The Great Wall (2016)

Poster

Directed By: Zhang Yimou

Cast: Matt Damon, Pedro Pascal, Andy Lau, Willem Dafoe, Tian Jing

Synopsis:

William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascal) adalah dua tentara bayaran yang selamat dari tim ekspedisi untuk mencari bubuk mesiu di daratan Cina kuno. Mereka berlindung di tembok panjang yang ternyata berfungsi untuk menghalau monster kuno yang gemar memakan daging manusia. Merekapun mau tidak mau harus ikut membantu para pejuang, yang di antaranya adalah Komandan Lin Mei (Tian Jing) dan ahli strategi Wang (Andy Lau).

Review:

1

Tembok Cina merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia yang dijadikan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1987. Tembok yang dibangun secara bertahap selama lebih dari 2000 tahun ini sebenarnya merupakan kesatuan dari berbagai macam tembok. Meski banyak spekulasi tentang fungsi dibangunnya tembok ini, namun salah satu yang paling terkenal adalah sebagai penghalang dari serangan bangsa dari utara. Sehingga seringkali tembok cina dianggap sebagai simbol kesatuan dari rakyat Cina, yang pada saat itu terdiri dari berbagai macam kerajaan. Sama halnya dengan situs- situs warisan budaya di dunia, tembok Cina juga diselimuti dengan berbagai macam legenda, mitos, serta cerita rakyat. Tidak sedikit malahan kisah fiksi baru yang dibuat untuk menggambarkan latar belakang bangunan tersebut. Salah satunya adalah film The Great Wall ini.

2

Zhang Yimou telah membuktikan sekali lagi kemampuannya untuk mencampur gaya perfilman Hong Kong serta Hollywood. Seperti yang pernah dia lakukan lewat The Flowers of War tahun 2011 lalu. Salah satu kekuatan dari film ini adalah kemampuan tim sinematografi hasil kerjasama antara Stuart Dryburgh dan Xiaoding Zhao. Dryburgh yang kemampuannya dalam sisi pewarnaan telah kita nikmati lewat The Secret Life of Walter Mitty sangat sempurna saat mengkolaborasikand iri dengan Zhao yang tangannya sangat cekatan dalam memadukan warna- warni yang kontras. Sehingga, seperti bisa dilihat dari pemilihan warna kostum, film ini layaknya membaca komik tiongkok atau kartun mandarin yang biasanya warna- warni kostum sangat dominan dan berwarna- warni.

3

Tanpa drama dragging yang terlalu berbelit- belit khas film Mandarin, film The Great Wall menyajikan tempo kisah yang sangat cepat. Bahkan dari awalpun, film sudah dibuka dengan sajian penyerangan para monster yang cukup menegangkan sambil menunjukkan kemampuan tempur para tokoh. Hanya saja pertempuran klimkas kurang begitu digarap dengan baik, meskipun sebenarnya masih cukup watchable. Penyelesaian yang ditawarkan terlalu simple untuk suatu wabah yang sudah meneror daratan Tiongkok selama ribuan tahun ini.

4

Pemilihan pemain juga sangat pas. Dan yang cukup menarik perhatian adalah Pedro Pascal, yang kembali bisa berperan sebagai sidekick yang setia dan manusiawi, seperti yang pernah dia bawakan dalam serial Narcos. Dan yang benar- benar paling menarik adalah Tian Jing. Apalagi kalau bukan dari segi bentukan yang memang benar- benar menyegarkan mata. Aktris yang ke depannya akan mendapatkan peran- peran yang cukup signifikan dalam film- film unggulan seperti Kong: Skull Island serta sekuel Pacific Rim ini bisa saja akan menjadi Michelle Yeoh berikutnya yang namanya cukup terdengar di perfilman Hollywood. Who Knows?

5

^^^^^^^ INI DIA TIAN JING… Cakep kan…!!!!

Rating:

7.5/10

Advertisements

The Accountant (2016)

Poster

Directed By: Gavin O’Connor

Cast: Ben Affleck, Anna Kendrick, Jon Bernthal, John Lightgow, J.K. Simmons, Jeffrey Tambor, Cynthia Addai- Robinson

Synopsis:

Christian Wolff (Ben Affleck) adalah seorang akuntan freelance yang memiliki klien dari dunia kriminal, seperti gembong teroris, mafia, maupun penjahat- penjahat kelas kakap lainnya. Suatu ketika, dia disewa untuk menangani perusahaan milik industrialis Lamar Black (John Lightgow) yang mengalami tindak pidana fraud yang ditemukan oleh akuntan perusahaan, Dana Cummings (Anna Kendrick). Namun tugas yang diambilnya tersebut membuat dirinya, Dana, dan semua yang terlibat dengan praktek curang tersebut menjadi target seorang pembunuh bayaran, Braxton (Jon Bernthal) yang disewa untuk menutupi korupsi tersebut. Di waktu yang sama, Wolff menjadi target analis Departmen Keuangan, Marybeth Medina (Cynthia Addai- Robinson) yang ditugasi oleh atasannya, Ray King (J.K. Simmons) untuk mengungkap jati diri sang akuntan.

Review:

1

Paska kegemilangannya lewat film Argo dan terpilih menjadi Batman, nama Ben Affleck yang dulu, bersama sang sahabat, sempat digadang- gadang memiliki potensi besar, mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Satu dekade ke belakang, karir aktor ini mengalami degradasi karir yang cukup parah. Razzie Awards-pun identik dengan namanya. Namun kini, dirinya mampu menonjolkan sisi bad ass-nya lewat performa Batfleck yang membungkam mulut para haters. Kini berduet dengan Gavin O’Connor yang cukup sempurna melahirkan film Warrior (yang juga disebut sebagai perkenalan sosok Tom Hardy yang ganas sebelum penampilannya sebagai Bane).

2

Sekilas bagi yang menyaksikan film ini akan berpendapat bahwa apa yang disajikan memiliki kemiripan dengan cerita vigilante, dalam hal ini Batman. Mengapa tidak? Kilas balik yang menggambarkan origins sang protagonis yang “terpaksa” keliling dunia karena profesi sang ayah sebagai militer membuatnya menimba ilmu dari berbagai macam ilmu, khususnya ilmu bela diri. Pemilihan J.K. Simmons sebagai agen pemerintah pun seperti disengaja oleh Warner Bros untuk trivia film Justice League di mana dia akan berperan sebagai Commissioner Gordon. Namun kesalahan penulis naskah, Bill Dubuque, di film ini adalah mencampur adukkan berbagai macam genre ke dalam film, yang sebenarnya memiliki potensi action yang cukup padat. Family value yang cukup kental dalam film ini bagi saya membuat penyajian kisah menjadi cukup dragging. Memang Dubuque pernah sukses lewat The Judge yang mengangkat tema kelurga. Namun membawa unsur tersebut ke dalam sebuah thriller ala Jason Bourne membuat beberapa scene terasa cukup “lemes”.

3

Namun kelemesan tersebut bisa dimaafkan, karena Dubuque dan O‘Connor berhasil menyajikan sajian action thriller perpaduan antara thriller ekonomi macam The Wallstreet dengan spionase macam Jason Bourne. Mungkin juga di pikiran mereka ingin menciptakan sebuah franchise tersendiri paska lahirnya beberapa franchise aksi baru beberapa tahun ke belakang seperti Olympus Has Fallen, John Wick, The Equalizer, dan Jack Reacher yang kesemuanya sudah memiliki atau sudah dipersiapkan sebuah sekuel. Hal ini terlihat dengan kilas balik yang diselipkan di sana- sini untuk memberikan origins yang cukup kuat bagi Sang Akuntan. Performa Ben Affleck sendiri saya rasa cukup sempurna menjadi jagoan yang mengidap autisme sejak kecil ini. Dia mampu membawakan peran seorang bad ass di satu scene dan seorang nerd yang kaku di scene lainnya.

4

Pemeran pendukung lainnya juga cukup pas. Jon Bernthal jangan ditanya lagi. Semenjak populer lewat franchise film seri Zombie paling terkenal, Bernthal sudah menjelma sebagai seorang bintang action baru. Apalagi ditambah dengan performa sempurnanya sebagai The Punisher lewat serial Daredevil yang mendapatkan apresiasi cukup baik. Anna Kendrick cocok memerankan seorang akuntan junior yang sisi lugunya mampu mengimbangi kekakuan Wolff dan bisa menimbulkan nuansa komedi romantis. J.K. Simmons, seperti saya sebutkan di atas tadi, terlihat seperti memperlihatkan karakter Gordon yang nantinya akan dimainkan. John Lightgow, Jeffrey Tambor, Cynthia Addai- Robinson bermain cukup pas sebagai perannya masing- masing.

5

The Accountant bisa jadi akan mengikuti jejak Robert McCall, Mike Banning, Jack Reacher, dan John Wick sebagai seorang karakter action hero yang jika beruntung akan menjadi legenda layaknya karakter The Terminator, John Rambo, Jason Bourne, James Bond atau The Transporter dalam ranah dunia film aksi laga. Banyak yang beranggapan bahwa The Accountant cukup unik karena profesi akuntan sendiri dianggap jauh dari kesan cool layaknya seorang action hero. Imej akuntan cenderung sebagai seseorang yang memiliki rutinitas dengan pekerjaan membosankan dan tampilan yang kaku. Apakah memang seperti itu? Padahal profesi ini sempet top lho di tahun 80 dan 90-an. “Kalau mau cepet dapet kerja, kuliah ambil akuntansi aja”. Jadi apakah pekerjaan seorang akuntan membosankan? Saya jawab. IYA. Believe me, I’m an accountant. (dnf)

Rating:

7.5/10

Don’t Breathe (2016)

Poster

Directed By: Fede Alvarez

Cast: Stephen Lang, Jane Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto

Synopsis:

Money (Daniel Zovatto), Rocky (Jane Levy), dan Alex (Dylan Minnette) adalah kawanan pencuri muda yang berencana untuk membobol rumah seorang veteran buta yang hidup seorang diri di lingkungan yang kumuh (Stephen Lang). Hanya saja, ternyata sang veteran memiliki skill yang mematikan. Keempat indera lainnya mampu menutupi indera penglihatannya yang tidak berfungsi. Dan rencana pencurian tersebut menjadi neraka bagi mereka.

Review:

1

Ciri khas sebuah film, atau karya seni lainnya, adalah membuat audience berempati terhadap karakter protagonis. Meskipun diceritakan sang protagonis memiliki profesi sebagai pembunuh bayaran, perampok, atau gangster sekalipun biasanya cerita menghadirkan karakter villain yang jauh lebih jahat dan membuat penonton memberikan izin atas apapun kejadian buruk dan hukuman yang diterima oleh sang villain. Uniknya film Don’t Breathe memiliki template di mana justru karakter villain atau antagonisnya merupakan si korban. Dan semua perlakuan buruk yang dilakukannya ditujukan kepada mereka yang pernah menyakitinya, seperti para protagonis di film ini yang merupakan komplotan pencuri. Dan itu bisa saja terjadi sama kita. Dan di kehidupan nyatapun kita pastinya akan mendukung karakter The Blind Man. Masih ingatkan berita yang sempat viral tentang seorang korban pencurian yang membela diri dengan memukul kepala si pencuri sampai mati, eh malah dipenjara? Coba gimana tanggapan kita? Mendukung si pencuri atau mendukung si korban?

2

Fede Alvarez adalah seorang sutradara yang sukses memberikan level ketegangan lebih tinggi saat me-reboot film Evil Dead. Bahkan tidak sedikit pujian diberikan yang menyatakan bahwa karyanya tersebut mengungguli film aslinya yang disutradarai oleh Sam Raimi, yang berlaku sebagai produser di film reboot-nya tersebut. Otomatis ketika berhasil mengamankan naskah film yang tadinya akan diberi judul The Man in The Dark ini, mantan sutradara Spider- Man itu langsung mengkontak Alvarez. Dan terbukti sekali lagi, dia mampu memberikan level ketengan yang sangat seru dari awal hingga akhir film. Ketegangan juga berhasil dibangun lewat tangan sinematografer Pedro Luque. Luque berhasil membuat shot shot yang cukup efektif dalam membangun ketegangan. Duet Luque dan Alvarez berhasil mengelurkan klaustrofobia penonton di tengah adegan kucing- kucingan antara para pencuri dan pemilik rumah.

3

Selain memboyong Alvarez, Raimi juga membawa Jane Levy yang ikut memeriahkan reboot Evil Dead. Jika di film reboot tersebut, Levy mampu membuat penonton ketakutan, di sini Levy mampu membuat penonton terpecah antara simpati dengan kehidupan pribadinya dan sebal dengan sikapnya yang mementingkan diri sendiri dan cukup seductive. Zovatto bermain cukup pas. Minnette mampu memainkan karakter yang memiliki moral yang paling tinggi di film ini. Sementara standing applause patut kita berikan kepada Stephen Lang. Aktor yang meski sudah menginjak usia senja namun tetap fit ini memang tidak pernah fail dalam membawakan perannya. Apalagi jika memainkan peran villain, seperti saat memerankan karakter Colonel Quaritch di Avatar.

4

Don’t Breathe mempertanyakan moral kita yang mampu berbuat keji terhadap orang yang kurang beruntung, dalam hal ini orang yang cacat. Dan bisa dikatakan film ini masuk ke daftar kuda hitam yang mampu memberikan kejutan tersendiri di dalamnya. Alur ketegangan tetap terjaga dari awal sampai habis dengan selipan twist yang cukup tertutup rapi hingga dua pertiga durasi. Tidak salah film ini memiliki judul Don’t Breathe, because we can not breathe while watching this movie. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

The Shallows (2016)

Nancy: Get out of the water! Shark!

Poster

Directed By: Jaume Collet- Serra

Cast: Blake Lively, Oscar Jaenada

Synopsis:

Nancy Adams (Blake Lively) adalah seorang mahasiswi kedokteran yang memutuskan untuk tidak meneruskan kuliah paska kepergian sang ibu. Demi mengobati rasa rindunya, dia memutuskan untuk berkunjung ke sebuah pantai terpencil di Amerika Selatan, di mana sang ibu pernah berlibur saat mengandung dirinya, untuk berselancar. Namun seekora hiu putih besar mengincari keselamatannya. Nancy hanya mampu bertahan di sebuah pulau karang kecil. Berpacu dengan waktu, Nancy harus berusaha menyelamatkan diri sebelum air pasang menutup pulau karang tersebut.

Review:

1

Jaws memberikan efek yang sangat luar biasa di dalam perkembangan industri perfilman. Bukan hanya melahirkan trend summer movie, di mana studio- studio saling berlomba mengeluarkan film bergengsinya dengan modal yang sangat besar tiap tahunnya di medio liburan musim panas. Namun Jaws juga menciptakan suatu trend film thriller yang menggunakan momok hewan pemakan manusia yang menakutkan. Di luar dari dunia perfilman, Jaws memberikan efek trauma terhadap para penonton yang mengaku tidak berani mendekati lautan karena takut dimakan ikan hiu. Efeknya, beraneka macam spesies ikan hiu menjadi suatu sosok menakutkan bagi penonton awam. Padahal sebenarnya, mayoritas ikan ini tidak menyerang manusia. Penyerangan biasanya dikarenakan oleh dua hal. Yang pertama adalah bau darah yang mampu merangsang ikan hiu dan dapat tercium dari jarak yang cukup jauh. Kedua adalah baju selam ketat yang digunakan para surfer dan penyelam yang di mata ikan hiu seperti anjing laut yang merupakan hidangan favoritnya.

2

Secara premis sebenarnya cukup menjanjikan, meskipun format semacam ini sudah kerap kali dipakai. Adapun pemakaian format di mana si protagonis harus bertahan hidup di sebuah lokasi seorang diri memerlukan kualitas akting yang cukup hebat. Karena harus mampu memainkan emosinya tanpa tektokan pemain pendukung dalam satu scene. Lihat saja Tom Hanks. Secara CV, Blake Lively sebelumnya belum membuktikan dirinya merupakan seorang aktris watak yang mampu berakting seorang diri. Jadi pemilihan dirinya sebagai pemeran utama merupakan sebuah keputusan berisiko tinggi. Namun ternyata istri dari sang Deadpool ini mampu memberikan performa terbaiknya dibandingkan film- filmnya terdahulu. Lively mampu membawakan karakter Nancy yang bukan merupakan seorang superhero. Namun mampu mengatasi situasi dengan cukup smart dan manusiawi.

3

Sebenarnya kredit terbesar patut diberikan kepada sang sutradara, Jaume Collet- Serra yang mencicipi kesuksesan lewat Orphan. Jaume mampu menjaga tensi ketegangan yang cukup tinggi sepanjang film. Bahkan ketika adegan yang diperuntukkan untuk penonton mengambil nafas saja, masih bisa membuat penonton tegang dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Nancy. Jadi bisa dikatakan The Shallows merupakan sebuah film yang mampu mengajak penonton ikut berempati dengan suasana hati karakter utamanya. Terlebih lagi, adegan- adegan aksi yang disajikan cukup memompa adrenalin. Penggunaan insert- insert gambar yang diperuntukkan untuk membuat tampilan video call disajikan cukup stylish.

the-shallows-movie-trailer-video

The Shallows menjelma menjadi sebuah film yang sangat realistis dan dekat dengan kita. Sang karakter utama yang dibuat sebagai seorang average girl menjadi sebuah nilai lebih yang membuat karakternya menjadi cukup humanis. Setting lokasi di perairan dangkal juga membuat filmnya terasa lebih dekat dengan kita. Jika Jaws membuat penonton dulu parno untuk mendekati laut, apakah The Shallows sukses membuat penonton parno mendekati pantai? (dnf)

Rating:

8/10

 

 

 

Now You See Me 2 (2016)

Thaddeus Bradley: “Are you listening horsemen? You will get what’s coming to you. In ways you can’t expect.”

Poster

Directed By: Jon M. Chu

Cast: Jesse Eisenberg, Woody Harrelson, Mark Ruffalo, Dave Franco, Lizzy Chaplan, Daniel Radcliffe, Jay Chou, Michael Caine, Morgan Freeman

Synopsis:

Dalam sebuah misi untuk menyibak kebusukan di tengah peluncuran produk telekomunikasi Octa 8, The Horsemen yang terdiri dari Daniel J. Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt McKinney (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco), dan anggota baru, Lula May (Lizzy Chaplan) diganggu oleh sosok misterius yang kemudian diketahui adalah Walter Mabry (Daniel Radcliffe). Bukan hanya mengganggu show tersebut, tapi Mabry juga menculik keempat Horsemen dan mengungkap jati diri horseman kelima, yang tidak lain tidak bukan adalah Special Agent Dylan Rhodes (Mark Ruffalo).

Horsemen yang kemudian diculik oleh Mabry diperintahkan untuk mencuri sebuah chip yang mampu membongkar informasi dari seluruh komputer di dunia. Hal ini dilakukan karena Mabry menganggap The Horsemen bertanggung jawab terhadap investasinya yang hancur di perusahaan Tressler Insurance yang dimiliki oleh Arthur Tressler (Michael Caine). Di tengah keputusasaan untuk menemukan “anak didik”nya, Dylan mau tidak mau harus bekerja sama dengan musuh terbesarnya, Thaddeus Bradley (Morgan Freeman) yang mengetahui siapa dalang di balik hal yang menimpa para Horsemen.

Review:

1

Now You See Me memiliki berbagai macam potensi untuk menjadi sebuah sleeper hit. Essemble cast yang solid, cerita yang rapi, plot yang menarik, serta dilengkapi dengan twist yang terjaga rapi hingga akhir cerita. Tidak mengagetkan film yang disutradarai oleh Louis Leterrier lantas menjelma menjadi salah satu kuda hitam pada tahun 2013. Sebenarnya Now You See Me tidak jauh berbeda dengan film- film conman dan heist kebanyakan. Hanya saja cara cerita yang dikembangkan dari ide Boaz Yakin dan Edward Ricourt disajikan layaknya menonton pertunjukan sulap, yang menjadi warna inti dari plot film ini. Tipuan, trick, dan bagaimana dari awal penonton di-distract dengan sosok wanita cantik sehingga tidak memperhatikan rahasia trick sebenarnya menjadi nilai jual yang membedakan film ini dengan film- film lainnya. Kesuksesan Now You See Me menjadikan salah satu film dengan naskah orisinal di tahun 2013 yang cukup berpartisipasi dalam menambah laba Lionsgate. Sontak saja, film yang (saya prediksikan) kelak suatu saat nanti akan menjadi sebuah cult dan (mungkin saja) beberapa puluh/ belas tahun ke depan akan di reboot ini mendapatkan lampu hijau untuk sebuah sekuel. (Dan kemudian sekuel kedua yang akan dirilis tahun 2017/ 2018).

2

Kesalahan terbesar dalam memfilmkan sekuel ini adalah dengan memecat Boaz Yakin dan Edward Ricourt dan menggantikannya dengan Pete Chiarelli yang kali ini menemani penulis naskah Ed Solomon. Nampak duet Chiarelli dan Solomon tidak memahami bagaimana cara untuk memperlakukan naskah franchise ini. Di tangan mereka, Now You See Me 2 menjelma menjadi sebuah sajian blockbuster biasa yang memiliki twist murahan serta tidak secerdas dulu. Malah menurut saya pribadi, sepertinya mereka sendiri tidak memahami naskah film sebelumnya, di mana Solomon sebenarnya terlibat sebagai penulis naskah berdampingan dengan duo kreatornya. Seperti contoh, di film pertama kita diberi keyakinan bahwa Dylan seolah- olah adalah seorang karakter yang cukup berpengaruh di organisasi The Eye. Namun di sekuel ini, nampak posisinya tidak lebih dari keempat anak didiknya di organisasi rahasia pembela kebenaran tersebut. Belum lagi adegan kilas balik atas masa lalu Dylan yang jauh berbeda dengan extended version versi home video film Now You See Me. Penjelasan mengapa karakter Henley Reeves (dimainkan di seri pertama oleh Isla Fisher, yang tidak bisa kembali gabung karena tengah mengandung) digantikan oleh Lula May juga terlalu cheesy. Dan yang terlebih lagi adalah bagaimana twist yang rencananya bisa menjadi sebuah reveal yang brilian, berubah menjadi terkesan terlalu dipaksakan.

3

Jon M. Chu kembali membuat sebuah sekuel yang berantakan dan seolah- olah menghianati film pertamanya. Masih membekas di hati bagaimana dia mematikan karakter Duke di sekuel G.I. Joe dan mengedepankan karakter Roadblock sebagai jagoan utamanya. Hanya demi menjagoankan Dwayne Johnson saja. Kali ini begitu pula dia mengotori sekuel Now You See Me ini. Namun jika dilihat dari trick sulap yang dihadirkan, film ini cukup memberikan pengalaman baru dengan menawarkan trick- trick sulap yang baru. Salah satu yang terbaik dari film ini adalah pada saat keempat horsemen menggunakan keahlian bermain kartu saat melakukan pencurian. Bisa dikatakan itu satu- satunya adegan yang menarik dari film ini. Jelas saja mengenai trick sulap akan sangat menarik, karena kali ini David Copperfield naik jabatan menjadi co-producer setelah sebelumnya hanya menjadi technical advisor yang tidak disebutkan di credit. Sudah pasti dengan naiknya jabatan akan membuat dirinya lebih leluasa untuk memberikan trick- trick sulap baru yang menarik. Namun (lagi- lagi) ending yang menghadirkan rentetan sulap, yang seharusnya menjadi sebuah plot yang cerdas, malah tidak ubahnya sebagai tontonan street magic biasa.

4

Bakat cast di film ini terasa disia- siakan. Padahal sebenarnya film ini memiliki jajaran pemain yang tidak bisa diremehkan (oke, lupakan Eisenberg yang sambil ingusan teriak “ding ding ding” dari penjara). Hanya Radcliffe dan Harrelson saja yang sepertinya diberikan kesempatan untuk membuktikan bakat aktingnya. Radcliffe bisa membawakan peran spoiled-brat-play-gangster dengan baik dan cukup menyebalkan. Woody Harrelson, yang bisa dikatakan memiliki akting yang paling baik di film ini. Perannya yang kali ini menghidupkan dua karakter sangatlah baik. Terutama saat memainkan Chase McKinney (dengan bantuan aktor Brick Patrick sebagai body double-nya). Satu lagi bakat yang sangat disia- siakan, dan bagi saya pribadi sangat dipaksakan, adalah dengan memasang Jay Chou sebagai salah satu karakter pendukung. Terlihat ini adalah usaha untuk menembus pasar Asia, yang sebenarnya dengan tidak usah memakai nama biduan tersebut sudah cukup menjual. Dan bisa dikatakan pemilihan aktor ini juga dimaksudkan sebagai trivia, di mana sang aktor terkenal suka menggunakan trik- trik sulap di sela- sela pertunjukannya. Untungnya segala kekurangan tersebut masih didukung oleh soundtrack yang enerjik dan asik di telinga.

5

Now You See Me 2 sekali lagi membuktikan pendapat bahwa film sekuel memiliki kualitas di bawah film pertamanya. Dan membuktikan bahwa Jon M. Chu tidak memiliki kualitas seorang sutradara film sekuel (yang anehnya, menurut kabar yang beredar, dirinya sudah diplot untuk menangani Now You See Me 3). Saya berharap ke depannya, jika memang harus dan gak ada pilihan lain selain M. Chu sebagai sutradara, setidaknya Lionsgate mau mengajak duo kreator untuk memegang naskah. Sehingga plot cerita menjadi lebih terarah, rapi, dan menarik seperti film pertamanya. (dnf)

Rating:

7/10

Money Monster (2016)

Lee Gates: The name is Lee Gates. The show is Money Monster.

money_monster_poster_2

Directed By: Jodie Foster

Cast: George Clooney, Julia Roberts, Jack O’Connell, Dominic West, Caitriona Balfe, Giancarlo Esposito, Christopher Denham

Synopsis:

Money Monster adalah sebuah acara yang membahas tentang pasar saham dan investasi dan dipandu oleh Lee Gates (George Clooney). Ketika saham IBIS Global Capital turun dan membuat para pemegang saham kehilangan USD 800 Juta, Gates berencana untuk memanggil sang CEO, Walt Camby (Dominic West) untuk melakukan wawancara live di acaranya. Namun dikarenakan urusan bisnis, Walt tidak bisa hadir dan digantikan oleh Kepala bagian humas, Diane Lester (Caitriona Balfe).

Namun sebuah insiden terjadi. Salah seorang investor yang kehilangan USD 60 ribu karena berinvestasi di IBIS atas saran Lee di salah satu episode Money Monster, Kyle Budwell (Jack O’Connell) menyandera Lee dan dengan tetap siaran langsung menuntut penjelasan dari Camby atas kerugian tersebut. Penjelasan resmi tentang adanya glitch dalam sistem algoritma dianggap omong kosong oleh Kyle.

Sutradara acara Patty Fenn (Julia Roberts) mencium adanya praktek busuk yang dilakukan oleh Camby. Dengan bantuan Diane, Patty mencoba mencari tahu latar belakang perihal kerugian massal tersebut sambil berpicu dengan waktu sebelum Captain Marcus Powell dari kepolisian membunuh Kyle.

Review:

1

Di era modern sekarang ini, tanpa disadari uang sudah memperbudak manusia. Tidak sedikit manusia yang rela menghabiskan lebih dari 20 jam tiap hari hanya untuk bisa membayar tagihan listrik dan telepon. Bahkan tidak sedikit pula yang mengorbankan keluarganya dengan tidak memberikan perhatian yang cukup. Dan dengan kerasnya persaingan kerja yang sayangnya membuat kebutuhan hidup lebih tinggi daripada pendapatan membuat manusia berfikir untuk mencari sumber penghasilan tambahan. Ada yang memiliki kerja paruh waktu, ada yang menjalankan bisnis, dan adapula yang menginvestasikan sejumlah uangnya di pasar modal. Malangnya tidak semua investor mengerti dan memahami seluk beluk pasar modal. Mereka mempercayakan begitu saja kepada pialang dan tidak jarang mengikuti nasihat dan petunjuk orang- orang yang dianggap ahli dalam bidang pasar modal. Bagi mereka yang beruntung, akan menambah pundi- pundi kekayannya. Namun bagi yang merugi, tidak sedikit yang hidupunya semakin terpuruk.

money-monster-dom-DF-08070_r_rgb.0

Money Monster mencoba menceritakan pengaruh buruk dari sebuah investasi buta yang dilakukan oleh seseorang dan ditambah dengan praktek miring sebuah korporasi raksasa. Bisa dikatakan film ini mencoba untuk menggabungkan antara film tentang TV yang sempat menjadi trend 2-3 dekade lalu dan film tentang praktek ekonomi, meskipun tidak sejlimet Big Short. Nilai kuat dari film ini jatuh kepada akting para pemain, terutama 3 pemeran utamanya. George Clooney sejak pertama penampilannya di awal film sudah mampu menciptakan imej egosentris yang nyebelin dan menganggap dirinya paling penting. Dan peran Lee Gates memang pantas diberikan kepadanya. Julia Roberts bermain sangat pas menjadi woman of the show, yang tough dan benar- benar memegang kendali. Tapi kredit paling besar patut diberikan kepada Jack O’Connell. Bagi saya pribadi, akting aktor muda tersebut mampu mengimbangi senior- seniornya, bahkan bisa mengungguli dengan ledakan- ledakan emosi, yang mampu memberikan simpati pada penonton sejak awal kemunculannya.

3

Jika ingin berbicara mengenai naskah, sebenarnya film ini memiliki naskah yang sangat sederhana. Apa yang disajikan lewat naskah film ini sebenarnya bisa dibilang sangat dangkal. Bahkan penonton pun sudah bisa menduga akhir cerita film ini hanya dengan menyaksikan 10 menit awal film saja. Hanya saja keberuntungan membuat naskah ini bisa dipegang oleh sutradara yang kompeten. Jodie Foster telah membutikan dirinya masuk ke dalam jajaran bintang film sukses yang juga sukses menjadi sutradara mengikuti Clint Eastwood dan Mel Gibson. Foster seakan tidak memberikan penonton untuk keluar ke WC dengan memberikan durasi yang sangat padat dengan tensi yang tetap terjaga. Ditambah lagi Foster mampu menyelipkan joke- joke ringan yang menambah menariknya film ini.

4

Money Monster menjelma menjadi sebuah sajian alternatif di tengah riuhnya pesta CGI film- film blockbuster di musim panas. Setidaknya film ini bukanlah merupakan sebuah sekuel, prekuel, reboot, ataupun adaptasi dari komik atau novel atau game. Film ini murni menggunakan naskah original. Sehingga bisa menjadi varian hiburan alternatif. (dnf)

Rating:

9/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Spectre (2015)

Mr. White: You’re a kite dancing in a hurricane, Mr. Bond

Poster

Directed By: Sam Mendes

Cast: Daniel Craig, Chistoph Waltz, Dave Bautista, Lea Seydoux, Monica Bellucci, Ralph Feinnes, Naomie Harris, Ben Whishaw, Jesper Christensen, Rory Kinnear, Judy Dench, Andrew Scott

Synopsis:

Ketika sedang menjalankan misi terakhir yang diterimanya dari mantan atasannya (Judy Dench),  James Bond (Daniel Craig) menemukan fakta tentang keberadaan sebuah organisasi terorisme internasional bernama SPECTRE. Untuk menemukan dan menangkap pimpinan SPECTRE, Franz Oberhauser (Christoph Waltz), Bond terpaksa harus membuat perjanjian dengan musuh lamanya, Mr. White (Jesper Christensen) dan setuju untuk melindungi putrinya, Madeleine Swann (Lea Seydoux) dari kejaran Jinx (Dave Bautista), salah seorang anggota SPECTRE.

Sementara itu MI-6 sedang berada di keadaan terjepit. Pasalnya, sebuah merger berskala global dengan MI-5 yang dipimpin oleh Max Denbigh/ C (Andrew Scott) menyulitkan gerak- gerik M (Ralph Feinnes) untuk membantu Bond, di samping adanya kemungkinan penghapusan program 00 oleh C.

Review:

1

WARNING: THIS REVIEW MAY CONTAIN SPOILER

James Bond franchise menjadi salah satu franchise terpanjang dan menjadi salah satu legenda industri perfilman. Siapa yang tidak tahu James Bond? Bahkan orang yang 5 tahun sekali ke bioskoppun cukup familiar dengan nama ini. Dan Bond pun telah menggariskan template seorang movie- spy, yang terkadang tidak akurat dengan dunia nyata. Sekaligus James Bond menjadi versi internasional dari Mas Boy, di mana karakter tersebut digambarkan memiliki semua hal yang diidam- idamkan seorang wanita dan diimpi- impikan seorang pria. Tampan, jago berantem, naik mobil keren, bisa bunuh orang, dan love machine yang mujarab. Tidak heran semua orang insan perfilman menginginkan untuk ambil bagian dalam setidaknya satu film Bond.

2

Reboot James Bond pada tahun 2006 juga memberikan peran yang sangat besar bagi perjalanan karir seorang Daniel Craig, dari yang aktor hanya untuk pemeran pembantu, menjadi seorang mega bintang. Craig mengembalikan karakteristik Bond seperti apa yang dibayangkan oleh Ian Fleming. Tidak terlalu tampan, brutal, kasar, dan jauh dari kesan flamboyan dan genit. Berbeda dengan apa yang sudah dipercikkan oleh Sean Connery dan Roger Moore, di mana karakter Bond haruslah seseorang yang tampan dan genit terhadap wanita. Dan sampai sekarangpun masih banyak yang belum bisa move on dari sosok James Bond yang parlente itu. Sehingga banyak yang mengharapkan Craig untuk berakting layaknya Roger Moore atau San Connery. Hasilnya bisa kita lihat di Skyfall, yang disebut- sebut sebagai film yang mengembalikan karakteristik Bond ke aslinya. Dan Skyfall pun menjadi cukup berhasil sehingga kerjasama dengan sang sutradara dilanjutkan ke film berikutnya ini.

3

Yang perlu diketahui adalah Sam Mendes bukanlah seorang sutradara film aksi. Namun drama. Dan ketika menyutradarai Skyfall pun bisa dikatakan cukup berhasil karena memakai formula The Dark Knight dengan sub plot berlapis dan naskah yang cerdas. Belum lagi penampilan Javier Bardem yang benar- benar sangat outstanding. Nampak dalam SPECTRE pun, Mendes mencoba untuk meneruskan apa yang pernah dilakukan dalam film sebelumnya. Satu hal yang paling nampak adalah penggambaran villain- nya. Terlihat jelas di sini, Oberhauser mencoba untuk mengulang kembali keberhasilan penampilan Silva. Bahkan dari latar belakang aksi merekapun didasari dengan balas dendam. Jika Silva memiliki dendam pribadi di masa lalu dengan M, Oberhauser digambarkan memiliki dendam kesumat yang dipendam terhadap James Bond semenjak kecil. Hanya saja akting Waltz tidak mampu mengungguli Bardem. Hal ini lebih meyakinkan saya bahwa Christoph Waltz hanya bisa berakting keren jika disutradarai oleh Quentin Tarantino. Karena di luar film QT, tidak ada satupun penampilan Waltz yang bisa dikatakan luar biasa.

4

Lalu dari segi naskah, kisah yang ditampilkan tidak terlalu kuat. Bahkan cenderung terlalu monoton dengan banyaknya adegan dragging yang cukup membosankan. Terlihat jelas Sam Mendes tidak mampu menjaga ritme sebuah film James Bond. Oke, memang dia bagus di drama dengan satu piala Oscar lewat film debutnya, American Beauty menjadi bukti kepiawaiannya. Namun lewat film SPECTRE ini, drama yang ditawarkan sangatlah membosankan dan justru membuat turunnya level keasyikan menonton. Meski begitu, untungnya film ini bisa diselamatkan oleh adegan- adegan aksi yang cukup lumayan. Hanya saja untuk adegan klimaksnya tidak seseru adegan pembukanya, atau adegan- adegan aksi lainnya sepanjang film. Jika dibandingkan dengan Rogue Nation, kualitas dan fun dari film SPECTRE sangatlah jauh di bawah standar, meskipun secara garis besar, kedua film tersebut bisa dikatakan memiliki cerita yang mirip; bertemu dengan organisasi musuh legendaris, ketemu archenemy, badan intelejen protagonis yang akan dinonaktifkan, dan karakter jagoan yang bertindak sendiri di luar perintah resmi atasan.

6

Di luar semua kekurangan di atas, usaha untuk memberikan sentuhan “it’s all connected” terhadap tiga film James Bond terakhir, bisa diberikan apresiasi lebih. Seperti kita ketahui, pada awalnya penggunaan organisasi Quantum diperuntukkan untuk menggantikan SPECTRE, dan Mr. White dimaksudkan untuk menggantikan karakter Ernst Stavro Blofeld, yang hak ciptanya belum bisa diamankan setelah perselisihan legal yang cukup lama antara Kevin McClory dan Eon Productions. Sehingga impian fans untuk menyaksikan Blofeld di layar lebarpun bisa tercapai. Dan demi memberikan peralihan karakter antagonis secara rapi, dilakukanlah step seperti yang dilakukan oleh Christopher Nolan untuk The Dark Knight Rises setelah kematian Heath Ledger, yang tadinya memang diperuntukkan sebagai karakter antagonis dan mati di jilid ketiganya tersebut. Untuk tidak begitu saja membuang karakter Mr. White dan Quantum, yang sempat dilupakan lewat film Skyfall, diambillah langkah yang cukup bagus untuk mengkoneksikan semuanya dengan organisasi SPECTRE dan tentu saja, Ernst Stavro Blofeld-nya. Dan bagi saya pribadi, treatment yang dilakukan sangat rapi. Hanya saja seperti saya singgung di atas tadi. Perjalanan panjang yang cukup signifikan dalam serial reboot ini malah berakhir kurang mengenakkan. Penampilan Blofeld di sini terlalu komikal, bahkan pesonanya jauh di bawah Le Cheffire dan Silva. Namun Alhamdulillah masih jauh di atas Greene. Sehingga jika dibandingkan sama halnya dengan penampilan Morriarty dalam Sherlock Holmes versi Guy Ritchie.

6

Ya tapi, meskipun memiliki begitu banyak kekurangan di sana- sini, film James Bond tetaplah film James Bond. Mau bagaimanapun juga tetap laris manis. Bahkan sekuelnyapun sudah sempat dirumorkan, dengan Daniel Craig kembali menjadi sang agen 007 dan Sam Mendes yang (sayangnya) masih dikabarkan menduduki bangku sutradara. Banyak yang menasbihkan SPECTRE sebagai film James Bond terburuk. Saya tidak setuju. Masih banyak film- film James Bond yang jauh di bawah kualitasnya. Tapi kalau disebut memiliki soundtrack paling basi. Ya saya setuju. Lagu Writings on the Wall yang dibawakan oleh Sam Smith menambah boring- nya film ini dan saya menobatkannya sebagai soundtrack Bond terburuk. Well, just like Bond said; it’s only a matter of perspective,” (dnf)

Rating:

7/10