Power Rangers (2017)

Poster

Directed By: Dean Israelite

Cast: Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Ludi Lin, Becky G., Elizabeth Banks, Bryan Cranston, Bill Hader

Synopsis:

5 remaja dari kota kecil Angel Grove, Jason (Dacre Montgomery), Billy (RJ Cyler), Zach (Ludi Lin), Kimberly (Naomi Scott), dan Trini (Becky G.) menemukan 5 koin kuno dalam sebuah kejadian di sebuah tambang. Paska kejadian tersebut, kelimanya tiba- tiba memiliki kekuatan super. Setelah diberikan pengarahan oleh sesosok alien kuno Zordon (Bryan Cranston) dan robot asistennya, Alpha 5 (Bill Hader), mereka bertiga menjadi Power Rangers, yang bertugas untuk menjaga kehidupan di bumi dari ancaman Rita Repulsa (Elizabeth Banks).

Review:

1

Mungkin sedikit sekali orang yang tidak mengenal Power Rangers. Mau mereka yang sempat muda di tahun 90-an ataupun emak- emak kolot gak asik, pasti minimal akrab dengan sebutan itu. Mighty Morphin Power Rangers merupakan seri pertama, yang meliputi 3 season pertama dari franchise Power Rangers yang diadaptasi dari serial Super Sentai buatan Toei. Super Sentai merupakan salah satu serial lama milik Toei yang bisa dibandingkan dengan Kamen Rider ataupun Ultraman. Masyarakat Indonesia mengenal Super Sentai lewat salah satu serinya yang berjudul Goggle V. Ciri khas dari seri ini adalah satu tim superhero yang biasanya terdiri dari 5 orang (meski terkadang bisa 3, 6, atau lebih) yang memiliki kostum sama hanya dibedakan warna. Dan memiliki satu kendaraan yang bisa digabungkan menjadi robot gede. Power Rangers sendiri dibaptis menjadi salah satu pop culture yang cukup berpengaruh 2 dekade lalu. Diikuti dengan penjualan merchandise yang sampai sekarang masih memiliki fanbase yang cukup kuat. Bahkan kesuksesannya membuat salah satu franchise Kamen Rider sempat diadaptasi juga oleh Amerika. Yaitu serial Black Rider RX, yang versi Jepangnya juga menjadi salah satu memori manis bagi generasi 90-an.

2

Sebenarnya gaung- gaung reboot MMPR ke dalam layar lebar telah bergaung sejak lama. Namun hype tersebut kembali hadir ketika Joseph Khan membuat fanmade sekuel MMPR yang menceritakan kisah keenam anggota original dewasa harus menghadapi Rocky yang telah membelot ke pihak musuh. Adapun tone yang dewasa dengan tingkat violence cukup tinggi ternyata memberikan kepuasan tersendiri bagi para fans. Meskipun mendapatkan tanggapan positif, ternyata film tersebut juga mendapatkan tolakan dari beberapa cast, dan juga dari Saban sendiri. Namun menanggapi respon ini, Saban kemudian memberikan kabar gembira bahwa reboot resmi akan dibuat dengan artis yang diisukan pertama untuk didekati adalah Chloe Grace Moretz sebagai Pink Ranger.

3

Mengikuti trend sekarang yang lebih mendewasakan franchise yang akrab dengan anak- anak, Power Rangers kali ini lebih fokus kepada pengenalan karakter. Jadi bagi para fans yang mengharapkan aksi laga yang keren pasti akan kecewa. Resmi 80% durasi hanya didominasi oleh pengembangan karakter dan menceritakan origins dari pembentukan tim Power Rangers. Untuk segi naskah, saya rasa sudah cukup berhasil. Penggambaran bagaimana mereka, yang dari tidak mengenal satu sama lain lalu menjadi sebuah tim yang kompak dan solid sudah cukup baik. Terlebih dengan memberikan problematika yang cukup dewasa bagi para remaja ini (salah satunya adalah dengan merubah karakter Trini menjadi penyuka sesama jenis- terlepas dari tanggapan saya terhadap karakter LGBT di film anak- anak).

4

Reboot ini juga mencoba untuk lebih akrab dengan penonton dari segala ras. Untuk menghindari stereotype dan kemungkinan tanggapan rasis, beberapa karakter dirubah warna kulitnya sehingga berbeda dengan warna kostumnya. Jika versi aslinya, Zack (Black Ranger) adalah seorang berkulit hitam dan Trini (Yellow Ranger) adalah seorang Cina, kali ini Zack adalah seorang Cina dan Trini seorang latin. Ini untuk menghindari seorang Negro menjadi Ranger hitam dan seorang Cina menjadi Ranger kuning (Orang Amerika menyebut kulit orang- orang Cina sebagai berkulit kuning). Selain mereka, Billy dirubah dari orang bule menjadi orang negro. Tapi perubahan warna kulit, bagi saya pribadi bukan merupakan hal yang cukup mengganggu. Apalagi jika mengikuti franchise tersebut sudah paham bahwa tim Power Rangers dari seri apapun pasti memiliki ras yang berbeda. Tidak semuanya orang bule.

5

Jika membicarakan kekurangan film ini, seperti yang saya sebutkan tadi, terdapat pada penggarapan adegan aksinya. Oke, memang tujuannya untuk memfokuskan film kepada pengenalan tokoh dan pembentukan karakter. Namun bukan berarti, adegan aksi harus dianaktirikan. Adegan aksi yang langsung memborbardir sebagai klimaks film terasa terlalu singkat. Selepas adegan- adegan aksi yang, saya nilai terlalu melempem, perasaan yang timbul seperti “Hah? Gitu doang?”. Seharusnya Lionsgate bisa lebih serius dalam menggarap koreografi pertempurannya. Bahkan jika dibandigkan dengan serial TV-nya, saya masih cukup terhibur dengan adegan aksi dari serial TVnya. Kemudian yang cukup mengganjal adalah ukuran Zord, yang bagi saya kurang besar. Apalagi mengingat dari materi promo posternya, kita sempat ditipu dengan ukuran Zord yang digambarkan cukup besar, namun aslinya di film cuma segitu aja.

5

Secara garis besar, Power Rangers sukses menjadi sebuah origins movie yang berfungsi untuk meletakkan landasan bagi franchise yang direncanakan akan memiliki 6 film ini (amiin…). Namun sebagai sebuah sajian film superhero, masih kurang banyak. Khususnya dari penggarapan adegan laga. Jika memang secara skenario bisa lebih dewasa, seharusnya untuk adegan aksi laga juga bisa dibuat jauh lebih keren dan dewasa dibandingkan versi TVnya. Namun kita sebagai penonton, diberikan ekstra musik pengiring yang super keren banget. Terutama remake dari beberapa tembang lawas. Saya berharap di sekuel- sekuel berikutnya, Lionsgate akan lebih bisa mengajak cast- cast asli untuk menjadi cameo, atau mungkin diberikan peran pembantu di filmnya. Bukan hanya menampilkan 2 pemeran asli sebagai cameo seperti di film pertamanya ini saja. Oya, jangan segera beranjak, karena akan ada mid credit scene. Tunggu aja. Gak lama kok. Gak bakal bikin tukang sapu bioskop bengong- bengong bete di kursi depan kaya nonton Avengers. (dnf)

Rating:

7/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Logan (2017)

Poster

Directed By: James Mangold

Cast: Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen, Boyn Holbrook, Stephan Merchant, Elizebeth Rodriguez, Richard E. Grant

Synopsis:

Tidak jauh di masa depan, di mana mutant sudah jarang ditemukan dan anggota X-Men sudah mati atau hilang ditelan bumi, Logan (Hugh Jackman) mengasingkan diri sambil merawat Charles Xavier (Patrick Stewart) dengan bantuan Caliban (Stephan Merchant). Logan mengumpulkan uang untuk bisa membeli perahu dan tinggal di lautan bersama sang profesor. Namun ketenangan mereka diusik ketika seorang suster bernama Gabriela (Elizabeth Rodriguez) mendatanginya untuk meminta perlindungan bagi seoran anak kecil bernama Laura (Dafne Keen) yang menjadi incaran para Reavers, cyborg yang dipimpin oleh Donald Pierce (Boyd Holbrook). Ternyata Laura bukanlah sembarang anak kecil, namun memiliki sebuah rahasia yang bisa membuat Logan merasakan menjadi manusia lagi.

Review:

1

Tidak dipungkiri lagi, Hugh Jackman merupakan salah satu nilai jual tertinggi bagi Saga X-Men. Dibuktikan dengan wajahnya menjadi satu- satunya yang muncul di setiap judul filmnya. Bahkan untuk Deadpool, meski hanya berbentuk print out saja. Aktor yang bisa disandingkan dengan Robert Downey Jr. di MCU ini memang sangat beruntung. Mendapatkan peran salah satu mutant favorit dari tangan Dougray Scott, yang saat itu lebih memilih menjadi musuh Tom Cruise merupakan sebuah anugerah terbesar dalam karirnya. Keberuntungan juga datang ketika para fans ternyata puas dengan performa Jackman yang mampu menampilkan sosok Wolverine yang ganas dan brutal. Belum lagi tampilan Jackman yang bisa juga jadi daya tarik bagi penonton wanita yang terpaksa harus menemani pacarnya nonton X-Men.

3

Setelah kesuksesan Deadpool yang meski mengusung rating R, namun cukup memberikan keuntungan yang cukup tinggi, Fox merasa bahwa mereka harus menggunakan treatment yang sama untuk film solo ketiga Wolverine ini. Mengingat karakterisasi sang tokoh yang aslinya cukup brutal di komik. Dan memang dengan meningkatkan kadar violence cukup tinggi, membuat film ini jauh lebih menghibur ketimbang dua fim pendahulunya yang memilih rating PG-13. Cerita yang diambil dari storyline Old Man Logan dengan sedikit unsur Death of Wolverine memang cukup kuat, khususnya dalam menggambarkan Wolverine yang sudah tua dan tidak seprima dulu. Hal ini sebenarnya cukup bagus, mengingat raut wajah Jackman yang semakin tua dan tidak semulus di film X-Men dulu. Setidaknya lebih masuk akal dengan karakterisasi di film. James Mangold yang ikut turun langsung dalam penulisan naskah, mampu membuat cerita yang solid dan cukup manusiawi.

4

Ketika menyaksikan film Logan, feel yang didapat bukanlah menyaksikan film superhero. Tapi seperti menyaksikan film action seperti Jason Bourne, Mad Max, atau James Bond versi Daniel Craig. Tema cerita pun memiliki nuansa western yang cukup kental. Terlebih dalam menggambarkan kisah redemption seorang legend. Unsur drama yang dimasukan untuk menggambarkan sisi manusiawi Logan, cukup baik dan tidak membuat film menjadi terlalu dragging. Pemilihan jajaran cast juga cukup bagus. Boyd Holbrook yang cukup akrab bagi penonton Narcos, memang lebih cocok menjadi villain seperti dalam film Run All Night ketimbang menjadi protagonis seperti di film seri yang menceritakan sepak terjang Pablo Escobar itu. Sebagai aktris cilik, Dafne Keen mampu mengungguli Hugh Jackman. Dirinya mampu menjadi scene stealer karena menggabungkan pesona lugu anak kecil dan kebringasan seorang pembunuh terlatih. Mengingatkan kita kepada Chloe Moretz dalam Kick- Ass.

2

Sayangnya keputusan Jackman yang menyatakan akan berhenti memerankan Wolverine sempat membuat para fans kecewa. Banyak spekulasi yang menyebutkan bahwa X-Men akan di reboot lagi atau akan ada pemain baru yang menggantikan sosok Jackman sebagai sosok Wolverine. Sangat susah membayangkan ada aktor lain yang memerankan tanpa harus me reboot dari awal semua universe X-Men. Ditambah lagi Patrick Stewart yang juga mengumumkan dalam suatu wawancara bahwa film Logan merupakan penampilan terakhir dirinya sebagai Professor X. Belakangan Jackman mengerluarkan statement bahwa dirinya bersedia menggunakan cakar adamantium lagi jika Wolverine menjadi bagian dari MCU. Suatu hal yang cukup sulit, mengingat Fox cukup tambeng dalam mempertahankan hak film karakter- karakter X-Men. Meskipun fans mengharapkan studio ini akan luluh dan mengikuti jejak Sony untuk share dengan Disney. Or at least Wolverine- nya aja. (dnf)

Rating:

9/10

 

Suicide Squad (2016)

Harley Quinn: We’re bad guys. That’s what we do.

Poster

Directed By: David Ayer

Cast: Will Smith, Margot Robbie, Joel Kinnaman, Viola Davis, Karen Fukuhara, Jai Courtney. Adewale Akinnuoye- Agbaje, Jared Leto, Jay Hernandez, Cara Delevingne, Ike Barinnholtz, Ben Affleck, Scott Eastwood

Synopsis:

Amanda Waller (Viola Davis) adalah seorang petinggi di agensi pemerintahan yang menyelidiki perihal eksistensi metahuman (atau manusia yang memiliki kekuatan khusus). Dia memiliki wacana untuk membentuk sebuah kesatuan yang bernama Task Force X yang tediri dari penjahat- penjahat dengan kemampuan di atas manusia normal yaitu: Enchantress/ June Moone (Cara Delevingne), Deadshot/ Floyd Lawton (Will Smith), Harley Quinn/ Harleen Quinzel (Margot Robbie), Captain Boomerang/ Digger Harkness (Jai Courtney), El Diablo/ Chato Santana (Jay Hernandez), Killer Croc/ Waylon Jones (Adewale Akinnuoye- Agbaje), dan Slipknot/ Christopher Weiss (Adam Beach).

Ketika Enchantress berhasil kabur dari pengawasan Rick Flag (Joel Kinnaman), bawahan Waller yang bertugas untuk mengawasi gerak- gerik Task Force X di lapangan, yang juga kekasih June, pemerintah memerintahkan Amanda untuk mengaktifkan para anggota lainnya untuk menangkap Enchantress yang telah bekerja sama dengan kakaknya, Incubus untuk memusnahkan umat manusia. Rick Flag pun ditugaskan kembali untuk mengawasi para anggota lapangan dengan dibantu oleh Katana/ Tatsu Yamashiro (Karen Fukuhara) yang menjadi “bodyguard” bagi Flag.

Namun ancaman bagi Task Force X bukan hanya datang dari Enhantress belaka, namun juga dari The Joker (Jared Leto) yang menggunakan berbagai macam cara untuk membebaskan Harley Quinn, kekasihnya.

Review:

suicide-squad-movie-2016-katana-karen-fukuhara-1024x512

Bisa dikatakan Marvel sekarang telah menjadi baromoter dan trend setter sendiri bagi film bergenre superhero. Berbeda dengan beberapa dekade sebelumnya, di mana kubu lawan, DC Comics unggul dalam film- film adaptasi komiknya. Namun entah karena takut, atau tidak pede, ide untuk menyatukan para jagoan utamanya dalam sebuah film Justice League, malah “dicuri” oleh Marvel dengan membuat landasan yang rapi untuk sebuah franchise yang disebut sebagai Marvel Cinematic Universe. Merasa kebakaran jenggot, DC, yang telah telah beberapa tahun langsung tancap gas dengan mengumumkan beberapa proyek filmnya ke depan pada acara Comic Con beberapa tahun lalu. Di antara jajaran film yang diumumkan, Suicide Squad-lah yang seakan memberikan janji manis untuk mengangkangi eksistensi MCU. Pasalnya premis yang disebutkan adalah menggambarkan jagoannya adalah barisan para penjahat dari anggota Justice League. Hal ini memang sudah biasa di dunia komik, di mana para penjahat populer diberikan satu seri komik tersendiri di mana alur cerita mengharuskan dirinya menjadi karakter protagonis. Namun untuk dunia film genre superhero, ini adalah hal baru. Sebenarnya jika seandainya film Sinisters Six jadi dibuat oleh Sony, bisa menyaingi kisah Suicide Squad ini.

2

Materi promosi yang begitu gencar sekaligus barisan trailer dan TV Spot yang ternyata bukan hanya direspon positif oleh fans DC, namun juga oleh fans awam yang langsung menjadikan film Suicide Squad masuk ke daftar tunggu, membuat kepopuleran film ini menjadi meningkat. Belum lagi animasi Assault on Arkham yang sangat bagus dan memberikan gambaran sesuai untuk Suicide Squad mendekati komiknya, digemari oleh berbagai golongan penonton.  Namun ternyata materi promosi yang nyaris sempurna tersebut menjadi bumeran tersendiri bagi filmnya. Ekspektasi yang terlalu tinggi malahan menjadikan film ini sedikit banyak melahirkan banyak kekecewaan. Meskipun sebenarnya secara sajian hiburan masih cukup menghibur, tetapi jika dibandingkan dengan ekspektasi yang sudah kadung tinggi, film ini justru kurang begitu greget.

suicidesquad.0.0

Oke, sebelum menyebutkan apa saja yang mengecewakan, saya coba menjabarkan apa saja nilai positif dari film ini. Pertama sudah tentu barisan aktor- aktris yang terpilih untuk merepresentasi karakter- karakter komiknya. Acungan jempol paling banyak patut kita berikan kepada Margot Robbie. Bahkan jika dibandingkan dengan Jared Leto, penampilan Robbie lebih mendekati bayangan Harley Quinn, bagi yang mengikuti komiknya. Campuran antara kegilaan dibalik sosok Harleen Quinnzel yang naif bisa dimainkan dengan apik oleh aktris yang belakangan lagi naik daun ini. Hampir dipastikan setiap penampilannya mampu mencuri perhatian. Bisa jadi karakter Harley Quinn akan meningkat kepopulerannya bagi para penonton awam. Dan film solonya sendiri sudah dipastikan akan hadir, dengan Robbie yang akan memproduseri secara langsung. Berikutnya adalah Joel Kinnaman yang nyaris sempurna memerankan Rick Flag dan Cara Delevigne sebagai Enchantress yang tampilannya cukup mengerikan. Didaulat sebagai garda terdepan sekaligus pendongkrak box office, bagi saya pribadi Will Smith (sesuai ekspektasi) fail sebagai Deadshot. Deadshot yang hadir di film ini tipikal another-will-smith-character dan bukannya Floyd Lawton yang mampu menggambarkan aura seorang pembunuh bayaran nomor satu. Bahkan Will Smith di film ini lebih mirip seperti Mike Lowrey di dwilogi Bad Boys.

4

Jared Leto sudah pas berperan sebagai The Joker. Namun performance-nya belum mampu menyaingin Heath Ledger atau Jack Nicholson. Oke, secara akting, aktor kelas Oscar ini telah mampu memberikan gambaran The Joker yang berbeda. Namun memang bebannya di film ini paling berat, mengingat keseluruh aktor yang sempat memerankan peran ini, baik Nicholson, Ledger, Cesar Romero, atau Mark Hamill sekalipun telah memberikan gambaran sempurna akan sosok badut psikopat itu dan mampu memberikan touch berbeda di antaranya. Dan jika mengingat bebannya yang terlalu berat, sekaligus scene appearance-nya yang tidak terlalu dominan di film ini, masih bisa dimaklumilah, sekaligus berharap di film solo Batman nanti akan lebih sempurna lagi. Penampilan Leto dan Robbie mampu menggambarkan dengan sempurna hubungan Mad Love antara The Joker dan Harley Quinn. Dan selepas film ini bisa dipastikan mereka akan menjadi the sweetest couple bagi para pecinta film superhero. Viola Davis bermain cukup menyebalkan dan sudah mampu membawakan karakter abu- abu Amanda Waller dengan sempurna. Sisa aktor- aktris lainnya, baik itu Karen Fukuhara,  Jay Hernandez, Jai Courtney, dan aktor yang namanya paling susah saya hafal dan setiap nulis harus cek google dulu, Adewale Akkinuoye- Agbaje sudah cukup blend dengan karakternya masing- masing, hanya saja memang penampilannya sekedar minor characters belaka. Terlebih karakter Killer Croc hanya sebagai karakter pengganti saja. Tadinya Ayer mau memakai karakter King Shark yang lebih dikenal sebagai anggota Suicide Squad ketimbang Croc, namun karena akan menharuskan penggunaan full CGI, maka karakter manusia hiu tersebut digantikan oleh manusia buaya.

5

Naskah merupakan salah satu kelemahan dari film ini. Ditambah dengan skill Ayer yang menurun dibandingkan film- filmnya yang lalu. Plot yang disajikan oleh film ini bisa kita pisahkan menjadi 2 bagian. Yang pertama di treat sebagai origins story dari keseluruh karakter. Character treatment merupakan hal yang cukup menonjol dari film ini. Salah satunya ada origins story masing- masing karakter yang dibuat hanya dalam beberapa menit saja. Bagian pertama ini seakan mendobrak tradisi MCU dan DCCU yang menyiapkan film solo untuk memberikan origins serta latar belakang karakter sebelum disatukan dalam sebuah film. Sebenarnya bagian pertama ini bisa dibuat lebih baik lagi. Tapi dengan apa yang sudah disajikan oleh Ayer, saya rasa sudah cukup. Bagian kedua adalah aksi para member dalam misi pertamanya bersama- sama ini. Di bagian keduanya ini, kisah yang dihadirkan sangat mirip dengan naskah video game. Di mana sekelompok tim naik helikopter, ditembak jatuh, lalu harus meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menuju tujuan misi dengan melewati beberapa rintangan dan harus menghadapi pasukan musuh. Hanya saja ketidakberaturan dalam penulisan naskah membuat bagian keduanya ini terasa hambar dan tidak rapi. Bahkan misi yang harus dijalankanpun tidak tergambar jelas, meskipun sebenarnya misi sebenarnya merupakan sebuah twist, namun tidak terasa seperti twist.

suicide-squad07

Editing adalah salah satu hal terpenting dalam film ini yang malah tidak dilakukan dengan baik. Lompatan antara scene membuat capek mata. Belum lagi dengan script yang terlalu lemah. Seakan ingin memberikan plot berlapis yang berhasi di delivery oleh Assault on Arkham, malahan dibuat hambar dengan editing yang buruk dan cara bertutur Ayer yang kurang enak. Namun untuk adegan laganya sudah disajikan cukup seru. Kesalahan fatal lainnya adalah racikan original score serta sound editing yang buruk, bahkan mengingatkan saya pada film- film kelas B atau sinetron- sinetron dengan score yang tidak mampu menghidupkan adegan yang tersaji di layar. Hambar. Untungnya barisan soundtrack yang dihadirkan, baik itu lagu yang khusus diciptakan untuk film ini maupun lagu yang sudah terkenal yang dipinjam untuk film ini, cukup memberikan feel dan meningkatkan beat setiap adegan yang diwakilkan. Tak ayal dengan skrip yang lemah, editing yang buruk, maupun score yang jelek membuat film ini tak ayal seperti film kelas B semata.

6

Ayer juga memberikan fans service yang cukup banyak di film ini. Tanpa bermaksud untuk spoiler, banyak gimmick, adegan, cameo, mid credit scene yang mengarah kepada Justice League ataupun easter egg yang ditampilkan, sudah cukup baik. Dan hal itu menjadi salah satu sisi positifnya. Suicide Squad juga semakin menjelaskan bahwa DC tidak ingin terlalu terkekang dengan komitmennya dalam film tanpa joke dan terlalu serius. Suicide Squad dipenuhi banyak joke ringan yang mampu menambahkan keasyikan tersendiri. Mungkin belajar dari BvS, yang terlalu serius. Dan lagi secara bisnis, jika bisa menghibur 1000 orang kenapa harus menghibur 100 orang? Jika bisa menghibur seluruh penonton, kenapa hanya terfokus untuk memuaskan fans sejati saja? (dnf)

Rating:

7.5/10

Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of The Shadows (2016)

Bebop: Rock…

Rocksteady: Right here, Beeps

Bebop: My man…

Poster

Directed By: Dave Green

Cast: Megan Fox, Stephen Amell, Will Arnett, Laura Linney, Tyler Perry, Alan Ritchson, Noel Fisher, Pete Ploszek, Jeremy Howard, Brian Tee, Stephen Farrelly, Gary Anthony Williams, Brad Garrett, Britanny Ishibashi, Danny Woodburn, Tony Shalhoub, Jane Wu

Synopsis:

Setelah berhasil mengalahkan Shredder (Brian Tee), keempat kura- kura ninja bersaudara; Leonardo (Pete Ploszek), Raphael (Alan Ritchson), Donatello (Jeremy Howard), dan Michelangelo (Noel Fisher) kembali menjalani rutinitasnya dengan menghindari kontak langsung dengan manusia. Kredit gelar kepahlawanan diwakilkan oleh Vernon Fenwick (Will Arnett) yang menjalani kehidupannya bak seorang selebriti.

Namun Shredder berhasil keluar dari penjara berkat bantuan Baxter Stockman (Tyler Perry), seorang pakar ilmiah. Selepas dari penjara, Shredder membuat perjanjian dengan seorang mahluk dari dimensi lain, Kraang (Brad Garrett) untuk membantunya mencari pecahan alat teleportasi yang bisa mengantar Kraang untuk memusnahkan umat manusia. Dengan dibantu oleh pakar ilmiah, Baxter Stockman (Tyler Perry), dan 2 mutant Bebop (Gary Anthony WIlliams) dan Rocksteady (Stephen Farrelly), Shredder harus bersiap mengalahkan para kura- kura yang dibantu oleh April O’Neill (Megan Fox) dan Casey Jones (Stephen Amell) yang tidak menginginkan rencana jahat tersebut terlaksana.

Review:

1

Teenage Mutant Ninja Turtles atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Kura- Kura Ninja” di Indonesia merupakan sebuah franchise yang berasal dari komik yang awalnya dibuat untuk memarodikan komik- komik tahun 80-an, salah satunya adalah Daredevil.  Di Indonesia, franchise ini dipopulerkan oleh serial animasinya yang sempat ditayangkan televisi nasional di medio akhir 80-an. Kisahnya kurang lebih menceritakan sepak terjang 4 ekor kura- kuran humanoid yang dididik oleh seekor tikus mutant dengan latihan keras ala ninja untuk melindungi kota New York dari kejahatan Shredder dan para Foot Clan- nya. Paska kesuksesan franchise Transformers, banyak franchise kartun lawas yang dibuatkan versi movie-nya. Baik itu berupa reboot ataupun adaptasi film pertamanya. Di antaranya yang akan tayang ada G.I. Joe dan Master of The Universe atau yang lebih dikenal dengan sebutan “pelem he-man”.

2

Pada tahun 2014 lalu, muncullah adaptasi Kura- Kura Ninja terbaru yang diproduseri oleh Michael Bay. Responpun beragam diterima. Ada yang menilai film ini cukup fun dan menghibur. Ada yang menilai film ini layaknya film komik masa kini, yaitu menggunakan unsur dark. Dan ada juga yang kecewa lantaran terlalu kekanak- kanakan dan disain karakternya terlalu menyeramkan buat anak- anak. Apapun itu, pendaptan box office cukup membuat pihak produser tergiur untuk menciptakan sekuelnya. Syukur- syukur nanti menjelma menjadi sebuah trilogy yang baru. Namun meskipun kursi penyutradaraan diberikan kepada orang lain, namun pengaruh Michael Bay sangatlah terasa di kedua film ini. Dan mungkin dikarenakan faktor Bay dan Megan Fox, tidak sedikit yang membanding- bandingkan film ini dengan Transformers.

3

Film ini memang murni sebagai fans service. Selain dikarenakan munculnya karakter- karakter favorit baru yang cukup legendaris di franchise-nya, seperti Kraang, Casey Jones, Baxter Stockman, dan juga yang benar- benar sangat diinginkan oleh para fans; Bebop dan Rocksteady, film ini juga cukup banyak memberikan trivia serta easter egg untuk penggemarnya. Namun sayangnya, selain menjadi daya tarik tersendiri, hal ini malah justru juga menjadi bumerang bagi filmnya. Karena hal ini malah jadi menganaktirikan karakter lainnya yang sudah lebih dulu diperkenalkan, yaitu Splinter. Dan kehadiran Kraang serta Casey Jones justru dirasa seperti tempelan belaka. Casey Jones yang memiliki trademark topeng hoki dan tongkat hoki ini malah hanya sekali menggunakannya, sehingga kemunculannya lebih ke arah untuk menciptakan love interest April O’Neill (which is gak salah juga sebenarnya) ketimbang menampilkan sosok anti hero yang suka membantu para kura- kura. Lain halnya dengan Bebop dan Rocksteady yang terasa seperti scene stealer, dan bisa dikatakan menjadi satu- satunya karakter antagonis yang cukup menarik dari sekuel ini. Jika ditilik dari banyaknya karakter, hal ini seperti hanya untuk mengejar penjualan merchandise dan action figure belaka. Sama halnya dengan franchise Transformers yang selalu kebanjiran karakter baru tapi terlalu dangkal dalam memberikan ruang untuk tampil.

4

Duet Williams dan Farrelly benar- benar bisa menghidupkan duet karakter “brawns without brains” dengan baik. Tektokan lawakannya juga cukup menghibur. Beda dengan Stephen Amell. Entah kenapa semenjak di Arrow, saya merasa dirinya kurang pas untuk beradegan laga. Sepertinya wajah serta perawakannya lebih cocok untuk genre drama romantis. Aktingnya juga kurang pas sebagai Casey Jones, di mana terlihat usaha Amell untuk menampilkan sisi slenge’an tapi tetap saja tidak bisa dan malah terlihat kaku. Penampilannya sebagai Jones, sangat jauh di bawah versi Elias Koteas, yang bagi saya pribadi sudah sangat pas di adaptasi tahun 1990 dulu. Apalagi Tyler Perry yang terlihat seperti orang bodoh. Megan Fox juga seperti hanya sekedar pemanis. Begitu juga dengan Brian Tee, yang menggantikan posisi Tohoru Masamune sebagai Shredder, tapi sayangnya tidak bisa menampilkan aura kengerian seperti yang dibawakan oleh Masamune dulu.

5

Namun bukan berarti film ini tidak berusaha untuk memberikan adegan seru. Scene di pesawat yang berlanjut di sungai Amazon bisa dikatakan akan memberikan keseruan layaknya adegan kejar- kejaran di gunung es pada film pertamanya. Oke, memang menyaksikan film macam ini tidak usah terlalu memusingkan kedalaman sebuah cerita atau naskah yang memiliki kualitas bagus. Namun jika film pertamanya sudah cukup berhasil, sineas akan dituntut untuk menghasilkan sekuel yang jauh di atas prekuelnya. Kasus TMNT ini mengingatkan saya kepada kasus Transformers, di mana seri pertamanya dinilai sangat bagus dan menarik, namun sayangnya diikuti oleh sekuel- sekuel yang mengalami degradasi kualitas. Namun menariknya masih tetap ditunggu dan orang- orang yang mencaci makin filmnya, tetap rela mengantri untuk menonton filmnya di bioskop pada minggu pertama penayangan. Out of The Shadows bukan hanya tidak menyajikan tontonan yang memiliki peningkatan kualitas, namun tidak memberikan kesan yang cukup membekas di hati. Masih ingat di film pertamanya, adegan “MC MIKEY” dicap sebagai salah satu momen paling menarik pada tahun 2014 oleh banyak penonton? (dnf)

Rating:

6.5/10

X-Men: Apocalypse (2016)

Apocalypse: Everything they built will fall. And from the ashes of their world, we’ll build a better one.

Poster

Directed By: Bryan Singer

Cast: James McAvoy, Michael Fassbender, Oscar Isaac, Jennifer Lawrence, Nicholas Hoult, Rose Byrne, Evan Peters, Josh Helman, Sophie Turner, Tye Sheridan, Lucas Till, Kodi Smith- McPhee, Ben Hardy, Olivia Munn, Alexandra Shipp

Synopsis:

10 tahun paska kejadian di film sebelumnya, dunia sudah cukup akrab dengan kehadiran para mutant. Erik Lehnserr/ Magneto (Michael Fassbender) yang menjadi buronan pemerintah terpaksa bersembunyi di Polandia, dan mengikuti nasihat sahabatnya, Professor Charles Xavier/ Professor X (James McAvoy) untuk membaur dengan manusia biasa dengan menikah dan memiliki seorang anak. Raven Darkholme/ Mystique (Jennifer Lawrence) yang dianggap sebagai seorang pahlawan dan inspirasi bagi mutant- mutant muda berkeliling dunia untuk menyelamatkan mutant- mutant muda dari kekejaman umat manusia.

Di belahan bumi lainnya, di Mesir, sekelompok pengikut ajaran kuno tengah membangkitkan En Sabah Nur/ Apocalypse (Oscar Isaac), mutant pertama dan yang terkuat di dunia. Mutant yang memiliki berpuluh macam abilities tersebut tengah merekrut mutant- mutant kuat untuk menjadi The Four Horsemen, pengikut setia sekaligus bodyguard-nya. Setelah berhasil merekrut Ororo Munro/ Storm (Alexandra Shipp), Elizabeth Braddock/ Psylocke (Olivia Munn), dan Warren Worthington III (Ben Hardy), dia bermaksud untuk merekrut Magneto, yang kala itu karena suatu peristiwa, menjadi kembali ke sifat jahatnya yang membenci manusia.

Professor X yang tengah mencari Magneto lewat cerebro, mendapat intervensi dari Apocalypse dan mengincar pemimpian X-Men tersebut untuk dijadikan alat untuk mencapai tujuannya. Kontan mutant- mutant baik lainnya yang terdiri dari Scott Summers/ Cyclops (Tye Sheridan), Jean Grey (Sophie Turner), Hank McCoy/ Beast (Nicholas Hoult), Kurt Wagner/ Nightcrawler (Kodi Smith- McPhee), Alex Summers/ Havok (Lucas Till), Peter Maximoff/ Quicksilver (Evan Peters), Agent Moria McTaggert (Rose Byrne), dan Mystique langsung berusaha untuk menyelamatkan sang profesor dari tangan Apocalypse.

Review:

1

Bisa dikatakan hanya Fox yang masih berjaya melawan tirani Marvel untuk meminta kembali hak ciptanya demi ekspansi universe MCU yang lebih besar. Meskipun telah rela mengembalikan Elektra, Daredevil, dan kemudian Fantastic Four, Fox masih memiliki X-Men yang tidak seperti Sony, masih keukueh dipertahakan untuk dipegang hak memfilmkannya tersebut. Dan ditambah lagi dengan sebuah film tunggal anti-hero banyak cakap yang meraih sukses di perayaan valentine tahun ini, Deadpool. Film pertamanya sendiri, yang dirilis tahun 2000 dianggap sebagai salah satu tonggak kebangkitan film- film Marvel, paska dikangkangi oleh film- film superhero DC selama lebih dari 2 dekade. Meskipun pada kenyataannya film Blade, yang hadir 2 tahun sebelumnyalah yang dianggap para fans sebagai cikal bakal kebangkitan Marvel.

_1444660775

Sempat mendapatkan respons negatif lewat jilid ketiganya, dikarekanan sang pimpinan proyek lebih memilih untuk menyebrang kubu dan menyutradarai Superman Returns, pihak Fox sempat berencana untuk mengubah strateginya dengan memfilmkan origins dari 2 karakter intinya. Yang pertama Wolverine dan Magneto. Wolverine yang mendapatkan kehormatan untuk lebih dulu dibuat stand alone-nya mendapatkan respon yang kurang memuaskan, meskipun secara keseluruhan bagi saya pribadi sudah cukup menghibur. Hal ini membuat Fox merubah strategi dengan menyulap film yang tadinya akan menjadi origins Magneto menjadi cikal bakal hubungan frenemies antara Magneto dan Professor X lewat X-Men: First Class. Yang menarik dari sini adalah kehadiran First Class mempertanyakan eksistensi film- film sebelumnya. Ada yang mengatakan ini adalah alternate version, ada yang mengatakan ini adalah reboot, ada juga yang mengatakan ini adalah blunder Fox karena tidak bisa membuat sebuah kontinuitas cerita keseluruhan sebuah franchise. Whatever it is, yang pasti sepertinya Fox ingin melupakan eksistensi film ketiga, yang juga disindir di film ini lewat dialog masalah episode keenam Star Wars.

x-men-apocalypse-quicksilver-evan-peters

Setelah diberikan hint mengenai kelanjutan sekuel Days of Future Past bahwa musuh yang akan dihadapi tim X-Men berikutnya adalah Apocalypse, fans merespons dengan cukup positif. Pasalnya Apocalypse dianggap sebagai salah satu mutant terkuat dan tertua yang pernah ada yang menjadi salah satu villain terbesar di ranah komik Marvel. So, di atas kertas, proyek ini sudah cukup menjanjikan. Hanya saja permasalahannya adalah siapakah aktor yang cukup mampu memanggul beban seberat itu? Oscar Isaac yang cukup memukau lewat The Force Awakens ternyata kurang bisa menghidupkan karakter ini. Di tangannya, karakter yang seharusnya bisa membuat bulu kuduk berdiri ini hanya menjelma menjadi just another villain saja. Bahkan jika kita bandingkan dengan Peter Dinklage di Days of Future Past, aktor tersebut tidak cukup mampu mengalahkan performa bintang Game of Thrones, yang padahal jika dibandingkan tingkat kepopuleran dari karakter yang dimainkan masih jauh di atas Bolivar Trask yang dimainkan Dinklage. Itu juga sudah tertolong dengan tambahan polesan CGI untuk membuat tampilan Apocalypse lebih menyeramkan setelah foto pertama yang beredar di dunia maya mendapatkan hujatan dari para fans yang menilai Apocalypse jadi mirip Ivan Ooze, salah satu villain Mighty Morphin Power Rangers.

4

Namun tidak begitu dengan pemain- pemain pendukung lainnya yang baru bergabung. Ty Sheridan, Sophie Turner, Ben Hardy, Kodi Smith- McPhee, Alexandra Shipp, dan (ehem ehem) Olivia Munn. Mereka semua sudah cukup pas dan mampu menghidupkan karakternya masing- masing. Bahkan bisa melepaskan diri dari imej aktor- aktris senior yang sudah lebih dulu memainkan peran serupa di franchise ini. Hanya saja karakter Jubilee yang dimainkan oleh Lana Condor belum mendapatkan kesempatan untuk beraksi dalam film ini dan hanya tampil sebagai salah satu murid saja. Saya cukup banyak berharap sebenarnya dengan superheroine yang memiliki nama asli cukup unik ini, Jubilation Lee. Pasalnya di semua film X-Men perannya hanya gitu- gitu saja, padahal dirinya termasuk salah satu karakter yang cukup sering muncul di dalam komiknya.

5

Plot cerita sudah cukup rapi dan cukup kompleks dihadirkan di film ini. Kemampuan Singer yang diakui sebagai Joss Wheddon-nya film X-Men mampu memberikan alur yang enak untuk dinikmati, meskipun filmnya termasuk cukup panjang. Hanya saja jika dibandingkan dengan Days of Future Past cerita film ini belum terlalu kuat. Salah satunya adalah mengapa Apocalypse tidak melibatkan pengikut- pengikut setianya yang sudah berabad- abad membangkitkan dirinya dan rela mati demi dirinya? Atau mengapa Mystique hanya menyelamatkan Nightcrawler dan meninggalkan Angel ketika keduanya ditangkap manusia? Pertanyaan- pertanyaan tersebut membuat jalinan cerita yang sudah enak dinikmati ini memiliki batu yang mengganjal. Namun Singer sudah cukup baik dengan memberikan fans service di sana sini. Seperti cameo Blob, trivia- trivia seperti nasib Jean Grey yang nantinya akan menjadi Phoenix, sampai ending film yang benar- benar memanjakan para fans komiknya dengan…. (ah ditonton aja nanti spoiler). Termasuk menghadirkan Wolverine, yang sayangnya sudah terlanjur dikeluarkan di trailer, padahal berpotensi untuk menghadirkan surprise. Namun di luar kekurangajaran franchise ini yang biasa merubah fakta villain menjadi hero dan hero menjadi villain di film, Singer sudah cukup mampu menampilkan Cyclops menjadi salah satu karakter utama film dan bukannya Wolverine.

6

Secara keseluruhan X-Men: Apocalypse menjadi sebuah tontonan yang cukup menghibur. Apalagi Singer memberikan tambahan freeze scene yang menggambarkan kekuatan dan slengean-nya Quicksilver yang menjadi salah satu adegan terbaik di Days of Future Past. Bisa dibilang adegan yang coba dikreasikan ulang lagi di film ini tersebut merupakan salah satu adegan paling menarik. Hanya saja, bagi saya pribadi nampak freeze time- nya terlalu lama. Dan jika berbicara masalah special effect, film ini cukup royal dengan tampilan CGI yang malahan jadi cenderung overused. Namun hal tersebut masih bisa dimaklumi untuk film bergenre ini. Dan jangan lupa untuk tetap di bangku anda. Karena layaknya film- film superhero Marvel, stinger yang memberikan gambaran sedikit cerita film berikutnya dihadirkan dan kali ini Singer menghadirkan di ujung credit. (dnf)

Rating:

8/10

Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)

Superman: Next time they shine your light in the sky, don’t go to it. The Bat is dead. Bury it. Consider this mercy.

Batman: Tell me. Do you bleed? You will!

Poster

Directed By: Zack Snyder

Cast: Henry Cavill, Ben Affleck, Gal Gadot, Jessee Eisenberg, Michael Shannon, Holly Hunter, Diane Lane, Scott McNairy, Callan Mulvey

Synopsis:

Dalam pertarungan antara General Zod (Michael Shannon) dan Superman (Henry Cavill) di ending Man of Steel, banyak pihak yang mengalami kerugian. Baik materil, moril, maupun kerugian jiwa. Salah satunya adalah Bruce Wayne (Ben Affleck) yang salah satu perusahaanya hancur lebur akibat pertempuran tersebut.

18 bulan kemudian, banyak masyarakat Metropolis yang mulai antipati dengan Superman. Menanggapi hal ini, salah seorang multimiliyader jahat bernama Lex Luthor (Jessee Eisenberg) menawarkan rencana untuk mengalahkan Superman dengan menggunakan sebuah pecahan batu mineral dari kapal General Zod yang bisa melumpuhkan manusia Krypton. Bruce Wayne di lain pihak yang sudah lebih dari 20 tahun melindungi kota Gotham sedang menyelidiki keterlibatan seorang tentara bayaran bernama Anatoli Knyazev (Callan Mulvey) yang disinyalir terlibat dalam pengiriman sebuah kargo berbahaya. Ternyata Knyazev dan Luthor terlibat satu sama lainnya. Bruce pun kerap bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Diana Prince (Gal Gadot) yang memiliki agenda tersendiri terhadap Luthor.

Review:

1

Jauh sebelum berjayanya MCU yang telah memberikan wajah baru dalam dunia perfilman Hollywood, sebenarnya DC Comics telah lebih dulu berjaya. Bahkan jika ditilik lebih jauh, rencana menggabungkan lebih dari 1 superhero telah ada lewat proyek Justice League dan Batman vs Superman yang entah kenapa mandek dan berhenti tanpa ada kabar lebih lanjut. Kalau asumsi saya pribadi, ini dikarenakan hak memfilmkan karakter- karakter DC Comics eksklusif dipegang oleh Warner Bros, sementara karakter- karakter Marvel ditawarkan terbuka untuk difilmkan oleh studio manapun yang berminat untuk membeli hak filmnya. Sehingga paska kegagalan yang bertubi- tubi lewat Batman & Robin dan Catwoman yang dihujat habis- habisan oleh fans, Warner Bros terlihat tidak berani untuk melanjutkan rencana penggabungan superhero dalam satu film tersebut. Namun setelah melihat kesuksesan trilogi The Dark Knight sekaligus kesuksesan sang pesaing lewat Cinematic Universe-nya membuat petinggi Warner Bros memberikan lampu hijau untuk proyek DC Extended Universe yang dimulai 2013 lewat Man of Steel.

1

Man of Steel mendapatkan mixed review dari berbagai macam kalangan. Pasalnya pakemnya yang ingin membuat tone filmnya menjadi cenderung dark dan lebih gelap agak kurang bisa diterima bagi non fanboy yang notabene sudah terbiasa dengan film- film Marvel yang cenderung lebih ringan dan family friendly. Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi, karena melihat hasil akhir yang dibawa oleh BvS: DoJ sendiri sebenarnya lebih mengarah untuk memuaskan para fans. Khususnya mereka yang sudah terbiasa dengan universe komik DC. Sehingga tanggapan negatif sudah pasti akan datang dari berbagai kalangan. Sebagai sebuah fans service, BvS: DoJ telah berhasil menjalankan misinya dengan baik. Dari mulai disain karakter, tone warna, sampai beberapa adegan reka ulang panel komik dari storyline- storeyline DC Comics yang populer berhasil memanjakan para fans yang benar- benar hardcore fans (bukan mereka yang ngaku- ngaku ngerti dan suka baca komik padahal komik juga cuman 1-2 yang dibaca… sama aja kaya saya sekali dua kali pernah nonton sepakbola tapi lantas tidak langsung otomatis menasbihkan diri menjadi seorang sportsfan). PS: Tidak mungkin ada fanboy yang tidak girang melihat scene superhuman footage.

3

Dari segi plot kisah sebenarnya sudah rapi tertuang dari goresan tangan David S. Goyer dan Chris Terrio sudah cukup baik untuk membuka pintu bagi kemungkinan adanya kisah Justice League. Hanya saja eksekusi akhirnya menjadi terlihat terlalu padat dan jujur agak dragging hingga 2/3 film. Dan hal ini sebenarnya menjadi salah satu batu ganjalan yang cukup signifikan. Mungkin memang Snyder masih belum mampu diberikan beban tanggung jawab proyek yang berskala besar seperti ini. Jika ingin dibandingkan dengan Nolan yang cukup mampu meracik plot yang cukup berat menjadi sebuah sajian film yang mengibur, bukan hanya bagi fans Batman saja. Namun juga bagi para penonton awam, dan bahkan bisa menciptakan fanbase baru. Kepenuh sesakan plot cerita sebenarnya didasari oleh kejar target untuk memberikan landasan kisah yang cukup kuat untuk nantinya memungkinkan adanya film Justice League. Sehingga hal ini mengorbankan ritme kisah yang cenderung membosankan bagi sebagian besar orang.

4

Kredit tersendiri patut disematkan kepada Patrick Tatopoulos yang dengan sukses mendesain berbagai macam atribut universe, khususnya gadget Batman serta batwing dan batmobile. Sinematografi juga cukup apik, apalagi dalam menggambarkan gloomy serta dahsyatnya pertarungan final yang digambarkan sangat komik dan cukup seru. Ketiga adalah Hans Zimmer yang berkolaborasi dengan Junkie XL yang telah berjasa besar memberikan sentuhan musik yang benar- benar memberikan nyawa tersendiri bagi filmnya. Namun jika ingin membicarakan nilai buruk dari film ini salah satunya adalah editing yang sangat sangat tdiak rapi dan terlihat terlalu terburu- buru.

5

Dari jajaran casting, terdapat 2 nama yang menurut saya paling berjasa besar bagi film ini. Yaitu Ben Affleck dan Gal Gadot. Mereka berdua berhasil membuktikan kalah pilihan yang jatuh ke tangan mereka adalah sebuah keputusan yang tepat. Affleck menjelma menjadi karakter Batman yang brutal dan bad ass. Perpaduan antara apa yang ada di franchise game Arkham dan hasil imajinasi Frank Miller. Dan Batfleck adalah Batman yang memiliki fighting style terkeren sepanjang sejarah perfilman. Gadot berhasil memberikan sentuhan perpaduan antara gambaran seorang pejuang wanita dengan seorang lady, hal ini memang pas untuk seorang Wonder Woman, belum lagi pada saat kemunculannya dalam kostum Wonder Woman pertama kali di film yang berpadu sempurna dengan score dari Zimmer yang benar- benar sangat baik dan bisa dikatakan salah satu scene terbaik dari film ini. Cavill mengalami degradasi akting dibandingkan Man of Steel. Permainan emosinya kurang dapat, padahal dalam film ini seharusnya digambarkan Superman sedang dalam keadaan yang dilematis, namun akting Cavill cenderung datar. Amy Adams semakin terlihat tua, entah kenapa dari awal dia yang terpilih menjadi Lois Lane mengingat keterpautan usia yang sangat jauh dengan Cavill. Di Man of Steel, balutan make up bisa menipu usianya, namun di sini terlihat sangat tua. Irons bagus dan mampu memberikan sosok Alfred yang berbeda. Eisenberg yang saya rasa kurang pas jadi Luthor. Sepertinya aktinya agak ke Joker- Joker-an dan malah menurut saya lebih cocok menjadi The Riddler ketimbang seorang Lex Luthor. Apalagi mengingat dia akan di set menjadi villain utama di DCEU. Rasanya seharusnya ada aktor lain yang lebih pas dibanding dia.

6

Seperti saya bilang di awal, BvS: DoJ merupakan sebuah film yang memang diperuntukan bagi hardcore fans yang sudah terbiasa mengikuti komik- komik DC. Namun gaya bercerita Snyder terlalu membosankan bagi penonton awam. Seharusnya dia bisa menggali lebih dalam lagi dan lebih memperhatikan bagaimana penonton awam bisa menyaksikan film ini dengan lebih antusias. Untuk gimmick 3D, sudah sangat baik meski layar yang cenderung jadi lebih gelap membuat lebih baik disaksikan di layar 2D, jika mau 3D mending ke IMAX. Namun Snyder telah memberikan fans service yang cukup dahsyat. Terlebih ketika Trinity berkumpul dalam satu scene melawan Doomsday. So, what are you? A fanboy who actually digs comic book so much or just an ordinary moviegore who needs some pop corn movie? (dnf)

Rating:

7/10

Deadpool (2016)

Colossus: I’m gonna take you to the Professor

Deadpool: Stewart or McAvoy?

Poster

Directed By: Tim Miller

Cast: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, Ed Skrein, T.J. Miller, Gina Carano, Brianna Hildebrand, Stefan Kapicic, Greg Lasalle, Stan Lee

Synopsis:

Wade Wilson (Ryan Reynolds) adalah mantan pasukan khusus yang mempergunakan keahliannya sebagai tukang pukul. Hidupnya terasa sempurna dengan hadirnya Vanessa Carlysle (Morena Baccarin), seorang PSK yang menjadi kekasihnya. Namun setelah dirinya divonis mengindap kanker ganas, kehidupan Wade terasa berubah 180 derajat. Ancaman kematian bisa datang kapan saja. Namun sebuah harapan mulai hadir setelah Wade ditawari sebuah program ilegal yang mampu menyembuhkan penyakitnya.

Ternyata program, yang dipimpin oleh Ajax (Ed Skrein) tersebut ditujukan untuk menciptakan mutant baru untuk dijual ke penawar tertinggi. Memang, penyakit Wade sembuh, dan Wade mendapatkan kemampuan super yang memungkinkannya untuk menyembuhkan dan menumbuhkan ulang sel- selnya yang rusak. Dalam arti kata, Wade menjadi susah mati. Hanya saja, secara fisik, Wade menjadi rusak parah.

Wade yang berhasil kabur, kemudian mencari Ajax untuk memperbaiki kondisi fisiknya. Ajax dibantu oleh tangan kanannya, Angel Dust (Gina Carano), sementara Wade, yang kemudian menamakan dirinya Deadpool, dibantu oleh 2 anggota X- Men, Colossus (Stefan Kapicic/ Greg Lasalle) dan Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand).

Review:

1

Di ranah industri komik, karakter Deadpool merupakan salah satu karakter favorit yang mungkin kurang begitu dikenal non fanboy, namun bagi para penggila komik, namanya sudah memiliki daya tarik sendiri. Pasalnya, berbeda dengan karakter- karakter komik lainnya, karakter Deadpool, yang digambarkan memiliki perpaduan antara violence dan komedi, mendobrak industri komik dengan gaya narasinya yang breaking the fourth wall. Maksudnya di sini adalah, Deadpool kerap berbicara dan berinteraksi dengan pembacanya. Hal ini disebabkan bahwa Deadpool memiliki kepribadian yang aneh yang membuatnya berfikiran bahwa dirinya adalah seorang karakter komik, dan petualangannya tidak lain dan tidak bukan merupakan plot cerita komik serialnya. Sehingga hal ini sering membuat bingung karakter komik yang diceritakan sedang berbagi panel dengannya.

2

Deadpool sendiri merupakan hasil dari buah pemikiran kolaborasi duo Rob Liefeld dan Fabian Nicieza. Jika Liefeld bertanggung jawab dalam membuat nama karakter dan disain karakternya, Nicieza bertangung jawab dalam memberikan kepribadian unik sang anti-hero. Disain karakter Liefeld yang tanpa sengaja dipengaruhi oleh kecintaannya terhadap serial Teen Titans, membuat Nicieza menyadari kemiripan antara karakter tersebut dengan Deathstroke, sehingga tercetuslah nama Deadpool dan alter-egonya, Wade Wilson yang juga merupakan plesetan dari Slade Wilson, nama asli Deathstroke. Bahkan Nicieza sempat berkelakar bahwa Slade dan Wade adalah 2 saudara yang memiliki hubungan cukup jauh. Satu hal yang tidak mungkin karena keduanya diproduksi oleh 2 publisher raksasa komik yang saling bersaing, DC dan Marvel.

3

Sebenarnya ini bukanlah kali pertama karakter Deadpool (Wade Wilson- red) diangkat ke layar kaca. Pada tahun 2009, di dalam film spin- off, X- Men Origins: Wolverine, Wade Wilson sempat muncul menjadi salah satu karakter pembantu. Namun seiring jalannya cerita, Wilson bukan menjelma menjadi Deadpool, melainkan menjadi Weapon XI. Namun para fans cukup suka dan menilai penampilan Ryan Reynolds sebagai Deadpool sangatlah pas. Meskipun keputusan studio untuk karakter tersebut dihujat para fans. Sejak saat itu, rencana proyek film ini sempat terkatung- katung. Dan Reynolds pun merupakan salah satu pihak yang sangat keukeuh untuk mengangkat Deadpool menjadi sebuah film stand- alone. Hingga akhirnya pada Januari 2012, Reynolds memfilmkan dirinya dalam sebuah footage untuk meyakinkan pihak studio. Footage yang akhirnya dipost online pada 1 Agustus 2014 tersebut mendapatkan respon yang sangat luar biasa dari kalangan fans. Sehingga lampu hijau langsung dinyalakan oleh para pembesar Fox.

4

Reynolds benar- benar membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi Deadpool. Hal ini sebenarnya juga menjadi pengobat paska keterpurukan film Green Lantern yang dibintangi olehnya. Selain mantan suami Black Widow tersebut, nama- nama pemeran pendukung lainnya juga tidak kalah apik dalam membawakan karakter. Tercatat ada 3 nama yang menurut saya sangat baik dalam berperan di film ini. Pertama adalah Briana Hildebrand yang cukup mencuri perhatian dengan memadukan unsur gothic-rebellious-skinhead-teenager nya dengan aura bad- ass yang cukup memukau. Kemudian ada Morena Baccarin yang bisa menetralisir unsur testoteron dengan penampilannya yang dimaksudkan untuk memancing sisi melankolis dari Deadpool. Kemudian ada Ed Skrein, yang ternyata lebih cocok jadi penjahat ketimbang meneruskan tongka estafet Frank Martin dari tangan Jason Statham. Hanya saja karakter Colossus yang sempat tampil di dua film X- Men, di film ini tampak bodoh. Penggambaran karakternya yang naif dan polos malah cenderung membuat dirinya seperti seorang mindless muscle henchman. Penampilannya di film ini mengingatkan saya kepada karakter Bane di versi Batman & Robin.

5

Menyaksikan Deadpool jelas merupakan perpaduan antara aksi seru, sadis, serta komedi- komedi sarkastik. Hanya saja joke- joke yang dilemparkan cenderung menyindir pop culture dan industri hiburan Amerika Serikat. Bahkan film Green Lantern, franchise X-Men, dan Ryan Reynolds sendiri menjadi target olok- olok. Joke- joke semacam ini akan sangat tepat sasaran jika anda mengerti dan mengikuti pop culture dan lebih jauh lagi, mengikuti industri hiburan film. Sehingga bagi penonton awam, joke- joke cerdas tersebut terasa garing, bahkan mungkin tidak sadar itu adalah sebuah joke. Contoh seperti ketika Deadpool mau dibawa menghadap Professor X oleh Colossus, dia menanyakan Professor X versi James McAvoy atau Patrick Stewart. Lebih jauh lagi dia juga menyindir kesulitan untuk mengerti timeline franchise X-Men yang semakin hari semakin rumit.

6

Tim Miller, sebagai sutradara yang masih cukup hijau dinilai cukup sukses dalam memfilmkan Deadpool. Sehingga bagi Fox sendiri, ini merupakan sebuah persembahan permintaan maaf yang manis paska telah menodai Fantastic Four tahun lalu dengan sebuah prestasi buruk, dan bahkan dicap sebagai salah satu film superhero terburuk yang pernah ada. Janganlah lagi membebani diri anda dengan masalah plot cerita yang murahan atau naskah yang buruk. Karena inti dari film ini adalah seru- seruan semata. Jika saya ingin membandingkan film ini mungkin bisa disamakan dengan Expendables 2. Dalam arti dari segi violence, aksi, dan joke- joke sindiran pop culture dan industri hiburan. Dan jangan lupa menyaksikan film ini sampai akhir, karena akan ada after credit scene yang sangat menarik sekaligus hint mengenai kelanjutan film ini.

7

Film Deadpool sudah jelas akan disesaki dengan berbagai macam adegan laga yang akan menjadi sasaran empuk pihak sensor. Dan memang, cukup banyak adegan yang disensor dari film ini. Bahkan tidak sedikit penonton dan fanboy yang kecewa dengan keputusan LSF untuk mensensor beberapa adegan dari film ini. Tapi seharusnya kita masih bersyukur. Karena di negara Cina, bahkan film ini dilarang beredar. Kita masih bersyukur tidak harus menggunakan paspor untuk hanya menyaksikan film ini. Dan sebagai pengingat film ini diperuntukkan untuk dewasa. Karena karakter Deadpool juga memang diciptakan untuk reader dewasa. Mungkin masih banyak di luar sana, orang tua yang berfikiran dangkal yang masih men-generalisir bahwa semua film superhero untuk anak- anak. Bahkan tidak sedikit pihak- pihak, termasuk Fox sendiri yang membuat campign untuk melarang orang tua membawa anak kecilnya menonton film ini. Ya, semoga kita semua termasuk orang tua smart yang membawa anak kita menyaksikan film sesuai rating dan batasan usianya. Chimichanga! (dnf)

Rating:

8.5/10