Don’t Breathe (2016)

Poster

Directed By: Fede Alvarez

Cast: Stephen Lang, Jane Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto

Synopsis:

Money (Daniel Zovatto), Rocky (Jane Levy), dan Alex (Dylan Minnette) adalah kawanan pencuri muda yang berencana untuk membobol rumah seorang veteran buta yang hidup seorang diri di lingkungan yang kumuh (Stephen Lang). Hanya saja, ternyata sang veteran memiliki skill yang mematikan. Keempat indera lainnya mampu menutupi indera penglihatannya yang tidak berfungsi. Dan rencana pencurian tersebut menjadi neraka bagi mereka.

Review:

1

Ciri khas sebuah film, atau karya seni lainnya, adalah membuat audience berempati terhadap karakter protagonis. Meskipun diceritakan sang protagonis memiliki profesi sebagai pembunuh bayaran, perampok, atau gangster sekalipun biasanya cerita menghadirkan karakter villain yang jauh lebih jahat dan membuat penonton memberikan izin atas apapun kejadian buruk dan hukuman yang diterima oleh sang villain. Uniknya film Don’t Breathe memiliki template di mana justru karakter villain atau antagonisnya merupakan si korban. Dan semua perlakuan buruk yang dilakukannya ditujukan kepada mereka yang pernah menyakitinya, seperti para protagonis di film ini yang merupakan komplotan pencuri. Dan itu bisa saja terjadi sama kita. Dan di kehidupan nyatapun kita pastinya akan mendukung karakter The Blind Man. Masih ingatkan berita yang sempat viral tentang seorang korban pencurian yang membela diri dengan memukul kepala si pencuri sampai mati, eh malah dipenjara? Coba gimana tanggapan kita? Mendukung si pencuri atau mendukung si korban?

2

Fede Alvarez adalah seorang sutradara yang sukses memberikan level ketegangan lebih tinggi saat me-reboot film Evil Dead. Bahkan tidak sedikit pujian diberikan yang menyatakan bahwa karyanya tersebut mengungguli film aslinya yang disutradarai oleh Sam Raimi, yang berlaku sebagai produser di film reboot-nya tersebut. Otomatis ketika berhasil mengamankan naskah film yang tadinya akan diberi judul The Man in The Dark ini, mantan sutradara Spider- Man itu langsung mengkontak Alvarez. Dan terbukti sekali lagi, dia mampu memberikan level ketengan yang sangat seru dari awal hingga akhir film. Ketegangan juga berhasil dibangun lewat tangan sinematografer Pedro Luque. Luque berhasil membuat shot shot yang cukup efektif dalam membangun ketegangan. Duet Luque dan Alvarez berhasil mengelurkan klaustrofobia penonton di tengah adegan kucing- kucingan antara para pencuri dan pemilik rumah.

3

Selain memboyong Alvarez, Raimi juga membawa Jane Levy yang ikut memeriahkan reboot Evil Dead. Jika di film reboot tersebut, Levy mampu membuat penonton ketakutan, di sini Levy mampu membuat penonton terpecah antara simpati dengan kehidupan pribadinya dan sebal dengan sikapnya yang mementingkan diri sendiri dan cukup seductive. Zovatto bermain cukup pas. Minnette mampu memainkan karakter yang memiliki moral yang paling tinggi di film ini. Sementara standing applause patut kita berikan kepada Stephen Lang. Aktor yang meski sudah menginjak usia senja namun tetap fit ini memang tidak pernah fail dalam membawakan perannya. Apalagi jika memainkan peran villain, seperti saat memerankan karakter Colonel Quaritch di Avatar.

4

Don’t Breathe mempertanyakan moral kita yang mampu berbuat keji terhadap orang yang kurang beruntung, dalam hal ini orang yang cacat. Dan bisa dikatakan film ini masuk ke daftar kuda hitam yang mampu memberikan kejutan tersendiri di dalamnya. Alur ketegangan tetap terjaga dari awal sampai habis dengan selipan twist yang cukup tertutup rapi hingga dua pertiga durasi. Tidak salah film ini memiliki judul Don’t Breathe, because we can not breathe while watching this movie. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

Lights Out (2016)

Becca: You came back

Martin: So did you

Poster

Directed By: David F. Sandberg

Cast: Teresa Palmer, Mario Bello, Gabriel Bateman, Alexander DiPersia, Alicia Vela- Bailey, Billy Burke

Synopsis:

Setelah kematian sang ayah, Martin (Gabriel Bateman) merasakan keanehan yang dilakukan sang ibu, Sophie (Maria Bello) dan selalu diteror oleh sesosok misterius bernama Diana (Alicia Vela- Bailey) yang nampaknya takut terhadap cahaya. Sang kakak satu ibu lain ayah, Becca (Teresa Palmer) mencoba membantu memecahkan permasalahan ini karena sempat mengalami nasib yang sama ketika kecil dulu. Dengan dibantu oleh pacarnya, Bret (Alexander DiPersia), Becca mencoba menyibak rahasia di balik sosok Diana dan menyingkirkannya dari keluarganya untuk selamanya.

Review:

1

Membuat sebuah karya film merupakan impian semua orang yang mengaku memiliki hobi menonton film. Ada yang ingin menjadikannya sebagai sumber mata pencarian, ada yang sekedar menyalurkan hobi, adapula yang ingin eksis dan karyanya disaksikan orang banyak. Sayangnya, tidak banyak kesempatan yang terbuka untuk sineas- sineas amatir untuk menajamkan paruhnya dan menembus industri perfilman. Rekomendasi, channel, ataupun dewi fortuna harus selalu menepuk pundaknya agar bisa berkarir di dunia perfilman. Sehingga sebagai alternatifnya, muncullah film- film pendek ataupun film indie. Apalagi dengan maraknya sosial media yang memungkinkan untuk menyebarkan hasil karyanya untuk disaksikan para netizen, misalnya yang paling terkenal adalah youtube. Dan tidak sedikit pula film pendek yang mendapatkan atensi masyarakat luas sehingga menggelitik bos studio besar untuk membeli hak ciptanya dan dijadikan feature length. Seperti film Mama, When A Stranger Calls, District 9, dan The Babadook. Dan jika berhasil negosiasi, sutradara asli film pendeknya bisa memegang peranan sutradara pula di feature lenght-nya.

2

Di tahun 2013 ada sebuah film pendek berjudul Lights Out yang dinobatkan menjadi salah satu film pendek terseram yang pernah ada. Penyebaran secara viral menambah kepopuleran film ini. Gaya sang sutradara yang mampu membuat jump scare yang sangat efektif dengan memanfaatkan fobia sebagian penonton akan takut gelap diyakini menjadi modal yang sangat kuat untuk kepopulerna film pendeknya. Memang jika dilihat dari hasil akhirnya, film pendek Lights Out memiliki nuansa yang cukup mencekam dan menyeramkan. Meskipun kita dapat menebak ending-nya, namun tetap saja Sandberg mampu membuat penonton kaget. Apalagi sebagian besar orang menyaksikan film ini melalui komputer atau gadget yang mengharuskan mereka menggunakan earphone. Kontan efek suara mengagetkan di ending kisah mampu menggetarkan langsung ke dalam telinga.

3

Dan memang, yang menjadi kekuatan Sandberg adalah bagaimana dia mengolah jump scare dengan sangat efektif. Meskipun penonton sudah tau kapan setannya muncul, tapi tetap kesiapan melihat sang setan tetap tidak mampu menahan kekagetan dan kengeriannya. Dengan mengadaptasi ulang film pendeknya di opening sequence (lengkap dengan pemain film pendeknya, Lotta Losten, yang melakukan adegan pembuka), layaknya film When A Stranger Calls, Sandberg seakan- akan menekankan bahwa film ini akan memiliki tingkat keseraman dengan film pendeknya. Dan ternyata strenght point tersebut juga menjadi weakness bagi film ini. Sandberg bermain terlalu asyik di area kengerian dan horor hingga melupakan elemen- elemen lainnya. Seperti cerita dan pemain. Lights Out tidak menyimpan misteri yang cukup besar yang seharusnya dimiliki sebuah film horor atas apa dan siapa sosok mengerikan yang mengantui mereka (bahkan di trailer nya juga sudah disebut asal usul Diana).

4

 

Selain dari judul Lights Out nya sendiri, sosok yang menjadi jualan kuat di film ini adalah James Wan, yang diakui sebagai salah satu sutradara film horor modern yang berpengaruh dengan 3 franchise yang dilahirkannya; Saw, Insidious, dan The Conjuring, yang duduk di kursi produser. Namun layaknya film- film yang hanya diproduserinya tanpa dirinya turun langsung, segi naskah dan cerita tidak terlalu diperhatikan. Seakan- akan tim produksi dan sutradara yang bertanggung jawab hanya bergantung dengan jualan nama Wan semata. Padahal Wan, seperti kita ketahui, mampu membuat film horor yang seram, namun tidak melupakan cara bercerita dan pembangunan karakter yang kuat. Sehingga kita akan berempati terhadap apa yang dihadapi oleh karakter- karakter protagonisnya. Ambil contoh yang mungkin masih fresh di ingatan kita, The Conjuring 2, yang juga mampu membuat penonton dekat dan peduli terhadap ikatan batin karakter Ed dan Lorraine. Hal ini juga dialami oleh Lights Out yang sebenarnya memiliki 2 nama aktris kuat lintas generasi; Teresa Palmer dan Maria Bello. Hanya saja bakat aktingnya serasa disia- siakan.

5

Secara utuh, Lights Out bisa dikatakan cukup baik untuk ukuran sutradara debutan ini. Hanya saja mungkin beban yang ditanggung cukup berat, di mana biasanya dia hanya membuat film pendek tanpa pressure dari bos studio besar dan tekanan untuk membuat film tersebut balik modal. Mungkin satu atau dua film lagi, sutradara ini sudah bisa terlepas dari kebiasannya membuat film pendek. Ke depannya, Sandberg akan memegang kendali sekuel film yang juga merupakan spin- off dari salah satu karya James Wan, Annabelle. Untuk Lights Out sendiri, saya tidak begitu mengharapkan sekuel. Karena seperti yang sudah- sudah, terlalu banyaknya sekuel untuk film horor, menjadikan esensi seramnya hilang. Contoh saja film- film semacam Insidious, Final Destination, Saw, dan Paranormal Activity yang sudah tidak lagi sebagus film- film awalnya. (dnf)

Rating:

7/10

Ghostbusters (2016)

Cabbie: I don’t go to Chinatown, I don’t do wackos. And I ain’t afraid of no ghosts!

Poster

Directed By: Paul Feig

Cast: Kristen Wiig, Melissa McCarthy, Kate McKinnon, Leslie Jones, Chris Hemsworth, Neil Casey, Andy Garcia

Synopsis:

Setelah dipecat dari pekerjaannya, seorang ilmuwan Erin Gilbert (Kristen Wiig) kembali bergabung dengan rekan masa kecilnya, yang sama- sama percaya akan eksistensi hantu dan ingin membuktikannya. Ditemani dengan seorang ilmuwan nuklir, Jillian Hotzzman (Kate McKinnon), mereka menelusuri tempat- tempat yang diyakini berhantu. Lama kelamaan mereka menjadikan penelitian ini menjadi profesi mereka untuk mengusir hantu. Dibantu oleh seorang idiot bernama Kevin (Chris Hemsworth) dan petugas kereta api bawah tanah, Patty Tolan (Leslie Jones), mereka mendirikan tim yang kelak dijuluki Ghostbusters.

Tantangan awal datang dari seorang aneh yang berniat untuk membangkitkan arwah- arwah yang mendiami sudut- sudut kota New York, Rowan North (Neil Casey) untuk membalaskan dendam atas perlakuan buruk dari orang- orang.

Review:

1

Bagi generasi 80-an tentu tidak akan asing dengan franchise Ghostbusters yang dipopulerkan di negara kita lewat serial animasi The Real Ghostbusters yang tayang pada zaman awal era TV Swasta yang saat itu masih pakai decoder. Franchise yang juga menjelma menjadi salah satu simbol pop culture di tahun 80-an ini sudah akrab dengan para pecinta serial animasi. Di negara asalnya, franchise ini memberikan torehan tersendiri di sejarah industri perfilman, dengan menggabungkan elemen horor dengan komedi. Pada zamannya, genre horor lekat dengan adegan- adegan menakutkan. Franchise ini tidak jarang digabung dengan franchise Teenage Mutant Ninja Turtles. Tidak sekali dua kali kedua seri tersebut dibuatkan cross over. Mungkin dikarenakan jumlah anggota yang sama- sama berjumlah 4 orang. Legacy franchise ini  juga menelurkan film- film sejenis yang memiliki template tim berjumlah 4 orang yang melawan musuh- musuh unik. Seperti Evolution dan Pixels.

2

Franchise yang terlahir dari ide komedian Dan Aykroyd dan Harold Ramis ini aslinya diperuntukkan untuk menaikkan pamor rekan mainnya di Saturday Night Live, James Belushi. Namun karena satu dan lain hal, Belushi gagal main yang kemudian porsinya digantikan oleh Bill Murray. Isu untuk melanjutkan sekuel film ini sebenarnya sudah tercetus dalam beberapa dekade ke belakang. Hanya saja begitu banyaknya batu ganjalan membuat ide tersebut tidak terlaksana. Sampai akhirnya salah satu motor, Bill Murray sudah tidak tertarik lagi untuk ikut serta dalam sekuel. Dan Harold Ramis meninggal pada tahun tahun 2014 lalu.

ghostbusters-2016-reboot-movie-review-chris-hemsworth

Akhirnya lampu hijau penerusan franchise ini nyala setelah Paul Feig resmi terpilih menduduki bangku sutradara. Langkah pertama yang diambil adalah mengganti semua karakter utamanya, baik nama maupun jenis kelamin. Hal yang riskan sebenarnya, mengingat pro dan kontra pastinya tidak akan terbendung. Terutama yang kontra. Tidak aneh sebenarnya bagi yang mengetahui latar belakang Feig yang tumbuh di lingkungan wanita yang feminim membuat dirinya memiliki jiwa yang sexist. Dalam hal ini memandang wanita berada di atas pria. Dapat terlihat dari film- filmnya yang kebanyakan mengedepankan karakter wanita. Terutama Melissa McCarthy yang sudah menjadi duet mautnya dan terbukti membantu kesuksesan film- filmnya. Gayung bersambut, petinggi Sony Pictures, menyetujui usulan berisiko besar tersebut. Bahkan demi mengukuhkan ke-sexist-annya, Feig menghadirkan karakter Kevin yang layaknya seorang model iklan Calvin Klein yang diperankan oleh Chris Hemsworth menjadi seseorang yang bodoh. Hal ini untuk menyindir stereotype karakter- karakter wanita beauty but no brainer yang kerap muncul di film- film Hollywood.

4

Hasilnya? Entah karena sudah terlanjut memasang ekspektasi yang rendah serendahnya atau memang kepiawaian Feig, ternyata cukup sukses memberikan warna baru dari franchise ini. Meskipun memiliki karakter- karakter wanita sebagai tokoh utama, namun Feig masih menyadari bahwa penggemar franchise ini mayoritas pria. Sehingga masalah- masalah yang dikedepankan bukan masalah yang feminim. Malahan bagi saya pribadi, jika seandainya karakter- karakter baru tersebut diganti menjadi pria tidak akan ada bedanya tanpa harus mengganti naskah. Feig juga membayar kekecewaan para fans dengan menghadirkan segudang tribute dan easter egg yang muncul di sana- sini. Dari reka ulang adegan dari film originalnya, kemunculan keseluruhan pemeran utama (bahkan Harold Ramis yang sudah meninggal pun diberikan tribute tersendiri di film ini), kemunculan hantu- hantu ikonik, sampai after credit scene dan mid credit scene yang pastinya akan membuat fans kegirangan. Jika berbicara tribute bahkan sampai pemilihan keempat aktris utama bisa dikatakan sebuah tribute. Keempatnya adalah jebolan Saturday Night Live, sama halnya dengan Harold Ramis, Dan Aykroyd, Bill Murray, dan Rick Moranis.

5

Komedi yang dihadirkan terasa cukup segar. Tampilan para hantu pun dibuat sedemikian mirip dengan template hantu- hantu di film pertamanya. Jika ingin berbicara mengenai para cast-nya, sorotan terbesar patut diberikan kepada Kate McKinnon yang tampil cukup memukau di film ini. Karakternya yang unik bisa menjadi scene stealer di setiap kehadirannya. Di samping di antara keempatnya bagi saya pribadi, dia yang paling cantik. (hehehehe… dasar cowok). Melissa McCarthy tidak terlalu membawakan perannya yang sudah sangat menempel, yaitu menjadi wanita gemuk menyebalkan yang self center. Kristen Wiig dan Leslie Jones bermain dengan cukup pas sebagai perannya masing- masing.

6

It the end, Paul Feig telah berhasil mengkreasikan ulang franchise lawas ini dengan sangat baik. Sisi feminisnya telah diaplikasikan ke dalam film ini sehingga cukup memberikan warna baru yang membedakan dengan film lamanya. Sekuel? Yes, please. (dnf)

Rating:

8/10

The Conjuring 2 (2016)

Lorraine Warren: “After everything we’ve seen, there isn’t much that rattles either of us anymore. But this one. This one still haunts me.”

conjuringpostersmall

Directed By: James Wan

Cast: Vera Farmiga, Patrick Wilson, Madison Wolfe, Frances O’Connor, Lauren Esposito, Benjamin Haigh, Patrick McAuley, Simon McBurney

Synopsis:

Paska menangani kasus paranormal yang kelak dikenal dengan sebutan The Amityville Horror, pasangan suami- istri Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga) mendadak menjadi sorotan publik. Namanya pun mulai terkenal dan menjadi perbincangan di mana- mana. Karenanya, ketika mendengar sebuah peristiwa yang sama persis di sebuah rumah di Enfield, Inggris, pihak gereja memanggil mereka untuk menyelidiki lebih lanjut apakah aktivitas paranormal di rumah tersebut adalah hoax atau benar- benar merupakan sebuah kejadian ghaib.

Review:

1

Ada yang menyebutkan bahwa sepasang suami istri akan menjadi sangat kuat jika memiliki minat dan profesi yang saling mendukung. Seperti Edward dan Lorraine Warren. Ed adalah seorang veteran perang dan polisi yang secara otodidak mempelajari demonology, sebuah ilmu yang mempelajari tentang iblis, setan, dan mahluk- mahluk ghaib terkait lainnya. Lorraine adalah seorang indigo yang membuka praktek untuk mempelajari kejadian masa lalu ataupun kejadian spiritual lainnya terhadap seseorang, suatu benda, ataupun sebuah tempat. Ketertarikan mereka terhadap dunia tak kasat mata mendorong mereka untuk mendirikan New England Society for Psychic Research, sebuah komunitas pemburu hantu tertua di New England. Selama perjalanan karirnya, Ed dan Lorraine kerap dimintai untuk menangani kasus- kasus spiritual yang cukup heboh pada saat itu. Tidak sedikit kasus- kasus mereka yang menjadi sorotan publik. Baik itu yang mempercayai, ataupun yang menganggap itu semua hanya hoax. 

2

Hingga sekarang, Ed dan Lorraine Warren dianggap menjadi salah satu dua tokoh yang cukup berpengaruh di dalam dunia perburuan alam ghaib dan banyak karya- karyanya yang dibukukan dan diadaptasi menjadi sebuah karya film. Dan di antara sekian judul yang telah diangkat, film The Conjuring- lah yang mendapatkan tempat istimewa, dikarenakan kualitasnya yang sangat dipuji dan memakai kedua pasangan tersebut sebagai karakter protagonis utama. Sehingga dinilai cukup setia. The Conjuring juga mempopulerkan karakter Annabelle, yang hingga kini dianggap menjadi salah satu ikon horor yang cukup legendaris. Hingga dibuatkan spin- off-nya tersendiri, yang sayangnya memiliki kualitas jauh di bawah dan dicap hanya menempel kepopuleran si boneka dan film The Conjuring-nya saja. Bisa jadi karena tidak langsung ditangani James Wan. Pasalnya jika kita tilik lebih lanjut, semua film horor yang disutradarai oleh sutradara yang juga gemar menjadi cameo tersebut mendapatkan tanggapan yang positif. Namun ketika dibuatkan sekuel dan posisi sutradara diganti orang lain, esensi horonya menjadi berkurang dan efek jump scare dan kengeriannya mengalami degradasi yang menjadikan kualitasnya menurun. Untungnya sang sutradara memilih untuk melanjutkan film The Conjuring 2 ketimbang menerima bayaran yang (kabarnya) sangat fantastis untuk melanjutkan saga Dominic Toretto.

3

Yang menjadikan The Conjuring dan Insidious disukai publik adalah pendekatan James Wan yang menggunakan template horor klasik ala- ala tahun 60 dan 70-an. CGI yang minim, make up yang sempurna, dan didukung oleh original score dari Joseph Bishara yang terbukti mampu meneror penonton dan memberikan kengerian di otak mereka. Hal ini menjadikan James Wan diplot sebagai sutradara yang memiliki masa depan yang cerah. Terlebih dengan campur tangannya dalam perpisahan Paul Walker di seri ketujuh sebuah franchise film balap- balapan. Bahkan filmnya yang kurang begitu terkenal seperti Dead Silence dan Death Sentence memiliki kualitas yang cukup baik. Kembali ke The Conjuring 2, pemilihan kasus Enfield Poltergeist sebagai plot utama film ini merupakan sebuah langkah yang tepat. Pertama kasus ini disebut- sebut sebagai England Amityville karena memiliki kesamaan dalam berbagai segi. Kedua, memang kasus Amytiville Horror sangatlah terkenal, dan jika difilmkan sudah pasti akan memiliki daya jual tersendiri. Namun kasus tersebut sudah sangat terkenal. Bahkan sudah 2 kali difilmkan dengan memasang si Deadpool dan Hit-Girl sebagai cast di film terakhir. Sudah pasti akan dibanding- bandingkan dan tidak memberikan sisi fresh tersendiri. Sementara Enfield Poltergeist baru hanya dibuat sebatas dokumenter atau TV seri saja.

4

James Wan memberikan nilai- nilai lebih yang membuat film ini memiliki level di atas film pendahulunya. Yang pertama adalah memberikan ruang lebih untuk mengembangkan chemistry di antara Ed dan Lorraine, sehingga penonton semakin memiliki keterikatan batin terhadap kedua karakter protagonis tersebut. Wan bahkan mampu memberikan kesan romantis dan menyentuh yang bisa menambah nafas kedua karaker tersebut di tengah- tengah gempuran adegan- adegan seram. Hanya saja, dari interaksi dan ikatan di antara Warrens dan keluarga Hodgson tidak sedekat dengan keluarga Perron di film pertamanya. Sehingga kurang menunjukkan simpati dari si pengusir hantu dengan para “pasien”nya. Dari segi jump scare, The Conjuring 2 ternyata telah belajar dari kesalahan film pertamanya. Saya menilai hampir semua adegan- adegan seram film pertama telah diumbar di berbagai versi trailer-nya. Sehingga bagi yang gemar berburu trailer seperti saya, sudah tidak kaget lagi. Tapi di film sekuel ini, Wan terasa pelit untuk mengungkapkan adegan- adegan seramnya sehingga tetap terutup rapat untuk membuat anda lompat dari bangku saat menonton.

5

Seperti saya bahas di atas, The Conjuring telah melahirkan karakter Annabelle yang bahkan lebih dikenal dibandingkan karakter Batsheba, yang menjadi karakter antagonis utamanya. (Jelas, karena kurang memiliki wujud yang memorable untuk standar film horor). Masih ingatkah dengan villain- villain horor sepanjang masa? Gak usah jauh- jauh deh, dari franchise Insidious aja. Karakter The Dark Bride dan Lipstick- Face Demon cukup membekas di hati penonton dikarenakan memiliki tampilan fisik yang cukup unik dan bisa membedakan di bandingkan karakter- karakter horor lainnya. Di film keduanya ini, James Wan coba menciptakan karakter Demon Nun, yang bagaikan perpaduan antara Sister Act dan Marilyn Manson. Kemunculan- kemunculan serta wujud fisik karakter tersebut sudah pasti bisa memberikan bekas tersendiri di otak para penonton. Karena tadi itu, memiliki template yang unik dibandingkan karakter- karakter horor lainnya. Jika dibandingkan dengan Crooked Man dan Bill Wilkins, karakter Demon Nun memang yang sangat memorable. Crooked Man sayangnya ditangani dengan balutan CGI yang terlalu banyak sehingga kurang memberikan kengerian dari segi bentuk.

6

3 Aspek lain yang memberikan nilai lebih dari film ini adalah score, sinematografi, dan editing. Score sudah tidak perlu dibahas lagi jika ditangani oleh Joseph Bishara. Sinematografi yang ditangai oleh Don Burgess mampu memberikan kesan depressing serta efek- efek film horor klasik. Dengan tone dark dan abu- abu mampu menunjukkan perasaan alone dan hopeless yang dialami keluarga Hodgson. Editorial Department juga perlu diberikan kredit tersendiri atas kerjanya yang sangat baik, khususnya di beberapa scene horor. Dengan adanya peningkatan- peningkatan dari berbagai segi, sudah sewajarnya jika The Conjuring 2 dinobatkan sebagai salah satu film sekuel yang mampu mengungguli film pertamanya. Dan apakah nantinya akan ada sekuel keduanya? Well, jika dilihat sekuel Annabelle saja sudah sedang tahap persiapan, sudah dapat dipastikan The Conjuring 3 pun akan dibuat dan menjadi penutup trilogi (pengennya, daripada kaya franchise horor lain yang makin lama makin gak jelas). Tinggal bagaimana pihak studio melobi James Wan supaya tetap mau menjadi pimpinan proyeknya. Karena masih banyak kasus- kasus The Warrens lainnya yang siap untuk difilmkan. Seperti The Haunting in Connecticut (Snedeker Family), Demon Murder, Smurl Family, Union Cemetery, dan Werewolf. (dnf)

Rating:

9/10

 

 

Midnight Show (2016)

Naya: Jangan, jangan bunuh saya

Poster

Directed By: Ginanti Rona Tembang Asri

Cast: Acha Septriasa, Ratu Felisha, Gandhi Fernando, Ganindra Bimo, Boy Harsha, Ronny P. Tjandra, Gesata Stella, Zack Lee

Synopsis:

Sebuah film berjudul BOCAH ditayangkan sebagai pertunjukan Midnight Show di sebuah bioskop. Dikarenakan cuaca yang buruk dan film yang sudah lama, maka pertunjukan tersebut tidak ramai penonton. Hanya beberapa saja yang datang. Film BOCAH menceritakan kejadian nyata tentang pembunuhan yang dilakukan seorang bocah kepada orangtuanya beberapa tahun yang lalu. Namun nampaknya ada yang tidak suka dengan penanyangan tersebut sehingga datanglah pembunuh misterius yang membantai satu per satu orang yang berada di bioskop tersebut.

Review:

1

Menciptakan sebuah film Indonesia, apalagi film horor bisa dikatakan gampang- gampang susah. Gampangnya dikarenakan genre ini masih merupakan genre favorit di Indonesia. Namun susahnya dikarenakan beberapa judul film telah mencoreng nama baik genre yang sempat mempopulerkan nama Suzanna ini menjadi genre yang agak “murahan” dengan menonjolkan kemolekan tubuh dan toilet joke yang memang menargetkan konsumen menengah ke bawah. Maka itu meskipun sebenarnya banyak sekali ide- ide fresh yang ingin disumbangkan ke dalam film ini, malahan biasanya menjadi mentok dikarenakan “tanpa memamerkan aurat filmnya jadi gak laku”. Lantaslah ide- ide tersebut hanya bercokol di genre indie dan short movie saja. Akhir tahun lalu kita sempat diberikan hiburan film berjudul Badoet yang mengedepankan psychological thriller dan mendapatkan animo yang lumayan bagus. Kini, sebuah film yang akan mengusung genre slasher coba ditampilkan oleh Renee Pictures lewat Midnight Show.

2

Secara premis sebenarnya apa yang disajikan oleh film ini sangatlah biasa jika anda sudah sering menyaksikan genre slasher dari berbagai macam negara. Jualan utama dari film ini adalah adegan sadis gore dan bloody. Untuk menampilkan adegan- adegan tersebut sebenarnya, tim produksi sudah bekerja semaksimal mungkin mengerjakannya. Hanya saja jika ingin membandingkan dengan film- film slasher lokal lainnya, semacam Rumah Dara, adegan- adegan sadis tersebut masih terasa cukup soft. Namun tempo cerita yang cukup cepat dan twist di akhir yang menjadi salah satu syarat mutlak dalam film macam ini untuk mengungkapkan jati diri si pembunuh menjadikan film ini lumayan enak untuk diikuti.

3

Dari jajaran cast, Acha Septriasa yang dipercaya untuk memegang peran utama sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Porsinya sebagai scream queen sudah dilakukannya dengan akting yang believable. Ratu Felisha terasa nyaman dalam memainkan perannya di film ini yang menurut saya sangat pas diberikan kepadanya. Di luar itu, Ganindra Bimo juga bermain sangat baik dengan permainan emosi yang apik. Hanya saja Gandhi Fernando sepertinya kurang memberikan akting maksimalnya dalam film ini, meskipun tidak dapat dikatakan berakting buruk. Setting lokasi juga memiliki peranan penting dalam film ini. Sebuah bioskop tua di bilangan Bogor merupakan pilihan yang tepat untuk mendapatkan kesan tahun 1998 yang menjadi setting waktunya.

4

Secara keseluruhan Midnight Show merupakan sebuah sajian slahser menarik yang lumayan menghibur. Dengan perpaduan cast yang pas dan adegan- adegan yang menegangkan bisa membuat tiket yang anda beli terbayar lunas. Meskipun belum ada konfirmasi sekuel, namun ending memperlihatkan kemungkinan adanya film lanjutan. Dan mudah- mudahan jika seandainya animo masyarakat sangat bagus untuk film ini, Midnight Show bisa menjelma menjadi sebuah franchise slasher baru menyusul Rumah Dara yang tengah dipersiapkan sekuelnya. (dnf)

Rating:

8/10

Krampus (2015)

Linda: It’s Christmas. Nothing’s bad is goint to happen on Christmas.

Poster

Directed By: Michael Dougherty

Cast: Adam Scott, Toni Collette, David Koechne, Allison Tolman, Conchata Ferrell, Emjay Anthony, Stefania Lavia Owen, Krista Stadler

Synopsis:

Keluarga Engel yang terdiri dari Tom (Adam Scott), Sarah (Toni Collette), Beth (Stefania Lavie Owen), Max (Emjay Anthony), dan sang nenek, Omi (Krista Stadler) menghabiskan libur natalnya bersama keluarga besar. Hanya saja, minggu yang seharusnya menyenangkan tersebut menjadi kebiasaan mengerikan bagi Max, yang selalu di-bully sepupu- sepupunya. Apalagi hanya Max yang masih berpikiran naif bahwa Santa Claus itu benar- benar ada. Hingga puncaknya, Max, menyatakan kebenciannya terhadap keluarga besarnya dan menyatakan ketidakpercayaannya terhadap Santa Claus dan semangat natal.

Hal tersebut ternyata mengundang sebuah roh jahat dari abad kuno bernama Krampus, yang akan menculik siapa saja yang merusak makna natal.

Review:

1

Berbeda dengan Santa Claus yang digambarkan sebagai kakek tua yang gemar memberikan hadiah bagi anak- anak yang berbuat baik sepanjang tahun dan masih memiliki semangat natal, Krampus, sejati merupakan folklore yang menggambarkan kebalikan dari Santa Claus. Dia kerap mendatangi orang- orang yang berbuat nakal dan tidak mempercayai natal. Tidak ada yang mengetahui pasti asal- usul mitos ini. Hanya saja banyak sumber yang menyatakan bahwa Krampus bermula dari mitos pra- kristiani dari dataran Jerman.

2

Menonton Krampus akan mengingatkan kita kepada Gremlins. Sosok Krampus yang digambarkan sangat menyeramkan tersebut dibantu dengan minion- minion, yang mewakili pernak- pernik khas natal. Seperti gingerbread man, jack out of the box, dan angel statue. Hanya saja kesemua tersebut diceritakan memiliki sifat mengerikan dengan suara- suara nakal yang annoying layaknya para Gremlins. Beberapa adegan komikal juga memberikan efek yang masih menggambarkan bahwa film ini adalah film horor keluarga.

3

Naskah dan pace yang digunakan sangatlah baik. Dengan tidak terlalu berlama- lama dalam memperkenalkan para karakter, membuat penonton tidak keburu bosan. Level kengerian pun cukup tergambarkan. Khususnya di awal kemunculan sang momok mengerikan. Sound system yang baik serta sinematografi yang cakep semakin memberikan aura horor yang mencirikan khas natal. Adapun gambaran badai salju bisa dibawa dengan cukup mengerikan.

3

Krampus bisa dijadikan pilihan alternatif sebagai tontonan natal yang dapat disaksikan seluruh keluarga (wait, tapi jangan ajak anggota keluarga yang masih kecil ya). Perpaduan antara adegan seru, kisah menyeramkan, dan adegan komikal yang kocak merupakan jurus jitu dalam menjadikan film ini sebagai salah satu film horor natal yang bisa dikenang, bahkan sampai beberapa tahun kemudian. (dnf)

Rating:

8/10

Badoet (2015)

Kayla: Emangnya di sekitar sini ada badut ya?

Poster

Directed By: Awi Suryadi

Cast: Daniel Topan, Ronny P. Tjandra, Ratu Felisha, Christoffer Nelwan, Aurelie Moremans, Tiara Westlake, Marcel Chandrawinata

Synopsis:

Di sebuah kawasan rumah susun terjadi peristiwa misterius di mana 3 anak kecil ditemukan meninggal bunuh diri. Donal (Daniel Topan), salah seorang penghuni mencoba menyelidiki kasus tersebut dibantu dengan sepupunya, Farel (Christoffer Nelwan), teman kuliahnya, Kayla (Aurelie Moremans), dan seorang indigo yang menjadi musuhnya di twitter, Nikki (Tiara Westlake). Merekapun mengetahui ketiga kasus bunuh diri tersebut berkaitan dengan kemunculan sosok hantu badut (Ronny P. Tjandra) dan kotak musik yang dimiliki oleh anak pengelola rumah susun, Raisa (Ratu Felisha).

Review:

1

Coulrophobia adalah sebutan bagi orang- orang yang memiliki ketakutan akan sosok badut. Sama seperti fobia- fobia lainnya, Coulrophobia juga merupakan salah satu penyakit kejiwaan, di mana seseorang takut akan sesuatu yang mungkin dianggap sepele bagi orang kebanyakan. Namun tidak tertutup hanya orang yang mengidap coulrophobia saja yang takut akan badut, banyak juga orang- orang biasa yang menganggap badut- badut tertentu memiliki sosok yang cukup mengerikan. Dengan make- up tebal, dandanan aneh, serta tingkah laku ackward, banyak yang mendeskripsikan karakter yang sebenarnya bertujuan untuk menghibur ini disebut menyeramkan. Badut memang sudah lama. Tercatat sudah dari abad pertengahan, seorang badut melakukan aksi- aksi hiburan untuk mengundang tawa. Namun dikarenakan memang tidak sedikit orang yang menganggapnya cukup seram, banyak praktisi- praktisi hiburan yang mengangkat karakter ini sebagai sosok villain. Dari dunia film tentu saja yang paling terkenal adalah Pennywise dari film IT yang dulu diperankan oleh Tim Curry dan akan di remake dengan menggamit aktor muda Will Poulter sebagai sang badut. Dan tentu saja salah satu karakter villain komik terfavorit, The Joker, juga merupakan seorang badut. Namun bukan berarti karakter badut menyeramkan hanya ada di dalam imajinasi saja. Tercatat di negara Amerika Serikat, sempat ada seorang serial killer bernama John Wayne Gacy, yang dijuluki Pogo The Clown, karena profesinya.

2

Sebenarnya Pe Er Awi Suryadi dalam menahkodai film yang diangkat dari ketakutan Daniel Topan terhadap sosok badut ini cukup berat. Pasalnya, berbeda dengan Kuntilanak, Pocong, atau Sundel Bolong, karakter setan badut bukanlah karakter populer di Indonesia. Mungkin di negara Paman Sam sana, karakter setan badut sudah lazim. Namun justru itulah kekurangan sekaligus kelebihan yang dimiliki Awi. Dengan minimnya karakter setan badut di negara kita, maka dia lebih bebas berekspolrasi dalam menciptakan sosok menyeramkan dari seorang badut. Dan bisa dikatakan penggambaran karakter setan badut di sini cukup menyeramkan. Awi tidak perlu repot- repot menampilkan muka seram. Hanya dengan sosok badut yang berdiri di kejauhan dengan membawa balon sebenarnya sudah sangat efektif. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Awi tidak terburu- buru dalam mengumbar keseraman. Awi cukup leluasa memberikan ruang untuk pembangunan karakter. Aura- aura misterius justru dibangun dengan step- step yang cukup akurat. Seperti menggambarkan suaana mencekam dari sudut- sudut komplek rumah susun, yang ditampilkan apa adanya dan justru memberikan scary atmophere yang cukup efektif. Dan seperti disinggung di atas tadi, Awi tidak boros dalam menampilkan karakter badut. Justru dengan minimnya kemunculan, bisa memberikan nuansa misterius yang mungkin saja sengaja dipersiapkan untuk sekuel. Namun bukan berarti film ini tidak memiliki jumpscare. Awi masih menyelipkan adegan- adegan mengejutkan yang bisa membuat penonton menahan nafas.

3

Jika ingin disinggung mengenai kekurangan- kekurangan bisa disebutkan lewat pengembangan karakter. Awi sebenarnya memberikan porsi yang cukup banyak untuk pengembangan karakter. Hanya saja karakterisasinya terasa hambar. Sebagai contoh, lewat film ini nampak ingin menonjolkan karakter Donal (ya gapapalah… kan dia produsernya). Tapi karakter tersebut menjadi kurang terolah dengan baik. Sebenarnya karakter tersebut masih memungkinkan untuk ditampilkan sebagai comedy relief. Dengan postur tubuh yang tambun sebenarnya bisa menjadi penyegar di tengah kengerian dan ketakutan yang dihadirkan. Origins sang setan badut juga masih terlalu hollywood, terlihat dari gambaran penyiksaan yang dialaminya. Sebenarnya jika ingin menciptakan karakter yang lebih Indonesia, gambaran adegan tersebut bisa lebih dipribumikan. Misal dihakimi massa, seperti yang kerap terjadi di Indonesia. Namun background sang villain cukup terbantu dengan penampilan yang luar biasa dari Ronny P. Tjandra. Karakter- karakter yang ditampilkan juga cukup membumi. Hanya saja, kehadiran Marcel Chandrawinata nampak seperti pemanis dan tempelan belaka.

4

Art director memang memberikan sumbangsih yang cukup signifikan dalam film ini. Selain itu sinematografi yang dihadirkan juga cukup apik dengan pengambilan gambar yang sangat sangat bagus. Di samping itu yang tidak bisa dipungkiri adalah kualitas musik yang cukup menambah suasana mencekam. Namun secara keseluruhan, Badoet mampu memberikan sebuah sajian horor yang berbeda dari horor kebanyakan. Di mana permainan cahaya dan suara kerap mendominasi, namun kurang efektif memberikan kengerian yang tepat sasaran. Terlebih lagi, jika dibandingkan dengan horor yang hanya menjual kemolekan tubuh dan guyonan- guyonan mesum, yang membuat film Indonesia sedikit terdiskriminasi oleh mayoritas penonton. Setidaknya dengan adanya Badoet, variasi warna horor Indonesia lebih beragam. Dan dengan ending yang masih membuka kemungkinan adanya sekuel yang bisa memberikan harapan terhadap kemajuan genre horor Indonesia. (dnf)

Rating:

7.5/10