Headshot (2016)

tiff-2016-headshot-poster

Directed By: Timo Tjahjanto, Kimo Stamboel

Cast: Iko Uwais, Julie Estelle, Chelsea Islan, Sunny Pang, Very Tri Yulisman, Zack Lee, David Hendrawan, Ganindra Bimo

Synopsis:

Seorang pemuda (Iko Uwais) ditemukan tidak sadarkan diri dengan luka tembakan di kepala. Dirinya dirawat di Rumah Sakit oleh seorang mahasiswi kedokteran Ailin (Chelsea Islan). Tidak mengetahui namanya sendiri, Ailin memberikan nama Ishmael. Namun ternyata, Ishmael, yang kemudian diketahui memiliki nama asli Abdi, menjadi incaran seorang gembong kriminal, Lee (Sunny Pang) yang mengutus anak buah- anak buahnya, Rika (Julie Estelle), Besi (Very Tri Yulisman), Tano (Zack Lee), dan Tejo (David Hendrawan) untuk membunuh Abdi.

Review:

1

Paska kesuksesan The Raid pada tahun 2011, yang diikuti sebuah sekuel 3 tahun kemudian, melahirkan trend baru di dunia perfilman Nasional. Kesuksesan, baik secara finansial maupun secara respon, membuat banyak produser yang tergiur untuk sedikit mengecap dan memanfaatkan momen tersebut. Ada beberapa yang beruntung bisa mengajak alumni The Raid, sebut saja seperti Iko Uwais, Cecep Arif Rahman, atau Kang “Greget” Yayan Ruhiyan. Tapi ada juga yang mencoba dengan bintang baru (dalam dunia perfilman). Namun tidak banyak yang bisa menyamai kualitas film arahan Gareth Evans tersebut. Kebanyakan masuk kategori “numpang lewat” saja. Di antara beberapa sineas yang mencoba untuk mengikuti jejak The Raid adalah duet sutradara yang terkenal dengan film- film “sakit” nya, Mo Brothers.

2

Secara materi promosi, film ini cukup berhasil menarik minat pecinta film nasional. (meskipun banyak yang suka ngomong “ah film Indonesia.. pasti jelek” atau “ah 2 bulan lagi juga masuk TV) —> shame on you, guys! Apalagi dengan masuknya 3 aktor gawang terdepan sekuel The Raid dan track record Mo Brothers yang selalu melahirkan karya berkualitas. Ditambah dengan strategi mereka yang selalu menayangkan terlebih dahulu di festival- festival film Internasional, sudah pasti akan menjadi daya jual tersendiri. Trailer yang dirilis juga berhasil mencuri perhatian (siapa sih yang gak meleleh lihat Chelsea Islan tampang baik- baik pakai kacamata?). Namun sayangnya, hasil akhirnya tidak sehebat yang diharapkan. Oke, secara kualitas film aksi sudah cukup bagus, tapi secara keseluruhan film cukup disayangkan.

3

Kita sudah pasti tidak mengharapkan cerita yang sangat kompleks atau bagus. Jika kita menoleh ke belakang, The Raid memiliki cerita standar, namun menonjolkan kualitas aksi, yang bahkan menjadi trend setter tersendiri secara internasional. Namun berbanding terbalik dengan sekuelnya. Meskipun secara kualitas aksi mengalami peningkatan dan tidak mengecewakan, namun cerita yang terlalu dibuat kompleks malah menjadi bumerang tersendiri dengan adanya kekecewaan- kekecewaan penonton. Seharusnya Mo Brothers bisa belajar dari situ. Secara premis, memang film Headshot sangat simple. Dengan perpaduan antar plot Hard to Kill, The Bourne Identity, dan Ninja Assassins, penonton mengharapkan aksi yang full package. Namun hasil akhirnya, ternyata Mo Brothers mencoba untuk memberikan sub plot yang cukup dragging.

4

Sebenarnya jika ingin membuat cerita lebih kompleks, akan lebih menarik jika unsur yang ditonjolkannya adalah pergolakan batin Abdi dalam melawan saudara- saudara angkatnya dalam perkelahian sampai mati ketimbang mengedepankan unsur romance nanggung yang malah membuat film terasa cheesy. Tensi ketegangan juga relatif menurun sejalan dengan durasi film. Adegan pembuka yang memperkenalkan sosok Lee yang sadis, manipulatif, dan pintar cukup memberikan janji positif terhadap penonton. Hingga pertengahan film, bisa dikatakan adegan aksinya cukup menegangkan. Sayangnya di pertengahan sempat mengalami penurunan. Namun Uwais Team kemudian membayarnya dengan pertarungan klimaks antara Abdi dan Lee yang sedikit mengingatkan kita kepada pertarungan Mad Dog melawan Rama dan Andi di film The Raid.

5

Saya merasa skill Iko kurang begitu dikeluarkan secara maksimal di dalam film ini. Kita masih ingat bagaimana dia dan tim menjadi bagian koreografi dalam film The Raid 2, yang cukup berhasil dan efektif. Di sini kualitas koreografinya mengalami penurunan. Namun saya cukup maklum, mengingat film ini tidak murni hanya martial arts. Penggunaan senjata api juga menjadi bagian penting di beberapa action sequence. Tapi jika berbincara mengenai jajaran cast, pemilihan pemain sudah cukup baik. Masing- masing bintang filmnya sudah berhasil membawakan karakternya masing- masing lebih hidup. Apalagi Sunny Pang yang berhasil memainkan karakter villain dengan sangat baik. Dan aktor Singapura ini menunjukkan kebolehannya dalam berbahasa Indonesia.

6

Jika ingin diambil kesimpulan, film Headshot masih masuk kategori watchable. Apalagi bagi kalian yang kangen dengan penampilan Iko Uwais ngebantai lawan- lawannya. Meskipun masih memiliki banyak kekurangan di sana- sini, namun setidaknya film ini masih memiliki kualitas yang cukup baik dibandingkan dengan pengekor- pengekor The Raid lainnya. Saya berharap di film berikutnya, The Night Comes For Us, Timo bisa membuat film aksi laga yang lebih brutal dan mengurangi scene- scene dragging-nya. Lho? Jadi diproduksi ya The Night Comes For Us? Insya Allah jadi brosis… Di antara jajaran pemain ada nama- nama Iko Uwais, Joe Taslim, Sunny Pang, Julie Estelle, Zack Lee, Abimana Aryasatya, Hannah Al Rasyid, Shareefa Daanish, dan (ehem ehem ehem)… Dian Sastro. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

Tiga Dara (1957)

Poster

Directed By: Usmar Ismail

Cast: Chitra Dewi, Mieke Widjaya, Indriati Iskak, Bambang Irawan, Rendra Karno, Hasan Sanusi, Fifi Young

Synopsis:

Seorang duda bernama Iskandar (Hasan Sanusi) memiliki tiga anak cantik yang bernama Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Widjaya), dan Nenny (Indriati Iskak). Sepeninggal sang ibu, ketiga saudari ini dirawat dan dibesarkan oleh neneknya (Fifi Young). Tidak seperti Nenny yang masih kecil dan Nana yang mudah bergaul, Nunung adalah seorang anak rumahan yang kolot dan kaku. Sifat tersebut membuat sang nenek khawatir akan cucu tertutanya ini menjadi perawan tua. Beberapa kali dia coba menjodohkan Nunung namun selalu gagal. Hingga suatu hari dia bertemu dengan Toto (Rendra Karno) yang jatuh hati terhadap Nunung. Namun sifat Nunung yang dingin dan jual mahal membuat Nana merebut kesempatan untuk mendekati Toto, meski sebenarnya ada kawannya yang setia menantikan cintanya, Herman (Bambang Irawan).

Review:

1

Meskipun selalu dianaktirikan di negaranya sendiri, film Indonesia pernah merasakan masa- masa kejayaannya beberapa dekade yang lalu. Sebelum akhirnya terpuruk ke lembah film erotis, banyak judul- judul menarik yang menorehkan tinta sendiri di industri perfilman nasional. Sebut saja judul seperti Tiga Dara. Film yang dulunya dibuat untuk mengangkat keterpurukan Perfini ini diakui sebagai salah satu film yang memiliki pengaruh. Pada masanya, Tiga Dara sangat populer hingga betahan 12 minggu lebih di bioskop dan mengangkat nama- nama pemainnya, yang selain cantik juga memiliki skill akting yang baik. Namun meskipun sempat menyandang Penata Musik Terbaik dalam FFI 1960 dan diputar dalam Festival Film Venesia pada tahun 1959, sayangnya sang sutradara menganggap hasil akhir film ini melenceng dari visi awal Perfini, selain kekecewaan pribadi yang tidak ingin membuat film komersil. Setidaknya film ini sudah mendapatkan remake 2 kali. Pertama pada tahun 1980 dengan judul Tiga Dara Mencari Cinta, yang dibintangi oleh almarhum Jojon. Dan yang berikutnya berjudul Ini Kisah Tiga Dara yang ditangani oleh Nia Dinata dan akan tayang bulan September besok.

2

Film Tiga Dara mendapatkan kesempatan untuk menjadi film Indonesia kedua yang direstorasi setelah Lewat Djam Malam. Tidak tanggung- tanggung, restorasi yang dilakukan ke dalam format 4K. Hasil akhirnya ternyata di luar dugaan. Ketajaman gambar yang dihasilkan tidak kalah dengan hasil- hasil restorasi film- film hitam putih negara lain. Sebut saja misalnya film hasil restorasi universal monsters macam Dracula dan Frankenstein. Ya meskipun untuk kualitas suara masih belum terlalu maksimal, tapi masih bisa dinikmati.

3

Kisah Tiga Dara sangatlah sederhana. Jika dibandingkan dengan film- film modern, mungkin film ini sangat simple (seperti film- film Indonesia pada masa itu). Namun dari ke- simpe-an tersebut melahirkan sebuah sajian manis dengan plot yang masih relevan untuk ukuran masa kini. Seperti halnya ketakutan orang tua terhadap anak gadisnya yang belum menikah meski akan menginjak usia 30. Selain itu penonton akan dibuat tertawa dengan adegan- adegan di layar. Baik itu adegan komedi yang sengaja diciptakan untuk mengundang tawa, maupun trend, fashion, sudut pandang masa itu yang mungkin membuat penonton masa kini sedikit menyungging senyuman. Seperti trend pakaian, gaya pergaulan, maupun ukuran cowok keren masa itu. Lagu dan musik- musik yang ditampilkan juga enak didengar dan mampu mewakilkan adegan yang sedang berjalan di layar.

5

Jajaran cast membawakan perannya dengan sangat baik. Bahkan untuk ukuran sekarangpun, akting serta chemistry-nya sudah terjalin dengan bagus. Bisa dikatakan, permainan akting yang dibawakan sangat natural dan tidak seperti dibuat- buat. Apalagi ketiga pemain utamanya. Kemampuan olah vokalnya pun patut diacungi jempol. Almarhumah Chitra Dewi bisa membawakan peran Nunung yang kolot, jutek, dan kalau mau disebut dengan istilah modern “Girl Power” yang cukup menonjol, di mana dia digambarkan seperti tidak butuh laki- laki. Mieke Widjaya mampu berperan bitchy dan centil. Satu hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa aktris senior yang seumur hidup saya melihat biasanya membawakan peran ibu- ibu ternyata bisa berperan cukup nakal. Lalu Indriati Iskak yang bisa dikatakan membawakan peran center of the heart-nya ketiga saudari dengan tampilannya yang polos dan centil.

5

Setelah Tiga Dara, setidaknya akan ada 10 film Indonesia lainnya yang positif mendapatkan kesempatan untuk direstorasi. Di antaranya adalah film Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Asrul Sani. Dan beberapa di antaran lainnya merupakan film Benyamin S dan Rhoma Irama. Upaya restorasi ini adalah untuk menyelamatkan film Indonesia agar bisa disaksikan kembali mengingat media asli yang disimpan di Pusat Sinematek Indonesia sudah semakin mengkhawatirkan. Format baru yang memiliki ketajaman yang cukup tinggi. Diharapkan nantinya penonton kita akan lebih mencintai film nasional dan tidak segera melupakan, bahwa bangsa kita sempat membuat film- film apik yang meski sudah berpuluh- puluh tahun masih enak untuk dinikmati. Hanya saja harapan saya pribadi adalah film- film hasil restorasi tersebut akan dibuatkan format home video. Anyway, ternyata sebelumnya Rudy Soedjarwo pernah berniat me-remake film ini di tahun 2004 dengan pemain Dian Sastro, Kris Dayanti, dan Siti Nurhaliza. Cuman gak kesampaian. (dnf)

Score:

8/10

3 Srikandi (2016)

Yana, Suma, Lilies: Indonesia! Indonesia! Indonesia!

Poster

Directed By: Imam Brotoseno

Cast: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan, Tara Basro

Synopsis:

Pada tahun 1988, Indonesia mengikuti kompetisi Olimpiade di Seoul, Korea Selatan. Salah satu cabang yang diikuti adalah panahan wanita yang beranggotakan Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari), Kusuma Wardhani (Tara Basro), dan Lilies Handayani (Chelsea Islan). Sebelum berangkat ke Seoul, mereka telah digembleng secara keras oleh mantan atlit panahan pria yang dijuluki Robinhood Indonesia, Donald Pandiangan (Reza Rahadian). Cita- cita mereka hanya satu, yaitu menghadiahkan sebuah medali kepada Indonesia setelah hanya bisa bermimpi untuk mendapatkannya setelah 36 tahun mengikuti Olimpiade.

Review:

1

Pertama- tama saya ucapakan selamat kepada Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang telah membawa medali emas di olimpiade Rio De Janeiro kemarin malam. Sebuah hadiah atas ulang tahun Indonesia yang ke 71. Sebenarnya bukan hal yang mengejutkan lagi, Indonesia memang terkenal dengan prestasinya di cabang bulu tangkis. Semenjak kemenangan Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti di Barcelona pada tahun 1992, hampir setiap olimpiade, cabang olah raga yang pertama kali diperlombakan di ajang olimpiade mulai tahun 1992 ini selalu selalu memberikan medali emas kepada Indonesia (WAITT A MINUTE…!!! Berarti setiap olimpiade yang ada badminton-nya Indonesia selalu dapet emas?). Selain bulu tangkis, angkat besi merupakan cabang olah raga yang selalu menyumbangkan medali. Tapi medali pertama yang berhasil didapatkan Indonesia adalah dari cabang panahan.

2

3 Srikandi telah memiliki segala macam kriteria plot sebuah film olahraga. Sekelompok unlikely team yang dicap remeh, pelatih yang memiliki metode unik lengkap dengan speech pembangkit motivasi, dan perjuangan untuk mendapatkan kemenangan yang tidak mudah. Yang memberikan kekuatan terhadap 3 Srikandi adalah performa 4 pemain utama yang benar- benar outstanding. Reza Rahadian, yang meskipun banyak yang bilang “ye die lagi die lagi yang maen”, tapi kemampuan aktingnya memang pantas untuk selalu dipilih. Apalagi memerankan peran- peran yang sulit. Menjadi seorang Donald Pandiangan, bukanlah perkara yang sulit baginya jika dibandingkan dengan peran- peran briliannya seperti dalam My Stupid Boss dan dwilogi Habibie. Bunga Citra Lestari yang menggantikan posisi Dian Sastro dikarenakan bentrok jadwal syuting meskipun sudah mengikuti tahap pra produksi, mampu tampil paling dewasa dan sebagai pemimpin tim yang baik. Chelsea Islan memberikan performa terbaiknya dalam film ini. Dia berhasil menghilangkan stereotype aktingnya yang selalu menempel dalam setiap perannya. Lalu ada Tara Basro yang mampu mengimbangi rekan- rekan pemainnya.

3

Kekuatan berikutnya ada dalam segi naskah yang ditulis oleh sutradara dan dibantu oleh Swastika Nohara. Naskahnya tidak terkesan cheesy dan mampu menggali kemampuan akting para pemain sekaligus mengeluarkan chemistry di antara karakter. Baik itu di antara ketiga atlit, atlit dan orang- orang terdekatnya, maupun dengan sang pelatih, Donald. Bonding yang rapi inilah yang membuat penonton merasakan kedekatan emosional terhadap karakter- karakter yang muncul di layar. Selain itu Imam Brotoseno mampu menampilkan setting tahun 1988 dengan baik. Hanya saja pada saat menampilkan negara Korea Selatan, kesan modernnya masih terasa dengan tampilan gedung- gedung dan pusat perbelanjaan serta trend fashion yang nampak meskipun hanya sekilas. Tapi itu bisa dimaklumi, mengingat memang sangat sulit untuk mengatur itu semua di negara lain. Namun Imam Brotoseno mampu menghindarkan “penyakit” film biopik yang biasanya muncul dari segi product placement. Di mana tuntutan sponsor dalam menampilkan produknya meskipun menurut setting cerita produk tersebut belum ada. Hal lainnya yang patut diacungi jempol dalam membawa aura 80-an adalah pemilihan lagu yang langsung dinyanyikan oleh penyanyi aslinya.

4

3 Srikandi berhasil mengangkat semangat nasionalisme dari dunia olahraga. Tidak salah film ini ditayangkan menyambut olimpiade dan di bulan hari kemerdekaan kita. Banyak momen- momen yang dibangun dalam film ini yang mungkin cukup mengharukan. Hanya sayang, minimnya respon masyarakat terhadap film ini selayaknya minimnya respon masyarakat terhadap film- film nasional yang berbobot lainnya. Tidak menutup kemungkinan setelah film ini nanti akan dibuatkan biopik Alan Budikusuma dan Susi Susanti yang menyumbangkan medali emas pertama kali untuk Indonesia. Yang main? Mungkin Boy William dan Chelsea Islan (lagi). (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

Sabtu Bersama Bapak (2016)

Gunawan Garnida: Tapi aku tidak bisa melihat mereka menikah.

Itje Garnida: Aku yang akan mengantarkan mereka menikah.

Poster

Directed By: Monty Tiwa

Cast: Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Arifin Putra, Deva Mahenra, Acha Septriasa, Sheila Dara Aisha

Synopsis:

Setelah mendapatkan kabar bahwa kanker yang dideritanya hanya menyisakan waktu yang tidak terlalu lama lagi, seorang ayah bernama Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) mempersiapkan segala sesuatunya untuk istri, Itje (Ira Wibowo) dan kedua anaknya, Satya dan Cakra. Hanya satu yang mengganjal, dia tidak bisa hadir saat anak- anaknya butuh ketika beranjak dewasa, dan tidak bisa memberikan nasihat- nasihat yang mungkin dipertuntukkan di setiap fase hidup anaknya. Untuk itu dia menggunakan sisa umurya untuk membuat rekaman yang berisi nasihat- nasihat serta bimbingan spiritual yang kelak ditonton anak- anaknya setiap hari Sabtu sore.

25 tahun kemudian, kedua anaknya telah tumbuh sukses di bidangnya masing- masing. Satya (Arifin Putra) telah menikahi Risa (Acha Septriasa) dan memiliki dua orang putra. Sarjana geologinya mengantarkan dirinya bekerja di tambang minyak lepas pantai di Prancis. Cakra (Deva Mahenra) telah menduduki jabatan Deputy Direktur sebuah bank di usianya yang baru 30 tahun. Namun mereka masih memiliki permasalahannya masing- masing. Satya yang mengidolakan sang ayah, berusaha memimpin keluarganya seperti sang ayah memimpin. Tanpa disadari, gaya kepemimpinan setiap ayah akan sangat berbeda tergantung zaman dan sifat keluarganya masing- masing. Cakra yang kaku, memiliki kesulitan untuk mendekati bawahannya, Ayu (Sheila Dara Aisha) yang dicintainya. Kedua kakak beradik itupun mulai mencoba mencari jalan keluar dan belajar bagaimana mereka bisa menjadi laki- laki bagi keluarga yang dipimpinnya.

Review:

1

Sabtu Bersama Bapak merupakan sebuah buku yang menjadi best seller di mana- mana. Kesuksesannya dibuktikan dengan sudah lebih dari 20 kali dicetak ulang dan tetap masih menjadi incaran para penggemar buku. Apa yang membuat buku ini begitu sukses? Buku yang ditulis oleh Adhitya Mulya memiliki tema yang cukup dekat di masyarakan kita. Yaitu parenting, seiring dengan minat dan concern sang penulis novel Jomblo ini terhadap dunia parenting yang cukup tinggi. Kisahnya pun digulirkan dengan cukup hangat. Meskipun memiliki tema yang sebenarnya mampu menguras air mata, namun di lain sisi, Kang Adit mampu membawakan joke- joke dan komedi yang mampu mengundang tawa pembaca. Hal ini memang sudah tidak diragukan lagi, mengingat di awal karir, dia sukses menorehkan hasil yang cukup baik lewat novel Jomblo.

2

Mendapatkan predikat best seller, sudah pasti akan memancing minat para produser untuk memfilmkan kisahnya. Hanya melihat dari trailer-nya saja, para penggemar novelnya sudah dijanjikan banjir air mata dengan cuplikan- cuplikan adegan yang mampu melayangkan imajinasi pembaca dan mengingat kata demi kata yang sepertinya digambarkan oleh cuplikan adegan- adegan di trailer. Namun di sinilah kesalahan para pembaca mulai terbentuk. Dengan membuat bar ekspektasi yang cukup tinggi setelah melihat trailer, calon penonton sudah membayangkan haru biru setiap adegan yang tadinya hanya bisa dibaca lewat kata- kata saja. Seperti halnya pesan Deva Mahenra sebelum gala premiere dimulai minggu lalu, bahwa sebaiknya kita melupakan pernah membaca bukunya dan mencoba untuk menerima filmnya menjadi sebuah sajian baru yang memiliki nilai tersendiri. Namun apakah itu mudah? Sabtu Bersama Bapak bukanlah novel pertama yang difilmkan dengan ekspektasi tinggi karena kesuksesan bukunya. Bahkan bukan hanya novel, hampir dipastikan semua film yang diangkat dari media tertentu (komik, video game, remake) sudah pasti harus ikhlas dibanding- bandingkan dengan sumber asilnya.

3

Oke, kalau begitu bagaimana dengan saya yang sudah kadung menyukai bukunya dan sukses mewek pada saat membaca dan menyaksikan trailer-nya? Otomatis jika saya mencoba membanding- bandingkan sepertinya tidak fair. Banyak elemen- elemen yang diubah di film ini (dihilangkan- red), yang bagi saya pribadi akan menambah kesan saat mengikuti cerita. Seperti runutan perjodohan Cakra yang berujung pada sebuah twist yang sangat apik di buku, lalu adegan epilog yang terasa dibuat- buat, berbeda dengan tulisan di buku yang sangat natural. Dan bagi saya so far merupakan epilog buku terbaik yang pernah saya baca. So, jadi kalau sudah baca bukunya tidak dapat menikmati film ini? Eh entar dulu, bisa juga menikmati jika kitanya mau menerima film ini sebagai sebuah sajian alternatif dari kisah Sabtu Bersama Bapak. Sulit. Tapi bukan tidak mungkin.

4

Film ini masih menyisihkan pesan- pesan moral dan bagaimana Adhitya Mulya membagikan input how to be a good father seperti yang dituliskan melalui buku lainnya yang berjudul Parenting Stories. Pesan- pesan moral itu, meskipun tidak sebanyak di novel, masih ada dan bisa disaksikan di film ini. Baik dari adegan flashback, rekaman video, maupun karakter kedua anaknya. Meskipun memiliki kisah haru biru, namun seperti nafas yang dihembuskan novelnya, film ini masih menawarkan adegan- adegan komedi, yang kebanyakan dibawakan oleh Deva Mahenra bersama Ernest Prakasa dan Jennifer Arnelita yang berperan sebagai dua bawahan Cakra, Firman dan Wati. Dan bisa dikatakan karena kelucuan- kelucuan itulah yang membuat Cakra sebagai karakter yang paling menarik di film ini. Berbeda dengan kisah hidup Satya yang cenderung lebih serius.

5

Dari pemilihan pemainnya sendiri, bagi saya pribadi sudah sangat pas. Meskipun jika ingin setia dengan novelnya, saya rasa Deva Mahenra terlalu tampan menjadi Cakra, mengingat gambaran si bungsu yang digambarkan tidak terlalu menarik bagi wanita. Namun dengan aktingnya yang kikuk serta rada- rada stiff, Deva mampu menebusnya sehingga secara karakter, Cakra bisa mirip dengan penggambaran sifat di novelnya. Arifin Putra sangat pas dan mampu menggambarkan karakter Satya yang keras. Acha Septriasa juga bisa memberikan karakter istri yang penyabar yang setia untuk menyenangkan hati suami sekaligus mengurus rumah tangga. Sheila Dara Aisha, sebagai Ayu juga sudah sangat pas. Wajahnya, yang mungkin di antara para pemain utama, termasuk yang paling kurang familiar di dunia perfilman, malah menjadi pilihan yang baik dalam menggambarkan karakter Ayu, yang sebagai karyawati baru cantik. Bisa kita bayangkan kita bertemu karyawati baru ( yang pastinya mukanya tidak familiar) dan ternyata cantik.

6

Pemilihan Ira Wibowo sebagai sang ibu juga pas. Sebenarnya pemilihan pemain karakter Itje agak- agak tricky. Di satu sisi harus menggambarkan karakter Itje dengan usia 30an awal di adegan flashback, di sisi lain harus menggambarkan karakternya berusia 50 tahunan di adegan masa kini. Kenapa cukup tricky? Di sini casting dihadapkan dua pilihan. Antara memilih pemain berusia muda dengan nantinya di make up tua di setting masa kini, atau memilih pemain tua dengan make up muda di setting flashback. Pemilihan Ira Wibowo, yang secara usia sudah berusia akhir 40-an namun masih memiliki kecantikan yang awet muda serta kulit yang masih kencang, membuatnya mampu memainkan peran Itje di dua jaman yang berbeda. Harga yang harus dibayar adalah membuat tampilan Abimana yang berperan sebagai sang suami nampak lebih tua ketimbang deskripsi di buku. Jika di buku digambarkan berusia sekitaran 36 tahunan (kalau tidak salah), namun jika melihat versi film, seperti berusia 40-an awal. Namun secara akting? Tidak usah diragukan lagi, performa Abimana yang segera akan berperan sebagai pelawak legendaris, Dono, sudah pasti sangat apik. Dia mampu menngeluarkan sisi kebapakan dan seorang family man yang dibutuhkan dari karakter Gunawan Garnida.

7

Pesan yang ingin disampaikan oleh film ini adalah kita harus bisa menghargai waktu dan keluarga. Bagi anak yang masih memiliki orang tua, abdikan waktumu untuk menemani sisa umurnya. Karena tidak sedikit orang tua yang mengorbankan banyak hal, bahkan sampai yang tidak mampu kita bayangkan, demi masa depan dan kebahagiaan sang anak. Bukan hanya mengorbankan waktu dan nyawa saja. Bahkan juga mengorbankan masa depan dan kebahagiaannya sendiri. Bagi mereka yang sudah tidak memiliki orang tua, rajin- rajinlah berdoa, panjatkan doa ke Sang Pencipta agar mau meringankan jalannya di akhirat dan mengampuni semua dosa- dosanya, karena hanya itu yang mampu kita lakukan. Bagi para orang tua, jangan korbankan waktumu untuk bersama anak- anak demi pengabdian terlalu tinggi terhadap pekerjaan, bos, dan kehidupan sosial. Pada saat kalian nanti tua dan sakit- sakitan kehidupan sosial kalian yang akan merawat. Pada saat nanti kalian tidak mampu ke kamar mandi sendiri, bukan manager kalian nanti yang membopong. Pada saat kalian sudah pikun, bukan bos kalian yang akan setia mengajak mengobrol. Bagi pekerjaan kalian adalah asset. Jika sudah tidak mampu berproduksi, kalian dapat digantikan dengan mudah. Tapi bagi keluarga, kalian tidak akan tergantikan. Jadi hargailah waktu. Hargailah keluarga. Selepas baca review ini, segeralah telepon keluarga kalian. Dan ucapkan. Aku sayang mama/ papa/ kamu, istriku/ kamu, suamiku/ kamu, anakku. (dnf)

Rating:

8/10

PS: Review ini aku persembahkan untuk Papa dan Mama di Surga. Dan juga untuk istri dan anak- anakku.

Midnight Show (2016)

Naya: Jangan, jangan bunuh saya

Poster

Directed By: Ginanti Rona Tembang Asri

Cast: Acha Septriasa, Ratu Felisha, Gandhi Fernando, Ganindra Bimo, Boy Harsha, Ronny P. Tjandra, Gesata Stella, Zack Lee

Synopsis:

Sebuah film berjudul BOCAH ditayangkan sebagai pertunjukan Midnight Show di sebuah bioskop. Dikarenakan cuaca yang buruk dan film yang sudah lama, maka pertunjukan tersebut tidak ramai penonton. Hanya beberapa saja yang datang. Film BOCAH menceritakan kejadian nyata tentang pembunuhan yang dilakukan seorang bocah kepada orangtuanya beberapa tahun yang lalu. Namun nampaknya ada yang tidak suka dengan penanyangan tersebut sehingga datanglah pembunuh misterius yang membantai satu per satu orang yang berada di bioskop tersebut.

Review:

1

Menciptakan sebuah film Indonesia, apalagi film horor bisa dikatakan gampang- gampang susah. Gampangnya dikarenakan genre ini masih merupakan genre favorit di Indonesia. Namun susahnya dikarenakan beberapa judul film telah mencoreng nama baik genre yang sempat mempopulerkan nama Suzanna ini menjadi genre yang agak “murahan” dengan menonjolkan kemolekan tubuh dan toilet joke yang memang menargetkan konsumen menengah ke bawah. Maka itu meskipun sebenarnya banyak sekali ide- ide fresh yang ingin disumbangkan ke dalam film ini, malahan biasanya menjadi mentok dikarenakan “tanpa memamerkan aurat filmnya jadi gak laku”. Lantaslah ide- ide tersebut hanya bercokol di genre indie dan short movie saja. Akhir tahun lalu kita sempat diberikan hiburan film berjudul Badoet yang mengedepankan psychological thriller dan mendapatkan animo yang lumayan bagus. Kini, sebuah film yang akan mengusung genre slasher coba ditampilkan oleh Renee Pictures lewat Midnight Show.

2

Secara premis sebenarnya apa yang disajikan oleh film ini sangatlah biasa jika anda sudah sering menyaksikan genre slasher dari berbagai macam negara. Jualan utama dari film ini adalah adegan sadis gore dan bloody. Untuk menampilkan adegan- adegan tersebut sebenarnya, tim produksi sudah bekerja semaksimal mungkin mengerjakannya. Hanya saja jika ingin membandingkan dengan film- film slasher lokal lainnya, semacam Rumah Dara, adegan- adegan sadis tersebut masih terasa cukup soft. Namun tempo cerita yang cukup cepat dan twist di akhir yang menjadi salah satu syarat mutlak dalam film macam ini untuk mengungkapkan jati diri si pembunuh menjadikan film ini lumayan enak untuk diikuti.

3

Dari jajaran cast, Acha Septriasa yang dipercaya untuk memegang peran utama sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Porsinya sebagai scream queen sudah dilakukannya dengan akting yang believable. Ratu Felisha terasa nyaman dalam memainkan perannya di film ini yang menurut saya sangat pas diberikan kepadanya. Di luar itu, Ganindra Bimo juga bermain sangat baik dengan permainan emosi yang apik. Hanya saja Gandhi Fernando sepertinya kurang memberikan akting maksimalnya dalam film ini, meskipun tidak dapat dikatakan berakting buruk. Setting lokasi juga memiliki peranan penting dalam film ini. Sebuah bioskop tua di bilangan Bogor merupakan pilihan yang tepat untuk mendapatkan kesan tahun 1998 yang menjadi setting waktunya.

4

Secara keseluruhan Midnight Show merupakan sebuah sajian slahser menarik yang lumayan menghibur. Dengan perpaduan cast yang pas dan adegan- adegan yang menegangkan bisa membuat tiket yang anda beli terbayar lunas. Meskipun belum ada konfirmasi sekuel, namun ending memperlihatkan kemungkinan adanya film lanjutan. Dan mudah- mudahan jika seandainya animo masyarakat sangat bagus untuk film ini, Midnight Show bisa menjelma menjadi sebuah franchise slasher baru menyusul Rumah Dara yang tengah dipersiapkan sekuelnya. (dnf)

Rating:

8/10

Battle of Surabaya (2015)

Yumna: Kau pikir aku penghianat?

Poster

Directed By: Aryanto Yuniawan

Cast: Dominic, Maudy Ayunda, Reza Rahadian, Jason Williams

Synopsis:

Setelah kekalahan Jepang oleh tentara Sekutu, Jepang menyatakan kekalahannya. Belanda, yang menjadi bagian dari tentara Sekutu mengklaim Indonesia sebagai hasil jarahan perang. Belanda pun mencoba masuk kembali ke Indonesia dengan memboncengi tentara Sekutu. Sementara itu Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya. Beberapa tokoh seperti Residen Sudirman, Bung Tomo, Gubernur Suryo, Moestopo membangkitkan semangat pemuda Surabaya untuk menghadang agresi militer Belanda tersebut. Namun bukan hanya dari pihak Belanda, beberapa ronin pasukan khusus Jepang yang menamakan dirinya Kipas Hitam ingin memperjuangkan hak Jepang kembali di tanah Indonesia.

Musa (Dominic), adalah seorang kurir yang bertugas untuk mengantarkan berbagai macam pesan di antara pos perjuangan tentara Indonesia. Dengan dibantu oleh Danu (Reza Rahadian), seorang bekas tentara PETA dan Yumna (Maudy Ayunda), pujaan hati Musa yang diam- diam memiliki masa lalu rahasia, Musa mencoba untuk menjalankan misi demi misi pengantaran pesan tersebut.

Review:

1

Tidak heran jika saya menyebutkan bahwa Battle of Surabaya sebagai sebuah paket komplit untuk membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia. Pasalnya selain temanya yang memang memiliki semangat patriotisme tinggi, ini juga menjadi salah satu ajang pembuktian bahwa Indonesia tidak ketinggalan dalam dunia animasi dengan negara- negara lainnya. Memang dari Sumber Daya Manusia, sebenarnya banyak sekali animator- animator handal Indonesia yang mampu mempersembahkan sajian yang apik. Hanya saja kurangnya respon masyarakat dan enggannya para produser mempergunakan jasanya banyak yang lebih memilih mencari nafkah menjadi animator- animator untuk negara- negara lainnya. Jangan heran jika film- film blockbuster luar negeri banyak yang mempergunakan animator Indonesia ke dalam tim animasinya. Jangan jauh- jauh untuk genre animasi, coba jujur dengan diri sendiri? Berapa banyak dari kita yang jika diajak nonton film Indonesia jawabannya “ah 3 bulan lagi ada di TV”, “Film Indonesia gak berbobot”, “Kalahlah sama film luar”. Helloooo…. di mana merah dan putih lo, Tong…????

2

Battle of Surabaya cukup mendapatkan berbagai macam penghargaan internasional. Bahkan dari trailer-nya pun sudah mendapatkan respon positif dari dunia luar. Tidak heran Walt Disney cukup tertarik dan menaruh minat yang besar pada proyek ini. Masih dalam tahap produksi, pihak produser sudah melakukan negosiasi dengan studio animasi terbesar skala dunia tersebut. Walt Disney membantu dalam urusan peredaran internasional dan menjadi advisor dalam berbagai macam unsur teknis, termasuk plot ceritanya. Namun yang cukup disayangkan, nantinya untuk peredaran internasional, nama- nama karakter fiksi akan diganti menjadi nama- nama yang lebih akrab di telinga orang bule ketimbang “Musa”, “Yumna”, dan “Danu”. Mungkin nantinya jika diganti menjadi “Moses”, “Jennifer”, dan “David” akan lebih ackward. Lucu aja denger orang bernama Moses melakukan sholat. Hahahaa… gak maksud SARA ya… Nama gue Daniel, tapi gue juga diwajibkan untuk Sholat kok…

3

Dari materi promosi yang sudah beredar dapat disimpulkan bahwa tim produksi menjadikan karya- karya Hayao Miyazaki dari studio Ghibli menjadi referensi untuk teknik animasinya. Bahkan tidak dapat dipungkiri jika memang anime Jepang menjadi salah satu unsur terkuat dalam film ini. Bukan hanya dari teknik animasinya saja, namun juga dari karakterisasinya. Salah satu contohnya adalah gerombolan Kipas Hitam yang benar- benar mirip dengan film- film anime. Namun dalam unsur animasinya, film ini memang layak diacungi 4 jempol (2 kaki dan 2 tangan). Mungkin penonton awam luar tidak akan mengira film ini berasal dari Indonesia, mereka akan mengira benar- benar hasil studio Ghibli. Oke, ini bisa menjadi hal positif maupun negatif. Positifnya adalah skill anak negeri sudah bisa menyamai skill orang Jepang. Namun negatifnya takutnya kita tidak memiliki style sendiri dalam dunia animasi. Memang hal ini masih menjadi PR bagi negeri kita, karena kebanyakan karya- karya yang maju yang berkiblat pada style Jepang atau Amerika. Tapi saya optimis, ini masih dalam tahap pencarian jati diri. Ke depannya pasti akan menemukan style sendiri.

4

Sound cukup baik. Beberapa adegan pertempuran cukup digarap dengan menarik. Hanya saja yang menjadi kendala ada alur cerita yang masih sangat lemah. Tampak sepertinya penulis naskah ingin memasukan berbagai macam plot dan sub- plot yang malah membuat dragging di banyak scene. Dan jika penonton mengharapkan banyaknya adegan pertempuran karena judulnya yang di awali kata “Battle” akan kecewa. Karena memang yang menjadi fokus setting waktu di sini adalah paska pertempuran Surabaya tanggal 10 November tersebut. Terlalu banyaknya adegan- adegan drama mendayu- dayu khas Ghibli juga mungkin menjadi bumerang bagi film ini. Namun final scene adegan terakhir cukup memberikan keseruan tersendiri. Dan sesuai dengan tagline “There is no Victory in War” cukup terwakili dengan banyaknya korban- korban yang harus menderita, bukan hanya dari pihak Indonesia, yang menjadi pihak terjajah. Namun juga dari orang- orang Jepang dan Belanda, dari pihak penjajah yang digambarkan memiliki sisi manusia dan sangat membenci perang. Maka itu, sebagai bentuk sebuah pesan perdamaian, film ini juga cocok ditonton negara di luar Indonesia.

5

Catatan penting lainnya yang harus ditengok adalah jajaran voice cast. Nama Maudy Ayunda dan Reza Rahadian jelas memberikan spotlight tersendiri. Namun yang disayangkan adalah minimnya dialek Suroboyo di sini. Kecuali beberapa karakter, yang itupun untuk menggambarkan sisi komikal dan menjadi penyegar dengan bumbu komedi saja. Padahal film ini ber-setting di Surabaya. Sudah seharunya nuansa kental arek- arek Suroboyo-nya lebih terasa di sini. Coba kita tengok film Reza sebelumnya, Guru Bangsa: Tjokroaminoto, yang benar- benar memperhatikan detail dialek Jawa-nya. Namun mungkin memang ini merupakan usaha untuk menembus pasar internasional. Namun sebenarnya jika ingin memperkenalkan budaya Indonesia ke luar, bisa memasukkan unsur tersebut, sehingga internasional tahu kita memiliki keberagaman suku dan dialek serta bahasa masing- masing layaknya Cina yang memiliki bahasa dan dialek di tiap daerahnya.

6

Untuk disain karakter yang memang mengambil referensi style Jepang mungkin agak sedikit aneh jika diaplikasikan kepada karakteristik karakter. Maksud saya, agak kurang cocok misalnya tokoh utama yang beretnik Jawa memiliki muka layaknya Orang Jepang. Ya, secara otomatis otak kita akan menerima gambar anime adalah orang Jepang. Jangan pedulikan itu. Karena tim animator juga telah melakukan effort terbaiknya untuk meng-anime-kan wajah- wajah tokoh- tokoh penting sejarah Indonesia. Dalam arti kata, meskipun dengan style anime-nya, namun wajah- wajah familiar seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Tomo masih mirip dengan wajah aslinya. Sehingga cukup bisa diterima.

7

Namun secara garis besar, Battle of Surabaya merupakan sebuah karya kebanggaan anak negeri, khususnya dalam genre animasi. Terlepas dari berbagai kekurangan yang saya bahas di atas, film ini patut disaksikan di bioskop oleh orang- orang yang mengaku sebagai orang Indonesia. Untuk ukuran digarap dari studio sederhana milik sebuah kampus di Jogakarta, bernama STMIK Amikom, film ini memang meraih pencapaian yang luar biasa. Tidak heran jika nantinya film ini dilirik juri Oscar untuk best animated feature. Karena memang juri- juri Oscar, demen film- film yang beginian. Ke depannya saya berharap, Battle of Surabaya akan membuka jalur bagi studio- studio animasi Indonesia untuk menghadirkan feature length berbobot. Minimal setahun sekali. Dan ke depannya banyak genre- genre lain dari industri perfilman Indonesia yang dilirik dunia internasional setelah Battle of Surabaya ini dan yang sebelumnya, dwilogi The Raid. (dnf)

Rating:

7.5/10

Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)

Tjokroaminoto: Hijrah yang terbaik yaitu setinggi- tinggi ilmu, sepintar- pintar siasat, dan semurni- murni Tauhid

POSTER

Directed By: Garin Nugroho

Cast: Reza Rahadian, Putri Ayudya, Christine Hakim, Ibnu Jamil, Deva Mahendra, Egi Fedly, Tanta Ginting, Chelsea Islan, Maia Estianty, Didi Petet, Sujiwo Tedjo, Alex Komang, Alex Abbad, Christoffer Nelwan, Gunawan Maryanto, Unit, Ade Firman Hakim

Synospsis:

Sedari kecil, Tjokroaminoto (Christoffer Nelwan) sudah merasakan dan menjadi saksi kekejaman pemerintahan Belanda dalam memperlakukan penduduk Indonesia. Setelah dewasa, Tjokro (Reza Rahadian) mendapatkan panggilan untuk melakukan perubahan dengan mendirikan organisasi Bumiputera pertama Sarekat Islam. Sarekat Islam sendiri adalah perubahan dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H. Samanhudi untuk menampung pedagang- pedagang Islam pribumi yang menolak masuknya monopoli perdagangan oleh penjajah Belanda. Tjokro merubahnya dengan lebih memperluas cakupan organisasi dari sekedar mengurus isu sosial dan ekonomi menjadi isu politik dan agama. SI berhasil merangkul 2 juta anggota yang mencakup hampir seluruh wilayah Hindia Belanda.

Rintangan yang dihadapi bukan hanya datang dari pihak Belanda saja. Namun juga perpecahan di dalam kubu SI yang merasa langkah damai dan menghindari konflik yang diambil Tjokro tidaklah relevan dengan keadaan pada saat itu. Pecahan kubu yang dipimpin oleh Smaoen (Tanta Ginting) mau tidak mau mulai menghancurkan organisasi dari dalam.

Review:

gurubangsa

Saya pernah diwawancara oleh sebuah stasiun radio lokal akhir tahun lalu. Adapun isi wawancara tersebut adalah menggambarkan trend film Indonesia dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan. Salah satu genre yang saya sebut adalah biopik. Meskipun belum terlalu mendapatkan kemujuran dari segi penjualan tiket dibandingkan film horor sex, genre biopik mendapatkan tempat tersendiri di hati penggemar film- film bermutu. Dan kebanyakan mendapatkan apresiasi yang cukup positif dari kritikus. Sebut saja biopik- biopik dari Soegija, Habibie dan Ainun, Soekarno, Tjoet Njak Dien, dan K.H. Ahmad Dahlan. Ke depannya setidaknya ada 2 tokoh public figure lagi yang siap dibuatkan biopik layar kaca, yaitu Elias Piccal dan Bung Hatta.

mewah-dan-berkelas-jaminan-kualitas-gur-556e1c

Kesulitan dalam membuat sebuah film biopik adalah mereka ulang detil setting dan kemiripan aktor dengan karakter yang dimainkan, baik secara fisik maupun dari gesture tubuh. Guru Bangsa: Tjokroaminoto sudah cukup berhasil dalam melengkapi 2 kesulitan tersebut. Detail setting lokasi Surabaya, Ponorogo, dan Semarang, serta beberapa kota- kota di pulau Jawa lainnya di era awal tahun 1900-an telah berhasil direka ulang dengan menggunakan riset yang mendalam, baik dari saksi hidup, gambar- gambar, maupun diskusi dengan para ahli. Dalam memilih aktor yang mirip dengan titular character memang menjadi kesulitan yang biasa dihadapai dalam sebuah film biopik. Jalan keluarnya adalah dengan meng-hire aktor watak yang mampu berakting dengan brilian sehingga cukup membuat penonton tidak mempermasalahkan ketidakmiripan fisik. Reza Rahadian, yang sebelumnya berhasil dengan gemilang memainkan karakter Habibie, didaulat menjadi sang guru bangsa. Dan memang kemampuan aktingnya mampu memberikan kewibawaan tersendiri bagi pahlawan nasional yang dianggap sebagai “guru” bagi Presiden pertama kita ini.

url

Di samping Reza, ensamble cast yang lain juga patut diacungi jempol. Tanta Ginting, Ibnu Jamil, Ade Firman Hakim, Deva Mahendra, serta pendatang baru, Putri Ayudya mampu memerankan karakter- karakter bersejarah (masing- masing sebagai Smaeon, Agus Salim, Musso, Koesno/ Soekarno muda, dan Suharsikin) dengan kualitas akting di atas rata- rata. Bahkan bagi Deva Mahendra, bisa dikatakan ini merupakan ajang pembuktian kemampuan aktingnya, berbeda dengan pasangan mainnya di Tetangga Masa Gitu, Chelsea Islan yang terjebak dalam stereotype akting sinetron yang cenderung lebay. Tribute tersendiri juga patut disandangkan bagi jajaran aktor- aktris senior pemeran pembantu yang bermain sangat sempurna, seperti Didi Petet, Christine Hakim, Sujiwo Tedjo, serta mendiang Alex Komang dalam penampilan terakhirnya.

00066389

Kemasan cerita yang menggunakan metode opera panggung jawa, merupakan pilihan tepat. Kisah yang memang khas dengan budaya- budaya Jawa, baik dari bahasa, kebiasaan, celetukan- celetukan, bahkan joke- joke keseharian masyarakat Jawa yang dibawakan dengan sangat brilian oleh Unit sebagai Mbok Tun, yang menjelma menjadi salah satu scene stealer film ini. Perpaduan dengan nilai- nilai Islam juga menjadi salah satu alur penceritaan yang cukup apik. Digambarkan bahwa ada 2 nasihat Nabi Muhammad yang menjadi cambukan Tjokro dalam melakukan perubahan. Yaitu Hijrah (berpindah ke tempat yang lebih baik) dan Iqra (membaca/ belajar). Selain itu, production values lainnya yang tidak kalah penting adalah sinematografi dan departemen wardrobe.

332412_620

Namun bukan berarti Guru Bangsa: Tjokroaminoto lantas tidak memiliki kekurangan. Gaya bertutur Garin serta durasi yang kurang lebih 160 menit belum tentu bisa diterima sebagian besar masyarakat. Ditambah lagi turun- naiknya tensi cerita serta terlalu banyaknya aspek- aspek kehidupan Tjokro yang ingin diceritakan dan karakter- karakter yang dimunculkan. Sehingga penuh sesak dan banyak yang seharusnya bisa diceritakan detil namun tidak. Apalagi bagi mereka yang buta sama sekali akan sejarang Indonesia akan kesulitan untuk catch- up dengan apa yang sedang terjadi di layar. Plot cerita yang melambat di pertengahan durasi untuk malah membuat jenuh penonton.

00069047

Di balik kekurangan- kekurangan tersebut, Guru Bangsa: Tjokroaminoto merupakan sajian manis yang menggambarkan penggalan hidup seorang pahlawan nasional, dengan memorable quote yang berjibun serta punchline- punchline yang menarik. Gambaran akan situasi Hindia Belanda kala itu juga terwakilkan secara indah lewat stock photo yang ditampilkan pada opening title. Dan bisa dikatakan ini merupakan salah satu opening title film Indonesia terbaik dalam beberapa tahun ke belakang. Dan juga efek dari perjuangan Tjorko yang ditampilkan lewat stock shot pada ending title, mampu merefleksikan ketidak sia- siaan perjuangan sang guru bangsa ini. Dan untuk lebih menambah atmosfir tempo doeloe, lagu Terang Bulan yang mendayu- dayu siap mengantarkan lamunan penonton ke masa periode setting film. (dnf)

 

Rating:

8/10