The LEGO Batman Movie (2017)

cym_yo1w8aqqn_z

Directed By: Chris McKay

Cast: Will Arnett, Michael Cera, Rosario Dawson, Ralph Fiennes, Zach Galifianakis, Billy Dee Williams

Synopsis:

Dikarenakan trauma masa kecilnya yang kehilangan kedua orang tua, Batman/ Bruce Wayne (Will Arnett) memiliki hati yang dingin dan tidak mau terlibat hubungan dengan siapapun. Termasuk tidak mau menganggap The Joker (Zach Galifianakis) sebagai musuh bebuyutannya. Hal ini membuat The Joker sakit hati, dan ingin merancanakan sebuah kejahatan yang akan menyadarkan Batman bahwa The Joker menjadi bagian penting dalam hidupnya. Mau tidak mau Batman harus mulai mencoba bekerja sama dengan orang- orang dekat yang selalu diacuhkannya, seperti Alfred (Ralph Fiennes), Barbara Gordon (Rosario Dawson), dan Dick Grayson (Michael Cera).

Review:

mv5bnwzlzgm4zmytmtc2zs00nzc4lwjimgytnzninmuxmgnlmjy3xkeyxkfqcgdeqxvyndk0mta4mty-_v1_

Kesuksesan The Lego Movie pada tahun 2014 lalu memberikan imbas yang cukup positif dan dinilai cukup meningkatkan penjualan pabrikan mainan asal Denmark ini. The Lego Movie juga cukup unik mengingat berbeda dengan adaptasi film yang berdasarkan toyline lainnya yang memilih animasi full atau live action, The Lego Movie menggunakan mainan Lego asli dan direkam dengan menggunakan teknik stop motion. Sebenarnya metode ini bukanlah hal baru bagi Lego. Karena sebelumnya, sudah banyak kolektor mainan yang membuat film dengan metode ini, termasuk kolektor Lego sendiri. Kini, demi memberikan gempuran akan proyek DCEU yang sedang kebut tayang untuk mengalahkan pesaingnya, MCU, Warner Bros membuat spin- off The Lego Batman Movie yang memfokuskan kepada karakter Batman. Setelah karakter Batman diperkanalkan dan menjadi salah satu scene stealer di film tersebut.

screen-shot-2017-01-08-at-11-37-09-am

The Lego Batman Movie dihujani oleh berbagai bintang terkenal sebagai pengisi suara. Will Arnett sekali lagi menunjukkan dirinya cukup pas untuk menyuarakan sang ksatria kegelapan yang bersuara berat, namun bisa terdengar bodoh untuk tuntutan film animasi. Di samping itu, barisan cast pendukung lainnya juga diselipi beberapa bintang populer seperti Ralph Feinnes, Zandaya, Ada Devine, Jonah Hill, Zoe Kravitz, Billy Dee Williams, Eddie Izzard, Seth Green, Channing Tatum, bahkan sang diva, Mariah Carey. Uniknya beberapa pengisi suara memiliki trivia sendiri. Seperti Billy Dee Williams yang kali ini benar- benar berhasil menjadi Two- Face dan bukan sekedar Harvey Dent, setelah sebelumnya direncankan akan meneruskan peran sang jaksa wilayah yang akan menjadi villain di film ketiga Tim Burton sebelum akhirnya diambil alih oleh Joel Schumacher dan menggunakan Tommy Lee Jones sebagai Dent. Lalu Ralph Feinnes yang menjadi Alfred dan harus berhadapan dengan karakter yang dipopulerkannya sendiri, Lord Voldemort. Dan Rosarion Dawson yang juga beberapa kali menyuarakan Wonder Woman.

screen_shot_2017-01-09_at_11-11-26_am-png

Penyajian cerita juga cukup baik. Meskipun memiliki tema yang cukup ringan dan cukup bersahabat bagi seluruh keluarga, namun McKay tidak lupa untuk menambahkan tone dark yang pastinya bakal memuaskan hard core fans Batman. Apalagi dengan cerdas tim penulis naskah dengan cerdas memasukan referensi ke kisah- kisah Batman lainnya. Baik dari film- film sebelumnya, seri animasi, bahkan beberapa referensi dari adegan legendaris dari komiknya. Meskipun memiliki tone yang cukup dark, namun nampak sepertinya film ini tidak ayalnya seperti wujud imajinasi anak kecil yang sedang bermain lego. Banyak hal yang cukup simple yang terlihat seperti keluar dari otak seorang anak kecil. Seperti Harvard For Police, yang seperti terlalu sederhana untuk menggambakan akademi terbaik yang melahirkan taruna- taruna penegak hukum terbaik. Ataupun bagaimana para Gothamites bersatu dan bekerja sama untuk menyelamatkan kota mereka dengan cara “stick together” yang terlihat cukup imajinatif dan terasa childish.

the-lego-batman-movie-villains-1

Film ini bisa dikatakan fans service dan pemuas mimpi basah para penggemar DC yang mengharapkan bersatunya karakter- karakter penerbit komik pujaannya tersebut di layar bioskop. Contoh seperti karakter Rogues Gallery yang ditampilkan bukan hanya yang sudah dikenal luas oleh awam seperti; The Joker, Bane, Two- Face, Catwoman, Harley Quinn, The Riddler, Scarecrow, dan Killer Croc saja, namun juga karakter- karakter yang cukup populer namun belum dikenal oleh awam seperti; Man- Bat, The Mutant Leader, Clayface, Killer Moth, Hush, The Gentleman Ghost, The Calendar Man, dan sebagainya. Begitu juga dengan karakter penjahat yang mungkin belum tentu juga dikenal oleh fans mediocre yang memang kurang begitu dikenal seperti; King Tut, The Crazy Quilt, Kite Man, Eraser, Zodiac Master, Orca, dan lain- lain, selain itu juga ada cameo karakter- karakter Justice League lainnya. Baik yang sudah terkenal, maupun yang tidak begitu terkenal. (selamet ye yang mau koleksi… mi instan dah dua bulan… ^_^).  (dnf)

Rating:

8.5/10

Sing (2016)

sing2016

Directed By: Garth Jennings, Christophe Lourdelet

Cast: Matthew McConaughey, Reese Witherspoon, Seth McFarlane, Scarlett Johansson, John C. Reilly, Tori Kelly, Taron Egerton, Nick Kroll

Synopsis:

Buster Moon (Matthew McCognauhey) adalah seekor koala yang sangat mencintai theatre. Cita- citanya tercapai ketika dia berhasil memiliki theatre yang menjadi cinta pertamanya itu. Hanya saja, dirinya kurang beruntung dalam berbisnis. Untuk memulihkan keadaan ekonominya, Moon mencoba untuk mengadakan audisi tarik suara yang kemudian memilih beberapa ekor finalis; Mike si tikus (Seth McFarlane), Meena si gajah (Tori Kelly), Johnny si gorilla (Taron Egerton), Ash si landak (Scarlett Johansson), dan duo babi, Rosita (Reese Witherspoon) dan Gunter (Nick Kroll).

Review:

1

Bagi yang mengikuti industri musik pasti mengetahui paska munculnya kontes adu bakat yang dimotori oleh World Idol, melahirkan banyak sekali bakat- bakat alami penyanyi amatir yang membangun mimpi untuk menjadi artis. Selain itu dengan kesuksesan franchise acara tersebut, melahirkan acara- acara sejenis di setiap negara. Seperti The Voice, Akademi Fantasi, dan mungkin yang sedang booming di negara kita Dangdut D’Academy. Tak heran jika kemudian membuat anak- anak muda tertarik untuk menekuni bidang ini, setelah sebelumnya hingga medio 90-an, anak- anak remaja berbondong- bondong untuk mendirikan band amatir. Beberapa filmpun telah menceritakan perihal dunia tarik suara (bukan film musikal), seperti Pitch Perfect dan Duets yang berfokus masing- masing kepada Group Acapella Performance dan Duet.

 

Adapun seperti kebanyakan film yang menonjolkan musik, yang perlu diperhatikan adalah cast harus memiliki kualitas olah vokal yang menjual. Begitu juga dengan film ini. Meskipun nama- nama yang dipilih masuk ke dalam jajaran cast kebanyakan adalah bintang film populer, namun dengan pedenya mereka mampu menyanyikan lagu layaknya seorang biduan. Wallahu A’lam sih pake effect apa di mix macem- macem. Hanya saja, tidak sedikit yang menduga bahwa performance suara pada saat karakter sedang bernyanyi dibawakan oleh voice cast berbeda dengan aktor tersebut. Sebut saja Seth McFarlane yang mampu bernyanyi ala Frank Sinatra, Johansson yang mamppu menghidupkan karakter yang berkiblat pada Avril Lavigne, Taron Egerton yang bisa membawakan versi gorillanya Bruno Mars, dan Reese Witherspoon yang memiliki karakter penyanyi seperti Taylor Swift.

4

Kumpulan tembang populer yang dipilih dan di remix cukup menarik. Musik yang dipilih dari berbagai macam genre memang sangat menghibur. Hanya saja, terkadang penempatan musik dirasa kurang tepat. Seperti ada satu karakter yang dipersiapkan untuk tampil sebagai biduan pamungkas, malah di penampilan akhirnya tampil dengan performance yang menurun jika dibandingkan dengan performance di beberapa scene sebelumnya. Ibarat kata, seorang finalis kontes adu bakat dari audisi sampai semi final berhasil memikat hati, namun pada saat grand final malah salah memillih lagu dan mengalami penurunan kualitas. Oke, mungkin bukan kesalahannya. Mungkin kesalahan pemilihan lagu dan komposer yang kurang oke dalam mempersiapkan tembang final tersebut.

3

Sayangnya dari segi cerita sangat biasa- biasa saja. Apalagi belum lama ini ada animasi Moana, yang memang sangat bagus dalam segi cerita. Terlihat memang fokus dalam film ini adalah performance tarik suara dan bukan dari plot kisah. Untungnya masih tertolong dengan design karakter yang cukup bersahabat (mengingatkan Zootopia malahan) dan joke yang masih tepat sasaran. Dengan kata lain, Sing bisa dijadikan hiburan pilihan. Terutama bagi anda yang menggemari dunia tarik suara (seperti saya). Dijamin akan terhibur. Saya sangat sangat dan sangat mengharapkan sekuelnya. Karena memang ceritanya bisa dikembangkan lebih luas lagi. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

fantastic_beasts_and_where_to_find_them_ver4_xxlg

Directed By: David Yates

Cast: Eddie Redmayne, Collin Farrell, Katherine Waterston, Alison Sudol, Dan Fogler, Ezra Miller

Synopsis:

Newt Scamander (Eddie Redmayne) adalah seorang penulis yang mendarat di kota New York dalam rangka melengkapi misinya untuk melestarikan hewan- hewan fantasi yang ada di seluruh dunia. Dia terjebak di sebuah insiden yang dapat membahayakan dunia sihir dan dunia manusia, setelah beberapa hewan fantasinya lepas. Dengan dibantu oleh dua penyihir adik- kakak, Tina (Katherine Waterston) dan Queenie (Alison Sudol) serta seorang manusia biasa, Kowalski (Dan Fogler) mereka harus menyelamatkan hewan- hewan fantasi sebelum menjadi kambing hitam dari semua insiden tersebut.

Review:

ghostbusters-2016-reboot-movie-review-chris-hemsworth

Siapa yang tidak tahu Harry Potter? Nama penyihir paling terkenal tersebut sudah menjadi salah satu ikon industri hiburan, layaknya James Bond, Superman, ataupun Batman. Pasalnya karakter yang diangkat dari buku seri hasil imajinasi J.K. Rowling ini bisa dikatakan cukup sukses di tangga box office dan kerap mendapatkan rating positif dari berbagai macam situs review film. Keberadaannya juga telah menciptakan trend tersendiri di genre aksi fantasi yang diekori oleh pengadaptasian literatur- literatur Young Adult lainnya. Namun sampai sekarang belum ada satupun yang berhasil mencetak rekor adaptasi keseluruhan ceritanya. Kecuali Twilight yang bagi saya pribadi berbeda dengan genre yang diusung oleh Harry Potter. Jika dibandingkan Harry Potter mungkin lebih mirip dengan karya- karya Rick Riordan.

2

Lalu ketika film dan bukunya tamat apakah berhenti sampai di situ saja? Well, siapa sih yang gak doyan duit? Selama masih ada permintaan dan kans yang baik di pasar, sudah pasti tidak akan disia- siakan. Beberapa di antaranya adalah menerbitkan buku Quiditch Throught The Ages dan Fantastic Beasts and Where to Find Them yang merupakan buku yang diposisikan sebagai buku yang dibaca Harry Potter. Dan yang belum lama ini adalah dengan membuat naskah drama Harry Potter and The Cursed Child yang sempat menuai kontroversi karena me-negro-kan karakter Hermione. Khusus buku Fantastic Beasts and Where to Find Them didaulat sebagai ensiklopedia hewan- hewan fantasi di dunia Harry Potter, baik yang sempat tampil maupun yang belum. Menariknya lagi, buku yang merupakan salah satu buku kurikulum di tahun pertama sekolah sihir Hogwarts ini ditulis oleh Newt Scamander, karakter fiksi yang sempat disebut dalam beberapa kisah dan menjadi nama pena Rowling dalam menulis buku ini. Namun untuk filmnya, dikisahkan sebagai latar belakang kisah pembuatan buku ini oleh Scamander yang direncanakan akan bergulir selama 5 seri.

sfsfsdfs

Dua hal yang sangat menarik dalam film ini. Yang pertama adalah casting yang nyaris sempurna. Eddie Redmayne memang sangat pas dalam menghidupkan karakter Scamander. Dan memang dirinya merupakan pilihan tepat untuk memerankan karakter- karakter aneh dan freak, seperti yang pernah dibawakannya lewat The Theory of Everything dan The Danish Girl. Berikutnya nama Dan Fogler memberikan sisi komikal dalam film ini yang mengingatkan kita pada karakter sidekick Ron Weasley. Dan mungkin jika ingin menyebutkan satu aktor lagi, Collin Farrell bermain sangat pas sebagai karakter antagonis. Yang kedua yang mampu membuat film ini menjadi menarik adalah polesan CGI yang begitu indah. Apalagi dalam menampilkan karakter mahluk- mahluk fantasi yang lucu dan juga mengerikan. Layaknya film- film Harpot lainnya, CGI menjadi salah satu unsur utama yang sangat diperhatikan dalam membawakan dunia magis ke dalam layar.

maxresdefault

Dengan memilih film ini sebagai adaptasi bebas dari buku yang juga dikarangnya, membuat J.K. Rowling menjadi bebas berekspresi tanpa harus terikat oleh buku yang biasanya menjadi kendala dalam mengadaptasi cerita. Seperti yang sudah diketahui oleh penonton, saat mengadaptasi buku biasanya membuat sebuah film kehilangan esensi dan tidak lagi semenarik saat membaca buku. Terbatasnya imajinasi yang dipatok dalam sebuah film serta plot yang mungkin diperingkas untuk keperluan durasi, yang terkadang menjadi bumerang bagi studio dan mendatangkan hujatan dari fans setianya. Tapi saat membuat cerita bebas dari buku yang sudah ada, menjadi sebuah ceritaan yang menarik dan tentunya akan terbebas dari kekangan- kekangan yang seperti saya sebutkan tadi. Dan hal itu sangat dimanfaatkan oleh penulis yang tercatat sebagai penulis buku terkaya itu. Eksplorasi imajinasinya terlihat dalam lebih fokusnya dia dalam membuat sajian sihir- sihiran, meski secara plot tidak sehebat seri Harpotnya. Namun hal tersebut tidak menjadi ganjalan karena akhirnya menjadikan film ini mudah dinikmati oleh setiap kalangan. Ditambah lagi sebuah “kejutan” di akhir kisah yang pastinya akan memuaskan bukan hanya Potterhead semata, tapi seluruh penonton.

FTB933_FBST_DTR4 2055.tif

Fantastic Beats and Where to Find Them berhasil meneruskan tongkat estafet Harpot franchise yang telah berakhir lewat Harry Potter and The Deadly Hallows: Part II pada tahun 2011 lalu. Dengan harapan, nantinya mampu menyaingi MCU atau jika memungkinkan Star Wars dan James Bond dalam eksis di industri layar perak. Tidak menutup kemungkinan jika nantinya seri ini sukses sampai 5 seri, seperti yang sudah direncanakan, Warner Bros akan meneruskan dengan mengadaptasi secara bebas buku Quidicth Through The Ages. (dnf)

Rating:

7.5/10

Jack Reacher: Never Go Back (2016)

Poster

Directed By: Edward Zwick

Cast: Tom Cruise, Cobie Smulders, Danika Yarosh, Aldis Hodge, Holt McCallany, Patrick Heusinger, Robert Knepper, Madalyn Horcher

Synopsis:

Meski telah mengundurkan diri dari jabatannya, namun Jack Reacher (Tom Cruise) kerap menjadi informan untuk penerusnya di Polisi Militer, Mayor Susan Turner (Cobie Smulders) atas kejahatan- kejahatan yang dilakukan oleh oknum penegak hukum. Namun ketika ingin mengunjungi Susan, Reacher mendapatkan kabar bahwa Susan ditangkap dan dipenjara atas tuduhan mata- mata. Reacher yang tidak percaya dengan tuduhan tersebut, membantu Susan untuk kabur dari penjara dan mencoba menyibak konspirasi di balik penangkapan tersebut. Di lain sisi, Reacher baru saja mengetahui bahwa dia memiliki seorang anak gadis remaja bernama Samantha (Danika Yarosh). Yang otomatis menjadi target ParaSource, jasa keamanan swasta yang menjadi otak di balik penangkapan Susan.

Review:

1

Jack Reacher yang rilis tahun 2012 lalu, merupakan adaptasi dari novel One Shot yang merupakan rangkaian seri novel Jack Reacher karangan Lee Child. Dengan mengedepankan sosok seorang Tom Cruise menjadi daya jual utama, film ini mendapatkan sambutan yang cukup positif. Meski banyak fans yang kurang setuju dengan pemasangan Cruise sebagai jagoan utama. Mengingat Jack Reacher versi Lee Child yang digambarkan di buku lebih mendekati sosok Dwayne Johnson yang tinggi besar ketimbang Tom Cruise yang pendek. Sama halnya dengan karakter Robert Langdon yang diciptakan lebih mirip Harrison Ford, namun pada versi filmnya diperankan oleh Tom Hanks. Yang membuat Jack Reacher menarik adalah karakter sang protagonis yang sudah tidak percaya dengan sistem hukum dan lebih memilih untuk menegakkan hukum dengan caranya sendiri tanpa menjadi seorang vigilante. Selain itu akting Cruise yang memberikan karakter Reacher menjadi seorang bad-ass yang pintar dan independent.

2

Sekuelnya kali ini mengalami perubahan tongkat penyutradaraan yang diestafet dari Christopher McQuarrie ke tangan Edward Zwick. Perubahan ini menjadikan template film memiliki nuansa yang berbeda. Baguskan? Sebenarnya bisa dikatakan bagus. Dengan aksi yang lebih padat dan adegan laga yang lebih brutal dan menumpuk, sudah pasti akan mampu menggelitik rasa penasaran penonton. Namun di sinilah letak kesalahannya. Jack Reacher pertama memberikan warna kisah detektif yang lebih kental. Penyelidikan Reacher ketika itu bukan hanya dengan menggunakan bak bik buk dar der dor saja. Namun daya analisa yang tinggi dalam menyusun kepingan puzzle sangat menarik. Di sekuelnya kali ini aroma yang ditempelkan lebih mirip formula Mission: Impossible, yang juga telah dirombak total oleh Cruise dari sebuah film spionase menjadi full action. Hasilnya di mata awam, tidak ada yang berbeda antara franchise Jack Reacher dan Mission: Impossible. Seandainya masih setia dengan nuansa detektif yang kental, tentu saja akan memberikan warna tersendiri bagi film ini.

3

Perubahan warna, juga berpengaruh kepada perubahan gaya naskah, yang tadinya lebih menegangkan menjadi kurang begitu berasa. Dari opening saja jika dibandingkan dengan film sebelumnya sudah berbeda. Jika di film pertama opening cukup membikin bulu kuduk berdiri, di film keduanya ini opening terasa cheesy layaknya film- film Hollywood lainnya. Beberapa pengulangan juga dirasakan di film ini. Saya tidak bermaksud spoiler, namun jika dicermati, beberapa sequence memang seperti mengulang sequence dari film sebelumnya. Selain juga Mission: Impossible, film ini juga seperti terinspirasi oleh franchise Jason Bourne. Di mana gaya berkelahi, penanganan action sequence, kejar- kejaran juga mengingatkan kita kepada mantan agen CIA yang diperankan oleh Matt Damon tersebut.

4

Namun bukan berarti Jack Reacher: Never Go Back tidak memiliki nilai lebih dibandingkan film pertamanya. Dengan memasukkan karakter Samantha yang dimainkan dengan sangat sempurna oleh Danika Yarosh, membuat kompleksitas karakter Reacher lebih menarik, selain mengeluarkan sisi humanisnya. Dan jika berbicara mengenai cast, Yarosh menampilkan akting yang paling bagus ketimbang senior- seniornya. Bahkan ketika harus beradu akting dengan Smulders dan Cruise, dia mampu mengungguli mereka berdua. Selain masalah kedalaman karakter, seperti dikatakan tadi, sajian action-nya sangat padat dan sudah pasti akan mampu memompa adrenalin penonton. Dan bagi saya pribadi, adegan- adegan laga cukup menutup segala kekurangan film ini. Another sequel? Mungkin saja jika penghasilan box office-nya cukup menjanjikan. Namun di sekuelnya nanti, saya mengharapkan nuansa detektifnya lebih ditonjolkan lagi. Sehingga karakter Jack Reacher tidak menjadi fotokopian dari Ethan Hunt. (dnf)

Rating:

7.5/10

Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)

Superman: Next time they shine your light in the sky, don’t go to it. The Bat is dead. Bury it. Consider this mercy.

Batman: Tell me. Do you bleed? You will!

Poster

Directed By: Zack Snyder

Cast: Henry Cavill, Ben Affleck, Gal Gadot, Jessee Eisenberg, Michael Shannon, Holly Hunter, Diane Lane, Scott McNairy, Callan Mulvey

Synopsis:

Dalam pertarungan antara General Zod (Michael Shannon) dan Superman (Henry Cavill) di ending Man of Steel, banyak pihak yang mengalami kerugian. Baik materil, moril, maupun kerugian jiwa. Salah satunya adalah Bruce Wayne (Ben Affleck) yang salah satu perusahaanya hancur lebur akibat pertempuran tersebut.

18 bulan kemudian, banyak masyarakat Metropolis yang mulai antipati dengan Superman. Menanggapi hal ini, salah seorang multimiliyader jahat bernama Lex Luthor (Jessee Eisenberg) menawarkan rencana untuk mengalahkan Superman dengan menggunakan sebuah pecahan batu mineral dari kapal General Zod yang bisa melumpuhkan manusia Krypton. Bruce Wayne di lain pihak yang sudah lebih dari 20 tahun melindungi kota Gotham sedang menyelidiki keterlibatan seorang tentara bayaran bernama Anatoli Knyazev (Callan Mulvey) yang disinyalir terlibat dalam pengiriman sebuah kargo berbahaya. Ternyata Knyazev dan Luthor terlibat satu sama lainnya. Bruce pun kerap bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Diana Prince (Gal Gadot) yang memiliki agenda tersendiri terhadap Luthor.

Review:

1

Jauh sebelum berjayanya MCU yang telah memberikan wajah baru dalam dunia perfilman Hollywood, sebenarnya DC Comics telah lebih dulu berjaya. Bahkan jika ditilik lebih jauh, rencana menggabungkan lebih dari 1 superhero telah ada lewat proyek Justice League dan Batman vs Superman yang entah kenapa mandek dan berhenti tanpa ada kabar lebih lanjut. Kalau asumsi saya pribadi, ini dikarenakan hak memfilmkan karakter- karakter DC Comics eksklusif dipegang oleh Warner Bros, sementara karakter- karakter Marvel ditawarkan terbuka untuk difilmkan oleh studio manapun yang berminat untuk membeli hak filmnya. Sehingga paska kegagalan yang bertubi- tubi lewat Batman & Robin dan Catwoman yang dihujat habis- habisan oleh fans, Warner Bros terlihat tidak berani untuk melanjutkan rencana penggabungan superhero dalam satu film tersebut. Namun setelah melihat kesuksesan trilogi The Dark Knight sekaligus kesuksesan sang pesaing lewat Cinematic Universe-nya membuat petinggi Warner Bros memberikan lampu hijau untuk proyek DC Extended Universe yang dimulai 2013 lewat Man of Steel.

1

Man of Steel mendapatkan mixed review dari berbagai macam kalangan. Pasalnya pakemnya yang ingin membuat tone filmnya menjadi cenderung dark dan lebih gelap agak kurang bisa diterima bagi non fanboy yang notabene sudah terbiasa dengan film- film Marvel yang cenderung lebih ringan dan family friendly. Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi, karena melihat hasil akhir yang dibawa oleh BvS: DoJ sendiri sebenarnya lebih mengarah untuk memuaskan para fans. Khususnya mereka yang sudah terbiasa dengan universe komik DC. Sehingga tanggapan negatif sudah pasti akan datang dari berbagai kalangan. Sebagai sebuah fans service, BvS: DoJ telah berhasil menjalankan misinya dengan baik. Dari mulai disain karakter, tone warna, sampai beberapa adegan reka ulang panel komik dari storyline- storeyline DC Comics yang populer berhasil memanjakan para fans yang benar- benar hardcore fans (bukan mereka yang ngaku- ngaku ngerti dan suka baca komik padahal komik juga cuman 1-2 yang dibaca… sama aja kaya saya sekali dua kali pernah nonton sepakbola tapi lantas tidak langsung otomatis menasbihkan diri menjadi seorang sportsfan). PS: Tidak mungkin ada fanboy yang tidak girang melihat scene superhuman footage.

3

Dari segi plot kisah sebenarnya sudah rapi tertuang dari goresan tangan David S. Goyer dan Chris Terrio sudah cukup baik untuk membuka pintu bagi kemungkinan adanya kisah Justice League. Hanya saja eksekusi akhirnya menjadi terlihat terlalu padat dan jujur agak dragging hingga 2/3 film. Dan hal ini sebenarnya menjadi salah satu batu ganjalan yang cukup signifikan. Mungkin memang Snyder masih belum mampu diberikan beban tanggung jawab proyek yang berskala besar seperti ini. Jika ingin dibandingkan dengan Nolan yang cukup mampu meracik plot yang cukup berat menjadi sebuah sajian film yang mengibur, bukan hanya bagi fans Batman saja. Namun juga bagi para penonton awam, dan bahkan bisa menciptakan fanbase baru. Kepenuh sesakan plot cerita sebenarnya didasari oleh kejar target untuk memberikan landasan kisah yang cukup kuat untuk nantinya memungkinkan adanya film Justice League. Sehingga hal ini mengorbankan ritme kisah yang cenderung membosankan bagi sebagian besar orang.

4

Kredit tersendiri patut disematkan kepada Patrick Tatopoulos yang dengan sukses mendesain berbagai macam atribut universe, khususnya gadget Batman serta batwing dan batmobile. Sinematografi juga cukup apik, apalagi dalam menggambarkan gloomy serta dahsyatnya pertarungan final yang digambarkan sangat komik dan cukup seru. Ketiga adalah Hans Zimmer yang berkolaborasi dengan Junkie XL yang telah berjasa besar memberikan sentuhan musik yang benar- benar memberikan nyawa tersendiri bagi filmnya. Namun jika ingin membicarakan nilai buruk dari film ini salah satunya adalah editing yang sangat sangat tdiak rapi dan terlihat terlalu terburu- buru.

5

Dari jajaran casting, terdapat 2 nama yang menurut saya paling berjasa besar bagi film ini. Yaitu Ben Affleck dan Gal Gadot. Mereka berdua berhasil membuktikan kalah pilihan yang jatuh ke tangan mereka adalah sebuah keputusan yang tepat. Affleck menjelma menjadi karakter Batman yang brutal dan bad ass. Perpaduan antara apa yang ada di franchise game Arkham dan hasil imajinasi Frank Miller. Dan Batfleck adalah Batman yang memiliki fighting style terkeren sepanjang sejarah perfilman. Gadot berhasil memberikan sentuhan perpaduan antara gambaran seorang pejuang wanita dengan seorang lady, hal ini memang pas untuk seorang Wonder Woman, belum lagi pada saat kemunculannya dalam kostum Wonder Woman pertama kali di film yang berpadu sempurna dengan score dari Zimmer yang benar- benar sangat baik dan bisa dikatakan salah satu scene terbaik dari film ini. Cavill mengalami degradasi akting dibandingkan Man of Steel. Permainan emosinya kurang dapat, padahal dalam film ini seharusnya digambarkan Superman sedang dalam keadaan yang dilematis, namun akting Cavill cenderung datar. Amy Adams semakin terlihat tua, entah kenapa dari awal dia yang terpilih menjadi Lois Lane mengingat keterpautan usia yang sangat jauh dengan Cavill. Di Man of Steel, balutan make up bisa menipu usianya, namun di sini terlihat sangat tua. Irons bagus dan mampu memberikan sosok Alfred yang berbeda. Eisenberg yang saya rasa kurang pas jadi Luthor. Sepertinya aktinya agak ke Joker- Joker-an dan malah menurut saya lebih cocok menjadi The Riddler ketimbang seorang Lex Luthor. Apalagi mengingat dia akan di set menjadi villain utama di DCEU. Rasanya seharusnya ada aktor lain yang lebih pas dibanding dia.

6

Seperti saya bilang di awal, BvS: DoJ merupakan sebuah film yang memang diperuntukan bagi hardcore fans yang sudah terbiasa mengikuti komik- komik DC. Namun gaya bercerita Snyder terlalu membosankan bagi penonton awam. Seharusnya dia bisa menggali lebih dalam lagi dan lebih memperhatikan bagaimana penonton awam bisa menyaksikan film ini dengan lebih antusias. Untuk gimmick 3D, sudah sangat baik meski layar yang cenderung jadi lebih gelap membuat lebih baik disaksikan di layar 2D, jika mau 3D mending ke IMAX. Namun Snyder telah memberikan fans service yang cukup dahsyat. Terlebih ketika Trinity berkumpul dalam satu scene melawan Doomsday. So, what are you? A fanboy who actually digs comic book so much or just an ordinary moviegore who needs some pop corn movie? (dnf)

Rating:

7/10

Ip Man 3 (2015)

Poster

Directed By: Wilson Yip

Cast: Donnie Yen, Zhang Jin, Patrick Tam, Lynn Hung, Mike Tyson, Danny Chan

Synopsis:

Ketika sekolah tempat anaknya menuntut ilmu diincar oleh seorang raja properti kejam, Frankie (Mike Tyson), Ip Man (Donnie Yen) tidak tinggal diam. Dengan dibantu oleh murid- muridnya, dan juga seorang ahli Wing Chun, Cheung Tin- Chi (Zhang Jin), Ip Man melindungi sekolah tersebut. Apalagi aparat hukum sepertinya hanya berdiam diri melihat sekolah tersebut diteror oleh kelompok preman pimpinan Ma King- Sang (Patrick Tam) yang juga bekerja di bawah organisasi milik Frankie.

Namun di tengah kesibukannya mengabdi kepada masyarakat, ternyata Ip Man harus memilih perannya untuk tetap mengabdi atau menemani istrinya yang didiagnosis mengidap penyakit kanker perut.

Review:

1

Jika anda seorang pecinta film seni bela diri ataupun penikmat perfilman Hong Kong, anda pasti mengetahui sosok Wong Fei Hung yang kerap dipakai di berbagai film. Karakter bersejarah tersebut memang melejit namanya di dunia internasional paska dirinya dipakai di sejumlah franchise film, dan yang paling terkenal adalah Once Upon A Time in China atau yang pernah beredar di Indonesia dengan judul Kung Fu Master. Nama- nama beken sempat disanding untuk memerankan karakter pahlawan dari Cina tersebut. di antaranya ada nama- nama seperti Jacky Chan, Jet Li, Eddie Peng, Gordon Liu, dan Sammo Hung.

2

Di era millennium, perfilman Hong Kong mencoba kembali untuk memperkenalkan salah satu legenda Kung Fu mereka yang bernama Ip Man. Suksesnya film yang sering di salah sebut dengan “Ai Pi Men” atau “Manusia Internet Protocol” ini memberikan buah manis kepada sang aktor, Donnie Yen, dengan melejitkan namanya menjadi aktor papan atas perfilman Hong Kong. Padahal sebenarnya kiprahnya sebelum Ip Man sudah jauh hingga ke manca negara. Sebelumnya dia sempat terlibat dalam sekuel pertama Blade. Selain Donnie Yen, nama gurunya Bruce Lee tersebut juga menjadi salah satu merk dagang yang akhirnya difilmkan dengan berbagai versi dengan aktor Anthony Wong, Dennis To, dan Tony Leung. Seni bela diri Wing Chun yang dipopulerkan oleh Ip Man juga ikut mengalami kenaikan pamor layaknya pencak silat dengan The Raid-nya.

3

Menuai respon dan kesuksesan luar biasa di jilid 2-nya, dan ditasbihkan sebagai salah satu sekuel yang lebih baik dari film pertamanya, sudah pasti membuat pihak produser gatel untuk segera membuat jilid ke 3-nya. Apalagi respon masyarakat untuk karakter tersebut juga cukup baik, mengingat film- film follower lainnya yang memakai nama Ip Man, dan jujur saja menumpang popularitas franchise besutan Wilson Yip ini. Namun ternyata jalannya tidaklah mulus. Pasalnya Donnie Yen enggan untuk mengulang perannya dikarenakan terlalu sempurnanya film kedua, sehingga dia khawatir jika dibuatkan film ketiga justru malah akan merusak nama baik franchise ini. Namun ternyata meskipun tidak sebagus film keduanya, namun bisa dikatakan hasil akhirnya tidaklah buruk.

4

Untuk menambah popularitas film ini, khususnya di negara- negara barat, dipasangkanlah Donnie Yen dengan petinju yang mulai sering ikut main film, Mike Tyson. Padahal sebenarnya menurut saya, justru bukanlah Ip Man 3 yang mengekor popularitas Mike Tyson, namun justru sebaliknya, menurut saya si leher beton lah yang mendompleng popularitas, paska merosotnya popularitasnya sekarang ini. Namun berbagai materi promosi yang menampilkan face off antara Donnie Yen dan Mike Tyson tidak sebanding lurus dengan apa yang tertuang di film. Pembentukan persepsi salah tersebut justru untuk memberikan kejutan atas siapa lawan terkuat Ip Man yang harus dilawannya sebagai final showdown film ketiganya ini.

5

Yang menjadi kekuatan franchise ini adalah perpaduan antara drama dan aksi yang sangat baik. Terlebih untuk jilid tiganya ini, unsur dramanya terasa lebih kental tanpa menjadikan film ini terlalu dragging. Justru alunan drama yang berfokus kepada usaha sang grand master untuk menjaga istri di hari- hari terakhirnya bagi saya lebih menarik ketimbang konflik  yang dihadapinya dengan organisasi Frankie. Kemampuan akting Donnie Yen pun teruji dengan baik di film ini. Bersanding dengan si cantik Lynn Hung, perpaduan keduanya sangat manis dan bisa mengeluarkan aura romantis pasangan suami- istri di tengah adegan- adegan pemacu adrenalin. Selain itu terpilihnya Zhang Jin sebagai pemain pendukung juga merupakan keputusan yang tepat. Selain kemampuan bela dirinya, aktor yang sempat bermain film Ip Man di luar franchise ini juga memiliki kemampuan akting yang sangat baik.

6

Oke, saya rasa Ip Man 3 merupakan penutup yang manis dari serangkaian film yang bisa saya sebutkan sebagai salah satu trilogi terbaik yang pernah dibuat oleh Hong Kong. Namun bisa saja ke depannya, film ini akan mengalami nasib yang sama dengan Once Upon a Time in China yang dijadikan berseri- seri. Apalagi dari film ketiganya ini masih belum diceritakan Bruce Lee resmi diterima sebagai murid, meskipun penampilannya dimainkan dengan baik dan mencuri perhatian oleh Danny Chan. Berbicara mengenai Chan, aktor ini memang pas memerankan sang legenda. Selain sebagai praktisi Jeet Kune Do, aktor berusia 40 tahun ini juga menjadi tokoh utama di serial The Legend of Bruce Lee. So, jika nantinya ada film ke-4 dan akan memakai jasa Chan sebagai Bruce Lee, yang menjadi side kick Ip Man, saya rasa akan sangat keren. (dnf)

Rating:

8/10

In The Heart of The Sea (2015)

Owen Chase: Look where we find ourselves. What offense did we give God to upset him so.

Poster

Directed By: Ron Howard

Cast: Chris Hemsworth, Benjamin Walker, Cillian Murphy, Tom Holland, Ben Whishaw, Brendan Gleeson

Synopsis:

Seorang novelis, Herman Melville (Ben Whishaw) mendatangi seorang lelaki tua, Thomas Nickerson (Brendan Gleeson) untuk melakukan riset tentang kejadian legendaris kapal Essex, yang diisukan tenggelam diserang oleh seekor paus sembur raksasa.

Cerita bergulir beberapa puluh tahun sebelumnya ketika, Thomas muda (Tom Holland) baru berusia 14 tahun menjadi awak kapal Essex, yang dikapteni oleh seorang keturunan bangsawan, George Pollard, Jr. (Benjamin Walker) dan memiliki kelasi kelas satu, Owen Chase (Chris Hemsworth) dan Matthew Joy (Cillian Murphy).

Dikarenakan ambisi mereka untuk membawa sebanyak mungkin minyak ikan paus, merekapun akhirnya pergi jauh ke sebuah perairan yang disinyalir memiliki ratusan ikan paus. Hanya saja tanpa mereka ketahui, ternyata kawanan paus tersebut dijaga oleh seekor paus raksasa, yang akan menjadi momok sangat mengerikan bagi seluruh awak kapal Essex.

Review:

1

Moby Dick adalah sebuah judul novel terkenal karangan Herman Melville yang sudah menjadi salah satu bacaan wajib bagi para pecinta literatur klasik. Sedikit plot mengenai kisah tersebut adalah tentang seorang kelasi muda, Ishmael yang menceritakan pengalamannya bertugas di kapal Pequod, yang dikomandoi oleh Captain Ahab, yang memiliki ambisi untuk memburu Moby Dick, seekor paus raksasa yang pernah menenggelamkan kapalnya dan menghilangkan kakinya. Tidak banyak yang tahu jika kisah tersebut dibuat atas dasar kekaguman Melville kepada kisah tragis kapal Essex yang ditenggelamkan oleh seekor paus raksasa. Salah satu survivor, Owen Chase, menyewa seorang penulis bayangan untuk mengabadikan kisahnya ke dalam sebuah buku berjudul Narrative of The Most Extraordinary and Distressing Shipwreck of Whale- Ship Essex, dan melalui tulisan inilah novel Melville mendapatkan inspirasi untuk Moby Dick. Lalu beberapta tahun kemudian, Thomas Nickerman menuliskan sebuah biografi berjudul The Loss of The Ship Essex Sunk by a Whale and The Ordeal of The Crew in Open Boats. Namun sayangnya, manuskrip tersebut hilang dan baru ditemukan dan dipublikasikan seabad kemudian, yaitu tahun 1984. Dengan menggunakan resensi dari kedua buku tadi, pada tahun 2000, Nathaniel Philbrick menerbitkan sebuah adaptasi lagi berjudul In The Heart of The Sea: The Tragedy of The Whaleship Essex.

2

Jika ditilik dari materi promosi, baik dari trailer maupun poster yang sudah dipublikasikan dari awal tahun ini, tidak sedikit yang menantikan film In The Heart of The Sea menjadi sebuah film monster, layaknya kisah Moby Dick, yang sudah kadung lebih terkenal. Namun jauh dari bayangan tersebut, gambaran mengenai men vs monster hanya ditampilkan sedikit sekali. Sehingga bagi mereka yang mengharapkan aksi layaknya Alan Grant vs Raptor, atau Jack Driscoll vs King Kong, atau si sexy Jennifer Lopez lawan Anaconda, sudah pasti akan kecewa. Namun bagi mereka yang haus akan sebuah film berbobot kualitas Oscar, bisa jadi In The Heart of The Sea menjadi sebuah sajian yang memuaskan.

3

Saya mencatat setidaknya ada 2 hal yang menjadi kekuatan besar dari film ini. Yang pertama adalah akting. Nyaris keseluruhan cast mampu mengeluarkan kemampuan aktingnya yang top notch dalam film ini. Dan jika ingin menyorot nama- nama yang paling bersinar kita bisa menyebutkan Benjamin Walker dan Tom Holland yang benar- benar mencuri perhatian. Kenapa saya menyebutkan kedua nama tersebut? Karena memang jika dibandingkan nama- nama lainnya, kedua nama ini yang masih belum terlalu terkenal. Benjamin Walker, sempat menuai pujian lewat aktingnya sebagai versi alternatif dari Abraham Lincoln yang gemar memburu vampire. Lalu Tom Holland, yang meskipun belum terkenal, namun namanya termasuk salah satu yang sedang diperbincangkan di tahun ini karena akan memakai kostum Spider- Man dalam sekuel Captain America tahun depan. Holland sempat menuai pujian juga sebagai si sulung yang berusaha bertahan hidup paska terkena tsunami di Thailand lewat The Impossible.

4

Dibandingkan nama- nama di atas, jajaran pendukung lainnya mungkin sudah lebih dikenal dan aktingnya juga sudah teruji. Cillian Murphy misalnya. Meskipun gagal mendapatkan peran Batman dan kalah oleh Christian Bale, namun kemampuannya mampu mencuri perhatian Nolan sehingga memberinya peran Scarecrow, dan menjadi satu- satunya villain yang muncul di keseluruhan seri The Dark Knight. Lalu ada Brendan Gleeson, yang memang sudah cukup terkenal dan kemampuan akting wataknya sudah tidak perlu diragukan lagi. Lalu ada Ben Whishaw yang mampu mencuri perhatian lewat Perfume: The Story of A Murderer, dan kemudian mulai menapakkan karirnya lewat peran Q dalam 2 seri James Bond terakhir. Bahkan Chris Hemsworth pun mampu membuktikan dirinya bisa melepaskan bayang- bayang sang dewa petir dan membuktikan untuk kedua kalinya, dirinya mampu memerankan karakter real setelah sukses lewat Rush yang juga disutradarai oleh Ron Howard.

5

Yang kedua adalah visual yang benar- benar bisa menimbulkan decak kagum. Hasil kerja Anthony Dod Mantle sebagai sinematografer sekali lagi bisa menampilkan tone sendu, seperti yang pernah dibawanya lewat Rush. Visual effet juga menjadi salah satu unsur kekuatan film ini. Visualisasi akan ikan- ikan paus, badai, serta kengerian samudera, mampu membuat penonton terbawa akan suasana hati ikut merasakan horor yang dialami para tokoh. Menurut komentar rekan- rekan saya yang menyaksikan film ini dalam format IMAX 3D, katanya film ini sangat- sangat worth it disaksikan dalam format tersebut. Namun sayangnya saya menyaksikannya dalam format reguler 2D. Sehingga efek 3D yang katanya sangat bagus baik dalam depth maupun pop-up tidak bisa saya rasakan.

6

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya di atas, In The Heart of The Sea merupakan sebuah sajian berbobot yang jauh dari bayangan men vs monster. Karena inti dari film ini adalah survival dan efek dari keserakahan manusia. Dengan pendekatan serealitis mungkin, tidak heran jika nantinya juri Oscar akan melirik film ini untuk mendapatkan nominasi naskah adaptasi terbaik. Dan dengan memiliki jejalan akting- akting yang sangat keren, saya akan heran jika nantinya tidak ada satupun aktor yang dilirik untuk mendapatkan nominasi peran terbaik, baik itu utama maupun pendukung. (dnf)

Rating:

8/10