The Great Wall (2016)

Poster

Directed By: Zhang Yimou

Cast: Matt Damon, Pedro Pascal, Andy Lau, Willem Dafoe, Tian Jing

Synopsis:

William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascal) adalah dua tentara bayaran yang selamat dari tim ekspedisi untuk mencari bubuk mesiu di daratan Cina kuno. Mereka berlindung di tembok panjang yang ternyata berfungsi untuk menghalau monster kuno yang gemar memakan daging manusia. Merekapun mau tidak mau harus ikut membantu para pejuang, yang di antaranya adalah Komandan Lin Mei (Tian Jing) dan ahli strategi Wang (Andy Lau).

Review:

1

Tembok Cina merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia yang dijadikan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1987. Tembok yang dibangun secara bertahap selama lebih dari 2000 tahun ini sebenarnya merupakan kesatuan dari berbagai macam tembok. Meski banyak spekulasi tentang fungsi dibangunnya tembok ini, namun salah satu yang paling terkenal adalah sebagai penghalang dari serangan bangsa dari utara. Sehingga seringkali tembok cina dianggap sebagai simbol kesatuan dari rakyat Cina, yang pada saat itu terdiri dari berbagai macam kerajaan. Sama halnya dengan situs- situs warisan budaya di dunia, tembok Cina juga diselimuti dengan berbagai macam legenda, mitos, serta cerita rakyat. Tidak sedikit malahan kisah fiksi baru yang dibuat untuk menggambarkan latar belakang bangunan tersebut. Salah satunya adalah film The Great Wall ini.

2

Zhang Yimou telah membuktikan sekali lagi kemampuannya untuk mencampur gaya perfilman Hong Kong serta Hollywood. Seperti yang pernah dia lakukan lewat The Flowers of War tahun 2011 lalu. Salah satu kekuatan dari film ini adalah kemampuan tim sinematografi hasil kerjasama antara Stuart Dryburgh dan Xiaoding Zhao. Dryburgh yang kemampuannya dalam sisi pewarnaan telah kita nikmati lewat The Secret Life of Walter Mitty sangat sempurna saat mengkolaborasikand iri dengan Zhao yang tangannya sangat cekatan dalam memadukan warna- warni yang kontras. Sehingga, seperti bisa dilihat dari pemilihan warna kostum, film ini layaknya membaca komik tiongkok atau kartun mandarin yang biasanya warna- warni kostum sangat dominan dan berwarna- warni.

3

Tanpa drama dragging yang terlalu berbelit- belit khas film Mandarin, film The Great Wall menyajikan tempo kisah yang sangat cepat. Bahkan dari awalpun, film sudah dibuka dengan sajian penyerangan para monster yang cukup menegangkan sambil menunjukkan kemampuan tempur para tokoh. Hanya saja pertempuran klimkas kurang begitu digarap dengan baik, meskipun sebenarnya masih cukup watchable. Penyelesaian yang ditawarkan terlalu simple untuk suatu wabah yang sudah meneror daratan Tiongkok selama ribuan tahun ini.

4

Pemilihan pemain juga sangat pas. Dan yang cukup menarik perhatian adalah Pedro Pascal, yang kembali bisa berperan sebagai sidekick yang setia dan manusiawi, seperti yang pernah dia bawakan dalam serial Narcos. Dan yang benar- benar paling menarik adalah Tian Jing. Apalagi kalau bukan dari segi bentukan yang memang benar- benar menyegarkan mata. Aktris yang ke depannya akan mendapatkan peran- peran yang cukup signifikan dalam film- film unggulan seperti Kong: Skull Island serta sekuel Pacific Rim ini bisa saja akan menjadi Michelle Yeoh berikutnya yang namanya cukup terdengar di perfilman Hollywood. Who Knows?

5

^^^^^^^ INI DIA TIAN JING… Cakep kan…!!!!

Rating:

7.5/10

Headshot (2016)

tiff-2016-headshot-poster

Directed By: Timo Tjahjanto, Kimo Stamboel

Cast: Iko Uwais, Julie Estelle, Chelsea Islan, Sunny Pang, Very Tri Yulisman, Zack Lee, David Hendrawan, Ganindra Bimo

Synopsis:

Seorang pemuda (Iko Uwais) ditemukan tidak sadarkan diri dengan luka tembakan di kepala. Dirinya dirawat di Rumah Sakit oleh seorang mahasiswi kedokteran Ailin (Chelsea Islan). Tidak mengetahui namanya sendiri, Ailin memberikan nama Ishmael. Namun ternyata, Ishmael, yang kemudian diketahui memiliki nama asli Abdi, menjadi incaran seorang gembong kriminal, Lee (Sunny Pang) yang mengutus anak buah- anak buahnya, Rika (Julie Estelle), Besi (Very Tri Yulisman), Tano (Zack Lee), dan Tejo (David Hendrawan) untuk membunuh Abdi.

Review:

1

Paska kesuksesan The Raid pada tahun 2011, yang diikuti sebuah sekuel 3 tahun kemudian, melahirkan trend baru di dunia perfilman Nasional. Kesuksesan, baik secara finansial maupun secara respon, membuat banyak produser yang tergiur untuk sedikit mengecap dan memanfaatkan momen tersebut. Ada beberapa yang beruntung bisa mengajak alumni The Raid, sebut saja seperti Iko Uwais, Cecep Arif Rahman, atau Kang “Greget” Yayan Ruhiyan. Tapi ada juga yang mencoba dengan bintang baru (dalam dunia perfilman). Namun tidak banyak yang bisa menyamai kualitas film arahan Gareth Evans tersebut. Kebanyakan masuk kategori “numpang lewat” saja. Di antara beberapa sineas yang mencoba untuk mengikuti jejak The Raid adalah duet sutradara yang terkenal dengan film- film “sakit” nya, Mo Brothers.

2

Secara materi promosi, film ini cukup berhasil menarik minat pecinta film nasional. (meskipun banyak yang suka ngomong “ah film Indonesia.. pasti jelek” atau “ah 2 bulan lagi juga masuk TV) —> shame on you, guys! Apalagi dengan masuknya 3 aktor gawang terdepan sekuel The Raid dan track record Mo Brothers yang selalu melahirkan karya berkualitas. Ditambah dengan strategi mereka yang selalu menayangkan terlebih dahulu di festival- festival film Internasional, sudah pasti akan menjadi daya jual tersendiri. Trailer yang dirilis juga berhasil mencuri perhatian (siapa sih yang gak meleleh lihat Chelsea Islan tampang baik- baik pakai kacamata?). Namun sayangnya, hasil akhirnya tidak sehebat yang diharapkan. Oke, secara kualitas film aksi sudah cukup bagus, tapi secara keseluruhan film cukup disayangkan.

3

Kita sudah pasti tidak mengharapkan cerita yang sangat kompleks atau bagus. Jika kita menoleh ke belakang, The Raid memiliki cerita standar, namun menonjolkan kualitas aksi, yang bahkan menjadi trend setter tersendiri secara internasional. Namun berbanding terbalik dengan sekuelnya. Meskipun secara kualitas aksi mengalami peningkatan dan tidak mengecewakan, namun cerita yang terlalu dibuat kompleks malah menjadi bumerang tersendiri dengan adanya kekecewaan- kekecewaan penonton. Seharusnya Mo Brothers bisa belajar dari situ. Secara premis, memang film Headshot sangat simple. Dengan perpaduan antar plot Hard to Kill, The Bourne Identity, dan Ninja Assassins, penonton mengharapkan aksi yang full package. Namun hasil akhirnya, ternyata Mo Brothers mencoba untuk memberikan sub plot yang cukup dragging.

4

Sebenarnya jika ingin membuat cerita lebih kompleks, akan lebih menarik jika unsur yang ditonjolkannya adalah pergolakan batin Abdi dalam melawan saudara- saudara angkatnya dalam perkelahian sampai mati ketimbang mengedepankan unsur romance nanggung yang malah membuat film terasa cheesy. Tensi ketegangan juga relatif menurun sejalan dengan durasi film. Adegan pembuka yang memperkenalkan sosok Lee yang sadis, manipulatif, dan pintar cukup memberikan janji positif terhadap penonton. Hingga pertengahan film, bisa dikatakan adegan aksinya cukup menegangkan. Sayangnya di pertengahan sempat mengalami penurunan. Namun Uwais Team kemudian membayarnya dengan pertarungan klimaks antara Abdi dan Lee yang sedikit mengingatkan kita kepada pertarungan Mad Dog melawan Rama dan Andi di film The Raid.

5

Saya merasa skill Iko kurang begitu dikeluarkan secara maksimal di dalam film ini. Kita masih ingat bagaimana dia dan tim menjadi bagian koreografi dalam film The Raid 2, yang cukup berhasil dan efektif. Di sini kualitas koreografinya mengalami penurunan. Namun saya cukup maklum, mengingat film ini tidak murni hanya martial arts. Penggunaan senjata api juga menjadi bagian penting di beberapa action sequence. Tapi jika berbincara mengenai jajaran cast, pemilihan pemain sudah cukup baik. Masing- masing bintang filmnya sudah berhasil membawakan karakternya masing- masing lebih hidup. Apalagi Sunny Pang yang berhasil memainkan karakter villain dengan sangat baik. Dan aktor Singapura ini menunjukkan kebolehannya dalam berbahasa Indonesia.

6

Jika ingin diambil kesimpulan, film Headshot masih masuk kategori watchable. Apalagi bagi kalian yang kangen dengan penampilan Iko Uwais ngebantai lawan- lawannya. Meskipun masih memiliki banyak kekurangan di sana- sini, namun setidaknya film ini masih memiliki kualitas yang cukup baik dibandingkan dengan pengekor- pengekor The Raid lainnya. Saya berharap di film berikutnya, The Night Comes For Us, Timo bisa membuat film aksi laga yang lebih brutal dan mengurangi scene- scene dragging-nya. Lho? Jadi diproduksi ya The Night Comes For Us? Insya Allah jadi brosis… Di antara jajaran pemain ada nama- nama Iko Uwais, Joe Taslim, Sunny Pang, Julie Estelle, Zack Lee, Abimana Aryasatya, Hannah Al Rasyid, Shareefa Daanish, dan (ehem ehem ehem)… Dian Sastro. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

Sing (2016)

sing2016

Directed By: Garth Jennings, Christophe Lourdelet

Cast: Matthew McConaughey, Reese Witherspoon, Seth McFarlane, Scarlett Johansson, John C. Reilly, Tori Kelly, Taron Egerton, Nick Kroll

Synopsis:

Buster Moon (Matthew McCognauhey) adalah seekor koala yang sangat mencintai theatre. Cita- citanya tercapai ketika dia berhasil memiliki theatre yang menjadi cinta pertamanya itu. Hanya saja, dirinya kurang beruntung dalam berbisnis. Untuk memulihkan keadaan ekonominya, Moon mencoba untuk mengadakan audisi tarik suara yang kemudian memilih beberapa ekor finalis; Mike si tikus (Seth McFarlane), Meena si gajah (Tori Kelly), Johnny si gorilla (Taron Egerton), Ash si landak (Scarlett Johansson), dan duo babi, Rosita (Reese Witherspoon) dan Gunter (Nick Kroll).

Review:

1

Bagi yang mengikuti industri musik pasti mengetahui paska munculnya kontes adu bakat yang dimotori oleh World Idol, melahirkan banyak sekali bakat- bakat alami penyanyi amatir yang membangun mimpi untuk menjadi artis. Selain itu dengan kesuksesan franchise acara tersebut, melahirkan acara- acara sejenis di setiap negara. Seperti The Voice, Akademi Fantasi, dan mungkin yang sedang booming di negara kita Dangdut D’Academy. Tak heran jika kemudian membuat anak- anak muda tertarik untuk menekuni bidang ini, setelah sebelumnya hingga medio 90-an, anak- anak remaja berbondong- bondong untuk mendirikan band amatir. Beberapa filmpun telah menceritakan perihal dunia tarik suara (bukan film musikal), seperti Pitch Perfect dan Duets yang berfokus masing- masing kepada Group Acapella Performance dan Duet.

 

Adapun seperti kebanyakan film yang menonjolkan musik, yang perlu diperhatikan adalah cast harus memiliki kualitas olah vokal yang menjual. Begitu juga dengan film ini. Meskipun nama- nama yang dipilih masuk ke dalam jajaran cast kebanyakan adalah bintang film populer, namun dengan pedenya mereka mampu menyanyikan lagu layaknya seorang biduan. Wallahu A’lam sih pake effect apa di mix macem- macem. Hanya saja, tidak sedikit yang menduga bahwa performance suara pada saat karakter sedang bernyanyi dibawakan oleh voice cast berbeda dengan aktor tersebut. Sebut saja Seth McFarlane yang mampu bernyanyi ala Frank Sinatra, Johansson yang mamppu menghidupkan karakter yang berkiblat pada Avril Lavigne, Taron Egerton yang bisa membawakan versi gorillanya Bruno Mars, dan Reese Witherspoon yang memiliki karakter penyanyi seperti Taylor Swift.

4

Kumpulan tembang populer yang dipilih dan di remix cukup menarik. Musik yang dipilih dari berbagai macam genre memang sangat menghibur. Hanya saja, terkadang penempatan musik dirasa kurang tepat. Seperti ada satu karakter yang dipersiapkan untuk tampil sebagai biduan pamungkas, malah di penampilan akhirnya tampil dengan performance yang menurun jika dibandingkan dengan performance di beberapa scene sebelumnya. Ibarat kata, seorang finalis kontes adu bakat dari audisi sampai semi final berhasil memikat hati, namun pada saat grand final malah salah memillih lagu dan mengalami penurunan kualitas. Oke, mungkin bukan kesalahannya. Mungkin kesalahan pemilihan lagu dan komposer yang kurang oke dalam mempersiapkan tembang final tersebut.

3

Sayangnya dari segi cerita sangat biasa- biasa saja. Apalagi belum lama ini ada animasi Moana, yang memang sangat bagus dalam segi cerita. Terlihat memang fokus dalam film ini adalah performance tarik suara dan bukan dari plot kisah. Untungnya masih tertolong dengan design karakter yang cukup bersahabat (mengingatkan Zootopia malahan) dan joke yang masih tepat sasaran. Dengan kata lain, Sing bisa dijadikan hiburan pilihan. Terutama bagi anda yang menggemari dunia tarik suara (seperti saya). Dijamin akan terhibur. Saya sangat sangat dan sangat mengharapkan sekuelnya. Karena memang ceritanya bisa dikembangkan lebih luas lagi. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

fantastic_beasts_and_where_to_find_them_ver4_xxlg

Directed By: David Yates

Cast: Eddie Redmayne, Collin Farrell, Katherine Waterston, Alison Sudol, Dan Fogler, Ezra Miller

Synopsis:

Newt Scamander (Eddie Redmayne) adalah seorang penulis yang mendarat di kota New York dalam rangka melengkapi misinya untuk melestarikan hewan- hewan fantasi yang ada di seluruh dunia. Dia terjebak di sebuah insiden yang dapat membahayakan dunia sihir dan dunia manusia, setelah beberapa hewan fantasinya lepas. Dengan dibantu oleh dua penyihir adik- kakak, Tina (Katherine Waterston) dan Queenie (Alison Sudol) serta seorang manusia biasa, Kowalski (Dan Fogler) mereka harus menyelamatkan hewan- hewan fantasi sebelum menjadi kambing hitam dari semua insiden tersebut.

Review:

ghostbusters-2016-reboot-movie-review-chris-hemsworth

Siapa yang tidak tahu Harry Potter? Nama penyihir paling terkenal tersebut sudah menjadi salah satu ikon industri hiburan, layaknya James Bond, Superman, ataupun Batman. Pasalnya karakter yang diangkat dari buku seri hasil imajinasi J.K. Rowling ini bisa dikatakan cukup sukses di tangga box office dan kerap mendapatkan rating positif dari berbagai macam situs review film. Keberadaannya juga telah menciptakan trend tersendiri di genre aksi fantasi yang diekori oleh pengadaptasian literatur- literatur Young Adult lainnya. Namun sampai sekarang belum ada satupun yang berhasil mencetak rekor adaptasi keseluruhan ceritanya. Kecuali Twilight yang bagi saya pribadi berbeda dengan genre yang diusung oleh Harry Potter. Jika dibandingkan Harry Potter mungkin lebih mirip dengan karya- karya Rick Riordan.

2

Lalu ketika film dan bukunya tamat apakah berhenti sampai di situ saja? Well, siapa sih yang gak doyan duit? Selama masih ada permintaan dan kans yang baik di pasar, sudah pasti tidak akan disia- siakan. Beberapa di antaranya adalah menerbitkan buku Quiditch Throught The Ages dan Fantastic Beasts and Where to Find Them yang merupakan buku yang diposisikan sebagai buku yang dibaca Harry Potter. Dan yang belum lama ini adalah dengan membuat naskah drama Harry Potter and The Cursed Child yang sempat menuai kontroversi karena me-negro-kan karakter Hermione. Khusus buku Fantastic Beasts and Where to Find Them didaulat sebagai ensiklopedia hewan- hewan fantasi di dunia Harry Potter, baik yang sempat tampil maupun yang belum. Menariknya lagi, buku yang merupakan salah satu buku kurikulum di tahun pertama sekolah sihir Hogwarts ini ditulis oleh Newt Scamander, karakter fiksi yang sempat disebut dalam beberapa kisah dan menjadi nama pena Rowling dalam menulis buku ini. Namun untuk filmnya, dikisahkan sebagai latar belakang kisah pembuatan buku ini oleh Scamander yang direncanakan akan bergulir selama 5 seri.

sfsfsdfs

Dua hal yang sangat menarik dalam film ini. Yang pertama adalah casting yang nyaris sempurna. Eddie Redmayne memang sangat pas dalam menghidupkan karakter Scamander. Dan memang dirinya merupakan pilihan tepat untuk memerankan karakter- karakter aneh dan freak, seperti yang pernah dibawakannya lewat The Theory of Everything dan The Danish Girl. Berikutnya nama Dan Fogler memberikan sisi komikal dalam film ini yang mengingatkan kita pada karakter sidekick Ron Weasley. Dan mungkin jika ingin menyebutkan satu aktor lagi, Collin Farrell bermain sangat pas sebagai karakter antagonis. Yang kedua yang mampu membuat film ini menjadi menarik adalah polesan CGI yang begitu indah. Apalagi dalam menampilkan karakter mahluk- mahluk fantasi yang lucu dan juga mengerikan. Layaknya film- film Harpot lainnya, CGI menjadi salah satu unsur utama yang sangat diperhatikan dalam membawakan dunia magis ke dalam layar.

maxresdefault

Dengan memilih film ini sebagai adaptasi bebas dari buku yang juga dikarangnya, membuat J.K. Rowling menjadi bebas berekspresi tanpa harus terikat oleh buku yang biasanya menjadi kendala dalam mengadaptasi cerita. Seperti yang sudah diketahui oleh penonton, saat mengadaptasi buku biasanya membuat sebuah film kehilangan esensi dan tidak lagi semenarik saat membaca buku. Terbatasnya imajinasi yang dipatok dalam sebuah film serta plot yang mungkin diperingkas untuk keperluan durasi, yang terkadang menjadi bumerang bagi studio dan mendatangkan hujatan dari fans setianya. Tapi saat membuat cerita bebas dari buku yang sudah ada, menjadi sebuah ceritaan yang menarik dan tentunya akan terbebas dari kekangan- kekangan yang seperti saya sebutkan tadi. Dan hal itu sangat dimanfaatkan oleh penulis yang tercatat sebagai penulis buku terkaya itu. Eksplorasi imajinasinya terlihat dalam lebih fokusnya dia dalam membuat sajian sihir- sihiran, meski secara plot tidak sehebat seri Harpotnya. Namun hal tersebut tidak menjadi ganjalan karena akhirnya menjadikan film ini mudah dinikmati oleh setiap kalangan. Ditambah lagi sebuah “kejutan” di akhir kisah yang pastinya akan memuaskan bukan hanya Potterhead semata, tapi seluruh penonton.

FTB933_FBST_DTR4 2055.tif

Fantastic Beats and Where to Find Them berhasil meneruskan tongkat estafet Harpot franchise yang telah berakhir lewat Harry Potter and The Deadly Hallows: Part II pada tahun 2011 lalu. Dengan harapan, nantinya mampu menyaingi MCU atau jika memungkinkan Star Wars dan James Bond dalam eksis di industri layar perak. Tidak menutup kemungkinan jika nantinya seri ini sukses sampai 5 seri, seperti yang sudah direncanakan, Warner Bros akan meneruskan dengan mengadaptasi secara bebas buku Quidicth Through The Ages. (dnf)

Rating:

7.5/10

Jack Reacher: Never Go Back (2016)

Poster

Directed By: Edward Zwick

Cast: Tom Cruise, Cobie Smulders, Danika Yarosh, Aldis Hodge, Holt McCallany, Patrick Heusinger, Robert Knepper, Madalyn Horcher

Synopsis:

Meski telah mengundurkan diri dari jabatannya, namun Jack Reacher (Tom Cruise) kerap menjadi informan untuk penerusnya di Polisi Militer, Mayor Susan Turner (Cobie Smulders) atas kejahatan- kejahatan yang dilakukan oleh oknum penegak hukum. Namun ketika ingin mengunjungi Susan, Reacher mendapatkan kabar bahwa Susan ditangkap dan dipenjara atas tuduhan mata- mata. Reacher yang tidak percaya dengan tuduhan tersebut, membantu Susan untuk kabur dari penjara dan mencoba menyibak konspirasi di balik penangkapan tersebut. Di lain sisi, Reacher baru saja mengetahui bahwa dia memiliki seorang anak gadis remaja bernama Samantha (Danika Yarosh). Yang otomatis menjadi target ParaSource, jasa keamanan swasta yang menjadi otak di balik penangkapan Susan.

Review:

1

Jack Reacher yang rilis tahun 2012 lalu, merupakan adaptasi dari novel One Shot yang merupakan rangkaian seri novel Jack Reacher karangan Lee Child. Dengan mengedepankan sosok seorang Tom Cruise menjadi daya jual utama, film ini mendapatkan sambutan yang cukup positif. Meski banyak fans yang kurang setuju dengan pemasangan Cruise sebagai jagoan utama. Mengingat Jack Reacher versi Lee Child yang digambarkan di buku lebih mendekati sosok Dwayne Johnson yang tinggi besar ketimbang Tom Cruise yang pendek. Sama halnya dengan karakter Robert Langdon yang diciptakan lebih mirip Harrison Ford, namun pada versi filmnya diperankan oleh Tom Hanks. Yang membuat Jack Reacher menarik adalah karakter sang protagonis yang sudah tidak percaya dengan sistem hukum dan lebih memilih untuk menegakkan hukum dengan caranya sendiri tanpa menjadi seorang vigilante. Selain itu akting Cruise yang memberikan karakter Reacher menjadi seorang bad-ass yang pintar dan independent.

2

Sekuelnya kali ini mengalami perubahan tongkat penyutradaraan yang diestafet dari Christopher McQuarrie ke tangan Edward Zwick. Perubahan ini menjadikan template film memiliki nuansa yang berbeda. Baguskan? Sebenarnya bisa dikatakan bagus. Dengan aksi yang lebih padat dan adegan laga yang lebih brutal dan menumpuk, sudah pasti akan mampu menggelitik rasa penasaran penonton. Namun di sinilah letak kesalahannya. Jack Reacher pertama memberikan warna kisah detektif yang lebih kental. Penyelidikan Reacher ketika itu bukan hanya dengan menggunakan bak bik buk dar der dor saja. Namun daya analisa yang tinggi dalam menyusun kepingan puzzle sangat menarik. Di sekuelnya kali ini aroma yang ditempelkan lebih mirip formula Mission: Impossible, yang juga telah dirombak total oleh Cruise dari sebuah film spionase menjadi full action. Hasilnya di mata awam, tidak ada yang berbeda antara franchise Jack Reacher dan Mission: Impossible. Seandainya masih setia dengan nuansa detektif yang kental, tentu saja akan memberikan warna tersendiri bagi film ini.

3

Perubahan warna, juga berpengaruh kepada perubahan gaya naskah, yang tadinya lebih menegangkan menjadi kurang begitu berasa. Dari opening saja jika dibandingkan dengan film sebelumnya sudah berbeda. Jika di film pertama opening cukup membikin bulu kuduk berdiri, di film keduanya ini opening terasa cheesy layaknya film- film Hollywood lainnya. Beberapa pengulangan juga dirasakan di film ini. Saya tidak bermaksud spoiler, namun jika dicermati, beberapa sequence memang seperti mengulang sequence dari film sebelumnya. Selain juga Mission: Impossible, film ini juga seperti terinspirasi oleh franchise Jason Bourne. Di mana gaya berkelahi, penanganan action sequence, kejar- kejaran juga mengingatkan kita kepada mantan agen CIA yang diperankan oleh Matt Damon tersebut.

4

Namun bukan berarti Jack Reacher: Never Go Back tidak memiliki nilai lebih dibandingkan film pertamanya. Dengan memasukkan karakter Samantha yang dimainkan dengan sangat sempurna oleh Danika Yarosh, membuat kompleksitas karakter Reacher lebih menarik, selain mengeluarkan sisi humanisnya. Dan jika berbicara mengenai cast, Yarosh menampilkan akting yang paling bagus ketimbang senior- seniornya. Bahkan ketika harus beradu akting dengan Smulders dan Cruise, dia mampu mengungguli mereka berdua. Selain masalah kedalaman karakter, seperti dikatakan tadi, sajian action-nya sangat padat dan sudah pasti akan mampu memompa adrenalin penonton. Dan bagi saya pribadi, adegan- adegan laga cukup menutup segala kekurangan film ini. Another sequel? Mungkin saja jika penghasilan box office-nya cukup menjanjikan. Namun di sekuelnya nanti, saya mengharapkan nuansa detektifnya lebih ditonjolkan lagi. Sehingga karakter Jack Reacher tidak menjadi fotokopian dari Ethan Hunt. (dnf)

Rating:

7.5/10

The Accountant (2016)

Poster

Directed By: Gavin O’Connor

Cast: Ben Affleck, Anna Kendrick, Jon Bernthal, John Lightgow, J.K. Simmons, Jeffrey Tambor, Cynthia Addai- Robinson

Synopsis:

Christian Wolff (Ben Affleck) adalah seorang akuntan freelance yang memiliki klien dari dunia kriminal, seperti gembong teroris, mafia, maupun penjahat- penjahat kelas kakap lainnya. Suatu ketika, dia disewa untuk menangani perusahaan milik industrialis Lamar Black (John Lightgow) yang mengalami tindak pidana fraud yang ditemukan oleh akuntan perusahaan, Dana Cummings (Anna Kendrick). Namun tugas yang diambilnya tersebut membuat dirinya, Dana, dan semua yang terlibat dengan praktek curang tersebut menjadi target seorang pembunuh bayaran, Braxton (Jon Bernthal) yang disewa untuk menutupi korupsi tersebut. Di waktu yang sama, Wolff menjadi target analis Departmen Keuangan, Marybeth Medina (Cynthia Addai- Robinson) yang ditugasi oleh atasannya, Ray King (J.K. Simmons) untuk mengungkap jati diri sang akuntan.

Review:

1

Paska kegemilangannya lewat film Argo dan terpilih menjadi Batman, nama Ben Affleck yang dulu, bersama sang sahabat, sempat digadang- gadang memiliki potensi besar, mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Satu dekade ke belakang, karir aktor ini mengalami degradasi karir yang cukup parah. Razzie Awards-pun identik dengan namanya. Namun kini, dirinya mampu menonjolkan sisi bad ass-nya lewat performa Batfleck yang membungkam mulut para haters. Kini berduet dengan Gavin O’Connor yang cukup sempurna melahirkan film Warrior (yang juga disebut sebagai perkenalan sosok Tom Hardy yang ganas sebelum penampilannya sebagai Bane).

2

Sekilas bagi yang menyaksikan film ini akan berpendapat bahwa apa yang disajikan memiliki kemiripan dengan cerita vigilante, dalam hal ini Batman. Mengapa tidak? Kilas balik yang menggambarkan origins sang protagonis yang “terpaksa” keliling dunia karena profesi sang ayah sebagai militer membuatnya menimba ilmu dari berbagai macam ilmu, khususnya ilmu bela diri. Pemilihan J.K. Simmons sebagai agen pemerintah pun seperti disengaja oleh Warner Bros untuk trivia film Justice League di mana dia akan berperan sebagai Commissioner Gordon. Namun kesalahan penulis naskah, Bill Dubuque, di film ini adalah mencampur adukkan berbagai macam genre ke dalam film, yang sebenarnya memiliki potensi action yang cukup padat. Family value yang cukup kental dalam film ini bagi saya membuat penyajian kisah menjadi cukup dragging. Memang Dubuque pernah sukses lewat The Judge yang mengangkat tema kelurga. Namun membawa unsur tersebut ke dalam sebuah thriller ala Jason Bourne membuat beberapa scene terasa cukup “lemes”.

3

Namun kelemesan tersebut bisa dimaafkan, karena Dubuque dan O‘Connor berhasil menyajikan sajian action thriller perpaduan antara thriller ekonomi macam The Wallstreet dengan spionase macam Jason Bourne. Mungkin juga di pikiran mereka ingin menciptakan sebuah franchise tersendiri paska lahirnya beberapa franchise aksi baru beberapa tahun ke belakang seperti Olympus Has Fallen, John Wick, The Equalizer, dan Jack Reacher yang kesemuanya sudah memiliki atau sudah dipersiapkan sebuah sekuel. Hal ini terlihat dengan kilas balik yang diselipkan di sana- sini untuk memberikan origins yang cukup kuat bagi Sang Akuntan. Performa Ben Affleck sendiri saya rasa cukup sempurna menjadi jagoan yang mengidap autisme sejak kecil ini. Dia mampu membawakan peran seorang bad ass di satu scene dan seorang nerd yang kaku di scene lainnya.

4

Pemeran pendukung lainnya juga cukup pas. Jon Bernthal jangan ditanya lagi. Semenjak populer lewat franchise film seri Zombie paling terkenal, Bernthal sudah menjelma sebagai seorang bintang action baru. Apalagi ditambah dengan performa sempurnanya sebagai The Punisher lewat serial Daredevil yang mendapatkan apresiasi cukup baik. Anna Kendrick cocok memerankan seorang akuntan junior yang sisi lugunya mampu mengimbangi kekakuan Wolff dan bisa menimbulkan nuansa komedi romantis. J.K. Simmons, seperti saya sebutkan di atas tadi, terlihat seperti memperlihatkan karakter Gordon yang nantinya akan dimainkan. John Lightgow, Jeffrey Tambor, Cynthia Addai- Robinson bermain cukup pas sebagai perannya masing- masing.

5

The Accountant bisa jadi akan mengikuti jejak Robert McCall, Mike Banning, Jack Reacher, dan John Wick sebagai seorang karakter action hero yang jika beruntung akan menjadi legenda layaknya karakter The Terminator, John Rambo, Jason Bourne, James Bond atau The Transporter dalam ranah dunia film aksi laga. Banyak yang beranggapan bahwa The Accountant cukup unik karena profesi akuntan sendiri dianggap jauh dari kesan cool layaknya seorang action hero. Imej akuntan cenderung sebagai seseorang yang memiliki rutinitas dengan pekerjaan membosankan dan tampilan yang kaku. Apakah memang seperti itu? Padahal profesi ini sempet top lho di tahun 80 dan 90-an. “Kalau mau cepet dapet kerja, kuliah ambil akuntansi aja”. Jadi apakah pekerjaan seorang akuntan membosankan? Saya jawab. IYA. Believe me, I’m an accountant. (dnf)

Rating:

7.5/10

Don’t Breathe (2016)

Poster

Directed By: Fede Alvarez

Cast: Stephen Lang, Jane Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto

Synopsis:

Money (Daniel Zovatto), Rocky (Jane Levy), dan Alex (Dylan Minnette) adalah kawanan pencuri muda yang berencana untuk membobol rumah seorang veteran buta yang hidup seorang diri di lingkungan yang kumuh (Stephen Lang). Hanya saja, ternyata sang veteran memiliki skill yang mematikan. Keempat indera lainnya mampu menutupi indera penglihatannya yang tidak berfungsi. Dan rencana pencurian tersebut menjadi neraka bagi mereka.

Review:

1

Ciri khas sebuah film, atau karya seni lainnya, adalah membuat audience berempati terhadap karakter protagonis. Meskipun diceritakan sang protagonis memiliki profesi sebagai pembunuh bayaran, perampok, atau gangster sekalipun biasanya cerita menghadirkan karakter villain yang jauh lebih jahat dan membuat penonton memberikan izin atas apapun kejadian buruk dan hukuman yang diterima oleh sang villain. Uniknya film Don’t Breathe memiliki template di mana justru karakter villain atau antagonisnya merupakan si korban. Dan semua perlakuan buruk yang dilakukannya ditujukan kepada mereka yang pernah menyakitinya, seperti para protagonis di film ini yang merupakan komplotan pencuri. Dan itu bisa saja terjadi sama kita. Dan di kehidupan nyatapun kita pastinya akan mendukung karakter The Blind Man. Masih ingatkan berita yang sempat viral tentang seorang korban pencurian yang membela diri dengan memukul kepala si pencuri sampai mati, eh malah dipenjara? Coba gimana tanggapan kita? Mendukung si pencuri atau mendukung si korban?

2

Fede Alvarez adalah seorang sutradara yang sukses memberikan level ketegangan lebih tinggi saat me-reboot film Evil Dead. Bahkan tidak sedikit pujian diberikan yang menyatakan bahwa karyanya tersebut mengungguli film aslinya yang disutradarai oleh Sam Raimi, yang berlaku sebagai produser di film reboot-nya tersebut. Otomatis ketika berhasil mengamankan naskah film yang tadinya akan diberi judul The Man in The Dark ini, mantan sutradara Spider- Man itu langsung mengkontak Alvarez. Dan terbukti sekali lagi, dia mampu memberikan level ketengan yang sangat seru dari awal hingga akhir film. Ketegangan juga berhasil dibangun lewat tangan sinematografer Pedro Luque. Luque berhasil membuat shot shot yang cukup efektif dalam membangun ketegangan. Duet Luque dan Alvarez berhasil mengelurkan klaustrofobia penonton di tengah adegan kucing- kucingan antara para pencuri dan pemilik rumah.

3

Selain memboyong Alvarez, Raimi juga membawa Jane Levy yang ikut memeriahkan reboot Evil Dead. Jika di film reboot tersebut, Levy mampu membuat penonton ketakutan, di sini Levy mampu membuat penonton terpecah antara simpati dengan kehidupan pribadinya dan sebal dengan sikapnya yang mementingkan diri sendiri dan cukup seductive. Zovatto bermain cukup pas. Minnette mampu memainkan karakter yang memiliki moral yang paling tinggi di film ini. Sementara standing applause patut kita berikan kepada Stephen Lang. Aktor yang meski sudah menginjak usia senja namun tetap fit ini memang tidak pernah fail dalam membawakan perannya. Apalagi jika memainkan peran villain, seperti saat memerankan karakter Colonel Quaritch di Avatar.

4

Don’t Breathe mempertanyakan moral kita yang mampu berbuat keji terhadap orang yang kurang beruntung, dalam hal ini orang yang cacat. Dan bisa dikatakan film ini masuk ke daftar kuda hitam yang mampu memberikan kejutan tersendiri di dalamnya. Alur ketegangan tetap terjaga dari awal sampai habis dengan selipan twist yang cukup tertutup rapi hingga dua pertiga durasi. Tidak salah film ini memiliki judul Don’t Breathe, because we can not breathe while watching this movie. (dnf)

Rating:

8.5/10