Justice League (2017)

Poster

Directed By: Zack Snyder

Cast: Ben Affleck, Henry Cavill, Gal Gadot, Ezra Miller, Jason Momoa, Ray Fisher, Jeremy Irons, Amy Adams, J.K. Simmons, Ciaran Hinds

Synopsis:

Paska tewasnya Superman/ Clark Kent (Henry Cavill), Bruce Wayne/ Batman (Ben Affleck) mengajak Wonder Woman/ Diana Prince (Gal Gadot) untuk merekrut manusia- manusia dengan kemampuan super. Mereka berhasil merekrut 3 superhero, yaitu Aquaman/ Arthur Curry (Jason Momoa), setengah manusia dan setengah penduduk atlantis; The Flash/ Barry Allen (Ezra Miller) yang mampu bergerak cepat; Cyborg/ Victor Stone (Ray Fisher), mantan pemain football yang sebagian besar organnya diganti mesin.

Tugas pertama mereka adalah menghentikan Steppenwolf (Ciaran Hinds) untuk membangkitkan “ibu”. Merasa mereka kewalahan, kelima pahlawan super tersebut setuju untuk menghidupkan kembali Superman untuk memimpin Justice League melawan Steppenwolf.

Review:

1

YEEEEESSSSS!!!!!!! JUSTICE LEAGUE DIBUAT FILMNYA….!!!! Begitulah kira- kira perasaan saya ketika mendengar kabar bahwa Warner Bros dan DC mengejar ketinggalannya dengan sang pesaing dengan lebih mendahulukan film Justice League ketimbang film stand alone masing- masing member-nya (kecuali Superman dan Wonder Woman yang sudah lebih dulu rilis). Setengah tahun sebelumnya, DC juga sempat mengeluarkan sebuah film “versus” yang digadang- gadang sebagai teaser untuk film Justice League. Pasalnya di film berjudul Batman v Superman: Dawn of Justice itu ditampilkan 3 jagoan raksasa DC yang biasa disebut dengan istilah Trinity. Yaitu Superman, Batman, dan Wonder Woman. Meskipun film tersebut dipuji sebagian besar fanboy, namun berbeda dengan kritikus yang menjadikan film ini sebagai bulan- bulanan. Alasan utamanya adalah cerita yang tidak jelas. Ternyata kesalahan terjadi atas intervensi studio yang meng-cut beberapa menit durasi yang efeknya membuat rating film tersebut turun. Hal ini diamini dengan sebagian besar kritikus yang sudah menilai versi theatrical- nya namun sangat puas dengan versi extended-nya yang ternyata memberikan cerita yang lebih lengkap dan rapi menutup plothole- plothole versi theatrical- nya.

2

Tone yang terlalu dark juga menjadi salah satu efek yang membuat penonton yang sudah terbiasa melihat nuansa warna- warni Marvel jadi terlalu boring. Dan ketika tone warna- warni dicoba lewat film Suicide Squad, malah banyak kritikus yang tidak suka. Nilai plus diperoleh lewat Wonder Woman, yang meskipun menurut saya pribadi agak slow dan ditambah miscast untuk villain utama, tapi ternyata dikagumi oleh para kritikus dan dianggap sebagai titik balik DCEU. Lewat film Justice League ini DCEU kembali menjawab semua keraguan para kritikus dengan sajian yang cukup apik. Dengan sentuhan Joss Whedon sebagai penulis, kisah yang disajikan tidak seberat dan se-dark BvS ataupun Man of Steel. Bisa dikatakan kisah yang disajikan mirip dengan penyajian film animasi yang serba simple. Begitu juga dengan segi action yang sangat pop corn.

4

Berbicara mengenai adegan laga, warna yang diberikan oleh Whedon sangat terasa. Pilihan memilihnya untuk menggantikan posisi Snyder yang hiatus di tengah produksi pasca tragedi yang menimpa anaknya mengingatkan kita saat J.J. Abrams dinobatkan untuk mengembalikan franchise Star Wars ke layar lebar setelah melakukan hal yang sama dengan franchise Star Trek. Bisa dikatakan Whedon merupakan otak di balik kesuksesan The Avengers. Film pertama yang menggabungkan karakter- karakter Marvel. Sementara Justice League adalah Avengers-nya DC Comics. Adegan- adegan laga yang pop corn banget dan seru pastinya akan lebih mudah diterima ketimbang versi Snyder yang lebih stylish.

5

Kekuatan lain dari film ini adalah chemistry antar karakter yang sangat dinamis dan bisa menyatu dengan apik. Ben Affleck yang awalnya dipandang sebelah mata sebagai Batman, dan bisa mematahkan penilaian buruk tersebut lewat BvS, kali ini bermain juga lebih manusiawi. Hanya saja untuk violence level-nya terasa lebih berkurang ketimbang BvS. Bruce Wayne di sini juga digambarkan lebih manusiawi. Begitu juga dengan Gal Gadot yang sekali lagi dengan logat seksinya (meleleh banget setiap dia nyebut “Kal El”) bisa memberikan pesona cantik seorang superhero wanita. 3 karakter lain yang diperkenalkan di film ini juga bisa membaur dengan sempurna dengan 3 karakter lain yang sudah lebih dulu dikenal. Khususnya bagi Jason Momoa dan Erza Miller. Momoa bisa memberikan kesan bad ass seorang Aquaman dengan sempurna dengan tampilan ala frontman band hard rock. Lalu Erza Miller yang didapuk untuk memberikan nuansa komedi di dalam tubuh Liga Keadilan. Meskipun di beberapa scene terasa dipaksakan, namun lucunya cukup efektif. Yang justru agak kurang bersinar adalah Ray Fisher. Entah karena terpilih untuk memberikan “warna kulit” berbeda, atau memang jam terbang aktingnya masih paling minim dibanding rekan- rekannya. Penampilannya sebagai Cyborg, terasa tertutupi oleh bayang- bayang karakter lainnya.

6

Yang sebenarnya memiliki potensi fans service serta kejutan sebenarnya adalah kemunculan Henry Cavill sebagai Superman. Ini saya bukan spoiler, tapi memang dari berbagai interview cast Cavill selalu dimunculkan. Seharusnya melihat persiapan materi promosi yang hanya mengedepankan 5 karakter Justice League, seharusnya keterlibatan Cavill dirahasiakan saja sejak awal. Pastinya akan menambah euphoria tersendiri ketika tau- tau melihat dirinya muncul. Oiya muncul lengkap sama pacarnya yang tante- tante (baca: Amy Adams). Overall, secara pribadi dan sebagai seorang fanboy, Justice League merupakan sebuah one package yang memuaskan. Hanya saja sangat disayangkan lagi- lagi Warner Bros memangkas beberapa menit durasi yang nantinya buat jadi bahan jualan Home Video-nya. Dan jangan lupakan menyaksikan 2 stinger di pertengahan kredit dan akhir kredit yang pastinya akan membuat para fans jejeritan tepuk tangan. Yah, meskipun sangat disayangkan credit scene kedua sempat bocor di internet. Dan buat elo- elo yang udah nyebarin nyebarin di sosmed… SHAME ON YOU!!! (dnf)

Rating:

8.5/10

Advertisements

BEYOND SKYLINE (2017)

Poster

Directed By: Liam O’Donnell

Cast: Frank Grillo, Bojana Novakovic, Iko Uwais, Yayan Ruhian, Jonny Weston, Jacob Vargas, Antonio Fargas, Callan Mulvey

Synopsis:

Kota Los Angeles diserang oleh pesawat luar angkasa. Alien tersebut menculik manusia untuk diambil otaknya dan dijadikan tentara kloningan Alien. Beberapa di antara warga yang ikut terculik adalah seorang polisi dan anaknya; Mark (Frank Grillo) dan Trent (Jonny Weston), masinis kereta Audrey (Bojana Novakovic), dan veteran perang Sarge (Antonio Fargas). Mereka berhasil membuat pesawat Alien tersebut jatuh di Laos.

Merekapun akhirnya diselamatkan oleh gerombolan pemberontak yang dipimpin oleh Sua (Iko Uwais) dan Harper (Callan Mulvey) yang juga merupakan sindikat perdagangan obat bius dan menjadi musuh bebuyutan The Chief (Yayan Ruhian), seorang tentara pemerintahan yang bertugas membasmi para pemberontak tersebut.

Review:

1

Ketika mendapatkan kabar bahwa 2 bintang laga lokal yang sudah Go International ikut dalam sebuah proyek film Sci- Fi, tidak sedikit moviegoer Indonesia yang menyambutnya dengan penuh harapan dan suka cita. Namun ketika mendengan bahwa film tersebut berjudul Beyond Skyline yang notabene adalah sekuel dari film Skyline yang rilis tahun 2010, saya pribadi mulai agak sedikit kecewa. Pasalnya film tersebut sangatlah buruk. Meskipun secar finansial menguntungkan dan mendapatkan laba hampir 8 kali dari budget hanya untuk peredearan domestik US saja, namun secara kualitas sangatlah buruk. Bisa dikatakan termasuk salah satu film yang forgettable. Tapi ya gimana, toh kita tetap harus mendukungkan? Apalagi syutingnya di beberapa obyek pariwisata di sekitaran Jawa Tengah.

2

Mengingat semengecewakannya film pertama, saya menonton film keduanya dengan ekspektasi yang rendah. Namun hasilnya ternyata masih cukup oke. Tidak bisa dikatakan wah, tapi untuk ukuran sebuah film yang bukan dari major studio, masih bisa dikatakan cukup menghibur. Dari segi naskah cukup ada peningkatan, meski masih banyak sekali plothole dan kemiripan dengan film- film sejenis. Beberapa hal sebenarnya masih bisa ditingkatkan. Seperti hubungan dan chemistry antar karakter. Contohnya hubungan ayah- anak Mike dan Trent yang tidak terlihat peduli satu sama lain. Bahkan ketika maut mengancam sekalipun.

3

Topi perlu diangkat untuk Liam O’Donnell yang berhasil membuat gebrakan dengan menghadirkan adegan yang lebih masif ketimbang film pertamanya. Belum lagi dengan pilihannya untuk memakai Frank Grillo, yang memang sedang naik daun di Hollywood sana paska keterlibatannya di MCU dan franchise The Purge. Special effect yang diolah dengan cukup apik juga menambah kesan tersendiri untuk film ini. Namun yang membuat film ini semakin seru adalah dengan terpilihnya Iko Uwais dan Yayan Ruhian sebagai fight coreographer yang ternyata dipadukan dengan adegan invasi alien malah efektif menjadi nilai plus dan pembeda film ini dengan film- film sejenis. Bisa dibilang ini adalah nilai jual tersendiri setelah kehadiran Frank Grillo. Mengingat demam The Raid belum juga pudar di Hollywood, dan pengaruhnya juga masih kerasa di beberapa film besar.

4

Sebagai sebuah hiburan film ini cukup berhasil, meski jangan terlalu berekspektasi seperti film sci-fi Alien macam Predator, Alien, atau Attack The Block. Namun sebagai sebuah harapan baru bagi Indonesia agar lebih dikenal dunia, sudah bisa dikatakan cukup berhasil. Lupakan masalah skenario yang masih perlu tambal sulam di sana- sini. Dan saksikan bagaimana pencak silat bisa memukul balik invaasi mahluk luar angkasa. (dnf)

Rating:

7/10

 

Spider-Man: Homecoming (2017)

Poster

Directed By: Jon Watts

Cast: Tom Holland, Michael Keaton, Jon Favreau, Zendaya, Marisa Tomei, Robert Dowey Jr., Bookem Woodbine, Jacob Batalon, Donald Glover, Laura Harrier, Michael Chernus, Michael Mando, Logan Marshall- Green

Synopsis:

Paska membantu Iron Man (Robert Downey Jr.), dalam event Civil War, Peter Parker/ Spider-Man (Tom Holland) selalu menantikan saat- saat di mana dia bisa resmi diajak bergabung ke dalam Avengers. Hanya saja karena dirasa masih kecil dan belum dewasa, Peter harus tetap menjalani hari- harinya selayaknya remaja seumurannya. Curi- curi pandang dengan sang pujaan hati Liz (Laura Harrier), bergaul dengan sahabatnya Ned (Jacob Batalon) dan menghadapi komen sinis temannya Michelle (Zendaya), serta menerima bully dari Flash (Tony Revolori). Selain itu, demi menyalurkan kemampuan supernya, Peter hanya membantu lingkungan sekitar sambil menyembunyikannya dari Aunt May (Marisa Tomei).

Kesempatan didapat ketika Peter mengetahui tentang transaksi penjualan senjata gelap hasil peninggalan serangan alien di event The Avengers pertama. Geng yang terdiri dari Phineas Mason/ The Tinkerer (Michael Chernus), Jackson Brice/ Shocker I (Logan Marshall- Green), Herman Schultz/ Shocker II (Bookem Woodbine), dan dipimpin oleh Adrian Toomes/ Vulture (Michael Keaton). Demi membuktikan kemampuan dirinya, Peter mencoba meringkus kawanan penjahat tersebut setelah sebelumnya diacuhkan oleh Stark.

Review:

1

Sebagai karakter paling populer dari jagad Marvel Universe, kehadiran dan bergabungnya Laba- Laba Merah Spider- Man dan Wolverine ke dalam Marvel Cinematic Universe bisa dikatakan merupakan mimpi basah bagi para fans. Doa yang dipanjatkan, komen yang di post, bahkan surat yang dilayangkan ke Marvel sudah tidak terhitung agar mau bernegosiasi dengan Sony dan Fox untuk mau “memulangkan” setidaknya 2 karakter itu saja ke “rumah”nya agar bisa bahu membahu berjuang bersama Iron Man, Captain America, Hulk, dan Thor. Berita kerjasama antara Sony dan Disney/ Marvel untuk saling meminjam karakter untuk terwujudnya doa paling diinginkan oleh fans, menghadirkan titik cerah tersendiri. Fans tidak peduli siapa yang pegang lisensi, siapa yang distribusikan, siapa yang bikin. Yang penting Spider- Man nongol di MCU. Titik.

2

Sebagai pengenalan sekaligus memberikan menambah rasa penasaran, 2 karakter inti telah diperkenalkan tahun lalu di film Captain America: Civil War. Penampilan Tom Holland serta Marisa Tomei sebagai Peter Parker dan Aunt May langsug disambut positif. Holland dirasa sangat pas memerankan Peter baik secara usia yang tidak beda jauh dan kecanggungan sebagai seorang nerd, serta tingkahnya lebih polos ketimbang Garfield dan Maguire. Tomei sudah pasti memberikan pesona tersendiri bagi karakter tante/ ibu asuh Peter yang usianya dipangkas sekitar 20 tahunan dari yang sudah kita kenal selama ini. Apalagi tampang- tampang MIL* Tomei yang pastinya memberikan sensasi tersendiri bagi para penonton dan fanboy.

3

Me- reboot kisah karakter Web Slinger ini sudah pasti memiliki tantangan tersendiri, layaknya me- reboot karakter Batman. Jika dibandingkan memang kedua karakter favorit dari masing- masing kubu tersebut memiliki kesamaan. Selain merupakan karakter paling laris dari tiap publisher-nya, kedua karakter tersebut memiliki perbendaharaan karakter villain yang bejibun, paling banyak, menarik, terkenal, bahkan bisa dikatakan karakter- karakter villain-nya sendiri juga memiliki penggemar tersendiri. Sehingga mau beberapa kali di- reboot pun, kalau dari segi karakter villain, tidak akan membuat bosan. Tantangannya adalah dari segi penceritaan origins karakter. Penonton awampun sudah pasti hapal luar kepala apa yang menyebabkan mereka berdua memutuskan menjadi jagoan penegak kebetulan kebenaran. Untuk reboot Spider- Man: Homecoming ini Marvel tidak pusing- pusing untuk urusan ini. Daripada menghabiskan durasi untuk mereka ulang adegan pembunuhan Uncle Ben dan adegan Peter digigit laba- laba, lebih baik mereka memfokuskan pendalaman karakter sebagai anak bawang dan struggle terhadap kehidupan remaja.

4

Tidak menutup kemungkinan adanya komen banding- bandingin antara Tobey Maguire, Andrew Garfield, dan Tom Holland. Setiap orang pasti punya favorit Spider- Man masing- masing. Kalau Maguire menggambarkan Peter yang belajar cara bertanggung jawab, baik secara kemampuan maupun untuk masa depannya, Garfield digambarkan sebagai Peter yang lincah dan overacting, Holland menurut saya paling pas untuk menggambarkan Peter remaja. Berbeda dengan dua pendahulunya yang aksi- aksi sebagai Spider- Man dilandasi oleh “sentilan” tanggung jawab dari almarhum Pakde Ben, versi Holland digambarkan sebagai anak kecil yang beraksi karena noraknya anak kecil. Pastilah semua dari kita pada saat usia 15 tahun dan tiba- tiba punya kemampuan super, misal menggandakan uang pasti langsung menciptakan aliran sesat., misal seperti Peter Parker pasti akan norak setengah mati dan sok- sokan. Dan akan norak juga ketika melihat gadget -gadget super tim Avengers. Apalagi sampai diajak gabung dan bisa bertemu Captain America, Iron Man, dan yang lainnya. Jangankan kalian. Saya dulu abis nonton Gogle V di Istora Senayan, sampai 3 bulan tiap hari main Gogle- Gogle an terus ngaca- ngaca sambil gaya- gaya berantem.

5

Jajaran cast lainnya yang bagus adalah Michael Keaton. Meskipun telah terlalu sering membintangi film superhero dengan sayap, tapi Keaton tidak lantas memberikan akting yang repetitif. Karakter Toomes di sini pun digambarkan hanya sebagai seorang biasa- biasa saja yang harus menafkahi keluarganya. Dan di beberapa scene digambarkan dia cukup respek terhadap Spidey. Hanya saja dua karakter Shocker yang biasa- biasa saja. Begitu juga dengan porsi karakter The Tinkerer. Batalon dan Tomei sangat pas dalam porsinya masing- masing. Batalon sangat pas berperan sebagai Ned Leeds yang sebagai nerd kebanyakan. Norak juga pas tau sahabatnya adalah sang Spider- Man. Tomei sangat apik. Apalagi seperti saya sebutkan tadi. Memberikan nuansa tersendiri bagi karakter Bude May. Keputusan untuk memberikan sentuhan modern serta teknologi tinggi untuk Spidersuit merupakan keputusan yang menarik. Selain itu, menyelipkan berbagai macam twist di tengah film cukup meningkatkan kualitas cerita.

6

Keputusan untuk memfokuskan sepak terjang Spidey sebagai seorang friendly neighborhood, benar- benar tepat. Berbeda dengan film- film bioskopnya, Spidey di sini layaknya seri MCU versi Netflix. Kejahatan yang dihadapi adalah kejahatan- kejahatan jalanan. Dan tidak ada plot berbelit- belit, seperti menguasai dunia atau ancaman serius bagi umat manusia. Yang dihadapi di sini adalah small time crooks yang memiliki kesempatan untuk menggunakan senjata super. Setelah menyaksikan film ini, saya semakin berharap Marvel mau bekerja sama lagi dan melobi Sony untuk mau bekerja sama untuk film Venom, Silver and Black, dan The Sinister Six, yang kabarnya malah sebagai penerus franchise The Amazing Spider- Man, bukannya Homecoming. Dan harapan saya lagi lepasnya Hugh Jackman dari Fox, serta ending film Logan membuat Fox mau menjual kembali karakter Wolverine untuk muncul di MCU.  Btw, Spider- Man: Homecoming memberikan banyak trivia dan cameo- cameo karakter Spider- Man Universe. Selain itu ada 2 credit scene di pertengahan dan di ending. Yang pastinya sebagai hint, yang di ending merupakan credit scene paling menarik dari keseluruhan film- film MCU. Worth to watch. (dnf)

Rating:

8.5/10

Power Rangers (2017)

Poster

Directed By: Dean Israelite

Cast: Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Ludi Lin, Becky G., Elizabeth Banks, Bryan Cranston, Bill Hader

Synopsis:

5 remaja dari kota kecil Angel Grove, Jason (Dacre Montgomery), Billy (RJ Cyler), Zach (Ludi Lin), Kimberly (Naomi Scott), dan Trini (Becky G.) menemukan 5 koin kuno dalam sebuah kejadian di sebuah tambang. Paska kejadian tersebut, kelimanya tiba- tiba memiliki kekuatan super. Setelah diberikan pengarahan oleh sesosok alien kuno Zordon (Bryan Cranston) dan robot asistennya, Alpha 5 (Bill Hader), mereka bertiga menjadi Power Rangers, yang bertugas untuk menjaga kehidupan di bumi dari ancaman Rita Repulsa (Elizabeth Banks).

Review:

1

Mungkin sedikit sekali orang yang tidak mengenal Power Rangers. Mau mereka yang sempat muda di tahun 90-an ataupun emak- emak kolot gak asik, pasti minimal akrab dengan sebutan itu. Mighty Morphin Power Rangers merupakan seri pertama, yang meliputi 3 season pertama dari franchise Power Rangers yang diadaptasi dari serial Super Sentai buatan Toei. Super Sentai merupakan salah satu serial lama milik Toei yang bisa dibandingkan dengan Kamen Rider ataupun Ultraman. Masyarakat Indonesia mengenal Super Sentai lewat salah satu serinya yang berjudul Goggle V. Ciri khas dari seri ini adalah satu tim superhero yang biasanya terdiri dari 5 orang (meski terkadang bisa 3, 6, atau lebih) yang memiliki kostum sama hanya dibedakan warna. Dan memiliki satu kendaraan yang bisa digabungkan menjadi robot gede. Power Rangers sendiri dibaptis menjadi salah satu pop culture yang cukup berpengaruh 2 dekade lalu. Diikuti dengan penjualan merchandise yang sampai sekarang masih memiliki fanbase yang cukup kuat. Bahkan kesuksesannya membuat salah satu franchise Kamen Rider sempat diadaptasi juga oleh Amerika. Yaitu serial Black Rider RX, yang versi Jepangnya juga menjadi salah satu memori manis bagi generasi 90-an.

2

Sebenarnya gaung- gaung reboot MMPR ke dalam layar lebar telah bergaung sejak lama. Namun hype tersebut kembali hadir ketika Joseph Khan membuat fanmade sekuel MMPR yang menceritakan kisah keenam anggota original dewasa harus menghadapi Rocky yang telah membelot ke pihak musuh. Adapun tone yang dewasa dengan tingkat violence cukup tinggi ternyata memberikan kepuasan tersendiri bagi para fans. Meskipun mendapatkan tanggapan positif, ternyata film tersebut juga mendapatkan tolakan dari beberapa cast, dan juga dari Saban sendiri. Namun menanggapi respon ini, Saban kemudian memberikan kabar gembira bahwa reboot resmi akan dibuat dengan artis yang diisukan pertama untuk didekati adalah Chloe Grace Moretz sebagai Pink Ranger.

3

Mengikuti trend sekarang yang lebih mendewasakan franchise yang akrab dengan anak- anak, Power Rangers kali ini lebih fokus kepada pengenalan karakter. Jadi bagi para fans yang mengharapkan aksi laga yang keren pasti akan kecewa. Resmi 80% durasi hanya didominasi oleh pengembangan karakter dan menceritakan origins dari pembentukan tim Power Rangers. Untuk segi naskah, saya rasa sudah cukup berhasil. Penggambaran bagaimana mereka, yang dari tidak mengenal satu sama lain lalu menjadi sebuah tim yang kompak dan solid sudah cukup baik. Terlebih dengan memberikan problematika yang cukup dewasa bagi para remaja ini (salah satunya adalah dengan merubah karakter Trini menjadi penyuka sesama jenis- terlepas dari tanggapan saya terhadap karakter LGBT di film anak- anak).

4

Reboot ini juga mencoba untuk lebih akrab dengan penonton dari segala ras. Untuk menghindari stereotype dan kemungkinan tanggapan rasis, beberapa karakter dirubah warna kulitnya sehingga berbeda dengan warna kostumnya. Jika versi aslinya, Zack (Black Ranger) adalah seorang berkulit hitam dan Trini (Yellow Ranger) adalah seorang Cina, kali ini Zack adalah seorang Cina dan Trini seorang latin. Ini untuk menghindari seorang Negro menjadi Ranger hitam dan seorang Cina menjadi Ranger kuning (Orang Amerika menyebut kulit orang- orang Cina sebagai berkulit kuning). Selain mereka, Billy dirubah dari orang bule menjadi orang negro. Tapi perubahan warna kulit, bagi saya pribadi bukan merupakan hal yang cukup mengganggu. Apalagi jika mengikuti franchise tersebut sudah paham bahwa tim Power Rangers dari seri apapun pasti memiliki ras yang berbeda. Tidak semuanya orang bule.

5

Jika membicarakan kekurangan film ini, seperti yang saya sebutkan tadi, terdapat pada penggarapan adegan aksinya. Oke, memang tujuannya untuk memfokuskan film kepada pengenalan tokoh dan pembentukan karakter. Namun bukan berarti, adegan aksi harus dianaktirikan. Adegan aksi yang langsung memborbardir sebagai klimaks film terasa terlalu singkat. Selepas adegan- adegan aksi yang, saya nilai terlalu melempem, perasaan yang timbul seperti “Hah? Gitu doang?”. Seharusnya Lionsgate bisa lebih serius dalam menggarap koreografi pertempurannya. Bahkan jika dibandigkan dengan serial TV-nya, saya masih cukup terhibur dengan adegan aksi dari serial TVnya. Kemudian yang cukup mengganjal adalah ukuran Zord, yang bagi saya kurang besar. Apalagi mengingat dari materi promo posternya, kita sempat ditipu dengan ukuran Zord yang digambarkan cukup besar, namun aslinya di film cuma segitu aja.

5

Secara garis besar, Power Rangers sukses menjadi sebuah origins movie yang berfungsi untuk meletakkan landasan bagi franchise yang direncanakan akan memiliki 6 film ini (amiin…). Namun sebagai sebuah sajian film superhero, masih kurang banyak. Khususnya dari penggarapan adegan laga. Jika memang secara skenario bisa lebih dewasa, seharusnya untuk adegan aksi laga juga bisa dibuat jauh lebih keren dan dewasa dibandingkan versi TVnya. Namun kita sebagai penonton, diberikan ekstra musik pengiring yang super keren banget. Terutama remake dari beberapa tembang lawas. Saya berharap di sekuel- sekuel berikutnya, Lionsgate akan lebih bisa mengajak cast- cast asli untuk menjadi cameo, atau mungkin diberikan peran pembantu di filmnya. Bukan hanya menampilkan 2 pemeran asli sebagai cameo seperti di film pertamanya ini saja. Oya, jangan segera beranjak, karena akan ada mid credit scene. Tunggu aja. Gak lama kok. Gak bakal bikin tukang sapu bioskop bengong- bengong bete di kursi depan kaya nonton Avengers. (dnf)

Rating:

7/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Logan (2017)

Poster

Directed By: James Mangold

Cast: Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen, Boyn Holbrook, Stephan Merchant, Elizebeth Rodriguez, Richard E. Grant

Synopsis:

Tidak jauh di masa depan, di mana mutant sudah jarang ditemukan dan anggota X-Men sudah mati atau hilang ditelan bumi, Logan (Hugh Jackman) mengasingkan diri sambil merawat Charles Xavier (Patrick Stewart) dengan bantuan Caliban (Stephan Merchant). Logan mengumpulkan uang untuk bisa membeli perahu dan tinggal di lautan bersama sang profesor. Namun ketenangan mereka diusik ketika seorang suster bernama Gabriela (Elizabeth Rodriguez) mendatanginya untuk meminta perlindungan bagi seoran anak kecil bernama Laura (Dafne Keen) yang menjadi incaran para Reavers, cyborg yang dipimpin oleh Donald Pierce (Boyd Holbrook). Ternyata Laura bukanlah sembarang anak kecil, namun memiliki sebuah rahasia yang bisa membuat Logan merasakan menjadi manusia lagi.

Review:

1

Tidak dipungkiri lagi, Hugh Jackman merupakan salah satu nilai jual tertinggi bagi Saga X-Men. Dibuktikan dengan wajahnya menjadi satu- satunya yang muncul di setiap judul filmnya. Bahkan untuk Deadpool, meski hanya berbentuk print out saja. Aktor yang bisa disandingkan dengan Robert Downey Jr. di MCU ini memang sangat beruntung. Mendapatkan peran salah satu mutant favorit dari tangan Dougray Scott, yang saat itu lebih memilih menjadi musuh Tom Cruise merupakan sebuah anugerah terbesar dalam karirnya. Keberuntungan juga datang ketika para fans ternyata puas dengan performa Jackman yang mampu menampilkan sosok Wolverine yang ganas dan brutal. Belum lagi tampilan Jackman yang bisa juga jadi daya tarik bagi penonton wanita yang terpaksa harus menemani pacarnya nonton X-Men.

3

Setelah kesuksesan Deadpool yang meski mengusung rating R, namun cukup memberikan keuntungan yang cukup tinggi, Fox merasa bahwa mereka harus menggunakan treatment yang sama untuk film solo ketiga Wolverine ini. Mengingat karakterisasi sang tokoh yang aslinya cukup brutal di komik. Dan memang dengan meningkatkan kadar violence cukup tinggi, membuat film ini jauh lebih menghibur ketimbang dua fim pendahulunya yang memilih rating PG-13. Cerita yang diambil dari storyline Old Man Logan dengan sedikit unsur Death of Wolverine memang cukup kuat, khususnya dalam menggambarkan Wolverine yang sudah tua dan tidak seprima dulu. Hal ini sebenarnya cukup bagus, mengingat raut wajah Jackman yang semakin tua dan tidak semulus di film X-Men dulu. Setidaknya lebih masuk akal dengan karakterisasi di film. James Mangold yang ikut turun langsung dalam penulisan naskah, mampu membuat cerita yang solid dan cukup manusiawi.

4

Ketika menyaksikan film Logan, feel yang didapat bukanlah menyaksikan film superhero. Tapi seperti menyaksikan film action seperti Jason Bourne, Mad Max, atau James Bond versi Daniel Craig. Tema cerita pun memiliki nuansa western yang cukup kental. Terlebih dalam menggambarkan kisah redemption seorang legend. Unsur drama yang dimasukan untuk menggambarkan sisi manusiawi Logan, cukup baik dan tidak membuat film menjadi terlalu dragging. Pemilihan jajaran cast juga cukup bagus. Boyd Holbrook yang cukup akrab bagi penonton Narcos, memang lebih cocok menjadi villain seperti dalam film Run All Night ketimbang menjadi protagonis seperti di film seri yang menceritakan sepak terjang Pablo Escobar itu. Sebagai aktris cilik, Dafne Keen mampu mengungguli Hugh Jackman. Dirinya mampu menjadi scene stealer karena menggabungkan pesona lugu anak kecil dan kebringasan seorang pembunuh terlatih. Mengingatkan kita kepada Chloe Moretz dalam Kick- Ass.

2

Sayangnya keputusan Jackman yang menyatakan akan berhenti memerankan Wolverine sempat membuat para fans kecewa. Banyak spekulasi yang menyebutkan bahwa X-Men akan di reboot lagi atau akan ada pemain baru yang menggantikan sosok Jackman sebagai sosok Wolverine. Sangat susah membayangkan ada aktor lain yang memerankan tanpa harus me reboot dari awal semua universe X-Men. Ditambah lagi Patrick Stewart yang juga mengumumkan dalam suatu wawancara bahwa film Logan merupakan penampilan terakhir dirinya sebagai Professor X. Belakangan Jackman mengerluarkan statement bahwa dirinya bersedia menggunakan cakar adamantium lagi jika Wolverine menjadi bagian dari MCU. Suatu hal yang cukup sulit, mengingat Fox cukup tambeng dalam mempertahankan hak film karakter- karakter X-Men. Meskipun fans mengharapkan studio ini akan luluh dan mengikuti jejak Sony untuk share dengan Disney. Or at least Wolverine- nya aja. (dnf)

Rating:

9/10

 

Ghostbusters (2016)

Cabbie: I don’t go to Chinatown, I don’t do wackos. And I ain’t afraid of no ghosts!

Poster

Directed By: Paul Feig

Cast: Kristen Wiig, Melissa McCarthy, Kate McKinnon, Leslie Jones, Chris Hemsworth, Neil Casey, Andy Garcia

Synopsis:

Setelah dipecat dari pekerjaannya, seorang ilmuwan Erin Gilbert (Kristen Wiig) kembali bergabung dengan rekan masa kecilnya, yang sama- sama percaya akan eksistensi hantu dan ingin membuktikannya. Ditemani dengan seorang ilmuwan nuklir, Jillian Hotzzman (Kate McKinnon), mereka menelusuri tempat- tempat yang diyakini berhantu. Lama kelamaan mereka menjadikan penelitian ini menjadi profesi mereka untuk mengusir hantu. Dibantu oleh seorang idiot bernama Kevin (Chris Hemsworth) dan petugas kereta api bawah tanah, Patty Tolan (Leslie Jones), mereka mendirikan tim yang kelak dijuluki Ghostbusters.

Tantangan awal datang dari seorang aneh yang berniat untuk membangkitkan arwah- arwah yang mendiami sudut- sudut kota New York, Rowan North (Neil Casey) untuk membalaskan dendam atas perlakuan buruk dari orang- orang.

Review:

1

Bagi generasi 80-an tentu tidak akan asing dengan franchise Ghostbusters yang dipopulerkan di negara kita lewat serial animasi The Real Ghostbusters yang tayang pada zaman awal era TV Swasta yang saat itu masih pakai decoder. Franchise yang juga menjelma menjadi salah satu simbol pop culture di tahun 80-an ini sudah akrab dengan para pecinta serial animasi. Di negara asalnya, franchise ini memberikan torehan tersendiri di sejarah industri perfilman, dengan menggabungkan elemen horor dengan komedi. Pada zamannya, genre horor lekat dengan adegan- adegan menakutkan. Franchise ini tidak jarang digabung dengan franchise Teenage Mutant Ninja Turtles. Tidak sekali dua kali kedua seri tersebut dibuatkan cross over. Mungkin dikarenakan jumlah anggota yang sama- sama berjumlah 4 orang. Legacy franchise ini  juga menelurkan film- film sejenis yang memiliki template tim berjumlah 4 orang yang melawan musuh- musuh unik. Seperti Evolution dan Pixels.

2

Franchise yang terlahir dari ide komedian Dan Aykroyd dan Harold Ramis ini aslinya diperuntukkan untuk menaikkan pamor rekan mainnya di Saturday Night Live, James Belushi. Namun karena satu dan lain hal, Belushi gagal main yang kemudian porsinya digantikan oleh Bill Murray. Isu untuk melanjutkan sekuel film ini sebenarnya sudah tercetus dalam beberapa dekade ke belakang. Hanya saja begitu banyaknya batu ganjalan membuat ide tersebut tidak terlaksana. Sampai akhirnya salah satu motor, Bill Murray sudah tidak tertarik lagi untuk ikut serta dalam sekuel. Dan Harold Ramis meninggal pada tahun tahun 2014 lalu.

ghostbusters-2016-reboot-movie-review-chris-hemsworth

Akhirnya lampu hijau penerusan franchise ini nyala setelah Paul Feig resmi terpilih menduduki bangku sutradara. Langkah pertama yang diambil adalah mengganti semua karakter utamanya, baik nama maupun jenis kelamin. Hal yang riskan sebenarnya, mengingat pro dan kontra pastinya tidak akan terbendung. Terutama yang kontra. Tidak aneh sebenarnya bagi yang mengetahui latar belakang Feig yang tumbuh di lingkungan wanita yang feminim membuat dirinya memiliki jiwa yang sexist. Dalam hal ini memandang wanita berada di atas pria. Dapat terlihat dari film- filmnya yang kebanyakan mengedepankan karakter wanita. Terutama Melissa McCarthy yang sudah menjadi duet mautnya dan terbukti membantu kesuksesan film- filmnya. Gayung bersambut, petinggi Sony Pictures, menyetujui usulan berisiko besar tersebut. Bahkan demi mengukuhkan ke-sexist-annya, Feig menghadirkan karakter Kevin yang layaknya seorang model iklan Calvin Klein yang diperankan oleh Chris Hemsworth menjadi seseorang yang bodoh. Hal ini untuk menyindir stereotype karakter- karakter wanita beauty but no brainer yang kerap muncul di film- film Hollywood.

4

Hasilnya? Entah karena sudah terlanjut memasang ekspektasi yang rendah serendahnya atau memang kepiawaian Feig, ternyata cukup sukses memberikan warna baru dari franchise ini. Meskipun memiliki karakter- karakter wanita sebagai tokoh utama, namun Feig masih menyadari bahwa penggemar franchise ini mayoritas pria. Sehingga masalah- masalah yang dikedepankan bukan masalah yang feminim. Malahan bagi saya pribadi, jika seandainya karakter- karakter baru tersebut diganti menjadi pria tidak akan ada bedanya tanpa harus mengganti naskah. Feig juga membayar kekecewaan para fans dengan menghadirkan segudang tribute dan easter egg yang muncul di sana- sini. Dari reka ulang adegan dari film originalnya, kemunculan keseluruhan pemeran utama (bahkan Harold Ramis yang sudah meninggal pun diberikan tribute tersendiri di film ini), kemunculan hantu- hantu ikonik, sampai after credit scene dan mid credit scene yang pastinya akan membuat fans kegirangan. Jika berbicara tribute bahkan sampai pemilihan keempat aktris utama bisa dikatakan sebuah tribute. Keempatnya adalah jebolan Saturday Night Live, sama halnya dengan Harold Ramis, Dan Aykroyd, Bill Murray, dan Rick Moranis.

5

Komedi yang dihadirkan terasa cukup segar. Tampilan para hantu pun dibuat sedemikian mirip dengan template hantu- hantu di film pertamanya. Jika ingin berbicara mengenai para cast-nya, sorotan terbesar patut diberikan kepada Kate McKinnon yang tampil cukup memukau di film ini. Karakternya yang unik bisa menjadi scene stealer di setiap kehadirannya. Di samping di antara keempatnya bagi saya pribadi, dia yang paling cantik. (hehehehe… dasar cowok). Melissa McCarthy tidak terlalu membawakan perannya yang sudah sangat menempel, yaitu menjadi wanita gemuk menyebalkan yang self center. Kristen Wiig dan Leslie Jones bermain dengan cukup pas sebagai perannya masing- masing.

6

It the end, Paul Feig telah berhasil mengkreasikan ulang franchise lawas ini dengan sangat baik. Sisi feminisnya telah diaplikasikan ke dalam film ini sehingga cukup memberikan warna baru yang membedakan dengan film lamanya. Sekuel? Yes, please. (dnf)

Rating:

8/10

Star Trek Beyond (2016)

Bones: Afraid of dying is what keeps us alive.

star-trek-beyond-poster-international

Directed By: Justin Lin

Cast: Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban, Zoe Saldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Idris Elba, Joe Taslim, Sofia Boutella, Lydia Wilson

Synopsis:

Setelah diberikan tugas untuk membantu seorang alien bernama Kalara (Lydia Wilson), kapal USS Enterprise diserang oleh pasukan alien yang dipimpin oleh Krall (Idris Elba) yang dibantu oleh tangan kanan setianya, Manas (Joe Taslim). Penyerangan tersebut mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit dari USS Enterprise. Beberapa kru, yang diantaranya adalah Sulu (John Cho) dan Uhura (Zoe Saldana) disekap dan dijadikan tawanan oleh Krall, sementara kru lainnya yang terdiri dari Captain Kirk (Chris Pine), Spock (Zachary Quinto), Bones (Karl Urban), Scotty (Simon Pegg), Chekov (Anton Yelchin), dibantu oleh seorang alien bernama Jaylah (Sofia Boutella) berhasil selamat dan mau tidak mau harus mencari kawan- kawan lainnya untuk kabur dari planet tersebut.

Review:

1

Paska diputuskan untuk meneruskan versi layar lebar dengan memfokuskan cerita kepada alternate reality-nya, Star Trek telah menjelma menjadi sebuah franchise yang digemari bukan hanya tertutup kepada geeks saja. Berbeda dengan film- film versi original-nya, Star Trek yang dibawakan oleh JJ Abrams lebih pop corn dan lebih dapat diterima khalayak ramai dengan lebih menonjolkan segi aksi seru ketimbang drama fiksi ilmiah dengan kandungan yang berat. Hal ini mendatangkan apresiasi yang beragam, baik itu apresiasi positif dengan adanya penambahan jumlah member trekkie, dan juga sebaliknya apresiasi negatif yang tidak terlalu menyukai gambaran Star Trek yang terlalu “summer movie”.

2

Bagi mereka yang menyukai gebrakan Abrams tadi, pasti akan menyukai film ketiganya ini. Pasalnya, dari materi trailer sudah terasa feel yang jauh berbeda dengan versi klasiknya. Suguhan aksi serta adegan laga yang menghibur menghiasi trailer- trailer-nya. Dan memang, naskah yang kali ini ditulis oleh Simon Pegg jauh dari warna sciene fiction berat. Apalagi ditangani oleh Justin Lin, seorang sutradara yang berhasil mengangkat franchise The Fast and The Furious dari keterpurukan. Bukan hanya itu, Lin juga berhasil merubah citra franchise tersebut dari sebuah drag race movie menjadi sebuah heist movie dengan skala internasional. Kepiawaiannya pula yang membuat jilid ketiga dari sebuah seri terlupakan menjadi sebuah bagian yang cukup signifikan dalam kesinambungan franchise. Fingerprints Lin sangat kental terasa di film ini. Bagaikan masih mengukuhkan dirinya sebagai sutradara franchise balapan, Lin memasukkan unsur aksi kebut- kebutan motor yang cukup bagus. Ditambah dengan joke- joke fresh hasil kolaborasinya dengan Simon Pegg sebagai penulis naskah.

star-trek-beyond-3

Simon Pegg memanfaatkan posisinya sebagai penulis naskah dengan memberikan porsi yang lebih kepada karakter- karakter pendukung lainnya untuk lebih memiliki peranan dalam keutuhan cerita. Apalagi untuk karakternya, Scotty. Hanya saja, karakter Jaylah, yang digadang- gadang seolah- seolah akan memiliki peran sentral yang menonjol, jika dilihat dari materi posternya, menjelma menjadi karakter tempelan yang kurang begitu kuat. Ini bukan karena sang aktris, Sofia Boutella yang kurang maksimal. Namun karena terlalu banyaknya karakter yang diberikan peran. Sementara hal lain yang harus dikorbankan adalah bromance antara Kirk dan Spock yang pada 2 film pendahulunya menjadi satu kekuatan dalam plot cerita.

5

Star Trek Beyond sekali lagi berhasil menempatkan diri sebagai sebuah sajian block buster yang cukup wah. Namun mungkin tidak begitu mengasyikan bagi mereka yang passion akan sciene fiction-nya sudah terlalu mengakar apalagi bagi mereka yang tidak menyukai 2 film pendahulunya. Untungnya bagi penonton Indonesia, ditambahi sebuah bonus. Dengan terlibatnya aktor laga yang juga mantan atlit Judo, Joe Taslim. Bahkan meskipun 99% kemunculannya menggunakan make up, karakternya sebagai henchman cukup membanggakan dan bukan hanya musuh numpang lewat, seperti yang disebut- sebut oleh para hater. (dnf)

 

Rating:

7.5/10