Beauty and The Beast (2017)

Poster

Directed By: Bill Condon

Cast: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Josh Gad, Kevin Kline, Hattie Morahan, Ewan McGregor, Ian McKellen, Emma Thompson, Stanley Tucci, Audra McDonald, Gugu Mbatha- Raw, Nathan Mack

Synopsis:

Belle (Emma Watson) adalah seorang gadis cantik di pedesaan Prancis yang tinggal berdua dengan ayahnya, Maurice (Kevin Kline). Pada saat Maurice ditahan di sebuah kastil tua oleh sesosok mahluk seram bernama Beast (Dan Stevens), Belle yang berbakti menggantikan tempatnya sebagai tahanan abadi. Namun sejalan waktu, Belle menemukan sifat Beast yang baik dan empati terhadapnya. Apalagi mengetahui bahwa Beast sebenarnya adalah seorang pangeran yang dikutuk karena memiliki perangai yang kurang menyenangkan, hasil didikan ayahnya dulu. Namun mengetahui, Belle memiliki rasa terhadap Beast, pemuda populer di desa yang menaruh hati kepada Belle, Gaston (Luke Evans) menghimpun massa untuk menyerbu istana dan membunuh Beast.

Review:

1

Tahu gak kenapa sampai sekarang banyak kisah- kisah anak- anak yang dibuat dark dan terkadang memiliki konten dewasa? Misal kisah- kisah komik seperti Batman? Jawabannya sederhana. Karena penggemarnya yang menyukai sejak kecil masih tetap mencintai karakter tersebut. Namun seiring bertambah dewasa usianya, mereka menginginkan kisah yang di- adjust sehingga bisa dinikmati oleh dirinya yang telah dewasa. Memahami hal ini, studio animasi Walt Disney juga mau memuaskan dahaga para penggemar animasi klasiknya dengan membuat versi live action dari gudang perfilmannya. Dimulai dari film semacam (meskipun dulu sempat sukes dengan 101 Dalmatians pada medio 90-an) Alice in Wonderland, Maleficent (Sleeping Beauty), Cinderella, dan yang terakhir Jungle Book. Khusus dua film terkahir, Disney menggunakan pendekatan yang lebih setia dengan film animasinya. Beda dengan Alice dan Maleficent yang diubah cukup banyak. Khususnya dari sudut pandang karakter utama. Jika Alice ikut menjadikan Mad Hatter sebagai sidekick, dan Sleeping Beauty lebih fokus ke karakter villain, Maleficent dan membuat twist di akhir, Cinderella dan Jungle Book resmi mereka ulang adegan- adegan animasinya ke dalam versi live action, meski menambahkan beberapa elemen dan plot baru. Mengerti bahwa 2 film terkahir lebih disukai, Disney memutuskan untuk ikut lebih setia dengan animasi pertama yang mendapatkan nominasi Academy Awards ini.

3

Memilih genre musikal untuk film ini merupakan sebuah keputusan yang tepat. Apalagi mengingat animasi- animasi klasik Disney terkenal mengusung genre musikal yang menghadirkan gubahan musik- musik yang cukup legendaris. Dengan genre ini, Condon cukup sukses menghadirkan beberapa lagu dari versi animasinya menjadi lebih megah dan wah. Khususnya untuk lagu Be Our Guest. Selain lagu- lagu lama yang digubah ulang, film ini juga menambah beberapa lagu baru gubahan komposer Alan Menken yang juga mengerjakan versi animasinya dulu. Hanya saja penggarapan adegan dance yang cukup legendaris kurang begitu dikerjakan dengan baik. Tidak semegah film animasinya. Apalagi dalam versi animasinya adegan ini menandakan pertama kalinya Disney menggunakan teknik 3D CGI dalam film animasinya. Seperti halnya film Cinderella, kredit perlu diberikan juga kepada tim penata kostum, art direction, dan sinematografi yang berhasil memindahkan tampilan film animasi ke dalam versi live action.

4

Untuk menghidupkan karakter, jajaran cast yang terpilih telah mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Emma Watson berhasil menampilkan pesona girl next door yang smart dan independen. Sedikit mengingatkan kita dengan karakter Hermione yang melejitkan namanya. Ini juga yang membuat saya merasa dirinya terlalu muda. Bukan karena aktingnya tidak bagus. Aktingnya bagus. Hanya saja di otak saya masih teringat karakter Hermione yang masih kecil. Hanya saja Dan Stevens, yang biasa terlihat cukup “cowok”, di sini terlihat soft. Tapi itu bisa dimaklumi mengingat 95% durasi, wajahnya tertutup CGI sebagai Beast. Namun chemistry keduanya cukup terasa. Apalagi mengingat ini Beauty and The Beast salah satu film Disney yang menggunakan formula film romantis. Di mana kedua karakter tadinya saling membenci, untuk kemudian menjadi saling mencintai. Namun yang paling apik adalah penampilan Luke Evans yang sangat sempurna sebagai Gaston. Sebagai karakter narcist, tampan, egocentric, dan menyebalkan. Di satu sisi kita akan cukup terpesona dengan karakter ini. Wanita akan menginginkan dirinya, pria akan mendambakan menjadi dirinya. Di satu sisi, kita juga sebal dengan sifatnya yang menyebalkan. Pemilihan nama- nama terkenal seperti Ian McKellen, Ewan McGregor, Stanley Tucci, Emma Thompson dan nama- nama yang cukup asing seperti Audra McDonald, Gugu Mbatha- Raw, Nathan Mack cukup bisa menghidupkan karakter- karakter staff istana yang ikut dikutuk menjadi barang keperluan rumah tangga. Meski hanya menggunakan CGI dan menyumbangkan suara saja.

5

Melihat hasil akhir Beauty and The Beast, saya cukup menaruh harapan yang sangat besar dengan kelanjutan adaptasi animasi klasik Disney yang sudah berjejer antri untuk dibuatkan versi live action-nya. Di antara beberapa yang sudah dikonfirmasi atau yang masih sekedar rumor adalah The Lion King, Mulan, The Little Mermaid, Aladdin, Snow White and The Seven Dwarfs, Dumbo, Peter Pan, Oliver Twist, James and The Giang Peach, Pinochio, The Sword in The Stone, dan kabarnya lagi akan ada beberapa adaptasi yang mengambil sudut pandang berbeda atau mungkin juga sekuel seperti Cruella (101 Dalmatians (spin off or sequel?)), Tink (Tinkerbell dari franchise Peter Pan), Christopher Robin (sepertinya sekuel karena menceritakan Christopher Robin, manusia sahabat Winnie The Pooh). Beberapa film malahan sudah menemukan sutradaranya, seperti Guy Ritchie untuk Aladdin, Tim Burton untuk Dumbo, Niki Caro untuk Mulan, Jon Favreau yang sukses membuat CGI hewan- hewan di The Jungle Book untuk The Lion King, Marc Foster untuk Christopher Robin, dan David Lowery untuk Peter Pan. Dan saya pribadi masih berharap Hercules, Robin Hood, dan Tarzan ikut diadaptasi.

2

Sayangnya belum apa- apa film ini telah menuai kontroversi setelah Disney mengumumkan untuk pertama kalinya akan menghadirkan adegan gay yang cukup eksplisit. Ada yang pro, yang menyebutkan bahwa hal ini lumrah. Toh, in the end, akhlak anak akan ditentukan dengan pola didik orang tua. Ada juga yang kontra, yang takut bahwa hal ini akan menjadi kebiasaan dan akan menanamkan nilai LGBT yang wajar bagi anak kecil. Mengingat Walt Disney, identik dengan film anak- anak. Apalagi rating-nya masih PG-13 berbeda dengan misalnya superhero Deadpool yang memiliki konten violence tapi menaruh rating R. Anyhow, saya tidak akan membahas pendapat saya pribadi mengenai konten gay ini, meskipun teman- teman saya tahu bagaimana feedback saya tentang pemakluman konten LGBT dalam film anak- anak. Sebagai gambaran, memang ada beberapa konten LGBT yang dihadirkan sekilas dan cukup soft di film ini. Bisa jadi pertimbangan bagi para orang tua untuk memutuskan. Apakah anda pro dan kontra? Apakah anda merasa nyaman dan bisa mengarahkan anak anda? Yang penting perlu diingat rating usia film ini dan lebih baik anda ikut menemani anak anda menonton film ini. Just be our guest to watch this tale as old as time. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kong: Skull Island (2017)

Poster

Directed By: Jordan Vogt- Roberts

Cast: Tom Hiddleston, Brie Larson, Samuel L. Jackson, John Goodman, John C. Reilly, John Ortiz, Tian Jing, Toby Kebbell, Shea Wingham, Corey Hawkins

Synopsis:

Bill Randa (John Goodman), adalah seorang peneliti dari MONARCH, sebuah organisasi pemerintah yang meneliti tentang keberadaan mahluk- mahluk raksasa di perut bumi yang disebut sebagai M.U.T.O.s (Massive Unindentified Terrestrial Organisms), berhasil mendapatkan izin untuk meneliti sebuah pulau bernama Skull Island. Dengan bantuan pasukan tentara yang dipimpin oleh Preston Packard (Samuel L. Jackson), seorang fotografer yang bertugas untuk mendokumentasikan ekspesdisi terebut, Mason Weaver (Brie Larson), dan seorang tracker mantan pasukan khusus, James Conrad (Tom Hiddleston), mereka berhasil memasuki pulau rahasia yang dikelilingi oleh angin badai abadi. Tanpa diketahui seluruh tim, sebenarnya Randa memiliki misi untuk menangkap seekor gorila raksasa yang dipanggil Kong oleh penduduk asli pulau tersebut.

Review:

1

Kesuksesan MCU dalam menggabungkan beberapa karakter terkenal yang dibuatkan stand alone movie-nya dulu sebelum dikemudian hari dipertemukan di dalam sebuah film, ternyata menjadi fenomena tersendiri di dunia perfilman. Tidak sedikit studio- studio lain yang mengekor format ini. Setelah Warner Bros yang otomatis merasa tertantang untuk memfilmkan DCEU yang dianggap sebagai rival terkuat MCU, setidaknya ada 2 universe lagi yang dipersiapkan untuk meramaikan kancah industri layar lebar. Universal telah menyiapkan Universal Monsters Shared Universe, dan Legendary Entertainment dengan MonsterVerse. Sebenarnya shared universe macam ini bukanlah barang yang baru. Di industri perfilman telah ada istilah crossover movie. Crossover movie yang cukup terkenal seperti Alien vs Predator, Freddy vs Jason, dan LXG.

2

Ketika diumumkan akan di remake lagi, banyak fans yang mengharap Legendary Entertainment akan setia dengan template cerita original-nya. Seperti yang dilakuakn oleh Peter Jackson pada tahun 2005, yang disebut- sebut sebagai remake King Kong terbaik. Karena selain menggunakan plot cerita asli, namun juga memberikan petualangan yang lebih luas dan seru ketimbang versi tahun 1933. Tidak sedikit yang membayangkan kalau Brie Larson akan memerankan Ann Darrow, Tom Hiddleston sebagai Jack Driscoll, dan John Goodman sebagai Carl Denham. Namun setelah harapan tersebut dipatahkan dengan pengumuman resmi bahwa bukan hanya setting waktu yang diubah dari tahun 30an menjadi tahun 70an, pada masa perang Vietnam, kisahpun akan dibuat jauh berbeda. Nama- nama karakterpun akan dibuat baru, meskipun tidak dipungkiri beberapa karakter merupakan penggambaran ulang dari karakter lama, seperti James Conrad yang pemberani dan menjadi protagonis manusia utama seperti Jack Driscoll, Bill Randa yang bertubuh tambun, manipulatif, dan ambisius layaknya Carl Denham versi Jack Black, lalu Preston Packard yang memimpin pasukan seperti Captain Engelhorn. Hanya saja Mason Beaver bukan murni reinkarnasi dari Ann Darrow. Kong tidak jatuh hati dengannya. Satu- satunya hal yang diadopsi adalah Meaver merupakan satu- satunya karakter yang sempat kontak fisik dengan Kong tanpa tewas.

3

Sebenarnya bisa saja Legendary memberikan sedikit kegembiraan untuk para fans. Setidaknya, meskipun tetap mengubah setting waktu dan asal- usul Kong agar lebih masuk ke MonsterVerse, nama- nama karakter utama bisa saja tetap mempertahankan nama- nama legendaris tersebut; Carl Denham, Ann Darrow, dan Jack Driscoll. Bagi saya ini juga menambah kekecewaan setelah menilai lemahnya naskah yang dibuat serta banyaknya karakter- karakter mubazir dan tempelan, seperti San yang diperankan oleh Tian Jing, yang kelihatan banget sebagai pemuas pasar RRC, yang beberapa tahun ke belakang ini mengharuskan ada 1 karakter jagoan keturunan Chinese dalam tiap film blockbuster. Padahal sebenarnya, demi menonjolkan dan memuaskan pasar tersebut, karakter San bisa dibuat lebih memorable, atau karena sudah kadung menciptakan karakter baru, Tian Jing bisa menjadi karakter protagonis wanita utama.

4

Meskipun memiliki cerita yang lemah, namun adegan aksi dan special effect tidak usah diragukan. Walau sempat melempem dan dragging di pertengahan film, namun adegan- adegan aksi berikutnya cukup seru. Sebagai sebuah bagian dari MonsterVerse, Kong: Skull Island juga telah dengan baik meletakkan beberapa landasan cerita. Khususnya apa yang digambarkan pada after credit scene tentang apa yang telah menanti penonton pada setidaknya di 2 film ke depan; Godzilla: King of The Monsters (2019) dan Godzilla vs. Kong (2020). Kira- kira setelah Scarlet Witch dan Quicksilver membintangi Godzilla dan Kong: Skull Island dimeriahkan oleh Nick Fury, Loki, Captain Marvel, dan salah satu petugas Nova, apakah nantinya film- film berikutnya para monster raksasa akan bertemu dengan Captain Amerca, Thor, Hulk, Hawkeye, Black Widow, atau bahkan Star Lord dan Iron Man? (dnf)

Rating:

7/10

 

The Great Wall (2016)

Poster

Directed By: Zhang Yimou

Cast: Matt Damon, Pedro Pascal, Andy Lau, Willem Dafoe, Tian Jing

Synopsis:

William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascal) adalah dua tentara bayaran yang selamat dari tim ekspedisi untuk mencari bubuk mesiu di daratan Cina kuno. Mereka berlindung di tembok panjang yang ternyata berfungsi untuk menghalau monster kuno yang gemar memakan daging manusia. Merekapun mau tidak mau harus ikut membantu para pejuang, yang di antaranya adalah Komandan Lin Mei (Tian Jing) dan ahli strategi Wang (Andy Lau).

Review:

1

Tembok Cina merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia yang dijadikan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1987. Tembok yang dibangun secara bertahap selama lebih dari 2000 tahun ini sebenarnya merupakan kesatuan dari berbagai macam tembok. Meski banyak spekulasi tentang fungsi dibangunnya tembok ini, namun salah satu yang paling terkenal adalah sebagai penghalang dari serangan bangsa dari utara. Sehingga seringkali tembok cina dianggap sebagai simbol kesatuan dari rakyat Cina, yang pada saat itu terdiri dari berbagai macam kerajaan. Sama halnya dengan situs- situs warisan budaya di dunia, tembok Cina juga diselimuti dengan berbagai macam legenda, mitos, serta cerita rakyat. Tidak sedikit malahan kisah fiksi baru yang dibuat untuk menggambarkan latar belakang bangunan tersebut. Salah satunya adalah film The Great Wall ini.

2

Zhang Yimou telah membuktikan sekali lagi kemampuannya untuk mencampur gaya perfilman Hong Kong serta Hollywood. Seperti yang pernah dia lakukan lewat The Flowers of War tahun 2011 lalu. Salah satu kekuatan dari film ini adalah kemampuan tim sinematografi hasil kerjasama antara Stuart Dryburgh dan Xiaoding Zhao. Dryburgh yang kemampuannya dalam sisi pewarnaan telah kita nikmati lewat The Secret Life of Walter Mitty sangat sempurna saat mengkolaborasikand iri dengan Zhao yang tangannya sangat cekatan dalam memadukan warna- warni yang kontras. Sehingga, seperti bisa dilihat dari pemilihan warna kostum, film ini layaknya membaca komik tiongkok atau kartun mandarin yang biasanya warna- warni kostum sangat dominan dan berwarna- warni.

3

Tanpa drama dragging yang terlalu berbelit- belit khas film Mandarin, film The Great Wall menyajikan tempo kisah yang sangat cepat. Bahkan dari awalpun, film sudah dibuka dengan sajian penyerangan para monster yang cukup menegangkan sambil menunjukkan kemampuan tempur para tokoh. Hanya saja pertempuran klimkas kurang begitu digarap dengan baik, meskipun sebenarnya masih cukup watchable. Penyelesaian yang ditawarkan terlalu simple untuk suatu wabah yang sudah meneror daratan Tiongkok selama ribuan tahun ini.

4

Pemilihan pemain juga sangat pas. Dan yang cukup menarik perhatian adalah Pedro Pascal, yang kembali bisa berperan sebagai sidekick yang setia dan manusiawi, seperti yang pernah dia bawakan dalam serial Narcos. Dan yang benar- benar paling menarik adalah Tian Jing. Apalagi kalau bukan dari segi bentukan yang memang benar- benar menyegarkan mata. Aktris yang ke depannya akan mendapatkan peran- peran yang cukup signifikan dalam film- film unggulan seperti Kong: Skull Island serta sekuel Pacific Rim ini bisa saja akan menjadi Michelle Yeoh berikutnya yang namanya cukup terdengar di perfilman Hollywood. Who Knows?

5

^^^^^^^ INI DIA TIAN JING… Cakep kan…!!!!

Rating:

7.5/10

Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

fantastic_beasts_and_where_to_find_them_ver4_xxlg

Directed By: David Yates

Cast: Eddie Redmayne, Collin Farrell, Katherine Waterston, Alison Sudol, Dan Fogler, Ezra Miller

Synopsis:

Newt Scamander (Eddie Redmayne) adalah seorang penulis yang mendarat di kota New York dalam rangka melengkapi misinya untuk melestarikan hewan- hewan fantasi yang ada di seluruh dunia. Dia terjebak di sebuah insiden yang dapat membahayakan dunia sihir dan dunia manusia, setelah beberapa hewan fantasinya lepas. Dengan dibantu oleh dua penyihir adik- kakak, Tina (Katherine Waterston) dan Queenie (Alison Sudol) serta seorang manusia biasa, Kowalski (Dan Fogler) mereka harus menyelamatkan hewan- hewan fantasi sebelum menjadi kambing hitam dari semua insiden tersebut.

Review:

ghostbusters-2016-reboot-movie-review-chris-hemsworth

Siapa yang tidak tahu Harry Potter? Nama penyihir paling terkenal tersebut sudah menjadi salah satu ikon industri hiburan, layaknya James Bond, Superman, ataupun Batman. Pasalnya karakter yang diangkat dari buku seri hasil imajinasi J.K. Rowling ini bisa dikatakan cukup sukses di tangga box office dan kerap mendapatkan rating positif dari berbagai macam situs review film. Keberadaannya juga telah menciptakan trend tersendiri di genre aksi fantasi yang diekori oleh pengadaptasian literatur- literatur Young Adult lainnya. Namun sampai sekarang belum ada satupun yang berhasil mencetak rekor adaptasi keseluruhan ceritanya. Kecuali Twilight yang bagi saya pribadi berbeda dengan genre yang diusung oleh Harry Potter. Jika dibandingkan Harry Potter mungkin lebih mirip dengan karya- karya Rick Riordan.

2

Lalu ketika film dan bukunya tamat apakah berhenti sampai di situ saja? Well, siapa sih yang gak doyan duit? Selama masih ada permintaan dan kans yang baik di pasar, sudah pasti tidak akan disia- siakan. Beberapa di antaranya adalah menerbitkan buku Quiditch Throught The Ages dan Fantastic Beasts and Where to Find Them yang merupakan buku yang diposisikan sebagai buku yang dibaca Harry Potter. Dan yang belum lama ini adalah dengan membuat naskah drama Harry Potter and The Cursed Child yang sempat menuai kontroversi karena me-negro-kan karakter Hermione. Khusus buku Fantastic Beasts and Where to Find Them didaulat sebagai ensiklopedia hewan- hewan fantasi di dunia Harry Potter, baik yang sempat tampil maupun yang belum. Menariknya lagi, buku yang merupakan salah satu buku kurikulum di tahun pertama sekolah sihir Hogwarts ini ditulis oleh Newt Scamander, karakter fiksi yang sempat disebut dalam beberapa kisah dan menjadi nama pena Rowling dalam menulis buku ini. Namun untuk filmnya, dikisahkan sebagai latar belakang kisah pembuatan buku ini oleh Scamander yang direncanakan akan bergulir selama 5 seri.

sfsfsdfs

Dua hal yang sangat menarik dalam film ini. Yang pertama adalah casting yang nyaris sempurna. Eddie Redmayne memang sangat pas dalam menghidupkan karakter Scamander. Dan memang dirinya merupakan pilihan tepat untuk memerankan karakter- karakter aneh dan freak, seperti yang pernah dibawakannya lewat The Theory of Everything dan The Danish Girl. Berikutnya nama Dan Fogler memberikan sisi komikal dalam film ini yang mengingatkan kita pada karakter sidekick Ron Weasley. Dan mungkin jika ingin menyebutkan satu aktor lagi, Collin Farrell bermain sangat pas sebagai karakter antagonis. Yang kedua yang mampu membuat film ini menjadi menarik adalah polesan CGI yang begitu indah. Apalagi dalam menampilkan karakter mahluk- mahluk fantasi yang lucu dan juga mengerikan. Layaknya film- film Harpot lainnya, CGI menjadi salah satu unsur utama yang sangat diperhatikan dalam membawakan dunia magis ke dalam layar.

maxresdefault

Dengan memilih film ini sebagai adaptasi bebas dari buku yang juga dikarangnya, membuat J.K. Rowling menjadi bebas berekspresi tanpa harus terikat oleh buku yang biasanya menjadi kendala dalam mengadaptasi cerita. Seperti yang sudah diketahui oleh penonton, saat mengadaptasi buku biasanya membuat sebuah film kehilangan esensi dan tidak lagi semenarik saat membaca buku. Terbatasnya imajinasi yang dipatok dalam sebuah film serta plot yang mungkin diperingkas untuk keperluan durasi, yang terkadang menjadi bumerang bagi studio dan mendatangkan hujatan dari fans setianya. Tapi saat membuat cerita bebas dari buku yang sudah ada, menjadi sebuah ceritaan yang menarik dan tentunya akan terbebas dari kekangan- kekangan yang seperti saya sebutkan tadi. Dan hal itu sangat dimanfaatkan oleh penulis yang tercatat sebagai penulis buku terkaya itu. Eksplorasi imajinasinya terlihat dalam lebih fokusnya dia dalam membuat sajian sihir- sihiran, meski secara plot tidak sehebat seri Harpotnya. Namun hal tersebut tidak menjadi ganjalan karena akhirnya menjadikan film ini mudah dinikmati oleh setiap kalangan. Ditambah lagi sebuah “kejutan” di akhir kisah yang pastinya akan memuaskan bukan hanya Potterhead semata, tapi seluruh penonton.

FTB933_FBST_DTR4 2055.tif

Fantastic Beats and Where to Find Them berhasil meneruskan tongkat estafet Harpot franchise yang telah berakhir lewat Harry Potter and The Deadly Hallows: Part II pada tahun 2011 lalu. Dengan harapan, nantinya mampu menyaingi MCU atau jika memungkinkan Star Wars dan James Bond dalam eksis di industri layar perak. Tidak menutup kemungkinan jika nantinya seri ini sukses sampai 5 seri, seperti yang sudah direncanakan, Warner Bros akan meneruskan dengan mengadaptasi secara bebas buku Quidicth Through The Ages. (dnf)

Rating:

7.5/10

Warcraft: The Beginning (2016)

Durotan: Our hope is destroyed. There is nothing to go back to. Is war the only answer?

Poster

Directed By: Duncan Jones

Cast: Travis Fimmel, Paula Patton, Ben Foster, Dominic Cooper, Toby Kebbell, Ben Schnetzer, Robert Karzinsky, Clancy Brown, Daniel Wu, Anna Galvin, Ruth Negga, Callum Keith Rennie

Synopsis:

Azeroth merupakan sebuah sebuah alam dunia yang damai dan dimpimpin oleh King Llane (Dominic Cooper). Namun ketenangan tersebut dikacaukan oleh pasukan Orc dari dunia lain menggunakan sebuah portal antar dimensi. Tujuan mereka cuma satu; memusnahkan semua penghuni Azeroth dan menjadikan tempat tinggal mereka yang baru setelah dunianya hancur. King Llane memerintahkan beberapa orang kepercayannya seperti; Lothar (Travis Fimmell), Medivh (Ben Foster), dan Khadgar (Ben Schnetzer) untuk mencari tahu perihal masalah ini sekaligus memikirkan solusinya agar bencana kehancuran Azeroth bisa dihindari.

Salah seorang pemimpin suku kaum Orc, Durotan (Toby Kebbell) merasa bahwa peperangan bukanlah cara terbaik untuk mencari tempat tinggal yang baru. Karenanya dia, bersama letnannya sekaligus sahabatnya, Orgrim (Robert Kazainsky) mengerahkan pemberontakan untuk melawan kedikatoran Gul’dan (Daniel Wu), pimpinan para Orc yang memiliki kemampuan ilmu sihir hitam.

Review:

1

Berbeda dengan adaptasi komik, adaptasi video game ke dalam media film dipandang dengan sebelah mata oleh para kritikus. Pasalnya kebanyakan tidak memiliki kualitas yang bagus. Sementara fans asli juga banyak yang cukup kecewa dengan adaptasi game. Karena kurang bisanya experience yang didapati di game, atau gameplay yang menjadi ciri khas game tertentu untuk dihadirkan ke dalam layar. Belum lagi keterbatasan durasi yang membuat story menjadi terlalu dangkal (bagi yang gemar bermain game pasti tahu belakangan ini cerita game lebih kompleks dan lebih menarik ketimbang film). Kredit tersendiri atas padangan negatif tersebut perlu kita berikan kepada Uwe Boll, seorang sutradara spesialis adaptasi game yang kerap menjadi bulan- bulanan para kritikus akibat buruknya saat menangani sebuah film. Namun anehnya mendapatkan respon cukup baik saat membuat sebuah film non adaptasi game berjudul Rampage. Saking buruknya kualitas sang sutradar sampai- sampai pihak Blizzard menolak mentah- mentah tawaran sang sutradara untuk membeli hak cipta pembuatan film Warcraft. Hanya satu- dua franchise adaptasi game yang bisa dikatakan berhasil, seperti Resident Evil dan Tomb Raider.

2

Warcraft sendiri merupakan franchise game buatan Blizzard Entertainment yang memiliki genre Real Time Strategy dan sudah melahirkan 5 seri inti. Di luar video game, sayap Warcraft sendiri sudah melebar ke media- media lain, seperti novel, buku, board game, card game, action figure, dan lain sebagainya. Inti dari permainannya adalah pemain diharuskan untuk mengerahkan sejumlah pasukan untuk menyereang pasukan lawan. Seiring perkembangan jaman, franchise ini sudah merambah ke ranah online gaming lewat jilid keempatnya, World of Warcraft. Jadi bisa dikatakan fanbase dari game yang sudah berusia lebih dari 20 tahun ini sudah cukup kuat dan memiliki banyak anggota dari berbagai kalangan dan usia.

2

Banyak yang membanding- bandingkan film ini dengan The Lord of The Rings. Wajar, pasalnya mahluk mahluk fantasi yang dipakai kurang lebih sama. Orc, elf, dwarf memang menjadi salah satu latar belakang karakter dari film ini. Peperangan di antara para mahluk fiksi tersebut juga menjadi plot inti dari film ini. Apalagi Warcraft diniatkan untuk dijadikan sebuah trilogi. Yang menjadi jualan utama dari film ini adalah peperangan yang cukup epik. Tidak perlu memiliki cerita yang berbelit- belit layaknya fantasi rekaan JRR Tolkien tersebut. Dan bisa dikatakan memang, CGI memiliki peran yang cukup dominan dalam film ini. Sinematogrfinya juga membuat film ini mirip dengan game. Apalagi pemilihan warna- warna cahaya yang mencirikan tempat tinggal masing- masing ras. Hal ini membuat kualitas format IMAX-nya menjadi sangat bagus. Meskipun gimmick 3D kurang begitu efektif dalam memberikan kesan depth dan pop- up.

4

Jajaran cast bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu serius. Film semacam ini tidak membutuhkan akting yang bagus dan yang penting hanya bisa beraksi memuaskan penggemar laga fantasi semata. Makanya bakat seperti Ben Foster cukup disayangkan di dalam film ini. Karena tidak memiliki kesempatan untuk mengeksplor kemampuannya dalam mengolah akting. Yang cukup menarik bagi saya adalah disain karakter Orc. Oke, saya tidak main game- nya dan pengetahuan saya cukup sebatas melihat gambat dan mendengar cerita- cerita teman yang bermain film ini. Namun apa yang menjadi visualisasi saya dari cerita sekaligus rujukan gambar screenshot game- nya, tampilan Orc di film ini sudah cukup baik. Dan beberepa scene juga memang sudah cukup mewakili permainan strategi perang seperti melihat camp secara birdview yang menggambarkan para tentara sedang sibuk untuk mempersiapkan sebuah pertempuran.

5

Secara naskah, sebenarnya film ini tidak terlalu istimewa. Hanya saja untuk meletakkan batu dasar dari sebuah trilogi sudah cukup baik. Bisa dikatakan film ini menjadi sebuah origin dari apa yang nantinya akan dikembangkan dikedua sekuelnya. Dan hal ini memang sudah di-treat dengan begitu apik oleh Duncan Jones. Sehingga hal ini juga menjadikan film ini semakin mirip dengan The Lord of The Rings (at least for some people). Karena dengan treatment semacam ini kesinambungan cerita antar episode menjadi suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam arti si penonton harus menonton film pertamanya dulu baru bisa mengerti cerita di film- film berikutnya. Dan apakah cukup membuat penonton penasaran dengan kelanjutannya? Well, buat saya pribadi, saya cukup penasaran. (dnf)

Rating:

7.5/10

Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)

Superman: Next time they shine your light in the sky, don’t go to it. The Bat is dead. Bury it. Consider this mercy.

Batman: Tell me. Do you bleed? You will!

Poster

Directed By: Zack Snyder

Cast: Henry Cavill, Ben Affleck, Gal Gadot, Jessee Eisenberg, Michael Shannon, Holly Hunter, Diane Lane, Scott McNairy, Callan Mulvey

Synopsis:

Dalam pertarungan antara General Zod (Michael Shannon) dan Superman (Henry Cavill) di ending Man of Steel, banyak pihak yang mengalami kerugian. Baik materil, moril, maupun kerugian jiwa. Salah satunya adalah Bruce Wayne (Ben Affleck) yang salah satu perusahaanya hancur lebur akibat pertempuran tersebut.

18 bulan kemudian, banyak masyarakat Metropolis yang mulai antipati dengan Superman. Menanggapi hal ini, salah seorang multimiliyader jahat bernama Lex Luthor (Jessee Eisenberg) menawarkan rencana untuk mengalahkan Superman dengan menggunakan sebuah pecahan batu mineral dari kapal General Zod yang bisa melumpuhkan manusia Krypton. Bruce Wayne di lain pihak yang sudah lebih dari 20 tahun melindungi kota Gotham sedang menyelidiki keterlibatan seorang tentara bayaran bernama Anatoli Knyazev (Callan Mulvey) yang disinyalir terlibat dalam pengiriman sebuah kargo berbahaya. Ternyata Knyazev dan Luthor terlibat satu sama lainnya. Bruce pun kerap bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Diana Prince (Gal Gadot) yang memiliki agenda tersendiri terhadap Luthor.

Review:

1

Jauh sebelum berjayanya MCU yang telah memberikan wajah baru dalam dunia perfilman Hollywood, sebenarnya DC Comics telah lebih dulu berjaya. Bahkan jika ditilik lebih jauh, rencana menggabungkan lebih dari 1 superhero telah ada lewat proyek Justice League dan Batman vs Superman yang entah kenapa mandek dan berhenti tanpa ada kabar lebih lanjut. Kalau asumsi saya pribadi, ini dikarenakan hak memfilmkan karakter- karakter DC Comics eksklusif dipegang oleh Warner Bros, sementara karakter- karakter Marvel ditawarkan terbuka untuk difilmkan oleh studio manapun yang berminat untuk membeli hak filmnya. Sehingga paska kegagalan yang bertubi- tubi lewat Batman & Robin dan Catwoman yang dihujat habis- habisan oleh fans, Warner Bros terlihat tidak berani untuk melanjutkan rencana penggabungan superhero dalam satu film tersebut. Namun setelah melihat kesuksesan trilogi The Dark Knight sekaligus kesuksesan sang pesaing lewat Cinematic Universe-nya membuat petinggi Warner Bros memberikan lampu hijau untuk proyek DC Extended Universe yang dimulai 2013 lewat Man of Steel.

1

Man of Steel mendapatkan mixed review dari berbagai macam kalangan. Pasalnya pakemnya yang ingin membuat tone filmnya menjadi cenderung dark dan lebih gelap agak kurang bisa diterima bagi non fanboy yang notabene sudah terbiasa dengan film- film Marvel yang cenderung lebih ringan dan family friendly. Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi, karena melihat hasil akhir yang dibawa oleh BvS: DoJ sendiri sebenarnya lebih mengarah untuk memuaskan para fans. Khususnya mereka yang sudah terbiasa dengan universe komik DC. Sehingga tanggapan negatif sudah pasti akan datang dari berbagai kalangan. Sebagai sebuah fans service, BvS: DoJ telah berhasil menjalankan misinya dengan baik. Dari mulai disain karakter, tone warna, sampai beberapa adegan reka ulang panel komik dari storyline- storeyline DC Comics yang populer berhasil memanjakan para fans yang benar- benar hardcore fans (bukan mereka yang ngaku- ngaku ngerti dan suka baca komik padahal komik juga cuman 1-2 yang dibaca… sama aja kaya saya sekali dua kali pernah nonton sepakbola tapi lantas tidak langsung otomatis menasbihkan diri menjadi seorang sportsfan). PS: Tidak mungkin ada fanboy yang tidak girang melihat scene superhuman footage.

3

Dari segi plot kisah sebenarnya sudah rapi tertuang dari goresan tangan David S. Goyer dan Chris Terrio sudah cukup baik untuk membuka pintu bagi kemungkinan adanya kisah Justice League. Hanya saja eksekusi akhirnya menjadi terlihat terlalu padat dan jujur agak dragging hingga 2/3 film. Dan hal ini sebenarnya menjadi salah satu batu ganjalan yang cukup signifikan. Mungkin memang Snyder masih belum mampu diberikan beban tanggung jawab proyek yang berskala besar seperti ini. Jika ingin dibandingkan dengan Nolan yang cukup mampu meracik plot yang cukup berat menjadi sebuah sajian film yang mengibur, bukan hanya bagi fans Batman saja. Namun juga bagi para penonton awam, dan bahkan bisa menciptakan fanbase baru. Kepenuh sesakan plot cerita sebenarnya didasari oleh kejar target untuk memberikan landasan kisah yang cukup kuat untuk nantinya memungkinkan adanya film Justice League. Sehingga hal ini mengorbankan ritme kisah yang cenderung membosankan bagi sebagian besar orang.

4

Kredit tersendiri patut disematkan kepada Patrick Tatopoulos yang dengan sukses mendesain berbagai macam atribut universe, khususnya gadget Batman serta batwing dan batmobile. Sinematografi juga cukup apik, apalagi dalam menggambarkan gloomy serta dahsyatnya pertarungan final yang digambarkan sangat komik dan cukup seru. Ketiga adalah Hans Zimmer yang berkolaborasi dengan Junkie XL yang telah berjasa besar memberikan sentuhan musik yang benar- benar memberikan nyawa tersendiri bagi filmnya. Namun jika ingin membicarakan nilai buruk dari film ini salah satunya adalah editing yang sangat sangat tdiak rapi dan terlihat terlalu terburu- buru.

5

Dari jajaran casting, terdapat 2 nama yang menurut saya paling berjasa besar bagi film ini. Yaitu Ben Affleck dan Gal Gadot. Mereka berdua berhasil membuktikan kalah pilihan yang jatuh ke tangan mereka adalah sebuah keputusan yang tepat. Affleck menjelma menjadi karakter Batman yang brutal dan bad ass. Perpaduan antara apa yang ada di franchise game Arkham dan hasil imajinasi Frank Miller. Dan Batfleck adalah Batman yang memiliki fighting style terkeren sepanjang sejarah perfilman. Gadot berhasil memberikan sentuhan perpaduan antara gambaran seorang pejuang wanita dengan seorang lady, hal ini memang pas untuk seorang Wonder Woman, belum lagi pada saat kemunculannya dalam kostum Wonder Woman pertama kali di film yang berpadu sempurna dengan score dari Zimmer yang benar- benar sangat baik dan bisa dikatakan salah satu scene terbaik dari film ini. Cavill mengalami degradasi akting dibandingkan Man of Steel. Permainan emosinya kurang dapat, padahal dalam film ini seharusnya digambarkan Superman sedang dalam keadaan yang dilematis, namun akting Cavill cenderung datar. Amy Adams semakin terlihat tua, entah kenapa dari awal dia yang terpilih menjadi Lois Lane mengingat keterpautan usia yang sangat jauh dengan Cavill. Di Man of Steel, balutan make up bisa menipu usianya, namun di sini terlihat sangat tua. Irons bagus dan mampu memberikan sosok Alfred yang berbeda. Eisenberg yang saya rasa kurang pas jadi Luthor. Sepertinya aktinya agak ke Joker- Joker-an dan malah menurut saya lebih cocok menjadi The Riddler ketimbang seorang Lex Luthor. Apalagi mengingat dia akan di set menjadi villain utama di DCEU. Rasanya seharusnya ada aktor lain yang lebih pas dibanding dia.

6

Seperti saya bilang di awal, BvS: DoJ merupakan sebuah film yang memang diperuntukan bagi hardcore fans yang sudah terbiasa mengikuti komik- komik DC. Namun gaya bercerita Snyder terlalu membosankan bagi penonton awam. Seharusnya dia bisa menggali lebih dalam lagi dan lebih memperhatikan bagaimana penonton awam bisa menyaksikan film ini dengan lebih antusias. Untuk gimmick 3D, sudah sangat baik meski layar yang cenderung jadi lebih gelap membuat lebih baik disaksikan di layar 2D, jika mau 3D mending ke IMAX. Namun Snyder telah memberikan fans service yang cukup dahsyat. Terlebih ketika Trinity berkumpul dalam satu scene melawan Doomsday. So, what are you? A fanboy who actually digs comic book so much or just an ordinary moviegore who needs some pop corn movie? (dnf)

Rating:

7/10

Gods of Egypt (2016)

Horus: Are you sure you’re not a God?

Bek: What God would I be? Stupidity?

Horus: The Impossible.

Poster

Directed By: Alex Proyas

Cast: Nikolaj Coster- Waldau, Gerard Butler, Brenton Thwaites, Elodie Yung, Courtney Eaton, Rufus Sewell, Geoffrey Rush, Chadwick Boseman, Bryan Brown

Synopsis:

Pada zaman dahulu kala, kaum dewa mesir kuno hidup berdampingan dengan manusia. Sebagai mahluk yang lebih tinggi dan memiliki kekuatan magis serta spritiual yang sangat besar, kaum dewa disembah penduduk mesir. Dikisahkan Osiris (Bryan Brown) hendak turun tahta dan akan mewariskan mahkota kerajaan mesir kepada anaknya, sang dewa angin, Horus (Nikolaj Coster- Waldau). Hal ini membuat iri sang adik, Set (Gerard Butler). Set kemudian membunuh sang kakak dan mencabut mata keponakannya, Horus. Atas pengorbanan sang kekasih, Hathor (Elodie Yung), Horus diampuni dan diasingkan oleh Set. Hathor pun rela menjadi kekasih Set asal nyawa sang kekasih tidak diambil.

Tanpa kedua bola matanya, Horus tidak dapat mengalahkan Set. Tersebutlah seorang manusia pencuri bernama Bek (Brenton Thwaites) yang berhasil mencuri sebelah mata Horus dari ruang penyimpanan harta Set. Namun sayang, di tengah perjalanan kekasih Bek, Zaya (Courtney Eaton) tewas dibunuh sang majikan yang juga pengikut setia Set, Urshu (Rufus Sewell). Kini dengan dijanjikan akan dihidupkannya kembali sang kekasih, Bek setuju untuk membantu Horus mencari sebelah matanya lagi dan merebut kembali tahta kerajaan mesir dari tangan Set yang memerintah dengan keji.

Review:

IMG_8284

Berbicara mengenai Color blind casting, Hollywood sudah mempraktekannya selama lebih dari puluhan tahun. Istilah Color blind casting sendiri adalah pemilihan pemeran suatu karakter yang memiliki ras dan warna kulit berbeda dari karakter yang ada di sumber aslinya. Biasanya hal ini dikarenakan untuk menaikkan nilai jual atau untuk memberikan nuansa baru dari film tersebut. Meskipun bisa menuai kontra, namun tidak sedikit Color blind casting yang disambut hangat oleh para penonton. Sebagai contoh pemilihan Kristin Kreuk sebagai Lana Lang dalam serial Smallville yang memiliki darah Cina meskipun dalam komik aslinya murni caucasian. Lalu ada Liam Neeson yang berdarah caucasian memerankan Ra’s Al Ghul yang dalam sumber aslinya diceritakan memiliki darah timur tengah. Tapi ada juga yang menuai kontroversi. Yang masih segar di ingatan kita adalah pemilihan Michael B. Jordan sebagai Human Torch dan Will Smith sebagai Deathshot . begitu juga dengan Johnny Depp yang memerankan Tonto dengan dalih dia memiliki darah keturunan Indian Cherokee. Meskipun tidak seluruhnya, namun kebanyakan Color Blind Casting berkutat di ras kulit putih dan hitam saja. Adapun istilah yang dipakai dalam memakai aktor bule untuk memerankan karakter non- bule disebut dengan Whitewashing.

gods-of-egypt-superbowl-trailer-1020x574

Whitewashing sangat mudah ditemukan bagi karakter- karakter yang berasal dari warna kulit yang tidak terlalu banyak memiliki aktor di Hollywood. Sebut saja bangsa timur tengah dan native american. Selain yang telah saya sebutkan tadi, Liam Neeson memerankan Ra’s Al Ghul banyak film- film yang menitikberatkan bangsa timur tengah namun memakai aktor/ aktris caucasian seperti Elizabeth Taylor yang memerankan Cleopatra, Alec Guinnes dan Anthony dalam Lawrence of Arabia, dan puluhan aktor caucasian yang memerankan karakter- karakter penting dalam hidup Rasul Muhammad SAW dalam film The Message. Tahun lalu ada 2 film yang berasal dari sejarah rohani berjudul Noah dan Exodus yang menggunakan sistem Whitewashing dengan menggunakan aktor- aktris bule sebagai Nabi dan karakter- karakter penting di seputaran hidup Mereka.

3

Mengikuti jejak mitologi dewa- dewi Yunani yang sudah lebih terkenal di dalam dunia perfilman, sekaligus menjawab tantangan remake Clash of The Titans beberapa tahun lalu yang sempat mendapatkan sebuah sekuel, kini giliran dewa- dewi Mesir yang mendapatkan kehormatan untuk dibuatkan filmnya. Diadaptasi secara bebas dari salah satu kisah populer asal negara Cleopatra tersebut, The Contendings of Horus and Seth, film Gods of Egypt mengikuti kisah “sepupu jauh” nya asal Yunani dan Norse, yang diceritakan secara “lebih modern” lewat dwilogi film Thor. Belum jauh proses produksi bergulir, film ini sudah mendapatkan kecaman dari penyuka mitologi. Pasalnya pemilihan aktor dan aktris tidak mendapatkan restu dari para fans akibat isu whitewashing. Oke, mungkin untuk dewa dan dewi pihak produser bisa berdalih karena tidak ada ras seperti manusia bagi mereka. Jadi masih sah- sah aktor dari berbagai macam ras memerankan satu dewa. Namun di dalam film ini, tidak luput pula beberapa karakter manusia Mesir kuno yang diperankan oleh orang bule.

4

Jajaran cast yang dipersiapkan untuk menunjang angka box office dan perwujudan kaum dewa- dewi yang multirasial, terlepas dari ketidakakuratan warna kulit sebenarnya sudah cukup memberikan kontrubsi akting yang… yah lumayanlah buat film macam ini. Dari jajaran cast yang memerankan karakter dewa- dewi penting sudah cukup baik. Gerard Butler, meskipun berakting secara stereotype ala Leonidas-nya sudah bisa menampilkan pesona villain yang menyebalkan. Coster- Waldau meskipun kurang begitu meyakinkan dan kualitas aktingnya sangat ketimpa saat harus menjadi rival Butler, bisa membawakan adegan aksi laga dengan cukup menarik. Rufus Sewell seperti biasa, sangat pas dan wajahnya menyebalkan untuk menjadi penjahat. Chadwick Boseman cukup lucu dan menarik sebagai Toth. Hanya saja Brenton Thwaites yang diharapkan bisa menjadi sosok from zero to hero, berakhit hanya sebagai side kick yang mudah dilupakan. Untungnya ada Elodie Yung dan Courtney Eaton yang benar- benar bisa “memanjakan mata”.

5

Secara kualitas cerita tidak usah diributkan lagi. Penonton yang menonton film macam ini seharusnya sudah maklum bahwa kisah yang dihadirkan akan sangat dangkal. Jualannya tidak lain dan tidak bukan adalah pesta CGI yang melimpah ditambah adegan aksi petualangan yang seru. Secara garis besar, kisah dewa- dewi macam ini tidak akan jauh dari isu- isu iri, dengki, perebutan tahta, dan balas dendam yang terjadi di antara 2 dewa yang masih memiliki hubungan keluarga. Dan yang menanggung akibatnya adalah para manusia. dwilogi Titans remake mengangkat masalah ini. Bahkan jilid pertama film Thor-pun mengangkat tema yang tidak terlalu jauh dengan apa yang dikisahkan film ini. Dialog- dialogpun tidak ada yang cerdas dan cukup memorable. Dalam hal ini Clash of The Titans masih unggul karena memiliki quote “Release the Kraken”.

6

Untuk adegan aksi, Alex Proyas sudah cukup memberikan aksi fantasi yang seru. Meskipun tidak dapat dipungkiri, banyak adegan- adegan yang mencontek terinspirasi dari film Clash of The Titans. 2 di antaranya adalah serangan monster ular raksasa yang langsung mengingatkan kita kala Sam Worthington diserang sekawanan kalajengking raksasa. Dan monster yang menyimbolkan kegelapan dalam film ini (saya lupa namanya siapa) sedikit banyak disiapkan menjadi momok mengerikan yang mampu menghancurkan peradaban seperti Kraken. Namun tadi, jika kita tidak memperdulikan faktor whitawashing dan cerita yang berbobot, film ini memang menyuguhkan tontonan eye candy yang sangat menarik dan cukup menegangkan. Hanya sayangnya tidak dibalut dengan gimmick 3D yang cukup baik. So, my advise is, tinggalkan logika anda di rumah untuk menyaksikan film ini. (dnf)

Rating:

7/10