3 Srikandi (2016)

Yana, Suma, Lilies: Indonesia! Indonesia! Indonesia!

Poster

Directed By: Imam Brotoseno

Cast: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan, Tara Basro

Synopsis:

Pada tahun 1988, Indonesia mengikuti kompetisi Olimpiade di Seoul, Korea Selatan. Salah satu cabang yang diikuti adalah panahan wanita yang beranggotakan Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari), Kusuma Wardhani (Tara Basro), dan Lilies Handayani (Chelsea Islan). Sebelum berangkat ke Seoul, mereka telah digembleng secara keras oleh mantan atlit panahan pria yang dijuluki Robinhood Indonesia, Donald Pandiangan (Reza Rahadian). Cita- cita mereka hanya satu, yaitu menghadiahkan sebuah medali kepada Indonesia setelah hanya bisa bermimpi untuk mendapatkannya setelah 36 tahun mengikuti Olimpiade.

Review:

1

Pertama- tama saya ucapakan selamat kepada Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang telah membawa medali emas di olimpiade Rio De Janeiro kemarin malam. Sebuah hadiah atas ulang tahun Indonesia yang ke 71. Sebenarnya bukan hal yang mengejutkan lagi, Indonesia memang terkenal dengan prestasinya di cabang bulu tangkis. Semenjak kemenangan Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti di Barcelona pada tahun 1992, hampir setiap olimpiade, cabang olah raga yang pertama kali diperlombakan di ajang olimpiade mulai tahun 1992 ini selalu selalu memberikan medali emas kepada Indonesia (WAITT A MINUTE…!!! Berarti setiap olimpiade yang ada badminton-nya Indonesia selalu dapet emas?). Selain bulu tangkis, angkat besi merupakan cabang olah raga yang selalu menyumbangkan medali. Tapi medali pertama yang berhasil didapatkan Indonesia adalah dari cabang panahan.

2

3 Srikandi telah memiliki segala macam kriteria plot sebuah film olahraga. Sekelompok unlikely team yang dicap remeh, pelatih yang memiliki metode unik lengkap dengan speech pembangkit motivasi, dan perjuangan untuk mendapatkan kemenangan yang tidak mudah. Yang memberikan kekuatan terhadap 3 Srikandi adalah performa 4 pemain utama yang benar- benar outstanding. Reza Rahadian, yang meskipun banyak yang bilang “ye die lagi die lagi yang maen”, tapi kemampuan aktingnya memang pantas untuk selalu dipilih. Apalagi memerankan peran- peran yang sulit. Menjadi seorang Donald Pandiangan, bukanlah perkara yang sulit baginya jika dibandingkan dengan peran- peran briliannya seperti dalam My Stupid Boss dan dwilogi Habibie. Bunga Citra Lestari yang menggantikan posisi Dian Sastro dikarenakan bentrok jadwal syuting meskipun sudah mengikuti tahap pra produksi, mampu tampil paling dewasa dan sebagai pemimpin tim yang baik. Chelsea Islan memberikan performa terbaiknya dalam film ini. Dia berhasil menghilangkan stereotype aktingnya yang selalu menempel dalam setiap perannya. Lalu ada Tara Basro yang mampu mengimbangi rekan- rekan pemainnya.

3

Kekuatan berikutnya ada dalam segi naskah yang ditulis oleh sutradara dan dibantu oleh Swastika Nohara. Naskahnya tidak terkesan cheesy dan mampu menggali kemampuan akting para pemain sekaligus mengeluarkan chemistry di antara karakter. Baik itu di antara ketiga atlit, atlit dan orang- orang terdekatnya, maupun dengan sang pelatih, Donald. Bonding yang rapi inilah yang membuat penonton merasakan kedekatan emosional terhadap karakter- karakter yang muncul di layar. Selain itu Imam Brotoseno mampu menampilkan setting tahun 1988 dengan baik. Hanya saja pada saat menampilkan negara Korea Selatan, kesan modernnya masih terasa dengan tampilan gedung- gedung dan pusat perbelanjaan serta trend fashion yang nampak meskipun hanya sekilas. Tapi itu bisa dimaklumi, mengingat memang sangat sulit untuk mengatur itu semua di negara lain. Namun Imam Brotoseno mampu menghindarkan “penyakit” film biopik yang biasanya muncul dari segi product placement. Di mana tuntutan sponsor dalam menampilkan produknya meskipun menurut setting cerita produk tersebut belum ada. Hal lainnya yang patut diacungi jempol dalam membawa aura 80-an adalah pemilihan lagu yang langsung dinyanyikan oleh penyanyi aslinya.

4

3 Srikandi berhasil mengangkat semangat nasionalisme dari dunia olahraga. Tidak salah film ini ditayangkan menyambut olimpiade dan di bulan hari kemerdekaan kita. Banyak momen- momen yang dibangun dalam film ini yang mungkin cukup mengharukan. Hanya sayang, minimnya respon masyarakat terhadap film ini selayaknya minimnya respon masyarakat terhadap film- film nasional yang berbobot lainnya. Tidak menutup kemungkinan setelah film ini nanti akan dibuatkan biopik Alan Budikusuma dan Susi Susanti yang menyumbangkan medali emas pertama kali untuk Indonesia. Yang main? Mungkin Boy William dan Chelsea Islan (lagi). (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

Rush (2013)

Niki Lauda: The closer you are to death, the more alive you feel.Image

Directed By: Ron Howard

Cast: Chris Hemsworth, Daniel Bruhl, Olivia Wilde, Alexandra Maria Lara, Pierfransesco Favino

Synopsis:

Bersetting di tahun 1976 film ini menceritakan tentang persaingan antara 2 orang pembalap. Niki Lauda (Daniel Bruhl) dan James Hunt (Chris Hemsworth). Lauda adalah seorang pembalap jenius yang penuh perhitungan. Sementara Hunt adalah seorang pembalap urakan yang ingin membuktikan dirinya mampu menjuarai balapan Formula Satu.

Sebuah kecelakaan yang terjadi saat mengikuti Japan Grand Prix, membuat dua pemuda yang telah bersaing semenjak tahun 1970 ini mulai menghargai satu sama lain.

Review:

Image

Bagi anda yang menggemari Formula Satu sudah pasti akan mengenal sosok pembalap jenius bernama Niki Lauda. Pembalap legendaris yang sudah 3 kali menjuarai ini juga dikenal atas persaingannya dengan seorang pembalap almarhum bernama James Hunt. Padahal pada kenyataannya mereka adalah teman baik dan saling menghargai satu sama lain.

Saya bukanlah seorang fans balapan Formula Satu. Namun sedikit banyak saya tahu dan pernah dengan tentang hal- hal yang terkait dengan kisah yang menjadi basis cerita film ini.

Image

Hal yang paling menarik dari film ini adalah dari departemen casting. Film ini didukung oleh akting yang brilian dari 2 cast utama, Chris Hemsworth dan Daniel Bruhl. Hemsworth mampu menghidupkan sosok James Hunt yang sosialita dan penuh dengan kesenangan duniawi. Sementara Bruhl bisa dikatakan yang paling unggul di antara para cast lainnya. Sosok Landa yang kaku dan jenius mampu dibawakannya dengan apik.

Selain itu 2 pemeran pembantu wanita juga mampu menyaingi performa bintang utamanya. Olivia Wilde, yang berperan menjadi supermodel Suzy Miller yang juga istri pertama Hunt, dan Alexandra Maria Lara, yang berperan menjadi Marlene Lauda, mampu membawakan perannya masing- masing dengan meyakinkan. Kehadiran keduanya juga membuat love story di film ini tidak terasa sebagai tempelan belaka.

Image

Kualitas akting para pemain didukung pula oleh kinerja makeup department yang benar- benar nyaris sempurna. Mereka berhasil menyulap kedua pemain utama tersebut menjadi mirip dengan karakter yang diperankannya. Apalagi Bruhl yang benar- benar disulap menjadi mirip dengan Lauda muda.

Selain itu sinematografi dari sinematografer pemenang Oscar, Anthony Dod Mantle juga sangat baik. Dengan tampilan ala tahun 70-an menambah keotentikan film ini.

Image

Dari segi cerita sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa. Bahkan di beberapa scene cukup membosankan. Namun dramatisasi di beberapa scene membuat perasaan boring tersebut menjadi terobati. Khususnya di adegan- adegan balapan yang digarap sedemikian real nya.

Saya merasa film ini bisa dilirik juri Oscar untuk kategori Best Actor/ Supporting Actor, Best Cinematography, Best Sound Mixing, Best Sound Editing, Best Make-Up, serta Best Director.

Image

Akhir kata, saya merekomendasikan untuk menonton film ini. Apalagi bagi anda yang suka dengan film- film sport berkualitas. Dan sebagai sekedar tambahan, kalau bisa anda memilih bioskop yang sound system nya bagus. Karena salah satu keunggulan lain dari film ini adalah dari segi sound. Anda akan merasakan benar- benar berada di tengah arena balapan Formula One. (dnf)

Rating:

8/10