuti Clint Eastwood dan Mel Gibson. Foster seakan tidak memberikan penonton untuk keluar ke WC dengan memberikan durasi yang sangat padat dengan tensi yang tetap terjaga. Ditambah lagi Foster mampu menyelipkan joke- joke ringan yang menambah menariknya film ini.

4

Money Monster menjelma menjadi sebuah sajian alternatif di tengah riuhnya pesta CGI film- film blockbuster di musim panas. Setidaknya film ini bukanlah merupakan sebuah sekuel, prekuel, reboot, ataupun adaptasi dari komik atau novel atau game. Film ini murni menggunakan naskah original. Sehingga bisa menjadi varian hiburan alternatif. (dnf)

Rating:

9/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

In The Heart of The Sea (2015)

Owen Chase: Look where we find ourselves. What offense did we give God to upset him so.

Poster

Directed By: Ron Howard

Cast: Chris Hemsworth, Benjamin Walker, Cillian Murphy, Tom Holland, Ben Whishaw, Brendan Gleeson

Synopsis:

Seorang novelis, Herman Melville (Ben Whishaw) mendatangi seorang lelaki tua, Thomas Nickerson (Brendan Gleeson) untuk melakukan riset tentang kejadian legendaris kapal Essex, yang diisukan tenggelam diserang oleh seekor paus sembur raksasa.

Cerita bergulir beberapa puluh tahun sebelumnya ketika, Thomas muda (Tom Holland) baru berusia 14 tahun menjadi awak kapal Essex, yang dikapteni oleh seorang keturunan bangsawan, George Pollard, Jr. (Benjamin Walker) dan memiliki kelasi kelas satu, Owen Chase (Chris Hemsworth) dan Matthew Joy (Cillian Murphy).

Dikarenakan ambisi mereka untuk membawa sebanyak mungkin minyak ikan paus, merekapun akhirnya pergi jauh ke sebuah perairan yang disinyalir memiliki ratusan ikan paus. Hanya saja tanpa mereka ketahui, ternyata kawanan paus tersebut dijaga oleh seekor paus raksasa, yang akan menjadi momok sangat mengerikan bagi seluruh awak kapal Essex.

Review:

1

Moby Dick adalah sebuah judul novel terkenal karangan Herman Melville yang sudah menjadi salah satu bacaan wajib bagi para pecinta literatur klasik. Sedikit plot mengenai kisah tersebut adalah tentang seorang kelasi muda, Ishmael yang menceritakan pengalamannya bertugas di kapal Pequod, yang dikomandoi oleh Captain Ahab, yang memiliki ambisi untuk memburu Moby Dick, seekor paus raksasa yang pernah menenggelamkan kapalnya dan menghilangkan kakinya. Tidak banyak yang tahu jika kisah tersebut dibuat atas dasar kekaguman Melville kepada kisah tragis kapal Essex yang ditenggelamkan oleh seekor paus raksasa. Salah satu survivor, Owen Chase, menyewa seorang penulis bayangan untuk mengabadikan kisahnya ke dalam sebuah buku berjudul Narrative of The Most Extraordinary and Distressing Shipwreck of Whale- Ship Essex, dan melalui tulisan inilah novel Melville mendapatkan inspirasi untuk Moby Dick. Lalu beberapta tahun kemudian, Thomas Nickerman menuliskan sebuah biografi berjudul The Loss of The Ship Essex Sunk by a Whale and The Ordeal of The Crew in Open Boats. Namun sayangnya, manuskrip tersebut hilang dan baru ditemukan dan dipublikasikan seabad kemudian, yaitu tahun 1984. Dengan menggunakan resensi dari kedua buku tadi, pada tahun 2000, Nathaniel Philbrick menerbitkan sebuah adaptasi lagi berjudul In The Heart of The Sea: The Tragedy of The Whaleship Essex.

2

Jika ditilik dari materi promosi, baik dari trailer maupun poster yang sudah dipublikasikan dari awal tahun ini, tidak sedikit yang menantikan film In The Heart of The Sea menjadi sebuah film monster, layaknya kisah Moby Dick, yang sudah kadung lebih terkenal. Namun jauh dari bayangan tersebut, gambaran mengenai men vs monster hanya ditampilkan sedikit sekali. Sehingga bagi mereka yang mengharapkan aksi layaknya Alan Grant vs Raptor, atau Jack Driscoll vs King Kong, atau si sexy Jennifer Lopez lawan Anaconda, sudah pasti akan kecewa. Namun bagi mereka yang haus akan sebuah film berbobot kualitas Oscar, bisa jadi In The Heart of The Sea menjadi sebuah sajian yang memuaskan.

3

Saya mencatat setidaknya ada 2 hal yang menjadi kekuatan besar dari film ini. Yang pertama adalah akting. Nyaris keseluruhan cast mampu mengeluarkan kemampuan aktingnya yang top notch dalam film ini. Dan jika ingin menyorot nama- nama yang paling bersinar kita bisa menyebutkan Benjamin Walker dan Tom Holland yang benar- benar mencuri perhatian. Kenapa saya menyebutkan kedua nama tersebut? Karena memang jika dibandingkan nama- nama lainnya, kedua nama ini yang masih belum terlalu terkenal. Benjamin Walker, sempat menuai pujian lewat aktingnya sebagai versi alternatif dari Abraham Lincoln yang gemar memburu vampire. Lalu Tom Holland, yang meskipun belum terkenal, namun namanya termasuk salah satu yang sedang diperbincangkan di tahun ini karena akan memakai kostum Spider- Man dalam sekuel Captain America tahun depan. Holland sempat menuai pujian juga sebagai si sulung yang berusaha bertahan hidup paska terkena tsunami di Thailand lewat The Impossible.

4

Dibandingkan nama- nama di atas, jajaran pendukung lainnya mungkin sudah lebih dikenal dan aktingnya juga sudah teruji. Cillian Murphy misalnya. Meskipun gagal mendapatkan peran Batman dan kalah oleh Christian Bale, namun kemampuannya mampu mencuri perhatian Nolan sehingga memberinya peran Scarecrow, dan menjadi satu- satunya villain yang muncul di keseluruhan seri The Dark Knight. Lalu ada Brendan Gleeson, yang memang sudah cukup terkenal dan kemampuan akting wataknya sudah tidak perlu diragukan lagi. Lalu ada Ben Whishaw yang mampu mencuri perhatian lewat Perfume: The Story of A Murderer, dan kemudian mulai menapakkan karirnya lewat peran Q dalam 2 seri James Bond terakhir. Bahkan Chris Hemsworth pun mampu membuktikan dirinya bisa melepaskan bayang- bayang sang dewa petir dan membuktikan untuk kedua kalinya, dirinya mampu memerankan karakter real setelah sukses lewat Rush yang juga disutradarai oleh Ron Howard.

5

Yang kedua adalah visual yang benar- benar bisa menimbulkan decak kagum. Hasil kerja Anthony Dod Mantle sebagai sinematografer sekali lagi bisa menampilkan tone sendu, seperti yang pernah dibawanya lewat Rush. Visual effet juga menjadi salah satu unsur kekuatan film ini. Visualisasi akan ikan- ikan paus, badai, serta kengerian samudera, mampu membuat penonton terbawa akan suasana hati ikut merasakan horor yang dialami para tokoh. Menurut komentar rekan- rekan saya yang menyaksikan film ini dalam format IMAX 3D, katanya film ini sangat- sangat worth it disaksikan dalam format tersebut. Namun sayangnya saya menyaksikannya dalam format reguler 2D. Sehingga efek 3D yang katanya sangat bagus baik dalam depth maupun pop-up tidak bisa saya rasakan.

6

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya di atas, In The Heart of The Sea merupakan sebuah sajian berbobot yang jauh dari bayangan men vs monster. Karena inti dari film ini adalah survival dan efek dari keserakahan manusia. Dengan pendekatan serealitis mungkin, tidak heran jika nantinya juri Oscar akan melirik film ini untuk mendapatkan nominasi naskah adaptasi terbaik. Dan dengan memiliki jejalan akting- akting yang sangat keren, saya akan heran jika nantinya tidak ada satupun aktor yang dilirik untuk mendapatkan nominasi peran terbaik, baik itu utama maupun pendukung. (dnf)

Rating:

8/10

The Walk (2015)

Phillippe Petit: People ask me. “Why do you risk death?” For me, this is life.

Poster

Directed By: Robert Zemeckis

Cast: Joseph Gordon- Levitt, Ben Kingsley, Charlotte Le Bon, Clement Sibony, Steve Valentine, James Badge Dale, Ben Schwartz, Benedict Samuel

Synopsis:

Philippe Petit (Joseph Gordon- Levitt) adalah seorang pemain akrobat asal Prancis yang memiliki satu mimpi, berjalan di antara kedua gedung tinggi di New York yang bernama World Trade Center, yang saat itu sedang dalam proses pembangunan. Petit meminta bantuan dari berbagai macam orang, termasuk gurunya, Papa Rudy (Ben Kingsley), pacarnya, Annie (Charlotte Le Bon), Jean- Louis (Clement Sibony), Barry Greenhouse (Steve Valentine), Jean- Pierre (James Badge Dale), Ben Schwartz (Albert), dan David (Benedict Samuel). Petit harus bisa berpacu melawan waktu, sekaligus mengalahkan egonya agar tim tersebut bisa merasa dihargai.

Review:

1

Philippe Petit bukanlah nama yang asing bagi mereka yang menggeluti dunia akrobatik. Khususnya dengan pelaku pejalan di atas seutas tali/ kabel yang biasa disebut dengan Wire Walker, tanpa pengaman. Keberaniannya dalam berjalan di atas sebuah kabel menyeberangi kedua gedung WTC menginspirasikan banyak aksi- aksi nekad berbahaya para pemain akrobat. Dan aksi Petit tersebut juga memberikan antisipasi bagi kontraktor WTC untuk menambah pengamanan lebih ketat di area atap sehingga aksi semacam tersebut tidak terjadi lagi. Sebenarnya The Walk yang diangkat dari buku berjudul To Reach The Clouds karangan Petit sendiri bukanlah kali pertama aksi berbahaya ini difilmkan. Sebelumnya ada sebuah film dokumenter berjudul Man on Wire yang meraih berbagai macam penghargaan dan sebuah animasi pendek yang diangkat dari buku berjudul sama, The Man Who Walked Beneath The Tower.

2

Jika membaca nama Robert Zemeckis di kursi sutradara, hal yang pasti terlintas adalah kehebatan serta keindahan visual yang akan sangat memanjakan mata. Dan begitulah dengan The Walk. Dengan berbagai macam pendekatan animasi yang indah mampu menampilkan adegan- adegan yang menakjubkan. Belum lagi gimmick 3D yang tidak main- main dengan kualitas depth dan pop- up yang benar- benar mendekati kata sempurna. Believe me, di beberapa adegan bahkan membuat mata terasa seperti tercolok kejatuhan tongkat. Saran saya memang film ini harus disaksikan dalam format IMAX 3D. Besarnya layar IMAX menjadikan adegan- adegan besar, khususnya adegan klimaks penyebrangan Petit sangat istimewa dan membuat anda ternganga.

3

Sama halnya dengan Man on Wire, The Walk mengambil persiapan Petit dan kawan- kawan untuk melakukan misi tersebut sebagai fokus cerita. Kesempurnaan plot ditambah pula dengan gaya heist movie ala Ocean’s Eleven yang sudah sangat pas untuk menceritakan persiapan eksekusi misi tersebut. Alur setting cerita yang dalam kenyataannya bergulir selama kurang lebih 8 tahun semenjak Petit mendapatkan ide gila tersebut bisa dibawakan dengan menarik sehingga penonton tidak merasakan rentang waktu yang sangat lama tersebut. Dialog- dialog cerdas juga mengisi film sehingga senyum simpul bisa dengan mudah tercipta di bibir penonton. Zemeckis juga mampu menghadirkan rasa ngeri dan ngilu bagi penonton saat menampilkan adegan atraksi yang dilakukan oleh Petit. Dan dengan adanya penceritaan yang baik, penonton juga mampu merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Petit saat berhasil meraih mimpinya tersebut.

4

Pemilihan Gordon- Levitt sebagai Petit sudah cukup pas. Aksen perancisnya cukup menarik. Terlebih di adegan narasi yang dibawakan secara komikal olehnya. Pemain- pemain pendukungnya pun juga tidak kalah apik. Terlebih untuk James Badge Dale, yang menurut saya pribadi adalah seorang aktor cool dan memiliki talenta super yang sayangnya terjebak di peran- peran pembantu. Mungkin harusnya dia mengganti management-nya. Ben Kingsley juga mampu menghadirkan peran layaknya seorang ayah pengganti bagi Petit.

4

The Walk berhasil menjadi sebuah sajian hiburan yang sangat memanjakan mata. Dan saya ulangi lagi, jika anda ingin mencapai nilai hiburan tersebut secara maksimal, pilihlah format IMAX 3D untuk menyaksikannya. Tidak aneh jika nantinya film ini akan mendapatkan perhatian para juri Oscar, khususnya untuk prestasi visualnya. Jika ada yang ingin dipetik dari film The Walk ini adalah seharusnya kita percaya dengan mimpi dan mau berbuat semaksimal mungkin demi mimpi tersebut. Segila apapun mimpi tersebut, seberapapun banyaknya orang yang menentang, setinggi apapun risiko yang akan kita hadapi. If we can dream it. We can do it. (dnf)

Rating:

9/10