Focus (2015)

Nicky: I wish you a very best of luck

McEwen: With a friend like you. I don’t need luck.

poster

Directed By: Glenn Ficarra, John Requa

Cast: Will Smith, Margot Robbie, Rodrigo Santoro, Adrian Martinez, Gerard McRaney, Robert Taylor, Brennan Brown, BD Wong

Synopsis:

Setelah gagal menjadi target pemerasan oleh Jess (Margot Robbie), seorang penipu amatir, Nicky (Will Smith), yang ternyata adalah seorang penipu ulung dan profesional, diminta tolong oleh Jess, untuk membekali dirinya dengan ilmu menipu, mencopet, mencuri, dan bentuk- bentuk kejahatan kecil lainnya. Jess-pun diterima sebagai “intern” di kawanan Nicky dan ikut terlibat dalam beberapa aksi kriminalnya. Hubungan merekapun lambat laun menjadi hubungan cinta. Namun untuk menjaga profesionalisme, Nicky-pun mengeluarkan Jess dari kawanannya dan mereka berpisah.

3 tahun kemudian, Nicky, dimintai bantuan oleh seorang miyuner, Garriga (Rodrigo Santoro), yang memiliki tim mobil balap untuk menjadi mata- mata di kubu rivalnya, McEwen (Robert Taylor). Namun ternyata, Jess, yang mengaku telah tobat telah menjadi kekasih Garriga. Sekali lagi Nicky diuji profesionalismenya dengan memilih antara tetap menjalankan misi yang diemban dan tetap setia kepada Garriga, atau memanfaatkan situasi untuk memenagkan kembali hati Jess.

Review:

_87C3258.dng

Bisa dikatakan Focus sedikit banyak mendapatkan promosi gratis oleh Zack Snyder. Pasalnya dua bintang utama yang menjadi unggulan film ini sedang menjadi buah bibir di kalangan pecinta film sekaligus pecinta komik. Seperti kita ketahui, Will Smith dan Margot Robbie terpilih untuk meramaikan jajaran cast film adaptasi komik DC, Suicide Squad dengan masing- masing berperan sebagai Deadshot dan Harley Quinn. Namun jika Margot Robbie mendapatkan apresiasi positif karena memang secara fisik dan kharisma sangat dibutuhkan untuk karakter occasionally- love- interest-nya The Joker, Will Smith malahan mendapatkan respon kurang memuaskan sebagai Deadshot, karena dianggap kurang cocok dalam memerankan seorang assassin berdarah dingin di samping dari warna kulit jauh berbeda dengan karakter yang aslinya memiliki ras caucassian.

maxresdefault

Lewat film ini, more or less, Will Smith dan Margot Robbie memiliki misi masing- masing untuk perannya di Suicide Squad nanti. Jika Robbie ingin lebih dikenal oleh para fans komik, yang pastinya akan menonton film ini demi melihat “siapa sih Margot Robbie itu?”, lain dengan Will Smith, yang menginginkan restu dari para fans sebagai seorang kriminal. Bisa dikatakan peran yang diambil oleh kedua bintang tersebut sedikti banyak sama dengan peran yang akan dimainkan oleh keduanya lewat Suicide Squad. Di mana keduanya merupakan kriminal yang masuk dalam satu kawanan, lalu terlibat hubungan yang bisa merusak nilai profesional mereka. Seperti banyak diketahui oleh para fans komik, Harley Quinn sempat menjali hubungan dengan Deadshot, bahkan jika kita saksikan di film Assault on Arkham, secara sekilas sempat menggambarkan adegan ini.

margot-robbie-focus-679x350

Jika ingin disebutkan siapakah bintang dari film ini, saya akan katakan Margot Robbie, meskipun top-billed jelas dipegang oleh ayah dari Jaden Smith. Robbie mampu menampilkan kharisma seorang wanita yang diam- diam menghanyutkan di samping pesonanya yang memang benar- benar luar biasa. Dijamin sebagian besar pria yang diharuskan bekerja sama berdua dengannya akan kehilangan “fokus” dan profesionalismenya. Apalagi ditambah dengan beraninya Robbie untuk menampilkan nip*les secara jelas di film ini. On the contrary, Will Smith, malah seperti mengulang peran Hitch. Meskipun dari segi akting masih cukup bagus, namun sepertinya Smith masih kurang pas berperan sebagai seorang kriminal. Jika ingin dibandingkan, masih lebih mending Brad Pitt di film Ocean’s Eleven. Malahan, saya pribadi membayangkan, peran Nicky akan lebih sempurna jika dimainkan oleh Brad Pitt.

url

Pada dasarnya, Focus adalah sebuah film drama komedi romantis yang dicampur dengan plot crime ala- ala Ocean’s Eleven. Meskipun masih terbuka lebar bagi para penonton untuk menginterpretasi karakteristik Nicky dan Jess, yang apakah mereka benar- benar saling jatuh cinta, atau hanya saling memanfaatkan satu sama lain untuk saling mencapai tujuan pribadi masing- masing. Namun naskah yang ditulis langsung oleh duo sutradara cukup rapi dan bisa dikatakan cerdas. Hanya saja, jadi terjebak antara apakah akan mengarahkan alur kisah ke sebuah kisah romantis atau ke sebuah kisah kriminal biasa.

med_1412955866_image

Untungnya Ficarra dan Requa masih mampu menyelipkan twist yang terjaga rapi hingga akhir kisah, yang sedikit banyak akan menyelamatkan reputasi film ini sebagai sebuah crime drama. Di samping itu, beberapa trik kejahatan, juga ditampilkan di film ini, yang pastinya akan menambah ilmu bagi para penonton untuk lebih waspada, di samping juga akan memberikan ide- ide bagi para kriminal yang kebetulan nonton film ini. Yang patut diberikan apresiasi lagi adalah sisi sinematografi serta disain produksi yang mampu menampilkan efek suram, yang mewakili karakteristik kehidupan karakter- karakter utama yang menjalani hidup sebagai seorang kriminal. Selain itu, tentu saja pemilihan lagu- lagu pengiring, yang sangat bagus dan memang benar- benar melebur dengan adegan di layar.

29vndkg

Boleh jadi, Focus, menjadi ajang pembuktian Margot Robbie, bahwa dia memang sangat pantas memerankan Harley Quinn, dan membuat para pecinta komik akan jatuh hati terlebih dahulu sebelum Suicide Squad tahun depan. Namun bagi Will Smith, bisa jadi malahan membuat para fans komik semakin tidak setuju. Sekali lagi, bukan karena faktor kualitas akting, hanya saja masalah cocok tidaknya. Namun secara keseluruhan, Focus merupakan sebuah film hiburan yang cukup menarik. Dengan melibatkan kisah cinta yang disukai wanita, serta kisah “tipu sana tipu sini” yang pastinya bakal digemari para pria. So, never lose your Focus. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

Advertisements

I Fine, Thank You, Love You (2014)

03

Directed By: Mez Tharathorn

Cast: Preechaya Pongthananikorn, Sunny Suwanmethanon, Sora Aoi

Synopsis:

Pleng (Preechaya Pongthananikorn) adalah seorang guru bahasa Inggris yang diminta bantuan salah satu mantan muridnya, Kaya (Sora Aoi), yang akan dipindah tugaskan ke Amerika Serikat, untuk menyampaikan pesan putusnya kepada pacarnya, Gym (Sunny Suwanmehanon). Masalahnya, Kaya, yang orang Jepang tidak bisa bahasa Thai, sementara Gym sama sekali buta bahasa Inggris.

Untuk itu, Gym, meminta les privat kepada Pleng, agar mau mengajarinya bahasa Inggris sehingga bisa mengikuti ujian saringan untuk pindah tugas ke Amerika Serikat dan menemui Kaya.

Review:

20150112_showbiz_ifine

Sedikit banyak film- film Thailand sudah memiliki tempat tersendiri di hati penonton Indonesia. Pasalnya, selain untuk variasi tontonan, yang biasa didominasi film- film Paman Sam dan Asia lainnya, seperti Hong Kong dan Korea, kedekatan budaya membuat film Thailand terasa lebih kena dibandingkan dengan film- film Amerika dan Eropa. Terlebih ketika terjadinya embargo film- film Hollywood beberapa tahun yang lalu, membuat perkembangan penjualan film Thailand meningkat cukup drastis di pasar bioskop Indonesia. Dan genre favorit tetap aksi, komedi romantis, dan horor.

asdada

I Fine Thank You I Love You, adalah persembahan terbaru dari sutradara Mez Tharathorn, yang sempat membuat hit film berjudul ATM. Apa yang tersaji di film ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan film- film komedi romantsi Thailand lainnya. Hanya saja ditambah dengan permainan kata- kata bahasa Inggris yang dibuat sedikit konyol dengan lidah Thailand. Apa yang juga sering dilakukan di lawakan dan joke- joke dari Indonesia sendiri.

url

Namun yang menjadi kekuatan film ini adalah chemistry sempurna yang dibawakan oleh Ice (panggilan akrab Preechaya Pongthananikorn) dan Sunny. Ice mampu membawakan peran seorang wanita karir cerdas dan cantik, meskipun sebenarnya terasa pengulangan karakter yang dimainkannya di film ATM. Sunny juga bagus menggambarkan karakter Gym, yang cuek namun memiliki sisi gentleman dan caring yang cukup tinggi.

daadad

Pemain- pemain pendukungnya juga cukup baik dalam memerankan karakternya masing- masing. Terutama untuk peran- peran komedi yang dibawakan oleh segerombolan aktor- aktris lucu asal negeri gajah putih tersebut. Dan penampilan bintang JAV terkenal, yang akhir- akhir ini mulai merambah ke industri film yang lebih “sehat”, Sora Aoi. Dan penampilan Sora Aoi itu tersendiri pastinya akan menjadi nilai plus bagi penonton pria. Dan satu hal yang perlu dicatat di film ini. Berbeda ketika industri film Nasional, yang saat menggaet bintang- bintang porno untuk menjadi nilai jual sebuah film, penampilan Sora Aoi di sini masih terlihat normal tanpa harus mengumbar aurat. Meskipun karakternya yang gila seks ditampilkan sebagai tribute tersendiri untuk profesi aslinya.

im_fine_thai_film

Kisah yang ditampilkan cenderung ringan tapi cukup menghibur. Semua unsur untuk menampilkan sebuah komedi romantis yang baik tidak absen melengkapi film ini. Mulai dari hubungan dari dislike menjadi like antara 2 karakter utama, comedy relief yang cukup menimbulkan senyum di wajah penonton, sampai adegan haru biru yang menjadi suatu keharusan sebuah cerita cinta. Eksekusi adegan yang tidak terlalu bertele- tele juga menjadi satu keutamaan film ini enak untuk dinikmati penonton.

i-fine-thank-you-love-you-ost-top-itunes-store-thailand-640x350

So, I Fine Thank You Love You, menjadi sebuah sajian komedi romantis Thailand, yang meskipun tidak terlalu istimewa, tapi cukup memuaskan pecinta genre sejenis. Perpaduan antara chemistry karakter serta alur cerita yang baik membuat film ini cukup baik dijadikan tontonan alternatif. (dnf)

Rating:

8/10

The Fault in Our Stars (2014)

Augustus Waters: That’s the thing about pain. It demands to be felt.

Image

Directed By: Josh Boone

Cast: Shailene Woodley, Ansel Elgort, Nat Wolff, Laura Dern, Sam Trammell, Willem Dafoe, Lotte Verbeek

Synopsis:

Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley) adalah seorang pengidap kanker tiroid yang sudah menyebar sampai paru- paru. Bisa dikatakan umurnya tidak akan lama lagi. Hazel kemudian bertemu dengan seorang pengidap kanker yang berhasil survive setelah mengamputasi kakinya, Augustus Waters (Ansel Elgort). Sejak bertemu dengan Gus, Hazel merasa bahwa hidupnya yang tinggal sebentar lagi itu menjadi sangat berarti. Namun tanpa mereka sadari, takdirpun telah mempersiapkan jalannya sendiri atas kisah cinta mereka tersebut.

Review:

Image

Dunia percintaan dan remaja memang tidak dapat dipisahkan. Pasalnya pada usia belasan tersebutlah kita baru mengerti bagaimana rasanya menyukai lawan jenis (or sesama jenis), perasaan rindu, kangen, G4L@U, cinta pertama, nelpon pura- pura nanya “eh kelas kamu sudah ulangan matematika belum? Soalnya apa sih?”, dan semua hal yang bisa kita rangkum menjadi satu kata. CINTA MONYET. Namun bukan berarti Cinta Monyet tersebut akan tetap jadi monyet. (Apaan sih nih penulis?) Bisa jadi cinta monyet tersebut akan menjelma menjadi suatu hal yang lebih bermakna atau menjadi sebuah cinta sejati.

Image

Maka tidak heran banyak sekali literatur yang menceritakan perihal cinta di masa remaja yang efeknya melebihi cinta suami- istri. Bahkan salah satu ikon dunia percintaan yang paling terkenal juga digambarkan berusia remaja. Ikon bernama Romeo and Juliet yang digambarkan memiliki cinta sejati yang abadi yang daripada ditinggal mati sang kekasih mendingan bunuh diri biar bareng- bareng mati. Padahal kalo kata Ustadz, bukannya hidup bareng di sorga lu… Tapi sama- sama digodok di neraka. But well, Love Story does not consider heaven or hell. (Ini apaan sih penulis kagak jelas… Mentang- mentang lagi bulan Ramadhan).

Image

Anyway, salah satu kisah cinta remaja kali ini yang diangkat ke layar lebar adalah sebuah buku karya John Green yang ditulisnya berdasarkan pengalamannya saat bekerja sosial di Rumah Sakit khusus anak- anak. Bisa dikatakan, The Fault in Our Stars merupakan salah satu film adaptasi buku yang paling diantisipasi tahun ini. Well, selain tentunya film- film dari adaptasi buku seri seperti sekuel The Hobbit dan The Hunger Games. Dan tenang aja, film ini minus kisah cinta segitiga antara seorang wanita dengan 2 orang pria yang udah sangat klise di setiap adaptasi teen-lit belakangan ini yang diwakili oleh citna segitiga seorang wanita dengan 2 orang mahluk jadi- jadian. Coba deh bayangin kalo kisah cinta seorang pria dengan 2 orang wanita. Pasti dibilang player, bajingan, gak setia, dan segalanya. Tapi kalo kisah cinta seorang wanita dengan 2 orang pria pasti dibilangnya “Aduh pasti posisinya gak enak tuh”, “kasian ya”, “cowoknya 22nya baik sih. ganteng juga.” Well, kenapa komennya seperti itu? Karena yang baca cewek! DAMN!

Image

Oke, sudah cukup OOT-nya. Kembali ke lapt…. eh The Fault in Our Stars. Bisa dikatakan kekuatan utama dari film ini adalah performa 2 bintang utamanya yang cukup kuat dan natural. Shailene Woodley, yang belakangan ini status kebintangannya makin bersinar paska bermain di The Descendants, mampu tampil sebagai seorang girl-next-door yang labil namun diharuskan untuk tough demi orang tuanya. Gerak- gerik serta gaya berbicaranya mampu mewakili sosok seorang Hazel Grace. Dan meskipun masih memiliki kualitas akting setingkat di bawah Woodley, Ansel Elgort mampu tampil charming, kind-hearted, serta menjadi sosok yang membawa keceriaan di hidup Hazel Grace. Elgort yang sempat bermain sebagai adik Woodley di film Divergent, mampu menyeimbangi kemampuan akting the next Mary Janeini. WAIT! Elgort jadi adiknya Woodley? Berarti Woodley udah pernah lop- lopan sama hampir semua aktor di Divergent dong? Di The Spectacular Now dia kan juga sempat beradegan panas dengan Miles Teller, yang jadi rival Woodley di Divergent. Gak percaya? Liat aja di menit ke…….

Image

Selain mereka berdua, aktor- aktor senior yang ada di jajaran cast mampu berakting cukup baik. Namun sayang kurang begitu tereksplor dalam naskah, sehingga apa kemampuan bintang- bintang semacam Willem Dafoe dan Laura Dern hanya sebatas gitu- gitu aja. Sebenarnya tim penulis naskah tidak bisa disalahkan. Karena memang fokus cerita terletak pada 2 remaja yang lagi indehoy jatuh cintrong.

Image

Berbicara masalah naskah, plot cerita yang ada sangat terstruktur dengan baik. Konflik yang timbul bisa muncul secara natural serta tidak terlalu cheesy. Perpaduan antara komedi, kisah menyentuh, penggambaran optimisme, serta perjuangan tiap karakter dalam mengurangi beban yang ditampungnya merupakan sebuah kombinasi bagus yang diracik dengan cukup menarik. Selain itu pilihan musik pengiring juga sangat pas dan efektif untuk menambah mood adegan yang ada di layar. Tidak lupa Scott Neustadter dan Michael H. Webber, sebagai duo penulis naskah memasukan quote- quote indah memorable yang diambil langsung dari bukunya.

Image

Finally. The Fault in Our Stars adalah sebuah tontonan segar yang akan membuat kita tersentuh serta menghargai kesehatan dan sisa umur yang mungkin tersisa di diri kita. Cara film ini bercerita tentang disease sangat baik. Bahkan di beberapa adegan sempat dibuat cukup bright dan lucu tanpa harus mengolok- ngolok orang cacat layaknya Farelly Brothers. (dnf).

Rating:

8/10

 

 

Her (2013)

Theodore: I’ve never loved anyone the way I love you.

Samantha: Me too. Now we now how.

Image

Directed By: Spike Jonze

Cast: Joaquin Phoenix, Scarlett Johansson, Amy Adams, Rooney Mara, Chris Pratt, Olivia Wilde, Portia Doubleday, Kristen Wiig, Bill Hader

Synopsis:

Theodore (Joaquin Phoenix) adalah seorang loner yang sedang dalam tahap proses pengurusan perceraian dengan istrinya, Catherine (Ronney Mara). Theodore yang tertarik dengan teknologi voice command dan kurang bisa berinteraksi dengan lingkungan sosial, kecuali dengan Amy (Amy Adams), tetangganya yang unik, serta Paul (Chris Pratt), rekan kerja yang memuja hasil kerjanya, membeli sebuah operating system yang dilengkapi dengan virtual assistant pribadi yang dapat disesuaikan dengan kepribadian sang empunya, OS-1.

Lambat laun, Theodore semakin dekat dan semakin intim berbicara dengan virtual assistant yang bernama Samantha (Scarlett Johansson) tersebut. Hubungan merekapun berubah menjadi hubungan cinta. Perasaan yang dirasakan Theodore ini semakin membuat dirinya bingung. Di satu sisi, hanya Samantha yang dapat mengerti dirinya, karena memang dirancang khusus sesuai dengan kepribadiannya. Di sisi lain, hubungan cinta yang mereka jalani ini tidak lazim.

Review:

Image

It has become appallingly obvious that our technology has exceeded our humanity. – Albert Einstein

Quote yang konon kabarnya sempat diucapkan oleh Albert Einstein ini bisa menggambarkan keadaan kehidupan manusia modern belakangan ini. Di mana hampir di seluruh aspek kehidupan sudah bergantung kepada teknologi. Bahkan tenologi tersebut sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup kita. Berapa banyak waktu silaturahmi yang terkuras dengan chattingan, cek social media, main game, cek email, dsb? Berapa banyak dari kita yang heboh saat gak nemu colokan buat gadget? Berapa banyak dari kita yang suka beli kopi dan minumnya dikit- dikit hanya demi sebuah jaringan wi-fi? Atau berapa banyak anak- anak yang lebih doyan main video game sendirian di rumah daripada berinteraksi dengan teman- teman sebaya di luar?

Dengan majunya teknologi saat ini sampai- sampai pekerjaan yang bisa dilakukan oleh manusia telah diganti dengan sebuah software ataupun hardware. Seperti halnya personal assistant. Salah satunya adalah SIRI yang di develop oleh perusahaan raksasa asal Amerika, Apple. Belakangan juga dikabarkan microsoft telah mengembangkan teknologi saingan bernama Cortana, yang namanya diambil dari personal assistant dari game HALO rilisan Microsoft juga.

Image

Lebih dari itu. Komunikasi di antara manusia juga lebih prefer dilakukan perantara media sosial atau chatting. Bahkan banyak juga yang mencoba untuk komunikasi dengan Tuhan melalui status facebook, status BBM, twit, serta broadcast message. Coba cek facebook kamu, berapa banyak yang isi status teman- teman kamu berupa ucapan doa yang seharusnya menjadi media komunikasi personal antara dirinya dengan Tuhan namun diumumkan supaya semua orang baca?

Pertanyaannya sekarang apakah hubungan emosional yang seharusnya terjadi di antara dua insan bernyawa bisa juga terjadi di antara manusia biasa dengan sebuah artificial personal assistant? Mungkin kalau cuman kesel karena BBM jam pasir terus atau software yang kerap force stop sudah wajar. Namun apakah bisa manusia jatuh cinta dengan seorang (?) personal assistant? Sebenarnya hal macam ini sudah bisa terlihat dengan adanya gadget/ game Tamagochi yang sempat booming beberapa tahun lalu.

Image

Sineas langganan apresiasi tinggi para kritikus, Spike Jonze mencoba untuk mengeksplorasi hal ini lewat sebuah science fiction drama romantis berjudul Her.

Untuk memerankan 2 karakter sentral dari film dengan plot macam ini Jonze membutuhkan seorang aktor watak yang mampu berakting sendiri dan memainkan perasaan tanpa harus ada lawan main. Selain itu seorang aktris yang mampu memainkan emosi hanya dengan suara saja juga dibutuhkan. Dan bukan hanya memainkan emosi saja, aktris tersebut juga harus memiliki suara yang khas dan lovable. Aktor kaliber Oscar yang sempat pensiun sementara dari dunia film, Joaquin Phoenix serta sang Black Widow, Scarlett Johansson- lah yang terpilih untuk memikul tanggung jawab tersebut.

Image

Phoenix mampu berakting dengan baik sebagai seorang loner paruh baya yang introvert. Saudara dari mendiang River Phoenix ini cukup piawai dalam memainkan emosi dengan baik. Mimik wajah serta gesture tubuhnya cukup pas saat berakting kasmaran dengan personal assistant– nya itu. Di sisi lain, Scarlett Johansson juga berhasil dalam memberikan nyawa bagi karakter Samantha. Dengan suaranya yang khas, seksi, serak basah, dan lovable, mantan istri Green Lantern ini bisa memberikan emosi bagi artificial intelligence yang dikaruniai hati nurani serta perasaan tersebut.

Chemistry keduanya cukup terbangun dengan baik. Penonton bisa ikut merasakan benih- benih cinta yang tumbuh di antara keduanya. Tanpa harus terkesan cheesy, Jonze mampu mengarahkan keduanya sehingga duet Theodore serta Samantha masuk ke dalam jajaran pasangan romantis teraneh yang pernah ada di jajaran film Hollywood.

Image

Jajaran cast lain bisa membawakan perannya dalam porsi yang baik. Amy Adams yang tampil cukup adorable di film ini sekali lagi membuktikan bahwa dirinya bukanlah aktris kaliber Oscar karbitan, yang performa aktingnya kian menurun. Masih fresh di ingatan saya saat dia tampil apik di American Hustler. Di Her, Amy Adams mampu tampil dengan performa tak kalah menarik meskipun karakternya bertolak belakang dengan karakter yang memberikannya nominasi Oscar tahun ini. Olivia Wilde, yang tampil hanya cameo bagus dalam menampilkan karakter blind date Theodore dengan pas untuk porsinya sebagai seorang cameo tanpa harus dilebih- lebihkan.

Chris Pratt tampil cukup baik dan dapat memberikan kesan ackward sebagai teman kerja Theodore yang nge-fans sama karya- karyanya. Rooney Mara tampil cukup cute. Meskipun kebanyakan tampil di adegan flashback, namun bisa menjadi menarik perhatian dengan permainan emosi yang cukup baik serta gesture tubuh yang cukup meyakinkan.

Image

Film ini juga memunculkan beberapa cameo yang hanya sebagai voice over juga namun mampu memberikan value added tersendiri. Khususnya Kristen Wiig yang bisa memberikan nuansa komedi sebagai wanita horny yang berbicara lewat telepon dengan Theodore. Dan juga kemunculan karakter Alien kecil di game yang disuarakan oleh Bill Hader bisa menjadi scene stealer dengan dialog maki- makian yang sebenarnya bertolak belakang dengan fisiknya yang lucu.

Selain parade akting yang brilian, naskah film Her mampu dikembangkan dengan baik. Meskipun memiliki pace yang lambat dan nuansa depresi yang cukup kental yang bisa jadi sangat membosankan bagi sebagian penonton, namun pace lambat tersebut mampu dimaksimalkan dengan baik oleh Jonze dalam mengeksplorasi karakteristik tiap tokoh dengan baik. Jonze memang sengaja tidak terlalu terburu- buru dalam menyajikan kisah ini supaya emosi yang didapat dari film ini bisa disampaikan dengan baik kepada para penonton.

Image

Pemilihan karir Theodore yang sebagai penulis surat bayaran menurut saya sudah merupakan keputusan yang tepat. Sangat kontradiktif dengan karakternya yang introvert. Theodore digambarkan memiliki profesi untuk mengungkapakan perasaan kliennya untuk disampaikan ke dalam sepucuk surat. Sementara dirinya memiliki keterbatasan dalam mengekspresikan perasaannya sendiri, even ke istrinya sendiri.

Sinematografi juga memegang peranan penting bagi film ini. Pengambilan gambar close up di beberapa adegan emosional bisa memberikan attachment serta rasa simpati terhadap apa yang dirasakan para tokoh di layar. Disain produksi yang tampil juga cukup baik. Dengan dominasi warna orange bagi karakter Theodore memberikan kesan kebahagiaan spiritual yang dicari oleh Theodore. Style warna yang dipilih serta keindahan background yang tersaji cukup mewakili jiwa film Her itu sendiri. Dekorasi beberapa setting lokasi juga menarik perhatian saya. Khususnya nuansa kantor Theodore yang cukup unik. Selain itu pemilihan musik yang baik mampu menambah kesan depresi di film ini. 

Image

Overall, film Her mampu menyajikan sebuah kisah romantis yang lain dari yang lain dengan sangat baik. Ditambah penggambaran dunia di mana teknologi sudah menjadi bagian terpenting disajikan dengan baik dan sangat believable terjadi di beberapa tahun ke depan. Tidak salah jika juri Oscar memberikannya 5 nominasi, termasuk Best Motion Picture of The Year. Meskipun sepertinya masih sangat ketat bersaing dengan contender lainnya.

PS: Penulis terpaksa berhenti karena ter- distract nyari charger HP yang gak nemu- nemu. Soalnya pengen update status. (dnf)

Rating:

9/10

About Time (2013)

Tim: Lesson number one: All the time traveling in the world can’t make someone love you.

Image

Directed By: Richard Curtis

Cast: Domhnall Gleeson, Rachel McAdams, Bill Nighy, Lydia Wilson, Lindsay Duncan, Richard Cordery, Tom Hollander, Margot Robbie

Synopsis:

Pada usia ke 21 tahun, seorang pemuda bernama Tim (Domhnall Gleeson) mendapatkan berita mengejutkan. Dari pengakuan sang ayah (Bill Nighy), Tim mengetahui bahwa semua lelaki di garis keturunan sang ayah memiliki kemampuan untuk dapat berkelana melintasi waktu. Tim yang merupakan seorang pemalu dan selalu gagal dalam mendapatkan cinta ingin menggunakan kekuatan supernya tersebut untuk bisa mendapatkan cinta pertamanya, Charlotte (Margot Robbie). Namun ternyata perjalanan waktu bukanlah ilmu pelet. Cinta Charlotte tidak bisa juga didapatkannya.

Akhirnya dengan kekuatannya tersebut Tim bisa mengakali sang waktu dan bisa mendapatkan cinta sejati yang kelak menjadi istrinya, Mary (Rachel McAdams). Tim pun kemudian memutuskan untuk menggunakan kekuatannya tersebut untuk merubah kesalahan- kesalahan yang pernah dibuat oleh dirinya dan juga keluarganya.

Review:

Image

Time is money. Frase tersebut merupakan sebuah frase yang cukup terkenal. Bukan hanya bagi pekerja dengan hitungan honor per jam, namun saking berharganya waktu kita tidak dapat melewati lagi waktu yang sudah terlewati. Terkadang kita sering menyesal atas tindakan salah langkah atau tindakan menyia- nyiakan waktu yang mungkin kita lakukan. Tidak heran banyak sekali manusia yang menginginkan kemampuan untuk bisa kembali ke masa lalu dan merubah jalan hidup yang salah ditempuh.

Dikarenakan mustahilnya harapan ini, tidak sedikit karya- karya seni, baik dalam bentuk film dan sastra yang menggambarkan imajinasi tentang perjalanan waktu. Baik menggunakan mesin waktu ataupun dengan sebuah super power. Salah satunya adalah besutan sutradara yang juga merupakan penulis naskah film- film romantis yang cukup legendaris seperti Bridget Jones’s Diary, Notting Hill, Four Weddings and A Funeral, Love Actually, dan juga salah satu kreator ikon- ikon komedi yang cukup populer dari tanah Inggris Raya ini, The Black Adder dan Mr. Bean.

Image

Kepiawaian Richard Curtis dan pengalamannya dalam meramu formula komedi serta karya romantis membuat film About Time ini hangat untuk disaksikan. Dengan alunan yang bisa menguras perasaan sedih, terharu, bahagia, serta jenaka, Curtis mampu memainkan perasaan penonton. Adegan- adegan sedih juga ditampilkan dengan tidak kacangan dan tidak terlalu disastrous.

Meskipun sebenarnya plot macam ini sudah tidak asing lagi, bahkan untuk film romantis sekalipun, Curtis mampu membuat karakter- karakter unik yang tidak terlalu komikal. Kelucuan demi kelucuan yang timbul sangat realistis dan tidak terlalu dibuat- buat. Chemistry antar- karakter yang tampil di film ini sangat pas. Terutama chemistry Tim dengan istri dan ayahnya.

Image

Penampilan yang diberikan para pemain utama maupun pemeran pembantu sangatlah natural, tidak seperti sedang berakting. Domhnall Gleeson yang lebih dikenal sebagai Bill Weasley di saga Harry Potter, mampu menunjukkan bahwa dirinya bisa untuk diberikan porsi pemeran utama. Secara alami, aktor yang memang (setahu saya) tidak pernah dipercaya untuk memerankan lead character ini, bisa secara natural membawakan peran Tim yang awalnya lugu namun seiring perkembangan waktu bisa menjadi bijaksana.

Rachel McAdams yang sepertinya mengulang perannya di film The Time Traveler’s Wife ini juga pas dalam memerankan love interest dari film ini dengan kepolosan, keluguan, serta lovable character-nya. Sekali lagi, aktris cantik ini membuktikan bahwa dirinya pantas menyandang predikat ratu film- film drama romantis.

Image

Selain itu pemeran- pemeran utama lainnya juga berhasil melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Dan tidak ada satupun yang miscast. Tapi penampilan terbaik dari film ini dibawakan oleh aktor langganan sang sutradara, Bill Nighy. Aktor gaek yang kerap memerankan karakter- karakter unik ini bisa menimbulkan gelak tawa sekaligus perasaan terharu dengan aktingnya yang pas.

Memang salah satu kepiawaian Curtis dalam menulis naskah adalah memasukkan karakter- karakter bagus dan pas yang beragam dari filmnya. Lengkap dengan keunikan serta penokohan yang baik. Kesederhanaan setting lokasi serta pemilihan tema setiap adegan, seperti baju pengantin yang tidak biasa, suasana hujan di wedding party, ruang cafe yang gelap, serta perjalanan waktu Tim dan ayahnya ke masa ketika Tim masih kecil memberikan kesan tersendiri serta menjadikan adegan- adegan tersebut membekas di hati para penonton.

Image

Selain cerita serta akting yang baik, film ini juga didukung oleh alunan musik- musik soundtrack yang pas mengiringi setiap adegan. Pemilihan musik tema tersebut mampu memberikan nyawa tersendiri bagi adegan yang sedang ditampilkan di layar.

Tidak salah jika saya menobatkan About Time merupakan film teromantis dan terhangat tahun ini. Baik dari segi komedi, drama keluarga, romantisme, serta kesedihan lengkap dibawakan dengan cukup efektif di film ini. Dijamin berbagai macam perasaan akan campur aduk saat menyaksikan film ini. Baik itu peraasan “Ha-Ha-Ha-Ha” maupun perasaan “Hiks-Hiks-Hiks-Hiks”.

Image

Satu pesan moral yang bisa kita petik dari film ini yang ingin saya sampaikan kepada para pembaca blog saya. Kita sebaiknya menjalani waktu yang diberikan Tuhan dengan sebaik- baiknya. Tidak usah takut dalam memilih suatu jalan. Asal kita yakin itu benar, jalani saja dengan kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa. Jika memang mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan, anggap itu sebagai anugerah dari- Nya. Namun jika hasil yang didapat mengecewakan dan tidak sesuai dengan harapan, anggap Tuhan ingin menguji iman kita dan sudah pasti diri-Nya telah mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang kita harapkan sebelumnya. Karena memang hanya diri-Nya yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. I know it because I’ve been there. And I’ve done it. And I think all of you have been there and done it too.

A very warm movie indeed. (dnf).

Rating:

8.5/10

The Mortal Instruments: City of Bones (2013)

Hodge Starkweather: Everything you’ve heard… about monsters, about nightmares, legends whispered around campfires. All the stories are true.

Image

Directed By: Harald Zwart

Cast: Lily Collins, Jamie Campbell Bower, Robert Sheehan, Kevin Zegers, Jemima West, Lena Headey, Jared Harris, Jonathan Rhys Meyers, Stephen R. Hart, Aidan Turner, Kevin Durand, Godfrey Gao

Synopsis:

Sepengetahuan Clary (Lily Collins) hidupnya normal seperti anak- anak sebayanya. Tinggal bersama orangtua tunggalnya Jocelyn (Lena Headey) dan bersahabat dengan teman kecilnya Simon (Robert Sheehan). Hal ini berubah ketika Clary mulai bisa melihat hal- hal yang tidak dapat dilihat manusia biasa. Seperti simbol- simbol aneh dan penampakan hal- hal ghaib lainnya.

Kejadian berikutnya adalah sang ibu yang hilang diculik oleh sepasang shadowhunter (pemburu iblis) Pangborn (Kevin Durand) dan Blackwell (Robert Maillet). Untuk itu mau tidak mau Clary harus bekerja sama dengan seorang shadowhunter muda, Jace (Jamie Campbell Bower) untuk menyibak misteri masa lalunya sebelum bisa menyelamatkan sang bunda.

Review:

Image

Young Adult Fiction adalah sebuah genre dalam literatur karya seni sastra yang sudah ada lebih dari seabad. Genre yang sering disingkat YA ini memang dikhususkan bagi pembaca muda usia anak- anak sampai remaja. Biasanya memiliki karaktistik sebuah adventure dan tokoh utama yang memiliki usia tidak jauh dengan target pembaca. Karya- karya seperti The Adventures of Tom Sawyer, Alice in Wonderland, The Jungle Book, The Adventures of Huckleberry Finn, dan Oliver Twist dipercaya sebagai karya- karya awal untuk genre ini.

Pada perkembangannya di tahun 1950an genre ini mengalami penambahan plot dengan memasukan unsur romance atau sekelompok anak muda yang harus menjalani sebuah kejadian. Mungkin dari era ini yang paling terkenal saat difilmkan adalah novel karya S.E. Hilton yang berjudul The Outsiders.

Image

Di era sekarang ini orang hanya melihat sebuah karya sastra Young Adult sebagai sebuah karya cheesy yang bercerita seputar cinta monyet. Thanks to Stephanie Meyers yang sukses dengan saga Twilight- nya, publik jadi lebih mengenal novel Young Adult sebagai sebuah cerita romance anak muda yang terlibat cinta segitiga di sebuah parallel universe yang memasukkan unsur- unsur yang sering muncul di film- film yang disukai kaum pria. Sebut saja seperti zombie di Warm Bodies, manhunt di The Hunger Games, alien di The Host. Adapun ciri lainnya adalah memasukan sebuah universe menjadi sebuah petualangan yang biasanya berdurasi tahunan dari anak- anak hingga dewasa, seperti dunia sihir di Harry Potter Saga, mitologi dewa- dewi di karya- karya Rick Riordan.

Kali ini yang diangkat di saga  The Mortal Instruments adalah karakter- karakter demonsmonsters, and angels. Dengan perpaduan antara Van Helsing, game Devil May Cry, dan plot khas YA diharapkan kisah ini menjadi sebuah saga baru yang sukses di layar lebar layaknya The Twilight Saga.

Image

Pertama- tama saya bukanlah pembaca novelnya. Jadi tidak akan membandingkan film ini dengan novelnya. Saya murni akan menilai sebagai seorang penonton film yang buta sama sekali dengan segala tetek bengek universe The Mortal Instruments.

Sebagai sebuah sajian Young Adult, sebenarnya saga karya Cassandra Clare sudah memilliki kelengkapan karakteristik pendukungnya. Namun sayangnya skrip yang ditulis oleh penulis debutan Jessica Postigo sangat berantakan. Terlihat Postigo begitu terburu- buru untuk memindahkan apa yang menjadi visi Clare dalam komik menjadi versi film. Opening scene dibuka dengan adegan yang terlalu terburu- buru dan buruk. Apalagi ditambah adegan cheesy aneh yang bener- bener terlihat murahan. Menambah turun nilai film ini.

Image

Untuk adegan fighting sebenarnya cukup seru, namun digambarkan dengan kurang berbobot. Mungkin demi rating PG-13 nampak beberapa adegan yang sebenarnya bisa dibuat lebih gore dan sadis jadi setengah- setengah. Sebut saja seperti kurang ganasnya werewolf dan vampire dalam membunuh mangsanya. Atau adegan demon vaporize ketika dibunuh yang digarap dengan spesial efek asal- asalan. Namun beberapa scene saya akui cukup tegang, seperti saat Clary berhadapan dengan anjing iblis di apartemen ibunya.

Untungnya adegan- adegan eksyen tersebut diiringi dengan musik gubahan komposer Atli Orvarsson yang meskipun namanya kurang dikenal namun sudah sering ikut proyek- proyek film besar, meskipun bukan sebagai komposer utama. Sebut saja film- film seperti Man Of Steel, Iron Man, Sherlock Holmes, dan Pirates of The Carribbean: At World’s End. Thanks to him, adegan- adegan seru tersebut jadi cukup bagus untuk dinikmati.

Image

Untuk urusan akting jangan harapkan akting brilian dari jajaran cast. Bahkan aktor- aktris sekelas Jared Harris dan Lena Headey yang sepertinya tidak begitu maksimal dalam beratking. Terlebih peran Harris yang digambarkan dengan sangat tidak jelas pola pikirnya. Untuk jajaran pemeran mudanya tidak usah disebutkan. Namun setidaknya Lily Collins masih lebih cantik, lebih smart, dan aktingnya lebih bagus dibandingkan Kristen Stewart. And for this point of cast, I think all male audience will forgive the cheesiness of this movie.

Di antara para pemeran utama saya paling tidak sreg melihat penampilan Jamie Campbell Bower. Saya tidak tahu seperti apa karakter Jace di novelnya, namun untuk sebagai salah satu shadowhunter terhebat yang pernah ada penampilan fisiknya kurang mendukung. Badannya terlalu cungkring. Seharusnya untuk mempersiapkan peran ini, sang aktor seharusnya mengikuti jalan yang ditempuh Taylor Lautner. Menjalani work out mati- matian sehingga tubuhnya lebih terbentuk. Dan dari mukanya pun kurang meyakinkan untuk menjadi seorang jagoan. Bahkan penampilannya menurut saya kalah dengan penampilan Robert Sheehan yang lebih mencuri perhatian. Entah mungkin karena penampilannya yang lucu, atau karena secara fisik seperti perpaduan Jay Baruchel dan James Franco.

Image

Well, overall film ini memang jika dibandingkan dengan film- film sejenis masih tergolong cukup menghibur. Hanya saja saya berharap di sekuel, yang sedang dalam proses syuting, ditangani lebih serius dan lebih bagus lagi. Khususnya membuat adegan romance yang lebih berkelas dan adegan eksyen yang digarap lebih bagus dan seru. Niscaya akan lebih bisa menggaet penonton pria. Karena sebenarnya intrik- intrik dan twist yang ada di film ini cukup menarik.

Oh yeah, one more thing. Menyaksikan film- film Young Adult saya selalu bertanya- tanya dengan adanya sebuah ketidakadilan dunia. Mengapa jika seorang wanita yang terjebak di antara cinta 2 pria dimaklumi dan malah mendapatkan simpati. Namun ketika pria yang terjebak di antar cinta 2 wanita dianggap sebagai bajingan, playboy, penjahat kelamin, dan sebutan- sebutan buruk lainnya. Life’s not fair, is it? (dnf)

Rating:

6.5/10

The Great Gatsby (2013)

Nick Carraway: You can’t repeat the past.

Jay Gatsby: Can’t repeat the past? Why, of course you can.

Image

Directed By: Baz Luhrman

Cast: Leonardo DiCaprio, Tobey Maguire, Carrey Mulligan, Joel Edgerton, Ishla Fisher, Elizabeth Debicki, Amitabh Bachan, Jason Clarke

Synopsis:

Nick Carraway adalah seorang pemuda yang ingin masuk ke dunia gemerlap kalangan atas di tahun 1920an. Dia iri dengan kehidupan sepupunya, Daisy Buchanan, yang bersuamikan Tom Buchanan, salah satu pewaris keluarga terkaya di jamannya. Perjalanan Nick membawanya bertemu dengan seorang kaya misterius bernama Jay Gatsby yang hidup menyendiri di rumahnya. Namun setiap weekend, Gatsby selalu mengadakan pesta besar yang didatangi hampir seluruh penduduk New York. Belakangan Nick baru menyadari siapa sebenarnya Gatsby dan apa hubungannya dengan sepupunya, Daisy.

Review:

Image

Dalam dunia literatur Amerika dikenal beberapa karya yang dikenal dengan sebutan The Great American Novel. Yaitu novel- novel yang dianggap sangat detil dan mendekatai kenyataan dalam menggambarkan isu, gaya hidup, serta aspek- aspek sosial pada jamannya. Di antaranya adalah sebuah masterpiece karya F. Scott Fitzgerald yang sudah berulang kali diangkat ke layar perak maupun TV. The Great Gatsby sangat detil dalam menggambarkan era yang disebut The Roaring Twenties. The Roaring Twenties adalah era di mana budaya, sosial, politik, dan aspek- aspek masyarakat lainnya memiliki perbedaan dengan masa yang lain. Masa tersebut ditandai dengan frekuensi penggunaan Art Deco yang tinggi, lahirnya musik Jazz, isu perang dunia I, boomingnya penggunaan mobil, pesawat, film, serta telepon, dan pemberitaan media yang selalu menitikberatkan pada kaum selebritis.

Kini untuk kesekian kalinya kisah tersebut diangkat ke layar lebar oleh sutradara yang melahirkan trend modernisasi karya Shakespeare, Baz Luhrman. Hanya melihat nama juru kemudinya saja, kita sudah yakin bahwa film ini akan dipenuhi dengan permainan visual apik dengan tata cahaya yang bagus. Seperti yang pernah dilakukannya melalui film- filmnya terdahulu, di antaranya Romeo+Juliet, Moulin Rouge, dan Australia. Film ini pun sama dengan trademark film- filmnya yang lain. Mengangkat tema kisah cinta yang dibaluit tata gambar yang memanjakan mata. Namun sayang saya tidak menontonnya dalam format 3D jadi tidak bisa menilai hasil akhirnya. Namun dari pantauan forat 2D, banyak adegan- adegan yang sepertinya diperuntukkan untuk format 3D. Seperti butiran salju, ilustrasi tulisan, dan lain- lain. Dan sangat disayangkan Indonesia hanya mendapatkan jatah sedikit untuk format 3Dnya.

Image

Tim set dekorasi serta DoP telah bekerja dengan baik. Kita dimanjakan dengan penggambaran kawasan East Egg dan West Egg yang berbeda jauh dengan kawasan pertambangan batu bara. Suatu gambaran yang cukup baik dalam menggambarkan kesenjangan sosial yang cukup tinggi di kala itu.

Penggambaran kaum sosialitas tinggi dengan kebiasaan party ala Snoop Dogg dan P.Diddy cukup dilakukan dengan baik. Penggabungan nuansa tempoe doeloe dengan musik- musik masa kini cukup terasa kontras dan tidak terasa aneh. Satu hal yang patut diacungi jempol.

Dari departemen casting, hampir keseluruh pemeran utama berhasil membawakan perannya dengan baik. Khususnya DiCaprio, Maguire, dan Edgerton. DiCaprio sekali lagi mampu memberikan performa yang apik. Ekspresi wajah hopeless mampu bertransformasi dengan baik menjadi sosok yang penuh glamor. Maguire bermain cukup baik. Di samping gerakan bibirnya yang terbatas (yang selalu mengganjal bagi saya untuk dilihat), Maguire mampu menghidupkan karakter seorang pemuda naif yang ingin merasakan keglamoran kaum sosialita. Edgerton, yang karirnya semakin menanjak pasca Warrior, telah menunjukkan kemampuan aktingya yang terasa makin hari makin meningkat. Dia bisa membawakan peran seorang typical playboy kalangan yang egois atas ala Bruce Wayne. Fisher bermain cukup baik dengan gesture tubuh yang bagus. Clarke tampil dengan karakter stereotype nya sebagai seorang emosional yang akrab dengan kekerasan. Namun sayang, sebagai pemeran utama, Mulligan, bermain biasa- biasa saja. Seakan kurang mampu menyaingi performa 3 karakter pria utamanya. Yang cukup menarik perhatian adalah aktor senior Bollywood, Amitabh Bachan, yang mendapatkan peran yang cukup menarik perhatian.

Image

Dari segi cerita sih sudah tidak perlu dibahas lagi. Kisah romantis tragis ini cukup baik untuk disimak. Hanya saja di beberapa adegan terasa terlalu garing dan boring. Penggambaran kisah tragis cukup baik di endingnya. Bagaimana seseorang hanya dipandang melalui uang saja dan tidak ada yang perduli di saat susah, kecuali sahabat setia.

Yang cukup mengganjal adalah jadwal rilisnya. Entah mengapa, saya merasa bulan Mei bukanlah bulan yang tepat untuk merilis film semacam ini. Dengan jajaran cast bagus, akting apik, skenario oke, serta dialog- dialog dan narasi cerdas dan bermutu, seharusnya film semacam ini dirilis sekitar bulan November atau Desember. Bulan di mana production house berlomba- lomba mengeluarkan jagoannya untuk dilirik juri Oscar. Memang pada awalnya film ini akan dirilis akhir tahun lalu, namun karena satu dan lain hal dimundurkan menjadi bulan Mei. Mungkin produser takut dengan kutukan film yang dimundurkan terlalu lama.

Akhir kata, film ini cukuplah untuk dijadikan selingan di antara pameran spesial efek serta action penuh ledakan yang akan mengiringi musim panas ini. Apalagi bagi anda yang menyukai adaptasi literatur klasik serta film berkualitas Oscar.

Rating:

7/10