Justice League (2017)

Poster

Directed By: Zack Snyder

Cast: Ben Affleck, Henry Cavill, Gal Gadot, Ezra Miller, Jason Momoa, Ray Fisher, Jeremy Irons, Amy Adams, J.K. Simmons, Ciaran Hinds

Synopsis:

Paska tewasnya Superman/ Clark Kent (Henry Cavill), Bruce Wayne/ Batman (Ben Affleck) mengajak Wonder Woman/ Diana Prince (Gal Gadot) untuk merekrut manusia- manusia dengan kemampuan super. Mereka berhasil merekrut 3 superhero, yaitu Aquaman/ Arthur Curry (Jason Momoa), setengah manusia dan setengah penduduk atlantis; The Flash/ Barry Allen (Ezra Miller) yang mampu bergerak cepat; Cyborg/ Victor Stone (Ray Fisher), mantan pemain football yang sebagian besar organnya diganti mesin.

Tugas pertama mereka adalah menghentikan Steppenwolf (Ciaran Hinds) untuk membangkitkan “ibu”. Merasa mereka kewalahan, kelima pahlawan super tersebut setuju untuk menghidupkan kembali Superman untuk memimpin Justice League melawan Steppenwolf.

Review:

1

YEEEEESSSSS!!!!!!! JUSTICE LEAGUE DIBUAT FILMNYA….!!!! Begitulah kira- kira perasaan saya ketika mendengar kabar bahwa Warner Bros dan DC mengejar ketinggalannya dengan sang pesaing dengan lebih mendahulukan film Justice League ketimbang film stand alone masing- masing member-nya (kecuali Superman dan Wonder Woman yang sudah lebih dulu rilis). Setengah tahun sebelumnya, DC juga sempat mengeluarkan sebuah film “versus” yang digadang- gadang sebagai teaser untuk film Justice League. Pasalnya di film berjudul Batman v Superman: Dawn of Justice itu ditampilkan 3 jagoan raksasa DC yang biasa disebut dengan istilah Trinity. Yaitu Superman, Batman, dan Wonder Woman. Meskipun film tersebut dipuji sebagian besar fanboy, namun berbeda dengan kritikus yang menjadikan film ini sebagai bulan- bulanan. Alasan utamanya adalah cerita yang tidak jelas. Ternyata kesalahan terjadi atas intervensi studio yang meng-cut beberapa menit durasi yang efeknya membuat rating film tersebut turun. Hal ini diamini dengan sebagian besar kritikus yang sudah menilai versi theatrical- nya namun sangat puas dengan versi extended-nya yang ternyata memberikan cerita yang lebih lengkap dan rapi menutup plothole- plothole versi theatrical- nya.

2

Tone yang terlalu dark juga menjadi salah satu efek yang membuat penonton yang sudah terbiasa melihat nuansa warna- warni Marvel jadi terlalu boring. Dan ketika tone warna- warni dicoba lewat film Suicide Squad, malah banyak kritikus yang tidak suka. Nilai plus diperoleh lewat Wonder Woman, yang meskipun menurut saya pribadi agak slow dan ditambah miscast untuk villain utama, tapi ternyata dikagumi oleh para kritikus dan dianggap sebagai titik balik DCEU. Lewat film Justice League ini DCEU kembali menjawab semua keraguan para kritikus dengan sajian yang cukup apik. Dengan sentuhan Joss Whedon sebagai penulis, kisah yang disajikan tidak seberat dan se-dark BvS ataupun Man of Steel. Bisa dikatakan kisah yang disajikan mirip dengan penyajian film animasi yang serba simple. Begitu juga dengan segi action yang sangat pop corn.

4

Berbicara mengenai adegan laga, warna yang diberikan oleh Whedon sangat terasa. Pilihan memilihnya untuk menggantikan posisi Snyder yang hiatus di tengah produksi pasca tragedi yang menimpa anaknya mengingatkan kita saat J.J. Abrams dinobatkan untuk mengembalikan franchise Star Wars ke layar lebar setelah melakukan hal yang sama dengan franchise Star Trek. Bisa dikatakan Whedon merupakan otak di balik kesuksesan The Avengers. Film pertama yang menggabungkan karakter- karakter Marvel. Sementara Justice League adalah Avengers-nya DC Comics. Adegan- adegan laga yang pop corn banget dan seru pastinya akan lebih mudah diterima ketimbang versi Snyder yang lebih stylish.

5

Kekuatan lain dari film ini adalah chemistry antar karakter yang sangat dinamis dan bisa menyatu dengan apik. Ben Affleck yang awalnya dipandang sebelah mata sebagai Batman, dan bisa mematahkan penilaian buruk tersebut lewat BvS, kali ini bermain juga lebih manusiawi. Hanya saja untuk violence level-nya terasa lebih berkurang ketimbang BvS. Bruce Wayne di sini juga digambarkan lebih manusiawi. Begitu juga dengan Gal Gadot yang sekali lagi dengan logat seksinya (meleleh banget setiap dia nyebut “Kal El”) bisa memberikan pesona cantik seorang superhero wanita. 3 karakter lain yang diperkenalkan di film ini juga bisa membaur dengan sempurna dengan 3 karakter lain yang sudah lebih dulu dikenal. Khususnya bagi Jason Momoa dan Erza Miller. Momoa bisa memberikan kesan bad ass seorang Aquaman dengan sempurna dengan tampilan ala frontman band hard rock. Lalu Erza Miller yang didapuk untuk memberikan nuansa komedi di dalam tubuh Liga Keadilan. Meskipun di beberapa scene terasa dipaksakan, namun lucunya cukup efektif. Yang justru agak kurang bersinar adalah Ray Fisher. Entah karena terpilih untuk memberikan “warna kulit” berbeda, atau memang jam terbang aktingnya masih paling minim dibanding rekan- rekannya. Penampilannya sebagai Cyborg, terasa tertutupi oleh bayang- bayang karakter lainnya.

6

Yang sebenarnya memiliki potensi fans service serta kejutan sebenarnya adalah kemunculan Henry Cavill sebagai Superman. Ini saya bukan spoiler, tapi memang dari berbagai interview cast Cavill selalu dimunculkan. Seharusnya melihat persiapan materi promosi yang hanya mengedepankan 5 karakter Justice League, seharusnya keterlibatan Cavill dirahasiakan saja sejak awal. Pastinya akan menambah euphoria tersendiri ketika tau- tau melihat dirinya muncul. Oiya muncul lengkap sama pacarnya yang tante- tante (baca: Amy Adams). Overall, secara pribadi dan sebagai seorang fanboy, Justice League merupakan sebuah one package yang memuaskan. Hanya saja sangat disayangkan lagi- lagi Warner Bros memangkas beberapa menit durasi yang nantinya buat jadi bahan jualan Home Video-nya. Dan jangan lupakan menyaksikan 2 stinger di pertengahan kredit dan akhir kredit yang pastinya akan membuat para fans jejeritan tepuk tangan. Yah, meskipun sangat disayangkan credit scene kedua sempat bocor di internet. Dan buat elo- elo yang udah nyebarin nyebarin di sosmed… SHAME ON YOU!!! (dnf)

Rating:

8.5/10

Advertisements

Spider-Man: Homecoming (2017)

Poster

Directed By: Jon Watts

Cast: Tom Holland, Michael Keaton, Jon Favreau, Zendaya, Marisa Tomei, Robert Dowey Jr., Bookem Woodbine, Jacob Batalon, Donald Glover, Laura Harrier, Michael Chernus, Michael Mando, Logan Marshall- Green

Synopsis:

Paska membantu Iron Man (Robert Downey Jr.), dalam event Civil War, Peter Parker/ Spider-Man (Tom Holland) selalu menantikan saat- saat di mana dia bisa resmi diajak bergabung ke dalam Avengers. Hanya saja karena dirasa masih kecil dan belum dewasa, Peter harus tetap menjalani hari- harinya selayaknya remaja seumurannya. Curi- curi pandang dengan sang pujaan hati Liz (Laura Harrier), bergaul dengan sahabatnya Ned (Jacob Batalon) dan menghadapi komen sinis temannya Michelle (Zendaya), serta menerima bully dari Flash (Tony Revolori). Selain itu, demi menyalurkan kemampuan supernya, Peter hanya membantu lingkungan sekitar sambil menyembunyikannya dari Aunt May (Marisa Tomei).

Kesempatan didapat ketika Peter mengetahui tentang transaksi penjualan senjata gelap hasil peninggalan serangan alien di event The Avengers pertama. Geng yang terdiri dari Phineas Mason/ The Tinkerer (Michael Chernus), Jackson Brice/ Shocker I (Logan Marshall- Green), Herman Schultz/ Shocker II (Bookem Woodbine), dan dipimpin oleh Adrian Toomes/ Vulture (Michael Keaton). Demi membuktikan kemampuan dirinya, Peter mencoba meringkus kawanan penjahat tersebut setelah sebelumnya diacuhkan oleh Stark.

Review:

1

Sebagai karakter paling populer dari jagad Marvel Universe, kehadiran dan bergabungnya Laba- Laba Merah Spider- Man dan Wolverine ke dalam Marvel Cinematic Universe bisa dikatakan merupakan mimpi basah bagi para fans. Doa yang dipanjatkan, komen yang di post, bahkan surat yang dilayangkan ke Marvel sudah tidak terhitung agar mau bernegosiasi dengan Sony dan Fox untuk mau “memulangkan” setidaknya 2 karakter itu saja ke “rumah”nya agar bisa bahu membahu berjuang bersama Iron Man, Captain America, Hulk, dan Thor. Berita kerjasama antara Sony dan Disney/ Marvel untuk saling meminjam karakter untuk terwujudnya doa paling diinginkan oleh fans, menghadirkan titik cerah tersendiri. Fans tidak peduli siapa yang pegang lisensi, siapa yang distribusikan, siapa yang bikin. Yang penting Spider- Man nongol di MCU. Titik.

2

Sebagai pengenalan sekaligus memberikan menambah rasa penasaran, 2 karakter inti telah diperkenalkan tahun lalu di film Captain America: Civil War. Penampilan Tom Holland serta Marisa Tomei sebagai Peter Parker dan Aunt May langsug disambut positif. Holland dirasa sangat pas memerankan Peter baik secara usia yang tidak beda jauh dan kecanggungan sebagai seorang nerd, serta tingkahnya lebih polos ketimbang Garfield dan Maguire. Tomei sudah pasti memberikan pesona tersendiri bagi karakter tante/ ibu asuh Peter yang usianya dipangkas sekitar 20 tahunan dari yang sudah kita kenal selama ini. Apalagi tampang- tampang MIL* Tomei yang pastinya memberikan sensasi tersendiri bagi para penonton dan fanboy.

3

Me- reboot kisah karakter Web Slinger ini sudah pasti memiliki tantangan tersendiri, layaknya me- reboot karakter Batman. Jika dibandingkan memang kedua karakter favorit dari masing- masing kubu tersebut memiliki kesamaan. Selain merupakan karakter paling laris dari tiap publisher-nya, kedua karakter tersebut memiliki perbendaharaan karakter villain yang bejibun, paling banyak, menarik, terkenal, bahkan bisa dikatakan karakter- karakter villain-nya sendiri juga memiliki penggemar tersendiri. Sehingga mau beberapa kali di- reboot pun, kalau dari segi karakter villain, tidak akan membuat bosan. Tantangannya adalah dari segi penceritaan origins karakter. Penonton awampun sudah pasti hapal luar kepala apa yang menyebabkan mereka berdua memutuskan menjadi jagoan penegak kebetulan kebenaran. Untuk reboot Spider- Man: Homecoming ini Marvel tidak pusing- pusing untuk urusan ini. Daripada menghabiskan durasi untuk mereka ulang adegan pembunuhan Uncle Ben dan adegan Peter digigit laba- laba, lebih baik mereka memfokuskan pendalaman karakter sebagai anak bawang dan struggle terhadap kehidupan remaja.

4

Tidak menutup kemungkinan adanya komen banding- bandingin antara Tobey Maguire, Andrew Garfield, dan Tom Holland. Setiap orang pasti punya favorit Spider- Man masing- masing. Kalau Maguire menggambarkan Peter yang belajar cara bertanggung jawab, baik secara kemampuan maupun untuk masa depannya, Garfield digambarkan sebagai Peter yang lincah dan overacting, Holland menurut saya paling pas untuk menggambarkan Peter remaja. Berbeda dengan dua pendahulunya yang aksi- aksi sebagai Spider- Man dilandasi oleh “sentilan” tanggung jawab dari almarhum Pakde Ben, versi Holland digambarkan sebagai anak kecil yang beraksi karena noraknya anak kecil. Pastilah semua dari kita pada saat usia 15 tahun dan tiba- tiba punya kemampuan super, misal menggandakan uang pasti langsung menciptakan aliran sesat., misal seperti Peter Parker pasti akan norak setengah mati dan sok- sokan. Dan akan norak juga ketika melihat gadget -gadget super tim Avengers. Apalagi sampai diajak gabung dan bisa bertemu Captain America, Iron Man, dan yang lainnya. Jangankan kalian. Saya dulu abis nonton Gogle V di Istora Senayan, sampai 3 bulan tiap hari main Gogle- Gogle an terus ngaca- ngaca sambil gaya- gaya berantem.

5

Jajaran cast lainnya yang bagus adalah Michael Keaton. Meskipun telah terlalu sering membintangi film superhero dengan sayap, tapi Keaton tidak lantas memberikan akting yang repetitif. Karakter Toomes di sini pun digambarkan hanya sebagai seorang biasa- biasa saja yang harus menafkahi keluarganya. Dan di beberapa scene digambarkan dia cukup respek terhadap Spidey. Hanya saja dua karakter Shocker yang biasa- biasa saja. Begitu juga dengan porsi karakter The Tinkerer. Batalon dan Tomei sangat pas dalam porsinya masing- masing. Batalon sangat pas berperan sebagai Ned Leeds yang sebagai nerd kebanyakan. Norak juga pas tau sahabatnya adalah sang Spider- Man. Tomei sangat apik. Apalagi seperti saya sebutkan tadi. Memberikan nuansa tersendiri bagi karakter Bude May. Keputusan untuk memberikan sentuhan modern serta teknologi tinggi untuk Spidersuit merupakan keputusan yang menarik. Selain itu, menyelipkan berbagai macam twist di tengah film cukup meningkatkan kualitas cerita.

6

Keputusan untuk memfokuskan sepak terjang Spidey sebagai seorang friendly neighborhood, benar- benar tepat. Berbeda dengan film- film bioskopnya, Spidey di sini layaknya seri MCU versi Netflix. Kejahatan yang dihadapi adalah kejahatan- kejahatan jalanan. Dan tidak ada plot berbelit- belit, seperti menguasai dunia atau ancaman serius bagi umat manusia. Yang dihadapi di sini adalah small time crooks yang memiliki kesempatan untuk menggunakan senjata super. Setelah menyaksikan film ini, saya semakin berharap Marvel mau bekerja sama lagi dan melobi Sony untuk mau bekerja sama untuk film Venom, Silver and Black, dan The Sinister Six, yang kabarnya malah sebagai penerus franchise The Amazing Spider- Man, bukannya Homecoming. Dan harapan saya lagi lepasnya Hugh Jackman dari Fox, serta ending film Logan membuat Fox mau menjual kembali karakter Wolverine untuk muncul di MCU.  Btw, Spider- Man: Homecoming memberikan banyak trivia dan cameo- cameo karakter Spider- Man Universe. Selain itu ada 2 credit scene di pertengahan dan di ending. Yang pastinya sebagai hint, yang di ending merupakan credit scene paling menarik dari keseluruhan film- film MCU. Worth to watch. (dnf)

Rating:

8.5/10

Wonder Woman (2017)

34718360706_186536dc8e_k

Directed By: Patty Jenkins

Cast: Gal Gadot, Chris Pine, David Thewlis, Connie Nielsen, Alena Anaya, Lucy Davis, Danny Huston, Robin Wright, Ewen Bremmer, Eugene Brave Rock, Said Taghmaoui

Synopsis:

Princess Diana (Gal Gadot) adalah seorang putri dari kaum Amazon, yang selalu di anak emaskan oleh sang ratu, Queen Hippolyta (Connie Nielsen). Suatu hari, Diana menyaksikan seorang pilot terjatuh di pesisir pantai Themyscira, pulau kaum Amazon. Dia adalah Steve Trevor (Chris Pine), seorang agen intelijen Inggris yang hendak menghentikan sepak terjang seorang jenderal Jerman, Erich Ludendorff (Danny Huston) yang bekerjasama dengan Isabel Maru/ Doctor Poison (Elena Anaya) untuk menciptakan gas beracun yang dapat menimbulkan kematian baik dari sisi kedua pihak yang berperang.

Diana yang merasakan adanya peran sang dewa perang, Ares dalam perang dunia ini, terpanggil untuk menemani Steve membunuh Ares dan menghentikan peran dunia, sebelum semakin banyak korban yang jatuh.

Review:

1

Sudah menjadi pehamaman umum, bahwa semua film superhero wanita biasanya sukses. Iya, sukses dimaki kritikus dan sukses jatuh di tanggan Box Office. Sebut saja Supergirl, Catwoman, dan Elektra. Itu juga yang membuat Marvel enggan membuat film solo Superhero ceweknya. Sampai dia menjawab tantangan DCEU lewat Captain Marvel yang akan dibandingkan dengan Wonder Woman, sebagai film superhero wanita pertama dari saga sinematik kedua kubu. Sebenarnya bukan karena paham seksisme, diskriminasi, atau apapun. Film- film tersebut memang memiliki kualitas yang sangat buruk. Terlebih Catwoman, yang miscast dari berbagai hal. Wonder Woman dipercaya mampu membalikkan persepsi publik tersebut dan menaikkan citra superhero wanita di mata penonton.

2

Belum apa- apa, film Wonder Woman sudah mendapatkan pandangan miring dengan penetapan Gal Gadot sebagai sang putri Amazon. Alasannya adalah badannya yang terlalu kerempeng dan postur yang jauh dari gambaran umum dari seorang Wonder Woman. Sekaligus dibanding- bandingkan dengan Lynda Carter yang jauh lebih berisi di versi tahun jadulnya. Namun seperti halnya Ben Affleck, yang saat diangkat sebagai Batman sempat mendapatkan kritikan pedas serta hujatan dari para fans, Gadot mampu menapik penilaian buruk tersebut lewat BvS: Batman v Superman tahun lalu. Bahkan penampilannya sebagai Wonder Woman di film itu mampu menyaingi kedua superhero pria yang menjadi judul filmnya. Kalau boleh saya bilang malahan mampu menjadi scene stealer di pertarungan klimaks. Lengkap dengan musik Is She With You gubahan Hans Zimmer dan Junkie XL. Lengkap sudah alasan menunggu kehadiran film solonya.

3

Yang menjadi kekuatan dari film ini adalah performa Gal Gadot yang memang nyaris sempurna menjadi Wonder Woman. Perpaduan kecantikan serta eksotisme wajahnya menjadikan gambaran superhero wanita yang diceritakan dari kaum ningrat sekaligus tidak melupakan sisi fierce seorang pahlawan. Ditambah lagi dengan dialek Gadot yang seksi dalam berbahasa inggris. Begitu juga Chris Pine sebagai Steve Trevor yang cukup bagus. Selain itu lagu- lagu pengiring juga bisa dikatakan cukup memberikan warna dari adegan yang sedang berlangsung di layar. Namun bukan berarti dari segi casting tidak terdapat kesalahan. Aktor yang memerankan karakter musuh utama benar- benar miscast abis. Tidak ada kecocokan dengan karakter musuh utama yang terkenal bengis. Dari bentukan mukanya pun sangat tidak cocok.

5

Pemilihan Patty Jenkins diharapkan dapat memberikan sentuhan feminim untuk film ini. Patty Jenkins yang baru kali keduanya menyutradarai film layar lebar setelah Monster ini ternyata menjadi kesalahan yang cukup fatal. Pasalnya, gambaran Wonder Woman yang ditampilkan cukup seru tahun lalu dan menimbulkan ekspektasi bahwa filmnya juga bakal seru, malah menghadirkan adegan- adegan boring yang cukup dragging. Terutama dalam mengembangkan hubungan dan chemistry antara Diana dan Steve. Plothole pun banyak terjadi di sana- sini. Salah satunya adalah penjelasan bahwa kaum Amazon mampu berbicara dalam 1000 bahasa yang membuat penonton maklum kenapa di Themyscira bahasa inggris menjadi bahasa sehari- hari. Hal ini juga diperlihatkan dalam beberapa adegan saat Diana berbicara dalam berbagai bahasa. Hanya banyak saat di mana Diana berbicara dengan penduduk Eropa Timur menggunakan Bahasa Inggris, sementara terdengar bahasa Prancis (kalo gak salah) menjadi bahasa sehari- hari di daerah tersebut. Untuk adegan aksi masih bisa dikatakan seru. Terutama adegan aksi di pertengahan film. Hanya saja adegan klimaksnya terasa biasa saja. Padahal masih bisa dibuat jauh lebih baik lagi.

6

Secara keseluruhan film Wonder Woman menimbulkan kekecewaan untuk saya pribadi. Meskipun secara kualitas masih terselamatkan lewat 2 casting utama serta tampilan grafis yang masih related dengan BvS dan Man of Steel. Mudah- mudahan DCEU mampu belajar banyak untuk film- film berikutnya. Seperti halnya Warner yang mulai tidak anti menghadirkan joke- joke ringan di film- filmnya. Terutama untuk Justice League, Aquaman, dan The Flash yang dipersiapkan untuk masuk daftar tayang dalam waktu dekat. (dnf)

Rating:

7/10

Power Rangers (2017)

Poster

Directed By: Dean Israelite

Cast: Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Ludi Lin, Becky G., Elizabeth Banks, Bryan Cranston, Bill Hader

Synopsis:

5 remaja dari kota kecil Angel Grove, Jason (Dacre Montgomery), Billy (RJ Cyler), Zach (Ludi Lin), Kimberly (Naomi Scott), dan Trini (Becky G.) menemukan 5 koin kuno dalam sebuah kejadian di sebuah tambang. Paska kejadian tersebut, kelimanya tiba- tiba memiliki kekuatan super. Setelah diberikan pengarahan oleh sesosok alien kuno Zordon (Bryan Cranston) dan robot asistennya, Alpha 5 (Bill Hader), mereka bertiga menjadi Power Rangers, yang bertugas untuk menjaga kehidupan di bumi dari ancaman Rita Repulsa (Elizabeth Banks).

Review:

1

Mungkin sedikit sekali orang yang tidak mengenal Power Rangers. Mau mereka yang sempat muda di tahun 90-an ataupun emak- emak kolot gak asik, pasti minimal akrab dengan sebutan itu. Mighty Morphin Power Rangers merupakan seri pertama, yang meliputi 3 season pertama dari franchise Power Rangers yang diadaptasi dari serial Super Sentai buatan Toei. Super Sentai merupakan salah satu serial lama milik Toei yang bisa dibandingkan dengan Kamen Rider ataupun Ultraman. Masyarakat Indonesia mengenal Super Sentai lewat salah satu serinya yang berjudul Goggle V. Ciri khas dari seri ini adalah satu tim superhero yang biasanya terdiri dari 5 orang (meski terkadang bisa 3, 6, atau lebih) yang memiliki kostum sama hanya dibedakan warna. Dan memiliki satu kendaraan yang bisa digabungkan menjadi robot gede. Power Rangers sendiri dibaptis menjadi salah satu pop culture yang cukup berpengaruh 2 dekade lalu. Diikuti dengan penjualan merchandise yang sampai sekarang masih memiliki fanbase yang cukup kuat. Bahkan kesuksesannya membuat salah satu franchise Kamen Rider sempat diadaptasi juga oleh Amerika. Yaitu serial Black Rider RX, yang versi Jepangnya juga menjadi salah satu memori manis bagi generasi 90-an.

2

Sebenarnya gaung- gaung reboot MMPR ke dalam layar lebar telah bergaung sejak lama. Namun hype tersebut kembali hadir ketika Joseph Khan membuat fanmade sekuel MMPR yang menceritakan kisah keenam anggota original dewasa harus menghadapi Rocky yang telah membelot ke pihak musuh. Adapun tone yang dewasa dengan tingkat violence cukup tinggi ternyata memberikan kepuasan tersendiri bagi para fans. Meskipun mendapatkan tanggapan positif, ternyata film tersebut juga mendapatkan tolakan dari beberapa cast, dan juga dari Saban sendiri. Namun menanggapi respon ini, Saban kemudian memberikan kabar gembira bahwa reboot resmi akan dibuat dengan artis yang diisukan pertama untuk didekati adalah Chloe Grace Moretz sebagai Pink Ranger.

3

Mengikuti trend sekarang yang lebih mendewasakan franchise yang akrab dengan anak- anak, Power Rangers kali ini lebih fokus kepada pengenalan karakter. Jadi bagi para fans yang mengharapkan aksi laga yang keren pasti akan kecewa. Resmi 80% durasi hanya didominasi oleh pengembangan karakter dan menceritakan origins dari pembentukan tim Power Rangers. Untuk segi naskah, saya rasa sudah cukup berhasil. Penggambaran bagaimana mereka, yang dari tidak mengenal satu sama lain lalu menjadi sebuah tim yang kompak dan solid sudah cukup baik. Terlebih dengan memberikan problematika yang cukup dewasa bagi para remaja ini (salah satunya adalah dengan merubah karakter Trini menjadi penyuka sesama jenis- terlepas dari tanggapan saya terhadap karakter LGBT di film anak- anak).

4

Reboot ini juga mencoba untuk lebih akrab dengan penonton dari segala ras. Untuk menghindari stereotype dan kemungkinan tanggapan rasis, beberapa karakter dirubah warna kulitnya sehingga berbeda dengan warna kostumnya. Jika versi aslinya, Zack (Black Ranger) adalah seorang berkulit hitam dan Trini (Yellow Ranger) adalah seorang Cina, kali ini Zack adalah seorang Cina dan Trini seorang latin. Ini untuk menghindari seorang Negro menjadi Ranger hitam dan seorang Cina menjadi Ranger kuning (Orang Amerika menyebut kulit orang- orang Cina sebagai berkulit kuning). Selain mereka, Billy dirubah dari orang bule menjadi orang negro. Tapi perubahan warna kulit, bagi saya pribadi bukan merupakan hal yang cukup mengganggu. Apalagi jika mengikuti franchise tersebut sudah paham bahwa tim Power Rangers dari seri apapun pasti memiliki ras yang berbeda. Tidak semuanya orang bule.

5

Jika membicarakan kekurangan film ini, seperti yang saya sebutkan tadi, terdapat pada penggarapan adegan aksinya. Oke, memang tujuannya untuk memfokuskan film kepada pengenalan tokoh dan pembentukan karakter. Namun bukan berarti, adegan aksi harus dianaktirikan. Adegan aksi yang langsung memborbardir sebagai klimaks film terasa terlalu singkat. Selepas adegan- adegan aksi yang, saya nilai terlalu melempem, perasaan yang timbul seperti “Hah? Gitu doang?”. Seharusnya Lionsgate bisa lebih serius dalam menggarap koreografi pertempurannya. Bahkan jika dibandigkan dengan serial TV-nya, saya masih cukup terhibur dengan adegan aksi dari serial TVnya. Kemudian yang cukup mengganjal adalah ukuran Zord, yang bagi saya kurang besar. Apalagi mengingat dari materi promo posternya, kita sempat ditipu dengan ukuran Zord yang digambarkan cukup besar, namun aslinya di film cuma segitu aja.

5

Secara garis besar, Power Rangers sukses menjadi sebuah origins movie yang berfungsi untuk meletakkan landasan bagi franchise yang direncanakan akan memiliki 6 film ini (amiin…). Namun sebagai sebuah sajian film superhero, masih kurang banyak. Khususnya dari penggarapan adegan laga. Jika memang secara skenario bisa lebih dewasa, seharusnya untuk adegan aksi laga juga bisa dibuat jauh lebih keren dan dewasa dibandingkan versi TVnya. Namun kita sebagai penonton, diberikan ekstra musik pengiring yang super keren banget. Terutama remake dari beberapa tembang lawas. Saya berharap di sekuel- sekuel berikutnya, Lionsgate akan lebih bisa mengajak cast- cast asli untuk menjadi cameo, atau mungkin diberikan peran pembantu di filmnya. Bukan hanya menampilkan 2 pemeran asli sebagai cameo seperti di film pertamanya ini saja. Oya, jangan segera beranjak, karena akan ada mid credit scene. Tunggu aja. Gak lama kok. Gak bakal bikin tukang sapu bioskop bengong- bengong bete di kursi depan kaya nonton Avengers. (dnf)

Rating:

7/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Logan (2017)

Poster

Directed By: James Mangold

Cast: Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen, Boyn Holbrook, Stephan Merchant, Elizebeth Rodriguez, Richard E. Grant

Synopsis:

Tidak jauh di masa depan, di mana mutant sudah jarang ditemukan dan anggota X-Men sudah mati atau hilang ditelan bumi, Logan (Hugh Jackman) mengasingkan diri sambil merawat Charles Xavier (Patrick Stewart) dengan bantuan Caliban (Stephan Merchant). Logan mengumpulkan uang untuk bisa membeli perahu dan tinggal di lautan bersama sang profesor. Namun ketenangan mereka diusik ketika seorang suster bernama Gabriela (Elizabeth Rodriguez) mendatanginya untuk meminta perlindungan bagi seoran anak kecil bernama Laura (Dafne Keen) yang menjadi incaran para Reavers, cyborg yang dipimpin oleh Donald Pierce (Boyd Holbrook). Ternyata Laura bukanlah sembarang anak kecil, namun memiliki sebuah rahasia yang bisa membuat Logan merasakan menjadi manusia lagi.

Review:

1

Tidak dipungkiri lagi, Hugh Jackman merupakan salah satu nilai jual tertinggi bagi Saga X-Men. Dibuktikan dengan wajahnya menjadi satu- satunya yang muncul di setiap judul filmnya. Bahkan untuk Deadpool, meski hanya berbentuk print out saja. Aktor yang bisa disandingkan dengan Robert Downey Jr. di MCU ini memang sangat beruntung. Mendapatkan peran salah satu mutant favorit dari tangan Dougray Scott, yang saat itu lebih memilih menjadi musuh Tom Cruise merupakan sebuah anugerah terbesar dalam karirnya. Keberuntungan juga datang ketika para fans ternyata puas dengan performa Jackman yang mampu menampilkan sosok Wolverine yang ganas dan brutal. Belum lagi tampilan Jackman yang bisa juga jadi daya tarik bagi penonton wanita yang terpaksa harus menemani pacarnya nonton X-Men.

3

Setelah kesuksesan Deadpool yang meski mengusung rating R, namun cukup memberikan keuntungan yang cukup tinggi, Fox merasa bahwa mereka harus menggunakan treatment yang sama untuk film solo ketiga Wolverine ini. Mengingat karakterisasi sang tokoh yang aslinya cukup brutal di komik. Dan memang dengan meningkatkan kadar violence cukup tinggi, membuat film ini jauh lebih menghibur ketimbang dua fim pendahulunya yang memilih rating PG-13. Cerita yang diambil dari storyline Old Man Logan dengan sedikit unsur Death of Wolverine memang cukup kuat, khususnya dalam menggambarkan Wolverine yang sudah tua dan tidak seprima dulu. Hal ini sebenarnya cukup bagus, mengingat raut wajah Jackman yang semakin tua dan tidak semulus di film X-Men dulu. Setidaknya lebih masuk akal dengan karakterisasi di film. James Mangold yang ikut turun langsung dalam penulisan naskah, mampu membuat cerita yang solid dan cukup manusiawi.

4

Ketika menyaksikan film Logan, feel yang didapat bukanlah menyaksikan film superhero. Tapi seperti menyaksikan film action seperti Jason Bourne, Mad Max, atau James Bond versi Daniel Craig. Tema cerita pun memiliki nuansa western yang cukup kental. Terlebih dalam menggambarkan kisah redemption seorang legend. Unsur drama yang dimasukan untuk menggambarkan sisi manusiawi Logan, cukup baik dan tidak membuat film menjadi terlalu dragging. Pemilihan jajaran cast juga cukup bagus. Boyd Holbrook yang cukup akrab bagi penonton Narcos, memang lebih cocok menjadi villain seperti dalam film Run All Night ketimbang menjadi protagonis seperti di film seri yang menceritakan sepak terjang Pablo Escobar itu. Sebagai aktris cilik, Dafne Keen mampu mengungguli Hugh Jackman. Dirinya mampu menjadi scene stealer karena menggabungkan pesona lugu anak kecil dan kebringasan seorang pembunuh terlatih. Mengingatkan kita kepada Chloe Moretz dalam Kick- Ass.

2

Sayangnya keputusan Jackman yang menyatakan akan berhenti memerankan Wolverine sempat membuat para fans kecewa. Banyak spekulasi yang menyebutkan bahwa X-Men akan di reboot lagi atau akan ada pemain baru yang menggantikan sosok Jackman sebagai sosok Wolverine. Sangat susah membayangkan ada aktor lain yang memerankan tanpa harus me reboot dari awal semua universe X-Men. Ditambah lagi Patrick Stewart yang juga mengumumkan dalam suatu wawancara bahwa film Logan merupakan penampilan terakhir dirinya sebagai Professor X. Belakangan Jackman mengerluarkan statement bahwa dirinya bersedia menggunakan cakar adamantium lagi jika Wolverine menjadi bagian dari MCU. Suatu hal yang cukup sulit, mengingat Fox cukup tambeng dalam mempertahankan hak film karakter- karakter X-Men. Meskipun fans mengharapkan studio ini akan luluh dan mengikuti jejak Sony untuk share dengan Disney. Or at least Wolverine- nya aja. (dnf)

Rating:

9/10

 

Suicide Squad (2016)

Harley Quinn: We’re bad guys. That’s what we do.

Poster

Directed By: David Ayer

Cast: Will Smith, Margot Robbie, Joel Kinnaman, Viola Davis, Karen Fukuhara, Jai Courtney. Adewale Akinnuoye- Agbaje, Jared Leto, Jay Hernandez, Cara Delevingne, Ike Barinnholtz, Ben Affleck, Scott Eastwood

Synopsis:

Amanda Waller (Viola Davis) adalah seorang petinggi di agensi pemerintahan yang menyelidiki perihal eksistensi metahuman (atau manusia yang memiliki kekuatan khusus). Dia memiliki wacana untuk membentuk sebuah kesatuan yang bernama Task Force X yang tediri dari penjahat- penjahat dengan kemampuan di atas manusia normal yaitu: Enchantress/ June Moone (Cara Delevingne), Deadshot/ Floyd Lawton (Will Smith), Harley Quinn/ Harleen Quinzel (Margot Robbie), Captain Boomerang/ Digger Harkness (Jai Courtney), El Diablo/ Chato Santana (Jay Hernandez), Killer Croc/ Waylon Jones (Adewale Akinnuoye- Agbaje), dan Slipknot/ Christopher Weiss (Adam Beach).

Ketika Enchantress berhasil kabur dari pengawasan Rick Flag (Joel Kinnaman), bawahan Waller yang bertugas untuk mengawasi gerak- gerik Task Force X di lapangan, yang juga kekasih June, pemerintah memerintahkan Amanda untuk mengaktifkan para anggota lainnya untuk menangkap Enchantress yang telah bekerja sama dengan kakaknya, Incubus untuk memusnahkan umat manusia. Rick Flag pun ditugaskan kembali untuk mengawasi para anggota lapangan dengan dibantu oleh Katana/ Tatsu Yamashiro (Karen Fukuhara) yang menjadi “bodyguard” bagi Flag.

Namun ancaman bagi Task Force X bukan hanya datang dari Enhantress belaka, namun juga dari The Joker (Jared Leto) yang menggunakan berbagai macam cara untuk membebaskan Harley Quinn, kekasihnya.

Review:

suicide-squad-movie-2016-katana-karen-fukuhara-1024x512

Bisa dikatakan Marvel sekarang telah menjadi baromoter dan trend setter sendiri bagi film bergenre superhero. Berbeda dengan beberapa dekade sebelumnya, di mana kubu lawan, DC Comics unggul dalam film- film adaptasi komiknya. Namun entah karena takut, atau tidak pede, ide untuk menyatukan para jagoan utamanya dalam sebuah film Justice League, malah “dicuri” oleh Marvel dengan membuat landasan yang rapi untuk sebuah franchise yang disebut sebagai Marvel Cinematic Universe. Merasa kebakaran jenggot, DC, yang telah telah beberapa tahun langsung tancap gas dengan mengumumkan beberapa proyek filmnya ke depan pada acara Comic Con beberapa tahun lalu. Di antara jajaran film yang diumumkan, Suicide Squad-lah yang seakan memberikan janji manis untuk mengangkangi eksistensi MCU. Pasalnya premis yang disebutkan adalah menggambarkan jagoannya adalah barisan para penjahat dari anggota Justice League. Hal ini memang sudah biasa di dunia komik, di mana para penjahat populer diberikan satu seri komik tersendiri di mana alur cerita mengharuskan dirinya menjadi karakter protagonis. Namun untuk dunia film genre superhero, ini adalah hal baru. Sebenarnya jika seandainya film Sinisters Six jadi dibuat oleh Sony, bisa menyaingi kisah Suicide Squad ini.

2

Materi promosi yang begitu gencar sekaligus barisan trailer dan TV Spot yang ternyata bukan hanya direspon positif oleh fans DC, namun juga oleh fans awam yang langsung menjadikan film Suicide Squad masuk ke daftar tunggu, membuat kepopuleran film ini menjadi meningkat. Belum lagi animasi Assault on Arkham yang sangat bagus dan memberikan gambaran sesuai untuk Suicide Squad mendekati komiknya, digemari oleh berbagai golongan penonton.  Namun ternyata materi promosi yang nyaris sempurna tersebut menjadi bumeran tersendiri bagi filmnya. Ekspektasi yang terlalu tinggi malahan menjadikan film ini sedikit banyak melahirkan banyak kekecewaan. Meskipun sebenarnya secara sajian hiburan masih cukup menghibur, tetapi jika dibandingkan dengan ekspektasi yang sudah kadung tinggi, film ini justru kurang begitu greget.

suicidesquad.0.0

Oke, sebelum menyebutkan apa saja yang mengecewakan, saya coba menjabarkan apa saja nilai positif dari film ini. Pertama sudah tentu barisan aktor- aktris yang terpilih untuk merepresentasi karakter- karakter komiknya. Acungan jempol paling banyak patut kita berikan kepada Margot Robbie. Bahkan jika dibandingkan dengan Jared Leto, penampilan Robbie lebih mendekati bayangan Harley Quinn, bagi yang mengikuti komiknya. Campuran antara kegilaan dibalik sosok Harleen Quinnzel yang naif bisa dimainkan dengan apik oleh aktris yang belakangan lagi naik daun ini. Hampir dipastikan setiap penampilannya mampu mencuri perhatian. Bisa jadi karakter Harley Quinn akan meningkat kepopulerannya bagi para penonton awam. Dan film solonya sendiri sudah dipastikan akan hadir, dengan Robbie yang akan memproduseri secara langsung. Berikutnya adalah Joel Kinnaman yang nyaris sempurna memerankan Rick Flag dan Cara Delevigne sebagai Enchantress yang tampilannya cukup mengerikan. Didaulat sebagai garda terdepan sekaligus pendongkrak box office, bagi saya pribadi Will Smith (sesuai ekspektasi) fail sebagai Deadshot. Deadshot yang hadir di film ini tipikal another-will-smith-character dan bukannya Floyd Lawton yang mampu menggambarkan aura seorang pembunuh bayaran nomor satu. Bahkan Will Smith di film ini lebih mirip seperti Mike Lowrey di dwilogi Bad Boys.

4

Jared Leto sudah pas berperan sebagai The Joker. Namun performance-nya belum mampu menyaingin Heath Ledger atau Jack Nicholson. Oke, secara akting, aktor kelas Oscar ini telah mampu memberikan gambaran The Joker yang berbeda. Namun memang bebannya di film ini paling berat, mengingat keseluruh aktor yang sempat memerankan peran ini, baik Nicholson, Ledger, Cesar Romero, atau Mark Hamill sekalipun telah memberikan gambaran sempurna akan sosok badut psikopat itu dan mampu memberikan touch berbeda di antaranya. Dan jika mengingat bebannya yang terlalu berat, sekaligus scene appearance-nya yang tidak terlalu dominan di film ini, masih bisa dimaklumilah, sekaligus berharap di film solo Batman nanti akan lebih sempurna lagi. Penampilan Leto dan Robbie mampu menggambarkan dengan sempurna hubungan Mad Love antara The Joker dan Harley Quinn. Dan selepas film ini bisa dipastikan mereka akan menjadi the sweetest couple bagi para pecinta film superhero. Viola Davis bermain cukup menyebalkan dan sudah mampu membawakan karakter abu- abu Amanda Waller dengan sempurna. Sisa aktor- aktris lainnya, baik itu Karen Fukuhara,  Jay Hernandez, Jai Courtney, dan aktor yang namanya paling susah saya hafal dan setiap nulis harus cek google dulu, Adewale Akkinuoye- Agbaje sudah cukup blend dengan karakternya masing- masing, hanya saja memang penampilannya sekedar minor characters belaka. Terlebih karakter Killer Croc hanya sebagai karakter pengganti saja. Tadinya Ayer mau memakai karakter King Shark yang lebih dikenal sebagai anggota Suicide Squad ketimbang Croc, namun karena akan menharuskan penggunaan full CGI, maka karakter manusia hiu tersebut digantikan oleh manusia buaya.

5

Naskah merupakan salah satu kelemahan dari film ini. Ditambah dengan skill Ayer yang menurun dibandingkan film- filmnya yang lalu. Plot yang disajikan oleh film ini bisa kita pisahkan menjadi 2 bagian. Yang pertama di treat sebagai origins story dari keseluruh karakter. Character treatment merupakan hal yang cukup menonjol dari film ini. Salah satunya ada origins story masing- masing karakter yang dibuat hanya dalam beberapa menit saja. Bagian pertama ini seakan mendobrak tradisi MCU dan DCCU yang menyiapkan film solo untuk memberikan origins serta latar belakang karakter sebelum disatukan dalam sebuah film. Sebenarnya bagian pertama ini bisa dibuat lebih baik lagi. Tapi dengan apa yang sudah disajikan oleh Ayer, saya rasa sudah cukup. Bagian kedua adalah aksi para member dalam misi pertamanya bersama- sama ini. Di bagian keduanya ini, kisah yang dihadirkan sangat mirip dengan naskah video game. Di mana sekelompok tim naik helikopter, ditembak jatuh, lalu harus meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menuju tujuan misi dengan melewati beberapa rintangan dan harus menghadapi pasukan musuh. Hanya saja ketidakberaturan dalam penulisan naskah membuat bagian keduanya ini terasa hambar dan tidak rapi. Bahkan misi yang harus dijalankanpun tidak tergambar jelas, meskipun sebenarnya misi sebenarnya merupakan sebuah twist, namun tidak terasa seperti twist.

suicide-squad07

Editing adalah salah satu hal terpenting dalam film ini yang malah tidak dilakukan dengan baik. Lompatan antara scene membuat capek mata. Belum lagi dengan script yang terlalu lemah. Seakan ingin memberikan plot berlapis yang berhasi di delivery oleh Assault on Arkham, malahan dibuat hambar dengan editing yang buruk dan cara bertutur Ayer yang kurang enak. Namun untuk adegan laganya sudah disajikan cukup seru. Kesalahan fatal lainnya adalah racikan original score serta sound editing yang buruk, bahkan mengingatkan saya pada film- film kelas B atau sinetron- sinetron dengan score yang tidak mampu menghidupkan adegan yang tersaji di layar. Hambar. Untungnya barisan soundtrack yang dihadirkan, baik itu lagu yang khusus diciptakan untuk film ini maupun lagu yang sudah terkenal yang dipinjam untuk film ini, cukup memberikan feel dan meningkatkan beat setiap adegan yang diwakilkan. Tak ayal dengan skrip yang lemah, editing yang buruk, maupun score yang jelek membuat film ini tak ayal seperti film kelas B semata.

6

Ayer juga memberikan fans service yang cukup banyak di film ini. Tanpa bermaksud untuk spoiler, banyak gimmick, adegan, cameo, mid credit scene yang mengarah kepada Justice League ataupun easter egg yang ditampilkan, sudah cukup baik. Dan hal itu menjadi salah satu sisi positifnya. Suicide Squad juga semakin menjelaskan bahwa DC tidak ingin terlalu terkekang dengan komitmennya dalam film tanpa joke dan terlalu serius. Suicide Squad dipenuhi banyak joke ringan yang mampu menambahkan keasyikan tersendiri. Mungkin belajar dari BvS, yang terlalu serius. Dan lagi secara bisnis, jika bisa menghibur 1000 orang kenapa harus menghibur 100 orang? Jika bisa menghibur seluruh penonton, kenapa hanya terfokus untuk memuaskan fans sejati saja? (dnf)

Rating:

7.5/10

Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of The Shadows (2016)

Bebop: Rock…

Rocksteady: Right here, Beeps

Bebop: My man…

Poster

Directed By: Dave Green

Cast: Megan Fox, Stephen Amell, Will Arnett, Laura Linney, Tyler Perry, Alan Ritchson, Noel Fisher, Pete Ploszek, Jeremy Howard, Brian Tee, Stephen Farrelly, Gary Anthony Williams, Brad Garrett, Britanny Ishibashi, Danny Woodburn, Tony Shalhoub, Jane Wu

Synopsis:

Setelah berhasil mengalahkan Shredder (Brian Tee), keempat kura- kura ninja bersaudara; Leonardo (Pete Ploszek), Raphael (Alan Ritchson), Donatello (Jeremy Howard), dan Michelangelo (Noel Fisher) kembali menjalani rutinitasnya dengan menghindari kontak langsung dengan manusia. Kredit gelar kepahlawanan diwakilkan oleh Vernon Fenwick (Will Arnett) yang menjalani kehidupannya bak seorang selebriti.

Namun Shredder berhasil keluar dari penjara berkat bantuan Baxter Stockman (Tyler Perry), seorang pakar ilmiah. Selepas dari penjara, Shredder membuat perjanjian dengan seorang mahluk dari dimensi lain, Kraang (Brad Garrett) untuk membantunya mencari pecahan alat teleportasi yang bisa mengantar Kraang untuk memusnahkan umat manusia. Dengan dibantu oleh pakar ilmiah, Baxter Stockman (Tyler Perry), dan 2 mutant Bebop (Gary Anthony WIlliams) dan Rocksteady (Stephen Farrelly), Shredder harus bersiap mengalahkan para kura- kura yang dibantu oleh April O’Neill (Megan Fox) dan Casey Jones (Stephen Amell) yang tidak menginginkan rencana jahat tersebut terlaksana.

Review:

1

Teenage Mutant Ninja Turtles atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Kura- Kura Ninja” di Indonesia merupakan sebuah franchise yang berasal dari komik yang awalnya dibuat untuk memarodikan komik- komik tahun 80-an, salah satunya adalah Daredevil.  Di Indonesia, franchise ini dipopulerkan oleh serial animasinya yang sempat ditayangkan televisi nasional di medio akhir 80-an. Kisahnya kurang lebih menceritakan sepak terjang 4 ekor kura- kuran humanoid yang dididik oleh seekor tikus mutant dengan latihan keras ala ninja untuk melindungi kota New York dari kejahatan Shredder dan para Foot Clan- nya. Paska kesuksesan franchise Transformers, banyak franchise kartun lawas yang dibuatkan versi movie-nya. Baik itu berupa reboot ataupun adaptasi film pertamanya. Di antaranya yang akan tayang ada G.I. Joe dan Master of The Universe atau yang lebih dikenal dengan sebutan “pelem he-man”.

2

Pada tahun 2014 lalu, muncullah adaptasi Kura- Kura Ninja terbaru yang diproduseri oleh Michael Bay. Responpun beragam diterima. Ada yang menilai film ini cukup fun dan menghibur. Ada yang menilai film ini layaknya film komik masa kini, yaitu menggunakan unsur dark. Dan ada juga yang kecewa lantaran terlalu kekanak- kanakan dan disain karakternya terlalu menyeramkan buat anak- anak. Apapun itu, pendaptan box office cukup membuat pihak produser tergiur untuk menciptakan sekuelnya. Syukur- syukur nanti menjelma menjadi sebuah trilogy yang baru. Namun meskipun kursi penyutradaraan diberikan kepada orang lain, namun pengaruh Michael Bay sangatlah terasa di kedua film ini. Dan mungkin dikarenakan faktor Bay dan Megan Fox, tidak sedikit yang membanding- bandingkan film ini dengan Transformers.

3

Film ini memang murni sebagai fans service. Selain dikarenakan munculnya karakter- karakter favorit baru yang cukup legendaris di franchise-nya, seperti Kraang, Casey Jones, Baxter Stockman, dan juga yang benar- benar sangat diinginkan oleh para fans; Bebop dan Rocksteady, film ini juga cukup banyak memberikan trivia serta easter egg untuk penggemarnya. Namun sayangnya, selain menjadi daya tarik tersendiri, hal ini malah justru juga menjadi bumerang bagi filmnya. Karena hal ini malah jadi menganaktirikan karakter lainnya yang sudah lebih dulu diperkenalkan, yaitu Splinter. Dan kehadiran Kraang serta Casey Jones justru dirasa seperti tempelan belaka. Casey Jones yang memiliki trademark topeng hoki dan tongkat hoki ini malah hanya sekali menggunakannya, sehingga kemunculannya lebih ke arah untuk menciptakan love interest April O’Neill (which is gak salah juga sebenarnya) ketimbang menampilkan sosok anti hero yang suka membantu para kura- kura. Lain halnya dengan Bebop dan Rocksteady yang terasa seperti scene stealer, dan bisa dikatakan menjadi satu- satunya karakter antagonis yang cukup menarik dari sekuel ini. Jika ditilik dari banyaknya karakter, hal ini seperti hanya untuk mengejar penjualan merchandise dan action figure belaka. Sama halnya dengan franchise Transformers yang selalu kebanjiran karakter baru tapi terlalu dangkal dalam memberikan ruang untuk tampil.

4

Duet Williams dan Farrelly benar- benar bisa menghidupkan duet karakter “brawns without brains” dengan baik. Tektokan lawakannya juga cukup menghibur. Beda dengan Stephen Amell. Entah kenapa semenjak di Arrow, saya merasa dirinya kurang pas untuk beradegan laga. Sepertinya wajah serta perawakannya lebih cocok untuk genre drama romantis. Aktingnya juga kurang pas sebagai Casey Jones, di mana terlihat usaha Amell untuk menampilkan sisi slenge’an tapi tetap saja tidak bisa dan malah terlihat kaku. Penampilannya sebagai Jones, sangat jauh di bawah versi Elias Koteas, yang bagi saya pribadi sudah sangat pas di adaptasi tahun 1990 dulu. Apalagi Tyler Perry yang terlihat seperti orang bodoh. Megan Fox juga seperti hanya sekedar pemanis. Begitu juga dengan Brian Tee, yang menggantikan posisi Tohoru Masamune sebagai Shredder, tapi sayangnya tidak bisa menampilkan aura kengerian seperti yang dibawakan oleh Masamune dulu.

5

Namun bukan berarti film ini tidak berusaha untuk memberikan adegan seru. Scene di pesawat yang berlanjut di sungai Amazon bisa dikatakan akan memberikan keseruan layaknya adegan kejar- kejaran di gunung es pada film pertamanya. Oke, memang menyaksikan film macam ini tidak usah terlalu memusingkan kedalaman sebuah cerita atau naskah yang memiliki kualitas bagus. Namun jika film pertamanya sudah cukup berhasil, sineas akan dituntut untuk menghasilkan sekuel yang jauh di atas prekuelnya. Kasus TMNT ini mengingatkan saya kepada kasus Transformers, di mana seri pertamanya dinilai sangat bagus dan menarik, namun sayangnya diikuti oleh sekuel- sekuel yang mengalami degradasi kualitas. Namun menariknya masih tetap ditunggu dan orang- orang yang mencaci makin filmnya, tetap rela mengantri untuk menonton filmnya di bioskop pada minggu pertama penayangan. Out of The Shadows bukan hanya tidak menyajikan tontonan yang memiliki peningkatan kualitas, namun tidak memberikan kesan yang cukup membekas di hati. Masih ingat di film pertamanya, adegan “MC MIKEY” dicap sebagai salah satu momen paling menarik pada tahun 2014 oleh banyak penonton? (dnf)

Rating:

6.5/10