Goosebumps (2015)

R.L. Stine: Hello, my name is R.L. Stine. Every story ever told can be broken into three parts. The beginning. The middle. And the twist.

Poster

Directed By: Rob Letterman

Cast: Jack Black, Dylan Minnette, Odeya Rush, Ryan Lee, Amy Ryan, Jillian Bell

Synopsis:

Zach (Dylan Minnette) dan ibunya, Gale (Amy Ryan) pindah ke sebuah kota kecil untuk memulai hidup baru paska kematian sang ayah. Dia bertetangga dengan seorang gadis cantik bernama Hannah (Odeya Rush) yang memiliki ayah yang penyendiri dan protektif, R.L. Stine (Jack Black). Sang ayah adalah seorang penulis terkenal yang menciptakan serial horor remaja bernama Goosebumps.

Ketika sedang menyelidiki kejanggalan sang tetangga, Zach yang dibantu oleh temannya, Champ (Ryan Lee), tanpa sengaja membuka skrip asli buku- buku Goosebumps. Dan ternyata hal tersebut membuat setiap karakter monster/ hantu/ villain yang ada di buku- buku tersebut menjadi keluar dan siap menghancurkan kota. Kini mau tidak mau, Zach, Champ, Hannah, dan Stine harus bahu membahu untuk mencari jalan keluar dan mengalahkan para monster tersebut.

Review:

1

Bagi para pecinta buku horor dan mereka yang sempat mengalami masa remaja di tahun 90-an, pasti sudah tidak asing dengan serial Goosebumps yang dulu di Indonesia sempat diterbitkan. Serial tersebut merupakan buah pemikiran dari seorang penulis bernama R.L. Stine yang populer di tahun itu. Goosebumps sendiri merupakan kumpulan cerita fiksi horor remaja yang dikarakteristikan sebagai “Scary book but also funny” oleh sang penulis. Adapun yang menjadi ciri khas dari Goosebumps adalah bahwa di setiap serinya menampilkan karakter protagonis berbeda dengan sudut pandang penceritaan dari orang pertama. Setting lokasi yang ditampilkan biasanya sebuah tempat sepi yang terisolir. Baik itu merupakan daerah pinggiran kota, kota kecil, lokasi perkemahan, ataupun hutan. Yang menjadikan novel ini menjadi salah satu kisah horor sehat remaja, jika dibandingkan dengan teen horror flick lainnya adalah Stine menjauhkan diri dari kekerasan, kematian yang sadis, sex, dan penggunaan obat terlarang. Sekaligus memiliki cerita yang pendek untuk bisa disebut sebagai sebuah novel dan tidak luput pula menyelipkan twist ending yang sangat bagus.

2

Goosebumps memiliki 67 judul buku untuk serial aslinya, termasuk beberapa judul yang cukup populer seperti, Night of The Living Dummy, Monster Blood, The Ghost Next Door, The Haunted Mask, The Ghost Next Door, The Abominable Snowman of Pasadena, Vampire Breath, The Werewolf of Fever Swamp, dan The Scarecrow Walks at Midnight. Selain menerbitkan serial utamanya, R.L. Stine juga menerbitkan beberapa serial spin- off seperti Goosebumps Series 2000, Give Yourself Goosebumps, Tales to Give you Goosebumps, Goosebumps Triple Header, Goosebumps Horroland, Goosebumps Most Wanted, dan juga menulis sebuah seri novel yang diperuntukkan bagi pembaca yang lebih tua dari target pasar Goosebumps, Fear Street. Serial ini juga menjadi salah satu trendsetter seri horor remaja yang ke depannya semakin menjamur. Termasuk kumpulan serial horor/ fantasi lokal yang ditulis oleh penulis- penulis remaja berjudul Fantasteen.

3

Film Goosebumps bukanlah kali pertama yang mengangkat serial ini ke ranah perfilman. Sebelumnya sudah ada serial berjudul sama yang ditayangkan selama 4 musim dari tahun 1995 hingga tahun 1998. Namun berbeda dengan serialnya, adaptasi film yang pertama kali dikaitkan oleh sutradara Tim Burton pada tahun 1998 ini tidak mengangkat salah satu kisah novelnya, melainkan malah membuat sebuah cerita fiksi yang melibatkan sang novelis dengan karakter- karakter horor yang diciptakannya. Namun meskipun seperti menciptakan satu seri tambahan rip off semua seri Goosebumps, namun apa yang disajikan di layar masih memiliki nafas Goosebumps. Meskipun sang novelis tidak ikut terlibat dalam penciptaan naskah. Kejahatan villain yang cukup komikal, aksi yang fun, serta nihilnya adegan kematian (even buat karakter penjahat), ditambah twist ending di akhir kisah bisa dikatakan sebuah tribute sendiri terhadap gaya penulisan Stine.

4

Dan bisa dikatakan film ini merupakan wujud penjiwaan dari novel- novel itu sediri. Apa yang disajikan di layar sudah bisa membayar imajinas para fans terhadap film yang memiliki teori “What if…” ini. Oke, saya tambahkan penjelasan sedikit. Buku serial Goosebumps memiliki karakteristik fun ketimbang horor yang benar- benar mengerikan. Well, meskipun adik ipar saya sendiri cerita dia sempat menangis- nangis ketakutan ketika tanpa sengaja membaca novel The Night of Living Dummy punya istri saya dulu. Nah, secara poster dan permainan warna, film ini sudah sangat colorful. Meskipun sisi dark yang menjadi trademark sebuah film horor tetap dipertahankan. Dan bagi pecinta seri bukunya, Rob Letterman sekali lagi memanjakan lebih jauh dengan menampilkan segudang karakter villain yang menjadi keasyikan sendiri dalam mencarinya di layar. Di samping beberapa karakter yang benar- benar ditampilkan secara nyata seperti The Scarecrow (The Scarecrow Walks at Night), Slappy (Night of The Living Dummy), The Abominable Snowman (The Abominable Snowman of Pasadena), Will Blake/ Werewolf (The Werewolf of Fever Swamp), film ini juga menyelipkan beberapa karakter yang mungkin hanya tampil sekelebat seperti Carly Beth (The Haunted Mask), Mutant Plants (Stay Out of The Basement), The Lord High Executioner (A Night in Tower Terror), dan puluhan karakter lainnya. Sekaligus membuat beberapa adegan sebagai referrence ke beberapa novel seperti Stay Out of The Basement dan The Ghost Next Door.

5

Secara cast, Jack Black menjadi kunci utama dalam menjual film ini. Khususnya bagi mereka yang tidak menggemari bukunya. Dan usaha Black cukup komikal dalam memerankan Stine versi film. Yes, saya bilang versi film, karena aslinya R.L. Stine sudah sangat tua dan jauh berbeda dengan versi Jack Black. Kecuali kacamata dan sisiran rambutnya. Dan untungnya tidak banyak yang mempermasalahkan hal ini. Mungkin bagi penonton- penonton kritis akan mempermasalahkan dengan tampilan Stine yang seperti orang berusia 40 tahunan yang seharusnya jika dikaitkan dengan orang aslinya, Stine berusia 40 tahunan, hal- hal modern seperti Instagram belum lahir. Kemudian ada duet Dylan Minnette dan Odeya Rush yang dari tampang, tampilan, muka, gaya berbicara, gesture sudah cocok memerankan versi remaja Joseph Gordon- Levitt dan Mila Kunis. Namun yang menjadi scene stealer di film ini sebenarnya adalah Ryan Lee yang sangat lucu dan menarik memerankan karakter sidekick yang pathetic.

6

Fans atau bukan, Goosebumps bisa menjadi sebuah tontonan yang menghibur. Dengan metode kisah seperti Jumanji, film ini layak untuk dijadikan tontonan remaja menyambut Halloween. Namun mungkin yang menjadi kendala ketika film ini sukses adalah untuk pembuatan sekuelnya. Dan hal tersebut bakal menjadi tantangan tersendiri untuk tim penulis naskah. Pasalnya sudah hampir keseluruhan karakter jahat ditampilkan di film ini. Ya moga- moga saja, ketika nanti difilmkan, mungkin akan membuat sebuah gebrakan baru. Ya mungkin cerita bergulir 15 tahun paska kejadian. Dengan bintang utama Joseph Gordon- Levitt dan Mila Kunis. (dnf)

Rating:

8/10

Maze Runner: The Scorch Trials (2015)

Minho: Wait here. No need playing bumper cars with the dead folks again. Let me find the light switches first.

scorch-trials-movie-poster

Directed By: Wes Ball

Cast: Dylan O’Brien, Kaya Scodelario, Thomas Brodie- Sangster, Nathalie Emmanuel, Aidan Gillen, Katherine McNamara, Ki Hong Lee, Gincarlo Esposito, Barry Pepper, Rosa Salazar, Lili Taylor, Jacob Lofland, Dexter Darden, Alexander Flores, Patricia Clarkson

Synopsis:

Setelah selamat dari labirin bernama The Glade, Thomas (Dylan O’Brien), Teresa (Kaya Scodelario), Newt (Thomas Brodie- Sangster), Frypan (Dexter Darden), dan Minho (Ki Hong Lee) diselamatkan oleh sebuah kelompok pimpinan Janson (Aidan Gillen). Namun ternyata Janson bukanlah orang baik yang seperti mereka kira. Janson ternyata masih bekerja untuk WCKD pimpinan Ava Paige (Patricia Clarkson). Dengan bantuan seorang teman baru, Aris (Jacob Lofland), para Gladers mencoba menembus keganasan tanah gersang yang disebut dengan “The Scorch” untuk menemui pasukan Right Arms, yang kerap melakukan perlawanan terhadap WCKD.

Review:

scorchtrials-6-gallery-image

Thanks to Franchise Twilight, film- film bergenre Young Adult memiliki predikat film menye- menye yang hanya bisa menghibur penonton wanita. Dengan berfokus kepada seorang wanita muda yang terjebak ke dalam cinta segitiga di antara dua orang pria keren- keren dan macho, memang sudah menjadi impian para wanita. Ya sudah berkali- kali saya ucapkan di dalam berbagai review film bergenre sejenis, memang dunia tidak adil. Kalau wanita yang terjebak di antara 2 hati pria tampan pasti responnya “kasian ya”, “gue ngerti perasaannya. pasti sulit deh.”. Tapi kalau pria yang terjebak di antara 2 hati wanita cantik pasti responnya “kampret bajingan.”, “wah player abis nih orang.” Gak adil kan……………………????????????? Apalagi kalau cewek putus terus baru beberapa hari udah dapet cowok baru? Beda dah sama tanggapannya kalau cowok putus terus baru beberapa hari dapat cewek baru. Huuufffff…. Anyway, bagi para penonton pria, setidaknya ada sebuah film Young Adult yang muncul tahun lalu berjudul Maze Runner, yang tidak memiliki template serupa dan memiliki cerita dark serta nuansa thriller yang cukup kuat sehingga akan lebih mudah diterima penonton pria.

Maze-Runner-2

Sebuah lanjutan langsung disiapkan untuk hadir setahun berikutnya. Namun berbeda dengan jilid pertamanya, film keduanya ini melenceng jauh dari format novelnya. Memang hal ini diakui sang sutradara. Sebenarnya ini bukanlah kali pertama sebuah film adaptasi novel tidak terlalu setia dengan novelnya. Biasanya hal ini dikarenakan begitu panjangnya cerita novel, sehingga sineas memilih merubah ceritanya untuk menghindari ada cerita yang tidak dikisahkan. Atau memang sineas memiliki sebuah cerita yang lebih seru untuk disaksikan dalam format layar lebar. Apapun alasannya tersebut, The Scorch Trials memiliki hasil yang cukup memuaskan. Mungkin karena saya tidak mengikuti novelnya, jadi hasil pelencengan dalam filmnya ini menjadi sangat menarik dan cukup menegangkan. Skrip yang ditulis oleh T.S. Nowlin ini mampu menciptakan ketegangan demi ketegangan dengan tetap menjaga tensi dari awal sampai akhir film. Terutama di adegan kejar- kejaran dengan Cranks, manusia yang menjadi zombie akibat terjaring virus The Flare.

3

Spesial efek yang dihadirkan juga cukup baik. Penggambaran “The Scorch” serta dystopian future bisa dikatakan cukup menarik. Ditambah dengan efek shaky cam yang sempurna untuk menampilkan adegan- adegan aksi laganya. Sound editing juga memberikan nilai tambahan untuk menciptakan nuansa mencekam. Terlebih pada adegan- adegan laga. Tidak usah memperdulikan kualitas akting, karena memang tidak ada satupun cast yang menampilkan akting yang brillian. Hanya saja interaksi antar karakternya cukup oke. Chemistry di antara para The Gladers mampu menampilkan nilai brotherhood yang cukup kental. Mungkin jika ingin menyebutkan akting yang paling bagus adalah akting Giancarlo Esposito yang di sini berperean sebagai Jorge. Namun begitu, bagi saya pribadi, saya sangat menyukai pemilihan cast film ini. Karena tidak menonjolkan ketampanan aktor. Bahkan, bagi saya pribadi tampang- tampang yang terpilih cukup unik.

maze-runner

Meskipun secara kualitas akting tidak ada yang bagus (apalagi melihat akting Kaya Scodelario yang mengingatkan Kristen Stewart di Twilight) dan character development- pun tidak ada yang baik, The Scorch Trials mampu menciptakan eskalasi cerita dari film pertamanya. Bisa dikatakan secara plot, film ini sangat biasa saja. Namun unsur ketegangan serta aksi laga yang ditampilkan, jauh di atas film- film Young Adult lainnya. Namun tetap saja film ini masih menyimpan pertanyaan- pertanyaan yang nantinya akan dijawab di jilid pamugkasnya, The Death Cure yang sudah konfirm akan dirilis pada tanggal 17 Februari 2017. Dan………………. tidak dibagi menjadi 2 bagian……… Alhamdulillah. (dnf)

Rating:

8/10

The Divergent Series: Insurgent (2015)

Tris: Once a stiff always a stiff

Psoter

Directed By: Robert Schwentke

Cast: Shailene Woodley, Theo James, Miles Teller, Ansel Elgort, Kate Winslet, Jai Courtney, Mekhi Phifer, Zoe Kravitz, Ben Lloyd- Hughes, Ashley Judd, Naomi Watts, Tony Goldwyn, Ray Stevenson, Maggie Q, Daniel Dae Kim

Synopsis:

Setelah berhasil kabur dari kejaran kaum Erudite di bawah komando Janine (Kate Winslet), Tris (Shailene Woodley), Four (Theo James), Peter (Miles Teller), dan Caleb (Ansel Elgort) bersembunyi di tempat tinggal kaum Amity. Namun setelah mendapat serbuan tentara Erudite di bawah komando Max (Mekhi Phifer) dan Eric (Jai Courtney), keempatnya harus berpencar untuk menyulitkan perburuan tentara kejam tersebut.

Janine ternyata sedang mencari kaum Divergent terkuat yang dapat membuka kunci kotak pesan para pendiri yang diyakini dapat memusnahkan kaum Divergent. Untuk memerangi Janine, mau tidak mau Four dan Tris harus mengalahkan ketakutan dan ego masing- masing. Four harus berdamai dengan ibu yang meninggalkannya dari kecil dan sekarang telah menjadi pimpinan kaum Factionless, Evelyn (Naomi Watts), sementara Tris harus memaafkan dirinya yang menjadi penyebab kematian kedua orangtuanya dan temannya, Will.

Review:

INSURG022515BIGPIC

Bagi para penonton pria jangan bosan dulu dengan adaptasi novel Young Adult, pasalnya paska Twilight, genre novel yang biasanya digemari oleh wanita muda ini menjadi salah satu unggulan para produser untuk mengeruk keuntungan. Selain itu, tidak sedikit bintang- bintang muda yang unjuk kebolehan dan meraih popularitas lewat genre film semacam ini. Meskipun pada kenyataannya tidak banyak adaptasi franchise novel Young Adult yang sukses memfilmkan keseluruhan seri novelnya. Jika dicatat hanya Harry Potter, Twilight, dan The Hunger Games yang berhasil menamatkan franchise-nya di layar lebar. Khusus untuk film terakhir akan segera tayang tahun ini.

51587.cr2

Adapun yang paling menarik dari franchise Divergent adalah ketiga aktor muda utamanya sempat menjadi pasangan Shailene di film- film berbeda. Theo James di franchise ini, Ansel Elgort di The Fault in Our Stars, dan Miles Teller di The Spectacular Now. Selain tentunya menampilkan Shailene Woodley yang saat ini menjadi salah satu komoditas panas di jajaran aktris muda Hollywood. Hanya saja nasibnya kurang beruntung kala telah terpilih menjadi Mary Jane di The Amazing Spider- Man, bahkan di IMDB namanya sempat tertulis akan berperan di seri ke-3 dan ke-4 reboot manusia laba- laba tersebut sebelum akhirnya Sony memutuskan untuk me-reboot ulang film superhero tersebut dikarenakan hasil akhir yang mengecewakan dan juga untuk membuka jalan agar sang webslinger bisa masuk ke MCU.

thumbnail_20327

Film ini masih memiliki format yang sama dengan film- film sejenis lainnya dalam masalah casting. Untuk pemeran utamanya dipilihlah aktor- aktris baru dengan bayaran murah namun memiliki tampang cukup menjual (Shailene Woodley dan Jennifer Lawrence waktu terpilih masih merupakan pendatang baru dan belum memiliki ketenaran seperti sekarang), lalu untuk mendampingi mereka, dipilihlah aktor- aktris senior dengan akting yang sudah teruji untuk menyeimbangkan kualitas akting, yang mungkin gagal dipertontonkan oleh bintang- bintang muda tersebut. Maka itu melalui film ini, beberapa nama senior seperti Ashley Judd, Tony Goldwyn, Naomi Watts, dan Kate Winslet diikutsertakan.

insurgent

Woodley cukup bagus dalam memerankan Tris, dan sekali lagi membuktikan bahwa dirinya masih cukup lovable. Ansel Elgort sangat pas membawakan peran anak laki- laki yang tidak punya nyali, dan membuat benci para penonton. Jai Courtney yang memang sangat cocok memerankan antagonis, sangat pas sebagai Eric. Dan di antara jajaran pemeran muda, Miles Teller-lah yang benar- benar bisa menjadi scene stealer dengan akting wataknya yang bisa membuat penonton membencinya di beberapa adegan, dan menyukainya di beberapa adegan lainnya. Yang malah disayangkan adalah performa Theo James, yang kaku dan sepertinya benar- benar hanya mengandalkan tampang. Di antara pemeran senior, Kate Winslet yang paling menonjol sebagai Janine yang control freak dan kejam. Namun yang paling mencuri perhatian adalah Naomi Watts yang benar- benar bikin pangling dan tampak jauh lebih muda.

11358.cr2

Insurgent adalah salah satu contoh sebuah sekuel yang cukup sulit diikuti jika belum menonton film pertamanya. Banyak sekali istilah- istilah atau kejadian di film pertama yang sangat penting bagi film kedua namun tidak diulang untuk dijelaskan di film ini. Jika dilirik lebih jauh, Insurgent cukup bisa menghibur bagi para pria. Adegan aksi lumayan banyak dengan tingkat intensitas yang cukup naik dibandingkan film pertamanya. Hanya saja, karena memang diadaptasi dari novel wanita, unsur- unsur romansa menye- menye yang terkadang salah waktu tersebut, malah menjadi perusak tensi ketegangan. Pasalnya tidak jarang drama menye- menye itu diselipi di adegan aksi tegang.

xsaa

Sebagai bagian dari sebuah saga, Insurgent memang cukup memberikan pondasi yang kuat untuk kelanjutan cerita. Di samping itu, peningkatan akting sebagian besar pemain mudanya (kecuali Theo James yang malah melempem), cukup memberikan sumbangsih tersendiri akan keasyikan menonton film ini. Di samping itu, faktor action sequence yang cukup royal diumbar di film ini, menjadikan penonton pria tidak bosan duduk di bangku penonton. Sekali lagi, Insurgent merupakan salah satu contoh sebuah film Young Adult tidak serta merta menjadi terlalu cheesy dan mudah dinikmati setiap gender. (dnf)

Rating:

7/10

The Hunger Games: Mockingjay – Part I (2014)

Katniss Everdeen: I have a message for President Snow: If we burn, you burn with us!

hunger_games_mocking_jay_a_p

Directed By: Francis Lawrence

Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Philip Seymour Hoffman, Julianne Moore, Jeffrey Wright, Stanley Tucci

Synopsis:

Setelah diselamatkan oleh para pemberontak dari District 13, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) didekati oleh President Coin (Julianne Morre) untuk mau menjadi The Mockingjay, wajah propaganda untuk membakar semangat District- district lain agar mau bergabung untuk menjatuhkan kesewang- wenangan Capitol.

Katniss yang tadinya enggan untuk bergabung merasa terpanggil setelah mengetahui Capitol membumi hanguskan District 12 sebagai balasan karena Katniss tanpa sengaja telah menyulut api pemberontakan di hati masyarakat Panem.

Namun ternyata hal tersebut mendapatkan tantangan berat, setelah diketahui President Snow (Donald Sutherland) telah mencuci otak Peeta Mellark (Josh Hutcherson) untuk menentang Katniss dan pemberontakan tersebut. Lebih jauh lagi, Snow merencanakan sesuatu dengan Peeta yang mengancam keselamatan Katniss.

Review:

la_ca_1023_hunger_games

Tidak banyak film adaptasi franchise novel yang bisa bertahan sampai tamat. So far, hanya judul- judul seperti Harry Potter, The Lord of The Rings, dan Twilight saja yang berhasil memuaskan penggemar novelnya dengan menamatkan keseluruhan seri tanpa ada satupun yang tidak jadi diangkat ke film. Sementara judul- judul seperti The Golden Compass, Narnia, Inkheart, dan Eragon kemungkinan kecil untuk ditamatkan. Ditambah dengan franchise Percy Jackson yang belum jelas masa depannya.

SS_D7-2805.dng

Berpacu dengan waktu adalah salah satu faktor yang harus diperhatikan agar kelangsungan franchise tersebut bisa langgeng sampai tamat. Apalagi jika sumber yang diangkat adalah bergenre teenflick. Faktor usia para pemain sentral yang semakin hari semakin tua akan menjadi pertimbangan penting kelangsungan franchise tersebut. Maka itu kelangsungan The Golden Compass akan sulit terealisasi karena usia Dakota Blue Richards yang sudah menginjak usia 20 tahun ini.

url

Hal yang menarik lagi jika dilihat dari kelangsungan franchise- franchise tersebut adalah membagi jilid terakhir menjadi 2 bagian. Bisa dilihat dari adaptasi jilid terakhir Twilight dan Harry Potter. Dan untuk ke depannya yang tengah dipersiapkan adalah Phase 3 adapatsi The Avengers dan Allegiant, yang merupakan seri chapter terakhir dari Divergent Trilogy. Bahkan jika diperhatikan franchise The Hobbit yang aslinya hanya berisi 2 judul dijadikan 3 bagian dengan menambahkan beberapa sumber lain. Apa yang menjadi pertimbangan? Sudah pasti menggemukan pemasukan menjadi pertimbangan utama. Meskipun secara bulls**t, produser film beragumen agar tidak ada unsur novel yang dihilangkan dari film. But as smart educated man, kita sudah menebak. Uang alasan utamanya.

SS_D8-3371.dng

Sama halnya dengan seri terakhir dari The Hunger Games yang berjudul Mockingjay ini. Meskipun banyak yang menyayangkan keputusan ini, namun pihak fans sangat antusias dengan terbaginya judul ini menjadi 2 parts. Karena memang di antara ketiga buku dari The Hunger Games trilogy, Mockingjay-lah yang paling mendapatkan respons kurang memuaskan. Meskipun secara penjualan masih terbilang bagus. Karena apa? Karena unsur survival game yang di benak pembaca sudah menjadi trademark seri ini tidak ada sama sekali.

the-hunger-games-mockingjay-part-1-teaser-106782

Hal ini menjadi Pe-Er tersendiri bagi Francis Lawrence yang menjadi tulang punggung kesuksesan bagian pertama ini. Namun sebenarnya tidak usah khawatir, karena performa Jennifer Lawrence, sebagai bintang utama sudah tidak diragukan lagi. Secara kualitas akting, seperti biasa, Jen-Law memberikan sebuah sajian akting berkualitas tinggi. Josh Hutcherson yang biasanya tampil kurang baik, di sini semakin menunjukkan kedewasaan berakting yang sangat bagus. Belum lagi dukungan aktor- aktris watak lainnya seperti Julianne Moore, Woody Harrelson, Donald Sutherland, dan Philip Seymour Hoffman, yang merupakan penampilan terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir.

The-Hunger-Games-Mockingjay-Part-1-Latest-Images

Naskah yang disadur oleh Peter Craig dan Danny Strong ini cukup bagus dan cukup menjaga tensi penonton. Di sini konflik pemberontakan yang menjadi tema utama Mockingjay cukup bagus terjaga dari awal sampai akhir. Meskipun unsur melodrama ala telenovela masih tetap dipertahankan di film ini, Lawrence telah menyiapkan beberapa adegan aksi yang menarik yang mungkin dapat menghibur sedikit penonton pria. Unsur melodrama yang diangkat memang sulit untuk dihindari mengingat, itu telah menjadi ciri khas adaptasi novel- novel teenflick. Tapi setidaknya di film ini, Lawrence tidak lupa menyisipkan pengembangan karakter dan membangun tensi yang saya harapkan dapat terbayar lunas di paruh keduanya tahun depan.

the-hunger-games-mockingjay-part-1-lawrence-moore-600x421

Then again, terlepas dari kontroversi para penonton yang kecewa dengan film ini, saya pribadi cukup nyaman menyaksikan film ini. Meskipun secara kualitas tidak bisa menyamai seri pertamanya, tapi setidaknya dengan tidak adanya ekspektasi saat masuk ke ruangan theatre, saya masih mampu menikmati film ini. Khususnya akting Jen-Law, dan adegan- adegan aksi yang lumayan fantastis. Saya masih mengharapkan Lawrence menyimpan sebuah kejuatan yang cukup heboh di tahun depan. Seperti halnya Bill Condon, menyuguhkan adegan epic battle di Breaking Dawn Part 2, yang memberikan efek what-the-f**k bagi para penonton pria, yang terpaksa menonton demi menemani sang pacar. We’ll see… maybe the odds will be in their favor… (dnf)

Rating:

7.5/10

The Fault in Our Stars (2014)

Augustus Waters: That’s the thing about pain. It demands to be felt.

Image

Directed By: Josh Boone

Cast: Shailene Woodley, Ansel Elgort, Nat Wolff, Laura Dern, Sam Trammell, Willem Dafoe, Lotte Verbeek

Synopsis:

Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley) adalah seorang pengidap kanker tiroid yang sudah menyebar sampai paru- paru. Bisa dikatakan umurnya tidak akan lama lagi. Hazel kemudian bertemu dengan seorang pengidap kanker yang berhasil survive setelah mengamputasi kakinya, Augustus Waters (Ansel Elgort). Sejak bertemu dengan Gus, Hazel merasa bahwa hidupnya yang tinggal sebentar lagi itu menjadi sangat berarti. Namun tanpa mereka sadari, takdirpun telah mempersiapkan jalannya sendiri atas kisah cinta mereka tersebut.

Review:

Image

Dunia percintaan dan remaja memang tidak dapat dipisahkan. Pasalnya pada usia belasan tersebutlah kita baru mengerti bagaimana rasanya menyukai lawan jenis (or sesama jenis), perasaan rindu, kangen, G4L@U, cinta pertama, nelpon pura- pura nanya “eh kelas kamu sudah ulangan matematika belum? Soalnya apa sih?”, dan semua hal yang bisa kita rangkum menjadi satu kata. CINTA MONYET. Namun bukan berarti Cinta Monyet tersebut akan tetap jadi monyet. (Apaan sih nih penulis?) Bisa jadi cinta monyet tersebut akan menjelma menjadi suatu hal yang lebih bermakna atau menjadi sebuah cinta sejati.

Image

Maka tidak heran banyak sekali literatur yang menceritakan perihal cinta di masa remaja yang efeknya melebihi cinta suami- istri. Bahkan salah satu ikon dunia percintaan yang paling terkenal juga digambarkan berusia remaja. Ikon bernama Romeo and Juliet yang digambarkan memiliki cinta sejati yang abadi yang daripada ditinggal mati sang kekasih mendingan bunuh diri biar bareng- bareng mati. Padahal kalo kata Ustadz, bukannya hidup bareng di sorga lu… Tapi sama- sama digodok di neraka. But well, Love Story does not consider heaven or hell. (Ini apaan sih penulis kagak jelas… Mentang- mentang lagi bulan Ramadhan).

Image

Anyway, salah satu kisah cinta remaja kali ini yang diangkat ke layar lebar adalah sebuah buku karya John Green yang ditulisnya berdasarkan pengalamannya saat bekerja sosial di Rumah Sakit khusus anak- anak. Bisa dikatakan, The Fault in Our Stars merupakan salah satu film adaptasi buku yang paling diantisipasi tahun ini. Well, selain tentunya film- film dari adaptasi buku seri seperti sekuel The Hobbit dan The Hunger Games. Dan tenang aja, film ini minus kisah cinta segitiga antara seorang wanita dengan 2 orang pria yang udah sangat klise di setiap adaptasi teen-lit belakangan ini yang diwakili oleh citna segitiga seorang wanita dengan 2 orang mahluk jadi- jadian. Coba deh bayangin kalo kisah cinta seorang pria dengan 2 orang wanita. Pasti dibilang player, bajingan, gak setia, dan segalanya. Tapi kalo kisah cinta seorang wanita dengan 2 orang pria pasti dibilangnya “Aduh pasti posisinya gak enak tuh”, “kasian ya”, “cowoknya 22nya baik sih. ganteng juga.” Well, kenapa komennya seperti itu? Karena yang baca cewek! DAMN!

Image

Oke, sudah cukup OOT-nya. Kembali ke lapt…. eh The Fault in Our Stars. Bisa dikatakan kekuatan utama dari film ini adalah performa 2 bintang utamanya yang cukup kuat dan natural. Shailene Woodley, yang belakangan ini status kebintangannya makin bersinar paska bermain di The Descendants, mampu tampil sebagai seorang girl-next-door yang labil namun diharuskan untuk tough demi orang tuanya. Gerak- gerik serta gaya berbicaranya mampu mewakili sosok seorang Hazel Grace. Dan meskipun masih memiliki kualitas akting setingkat di bawah Woodley, Ansel Elgort mampu tampil charming, kind-hearted, serta menjadi sosok yang membawa keceriaan di hidup Hazel Grace. Elgort yang sempat bermain sebagai adik Woodley di film Divergent, mampu menyeimbangi kemampuan akting the next Mary Janeini. WAIT! Elgort jadi adiknya Woodley? Berarti Woodley udah pernah lop- lopan sama hampir semua aktor di Divergent dong? Di The Spectacular Now dia kan juga sempat beradegan panas dengan Miles Teller, yang jadi rival Woodley di Divergent. Gak percaya? Liat aja di menit ke…….

Image

Selain mereka berdua, aktor- aktor senior yang ada di jajaran cast mampu berakting cukup baik. Namun sayang kurang begitu tereksplor dalam naskah, sehingga apa kemampuan bintang- bintang semacam Willem Dafoe dan Laura Dern hanya sebatas gitu- gitu aja. Sebenarnya tim penulis naskah tidak bisa disalahkan. Karena memang fokus cerita terletak pada 2 remaja yang lagi indehoy jatuh cintrong.

Image

Berbicara masalah naskah, plot cerita yang ada sangat terstruktur dengan baik. Konflik yang timbul bisa muncul secara natural serta tidak terlalu cheesy. Perpaduan antara komedi, kisah menyentuh, penggambaran optimisme, serta perjuangan tiap karakter dalam mengurangi beban yang ditampungnya merupakan sebuah kombinasi bagus yang diracik dengan cukup menarik. Selain itu pilihan musik pengiring juga sangat pas dan efektif untuk menambah mood adegan yang ada di layar. Tidak lupa Scott Neustadter dan Michael H. Webber, sebagai duo penulis naskah memasukan quote- quote indah memorable yang diambil langsung dari bukunya.

Image

Finally. The Fault in Our Stars adalah sebuah tontonan segar yang akan membuat kita tersentuh serta menghargai kesehatan dan sisa umur yang mungkin tersisa di diri kita. Cara film ini bercerita tentang disease sangat baik. Bahkan di beberapa adegan sempat dibuat cukup bright dan lucu tanpa harus mengolok- ngolok orang cacat layaknya Farelly Brothers. (dnf).

Rating:

8/10

 

 

Divergent (2014)

Four: If you wanna survive. Folow me.

Image

Directed By: Neil Burger

Cast: Shailene Woodley, Theo James, Kate Winslet, Ashley Judd, Jai Courtney, Zoe Kravitz, Tony Goldwyn, Ray Stevenson, Maggie Q

Synopsis:

Chicago masa depan. Manusia dibagi ke dalam 5 fraksi. Abnegation yang suka menolong. Dauntless yang pemberani. Amity yang cinta damai. Candor yang menjunjung tinggi kejujuran. Dan Erudite yang memiliki intelektual tinggi. Dikarenakan suka menolong, maka Abnegation dipercaya untuk memimpin pemerintahan. Erudite yang ingin melakukan kudeta, menyebarkan berita tentang Child Abuse yang dilakukan salah satu pimpinan Abnegation, Marcus (Ray Stevenson) terhadap anaknya.

Setiap tahunnya, semua anak yang sudah menginjak usia 16 tahun akan mengikuti tes bakat di fraksi manakah mereka lebih cocok. Namun di akhir tes tersebut, setiap anak akan diberikan hak untuk memilih fraksi yang diminatinya. Begitu juga dengan Beatrice (Shailene Woodley) yang merupakan keturunan Abnegation. Namun hasil tes yang keluar dirinya adalah seorang Divergent, orang tidak cocok di fraksi manapun. Namun dikarenakan, pihak Erudite sedang memburu para Divergent, maka sang penguji, Tori (Maggie Q) merubah hasil tes dan menuliskan Abnegation sebagai hasil tes Beatrice.

Namun pada saat inisiasi, Beatrice malah memilih Dauntless sebagai fraksinya. Di Dauntless, Beatrice yang merubah namanya menjadi Tris berteman dengan Christina (Zoe Kravitz) yang memiliki darah seorang Candor dan dilatih oleh Four (Theo James) serta Eric (Jai Courtney).

Review:

Image

Meskipun banyak yang bosan dengan tema Teenflick, namun jelas gener macam ini masih dianggap cukup menjual. Terutama bagi para petinggi Summit Entertainment yang pernah terselamatkan oleh Twilight. Memang tidak bisa dipungkiri, adaptasi dari novel teenflick mampu menambah tebal dompet produser, setidaknya sanggup untuk membuat balik modal.

Maka tidak heran novel- novel best seller dengan genre semacam ini sudah menjadi rebutan pihak studio untuk mendapatkan hak memfilmkannya. Dan tidak sedikit juga yang cukup pede untuk mengkontrak langsung seluruh pemain dan menjadwalkan syuting keseluruhan seri yang minimal berupa trilogi, meskipun film pertamanya pun belum dirilis.

Image

Kali ini giliran novel trilogi hasil buah pikiran novelis Veronica Roth yang mendapatkan kesempatan untuk difilmkan. Kumpulan novel triloginya yang dikenal dengan nama Divergent Trilogy ini terdiri dari; Divergent, Insurgent, dan Allegiant. Dua seri awalnya resmi mendapatkan predikat New York Best Time Seller, sementara buku ketiganya baru diterbitkan bulan Oktober tahun lalu.

Jika kita melihat film- film teenflick, kita bisa menemukan kesamaan hampir di setiap filmnya. Yang pasti adalah karakter utama seorang cewek yang berada di sebuah universe yang biasanya hanya hadir di film- film kesukaan penonton cowok. Selain itu film Divergent ini juga memuat beberapa hal yang menurut saya mengingatkan dengan teenflick lainnya. Seperti proses inisiasi yang mirip dengan adegan sorting hat di saga Harry Potter.

Image

Saya tidak akan mencoba untuk membandingkan seberapa jauh film ini cukup setia dengan novelnya, karena saya tidak baca novelnya. Namun untuk secara kemasan, saya cukup menikmati film ini. Meskipun secara cerita masih agak dragging di paruh awal film yang menyajikan pelatihan Tris dan pengenalan karakter Tris dan Four yang berkembang ke arah romance. Namun chemistry yang dihadirkan oleh Shailene Woodley dan Theo James cukup bagus. Keduanya mampu saling mengisi satu sama lainnya. Tris tidak serta merta digambarkan otomatis from hero to zero. Mengingat dirinya dibesarkan di lingkungan penuh kasih, sudah sangat make sense jika dirinya tidak piawai dalam bertempur. Sementara Four digambarkan sebagai cowok tough yang biasa hidup keras. Jadi mix antara kedua karakter ini menurut saya cukup bagus dan dapat ditampilkan dengan oke oleh kedua pemainnya. Hanya saja sepertinya Neil Burger terlalu fokus kepada bonding chemistry antara dua Tris dan Four sampai lupa untuk mengembangkan hubungan antara Tris dan keluarganya yang terasa bagai angin lalu.

Image

Di antara jajaran pemain pendukung, Ashley Judd, Kate Winslet, serta Jai Courtney tampil cukup mengesankan. Judd yang bermain sebagai Natalie, ibu Tris, mampu menampilkan sosok wanita penyayang yang di baliknya mempunyai sisi tough yang cukup kuat. Selain itu Kate Winslet yang bermain sebagai Jeanine, antagonis utama, cukup memberikan aura seorang wanita intelektual yang berbahaya. Jai Courtney, yang memang pada dasarnya mempunyai template muka menyebalkan sangat pas bermain sebagai Eric. Sepertinya jebolan TV Seri Spartacus ini ke depannya akan mendapatkan peran- peran setipe. Memang sangat disayangkan mengingat sebenarnya dia punya bakat akting yang lumayan bagus.

Image

Plot cerita yang awalnya dragging di paruh awal bisa tertutupi dengan pace cepat di paruh akhir yang menampilkan adegan- adegan aksi serta aura thriller yang cukup seru. Ditambah dengan tampilan kota Chicago masa depan yang tidak terlalu futuristik. Selain itu identitas tiap- tiap fraksi yang diwakili oleh warna dasar pakaiannya cukup mewakili sifat masing- masing.

Sama halnya dengan Twilight, The Hunger Games, dan Mortal Instruments: City of Bones, Divergent bisa dikatakan sebuah kickstarter, which is sebuah film pertama yang memperkenalkan keselurugan saga, khususnya universe saga terkait kepada para penonton awam. Dan sebagai sebuah kickstarter, Divergent telah bekerja cukup efektif.

Image

Overall, Divergent bisa dikatakan cukup berhasil sebagai sebuah kickstarter bagi keseluruhan seri. Dragging di paruh awal masih bisa dimaklumi, mengingat film ini memang dipersembahkan untuk membangun apa yang nantinya akan tersaji di keseluruhan saga. Namun performa tiap pemain mampu menutupi naskah yang, mungkin bagi sebagian penonton, cukup membosankan itu. Saya sangat berharap kualitas kedua sekuel yang akan dirilis setiap tahun selama dua tahun ke depan akan semakin baik. (dnf)

Rating:

7/10

The Hunger Games: Catching Fire (2013)

Effie Trinket: Eyes bright, chin’s up, smile’s on!

Image

Directed By: Francis Lawrence

Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Elizabeth Banks, Stanley Tucci, Philip Seymour Hoffman, Lenny Kravitz, Jeffrey Wright, Sam Claflin, Jena Malone

Synopsis:

Setelah berhasil memenangkan pertandingan The Hunger Games yang ke-74, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) kembali ke kampung halamannya di District 12. Kehidupan merekapun berubah drastis. Bukan saja ke arah yang lebih baik, di mana mereka diberikan tempat tinggal mewah dan kehidupannya dijamin Capitol, namun dampak burukpun juga mereka rasakan. Terutama terhadap Katniss. Sandiwara cintanya dengan Peeta yang berhasil menyelamatkan nyawa mereka di pertandingan tersebut, menjadi penghambat kelancaran hubungan Katniss dengan Gale Hawthorne (Liam Hemsworth). Tidak hanya itu, ternyata President Snow (Donald Sutherland) mengendus sandiwara ini dan mengancam Katniss untuk meyakinkan dirinya kalau dia benar- benar jatuh cinta terhadap Peeta.

Hidup merekapun menjadi tambah ruwet dengan adanya pertandingan The Hunger Games ke -75 yang berarti merupakan special event. Setiap 25 tahun sekali, perayaan The Hunger Games memiliki peraturan khusus yang disebut dengan Quarter Quell. Dan peraturan kali ini adalah bahwa perwakilan dari masing- masing District harus orang- orang yang pernah memenangkan The Hunger Games. Dan sudah bisa ketebak, kembali lagi District 12 harus diwakilkan oleh Katniss dan Peeta. 

Sekali lagi mereka harus bekerja sama dengan pelatih Haymitch Abernathy (Woody Harrelson), escort Effie Trinket (Elizabeth Banks), dan designer Cinna (Lenny Kravitz) dalam menghadapi event tahunan yang kali ini dipimpin oleh gamemaker Plutarch Heavensbee (Philip Seymour Hoffman). Dan bukan itu saja, kali ini berarti lawan- lawan Katniss dan Peeta bukanlah orang- orang sembarangan. Karena semuanya pernah memenangkan pertandingan tersebut.

Review:

Image

Keberhasilan Twilight Saga di industri perfilman telah menjadi trend setter baru di wajah perfilman Hollywood. Terlepas dari pro dan kontra atas kualitas cerita ataupun kemampuan akting 3 pemain utamanya, nyatanya kisah yang diangkat dari buah pemikiran Stephanie Meyer itu telah menarik minat para produser untuk melirik novel- novel sejenis untuk diangkat menjadi sebuah film. Dan thanks to sang penulis ditambah performa Kristen Stewart- Robert Pattinson- Taylor Lautner, tidak sedikit penikmat- penikmat film yang sudah memicingkan sebelah mata atas kualitas hasil akhir film- film pengekor tersebut. Bahkan sebelum filmnya dibuat sekalipun. Padahal ternyata (menurut saya pribadi), kualitas film- film pengekornya justru lebih baik daripada film tentang cinta segitiga cewek sama 2 mahluk jadi- jadian itu.

Image

Biasanya template yang dari kisah- kisah macam ini dipakai sebenarnya tidak jauh berbeda satu sama lainnya. Karena memang target utamanya berkelamin wanita, kisah yang disajikanpun tidak jauh- jauh dari masalah cinta. Dan dalam hal ini kisah cinta antara seorang wanita tokoh utama yang hatinya terbagi terhadap 2 orang pria tampan. Karena tanggapan pembaca wanita kalau seorang pria yang hatinya terbagi terhadap 2 wanita cantik itu sudah pasti: “anjrit PK banget tuh orang”, “bajingan banget”, “player… cowok emang bajingan tengik”. Tapi kalau seorang wanita cintanya terbagi ke 2 orang pria tampan tanggapannya jadi seperti ini” “aduh di posisi dia pasti gak enak banget. Kasihan.”, “Wah… asik banget direbutin 2 cowok lucu.”, “Gue ngerti perasaan dia…”. Padahal yang namanya bajingan itu gak hanya pria… wanita juga kalau selingkuh yang bajingan. Ya gak? Di mana keadilan? Masa cuman pria aja yang berhak mendapatkan cap pemain cinta dan penjahat kelamin? Padahal kalau jomblo biasanya lebih lama pria… Cewek mah kalau jomblo biasanya cepet berpindah ke lain hatinya… Apalagi ada istilah cari pacar kaya monyet… Kalo belum megang satu dahan gak akan lepas dahan yang lain…  Kampret gak sih?  Di mana keadilan? Eh kok jadi curhat…..

Image

Anyway, ngomongin masalah template cerita lagi. Selain masalah cinta segitiga yang sudah pasti akan menarik hati wanita, biasanya demi menarik minat pembaca pria, plot- plot yang biasanya menarik minat pria dijadikan based untuk universe yang akan dijadikan setting cerita. Seperti zombies, aliens, supernatural, demons, werewolves, vampires, dan sebagainya. Khusus untuk saga karya penulis Suzanne Collins kali ini adalah survival game dan dystopian future. 

Sebagai informasi tambahan, dystopian future adalah kebalikan dari utopian future. Jika sebuah utopian future digambarkan sebagai masa depan yang sempurna dengan kehidupan yang lebih baik, dystopian future digambarkan sebuah keadaan di masa depan di mana segala halnya menjadi menakutkan dan jauh lebih buruk dari keadaan masa kini.

Image

Membicarakan tentang The Hunger Games: Catching Fire sebenarnya ada satu hal yang membuat saya sebagai bangsa indonesia senang setengah mati. Selain dikarenakan film ini diangkat dari novel favorit dan diperanutamai oleh aktris favorit saya, ternyata tanpa diketahui banyak orang, gaun pengantin yang dipakai Jennifer Lawrence di film ini adalah hasil rancangan seorang designer Indonesia bernama Tex Saverio. Designer yang berdomisili di Jakarta ini melengkapi jajaran nama lokal yang berhasil menembus industri perfilman Hollywood bersama dengan aktor dan sutradara semacam Mo Brothers, Gareth Evans, Joe Taslim, dan Ariyo Bayu.

Kursi sutradara yang berpindah dari Gary Ross ke Francis Lawrence ternyata sebuah keputusan tepat. Bukan hanya Francis Lawrence berhasil dengan sempurna meneruskan apa yang sudah digariskan oleh Gary Ross di film pertamanya, namun tulisan tangan Suzanne Collins berhasil divisualisasikan dengan sempurna. Sutradara yang pernah mengangkat komik Hellblazer ke layar lebar dengan judul Constantine ini tidak terjabak dengan film sejenis dengan mengeksploitasi violence ataupun kisah cintanya terlalu berlebihan. Inilah sebenarnya yang menjadi nilai kuat dari franchise The Hunger Games.

Image

Mungkin di paruh pertama film ini akan terasa membosankan. Tidak salah cukup banyak penonton non fans yang akan mengantuk di satu jam pertama. Namun semua itu terbayar setelah para tribute berada di arena permainan. Adegan aksi demi adegan aksi akan cukup membuat jantung berdebar. Bahkan jika dibandingkan dengan film pertamanya, adegan laga yang tersaji di sekuel ini terasa lebih padat dan jauh lebih seru. Hal ini menjadi salah satu keunggulan tersendiri, mengingat porsi adegan aksi yang kurang brutal dan terlalu soft menjadi poin lemah bagi para penonton non fans. Karena jauh sebelum film ini tayang di bioskop banyak penonton yang belum membaca buku sudah terdoktrin bahwa film ini akan sama dengan Battle Royale dalam kadar muatan aksi.

Director of Photograpy dan cinematography merupakan salah satu nilai penting juga dari film ini. Keberhasilan dalam menggambarkan situasi Capitol dan masing- masing district sesuai dengan imajinasi yang tertuang di dalam novelnya merupakan salah satu hal yang patut diapresiasi.

Image

Dari jajaran cast lintas generasi juga memberikan kontribusi penting bagi film ini. Jennifer Lawrence bukanlah Kristen Stewart. Pihak produser sebenarnya cukup beruntung mendapatkan kontrak dengan dirinya di film pertama sebelum sang aktris “naik pangkat” paska title Aktris Terbaik pada Oscar tahun 2012 didapatkannya. Kualitas akting sang Mystique juga semakin berkembang dan mampu menyampaikan luapan emosi dan aksi fisik yang dilakukan oleh Katniss Everdeen. Selain itu kemampuannya untuk menjelma menjadi seorang wanita tangguh independent juga sangat berdampak positif dalam memerankan sang Girl on Fire.

Selain itu jajaran cast lainnya juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun tidak mampu menyamai performa sang leading actress, 2 aktor utama, Liam Hemsworth dan Josh Hutcherson juga bisa menjalankan perannya sebagai Gale dan Peeta. Donald Sutherland sangat pas memainkan peran President Snow dengan baik. Selain itu Elizabeth Banks juga cukup unik dalam membawakan karakter Effie Trinket yang memang sudah unik dari sananya.

Image

Selain jajaran pemeran lama, film ini juga mendapatkan bintang- bintang baru yang cukup pas dalam memerankan karakternya masing- masing. Terutama Jena Malone, Philip Seymour Hoffman, dan Sam Claflin. Jena Malone memberikan nyawa terendiri dalam setiap kemunculannya sebagai Johanna Mason. Aktingnya bisa memunculkan karakterisasi Johanna yang memiliki emosi meledak- ledak, berjiwa rebel, sekaligus nuansa komedi tersendiri. Philip Seymour Hoffman juga sangat pas memerankan karakter Plutarch Heavensbee yang cukup cerdik. Dan Sam Claflin bisa menghidupkan karakter Finnick Odair yang cukup cool dan terkadang menyebalkan.

Dengan poin- poin bagus tersebut, The Hunger Games: Catching Fire mampu mengungguli kualitas predesornya. Dan sebagai sebuah adaptasi, The Hunger Games: Catching Fire cukup berhasil memuaskan penggemarnya. Dengan jajaran cast dan crew yang jempolan, saya yakin The Hunger Games Saga kelak akan membayar lunas apa yang pernah diciptakan oleh Twilight Saga. Bahwa semua film yang diangkat dari novel teen flick sejenis memiliki kualitas buruk dan menjadi ajang caci maki para kritikus. And once again, may the odds be ever in your favor. (dnf)

Rating:

8.5/10