The Mummy (2017)

Poster

Directed By: Alex Kurtzman

Cast: Tom Cruise, Sofia Boutella, Annabelle Wallis, Russell Crowe, Jake Johnson

Synopsis:

Saat sedang hendak mencari harta karun, dua orang prajurit, Nick Morton (Tom Cruise) dan Chris Vail (Jake Johnson) menemukan jalan masuk ke sebuah makam dari seorang putri kerajaan Mesir kuno, Princess Ahmanet (Sofia Boutella) yang dikutuk karena menjalankan sebuah kejahatan keji pada jamannya. Nick pun tanpa sengaja membangunkan sang putri. Untuk ini, Nick pun dikutuk untuk menjadi target persembahan sang putri kepada Dewa Set. Dengan bantuan seorang arkeolog Jenny Halsey (Annabelle Wallis) dan seorang dokter Henry Jekyll (Russell Crowe), Nick mencari jalan untuk menggugurkan kutukan tersebut.

Review:

1

Paska kesuksesan MCU, studio- studio saingan berbondong- bondong untuk menciptakan shared universe dari database film- film koleksinya untuk nantinya dikumpulkan ke dalam satu film. Salah satunya adalah Universal Monsters yang direinkarnasi ulang dengan julukan Dark Universe. Sedikit informasi mengenai Universal Monsters, adalah sekumpulan film- film dengan genre horor, sci- fi, dan thriller suspense yang dirilis oleh studio berlogo bola dunia tersebut dalam rentang dekade antara tahun 1920 sampai 1950an. Ada 4 karakter paling populer yang menjadi trade mark dari line franchise ini. Yaitu The Mummy, Dracula, Frankenstein, dan Wolfman. Karakter- karakter lainnya yang diperkenalkan lewat franchise ini antara lain adalah Gillman, The Invisible Man, The Phantom of The Opera, Quasimodo, Van Helsing dan Edgar Allan Poe.

2

Sebenarnya ini bukanlah kali pertama karakter- karakter horor klasik tersebut disatukan dalam sebuah franchise. Judul- judul film seperti Van Helsing, The Ghost Squad, atau yang belum lama tayang dwilogi Hotel Transylvania pernah mencoba formula ini. Termasuk line lego Monster Fighters, yang meskipun tidak memakai nama- nama karakter yang sama, tapi memakai sosok karakter yang sama dengan franchise ini. Untuk Dark Universe, film pertama yang dijadikan pembuka adalah The Mummy. Dengan mengadaptasi bebas dari film The Mummy tahun 1932. Menandakan ini kali kedua film tersebut diadaptasi bebas setelah sebelumnya sempat dilakukan oleh Stephen Sommers yang sekaligus membuktikan seorang Brendan Fraser pun mampu menjadi action hero bukan hanya sekedar komedian.

3

Sebelum menyaksikan film The Mummy baru ini hal yang perlu diperhatikan adalah, secara genre mungkin lebih mendekati versi tahun 1999 yang menggunakan pendekatan aksi petualangan dibaluti unsur komedi bukan seperti versi aslinya yang lebih menitikberatkan nuansa horor suspense. Begitu juga nantinya dengan film- film Dark Universe lainnya. Sebagai sebuah sajian aksi petualangan film ini sudah cukup menjanjikan. Meskipun secara naskah dan kemasan masih tidak sekuat versi Stephen Sommers yang mampu membuat penonton laksana menaiki wahana permainan, film ini cukup memberikan aksi seru yang cukup menegangkan. Hanya saja naskah masih terlalu dangkal. Sepertinya David Koepp dan Christopher McQuarrie terlalu sibuk untuk membuka franchise ketimbang memberikan cerita yang bagus sebagai sebuah film standalone.

4

Univesal sepertinya mengambil jalan yang cukup berbeda dengan Dark Universe ini dibanding yang diambil oleh DCEU, MCU, dan Monsterverse dalam hal pemilihan jajaran cast. Aktor- aktor yang telah terpilih tidak main- main, mereka adalah aktor- aktor papan atas jaminan sebuah film akan sukses secara komersil, selain tentunya Universal harus merogoh kocek dalam- dalam untuk mengiming- imingi aktor- aktor tersebut. Mereka adalah Johnny Depp, Javier Bardem, Russell Crowe, dan Tom Cruise. Tom Cruise diplot sebagai aktor untuk film pembuka sebagai magnet penonton. Jadi setidaknya kalau orang tidak tertarik dengan franchise-nya setidaknya akan tertarik untuk nonton Tom Cruise. Sayangnya di sini mantan Nicole Kidman ini tidak memberikan kemampuan terbaiknya. Tampilan serta akting Cruise sebagai Nick Morton di sini identik dengan Ethan Hunt. Sehingga di beberapa adegan aksi kita terasa seperti menonton film Mission: Impossible saja.

5

Untungnya Sofia Boutella mampu memainkan perannya dengan sempurna. Berbeda dengan yang sempat dibawakan oleh Boris Karloff dan Arnold Vosloo. Jika dibandingkan mungkin bisa dibandingkan dengan Cesar Romero, Jack Nicholson, dan Heath Ledger di mana masing- masing sukses membawakan karakter The Joker dengan sempurna dan memiliki ciri khas tersendiri. Dengan peran Princess Ahmanet ini, Sofia Boutella semakin menancapkan predikat Bad Ass Chick-nya setelah cukup menyita perhatian lewat jilid pertama Kingsman dan jilid ketiga Star Trek-nya Chris Pine. Boutella bahkan mampu mengalahkan sinar kebintangan saat harus beradu akting dengan Tom Cruise. Selain itu Russell Crowe juga cukup meyakinkan sebagai Jekyll/ Hide.

6

Meskipun memiliki naskah yang kurang sempurna, bisa dikatakan film ini mampu menjadikan pembuka untuk Dark Universe. Hanya saja pemilihan Tom Cruise mungkin bisa digantikan dengan aktor populer yang tidak memberikan stereotype terlalu sama dengan peran- peran lainnya. Mungkin misal Tom Hardy. Namun secara keseluruhan saya cukup optimis dengan kelangsungan Dark Universe ke depannya. Apalagi dengan diumumkannya karakter Phantom of The Opera dan Quasimodo akan diangkat juga melengkapi Frankenstein, Wolfman, Gillman, Van Helsing, dan The Invisible Man, yang telah terlebih dulu dipastikan akan muncul. Mudah- mudahan juga Universal akan segera memutuskan. Apakah akan tetap tidak memasukkan Dracula Untold ke dalam shared universe ini atau malah bagaimana. Karena keputusan tersebut akan mempengaruhi apakah perlu dibuatkan lagi film standalone Dracula atau melanjutkan kontrak Luke Evans, yang menurut saya sudah cukup sempurna memerankan Dracula dan cocok jika dimasukkan ke dalam Dark Universe. Karena apalah arti Dark Universe tanpa Dracula? (dnf)

Rating:

8/10

Wonder Woman (2017)

34718360706_186536dc8e_k

Directed By: Patty Jenkins

Cast: Gal Gadot, Chris Pine, David Thewlis, Connie Nielsen, Alena Anaya, Lucy Davis, Danny Huston, Robin Wright, Ewen Bremmer, Eugene Brave Rock, Said Taghmaoui

Synopsis:

Princess Diana (Gal Gadot) adalah seorang putri dari kaum Amazon, yang selalu di anak emaskan oleh sang ratu, Queen Hippolyta (Connie Nielsen). Suatu hari, Diana menyaksikan seorang pilot terjatuh di pesisir pantai Themyscira, pulau kaum Amazon. Dia adalah Steve Trevor (Chris Pine), seorang agen intelijen Inggris yang hendak menghentikan sepak terjang seorang jenderal Jerman, Erich Ludendorff (Danny Huston) yang bekerjasama dengan Isabel Maru/ Doctor Poison (Elena Anaya) untuk menciptakan gas beracun yang dapat menimbulkan kematian baik dari sisi kedua pihak yang berperang.

Diana yang merasakan adanya peran sang dewa perang, Ares dalam perang dunia ini, terpanggil untuk menemani Steve membunuh Ares dan menghentikan peran dunia, sebelum semakin banyak korban yang jatuh.

Review:

1

Sudah menjadi pehamaman umum, bahwa semua film superhero wanita biasanya sukses. Iya, sukses dimaki kritikus dan sukses jatuh di tanggan Box Office. Sebut saja Supergirl, Catwoman, dan Elektra. Itu juga yang membuat Marvel enggan membuat film solo Superhero ceweknya. Sampai dia menjawab tantangan DCEU lewat Captain Marvel yang akan dibandingkan dengan Wonder Woman, sebagai film superhero wanita pertama dari saga sinematik kedua kubu. Sebenarnya bukan karena paham seksisme, diskriminasi, atau apapun. Film- film tersebut memang memiliki kualitas yang sangat buruk. Terlebih Catwoman, yang miscast dari berbagai hal. Wonder Woman dipercaya mampu membalikkan persepsi publik tersebut dan menaikkan citra superhero wanita di mata penonton.

2

Belum apa- apa, film Wonder Woman sudah mendapatkan pandangan miring dengan penetapan Gal Gadot sebagai sang putri Amazon. Alasannya adalah badannya yang terlalu kerempeng dan postur yang jauh dari gambaran umum dari seorang Wonder Woman. Sekaligus dibanding- bandingkan dengan Lynda Carter yang jauh lebih berisi di versi tahun jadulnya. Namun seperti halnya Ben Affleck, yang saat diangkat sebagai Batman sempat mendapatkan kritikan pedas serta hujatan dari para fans, Gadot mampu menapik penilaian buruk tersebut lewat BvS: Batman v Superman tahun lalu. Bahkan penampilannya sebagai Wonder Woman di film itu mampu menyaingi kedua superhero pria yang menjadi judul filmnya. Kalau boleh saya bilang malahan mampu menjadi scene stealer di pertarungan klimaks. Lengkap dengan musik Is She With You gubahan Hans Zimmer dan Junkie XL. Lengkap sudah alasan menunggu kehadiran film solonya.

3

Yang menjadi kekuatan dari film ini adalah performa Gal Gadot yang memang nyaris sempurna menjadi Wonder Woman. Perpaduan kecantikan serta eksotisme wajahnya menjadikan gambaran superhero wanita yang diceritakan dari kaum ningrat sekaligus tidak melupakan sisi fierce seorang pahlawan. Ditambah lagi dengan dialek Gadot yang seksi dalam berbahasa inggris. Begitu juga Chris Pine sebagai Steve Trevor yang cukup bagus. Selain itu lagu- lagu pengiring juga bisa dikatakan cukup memberikan warna dari adegan yang sedang berlangsung di layar. Namun bukan berarti dari segi casting tidak terdapat kesalahan. Aktor yang memerankan karakter musuh utama benar- benar miscast abis. Tidak ada kecocokan dengan karakter musuh utama yang terkenal bengis. Dari bentukan mukanya pun sangat tidak cocok.

5

Pemilihan Patty Jenkins diharapkan dapat memberikan sentuhan feminim untuk film ini. Patty Jenkins yang baru kali keduanya menyutradarai film layar lebar setelah Monster ini ternyata menjadi kesalahan yang cukup fatal. Pasalnya, gambaran Wonder Woman yang ditampilkan cukup seru tahun lalu dan menimbulkan ekspektasi bahwa filmnya juga bakal seru, malah menghadirkan adegan- adegan boring yang cukup dragging. Terutama dalam mengembangkan hubungan dan chemistry antara Diana dan Steve. Plothole pun banyak terjadi di sana- sini. Salah satunya adalah penjelasan bahwa kaum Amazon mampu berbicara dalam 1000 bahasa yang membuat penonton maklum kenapa di Themyscira bahasa inggris menjadi bahasa sehari- hari. Hal ini juga diperlihatkan dalam beberapa adegan saat Diana berbicara dalam berbagai bahasa. Hanya banyak saat di mana Diana berbicara dengan penduduk Eropa Timur menggunakan Bahasa Inggris, sementara terdengar bahasa Prancis (kalo gak salah) menjadi bahasa sehari- hari di daerah tersebut. Untuk adegan aksi masih bisa dikatakan seru. Terutama adegan aksi di pertengahan film. Hanya saja adegan klimaksnya terasa biasa saja. Padahal masih bisa dibuat jauh lebih baik lagi.

6

Secara keseluruhan film Wonder Woman menimbulkan kekecewaan untuk saya pribadi. Meskipun secara kualitas masih terselamatkan lewat 2 casting utama serta tampilan grafis yang masih related dengan BvS dan Man of Steel. Mudah- mudahan DCEU mampu belajar banyak untuk film- film berikutnya. Seperti halnya Warner yang mulai tidak anti menghadirkan joke- joke ringan di film- filmnya. Terutama untuk Justice League, Aquaman, dan The Flash yang dipersiapkan untuk masuk daftar tayang dalam waktu dekat. (dnf)

Rating:

7/10

Beauty and The Beast (2017)

Poster

Directed By: Bill Condon

Cast: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Josh Gad, Kevin Kline, Hattie Morahan, Ewan McGregor, Ian McKellen, Emma Thompson, Stanley Tucci, Audra McDonald, Gugu Mbatha- Raw, Nathan Mack

Synopsis:

Belle (Emma Watson) adalah seorang gadis cantik di pedesaan Prancis yang tinggal berdua dengan ayahnya, Maurice (Kevin Kline). Pada saat Maurice ditahan di sebuah kastil tua oleh sesosok mahluk seram bernama Beast (Dan Stevens), Belle yang berbakti menggantikan tempatnya sebagai tahanan abadi. Namun sejalan waktu, Belle menemukan sifat Beast yang baik dan empati terhadapnya. Apalagi mengetahui bahwa Beast sebenarnya adalah seorang pangeran yang dikutuk karena memiliki perangai yang kurang menyenangkan, hasil didikan ayahnya dulu. Namun mengetahui, Belle memiliki rasa terhadap Beast, pemuda populer di desa yang menaruh hati kepada Belle, Gaston (Luke Evans) menghimpun massa untuk menyerbu istana dan membunuh Beast.

Review:

1

Tahu gak kenapa sampai sekarang banyak kisah- kisah anak- anak yang dibuat dark dan terkadang memiliki konten dewasa? Misal kisah- kisah komik seperti Batman? Jawabannya sederhana. Karena penggemarnya yang menyukai sejak kecil masih tetap mencintai karakter tersebut. Namun seiring bertambah dewasa usianya, mereka menginginkan kisah yang di- adjust sehingga bisa dinikmati oleh dirinya yang telah dewasa. Memahami hal ini, studio animasi Walt Disney juga mau memuaskan dahaga para penggemar animasi klasiknya dengan membuat versi live action dari gudang perfilmannya. Dimulai dari film semacam (meskipun dulu sempat sukes dengan 101 Dalmatians pada medio 90-an) Alice in Wonderland, Maleficent (Sleeping Beauty), Cinderella, dan yang terakhir Jungle Book. Khusus dua film terkahir, Disney menggunakan pendekatan yang lebih setia dengan film animasinya. Beda dengan Alice dan Maleficent yang diubah cukup banyak. Khususnya dari sudut pandang karakter utama. Jika Alice ikut menjadikan Mad Hatter sebagai sidekick, dan Sleeping Beauty lebih fokus ke karakter villain, Maleficent dan membuat twist di akhir, Cinderella dan Jungle Book resmi mereka ulang adegan- adegan animasinya ke dalam versi live action, meski menambahkan beberapa elemen dan plot baru. Mengerti bahwa 2 film terkahir lebih disukai, Disney memutuskan untuk ikut lebih setia dengan animasi pertama yang mendapatkan nominasi Academy Awards ini.

3

Memilih genre musikal untuk film ini merupakan sebuah keputusan yang tepat. Apalagi mengingat animasi- animasi klasik Disney terkenal mengusung genre musikal yang menghadirkan gubahan musik- musik yang cukup legendaris. Dengan genre ini, Condon cukup sukses menghadirkan beberapa lagu dari versi animasinya menjadi lebih megah dan wah. Khususnya untuk lagu Be Our Guest. Selain lagu- lagu lama yang digubah ulang, film ini juga menambah beberapa lagu baru gubahan komposer Alan Menken yang juga mengerjakan versi animasinya dulu. Hanya saja penggarapan adegan dance yang cukup legendaris kurang begitu dikerjakan dengan baik. Tidak semegah film animasinya. Apalagi dalam versi animasinya adegan ini menandakan pertama kalinya Disney menggunakan teknik 3D CGI dalam film animasinya. Seperti halnya film Cinderella, kredit perlu diberikan juga kepada tim penata kostum, art direction, dan sinematografi yang berhasil memindahkan tampilan film animasi ke dalam versi live action.

4

Untuk menghidupkan karakter, jajaran cast yang terpilih telah mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Emma Watson berhasil menampilkan pesona girl next door yang smart dan independen. Sedikit mengingatkan kita dengan karakter Hermione yang melejitkan namanya. Ini juga yang membuat saya merasa dirinya terlalu muda. Bukan karena aktingnya tidak bagus. Aktingnya bagus. Hanya saja di otak saya masih teringat karakter Hermione yang masih kecil. Hanya saja Dan Stevens, yang biasa terlihat cukup “cowok”, di sini terlihat soft. Tapi itu bisa dimaklumi mengingat 95% durasi, wajahnya tertutup CGI sebagai Beast. Namun chemistry keduanya cukup terasa. Apalagi mengingat ini Beauty and The Beast salah satu film Disney yang menggunakan formula film romantis. Di mana kedua karakter tadinya saling membenci, untuk kemudian menjadi saling mencintai. Namun yang paling apik adalah penampilan Luke Evans yang sangat sempurna sebagai Gaston. Sebagai karakter narcist, tampan, egocentric, dan menyebalkan. Di satu sisi kita akan cukup terpesona dengan karakter ini. Wanita akan menginginkan dirinya, pria akan mendambakan menjadi dirinya. Di satu sisi, kita juga sebal dengan sifatnya yang menyebalkan. Pemilihan nama- nama terkenal seperti Ian McKellen, Ewan McGregor, Stanley Tucci, Emma Thompson dan nama- nama yang cukup asing seperti Audra McDonald, Gugu Mbatha- Raw, Nathan Mack cukup bisa menghidupkan karakter- karakter staff istana yang ikut dikutuk menjadi barang keperluan rumah tangga. Meski hanya menggunakan CGI dan menyumbangkan suara saja.

5

Melihat hasil akhir Beauty and The Beast, saya cukup menaruh harapan yang sangat besar dengan kelanjutan adaptasi animasi klasik Disney yang sudah berjejer antri untuk dibuatkan versi live action-nya. Di antara beberapa yang sudah dikonfirmasi atau yang masih sekedar rumor adalah The Lion King, Mulan, The Little Mermaid, Aladdin, Snow White and The Seven Dwarfs, Dumbo, Peter Pan, Oliver Twist, James and The Giang Peach, Pinochio, The Sword in The Stone, dan kabarnya lagi akan ada beberapa adaptasi yang mengambil sudut pandang berbeda atau mungkin juga sekuel seperti Cruella (101 Dalmatians (spin off or sequel?)), Tink (Tinkerbell dari franchise Peter Pan), Christopher Robin (sepertinya sekuel karena menceritakan Christopher Robin, manusia sahabat Winnie The Pooh). Beberapa film malahan sudah menemukan sutradaranya, seperti Guy Ritchie untuk Aladdin, Tim Burton untuk Dumbo, Niki Caro untuk Mulan, Jon Favreau yang sukses membuat CGI hewan- hewan di The Jungle Book untuk The Lion King, Marc Foster untuk Christopher Robin, dan David Lowery untuk Peter Pan. Dan saya pribadi masih berharap Hercules, Robin Hood, dan Tarzan ikut diadaptasi.

2

Sayangnya belum apa- apa film ini telah menuai kontroversi setelah Disney mengumumkan untuk pertama kalinya akan menghadirkan adegan gay yang cukup eksplisit. Ada yang pro, yang menyebutkan bahwa hal ini lumrah. Toh, in the end, akhlak anak akan ditentukan dengan pola didik orang tua. Ada juga yang kontra, yang takut bahwa hal ini akan menjadi kebiasaan dan akan menanamkan nilai LGBT yang wajar bagi anak kecil. Mengingat Walt Disney, identik dengan film anak- anak. Apalagi rating-nya masih PG-13 berbeda dengan misalnya superhero Deadpool yang memiliki konten violence tapi menaruh rating R. Anyhow, saya tidak akan membahas pendapat saya pribadi mengenai konten gay ini, meskipun teman- teman saya tahu bagaimana feedback saya tentang pemakluman konten LGBT dalam film anak- anak. Sebagai gambaran, memang ada beberapa konten LGBT yang dihadirkan sekilas dan cukup soft di film ini. Bisa jadi pertimbangan bagi para orang tua untuk memutuskan. Apakah anda pro dan kontra? Apakah anda merasa nyaman dan bisa mengarahkan anak anda? Yang penting perlu diingat rating usia film ini dan lebih baik anda ikut menemani anak anda menonton film ini. Just be our guest to watch this tale as old as time. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kong: Skull Island (2017)

Poster

Directed By: Jordan Vogt- Roberts

Cast: Tom Hiddleston, Brie Larson, Samuel L. Jackson, John Goodman, John C. Reilly, John Ortiz, Tian Jing, Toby Kebbell, Shea Wingham, Corey Hawkins

Synopsis:

Bill Randa (John Goodman), adalah seorang peneliti dari MONARCH, sebuah organisasi pemerintah yang meneliti tentang keberadaan mahluk- mahluk raksasa di perut bumi yang disebut sebagai M.U.T.O.s (Massive Unindentified Terrestrial Organisms), berhasil mendapatkan izin untuk meneliti sebuah pulau bernama Skull Island. Dengan bantuan pasukan tentara yang dipimpin oleh Preston Packard (Samuel L. Jackson), seorang fotografer yang bertugas untuk mendokumentasikan ekspesdisi terebut, Mason Weaver (Brie Larson), dan seorang tracker mantan pasukan khusus, James Conrad (Tom Hiddleston), mereka berhasil memasuki pulau rahasia yang dikelilingi oleh angin badai abadi. Tanpa diketahui seluruh tim, sebenarnya Randa memiliki misi untuk menangkap seekor gorila raksasa yang dipanggil Kong oleh penduduk asli pulau tersebut.

Review:

1

Kesuksesan MCU dalam menggabungkan beberapa karakter terkenal yang dibuatkan stand alone movie-nya dulu sebelum dikemudian hari dipertemukan di dalam sebuah film, ternyata menjadi fenomena tersendiri di dunia perfilman. Tidak sedikit studio- studio lain yang mengekor format ini. Setelah Warner Bros yang otomatis merasa tertantang untuk memfilmkan DCEU yang dianggap sebagai rival terkuat MCU, setidaknya ada 2 universe lagi yang dipersiapkan untuk meramaikan kancah industri layar lebar. Universal telah menyiapkan Universal Monsters Shared Universe, dan Legendary Entertainment dengan MonsterVerse. Sebenarnya shared universe macam ini bukanlah barang yang baru. Di industri perfilman telah ada istilah crossover movie. Crossover movie yang cukup terkenal seperti Alien vs Predator, Freddy vs Jason, dan LXG.

2

Ketika diumumkan akan di remake lagi, banyak fans yang mengharap Legendary Entertainment akan setia dengan template cerita original-nya. Seperti yang dilakuakn oleh Peter Jackson pada tahun 2005, yang disebut- sebut sebagai remake King Kong terbaik. Karena selain menggunakan plot cerita asli, namun juga memberikan petualangan yang lebih luas dan seru ketimbang versi tahun 1933. Tidak sedikit yang membayangkan kalau Brie Larson akan memerankan Ann Darrow, Tom Hiddleston sebagai Jack Driscoll, dan John Goodman sebagai Carl Denham. Namun setelah harapan tersebut dipatahkan dengan pengumuman resmi bahwa bukan hanya setting waktu yang diubah dari tahun 30an menjadi tahun 70an, pada masa perang Vietnam, kisahpun akan dibuat jauh berbeda. Nama- nama karakterpun akan dibuat baru, meskipun tidak dipungkiri beberapa karakter merupakan penggambaran ulang dari karakter lama, seperti James Conrad yang pemberani dan menjadi protagonis manusia utama seperti Jack Driscoll, Bill Randa yang bertubuh tambun, manipulatif, dan ambisius layaknya Carl Denham versi Jack Black, lalu Preston Packard yang memimpin pasukan seperti Captain Engelhorn. Hanya saja Mason Beaver bukan murni reinkarnasi dari Ann Darrow. Kong tidak jatuh hati dengannya. Satu- satunya hal yang diadopsi adalah Meaver merupakan satu- satunya karakter yang sempat kontak fisik dengan Kong tanpa tewas.

3

Sebenarnya bisa saja Legendary memberikan sedikit kegembiraan untuk para fans. Setidaknya, meskipun tetap mengubah setting waktu dan asal- usul Kong agar lebih masuk ke MonsterVerse, nama- nama karakter utama bisa saja tetap mempertahankan nama- nama legendaris tersebut; Carl Denham, Ann Darrow, dan Jack Driscoll. Bagi saya ini juga menambah kekecewaan setelah menilai lemahnya naskah yang dibuat serta banyaknya karakter- karakter mubazir dan tempelan, seperti San yang diperankan oleh Tian Jing, yang kelihatan banget sebagai pemuas pasar RRC, yang beberapa tahun ke belakang ini mengharuskan ada 1 karakter jagoan keturunan Chinese dalam tiap film blockbuster. Padahal sebenarnya, demi menonjolkan dan memuaskan pasar tersebut, karakter San bisa dibuat lebih memorable, atau karena sudah kadung menciptakan karakter baru, Tian Jing bisa menjadi karakter protagonis wanita utama.

4

Meskipun memiliki cerita yang lemah, namun adegan aksi dan special effect tidak usah diragukan. Walau sempat melempem dan dragging di pertengahan film, namun adegan- adegan aksi berikutnya cukup seru. Sebagai sebuah bagian dari MonsterVerse, Kong: Skull Island juga telah dengan baik meletakkan beberapa landasan cerita. Khususnya apa yang digambarkan pada after credit scene tentang apa yang telah menanti penonton pada setidaknya di 2 film ke depan; Godzilla: King of The Monsters (2019) dan Godzilla vs. Kong (2020). Kira- kira setelah Scarlet Witch dan Quicksilver membintangi Godzilla dan Kong: Skull Island dimeriahkan oleh Nick Fury, Loki, Captain Marvel, dan salah satu petugas Nova, apakah nantinya film- film berikutnya para monster raksasa akan bertemu dengan Captain Amerca, Thor, Hulk, Hawkeye, Black Widow, atau bahkan Star Lord dan Iron Man? (dnf)

Rating:

7/10

 

The Great Wall (2016)

Poster

Directed By: Zhang Yimou

Cast: Matt Damon, Pedro Pascal, Andy Lau, Willem Dafoe, Tian Jing

Synopsis:

William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascal) adalah dua tentara bayaran yang selamat dari tim ekspedisi untuk mencari bubuk mesiu di daratan Cina kuno. Mereka berlindung di tembok panjang yang ternyata berfungsi untuk menghalau monster kuno yang gemar memakan daging manusia. Merekapun mau tidak mau harus ikut membantu para pejuang, yang di antaranya adalah Komandan Lin Mei (Tian Jing) dan ahli strategi Wang (Andy Lau).

Review:

1

Tembok Cina merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia yang dijadikan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1987. Tembok yang dibangun secara bertahap selama lebih dari 2000 tahun ini sebenarnya merupakan kesatuan dari berbagai macam tembok. Meski banyak spekulasi tentang fungsi dibangunnya tembok ini, namun salah satu yang paling terkenal adalah sebagai penghalang dari serangan bangsa dari utara. Sehingga seringkali tembok cina dianggap sebagai simbol kesatuan dari rakyat Cina, yang pada saat itu terdiri dari berbagai macam kerajaan. Sama halnya dengan situs- situs warisan budaya di dunia, tembok Cina juga diselimuti dengan berbagai macam legenda, mitos, serta cerita rakyat. Tidak sedikit malahan kisah fiksi baru yang dibuat untuk menggambarkan latar belakang bangunan tersebut. Salah satunya adalah film The Great Wall ini.

2

Zhang Yimou telah membuktikan sekali lagi kemampuannya untuk mencampur gaya perfilman Hong Kong serta Hollywood. Seperti yang pernah dia lakukan lewat The Flowers of War tahun 2011 lalu. Salah satu kekuatan dari film ini adalah kemampuan tim sinematografi hasil kerjasama antara Stuart Dryburgh dan Xiaoding Zhao. Dryburgh yang kemampuannya dalam sisi pewarnaan telah kita nikmati lewat The Secret Life of Walter Mitty sangat sempurna saat mengkolaborasikand iri dengan Zhao yang tangannya sangat cekatan dalam memadukan warna- warni yang kontras. Sehingga, seperti bisa dilihat dari pemilihan warna kostum, film ini layaknya membaca komik tiongkok atau kartun mandarin yang biasanya warna- warni kostum sangat dominan dan berwarna- warni.

3

Tanpa drama dragging yang terlalu berbelit- belit khas film Mandarin, film The Great Wall menyajikan tempo kisah yang sangat cepat. Bahkan dari awalpun, film sudah dibuka dengan sajian penyerangan para monster yang cukup menegangkan sambil menunjukkan kemampuan tempur para tokoh. Hanya saja pertempuran klimkas kurang begitu digarap dengan baik, meskipun sebenarnya masih cukup watchable. Penyelesaian yang ditawarkan terlalu simple untuk suatu wabah yang sudah meneror daratan Tiongkok selama ribuan tahun ini.

4

Pemilihan pemain juga sangat pas. Dan yang cukup menarik perhatian adalah Pedro Pascal, yang kembali bisa berperan sebagai sidekick yang setia dan manusiawi, seperti yang pernah dia bawakan dalam serial Narcos. Dan yang benar- benar paling menarik adalah Tian Jing. Apalagi kalau bukan dari segi bentukan yang memang benar- benar menyegarkan mata. Aktris yang ke depannya akan mendapatkan peran- peran yang cukup signifikan dalam film- film unggulan seperti Kong: Skull Island serta sekuel Pacific Rim ini bisa saja akan menjadi Michelle Yeoh berikutnya yang namanya cukup terdengar di perfilman Hollywood. Who Knows?

5

^^^^^^^ INI DIA TIAN JING… Cakep kan…!!!!

Rating:

7.5/10

Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

fantastic_beasts_and_where_to_find_them_ver4_xxlg

Directed By: David Yates

Cast: Eddie Redmayne, Collin Farrell, Katherine Waterston, Alison Sudol, Dan Fogler, Ezra Miller

Synopsis:

Newt Scamander (Eddie Redmayne) adalah seorang penulis yang mendarat di kota New York dalam rangka melengkapi misinya untuk melestarikan hewan- hewan fantasi yang ada di seluruh dunia. Dia terjebak di sebuah insiden yang dapat membahayakan dunia sihir dan dunia manusia, setelah beberapa hewan fantasinya lepas. Dengan dibantu oleh dua penyihir adik- kakak, Tina (Katherine Waterston) dan Queenie (Alison Sudol) serta seorang manusia biasa, Kowalski (Dan Fogler) mereka harus menyelamatkan hewan- hewan fantasi sebelum menjadi kambing hitam dari semua insiden tersebut.

Review:

ghostbusters-2016-reboot-movie-review-chris-hemsworth

Siapa yang tidak tahu Harry Potter? Nama penyihir paling terkenal tersebut sudah menjadi salah satu ikon industri hiburan, layaknya James Bond, Superman, ataupun Batman. Pasalnya karakter yang diangkat dari buku seri hasil imajinasi J.K. Rowling ini bisa dikatakan cukup sukses di tangga box office dan kerap mendapatkan rating positif dari berbagai macam situs review film. Keberadaannya juga telah menciptakan trend tersendiri di genre aksi fantasi yang diekori oleh pengadaptasian literatur- literatur Young Adult lainnya. Namun sampai sekarang belum ada satupun yang berhasil mencetak rekor adaptasi keseluruhan ceritanya. Kecuali Twilight yang bagi saya pribadi berbeda dengan genre yang diusung oleh Harry Potter. Jika dibandingkan Harry Potter mungkin lebih mirip dengan karya- karya Rick Riordan.

2

Lalu ketika film dan bukunya tamat apakah berhenti sampai di situ saja? Well, siapa sih yang gak doyan duit? Selama masih ada permintaan dan kans yang baik di pasar, sudah pasti tidak akan disia- siakan. Beberapa di antaranya adalah menerbitkan buku Quiditch Throught The Ages dan Fantastic Beasts and Where to Find Them yang merupakan buku yang diposisikan sebagai buku yang dibaca Harry Potter. Dan yang belum lama ini adalah dengan membuat naskah drama Harry Potter and The Cursed Child yang sempat menuai kontroversi karena me-negro-kan karakter Hermione. Khusus buku Fantastic Beasts and Where to Find Them didaulat sebagai ensiklopedia hewan- hewan fantasi di dunia Harry Potter, baik yang sempat tampil maupun yang belum. Menariknya lagi, buku yang merupakan salah satu buku kurikulum di tahun pertama sekolah sihir Hogwarts ini ditulis oleh Newt Scamander, karakter fiksi yang sempat disebut dalam beberapa kisah dan menjadi nama pena Rowling dalam menulis buku ini. Namun untuk filmnya, dikisahkan sebagai latar belakang kisah pembuatan buku ini oleh Scamander yang direncanakan akan bergulir selama 5 seri.

sfsfsdfs

Dua hal yang sangat menarik dalam film ini. Yang pertama adalah casting yang nyaris sempurna. Eddie Redmayne memang sangat pas dalam menghidupkan karakter Scamander. Dan memang dirinya merupakan pilihan tepat untuk memerankan karakter- karakter aneh dan freak, seperti yang pernah dibawakannya lewat The Theory of Everything dan The Danish Girl. Berikutnya nama Dan Fogler memberikan sisi komikal dalam film ini yang mengingatkan kita pada karakter sidekick Ron Weasley. Dan mungkin jika ingin menyebutkan satu aktor lagi, Collin Farrell bermain sangat pas sebagai karakter antagonis. Yang kedua yang mampu membuat film ini menjadi menarik adalah polesan CGI yang begitu indah. Apalagi dalam menampilkan karakter mahluk- mahluk fantasi yang lucu dan juga mengerikan. Layaknya film- film Harpot lainnya, CGI menjadi salah satu unsur utama yang sangat diperhatikan dalam membawakan dunia magis ke dalam layar.

maxresdefault

Dengan memilih film ini sebagai adaptasi bebas dari buku yang juga dikarangnya, membuat J.K. Rowling menjadi bebas berekspresi tanpa harus terikat oleh buku yang biasanya menjadi kendala dalam mengadaptasi cerita. Seperti yang sudah diketahui oleh penonton, saat mengadaptasi buku biasanya membuat sebuah film kehilangan esensi dan tidak lagi semenarik saat membaca buku. Terbatasnya imajinasi yang dipatok dalam sebuah film serta plot yang mungkin diperingkas untuk keperluan durasi, yang terkadang menjadi bumerang bagi studio dan mendatangkan hujatan dari fans setianya. Tapi saat membuat cerita bebas dari buku yang sudah ada, menjadi sebuah ceritaan yang menarik dan tentunya akan terbebas dari kekangan- kekangan yang seperti saya sebutkan tadi. Dan hal itu sangat dimanfaatkan oleh penulis yang tercatat sebagai penulis buku terkaya itu. Eksplorasi imajinasinya terlihat dalam lebih fokusnya dia dalam membuat sajian sihir- sihiran, meski secara plot tidak sehebat seri Harpotnya. Namun hal tersebut tidak menjadi ganjalan karena akhirnya menjadikan film ini mudah dinikmati oleh setiap kalangan. Ditambah lagi sebuah “kejutan” di akhir kisah yang pastinya akan memuaskan bukan hanya Potterhead semata, tapi seluruh penonton.

FTB933_FBST_DTR4 2055.tif

Fantastic Beats and Where to Find Them berhasil meneruskan tongkat estafet Harpot franchise yang telah berakhir lewat Harry Potter and The Deadly Hallows: Part II pada tahun 2011 lalu. Dengan harapan, nantinya mampu menyaingi MCU atau jika memungkinkan Star Wars dan James Bond dalam eksis di industri layar perak. Tidak menutup kemungkinan jika nantinya seri ini sukses sampai 5 seri, seperti yang sudah direncanakan, Warner Bros akan meneruskan dengan mengadaptasi secara bebas buku Quidicth Through The Ages. (dnf)

Rating:

7.5/10

Warcraft: The Beginning (2016)

Durotan: Our hope is destroyed. There is nothing to go back to. Is war the only answer?

Poster

Directed By: Duncan Jones

Cast: Travis Fimmel, Paula Patton, Ben Foster, Dominic Cooper, Toby Kebbell, Ben Schnetzer, Robert Karzinsky, Clancy Brown, Daniel Wu, Anna Galvin, Ruth Negga, Callum Keith Rennie

Synopsis:

Azeroth merupakan sebuah sebuah alam dunia yang damai dan dimpimpin oleh King Llane (Dominic Cooper). Namun ketenangan tersebut dikacaukan oleh pasukan Orc dari dunia lain menggunakan sebuah portal antar dimensi. Tujuan mereka cuma satu; memusnahkan semua penghuni Azeroth dan menjadikan tempat tinggal mereka yang baru setelah dunianya hancur. King Llane memerintahkan beberapa orang kepercayannya seperti; Lothar (Travis Fimmell), Medivh (Ben Foster), dan Khadgar (Ben Schnetzer) untuk mencari tahu perihal masalah ini sekaligus memikirkan solusinya agar bencana kehancuran Azeroth bisa dihindari.

Salah seorang pemimpin suku kaum Orc, Durotan (Toby Kebbell) merasa bahwa peperangan bukanlah cara terbaik untuk mencari tempat tinggal yang baru. Karenanya dia, bersama letnannya sekaligus sahabatnya, Orgrim (Robert Kazainsky) mengerahkan pemberontakan untuk melawan kedikatoran Gul’dan (Daniel Wu), pimpinan para Orc yang memiliki kemampuan ilmu sihir hitam.

Review:

1

Berbeda dengan adaptasi komik, adaptasi video game ke dalam media film dipandang dengan sebelah mata oleh para kritikus. Pasalnya kebanyakan tidak memiliki kualitas yang bagus. Sementara fans asli juga banyak yang cukup kecewa dengan adaptasi game. Karena kurang bisanya experience yang didapati di game, atau gameplay yang menjadi ciri khas game tertentu untuk dihadirkan ke dalam layar. Belum lagi keterbatasan durasi yang membuat story menjadi terlalu dangkal (bagi yang gemar bermain game pasti tahu belakangan ini cerita game lebih kompleks dan lebih menarik ketimbang film). Kredit tersendiri atas padangan negatif tersebut perlu kita berikan kepada Uwe Boll, seorang sutradara spesialis adaptasi game yang kerap menjadi bulan- bulanan para kritikus akibat buruknya saat menangani sebuah film. Namun anehnya mendapatkan respon cukup baik saat membuat sebuah film non adaptasi game berjudul Rampage. Saking buruknya kualitas sang sutradar sampai- sampai pihak Blizzard menolak mentah- mentah tawaran sang sutradara untuk membeli hak cipta pembuatan film Warcraft. Hanya satu- dua franchise adaptasi game yang bisa dikatakan berhasil, seperti Resident Evil dan Tomb Raider.

2

Warcraft sendiri merupakan franchise game buatan Blizzard Entertainment yang memiliki genre Real Time Strategy dan sudah melahirkan 5 seri inti. Di luar video game, sayap Warcraft sendiri sudah melebar ke media- media lain, seperti novel, buku, board game, card game, action figure, dan lain sebagainya. Inti dari permainannya adalah pemain diharuskan untuk mengerahkan sejumlah pasukan untuk menyereang pasukan lawan. Seiring perkembangan jaman, franchise ini sudah merambah ke ranah online gaming lewat jilid keempatnya, World of Warcraft. Jadi bisa dikatakan fanbase dari game yang sudah berusia lebih dari 20 tahun ini sudah cukup kuat dan memiliki banyak anggota dari berbagai kalangan dan usia.

2

Banyak yang membanding- bandingkan film ini dengan The Lord of The Rings. Wajar, pasalnya mahluk mahluk fantasi yang dipakai kurang lebih sama. Orc, elf, dwarf memang menjadi salah satu latar belakang karakter dari film ini. Peperangan di antara para mahluk fiksi tersebut juga menjadi plot inti dari film ini. Apalagi Warcraft diniatkan untuk dijadikan sebuah trilogi. Yang menjadi jualan utama dari film ini adalah peperangan yang cukup epik. Tidak perlu memiliki cerita yang berbelit- belit layaknya fantasi rekaan JRR Tolkien tersebut. Dan bisa dikatakan memang, CGI memiliki peran yang cukup dominan dalam film ini. Sinematogrfinya juga membuat film ini mirip dengan game. Apalagi pemilihan warna- warna cahaya yang mencirikan tempat tinggal masing- masing ras. Hal ini membuat kualitas format IMAX-nya menjadi sangat bagus. Meskipun gimmick 3D kurang begitu efektif dalam memberikan kesan depth dan pop- up.

4

Jajaran cast bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu serius. Film semacam ini tidak membutuhkan akting yang bagus dan yang penting hanya bisa beraksi memuaskan penggemar laga fantasi semata. Makanya bakat seperti Ben Foster cukup disayangkan di dalam film ini. Karena tidak memiliki kesempatan untuk mengeksplor kemampuannya dalam mengolah akting. Yang cukup menarik bagi saya adalah disain karakter Orc. Oke, saya tidak main game- nya dan pengetahuan saya cukup sebatas melihat gambat dan mendengar cerita- cerita teman yang bermain film ini. Namun apa yang menjadi visualisasi saya dari cerita sekaligus rujukan gambar screenshot game- nya, tampilan Orc di film ini sudah cukup baik. Dan beberepa scene juga memang sudah cukup mewakili permainan strategi perang seperti melihat camp secara birdview yang menggambarkan para tentara sedang sibuk untuk mempersiapkan sebuah pertempuran.

5

Secara naskah, sebenarnya film ini tidak terlalu istimewa. Hanya saja untuk meletakkan batu dasar dari sebuah trilogi sudah cukup baik. Bisa dikatakan film ini menjadi sebuah origin dari apa yang nantinya akan dikembangkan dikedua sekuelnya. Dan hal ini memang sudah di-treat dengan begitu apik oleh Duncan Jones. Sehingga hal ini juga menjadikan film ini semakin mirip dengan The Lord of The Rings (at least for some people). Karena dengan treatment semacam ini kesinambungan cerita antar episode menjadi suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam arti si penonton harus menonton film pertamanya dulu baru bisa mengerti cerita di film- film berikutnya. Dan apakah cukup membuat penonton penasaran dengan kelanjutannya? Well, buat saya pribadi, saya cukup penasaran. (dnf)

Rating:

7.5/10