Power Rangers (2017)

Poster

Directed By: Dean Israelite

Cast: Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Ludi Lin, Becky G., Elizabeth Banks, Bryan Cranston, Bill Hader

Synopsis:

5 remaja dari kota kecil Angel Grove, Jason (Dacre Montgomery), Billy (RJ Cyler), Zach (Ludi Lin), Kimberly (Naomi Scott), dan Trini (Becky G.) menemukan 5 koin kuno dalam sebuah kejadian di sebuah tambang. Paska kejadian tersebut, kelimanya tiba- tiba memiliki kekuatan super. Setelah diberikan pengarahan oleh sesosok alien kuno Zordon (Bryan Cranston) dan robot asistennya, Alpha 5 (Bill Hader), mereka bertiga menjadi Power Rangers, yang bertugas untuk menjaga kehidupan di bumi dari ancaman Rita Repulsa (Elizabeth Banks).

Review:

1

Mungkin sedikit sekali orang yang tidak mengenal Power Rangers. Mau mereka yang sempat muda di tahun 90-an ataupun emak- emak kolot gak asik, pasti minimal akrab dengan sebutan itu. Mighty Morphin Power Rangers merupakan seri pertama, yang meliputi 3 season pertama dari franchise Power Rangers yang diadaptasi dari serial Super Sentai buatan Toei. Super Sentai merupakan salah satu serial lama milik Toei yang bisa dibandingkan dengan Kamen Rider ataupun Ultraman. Masyarakat Indonesia mengenal Super Sentai lewat salah satu serinya yang berjudul Goggle V. Ciri khas dari seri ini adalah satu tim superhero yang biasanya terdiri dari 5 orang (meski terkadang bisa 3, 6, atau lebih) yang memiliki kostum sama hanya dibedakan warna. Dan memiliki satu kendaraan yang bisa digabungkan menjadi robot gede. Power Rangers sendiri dibaptis menjadi salah satu pop culture yang cukup berpengaruh 2 dekade lalu. Diikuti dengan penjualan merchandise yang sampai sekarang masih memiliki fanbase yang cukup kuat. Bahkan kesuksesannya membuat salah satu franchise Kamen Rider sempat diadaptasi juga oleh Amerika. Yaitu serial Black Rider RX, yang versi Jepangnya juga menjadi salah satu memori manis bagi generasi 90-an.

2

Sebenarnya gaung- gaung reboot MMPR ke dalam layar lebar telah bergaung sejak lama. Namun hype tersebut kembali hadir ketika Joseph Khan membuat fanmade sekuel MMPR yang menceritakan kisah keenam anggota original dewasa harus menghadapi Rocky yang telah membelot ke pihak musuh. Adapun tone yang dewasa dengan tingkat violence cukup tinggi ternyata memberikan kepuasan tersendiri bagi para fans. Meskipun mendapatkan tanggapan positif, ternyata film tersebut juga mendapatkan tolakan dari beberapa cast, dan juga dari Saban sendiri. Namun menanggapi respon ini, Saban kemudian memberikan kabar gembira bahwa reboot resmi akan dibuat dengan artis yang diisukan pertama untuk didekati adalah Chloe Grace Moretz sebagai Pink Ranger.

3

Mengikuti trend sekarang yang lebih mendewasakan franchise yang akrab dengan anak- anak, Power Rangers kali ini lebih fokus kepada pengenalan karakter. Jadi bagi para fans yang mengharapkan aksi laga yang keren pasti akan kecewa. Resmi 80% durasi hanya didominasi oleh pengembangan karakter dan menceritakan origins dari pembentukan tim Power Rangers. Untuk segi naskah, saya rasa sudah cukup berhasil. Penggambaran bagaimana mereka, yang dari tidak mengenal satu sama lain lalu menjadi sebuah tim yang kompak dan solid sudah cukup baik. Terlebih dengan memberikan problematika yang cukup dewasa bagi para remaja ini (salah satunya adalah dengan merubah karakter Trini menjadi penyuka sesama jenis- terlepas dari tanggapan saya terhadap karakter LGBT di film anak- anak).

4

Reboot ini juga mencoba untuk lebih akrab dengan penonton dari segala ras. Untuk menghindari stereotype dan kemungkinan tanggapan rasis, beberapa karakter dirubah warna kulitnya sehingga berbeda dengan warna kostumnya. Jika versi aslinya, Zack (Black Ranger) adalah seorang berkulit hitam dan Trini (Yellow Ranger) adalah seorang Cina, kali ini Zack adalah seorang Cina dan Trini seorang latin. Ini untuk menghindari seorang Negro menjadi Ranger hitam dan seorang Cina menjadi Ranger kuning (Orang Amerika menyebut kulit orang- orang Cina sebagai berkulit kuning). Selain mereka, Billy dirubah dari orang bule menjadi orang negro. Tapi perubahan warna kulit, bagi saya pribadi bukan merupakan hal yang cukup mengganggu. Apalagi jika mengikuti franchise tersebut sudah paham bahwa tim Power Rangers dari seri apapun pasti memiliki ras yang berbeda. Tidak semuanya orang bule.

5

Jika membicarakan kekurangan film ini, seperti yang saya sebutkan tadi, terdapat pada penggarapan adegan aksinya. Oke, memang tujuannya untuk memfokuskan film kepada pengenalan tokoh dan pembentukan karakter. Namun bukan berarti, adegan aksi harus dianaktirikan. Adegan aksi yang langsung memborbardir sebagai klimaks film terasa terlalu singkat. Selepas adegan- adegan aksi yang, saya nilai terlalu melempem, perasaan yang timbul seperti “Hah? Gitu doang?”. Seharusnya Lionsgate bisa lebih serius dalam menggarap koreografi pertempurannya. Bahkan jika dibandigkan dengan serial TV-nya, saya masih cukup terhibur dengan adegan aksi dari serial TVnya. Kemudian yang cukup mengganjal adalah ukuran Zord, yang bagi saya kurang besar. Apalagi mengingat dari materi promo posternya, kita sempat ditipu dengan ukuran Zord yang digambarkan cukup besar, namun aslinya di film cuma segitu aja.

5

Secara garis besar, Power Rangers sukses menjadi sebuah origins movie yang berfungsi untuk meletakkan landasan bagi franchise yang direncanakan akan memiliki 6 film ini (amiin…). Namun sebagai sebuah sajian film superhero, masih kurang banyak. Khususnya dari penggarapan adegan laga. Jika memang secara skenario bisa lebih dewasa, seharusnya untuk adegan aksi laga juga bisa dibuat jauh lebih keren dan dewasa dibandingkan versi TVnya. Namun kita sebagai penonton, diberikan ekstra musik pengiring yang super keren banget. Terutama remake dari beberapa tembang lawas. Saya berharap di sekuel- sekuel berikutnya, Lionsgate akan lebih bisa mengajak cast- cast asli untuk menjadi cameo, atau mungkin diberikan peran pembantu di filmnya. Bukan hanya menampilkan 2 pemeran asli sebagai cameo seperti di film pertamanya ini saja. Oya, jangan segera beranjak, karena akan ada mid credit scene. Tunggu aja. Gak lama kok. Gak bakal bikin tukang sapu bioskop bengong- bengong bete di kursi depan kaya nonton Avengers. (dnf)

Rating:

7/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Beauty and The Beast (2017)

Poster

Directed By: Bill Condon

Cast: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Josh Gad, Kevin Kline, Hattie Morahan, Ewan McGregor, Ian McKellen, Emma Thompson, Stanley Tucci, Audra McDonald, Gugu Mbatha- Raw, Nathan Mack

Synopsis:

Belle (Emma Watson) adalah seorang gadis cantik di pedesaan Prancis yang tinggal berdua dengan ayahnya, Maurice (Kevin Kline). Pada saat Maurice ditahan di sebuah kastil tua oleh sesosok mahluk seram bernama Beast (Dan Stevens), Belle yang berbakti menggantikan tempatnya sebagai tahanan abadi. Namun sejalan waktu, Belle menemukan sifat Beast yang baik dan empati terhadapnya. Apalagi mengetahui bahwa Beast sebenarnya adalah seorang pangeran yang dikutuk karena memiliki perangai yang kurang menyenangkan, hasil didikan ayahnya dulu. Namun mengetahui, Belle memiliki rasa terhadap Beast, pemuda populer di desa yang menaruh hati kepada Belle, Gaston (Luke Evans) menghimpun massa untuk menyerbu istana dan membunuh Beast.

Review:

1

Tahu gak kenapa sampai sekarang banyak kisah- kisah anak- anak yang dibuat dark dan terkadang memiliki konten dewasa? Misal kisah- kisah komik seperti Batman? Jawabannya sederhana. Karena penggemarnya yang menyukai sejak kecil masih tetap mencintai karakter tersebut. Namun seiring bertambah dewasa usianya, mereka menginginkan kisah yang di- adjust sehingga bisa dinikmati oleh dirinya yang telah dewasa. Memahami hal ini, studio animasi Walt Disney juga mau memuaskan dahaga para penggemar animasi klasiknya dengan membuat versi live action dari gudang perfilmannya. Dimulai dari film semacam (meskipun dulu sempat sukes dengan 101 Dalmatians pada medio 90-an) Alice in Wonderland, Maleficent (Sleeping Beauty), Cinderella, dan yang terakhir Jungle Book. Khusus dua film terkahir, Disney menggunakan pendekatan yang lebih setia dengan film animasinya. Beda dengan Alice dan Maleficent yang diubah cukup banyak. Khususnya dari sudut pandang karakter utama. Jika Alice ikut menjadikan Mad Hatter sebagai sidekick, dan Sleeping Beauty lebih fokus ke karakter villain, Maleficent dan membuat twist di akhir, Cinderella dan Jungle Book resmi mereka ulang adegan- adegan animasinya ke dalam versi live action, meski menambahkan beberapa elemen dan plot baru. Mengerti bahwa 2 film terkahir lebih disukai, Disney memutuskan untuk ikut lebih setia dengan animasi pertama yang mendapatkan nominasi Academy Awards ini.

3

Memilih genre musikal untuk film ini merupakan sebuah keputusan yang tepat. Apalagi mengingat animasi- animasi klasik Disney terkenal mengusung genre musikal yang menghadirkan gubahan musik- musik yang cukup legendaris. Dengan genre ini, Condon cukup sukses menghadirkan beberapa lagu dari versi animasinya menjadi lebih megah dan wah. Khususnya untuk lagu Be Our Guest. Selain lagu- lagu lama yang digubah ulang, film ini juga menambah beberapa lagu baru gubahan komposer Alan Menken yang juga mengerjakan versi animasinya dulu. Hanya saja penggarapan adegan dance yang cukup legendaris kurang begitu dikerjakan dengan baik. Tidak semegah film animasinya. Apalagi dalam versi animasinya adegan ini menandakan pertama kalinya Disney menggunakan teknik 3D CGI dalam film animasinya. Seperti halnya film Cinderella, kredit perlu diberikan juga kepada tim penata kostum, art direction, dan sinematografi yang berhasil memindahkan tampilan film animasi ke dalam versi live action.

4

Untuk menghidupkan karakter, jajaran cast yang terpilih telah mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Emma Watson berhasil menampilkan pesona girl next door yang smart dan independen. Sedikit mengingatkan kita dengan karakter Hermione yang melejitkan namanya. Ini juga yang membuat saya merasa dirinya terlalu muda. Bukan karena aktingnya tidak bagus. Aktingnya bagus. Hanya saja di otak saya masih teringat karakter Hermione yang masih kecil. Hanya saja Dan Stevens, yang biasa terlihat cukup “cowok”, di sini terlihat soft. Tapi itu bisa dimaklumi mengingat 95% durasi, wajahnya tertutup CGI sebagai Beast. Namun chemistry keduanya cukup terasa. Apalagi mengingat ini Beauty and The Beast salah satu film Disney yang menggunakan formula film romantis. Di mana kedua karakter tadinya saling membenci, untuk kemudian menjadi saling mencintai. Namun yang paling apik adalah penampilan Luke Evans yang sangat sempurna sebagai Gaston. Sebagai karakter narcist, tampan, egocentric, dan menyebalkan. Di satu sisi kita akan cukup terpesona dengan karakter ini. Wanita akan menginginkan dirinya, pria akan mendambakan menjadi dirinya. Di satu sisi, kita juga sebal dengan sifatnya yang menyebalkan. Pemilihan nama- nama terkenal seperti Ian McKellen, Ewan McGregor, Stanley Tucci, Emma Thompson dan nama- nama yang cukup asing seperti Audra McDonald, Gugu Mbatha- Raw, Nathan Mack cukup bisa menghidupkan karakter- karakter staff istana yang ikut dikutuk menjadi barang keperluan rumah tangga. Meski hanya menggunakan CGI dan menyumbangkan suara saja.

5

Melihat hasil akhir Beauty and The Beast, saya cukup menaruh harapan yang sangat besar dengan kelanjutan adaptasi animasi klasik Disney yang sudah berjejer antri untuk dibuatkan versi live action-nya. Di antara beberapa yang sudah dikonfirmasi atau yang masih sekedar rumor adalah The Lion King, Mulan, The Little Mermaid, Aladdin, Snow White and The Seven Dwarfs, Dumbo, Peter Pan, Oliver Twist, James and The Giang Peach, Pinochio, The Sword in The Stone, dan kabarnya lagi akan ada beberapa adaptasi yang mengambil sudut pandang berbeda atau mungkin juga sekuel seperti Cruella (101 Dalmatians (spin off or sequel?)), Tink (Tinkerbell dari franchise Peter Pan), Christopher Robin (sepertinya sekuel karena menceritakan Christopher Robin, manusia sahabat Winnie The Pooh). Beberapa film malahan sudah menemukan sutradaranya, seperti Guy Ritchie untuk Aladdin, Tim Burton untuk Dumbo, Niki Caro untuk Mulan, Jon Favreau yang sukses membuat CGI hewan- hewan di The Jungle Book untuk The Lion King, Marc Foster untuk Christopher Robin, dan David Lowery untuk Peter Pan. Dan saya pribadi masih berharap Hercules, Robin Hood, dan Tarzan ikut diadaptasi.

2

Sayangnya belum apa- apa film ini telah menuai kontroversi setelah Disney mengumumkan untuk pertama kalinya akan menghadirkan adegan gay yang cukup eksplisit. Ada yang pro, yang menyebutkan bahwa hal ini lumrah. Toh, in the end, akhlak anak akan ditentukan dengan pola didik orang tua. Ada juga yang kontra, yang takut bahwa hal ini akan menjadi kebiasaan dan akan menanamkan nilai LGBT yang wajar bagi anak kecil. Mengingat Walt Disney, identik dengan film anak- anak. Apalagi rating-nya masih PG-13 berbeda dengan misalnya superhero Deadpool yang memiliki konten violence tapi menaruh rating R. Anyhow, saya tidak akan membahas pendapat saya pribadi mengenai konten gay ini, meskipun teman- teman saya tahu bagaimana feedback saya tentang pemakluman konten LGBT dalam film anak- anak. Sebagai gambaran, memang ada beberapa konten LGBT yang dihadirkan sekilas dan cukup soft di film ini. Bisa jadi pertimbangan bagi para orang tua untuk memutuskan. Apakah anda pro dan kontra? Apakah anda merasa nyaman dan bisa mengarahkan anak anda? Yang penting perlu diingat rating usia film ini dan lebih baik anda ikut menemani anak anda menonton film ini. Just be our guest to watch this tale as old as time. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kong: Skull Island (2017)

Poster

Directed By: Jordan Vogt- Roberts

Cast: Tom Hiddleston, Brie Larson, Samuel L. Jackson, John Goodman, John C. Reilly, John Ortiz, Tian Jing, Toby Kebbell, Shea Wingham, Corey Hawkins

Synopsis:

Bill Randa (John Goodman), adalah seorang peneliti dari MONARCH, sebuah organisasi pemerintah yang meneliti tentang keberadaan mahluk- mahluk raksasa di perut bumi yang disebut sebagai M.U.T.O.s (Massive Unindentified Terrestrial Organisms), berhasil mendapatkan izin untuk meneliti sebuah pulau bernama Skull Island. Dengan bantuan pasukan tentara yang dipimpin oleh Preston Packard (Samuel L. Jackson), seorang fotografer yang bertugas untuk mendokumentasikan ekspesdisi terebut, Mason Weaver (Brie Larson), dan seorang tracker mantan pasukan khusus, James Conrad (Tom Hiddleston), mereka berhasil memasuki pulau rahasia yang dikelilingi oleh angin badai abadi. Tanpa diketahui seluruh tim, sebenarnya Randa memiliki misi untuk menangkap seekor gorila raksasa yang dipanggil Kong oleh penduduk asli pulau tersebut.

Review:

1

Kesuksesan MCU dalam menggabungkan beberapa karakter terkenal yang dibuatkan stand alone movie-nya dulu sebelum dikemudian hari dipertemukan di dalam sebuah film, ternyata menjadi fenomena tersendiri di dunia perfilman. Tidak sedikit studio- studio lain yang mengekor format ini. Setelah Warner Bros yang otomatis merasa tertantang untuk memfilmkan DCEU yang dianggap sebagai rival terkuat MCU, setidaknya ada 2 universe lagi yang dipersiapkan untuk meramaikan kancah industri layar lebar. Universal telah menyiapkan Universal Monsters Shared Universe, dan Legendary Entertainment dengan MonsterVerse. Sebenarnya shared universe macam ini bukanlah barang yang baru. Di industri perfilman telah ada istilah crossover movie. Crossover movie yang cukup terkenal seperti Alien vs Predator, Freddy vs Jason, dan LXG.

2

Ketika diumumkan akan di remake lagi, banyak fans yang mengharap Legendary Entertainment akan setia dengan template cerita original-nya. Seperti yang dilakuakn oleh Peter Jackson pada tahun 2005, yang disebut- sebut sebagai remake King Kong terbaik. Karena selain menggunakan plot cerita asli, namun juga memberikan petualangan yang lebih luas dan seru ketimbang versi tahun 1933. Tidak sedikit yang membayangkan kalau Brie Larson akan memerankan Ann Darrow, Tom Hiddleston sebagai Jack Driscoll, dan John Goodman sebagai Carl Denham. Namun setelah harapan tersebut dipatahkan dengan pengumuman resmi bahwa bukan hanya setting waktu yang diubah dari tahun 30an menjadi tahun 70an, pada masa perang Vietnam, kisahpun akan dibuat jauh berbeda. Nama- nama karakterpun akan dibuat baru, meskipun tidak dipungkiri beberapa karakter merupakan penggambaran ulang dari karakter lama, seperti James Conrad yang pemberani dan menjadi protagonis manusia utama seperti Jack Driscoll, Bill Randa yang bertubuh tambun, manipulatif, dan ambisius layaknya Carl Denham versi Jack Black, lalu Preston Packard yang memimpin pasukan seperti Captain Engelhorn. Hanya saja Mason Beaver bukan murni reinkarnasi dari Ann Darrow. Kong tidak jatuh hati dengannya. Satu- satunya hal yang diadopsi adalah Meaver merupakan satu- satunya karakter yang sempat kontak fisik dengan Kong tanpa tewas.

3

Sebenarnya bisa saja Legendary memberikan sedikit kegembiraan untuk para fans. Setidaknya, meskipun tetap mengubah setting waktu dan asal- usul Kong agar lebih masuk ke MonsterVerse, nama- nama karakter utama bisa saja tetap mempertahankan nama- nama legendaris tersebut; Carl Denham, Ann Darrow, dan Jack Driscoll. Bagi saya ini juga menambah kekecewaan setelah menilai lemahnya naskah yang dibuat serta banyaknya karakter- karakter mubazir dan tempelan, seperti San yang diperankan oleh Tian Jing, yang kelihatan banget sebagai pemuas pasar RRC, yang beberapa tahun ke belakang ini mengharuskan ada 1 karakter jagoan keturunan Chinese dalam tiap film blockbuster. Padahal sebenarnya, demi menonjolkan dan memuaskan pasar tersebut, karakter San bisa dibuat lebih memorable, atau karena sudah kadung menciptakan karakter baru, Tian Jing bisa menjadi karakter protagonis wanita utama.

4

Meskipun memiliki cerita yang lemah, namun adegan aksi dan special effect tidak usah diragukan. Walau sempat melempem dan dragging di pertengahan film, namun adegan- adegan aksi berikutnya cukup seru. Sebagai sebuah bagian dari MonsterVerse, Kong: Skull Island juga telah dengan baik meletakkan beberapa landasan cerita. Khususnya apa yang digambarkan pada after credit scene tentang apa yang telah menanti penonton pada setidaknya di 2 film ke depan; Godzilla: King of The Monsters (2019) dan Godzilla vs. Kong (2020). Kira- kira setelah Scarlet Witch dan Quicksilver membintangi Godzilla dan Kong: Skull Island dimeriahkan oleh Nick Fury, Loki, Captain Marvel, dan salah satu petugas Nova, apakah nantinya film- film berikutnya para monster raksasa akan bertemu dengan Captain Amerca, Thor, Hulk, Hawkeye, Black Widow, atau bahkan Star Lord dan Iron Man? (dnf)

Rating:

7/10

 

Logan (2017)

Poster

Directed By: James Mangold

Cast: Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen, Boyn Holbrook, Stephan Merchant, Elizebeth Rodriguez, Richard E. Grant

Synopsis:

Tidak jauh di masa depan, di mana mutant sudah jarang ditemukan dan anggota X-Men sudah mati atau hilang ditelan bumi, Logan (Hugh Jackman) mengasingkan diri sambil merawat Charles Xavier (Patrick Stewart) dengan bantuan Caliban (Stephan Merchant). Logan mengumpulkan uang untuk bisa membeli perahu dan tinggal di lautan bersama sang profesor. Namun ketenangan mereka diusik ketika seorang suster bernama Gabriela (Elizabeth Rodriguez) mendatanginya untuk meminta perlindungan bagi seoran anak kecil bernama Laura (Dafne Keen) yang menjadi incaran para Reavers, cyborg yang dipimpin oleh Donald Pierce (Boyd Holbrook). Ternyata Laura bukanlah sembarang anak kecil, namun memiliki sebuah rahasia yang bisa membuat Logan merasakan menjadi manusia lagi.

Review:

1

Tidak dipungkiri lagi, Hugh Jackman merupakan salah satu nilai jual tertinggi bagi Saga X-Men. Dibuktikan dengan wajahnya menjadi satu- satunya yang muncul di setiap judul filmnya. Bahkan untuk Deadpool, meski hanya berbentuk print out saja. Aktor yang bisa disandingkan dengan Robert Downey Jr. di MCU ini memang sangat beruntung. Mendapatkan peran salah satu mutant favorit dari tangan Dougray Scott, yang saat itu lebih memilih menjadi musuh Tom Cruise merupakan sebuah anugerah terbesar dalam karirnya. Keberuntungan juga datang ketika para fans ternyata puas dengan performa Jackman yang mampu menampilkan sosok Wolverine yang ganas dan brutal. Belum lagi tampilan Jackman yang bisa juga jadi daya tarik bagi penonton wanita yang terpaksa harus menemani pacarnya nonton X-Men.

3

Setelah kesuksesan Deadpool yang meski mengusung rating R, namun cukup memberikan keuntungan yang cukup tinggi, Fox merasa bahwa mereka harus menggunakan treatment yang sama untuk film solo ketiga Wolverine ini. Mengingat karakterisasi sang tokoh yang aslinya cukup brutal di komik. Dan memang dengan meningkatkan kadar violence cukup tinggi, membuat film ini jauh lebih menghibur ketimbang dua fim pendahulunya yang memilih rating PG-13. Cerita yang diambil dari storyline Old Man Logan dengan sedikit unsur Death of Wolverine memang cukup kuat, khususnya dalam menggambarkan Wolverine yang sudah tua dan tidak seprima dulu. Hal ini sebenarnya cukup bagus, mengingat raut wajah Jackman yang semakin tua dan tidak semulus di film X-Men dulu. Setidaknya lebih masuk akal dengan karakterisasi di film. James Mangold yang ikut turun langsung dalam penulisan naskah, mampu membuat cerita yang solid dan cukup manusiawi.

4

Ketika menyaksikan film Logan, feel yang didapat bukanlah menyaksikan film superhero. Tapi seperti menyaksikan film action seperti Jason Bourne, Mad Max, atau James Bond versi Daniel Craig. Tema cerita pun memiliki nuansa western yang cukup kental. Terlebih dalam menggambarkan kisah redemption seorang legend. Unsur drama yang dimasukan untuk menggambarkan sisi manusiawi Logan, cukup baik dan tidak membuat film menjadi terlalu dragging. Pemilihan jajaran cast juga cukup bagus. Boyd Holbrook yang cukup akrab bagi penonton Narcos, memang lebih cocok menjadi villain seperti dalam film Run All Night ketimbang menjadi protagonis seperti di film seri yang menceritakan sepak terjang Pablo Escobar itu. Sebagai aktris cilik, Dafne Keen mampu mengungguli Hugh Jackman. Dirinya mampu menjadi scene stealer karena menggabungkan pesona lugu anak kecil dan kebringasan seorang pembunuh terlatih. Mengingatkan kita kepada Chloe Moretz dalam Kick- Ass.

2

Sayangnya keputusan Jackman yang menyatakan akan berhenti memerankan Wolverine sempat membuat para fans kecewa. Banyak spekulasi yang menyebutkan bahwa X-Men akan di reboot lagi atau akan ada pemain baru yang menggantikan sosok Jackman sebagai sosok Wolverine. Sangat susah membayangkan ada aktor lain yang memerankan tanpa harus me reboot dari awal semua universe X-Men. Ditambah lagi Patrick Stewart yang juga mengumumkan dalam suatu wawancara bahwa film Logan merupakan penampilan terakhir dirinya sebagai Professor X. Belakangan Jackman mengerluarkan statement bahwa dirinya bersedia menggunakan cakar adamantium lagi jika Wolverine menjadi bagian dari MCU. Suatu hal yang cukup sulit, mengingat Fox cukup tambeng dalam mempertahankan hak film karakter- karakter X-Men. Meskipun fans mengharapkan studio ini akan luluh dan mengikuti jejak Sony untuk share dengan Disney. Or at least Wolverine- nya aja. (dnf)

Rating:

9/10

 

The LEGO Batman Movie (2017)

cym_yo1w8aqqn_z

Directed By: Chris McKay

Cast: Will Arnett, Michael Cera, Rosario Dawson, Ralph Fiennes, Zach Galifianakis, Billy Dee Williams

Synopsis:

Dikarenakan trauma masa kecilnya yang kehilangan kedua orang tua, Batman/ Bruce Wayne (Will Arnett) memiliki hati yang dingin dan tidak mau terlibat hubungan dengan siapapun. Termasuk tidak mau menganggap The Joker (Zach Galifianakis) sebagai musuh bebuyutannya. Hal ini membuat The Joker sakit hati, dan ingin merancanakan sebuah kejahatan yang akan menyadarkan Batman bahwa The Joker menjadi bagian penting dalam hidupnya. Mau tidak mau Batman harus mulai mencoba bekerja sama dengan orang- orang dekat yang selalu diacuhkannya, seperti Alfred (Ralph Fiennes), Barbara Gordon (Rosario Dawson), dan Dick Grayson (Michael Cera).

Review:

mv5bnwzlzgm4zmytmtc2zs00nzc4lwjimgytnzninmuxmgnlmjy3xkeyxkfqcgdeqxvyndk0mta4mty-_v1_

Kesuksesan The Lego Movie pada tahun 2014 lalu memberikan imbas yang cukup positif dan dinilai cukup meningkatkan penjualan pabrikan mainan asal Denmark ini. The Lego Movie juga cukup unik mengingat berbeda dengan adaptasi film yang berdasarkan toyline lainnya yang memilih animasi full atau live action, The Lego Movie menggunakan mainan Lego asli dan direkam dengan menggunakan teknik stop motion. Sebenarnya metode ini bukanlah hal baru bagi Lego. Karena sebelumnya, sudah banyak kolektor mainan yang membuat film dengan metode ini, termasuk kolektor Lego sendiri. Kini, demi memberikan gempuran akan proyek DCEU yang sedang kebut tayang untuk mengalahkan pesaingnya, MCU, Warner Bros membuat spin- off The Lego Batman Movie yang memfokuskan kepada karakter Batman. Setelah karakter Batman diperkanalkan dan menjadi salah satu scene stealer di film tersebut.

screen-shot-2017-01-08-at-11-37-09-am

The Lego Batman Movie dihujani oleh berbagai bintang terkenal sebagai pengisi suara. Will Arnett sekali lagi menunjukkan dirinya cukup pas untuk menyuarakan sang ksatria kegelapan yang bersuara berat, namun bisa terdengar bodoh untuk tuntutan film animasi. Di samping itu, barisan cast pendukung lainnya juga diselipi beberapa bintang populer seperti Ralph Feinnes, Zandaya, Ada Devine, Jonah Hill, Zoe Kravitz, Billy Dee Williams, Eddie Izzard, Seth Green, Channing Tatum, bahkan sang diva, Mariah Carey. Uniknya beberapa pengisi suara memiliki trivia sendiri. Seperti Billy Dee Williams yang kali ini benar- benar berhasil menjadi Two- Face dan bukan sekedar Harvey Dent, setelah sebelumnya direncankan akan meneruskan peran sang jaksa wilayah yang akan menjadi villain di film ketiga Tim Burton sebelum akhirnya diambil alih oleh Joel Schumacher dan menggunakan Tommy Lee Jones sebagai Dent. Lalu Ralph Feinnes yang menjadi Alfred dan harus berhadapan dengan karakter yang dipopulerkannya sendiri, Lord Voldemort. Dan Rosarion Dawson yang juga beberapa kali menyuarakan Wonder Woman.

screen_shot_2017-01-09_at_11-11-26_am-png

Penyajian cerita juga cukup baik. Meskipun memiliki tema yang cukup ringan dan cukup bersahabat bagi seluruh keluarga, namun McKay tidak lupa untuk menambahkan tone dark yang pastinya bakal memuaskan hard core fans Batman. Apalagi dengan cerdas tim penulis naskah dengan cerdas memasukan referensi ke kisah- kisah Batman lainnya. Baik dari film- film sebelumnya, seri animasi, bahkan beberapa referensi dari adegan legendaris dari komiknya. Meskipun memiliki tone yang cukup dark, namun nampak sepertinya film ini tidak ayalnya seperti wujud imajinasi anak kecil yang sedang bermain lego. Banyak hal yang cukup simple yang terlihat seperti keluar dari otak seorang anak kecil. Seperti Harvard For Police, yang seperti terlalu sederhana untuk menggambakan akademi terbaik yang melahirkan taruna- taruna penegak hukum terbaik. Ataupun bagaimana para Gothamites bersatu dan bekerja sama untuk menyelamatkan kota mereka dengan cara “stick together” yang terlihat cukup imajinatif dan terasa childish.

the-lego-batman-movie-villains-1

Film ini bisa dikatakan fans service dan pemuas mimpi basah para penggemar DC yang mengharapkan bersatunya karakter- karakter penerbit komik pujaannya tersebut di layar bioskop. Contoh seperti karakter Rogues Gallery yang ditampilkan bukan hanya yang sudah dikenal luas oleh awam seperti; The Joker, Bane, Two- Face, Catwoman, Harley Quinn, The Riddler, Scarecrow, dan Killer Croc saja, namun juga karakter- karakter yang cukup populer namun belum dikenal oleh awam seperti; Man- Bat, The Mutant Leader, Clayface, Killer Moth, Hush, The Gentleman Ghost, The Calendar Man, dan sebagainya. Begitu juga dengan karakter penjahat yang mungkin belum tentu juga dikenal oleh fans mediocre yang memang kurang begitu dikenal seperti; King Tut, The Crazy Quilt, Kite Man, Eraser, Zodiac Master, Orca, dan lain- lain, selain itu juga ada cameo karakter- karakter Justice League lainnya. Baik yang sudah terkenal, maupun yang tidak begitu terkenal. (selamet ye yang mau koleksi… mi instan dah dua bulan… ^_^).  (dnf)

Rating:

8.5/10

John Wick: Chapter 2 (2017)

john-wick-chapter-2-poster

Directed By: Chad Stahelski

Cast: Keanu Reeves, Ian McShane, Ruby Rose, Common, Riccardo Scamario, Claudia Gerini, Lance Reddick, Laurence Fishburne, Bridget Moynahan, John Leguizamo, Franco Nero, Peter Stomare

Synopsis:

Setelah memberikan “salam damai” kepada gembong mafia Abram Tarasov (Peter Stomare), John Wick (Keanu Reeves) kembali ingin menikmat masa pensiunnya sambil menenggelamkan diri di dalam kesedihan kehilangan sang istri. Namun belum lama, Wick hidup dalam damai, dia didatangi mantan koleganya sesama assassin, Santino D’Antonio (Riccardo Scamarcio) yang karena posisinya tinggi di organisasi pembunuh bayaran, pernah membantu Wick untuk keluar dari dunia hitam tersebut. Santino menagih hutang budi kepada Wick dengan mengutusnya untuk membunuh Gianna (Claudia Gerini), adiknya, yang menduduki jajaran kursi tertinggi di organisasi tersebut. Namun setelah Gianna mati, Wick dijadikan kambing hitam dan Santino mengerahkan seluruh assassin untuk membunuh Wick dengan bayaran 7 juta dollar. Termasuk Cassian (Common), mantan bodyguard Gianna dan Ares (Ruby Rose), pengawal Santino.

Review:

c78271b579196da417ab1aea7d4dab3d511bf216

Belakangan ini dunia perfilman Hollywood kembali dimeriahkan dengan hadirnya fim- film aksi yang mengingatkan dengan tahun 80-an. Dan Alhamdulillah, tidak sedikit yang kemudian menjelma menjadi franchise karena respon positif yang didapat. Seperti film The Expendables, Olympus Has Fallen, The Equalizer, John Wick, dan dengan bangga, Indonesia ikut menyumbang dengan sebuah film yang memberikan udara segar, The Raid. Film- film tersebut berhasil mengobati kerinduan penggemar laga, dengan format film kelas B, yang tidak memperdulikan kualitas cerita dan hanya mengejar adegan aksi laga yang seru. Dan tentunya tidak melupakan kadar violence yang cukup tinggi. Dan ternyata bagaikan trend mode rambut atau pakaian, hal ini kembali mengangkat genre aksi 80-an tersebut kembali digemari. Bahkan oleh penonton baru.

JW2_D29_8085.cr2

John Wick, yang dirilis tiga tahun lalu seakan ikut memberikan ke-happy-an dan film yang cukup fresh. Dengan mengandalkan koreografi Gun Kata yang cukup apik ternyata mampu menampilkan pesona film aksi yang cukup efektif. Belum lagi plot cerita yang sangat cheesy. Mana ada film aksi laga keras berat yang menjadikan anjing dibunuh dan mobil dicuri menjadi alasan sang protagonis untuk membunuh puluhan orang dan menyatakan perang dengan gembong mafia? Namun jika ditilik lagi, sebenarnya itu merupakan hal yang cukup manusiawi. Coba, kita saja yang orang awam jika dompet dicopet, pengen rasanya tuh copet dapat hukuman yang berat. Minimal pengen ikut gebukin. Apalagi seorang mantan pembunuh bayaran? Tapi di film keduanya ini, duet penulis naskah- sutradara Derek Kolstad dan Chad Stahelski memilih untuk memberikan cerita yang sedikit kompleks dan jauh dari kesan cheesy sambil memberikan base universe tersendiri bagi franchise ini.

john-wick-chapter-2-trailer

 

Dengan mencomot sedikit tema Wanted, Kolstad- Stahelski menggambarkan universe John Wick memiliki ratusan assassin yang sepertinya menjadi pilihan profesi umum layaknya dokter, pengacara, dan akuntan. Bahkan layaknya dokter yang memiliki IDI, profesi assassin digambarkan memiliki organisasi profesi yang untuk menetapkan standar kode etika profesi tersendiri. Dan bagaikan pengacara, yang di luar saling mengenal satu sama lain namun bisa jadi di dalam persidangan saling menyerang dengan sekuat tenaga, assassin juga digambarkan saling mengenal pribadi satu sama lainnya namun tidak menutup kemungkinan suatu saat harus saling berhadapan mengadu nyawa jika memiliki kontrak yang berseberangan atau mungkin kontrak untuk membunuh salah satu di antara mereka.

john-wick-chapter-2-2

Untuk aksi laga sudah tidak perlu ditanya lagi. Ibaratnya anekdot “don’t change the winning team”, studio tahu betul untuk tetap mempertahankan jajaran cast and crew lama untuk kembali memberikan usaha terbaiknya di sekuel ini. Mungkin hal itu juga yang membuat John Wick: Chapter 2  masih layak ditonton. Deretan adegan koreografi Gun Kata yang masih mampu memacu adrenalin. Sedikit informasi, Gun Kata atau Gun Fu atau Bullet Ballet atau Gymnastic Gunplay adalah perpaduan antara aksi bela diri yang dipadukan dengan penggunaan senjata api. Koreografi ini tidak lepas dari pengaruh perfilman Hong Kong seperti A Better Tomorrow dan film- film Hollywood yang ikut terpengaruh seperti Equilibrium dan Ultraviolet. Kembali ke review, selain adegan aksi laga yang efektif, film ini juga masih menggunakan sinematografi yang didominasi warna biru tua sebagai representasi kesendirian yang dirasakan oleh John Wick. Bukan hanya kehilangan sang istri. Namun kesendirian saat rekan- rekannya berusaha untuk membunuh dirinya.

nefnnzd5xuu1jh_1_b

Sebagai penutup, John Wick: Chapter 2, bisa dikatakan berhasil mengekskalasi kadar keasyikan dari film pertamanya. Tidak menutup kemungkinan franchise ini akan berkembang. Layaknya film Pirates of The Carribbean, paska kesuksesan film pertama langsung dipersiapkan film kedua dan ketiga yang bersambung. Ending jilid kedua ini mengisyaratkan film lanjutan yang akan lebih epic dibandingkan sebelumnya. Selain film, tidak menutup kemungkinan juga nantinya akan ada video game jika ada developer game yang berminat. Melihat template dan aksi Gun Kata memang sangat memungkinkan John Wick dibuatkan video game-nya. Misal bercerita tentang prekuel sebelum kejadian di film pertamanya sebelum Wick pensiun dari profesi haramnya. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

xXx: Return of Xander Cage (2017)

Poster

Directed By: DJ Carusso

Cast: Vin Diesel, Donnie Yen, Deepika Padukone, Kris Wu, Tony Jaa, Ruby Rose, Nina Dobrev, Rory McCann, Michael Bisping, Toni Collette, Samuel L. Jackson, Neymar Jr., Hermione Corfield

Synopsis:

Sekelompok teroris menerobos masuk ke kantor CIA dan berhasi mencuri sebuah alat bernama Pandora Box, yang bisa merusak dan menjatuhkan satelit ke bumi. Salah satu korban dari satelit jatuh tersebut adalah Augustus Gibbons (Samuel L. Jackson). Untuk melawan geng teroris yang dipimpin oleh Xiang (Donnie Yen), agen CIA, Marke (Toni Collette) memanggil kembali agen xXx, Xander Cage (Vin Diesel) untuk melacak dan merebut kembali Pandora Box.

Review:

1

Medio pergantian Milenium menjadi masa keemasan bagi Vin Diesel. Pasalnya, pada masa- masa itu, aktor yang memiliki saudara kembar ini, mendapatkan predikat sebagai aktor aksi laga baru. Bersama mantan pegulat bebas, Dwayne Johnson, Diesel dinobatkan sebagai the next Stallone dan Schwarzenegger. Berkat 3 film yang melejitkan namanya; Pitch Black, xXx, dan The Fast and The Furious. Meledaknya film- film yang tadinya dianggap sebagai kuda hitam, membuat para pemodal ingin memanfaatkan popularitas Diesel yang kala itu sedang menanjak untuk meneruskan film- film aksi tersebut menjadi sebuah franchise. Namun Diesel lebih memilih untuk meneruskan perannya sebagai Richard B. Riddick dan menolak membintangi sekuel dua film lainnya. Namun ternyata pilihannya kurang tepat, karena pasalnya The Chronicles of Riddick, yang mengusung tema lain daripada Pitch Black menjadi bulan- bulanan kritikus.

2

Namun untungnya Diesel menyadari kesalahannya tersebut. Dengan kembalinya memerankan Dominic Toretto lewat penampilan cameo-nya dalam jilid ke-3 The Fast and The Furious, Diesel menyatakan untuk kembali ke franchise yang sekarang menjadi salah satu ladang emas bagi Universal Pictures itu. Mungkin digamangi oleh kecemasan orang bosan dengan film balap- balapan, pada tahun 2006 Diesel mengumumkan untuk meneruskan sepak terjang Xander Cage lewat installment ketiga xXx, meski pada film keduanya sudah diceritakan tewas di Bora Bora.

3

Saat melihat film ketiganya, yang memiliki style berbeda dengan kedua film pertamanya, membuat kita mengingat franchise Mission: Impossible, yang setiap serinya memiliki style beragam mengikuti ciri khas sutradaranya. Jika pada jilid kedua, nuansa Afro American- nya kental sekali, pada jilid ketiga ini D.J. Carusso semakin mengentalkan aura generasi MTV yang ditonjolkan lewat hingar bingar, hura- hura, dan alunan musik kerasnya. Lah, sama dong sama film pertama? Untuk membedakannya, Carusso menambahkan unsur komedi konyol yang lebih banyak dan malah terkadang seperti meledek peran para aktor di film lainnya. Selain itu, dengan mengkopi style Tom Cruise pada Mission: Impossible atau Sylvester Stallone pada The Expendables, Diesel merubah template film menjadi team action movie yang hanya menonjolkan satu karakter utama saja.

4

Namun atmosfir The Fast and The Furious kental terasa dalam film ini. Apalagi dengan memainkan unsur teamwork yang kebanyakan dilakoni aktor- aktris kurang terkenal. Dengan ini, Diesel mencoba bermain aman. Dalam arti, Diesel mencoba untuk mem-familiar-kan plot filmnya di mata para fans. Dan para aktris/ aktor baru juga bisa berdoa syukur- syukur bisa ikut terkenal. Namun bisa jadi bumerang juga. Takutnya seperti Gal Gadot dan Sung Kang yang “dimatikan” dalam franchise kebut- kebutan, sebagai bentuk konsekuensi kekurang tenarannya, agar franchise tidak terlalu penuh dan memberikan ruang untuk aktor- aktor lebih terkenal seperti The Rock dan Jason Statham. Bisa jadi hal ini akan cukup mencemaskan bagi jajaran pendatang baru di film ketiga ini, kalau- kalau karakter mereka terpaksa “dipensiunkan” demi masuknya aktor yang lebih menjual.

5

Melihat film ini ada 2 catatan yang bisa kita perhatikan. Yang pertama adalah, Return of Xander Cage mengikuti film- film belakangan ini yang seperti ingin mengakrabkan diri dengan pasar RRC. Seperti kita ketahui, banyak film unggulan belakangan ini yang memakai bintang mandarin untuk memancing minat penonton RRC. Dalam film ini diwakilkan oleh Donnie Yen; yang menggantikan Jet Li, Kris Wu, dan Tony Jaa (yang meskipun bukan dari RRC, tapi film- filmnya sangat akrab di mata penonton Asia. Yang kedua adalah film ini cowok banget. Seperti jajaran cewek cakep (Ruby Rose, Deepika Padukone, Nina Dobrev, Hermione Corfield, dan Ariadna Gutierrez- Arevalo) yang pastinya akan memanjakan mata para wanita, juga adegan aksi yang sangat menegangkan. Ditambah bonus penampilan pemain depan Barca berkebangsaan Brazil, Neymar Jr.

6

Secara garis besar, film ini masih cukup menghibur. Meskipun masih jauh di bawah kualitas film pertamanya (tapi masih di atas film kedua) dan barisan cameo yang cukup menarik. Ditambah twist di akhir kisah yang sangat menggelitik. Plot dan skenario tidak perlu diambil pusing. Meski dipenuhi banyak plothole tidak jadi masalah. Karena bukan skenario yang dicari saat menonton film ini. Akhir kata, saya ingin mengkutip kalimat dari Agent Gibbons “Let me simplify for you. Kick some ass, get the girl, and try to look dope while you do it.” (dnf)

Rating:

7.5/10