Spider-Man: Homecoming (2017)

Poster

Directed By: Jon Watts

Cast: Tom Holland, Michael Keaton, Jon Favreau, Zendaya, Marisa Tomei, Robert Dowey Jr., Bookem Woodbine, Jacob Batalon, Donald Glover, Laura Harrier, Michael Chernus, Michael Mando, Logan Marshall- Green

Synopsis:

Paska membantu Iron Man (Robert Downey Jr.), dalam event Civil War, Peter Parker/ Spider-Man (Tom Holland) selalu menantikan saat- saat di mana dia bisa resmi diajak bergabung ke dalam Avengers. Hanya saja karena dirasa masih kecil dan belum dewasa, Peter harus tetap menjalani hari- harinya selayaknya remaja seumurannya. Curi- curi pandang dengan sang pujaan hati Liz (Laura Harrier), bergaul dengan sahabatnya Ned (Jacob Batalon) dan menghadapi komen sinis temannya Michelle (Zendaya), serta menerima bully dari Flash (Tony Revolori). Selain itu, demi menyalurkan kemampuan supernya, Peter hanya membantu lingkungan sekitar sambil menyembunyikannya dari Aunt May (Marisa Tomei).

Kesempatan didapat ketika Peter mengetahui tentang transaksi penjualan senjata gelap hasil peninggalan serangan alien di event The Avengers pertama. Geng yang terdiri dari Phineas Mason/ The Tinkerer (Michael Chernus), Jackson Brice/ Shocker I (Logan Marshall- Green), Herman Schultz/ Shocker II (Bookem Woodbine), dan dipimpin oleh Adrian Toomes/ Vulture (Michael Keaton). Demi membuktikan kemampuan dirinya, Peter mencoba meringkus kawanan penjahat tersebut setelah sebelumnya diacuhkan oleh Stark.

Review:

1

Sebagai karakter paling populer dari jagad Marvel Universe, kehadiran dan bergabungnya Laba- Laba Merah Spider- Man dan Wolverine ke dalam Marvel Cinematic Universe bisa dikatakan merupakan mimpi basah bagi para fans. Doa yang dipanjatkan, komen yang di post, bahkan surat yang dilayangkan ke Marvel sudah tidak terhitung agar mau bernegosiasi dengan Sony dan Fox untuk mau “memulangkan” setidaknya 2 karakter itu saja ke “rumah”nya agar bisa bahu membahu berjuang bersama Iron Man, Captain America, Hulk, dan Thor. Berita kerjasama antara Sony dan Disney/ Marvel untuk saling meminjam karakter untuk terwujudnya doa paling diinginkan oleh fans, menghadirkan titik cerah tersendiri. Fans tidak peduli siapa yang pegang lisensi, siapa yang distribusikan, siapa yang bikin. Yang penting Spider- Man nongol di MCU. Titik.

2

Sebagai pengenalan sekaligus memberikan menambah rasa penasaran, 2 karakter inti telah diperkenalkan tahun lalu di film Captain America: Civil War. Penampilan Tom Holland serta Marisa Tomei sebagai Peter Parker dan Aunt May langsug disambut positif. Holland dirasa sangat pas memerankan Peter baik secara usia yang tidak beda jauh dan kecanggungan sebagai seorang nerd, serta tingkahnya lebih polos ketimbang Garfield dan Maguire. Tomei sudah pasti memberikan pesona tersendiri bagi karakter tante/ ibu asuh Peter yang usianya dipangkas sekitar 20 tahunan dari yang sudah kita kenal selama ini. Apalagi tampang- tampang MIL* Tomei yang pastinya memberikan sensasi tersendiri bagi para penonton dan fanboy.

3

Me- reboot kisah karakter Web Slinger ini sudah pasti memiliki tantangan tersendiri, layaknya me- reboot karakter Batman. Jika dibandingkan memang kedua karakter favorit dari masing- masing kubu tersebut memiliki kesamaan. Selain merupakan karakter paling laris dari tiap publisher-nya, kedua karakter tersebut memiliki perbendaharaan karakter villain yang bejibun, paling banyak, menarik, terkenal, bahkan bisa dikatakan karakter- karakter villain-nya sendiri juga memiliki penggemar tersendiri. Sehingga mau beberapa kali di- reboot pun, kalau dari segi karakter villain, tidak akan membuat bosan. Tantangannya adalah dari segi penceritaan origins karakter. Penonton awampun sudah pasti hapal luar kepala apa yang menyebabkan mereka berdua memutuskan menjadi jagoan penegak kebetulan kebenaran. Untuk reboot Spider- Man: Homecoming ini Marvel tidak pusing- pusing untuk urusan ini. Daripada menghabiskan durasi untuk mereka ulang adegan pembunuhan Uncle Ben dan adegan Peter digigit laba- laba, lebih baik mereka memfokuskan pendalaman karakter sebagai anak bawang dan struggle terhadap kehidupan remaja.

4

Tidak menutup kemungkinan adanya komen banding- bandingin antara Tobey Maguire, Andrew Garfield, dan Tom Holland. Setiap orang pasti punya favorit Spider- Man masing- masing. Kalau Maguire menggambarkan Peter yang belajar cara bertanggung jawab, baik secara kemampuan maupun untuk masa depannya, Garfield digambarkan sebagai Peter yang lincah dan overacting, Holland menurut saya paling pas untuk menggambarkan Peter remaja. Berbeda dengan dua pendahulunya yang aksi- aksi sebagai Spider- Man dilandasi oleh “sentilan” tanggung jawab dari almarhum Pakde Ben, versi Holland digambarkan sebagai anak kecil yang beraksi karena noraknya anak kecil. Pastilah semua dari kita pada saat usia 15 tahun dan tiba- tiba punya kemampuan super, misal menggandakan uang pasti langsung menciptakan aliran sesat., misal seperti Peter Parker pasti akan norak setengah mati dan sok- sokan. Dan akan norak juga ketika melihat gadget -gadget super tim Avengers. Apalagi sampai diajak gabung dan bisa bertemu Captain America, Iron Man, dan yang lainnya. Jangankan kalian. Saya dulu abis nonton Gogle V di Istora Senayan, sampai 3 bulan tiap hari main Gogle- Gogle an terus ngaca- ngaca sambil gaya- gaya berantem.

5

Jajaran cast lainnya yang bagus adalah Michael Keaton. Meskipun telah terlalu sering membintangi film superhero dengan sayap, tapi Keaton tidak lantas memberikan akting yang repetitif. Karakter Toomes di sini pun digambarkan hanya sebagai seorang biasa- biasa saja yang harus menafkahi keluarganya. Dan di beberapa scene digambarkan dia cukup respek terhadap Spidey. Hanya saja dua karakter Shocker yang biasa- biasa saja. Begitu juga dengan porsi karakter The Tinkerer. Batalon dan Tomei sangat pas dalam porsinya masing- masing. Batalon sangat pas berperan sebagai Ned Leeds yang sebagai nerd kebanyakan. Norak juga pas tau sahabatnya adalah sang Spider- Man. Tomei sangat apik. Apalagi seperti saya sebutkan tadi. Memberikan nuansa tersendiri bagi karakter Bude May. Keputusan untuk memberikan sentuhan modern serta teknologi tinggi untuk Spidersuit merupakan keputusan yang menarik. Selain itu, menyelipkan berbagai macam twist di tengah film cukup meningkatkan kualitas cerita.

6

Keputusan untuk memfokuskan sepak terjang Spidey sebagai seorang friendly neighborhood, benar- benar tepat. Berbeda dengan film- film bioskopnya, Spidey di sini layaknya seri MCU versi Netflix. Kejahatan yang dihadapi adalah kejahatan- kejahatan jalanan. Dan tidak ada plot berbelit- belit, seperti menguasai dunia atau ancaman serius bagi umat manusia. Yang dihadapi di sini adalah small time crooks yang memiliki kesempatan untuk menggunakan senjata super. Setelah menyaksikan film ini, saya semakin berharap Marvel mau bekerja sama lagi dan melobi Sony untuk mau bekerja sama untuk film Venom, Silver and Black, dan The Sinister Six, yang kabarnya malah sebagai penerus franchise The Amazing Spider- Man, bukannya Homecoming. Dan harapan saya lagi lepasnya Hugh Jackman dari Fox, serta ending film Logan membuat Fox mau menjual kembali karakter Wolverine untuk muncul di MCU.  Btw, Spider- Man: Homecoming memberikan banyak trivia dan cameo- cameo karakter Spider- Man Universe. Selain itu ada 2 credit scene di pertengahan dan di ending. Yang pastinya sebagai hint, yang di ending merupakan credit scene paling menarik dari keseluruhan film- film MCU. Worth to watch. (dnf)

Rating:

8.5/10

Advertisements

Power Rangers (2017)

Poster

Directed By: Dean Israelite

Cast: Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Ludi Lin, Becky G., Elizabeth Banks, Bryan Cranston, Bill Hader

Synopsis:

5 remaja dari kota kecil Angel Grove, Jason (Dacre Montgomery), Billy (RJ Cyler), Zach (Ludi Lin), Kimberly (Naomi Scott), dan Trini (Becky G.) menemukan 5 koin kuno dalam sebuah kejadian di sebuah tambang. Paska kejadian tersebut, kelimanya tiba- tiba memiliki kekuatan super. Setelah diberikan pengarahan oleh sesosok alien kuno Zordon (Bryan Cranston) dan robot asistennya, Alpha 5 (Bill Hader), mereka bertiga menjadi Power Rangers, yang bertugas untuk menjaga kehidupan di bumi dari ancaman Rita Repulsa (Elizabeth Banks).

Review:

1

Mungkin sedikit sekali orang yang tidak mengenal Power Rangers. Mau mereka yang sempat muda di tahun 90-an ataupun emak- emak kolot gak asik, pasti minimal akrab dengan sebutan itu. Mighty Morphin Power Rangers merupakan seri pertama, yang meliputi 3 season pertama dari franchise Power Rangers yang diadaptasi dari serial Super Sentai buatan Toei. Super Sentai merupakan salah satu serial lama milik Toei yang bisa dibandingkan dengan Kamen Rider ataupun Ultraman. Masyarakat Indonesia mengenal Super Sentai lewat salah satu serinya yang berjudul Goggle V. Ciri khas dari seri ini adalah satu tim superhero yang biasanya terdiri dari 5 orang (meski terkadang bisa 3, 6, atau lebih) yang memiliki kostum sama hanya dibedakan warna. Dan memiliki satu kendaraan yang bisa digabungkan menjadi robot gede. Power Rangers sendiri dibaptis menjadi salah satu pop culture yang cukup berpengaruh 2 dekade lalu. Diikuti dengan penjualan merchandise yang sampai sekarang masih memiliki fanbase yang cukup kuat. Bahkan kesuksesannya membuat salah satu franchise Kamen Rider sempat diadaptasi juga oleh Amerika. Yaitu serial Black Rider RX, yang versi Jepangnya juga menjadi salah satu memori manis bagi generasi 90-an.

2

Sebenarnya gaung- gaung reboot MMPR ke dalam layar lebar telah bergaung sejak lama. Namun hype tersebut kembali hadir ketika Joseph Khan membuat fanmade sekuel MMPR yang menceritakan kisah keenam anggota original dewasa harus menghadapi Rocky yang telah membelot ke pihak musuh. Adapun tone yang dewasa dengan tingkat violence cukup tinggi ternyata memberikan kepuasan tersendiri bagi para fans. Meskipun mendapatkan tanggapan positif, ternyata film tersebut juga mendapatkan tolakan dari beberapa cast, dan juga dari Saban sendiri. Namun menanggapi respon ini, Saban kemudian memberikan kabar gembira bahwa reboot resmi akan dibuat dengan artis yang diisukan pertama untuk didekati adalah Chloe Grace Moretz sebagai Pink Ranger.

3

Mengikuti trend sekarang yang lebih mendewasakan franchise yang akrab dengan anak- anak, Power Rangers kali ini lebih fokus kepada pengenalan karakter. Jadi bagi para fans yang mengharapkan aksi laga yang keren pasti akan kecewa. Resmi 80% durasi hanya didominasi oleh pengembangan karakter dan menceritakan origins dari pembentukan tim Power Rangers. Untuk segi naskah, saya rasa sudah cukup berhasil. Penggambaran bagaimana mereka, yang dari tidak mengenal satu sama lain lalu menjadi sebuah tim yang kompak dan solid sudah cukup baik. Terlebih dengan memberikan problematika yang cukup dewasa bagi para remaja ini (salah satunya adalah dengan merubah karakter Trini menjadi penyuka sesama jenis- terlepas dari tanggapan saya terhadap karakter LGBT di film anak- anak).

4

Reboot ini juga mencoba untuk lebih akrab dengan penonton dari segala ras. Untuk menghindari stereotype dan kemungkinan tanggapan rasis, beberapa karakter dirubah warna kulitnya sehingga berbeda dengan warna kostumnya. Jika versi aslinya, Zack (Black Ranger) adalah seorang berkulit hitam dan Trini (Yellow Ranger) adalah seorang Cina, kali ini Zack adalah seorang Cina dan Trini seorang latin. Ini untuk menghindari seorang Negro menjadi Ranger hitam dan seorang Cina menjadi Ranger kuning (Orang Amerika menyebut kulit orang- orang Cina sebagai berkulit kuning). Selain mereka, Billy dirubah dari orang bule menjadi orang negro. Tapi perubahan warna kulit, bagi saya pribadi bukan merupakan hal yang cukup mengganggu. Apalagi jika mengikuti franchise tersebut sudah paham bahwa tim Power Rangers dari seri apapun pasti memiliki ras yang berbeda. Tidak semuanya orang bule.

5

Jika membicarakan kekurangan film ini, seperti yang saya sebutkan tadi, terdapat pada penggarapan adegan aksinya. Oke, memang tujuannya untuk memfokuskan film kepada pengenalan tokoh dan pembentukan karakter. Namun bukan berarti, adegan aksi harus dianaktirikan. Adegan aksi yang langsung memborbardir sebagai klimaks film terasa terlalu singkat. Selepas adegan- adegan aksi yang, saya nilai terlalu melempem, perasaan yang timbul seperti “Hah? Gitu doang?”. Seharusnya Lionsgate bisa lebih serius dalam menggarap koreografi pertempurannya. Bahkan jika dibandigkan dengan serial TV-nya, saya masih cukup terhibur dengan adegan aksi dari serial TVnya. Kemudian yang cukup mengganjal adalah ukuran Zord, yang bagi saya kurang besar. Apalagi mengingat dari materi promo posternya, kita sempat ditipu dengan ukuran Zord yang digambarkan cukup besar, namun aslinya di film cuma segitu aja.

5

Secara garis besar, Power Rangers sukses menjadi sebuah origins movie yang berfungsi untuk meletakkan landasan bagi franchise yang direncanakan akan memiliki 6 film ini (amiin…). Namun sebagai sebuah sajian film superhero, masih kurang banyak. Khususnya dari penggarapan adegan laga. Jika memang secara skenario bisa lebih dewasa, seharusnya untuk adegan aksi laga juga bisa dibuat jauh lebih keren dan dewasa dibandingkan versi TVnya. Namun kita sebagai penonton, diberikan ekstra musik pengiring yang super keren banget. Terutama remake dari beberapa tembang lawas. Saya berharap di sekuel- sekuel berikutnya, Lionsgate akan lebih bisa mengajak cast- cast asli untuk menjadi cameo, atau mungkin diberikan peran pembantu di filmnya. Bukan hanya menampilkan 2 pemeran asli sebagai cameo seperti di film pertamanya ini saja. Oya, jangan segera beranjak, karena akan ada mid credit scene. Tunggu aja. Gak lama kok. Gak bakal bikin tukang sapu bioskop bengong- bengong bete di kursi depan kaya nonton Avengers. (dnf)

Rating:

7/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Logan (2017)

Poster

Directed By: James Mangold

Cast: Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen, Boyn Holbrook, Stephan Merchant, Elizebeth Rodriguez, Richard E. Grant

Synopsis:

Tidak jauh di masa depan, di mana mutant sudah jarang ditemukan dan anggota X-Men sudah mati atau hilang ditelan bumi, Logan (Hugh Jackman) mengasingkan diri sambil merawat Charles Xavier (Patrick Stewart) dengan bantuan Caliban (Stephan Merchant). Logan mengumpulkan uang untuk bisa membeli perahu dan tinggal di lautan bersama sang profesor. Namun ketenangan mereka diusik ketika seorang suster bernama Gabriela (Elizabeth Rodriguez) mendatanginya untuk meminta perlindungan bagi seoran anak kecil bernama Laura (Dafne Keen) yang menjadi incaran para Reavers, cyborg yang dipimpin oleh Donald Pierce (Boyd Holbrook). Ternyata Laura bukanlah sembarang anak kecil, namun memiliki sebuah rahasia yang bisa membuat Logan merasakan menjadi manusia lagi.

Review:

1

Tidak dipungkiri lagi, Hugh Jackman merupakan salah satu nilai jual tertinggi bagi Saga X-Men. Dibuktikan dengan wajahnya menjadi satu- satunya yang muncul di setiap judul filmnya. Bahkan untuk Deadpool, meski hanya berbentuk print out saja. Aktor yang bisa disandingkan dengan Robert Downey Jr. di MCU ini memang sangat beruntung. Mendapatkan peran salah satu mutant favorit dari tangan Dougray Scott, yang saat itu lebih memilih menjadi musuh Tom Cruise merupakan sebuah anugerah terbesar dalam karirnya. Keberuntungan juga datang ketika para fans ternyata puas dengan performa Jackman yang mampu menampilkan sosok Wolverine yang ganas dan brutal. Belum lagi tampilan Jackman yang bisa juga jadi daya tarik bagi penonton wanita yang terpaksa harus menemani pacarnya nonton X-Men.

3

Setelah kesuksesan Deadpool yang meski mengusung rating R, namun cukup memberikan keuntungan yang cukup tinggi, Fox merasa bahwa mereka harus menggunakan treatment yang sama untuk film solo ketiga Wolverine ini. Mengingat karakterisasi sang tokoh yang aslinya cukup brutal di komik. Dan memang dengan meningkatkan kadar violence cukup tinggi, membuat film ini jauh lebih menghibur ketimbang dua fim pendahulunya yang memilih rating PG-13. Cerita yang diambil dari storyline Old Man Logan dengan sedikit unsur Death of Wolverine memang cukup kuat, khususnya dalam menggambarkan Wolverine yang sudah tua dan tidak seprima dulu. Hal ini sebenarnya cukup bagus, mengingat raut wajah Jackman yang semakin tua dan tidak semulus di film X-Men dulu. Setidaknya lebih masuk akal dengan karakterisasi di film. James Mangold yang ikut turun langsung dalam penulisan naskah, mampu membuat cerita yang solid dan cukup manusiawi.

4

Ketika menyaksikan film Logan, feel yang didapat bukanlah menyaksikan film superhero. Tapi seperti menyaksikan film action seperti Jason Bourne, Mad Max, atau James Bond versi Daniel Craig. Tema cerita pun memiliki nuansa western yang cukup kental. Terlebih dalam menggambarkan kisah redemption seorang legend. Unsur drama yang dimasukan untuk menggambarkan sisi manusiawi Logan, cukup baik dan tidak membuat film menjadi terlalu dragging. Pemilihan jajaran cast juga cukup bagus. Boyd Holbrook yang cukup akrab bagi penonton Narcos, memang lebih cocok menjadi villain seperti dalam film Run All Night ketimbang menjadi protagonis seperti di film seri yang menceritakan sepak terjang Pablo Escobar itu. Sebagai aktris cilik, Dafne Keen mampu mengungguli Hugh Jackman. Dirinya mampu menjadi scene stealer karena menggabungkan pesona lugu anak kecil dan kebringasan seorang pembunuh terlatih. Mengingatkan kita kepada Chloe Moretz dalam Kick- Ass.

2

Sayangnya keputusan Jackman yang menyatakan akan berhenti memerankan Wolverine sempat membuat para fans kecewa. Banyak spekulasi yang menyebutkan bahwa X-Men akan di reboot lagi atau akan ada pemain baru yang menggantikan sosok Jackman sebagai sosok Wolverine. Sangat susah membayangkan ada aktor lain yang memerankan tanpa harus me reboot dari awal semua universe X-Men. Ditambah lagi Patrick Stewart yang juga mengumumkan dalam suatu wawancara bahwa film Logan merupakan penampilan terakhir dirinya sebagai Professor X. Belakangan Jackman mengerluarkan statement bahwa dirinya bersedia menggunakan cakar adamantium lagi jika Wolverine menjadi bagian dari MCU. Suatu hal yang cukup sulit, mengingat Fox cukup tambeng dalam mempertahankan hak film karakter- karakter X-Men. Meskipun fans mengharapkan studio ini akan luluh dan mengikuti jejak Sony untuk share dengan Disney. Or at least Wolverine- nya aja. (dnf)

Rating:

9/10

 

Ghostbusters (2016)

Cabbie: I don’t go to Chinatown, I don’t do wackos. And I ain’t afraid of no ghosts!

Poster

Directed By: Paul Feig

Cast: Kristen Wiig, Melissa McCarthy, Kate McKinnon, Leslie Jones, Chris Hemsworth, Neil Casey, Andy Garcia

Synopsis:

Setelah dipecat dari pekerjaannya, seorang ilmuwan Erin Gilbert (Kristen Wiig) kembali bergabung dengan rekan masa kecilnya, yang sama- sama percaya akan eksistensi hantu dan ingin membuktikannya. Ditemani dengan seorang ilmuwan nuklir, Jillian Hotzzman (Kate McKinnon), mereka menelusuri tempat- tempat yang diyakini berhantu. Lama kelamaan mereka menjadikan penelitian ini menjadi profesi mereka untuk mengusir hantu. Dibantu oleh seorang idiot bernama Kevin (Chris Hemsworth) dan petugas kereta api bawah tanah, Patty Tolan (Leslie Jones), mereka mendirikan tim yang kelak dijuluki Ghostbusters.

Tantangan awal datang dari seorang aneh yang berniat untuk membangkitkan arwah- arwah yang mendiami sudut- sudut kota New York, Rowan North (Neil Casey) untuk membalaskan dendam atas perlakuan buruk dari orang- orang.

Review:

1

Bagi generasi 80-an tentu tidak akan asing dengan franchise Ghostbusters yang dipopulerkan di negara kita lewat serial animasi The Real Ghostbusters yang tayang pada zaman awal era TV Swasta yang saat itu masih pakai decoder. Franchise yang juga menjelma menjadi salah satu simbol pop culture di tahun 80-an ini sudah akrab dengan para pecinta serial animasi. Di negara asalnya, franchise ini memberikan torehan tersendiri di sejarah industri perfilman, dengan menggabungkan elemen horor dengan komedi. Pada zamannya, genre horor lekat dengan adegan- adegan menakutkan. Franchise ini tidak jarang digabung dengan franchise Teenage Mutant Ninja Turtles. Tidak sekali dua kali kedua seri tersebut dibuatkan cross over. Mungkin dikarenakan jumlah anggota yang sama- sama berjumlah 4 orang. Legacy franchise ini  juga menelurkan film- film sejenis yang memiliki template tim berjumlah 4 orang yang melawan musuh- musuh unik. Seperti Evolution dan Pixels.

2

Franchise yang terlahir dari ide komedian Dan Aykroyd dan Harold Ramis ini aslinya diperuntukkan untuk menaikkan pamor rekan mainnya di Saturday Night Live, James Belushi. Namun karena satu dan lain hal, Belushi gagal main yang kemudian porsinya digantikan oleh Bill Murray. Isu untuk melanjutkan sekuel film ini sebenarnya sudah tercetus dalam beberapa dekade ke belakang. Hanya saja begitu banyaknya batu ganjalan membuat ide tersebut tidak terlaksana. Sampai akhirnya salah satu motor, Bill Murray sudah tidak tertarik lagi untuk ikut serta dalam sekuel. Dan Harold Ramis meninggal pada tahun tahun 2014 lalu.

ghostbusters-2016-reboot-movie-review-chris-hemsworth

Akhirnya lampu hijau penerusan franchise ini nyala setelah Paul Feig resmi terpilih menduduki bangku sutradara. Langkah pertama yang diambil adalah mengganti semua karakter utamanya, baik nama maupun jenis kelamin. Hal yang riskan sebenarnya, mengingat pro dan kontra pastinya tidak akan terbendung. Terutama yang kontra. Tidak aneh sebenarnya bagi yang mengetahui latar belakang Feig yang tumbuh di lingkungan wanita yang feminim membuat dirinya memiliki jiwa yang sexist. Dalam hal ini memandang wanita berada di atas pria. Dapat terlihat dari film- filmnya yang kebanyakan mengedepankan karakter wanita. Terutama Melissa McCarthy yang sudah menjadi duet mautnya dan terbukti membantu kesuksesan film- filmnya. Gayung bersambut, petinggi Sony Pictures, menyetujui usulan berisiko besar tersebut. Bahkan demi mengukuhkan ke-sexist-annya, Feig menghadirkan karakter Kevin yang layaknya seorang model iklan Calvin Klein yang diperankan oleh Chris Hemsworth menjadi seseorang yang bodoh. Hal ini untuk menyindir stereotype karakter- karakter wanita beauty but no brainer yang kerap muncul di film- film Hollywood.

4

Hasilnya? Entah karena sudah terlanjut memasang ekspektasi yang rendah serendahnya atau memang kepiawaian Feig, ternyata cukup sukses memberikan warna baru dari franchise ini. Meskipun memiliki karakter- karakter wanita sebagai tokoh utama, namun Feig masih menyadari bahwa penggemar franchise ini mayoritas pria. Sehingga masalah- masalah yang dikedepankan bukan masalah yang feminim. Malahan bagi saya pribadi, jika seandainya karakter- karakter baru tersebut diganti menjadi pria tidak akan ada bedanya tanpa harus mengganti naskah. Feig juga membayar kekecewaan para fans dengan menghadirkan segudang tribute dan easter egg yang muncul di sana- sini. Dari reka ulang adegan dari film originalnya, kemunculan keseluruhan pemeran utama (bahkan Harold Ramis yang sudah meninggal pun diberikan tribute tersendiri di film ini), kemunculan hantu- hantu ikonik, sampai after credit scene dan mid credit scene yang pastinya akan membuat fans kegirangan. Jika berbicara tribute bahkan sampai pemilihan keempat aktris utama bisa dikatakan sebuah tribute. Keempatnya adalah jebolan Saturday Night Live, sama halnya dengan Harold Ramis, Dan Aykroyd, Bill Murray, dan Rick Moranis.

5

Komedi yang dihadirkan terasa cukup segar. Tampilan para hantu pun dibuat sedemikian mirip dengan template hantu- hantu di film pertamanya. Jika ingin berbicara mengenai para cast-nya, sorotan terbesar patut diberikan kepada Kate McKinnon yang tampil cukup memukau di film ini. Karakternya yang unik bisa menjadi scene stealer di setiap kehadirannya. Di samping di antara keempatnya bagi saya pribadi, dia yang paling cantik. (hehehehe… dasar cowok). Melissa McCarthy tidak terlalu membawakan perannya yang sudah sangat menempel, yaitu menjadi wanita gemuk menyebalkan yang self center. Kristen Wiig dan Leslie Jones bermain dengan cukup pas sebagai perannya masing- masing.

6

It the end, Paul Feig telah berhasil mengkreasikan ulang franchise lawas ini dengan sangat baik. Sisi feminisnya telah diaplikasikan ke dalam film ini sehingga cukup memberikan warna baru yang membedakan dengan film lamanya. Sekuel? Yes, please. (dnf)

Rating:

8/10

Star Trek Beyond (2016)

Bones: Afraid of dying is what keeps us alive.

star-trek-beyond-poster-international

Directed By: Justin Lin

Cast: Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban, Zoe Saldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Idris Elba, Joe Taslim, Sofia Boutella, Lydia Wilson

Synopsis:

Setelah diberikan tugas untuk membantu seorang alien bernama Kalara (Lydia Wilson), kapal USS Enterprise diserang oleh pasukan alien yang dipimpin oleh Krall (Idris Elba) yang dibantu oleh tangan kanan setianya, Manas (Joe Taslim). Penyerangan tersebut mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit dari USS Enterprise. Beberapa kru, yang diantaranya adalah Sulu (John Cho) dan Uhura (Zoe Saldana) disekap dan dijadikan tawanan oleh Krall, sementara kru lainnya yang terdiri dari Captain Kirk (Chris Pine), Spock (Zachary Quinto), Bones (Karl Urban), Scotty (Simon Pegg), Chekov (Anton Yelchin), dibantu oleh seorang alien bernama Jaylah (Sofia Boutella) berhasil selamat dan mau tidak mau harus mencari kawan- kawan lainnya untuk kabur dari planet tersebut.

Review:

1

Paska diputuskan untuk meneruskan versi layar lebar dengan memfokuskan cerita kepada alternate reality-nya, Star Trek telah menjelma menjadi sebuah franchise yang digemari bukan hanya tertutup kepada geeks saja. Berbeda dengan film- film versi original-nya, Star Trek yang dibawakan oleh JJ Abrams lebih pop corn dan lebih dapat diterima khalayak ramai dengan lebih menonjolkan segi aksi seru ketimbang drama fiksi ilmiah dengan kandungan yang berat. Hal ini mendatangkan apresiasi yang beragam, baik itu apresiasi positif dengan adanya penambahan jumlah member trekkie, dan juga sebaliknya apresiasi negatif yang tidak terlalu menyukai gambaran Star Trek yang terlalu “summer movie”.

2

Bagi mereka yang menyukai gebrakan Abrams tadi, pasti akan menyukai film ketiganya ini. Pasalnya, dari materi trailer sudah terasa feel yang jauh berbeda dengan versi klasiknya. Suguhan aksi serta adegan laga yang menghibur menghiasi trailer- trailer-nya. Dan memang, naskah yang kali ini ditulis oleh Simon Pegg jauh dari warna sciene fiction berat. Apalagi ditangani oleh Justin Lin, seorang sutradara yang berhasil mengangkat franchise The Fast and The Furious dari keterpurukan. Bukan hanya itu, Lin juga berhasil merubah citra franchise tersebut dari sebuah drag race movie menjadi sebuah heist movie dengan skala internasional. Kepiawaiannya pula yang membuat jilid ketiga dari sebuah seri terlupakan menjadi sebuah bagian yang cukup signifikan dalam kesinambungan franchise. Fingerprints Lin sangat kental terasa di film ini. Bagaikan masih mengukuhkan dirinya sebagai sutradara franchise balapan, Lin memasukkan unsur aksi kebut- kebutan motor yang cukup bagus. Ditambah dengan joke- joke fresh hasil kolaborasinya dengan Simon Pegg sebagai penulis naskah.

star-trek-beyond-3

Simon Pegg memanfaatkan posisinya sebagai penulis naskah dengan memberikan porsi yang lebih kepada karakter- karakter pendukung lainnya untuk lebih memiliki peranan dalam keutuhan cerita. Apalagi untuk karakternya, Scotty. Hanya saja, karakter Jaylah, yang digadang- gadang seolah- seolah akan memiliki peran sentral yang menonjol, jika dilihat dari materi posternya, menjelma menjadi karakter tempelan yang kurang begitu kuat. Ini bukan karena sang aktris, Sofia Boutella yang kurang maksimal. Namun karena terlalu banyaknya karakter yang diberikan peran. Sementara hal lain yang harus dikorbankan adalah bromance antara Kirk dan Spock yang pada 2 film pendahulunya menjadi satu kekuatan dalam plot cerita.

5

Star Trek Beyond sekali lagi berhasil menempatkan diri sebagai sebuah sajian block buster yang cukup wah. Namun mungkin tidak begitu mengasyikan bagi mereka yang passion akan sciene fiction-nya sudah terlalu mengakar apalagi bagi mereka yang tidak menyukai 2 film pendahulunya. Untungnya bagi penonton Indonesia, ditambahi sebuah bonus. Dengan terlibatnya aktor laga yang juga mantan atlit Judo, Joe Taslim. Bahkan meskipun 99% kemunculannya menggunakan make up, karakternya sebagai henchman cukup membanggakan dan bukan hanya musuh numpang lewat, seperti yang disebut- sebut oleh para hater. (dnf)

 

Rating:

7.5/10

X-Men: Apocalypse (2016)

Apocalypse: Everything they built will fall. And from the ashes of their world, we’ll build a better one.

Poster

Directed By: Bryan Singer

Cast: James McAvoy, Michael Fassbender, Oscar Isaac, Jennifer Lawrence, Nicholas Hoult, Rose Byrne, Evan Peters, Josh Helman, Sophie Turner, Tye Sheridan, Lucas Till, Kodi Smith- McPhee, Ben Hardy, Olivia Munn, Alexandra Shipp

Synopsis:

10 tahun paska kejadian di film sebelumnya, dunia sudah cukup akrab dengan kehadiran para mutant. Erik Lehnserr/ Magneto (Michael Fassbender) yang menjadi buronan pemerintah terpaksa bersembunyi di Polandia, dan mengikuti nasihat sahabatnya, Professor Charles Xavier/ Professor X (James McAvoy) untuk membaur dengan manusia biasa dengan menikah dan memiliki seorang anak. Raven Darkholme/ Mystique (Jennifer Lawrence) yang dianggap sebagai seorang pahlawan dan inspirasi bagi mutant- mutant muda berkeliling dunia untuk menyelamatkan mutant- mutant muda dari kekejaman umat manusia.

Di belahan bumi lainnya, di Mesir, sekelompok pengikut ajaran kuno tengah membangkitkan En Sabah Nur/ Apocalypse (Oscar Isaac), mutant pertama dan yang terkuat di dunia. Mutant yang memiliki berpuluh macam abilities tersebut tengah merekrut mutant- mutant kuat untuk menjadi The Four Horsemen, pengikut setia sekaligus bodyguard-nya. Setelah berhasil merekrut Ororo Munro/ Storm (Alexandra Shipp), Elizabeth Braddock/ Psylocke (Olivia Munn), dan Warren Worthington III (Ben Hardy), dia bermaksud untuk merekrut Magneto, yang kala itu karena suatu peristiwa, menjadi kembali ke sifat jahatnya yang membenci manusia.

Professor X yang tengah mencari Magneto lewat cerebro, mendapat intervensi dari Apocalypse dan mengincar pemimpian X-Men tersebut untuk dijadikan alat untuk mencapai tujuannya. Kontan mutant- mutant baik lainnya yang terdiri dari Scott Summers/ Cyclops (Tye Sheridan), Jean Grey (Sophie Turner), Hank McCoy/ Beast (Nicholas Hoult), Kurt Wagner/ Nightcrawler (Kodi Smith- McPhee), Alex Summers/ Havok (Lucas Till), Peter Maximoff/ Quicksilver (Evan Peters), Agent Moria McTaggert (Rose Byrne), dan Mystique langsung berusaha untuk menyelamatkan sang profesor dari tangan Apocalypse.

Review:

1

Bisa dikatakan hanya Fox yang masih berjaya melawan tirani Marvel untuk meminta kembali hak ciptanya demi ekspansi universe MCU yang lebih besar. Meskipun telah rela mengembalikan Elektra, Daredevil, dan kemudian Fantastic Four, Fox masih memiliki X-Men yang tidak seperti Sony, masih keukueh dipertahakan untuk dipegang hak memfilmkannya tersebut. Dan ditambah lagi dengan sebuah film tunggal anti-hero banyak cakap yang meraih sukses di perayaan valentine tahun ini, Deadpool. Film pertamanya sendiri, yang dirilis tahun 2000 dianggap sebagai salah satu tonggak kebangkitan film- film Marvel, paska dikangkangi oleh film- film superhero DC selama lebih dari 2 dekade. Meskipun pada kenyataannya film Blade, yang hadir 2 tahun sebelumnyalah yang dianggap para fans sebagai cikal bakal kebangkitan Marvel.

_1444660775

Sempat mendapatkan respons negatif lewat jilid ketiganya, dikarekanan sang pimpinan proyek lebih memilih untuk menyebrang kubu dan menyutradarai Superman Returns, pihak Fox sempat berencana untuk mengubah strateginya dengan memfilmkan origins dari 2 karakter intinya. Yang pertama Wolverine dan Magneto. Wolverine yang mendapatkan kehormatan untuk lebih dulu dibuat stand alone-nya mendapatkan respon yang kurang memuaskan, meskipun secara keseluruhan bagi saya pribadi sudah cukup menghibur. Hal ini membuat Fox merubah strategi dengan menyulap film yang tadinya akan menjadi origins Magneto menjadi cikal bakal hubungan frenemies antara Magneto dan Professor X lewat X-Men: First Class. Yang menarik dari sini adalah kehadiran First Class mempertanyakan eksistensi film- film sebelumnya. Ada yang mengatakan ini adalah alternate version, ada yang mengatakan ini adalah reboot, ada juga yang mengatakan ini adalah blunder Fox karena tidak bisa membuat sebuah kontinuitas cerita keseluruhan sebuah franchise. Whatever it is, yang pasti sepertinya Fox ingin melupakan eksistensi film ketiga, yang juga disindir di film ini lewat dialog masalah episode keenam Star Wars.

x-men-apocalypse-quicksilver-evan-peters

Setelah diberikan hint mengenai kelanjutan sekuel Days of Future Past bahwa musuh yang akan dihadapi tim X-Men berikutnya adalah Apocalypse, fans merespons dengan cukup positif. Pasalnya Apocalypse dianggap sebagai salah satu mutant terkuat dan tertua yang pernah ada yang menjadi salah satu villain terbesar di ranah komik Marvel. So, di atas kertas, proyek ini sudah cukup menjanjikan. Hanya saja permasalahannya adalah siapakah aktor yang cukup mampu memanggul beban seberat itu? Oscar Isaac yang cukup memukau lewat The Force Awakens ternyata kurang bisa menghidupkan karakter ini. Di tangannya, karakter yang seharusnya bisa membuat bulu kuduk berdiri ini hanya menjelma menjadi just another villain saja. Bahkan jika kita bandingkan dengan Peter Dinklage di Days of Future Past, aktor tersebut tidak cukup mampu mengalahkan performa bintang Game of Thrones, yang padahal jika dibandingkan tingkat kepopuleran dari karakter yang dimainkan masih jauh di atas Bolivar Trask yang dimainkan Dinklage. Itu juga sudah tertolong dengan tambahan polesan CGI untuk membuat tampilan Apocalypse lebih menyeramkan setelah foto pertama yang beredar di dunia maya mendapatkan hujatan dari para fans yang menilai Apocalypse jadi mirip Ivan Ooze, salah satu villain Mighty Morphin Power Rangers.

4

Namun tidak begitu dengan pemain- pemain pendukung lainnya yang baru bergabung. Ty Sheridan, Sophie Turner, Ben Hardy, Kodi Smith- McPhee, Alexandra Shipp, dan (ehem ehem) Olivia Munn. Mereka semua sudah cukup pas dan mampu menghidupkan karakternya masing- masing. Bahkan bisa melepaskan diri dari imej aktor- aktris senior yang sudah lebih dulu memainkan peran serupa di franchise ini. Hanya saja karakter Jubilee yang dimainkan oleh Lana Condor belum mendapatkan kesempatan untuk beraksi dalam film ini dan hanya tampil sebagai salah satu murid saja. Saya cukup banyak berharap sebenarnya dengan superheroine yang memiliki nama asli cukup unik ini, Jubilation Lee. Pasalnya di semua film X-Men perannya hanya gitu- gitu saja, padahal dirinya termasuk salah satu karakter yang cukup sering muncul di dalam komiknya.

5

Plot cerita sudah cukup rapi dan cukup kompleks dihadirkan di film ini. Kemampuan Singer yang diakui sebagai Joss Wheddon-nya film X-Men mampu memberikan alur yang enak untuk dinikmati, meskipun filmnya termasuk cukup panjang. Hanya saja jika dibandingkan dengan Days of Future Past cerita film ini belum terlalu kuat. Salah satunya adalah mengapa Apocalypse tidak melibatkan pengikut- pengikut setianya yang sudah berabad- abad membangkitkan dirinya dan rela mati demi dirinya? Atau mengapa Mystique hanya menyelamatkan Nightcrawler dan meninggalkan Angel ketika keduanya ditangkap manusia? Pertanyaan- pertanyaan tersebut membuat jalinan cerita yang sudah enak dinikmati ini memiliki batu yang mengganjal. Namun Singer sudah cukup baik dengan memberikan fans service di sana sini. Seperti cameo Blob, trivia- trivia seperti nasib Jean Grey yang nantinya akan menjadi Phoenix, sampai ending film yang benar- benar memanjakan para fans komiknya dengan…. (ah ditonton aja nanti spoiler). Termasuk menghadirkan Wolverine, yang sayangnya sudah terlanjur dikeluarkan di trailer, padahal berpotensi untuk menghadirkan surprise. Namun di luar kekurangajaran franchise ini yang biasa merubah fakta villain menjadi hero dan hero menjadi villain di film, Singer sudah cukup mampu menampilkan Cyclops menjadi salah satu karakter utama film dan bukannya Wolverine.

6

Secara keseluruhan X-Men: Apocalypse menjadi sebuah tontonan yang cukup menghibur. Apalagi Singer memberikan tambahan freeze scene yang menggambarkan kekuatan dan slengean-nya Quicksilver yang menjadi salah satu adegan terbaik di Days of Future Past. Bisa dibilang adegan yang coba dikreasikan ulang lagi di film ini tersebut merupakan salah satu adegan paling menarik. Hanya saja, bagi saya pribadi nampak freeze time- nya terlalu lama. Dan jika berbicara masalah special effect, film ini cukup royal dengan tampilan CGI yang malahan jadi cenderung overused. Namun hal tersebut masih bisa dimaklumi untuk film bergenre ini. Dan jangan lupa untuk tetap di bangku anda. Karena layaknya film- film superhero Marvel, stinger yang memberikan gambaran sedikit cerita film berikutnya dihadirkan dan kali ini Singer menghadirkan di ujung credit. (dnf)

Rating:

8/10

Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)

Superman: Next time they shine your light in the sky, don’t go to it. The Bat is dead. Bury it. Consider this mercy.

Batman: Tell me. Do you bleed? You will!

Poster

Directed By: Zack Snyder

Cast: Henry Cavill, Ben Affleck, Gal Gadot, Jessee Eisenberg, Michael Shannon, Holly Hunter, Diane Lane, Scott McNairy, Callan Mulvey

Synopsis:

Dalam pertarungan antara General Zod (Michael Shannon) dan Superman (Henry Cavill) di ending Man of Steel, banyak pihak yang mengalami kerugian. Baik materil, moril, maupun kerugian jiwa. Salah satunya adalah Bruce Wayne (Ben Affleck) yang salah satu perusahaanya hancur lebur akibat pertempuran tersebut.

18 bulan kemudian, banyak masyarakat Metropolis yang mulai antipati dengan Superman. Menanggapi hal ini, salah seorang multimiliyader jahat bernama Lex Luthor (Jessee Eisenberg) menawarkan rencana untuk mengalahkan Superman dengan menggunakan sebuah pecahan batu mineral dari kapal General Zod yang bisa melumpuhkan manusia Krypton. Bruce Wayne di lain pihak yang sudah lebih dari 20 tahun melindungi kota Gotham sedang menyelidiki keterlibatan seorang tentara bayaran bernama Anatoli Knyazev (Callan Mulvey) yang disinyalir terlibat dalam pengiriman sebuah kargo berbahaya. Ternyata Knyazev dan Luthor terlibat satu sama lainnya. Bruce pun kerap bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Diana Prince (Gal Gadot) yang memiliki agenda tersendiri terhadap Luthor.

Review:

1

Jauh sebelum berjayanya MCU yang telah memberikan wajah baru dalam dunia perfilman Hollywood, sebenarnya DC Comics telah lebih dulu berjaya. Bahkan jika ditilik lebih jauh, rencana menggabungkan lebih dari 1 superhero telah ada lewat proyek Justice League dan Batman vs Superman yang entah kenapa mandek dan berhenti tanpa ada kabar lebih lanjut. Kalau asumsi saya pribadi, ini dikarenakan hak memfilmkan karakter- karakter DC Comics eksklusif dipegang oleh Warner Bros, sementara karakter- karakter Marvel ditawarkan terbuka untuk difilmkan oleh studio manapun yang berminat untuk membeli hak filmnya. Sehingga paska kegagalan yang bertubi- tubi lewat Batman & Robin dan Catwoman yang dihujat habis- habisan oleh fans, Warner Bros terlihat tidak berani untuk melanjutkan rencana penggabungan superhero dalam satu film tersebut. Namun setelah melihat kesuksesan trilogi The Dark Knight sekaligus kesuksesan sang pesaing lewat Cinematic Universe-nya membuat petinggi Warner Bros memberikan lampu hijau untuk proyek DC Extended Universe yang dimulai 2013 lewat Man of Steel.

1

Man of Steel mendapatkan mixed review dari berbagai macam kalangan. Pasalnya pakemnya yang ingin membuat tone filmnya menjadi cenderung dark dan lebih gelap agak kurang bisa diterima bagi non fanboy yang notabene sudah terbiasa dengan film- film Marvel yang cenderung lebih ringan dan family friendly. Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi, karena melihat hasil akhir yang dibawa oleh BvS: DoJ sendiri sebenarnya lebih mengarah untuk memuaskan para fans. Khususnya mereka yang sudah terbiasa dengan universe komik DC. Sehingga tanggapan negatif sudah pasti akan datang dari berbagai kalangan. Sebagai sebuah fans service, BvS: DoJ telah berhasil menjalankan misinya dengan baik. Dari mulai disain karakter, tone warna, sampai beberapa adegan reka ulang panel komik dari storyline- storeyline DC Comics yang populer berhasil memanjakan para fans yang benar- benar hardcore fans (bukan mereka yang ngaku- ngaku ngerti dan suka baca komik padahal komik juga cuman 1-2 yang dibaca… sama aja kaya saya sekali dua kali pernah nonton sepakbola tapi lantas tidak langsung otomatis menasbihkan diri menjadi seorang sportsfan). PS: Tidak mungkin ada fanboy yang tidak girang melihat scene superhuman footage.

3

Dari segi plot kisah sebenarnya sudah rapi tertuang dari goresan tangan David S. Goyer dan Chris Terrio sudah cukup baik untuk membuka pintu bagi kemungkinan adanya kisah Justice League. Hanya saja eksekusi akhirnya menjadi terlihat terlalu padat dan jujur agak dragging hingga 2/3 film. Dan hal ini sebenarnya menjadi salah satu batu ganjalan yang cukup signifikan. Mungkin memang Snyder masih belum mampu diberikan beban tanggung jawab proyek yang berskala besar seperti ini. Jika ingin dibandingkan dengan Nolan yang cukup mampu meracik plot yang cukup berat menjadi sebuah sajian film yang mengibur, bukan hanya bagi fans Batman saja. Namun juga bagi para penonton awam, dan bahkan bisa menciptakan fanbase baru. Kepenuh sesakan plot cerita sebenarnya didasari oleh kejar target untuk memberikan landasan kisah yang cukup kuat untuk nantinya memungkinkan adanya film Justice League. Sehingga hal ini mengorbankan ritme kisah yang cenderung membosankan bagi sebagian besar orang.

4

Kredit tersendiri patut disematkan kepada Patrick Tatopoulos yang dengan sukses mendesain berbagai macam atribut universe, khususnya gadget Batman serta batwing dan batmobile. Sinematografi juga cukup apik, apalagi dalam menggambarkan gloomy serta dahsyatnya pertarungan final yang digambarkan sangat komik dan cukup seru. Ketiga adalah Hans Zimmer yang berkolaborasi dengan Junkie XL yang telah berjasa besar memberikan sentuhan musik yang benar- benar memberikan nyawa tersendiri bagi filmnya. Namun jika ingin membicarakan nilai buruk dari film ini salah satunya adalah editing yang sangat sangat tdiak rapi dan terlihat terlalu terburu- buru.

5

Dari jajaran casting, terdapat 2 nama yang menurut saya paling berjasa besar bagi film ini. Yaitu Ben Affleck dan Gal Gadot. Mereka berdua berhasil membuktikan kalah pilihan yang jatuh ke tangan mereka adalah sebuah keputusan yang tepat. Affleck menjelma menjadi karakter Batman yang brutal dan bad ass. Perpaduan antara apa yang ada di franchise game Arkham dan hasil imajinasi Frank Miller. Dan Batfleck adalah Batman yang memiliki fighting style terkeren sepanjang sejarah perfilman. Gadot berhasil memberikan sentuhan perpaduan antara gambaran seorang pejuang wanita dengan seorang lady, hal ini memang pas untuk seorang Wonder Woman, belum lagi pada saat kemunculannya dalam kostum Wonder Woman pertama kali di film yang berpadu sempurna dengan score dari Zimmer yang benar- benar sangat baik dan bisa dikatakan salah satu scene terbaik dari film ini. Cavill mengalami degradasi akting dibandingkan Man of Steel. Permainan emosinya kurang dapat, padahal dalam film ini seharusnya digambarkan Superman sedang dalam keadaan yang dilematis, namun akting Cavill cenderung datar. Amy Adams semakin terlihat tua, entah kenapa dari awal dia yang terpilih menjadi Lois Lane mengingat keterpautan usia yang sangat jauh dengan Cavill. Di Man of Steel, balutan make up bisa menipu usianya, namun di sini terlihat sangat tua. Irons bagus dan mampu memberikan sosok Alfred yang berbeda. Eisenberg yang saya rasa kurang pas jadi Luthor. Sepertinya aktinya agak ke Joker- Joker-an dan malah menurut saya lebih cocok menjadi The Riddler ketimbang seorang Lex Luthor. Apalagi mengingat dia akan di set menjadi villain utama di DCEU. Rasanya seharusnya ada aktor lain yang lebih pas dibanding dia.

6

Seperti saya bilang di awal, BvS: DoJ merupakan sebuah film yang memang diperuntukan bagi hardcore fans yang sudah terbiasa mengikuti komik- komik DC. Namun gaya bercerita Snyder terlalu membosankan bagi penonton awam. Seharusnya dia bisa menggali lebih dalam lagi dan lebih memperhatikan bagaimana penonton awam bisa menyaksikan film ini dengan lebih antusias. Untuk gimmick 3D, sudah sangat baik meski layar yang cenderung jadi lebih gelap membuat lebih baik disaksikan di layar 2D, jika mau 3D mending ke IMAX. Namun Snyder telah memberikan fans service yang cukup dahsyat. Terlebih ketika Trinity berkumpul dalam satu scene melawan Doomsday. So, what are you? A fanboy who actually digs comic book so much or just an ordinary moviegore who needs some pop corn movie? (dnf)

Rating:

7/10