Battle of Surabaya (2015)

Yumna: Kau pikir aku penghianat?

Poster

Directed By: Aryanto Yuniawan

Cast: Dominic, Maudy Ayunda, Reza Rahadian, Jason Williams

Synopsis:

Setelah kekalahan Jepang oleh tentara Sekutu, Jepang menyatakan kekalahannya. Belanda, yang menjadi bagian dari tentara Sekutu mengklaim Indonesia sebagai hasil jarahan perang. Belanda pun mencoba masuk kembali ke Indonesia dengan memboncengi tentara Sekutu. Sementara itu Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya. Beberapa tokoh seperti Residen Sudirman, Bung Tomo, Gubernur Suryo, Moestopo membangkitkan semangat pemuda Surabaya untuk menghadang agresi militer Belanda tersebut. Namun bukan hanya dari pihak Belanda, beberapa ronin pasukan khusus Jepang yang menamakan dirinya Kipas Hitam ingin memperjuangkan hak Jepang kembali di tanah Indonesia.

Musa (Dominic), adalah seorang kurir yang bertugas untuk mengantarkan berbagai macam pesan di antara pos perjuangan tentara Indonesia. Dengan dibantu oleh Danu (Reza Rahadian), seorang bekas tentara PETA dan Yumna (Maudy Ayunda), pujaan hati Musa yang diam- diam memiliki masa lalu rahasia, Musa mencoba untuk menjalankan misi demi misi pengantaran pesan tersebut.

Review:

1

Tidak heran jika saya menyebutkan bahwa Battle of Surabaya sebagai sebuah paket komplit untuk membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia. Pasalnya selain temanya yang memang memiliki semangat patriotisme tinggi, ini juga menjadi salah satu ajang pembuktian bahwa Indonesia tidak ketinggalan dalam dunia animasi dengan negara- negara lainnya. Memang dari Sumber Daya Manusia, sebenarnya banyak sekali animator- animator handal Indonesia yang mampu mempersembahkan sajian yang apik. Hanya saja kurangnya respon masyarakat dan enggannya para produser mempergunakan jasanya banyak yang lebih memilih mencari nafkah menjadi animator- animator untuk negara- negara lainnya. Jangan heran jika film- film blockbuster luar negeri banyak yang mempergunakan animator Indonesia ke dalam tim animasinya. Jangan jauh- jauh untuk genre animasi, coba jujur dengan diri sendiri? Berapa banyak dari kita yang jika diajak nonton film Indonesia jawabannya “ah 3 bulan lagi ada di TV”, “Film Indonesia gak berbobot”, “Kalahlah sama film luar”. Helloooo…. di mana merah dan putih lo, Tong…????

2

Battle of Surabaya cukup mendapatkan berbagai macam penghargaan internasional. Bahkan dari trailer-nya pun sudah mendapatkan respon positif dari dunia luar. Tidak heran Walt Disney cukup tertarik dan menaruh minat yang besar pada proyek ini. Masih dalam tahap produksi, pihak produser sudah melakukan negosiasi dengan studio animasi terbesar skala dunia tersebut. Walt Disney membantu dalam urusan peredaran internasional dan menjadi advisor dalam berbagai macam unsur teknis, termasuk plot ceritanya. Namun yang cukup disayangkan, nantinya untuk peredaran internasional, nama- nama karakter fiksi akan diganti menjadi nama- nama yang lebih akrab di telinga orang bule ketimbang “Musa”, “Yumna”, dan “Danu”. Mungkin nantinya jika diganti menjadi “Moses”, “Jennifer”, dan “David” akan lebih ackward. Lucu aja denger orang bernama Moses melakukan sholat. Hahahaa… gak maksud SARA ya… Nama gue Daniel, tapi gue juga diwajibkan untuk Sholat kok…

3

Dari materi promosi yang sudah beredar dapat disimpulkan bahwa tim produksi menjadikan karya- karya Hayao Miyazaki dari studio Ghibli menjadi referensi untuk teknik animasinya. Bahkan tidak dapat dipungkiri jika memang anime Jepang menjadi salah satu unsur terkuat dalam film ini. Bukan hanya dari teknik animasinya saja, namun juga dari karakterisasinya. Salah satu contohnya adalah gerombolan Kipas Hitam yang benar- benar mirip dengan film- film anime. Namun dalam unsur animasinya, film ini memang layak diacungi 4 jempol (2 kaki dan 2 tangan). Mungkin penonton awam luar tidak akan mengira film ini berasal dari Indonesia, mereka akan mengira benar- benar hasil studio Ghibli. Oke, ini bisa menjadi hal positif maupun negatif. Positifnya adalah skill anak negeri sudah bisa menyamai skill orang Jepang. Namun negatifnya takutnya kita tidak memiliki style sendiri dalam dunia animasi. Memang hal ini masih menjadi PR bagi negeri kita, karena kebanyakan karya- karya yang maju yang berkiblat pada style Jepang atau Amerika. Tapi saya optimis, ini masih dalam tahap pencarian jati diri. Ke depannya pasti akan menemukan style sendiri.

4

Sound cukup baik. Beberapa adegan pertempuran cukup digarap dengan menarik. Hanya saja yang menjadi kendala ada alur cerita yang masih sangat lemah. Tampak sepertinya penulis naskah ingin memasukan berbagai macam plot dan sub- plot yang malah membuat dragging di banyak scene. Dan jika penonton mengharapkan banyaknya adegan pertempuran karena judulnya yang di awali kata “Battle” akan kecewa. Karena memang yang menjadi fokus setting waktu di sini adalah paska pertempuran Surabaya tanggal 10 November tersebut. Terlalu banyaknya adegan- adegan drama mendayu- dayu khas Ghibli juga mungkin menjadi bumerang bagi film ini. Namun final scene adegan terakhir cukup memberikan keseruan tersendiri. Dan sesuai dengan tagline “There is no Victory in War” cukup terwakili dengan banyaknya korban- korban yang harus menderita, bukan hanya dari pihak Indonesia, yang menjadi pihak terjajah. Namun juga dari orang- orang Jepang dan Belanda, dari pihak penjajah yang digambarkan memiliki sisi manusia dan sangat membenci perang. Maka itu, sebagai bentuk sebuah pesan perdamaian, film ini juga cocok ditonton negara di luar Indonesia.

5

Catatan penting lainnya yang harus ditengok adalah jajaran voice cast. Nama Maudy Ayunda dan Reza Rahadian jelas memberikan spotlight tersendiri. Namun yang disayangkan adalah minimnya dialek Suroboyo di sini. Kecuali beberapa karakter, yang itupun untuk menggambarkan sisi komikal dan menjadi penyegar dengan bumbu komedi saja. Padahal film ini ber-setting di Surabaya. Sudah seharunya nuansa kental arek- arek Suroboyo-nya lebih terasa di sini. Coba kita tengok film Reza sebelumnya, Guru Bangsa: Tjokroaminoto, yang benar- benar memperhatikan detail dialek Jawa-nya. Namun mungkin memang ini merupakan usaha untuk menembus pasar internasional. Namun sebenarnya jika ingin memperkenalkan budaya Indonesia ke luar, bisa memasukkan unsur tersebut, sehingga internasional tahu kita memiliki keberagaman suku dan dialek serta bahasa masing- masing layaknya Cina yang memiliki bahasa dan dialek di tiap daerahnya.

6

Untuk disain karakter yang memang mengambil referensi style Jepang mungkin agak sedikit aneh jika diaplikasikan kepada karakteristik karakter. Maksud saya, agak kurang cocok misalnya tokoh utama yang beretnik Jawa memiliki muka layaknya Orang Jepang. Ya, secara otomatis otak kita akan menerima gambar anime adalah orang Jepang. Jangan pedulikan itu. Karena tim animator juga telah melakukan effort terbaiknya untuk meng-anime-kan wajah- wajah tokoh- tokoh penting sejarah Indonesia. Dalam arti kata, meskipun dengan style anime-nya, namun wajah- wajah familiar seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Tomo masih mirip dengan wajah aslinya. Sehingga cukup bisa diterima.

7

Namun secara garis besar, Battle of Surabaya merupakan sebuah karya kebanggaan anak negeri, khususnya dalam genre animasi. Terlepas dari berbagai kekurangan yang saya bahas di atas, film ini patut disaksikan di bioskop oleh orang- orang yang mengaku sebagai orang Indonesia. Untuk ukuran digarap dari studio sederhana milik sebuah kampus di Jogakarta, bernama STMIK Amikom, film ini memang meraih pencapaian yang luar biasa. Tidak heran jika nantinya film ini dilirik juri Oscar untuk best animated feature. Karena memang juri- juri Oscar, demen film- film yang beginian. Ke depannya saya berharap, Battle of Surabaya akan membuka jalur bagi studio- studio animasi Indonesia untuk menghadirkan feature length berbobot. Minimal setahun sekali. Dan ke depannya banyak genre- genre lain dari industri perfilman Indonesia yang dilirik dunia internasional setelah Battle of Surabaya ini dan yang sebelumnya, dwilogi The Raid. (dnf)

Rating:

7.5/10

Fury (2014)

Wardaddy: This is my home

Poster

Directed By: David Ayer

Cast: Brad Pitt, Shia LaBeouf, Logan Lerman, Michael Pena, Jon Bernthal, Jason Isaacs

Synopsis:

Di penghujung tahun 1945, sekelompok pasukan Amerika Serikat yang tergabung dalam 2nd Armored Division diberikan tugas untuk membantu pasukan sekutu untuk merebut beberapa kota di negara Jerman yang cukup krusial bagi pertahanan pasukan SS. Salah satu dari pasukan tersebut adalah 1st Sgt. Dan “Wardaddy” Collier (Brad Pitt) yang memimpin 4 orang anak buahnya; Boyd “Bible” Swan (Shia LaBeouf), Trini “Gordo” Garcia (Michael Pena), Grady “Coon- Ass” Travis (Jon Bernthal), serta asisten kemudi yang masih hijau, Norman “Machine” Ellison (Logan Lerman), yang bertugas di dalam sebuah tank Sherman berjenis M4A3E8 yang bernama Fury.

 

Review:

stills from film "Fury"

Bagi yang mengikuti sejarah dan menggemari kisah perang- perang modern, pasti sudah tidak asing lagi dengan 2nd Armored Division, sebuah divisi artileri Amerika Serikat yang memiliki peranan penting dalam Perang Dunia ke-2. Khususnya dalam melawan tentara NAZI di Afrika Utara, Sisilia, Prancis, Belanda, Belgia, serta Jerman. Divisi ini juga ikut andil dalam perang dingin dan perang teluk sebelum dinonaktifkan pada tahun 1995. Kini dengan semangat “Amerika itu Hebat dan Benar” serta “Hitler dan NAZI adalah utusan Iblis karena telah membantai jutaan warga Yahudi”, David Ayer mencoba untuk mengankat tema patriotisme pasukan 2nd Armored Divison dalam sebuah film perang yang cukup kuat dalam penyajian.

5

Jika ditelusuri terdapat 2 hal yang menjadi dasar kekuatan film ini. Yang pertama adalah kualitas akting, dan yang kedua adalah naskah yang solid. Jajaran cast yang diisi oleh aktor- aktor yang cukup punya nama di Hollywood, merupakan nilai jual utama. Khususnya pemilihan Brad Pitt sebagai lead character.  Tingkat kebintangannya sudah pasti jadi magnet tersendiri untuk menarik minat penonton. Terbukti banyak penonton awam yang “tertipu” saat membeli tiket film The Tree of Life yang dikira akan menjadi film pop corn keren dan bukan cuman kumpulan gambar wallpaper komputer (jika meminjam perkataan teman saya) karena memasang nama serta wajah Brad Pitt di poster.

8

Sebagai sebuah batalion, ke-5 aktor utama sudah mampu menampilkan chemistry yang kuat serta saling melengkapi satu sama lainnya. Bahkan Brad Pitt pun rela untuk tidak tampil terlalu mencolok dan masih memberikan kesempatan rekan- rekan cast nya untuk lebih mengembangkan kemampuan aktingnya. Brad Pitt cukup pas tampil sebagai seorang pemimpin karismatik yang sadis dan tidak kenal ampun. Logan Lerman, yang kemampuan aktingnya, makin diuji di film ini, semakin menunjukkan bahwa dirinya merupakan aktor yang paling memiliki masa depan karir cerah di antara rekan- rekan seangkatannya. John Bernthal seperti biasa, tampil cool serta macho. Mungkin hanya Michael Pena yang kurang begitu cemerlang aktingnya, namun itupun masih bisa dikatakan bagus. Yang cukup membuat saya terpukau adalah penampilan Shia LaBeouf, yang sepertinya ingin merubah imej sweet boy lewat film ini. Dengan tampilan kumis untuk menambah kesan “cowok”-nya, LaBeouf berhasil menunjukkan kedewasan berakting.

1

Naskah yang ditulis oleh sang sutradara sendiri mampu menciptakan sajian yang apik. Meskipun bisa dikatakan sangat stereotype serta simple, namun Ayer mampu menggubah script yang biasa- biasa saja tersebut menjadi sebuah tontonan yang menarik. Tensi ketegangan serta karakterisasi ke-5 karakter utama berhasil digali dengan apik. Meskipun masih terdapat beberapa kelemahan, khususnya perubahan yang dialami karakter Norman yang menurut saya terlalu cepat hanya dalam hitungan hari.

3

Fury bukan merupakan film perang terbaik, namun bisa dikategorikan sebuah tontonan perang yang menarik. Racikan kualitas akting serta naskah yang baik, ditambah dengan rekaman gambar ala sinematogafer Roman Vasyanov, merupakan perpaduan yang baik untuk membuat penonton tahan duduk selama 134 menit. Bagi anda yang menggemari kisah peperangan yang tidak terlalu berat, saya sangat menyarankan untuk menyaksikan film ini sambil melihat kali kedua Brad Pitt memimpin pasukan untuk membantai tentara- tentara NAZI (dnf)

 

Rating:

8/10

Lone Survivor (2013)

Matt ‘Axe’ Axelson: You’re gonna die for your country. I’m gonna die for mine

Image

Directed By: Peter Berg

Cast: Mark Wahlberg, Taylor Kitsch, Emile Hirsch, Ben Foster, Eric Bana

Synopsis:

Pada bulan Juni 2005, 4 orang Navy Seal yang terdiri dari Marcus Luttrell (Mark Wahlberg), Michael Murphy (Taylor Kitsch), Danny Dietz (Emil Hirsch), dan Matt ‘Axe’ Axelson (Ben Foster) ditugaskan untuk menjadi recon team dalam misi menangkap dan membunuh seorang pimpinan Taliban yang kejam, Ahmad Shah. Namun misi yang tadinya lancar itu mulai kacau setelah ke-4nya bertemu dengan 3 orang penggembala yang merupakan penduduk desa yang dikuasai oleh Ahmad Shah.

Kontak batinpun mulai terjadi di antaranya. Mereka dihadapkan dengan 2 pilihan. Jika mereka ingin selamat dan misi berjalan lancar, mereka harus membunuh 3 orang penggembala yang terdiri dari seorang kakek- kakek dan 2 orang anak kecil. Atau mereka melepas mereka yang sudah pasti akan mengadukan keberadaan 4 orang Amerika yang sedang mengintai pimpinan Taliban.

Pilihan kedualah yang mereka sepakati. Dan merekapun harus menghadapi konsekuensinya. Melawan puluhan pasukan Taliban yang tidak segan- segan memotong kepala mereka.

Review:

Image

Lone Survivor adalah sebuah film perang modern yang diangkat dari buku dengan judul yang sama karangan Marcus Luttrell dan Patrick Robinson. Dari judulnya saja sebenarnya calon penonton sudah bisa menebak bagaimana ending kisah film ini dan siapa yang hidup dan siapa yang mati.

Selayaknya sebuah film yang berdasarkan kisah nyata, di mana ending- nya sudah kita ketahui, dibutuhkan sebuah tim brilian dan harus dikerjakan secara serius, agar penonton mampu mengikuti detik tiap detik durasi film.

Image

Pemilihan sutradara ke tangan Peter Berg sudah merupakan keputusan yang tepat. Berg menggunakan template yang pernah dikerjakannya melalui The Kingdom. Di mana penggambaran sebuah modern warfare dibuat serealistis mungkin. Campuran perpaduan antara drama dan aksi yang bagus menjadi daya tarik utama film ini.

Berg tidak terlarut di dalam sajian aksi perang standard yang menonjolkan penampilan stuntman fantastis. Namun adegan- adegan aksi yang disajikan dibawakan secara natural tanpa harus melupakan tensi ketegangan yang tetap terjaga sampai akhir film.

Image

Porsi drama yang menggambarkan sisi manusiawi ke-4 tokoh utama disajikan cukup menyentuh tanpa harus terlihat terlalu cheesy. Dengan efektif Berg mampu menciptakan bonding yang kuat di antara ke-4 tokoh utama dengan para penonton. Sehingga penonton cukup simpati dengan apa yang dialami mereka.

Sound merupakan bagian paling menarik dari film ini. Suara tembakan, desingan peluru, ledakan bom terdengar begitu nyata. Tidak heran jika Lone Survivor mendapat nominasi untuk kategori Sound Editing dan Sound Mixing.

Image

Para aktor yang terpilih bermain cukup bagus. Baik itu Wahlberg, Kitsch, Hirsch, dan Foster mampu menjalankan perannya dengan baik. Terlebih untuk Kitsch yang terlihat lebih matang dalam berakting jika dibandingkan film- film sebelumnya.

Film Lone Survivor bisa dikatakan menjadi salah satu dari sekian banyak film yang memberikan tribute khusus untuk Navy SEALS. Terlihat dari opening scene yang menggambarkan proses pelatihan para SEALS yang menunjukan efek fisik dan psikologis dari pelatihan tersebut. Lalu keseriusan Berg untuk membuat sebuah film modern warfare yang seakurat mungkin terbukti dari keseriusannya untuk melakukan research yang dilakukannya. Sampai- sampai film ini dipuji oleh para Navy SEALS itu tersendiri atas keakuratannya tersebut. Dari potongan rambut, cara berpakaian, cara berbicara, painted guns, taktik perang, bahkan efek psikologis yang lebih memilih menonjolkan sisi human tokoh protagonis ketimbang sisi heroiknya.

Image

So, jika anda menikmati sebuah sajian film aksi perang yang bermutu, Lone Survivor merupakan sebuah pilihan yang tepat. Dengan perpaduan drama serta aksi yang bagus dan keakuratan yang detail, film ini akan mampu memuaskan dahaga anda. (dnf)

Rating:

8.5/10