Beauty and The Beast (2017)

Poster

Directed By: Bill Condon

Cast: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Josh Gad, Kevin Kline, Hattie Morahan, Ewan McGregor, Ian McKellen, Emma Thompson, Stanley Tucci, Audra McDonald, Gugu Mbatha- Raw, Nathan Mack

Synopsis:

Belle (Emma Watson) adalah seorang gadis cantik di pedesaan Prancis yang tinggal berdua dengan ayahnya, Maurice (Kevin Kline). Pada saat Maurice ditahan di sebuah kastil tua oleh sesosok mahluk seram bernama Beast (Dan Stevens), Belle yang berbakti menggantikan tempatnya sebagai tahanan abadi. Namun sejalan waktu, Belle menemukan sifat Beast yang baik dan empati terhadapnya. Apalagi mengetahui bahwa Beast sebenarnya adalah seorang pangeran yang dikutuk karena memiliki perangai yang kurang menyenangkan, hasil didikan ayahnya dulu. Namun mengetahui, Belle memiliki rasa terhadap Beast, pemuda populer di desa yang menaruh hati kepada Belle, Gaston (Luke Evans) menghimpun massa untuk menyerbu istana dan membunuh Beast.

Review:

1

Tahu gak kenapa sampai sekarang banyak kisah- kisah anak- anak yang dibuat dark dan terkadang memiliki konten dewasa? Misal kisah- kisah komik seperti Batman? Jawabannya sederhana. Karena penggemarnya yang menyukai sejak kecil masih tetap mencintai karakter tersebut. Namun seiring bertambah dewasa usianya, mereka menginginkan kisah yang di- adjust sehingga bisa dinikmati oleh dirinya yang telah dewasa. Memahami hal ini, studio animasi Walt Disney juga mau memuaskan dahaga para penggemar animasi klasiknya dengan membuat versi live action dari gudang perfilmannya. Dimulai dari film semacam (meskipun dulu sempat sukes denganĀ 101 DalmatiansĀ pada medio 90-an) Alice in Wonderland, Maleficent (Sleeping Beauty), Cinderella, dan yang terakhir Jungle Book. Khusus dua film terkahir, Disney menggunakan pendekatan yang lebih setia dengan film animasinya. Beda dengan Alice dan Maleficent yang diubah cukup banyak. Khususnya dari sudut pandang karakter utama. Jika Alice ikut menjadikan Mad Hatter sebagai sidekick, dan Sleeping Beauty lebih fokus ke karakter villain, Maleficent dan membuat twist di akhir, Cinderella dan Jungle Book resmi mereka ulang adegan- adegan animasinya ke dalam versi live action, meski menambahkan beberapa elemen dan plot baru. Mengerti bahwa 2 film terkahir lebih disukai, Disney memutuskan untuk ikut lebih setia dengan animasi pertama yang mendapatkan nominasi Academy Awards ini.

3

Memilih genre musikal untuk film ini merupakan sebuah keputusan yang tepat. Apalagi mengingat animasi- animasi klasik Disney terkenal mengusung genre musikal yang menghadirkan gubahan musik- musik yang cukup legendaris. Dengan genre ini, Condon cukup sukses menghadirkan beberapa lagu dari versi animasinya menjadi lebih megah dan wah. Khususnya untuk lagu Be Our Guest. Selain lagu- lagu lama yang digubah ulang, film ini juga menambah beberapa lagu baru gubahan komposer Alan Menken yang juga mengerjakan versi animasinya dulu. Hanya saja penggarapan adegan dance yang cukup legendaris kurang begitu dikerjakan dengan baik. Tidak semegah film animasinya. Apalagi dalam versi animasinya adegan ini menandakan pertama kalinya Disney menggunakan teknik 3D CGI dalam film animasinya. Seperti halnya film Cinderella, kredit perlu diberikan juga kepada tim penata kostum, art direction, dan sinematografi yang berhasil memindahkan tampilan film animasi ke dalam versi live action.

4

Untuk menghidupkan karakter, jajaran cast yang terpilih telah mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Emma Watson berhasil menampilkan pesona girl next door yang smart dan independen. Sedikit mengingatkan kita dengan karakter Hermione yang melejitkan namanya. Ini juga yang membuat saya merasa dirinya terlalu muda. Bukan karena aktingnya tidak bagus. Aktingnya bagus. Hanya saja di otak saya masih teringat karakter Hermione yang masih kecil. Hanya saja Dan Stevens, yang biasa terlihat cukup “cowok”, di sini terlihat soft. Tapi itu bisa dimaklumi mengingat 95% durasi, wajahnya tertutup CGI sebagai Beast. Namun chemistry keduanya cukup terasa. Apalagi mengingat ini Beauty and The Beast salah satu film Disney yang menggunakan formula film romantis. Di mana kedua karakter tadinya saling membenci, untuk kemudian menjadi saling mencintai. Namun yang paling apik adalah penampilan Luke Evans yang sangat sempurna sebagai Gaston. Sebagai karakter narcist, tampan, egocentric, dan menyebalkan. Di satu sisi kita akan cukup terpesona dengan karakter ini. Wanita akan menginginkan dirinya, pria akan mendambakan menjadi dirinya. Di satu sisi, kita juga sebal dengan sifatnya yang menyebalkan. Pemilihan nama- nama terkenal seperti Ian McKellen, Ewan McGregor, Stanley Tucci, Emma Thompson dan nama- nama yang cukup asing seperti Audra McDonald, Gugu Mbatha- Raw, Nathan Mack cukup bisa menghidupkan karakter- karakter staff istana yang ikut dikutuk menjadi barang keperluan rumah tangga. Meski hanya menggunakan CGI dan menyumbangkan suara saja.

5

Melihat hasil akhir Beauty and The Beast, saya cukup menaruh harapan yang sangat besar dengan kelanjutan adaptasi animasi klasik Disney yang sudah berjejer antri untuk dibuatkan versi live action-nya. Di antara beberapa yang sudah dikonfirmasi atau yang masih sekedar rumor adalah The Lion King, Mulan, The Little Mermaid, Aladdin, Snow White and The Seven Dwarfs, Dumbo, Peter Pan, Oliver Twist, James and The Giang Peach, Pinochio, The Sword in The Stone, dan kabarnya lagi akan ada beberapa adaptasi yang mengambil sudut pandang berbeda atau mungkin juga sekuel seperti Cruella (101 Dalmatians (spin off or sequel?)), Tink (Tinkerbell dari franchise Peter Pan), Christopher Robin (sepertinya sekuel karena menceritakan Christopher Robin, manusia sahabat Winnie The Pooh). Beberapa film malahan sudah menemukan sutradaranya, seperti Guy Ritchie untuk Aladdin, Tim Burton untuk Dumbo, Niki Caro untuk Mulan, Jon Favreau yang sukses membuat CGI hewan- hewan di The Jungle Book untuk The Lion King, Marc Foster untuk Christopher Robin, dan David Lowery untuk Peter Pan. Dan saya pribadi masih berharap Hercules, Robin Hood, dan Tarzan ikut diadaptasi.

2

Sayangnya belum apa- apa film ini telah menuai kontroversi setelah Disney mengumumkan untuk pertama kalinya akan menghadirkan adegan gay yang cukup eksplisit. Ada yang pro, yang menyebutkan bahwa hal ini lumrah. Toh, in the end, akhlak anak akan ditentukan dengan pola didik orang tua. Ada juga yang kontra, yang takut bahwa hal ini akan menjadi kebiasaan dan akan menanamkan nilai LGBT yang wajar bagi anak kecil. Mengingat Walt Disney, identik dengan film anak- anak. Apalagi rating-nya masih PG-13 berbeda dengan misalnya superhero Deadpool yang memiliki konten violence tapi menaruh rating R. Anyhow, saya tidak akan membahas pendapat saya pribadi mengenai konten gay ini, meskipun teman- teman saya tahu bagaimana feedback saya tentang pemakluman konten LGBT dalam film anak- anak. Sebagai gambaran, memang ada beberapa konten LGBT yang dihadirkan sekilas dan cukup soft di film ini. Bisa jadi pertimbangan bagi para orang tua untuk memutuskan. Apakah anda pro dan kontra? Apakah anda merasa nyaman dan bisa mengarahkan anak anda? Yang penting perlu diingat rating usia film ini dan lebih baik anda ikut menemani anak anda menonton film ini. Just be our guest to watch this tale as old as time. (dnf)

Rating:

7.5/10