The LEGO Batman Movie (2017)

cym_yo1w8aqqn_z

Directed By: Chris McKay

Cast: Will Arnett, Michael Cera, Rosario Dawson, Ralph Fiennes, Zach Galifianakis, Billy Dee Williams

Synopsis:

Dikarenakan trauma masa kecilnya yang kehilangan kedua orang tua, Batman/ Bruce Wayne (Will Arnett) memiliki hati yang dingin dan tidak mau terlibat hubungan dengan siapapun. Termasuk tidak mau menganggap The Joker (Zach Galifianakis) sebagai musuh bebuyutannya. Hal ini membuat The Joker sakit hati, dan ingin merancanakan sebuah kejahatan yang akan menyadarkan Batman bahwa The Joker menjadi bagian penting dalam hidupnya. Mau tidak mau Batman harus mulai mencoba bekerja sama dengan orang- orang dekat yang selalu diacuhkannya, seperti Alfred (Ralph Fiennes), Barbara Gordon (Rosario Dawson), dan Dick Grayson (Michael Cera).

Review:

mv5bnwzlzgm4zmytmtc2zs00nzc4lwjimgytnzninmuxmgnlmjy3xkeyxkfqcgdeqxvyndk0mta4mty-_v1_

Kesuksesan The Lego Movie pada tahun 2014 lalu memberikan imbas yang cukup positif dan dinilai cukup meningkatkan penjualan pabrikan mainan asal Denmark ini. The Lego Movie juga cukup unik mengingat berbeda dengan adaptasi film yang berdasarkan toyline lainnya yang memilih animasi full atau live action, The Lego Movie menggunakan mainan Lego asli dan direkam dengan menggunakan teknik stop motion. Sebenarnya metode ini bukanlah hal baru bagi Lego. Karena sebelumnya, sudah banyak kolektor mainan yang membuat film dengan metode ini, termasuk kolektor Lego sendiri. Kini, demi memberikan gempuran akan proyek DCEU yang sedang kebut tayang untuk mengalahkan pesaingnya, MCU, Warner Bros membuat spin- off The Lego Batman Movie yang memfokuskan kepada karakter Batman. Setelah karakter Batman diperkanalkan dan menjadi salah satu scene stealer di film tersebut.

screen-shot-2017-01-08-at-11-37-09-am

The Lego Batman Movie dihujani oleh berbagai bintang terkenal sebagai pengisi suara. Will Arnett sekali lagi menunjukkan dirinya cukup pas untuk menyuarakan sang ksatria kegelapan yang bersuara berat, namun bisa terdengar bodoh untuk tuntutan film animasi. Di samping itu, barisan cast pendukung lainnya juga diselipi beberapa bintang populer seperti Ralph Feinnes, Zandaya, Ada Devine, Jonah Hill, Zoe Kravitz, Billy Dee Williams, Eddie Izzard, Seth Green, Channing Tatum, bahkan sang diva, Mariah Carey. Uniknya beberapa pengisi suara memiliki trivia sendiri. Seperti Billy Dee Williams yang kali ini benar- benar berhasil menjadi Two- Face dan bukan sekedar Harvey Dent, setelah sebelumnya direncankan akan meneruskan peran sang jaksa wilayah yang akan menjadi villain di film ketiga Tim Burton sebelum akhirnya diambil alih oleh Joel Schumacher dan menggunakan Tommy Lee Jones sebagai Dent. Lalu Ralph Feinnes yang menjadi Alfred dan harus berhadapan dengan karakter yang dipopulerkannya sendiri, Lord Voldemort. Dan Rosarion Dawson yang juga beberapa kali menyuarakan Wonder Woman.

screen_shot_2017-01-09_at_11-11-26_am-png

Penyajian cerita juga cukup baik. Meskipun memiliki tema yang cukup ringan dan cukup bersahabat bagi seluruh keluarga, namun McKay tidak lupa untuk menambahkan tone dark yang pastinya bakal memuaskan hard core fans Batman. Apalagi dengan cerdas tim penulis naskah dengan cerdas memasukan referensi ke kisah- kisah Batman lainnya. Baik dari film- film sebelumnya, seri animasi, bahkan beberapa referensi dari adegan legendaris dari komiknya. Meskipun memiliki tone yang cukup dark, namun nampak sepertinya film ini tidak ayalnya seperti wujud imajinasi anak kecil yang sedang bermain lego. Banyak hal yang cukup simple yang terlihat seperti keluar dari otak seorang anak kecil. Seperti Harvard For Police, yang seperti terlalu sederhana untuk menggambakan akademi terbaik yang melahirkan taruna- taruna penegak hukum terbaik. Ataupun bagaimana para Gothamites bersatu dan bekerja sama untuk menyelamatkan kota mereka dengan cara “stick together” yang terlihat cukup imajinatif dan terasa childish.

the-lego-batman-movie-villains-1

Film ini bisa dikatakan fans service dan pemuas mimpi basah para penggemar DC yang mengharapkan bersatunya karakter- karakter penerbit komik pujaannya tersebut di layar bioskop. Contoh seperti karakter Rogues Gallery yang ditampilkan bukan hanya yang sudah dikenal luas oleh awam seperti; The Joker, Bane, Two- Face, Catwoman, Harley Quinn, The Riddler, Scarecrow, dan Killer Croc saja, namun juga karakter- karakter yang cukup populer namun belum dikenal oleh awam seperti; Man- Bat, The Mutant Leader, Clayface, Killer Moth, Hush, The Gentleman Ghost, The Calendar Man, dan sebagainya. Begitu juga dengan karakter penjahat yang mungkin belum tentu juga dikenal oleh fans mediocre yang memang kurang begitu dikenal seperti; King Tut, The Crazy Quilt, Kite Man, Eraser, Zodiac Master, Orca, dan lain- lain, selain itu juga ada cameo karakter- karakter Justice League lainnya. Baik yang sudah terkenal, maupun yang tidak begitu terkenal. (selamet ye yang mau koleksi… mi instan dah dua bulan… ^_^).  (dnf)

Rating:

8.5/10

John Wick: Chapter 2 (2017)

john-wick-chapter-2-poster

Directed By: Chad Stahelski

Cast: Keanu Reeves, Ian McShane, Ruby Rose, Common, Riccardo Scamario, Claudia Gerini, Lance Reddick, Laurence Fishburne, Bridget Moynahan, John Leguizamo, Franco Nero, Peter Stomare

Synopsis:

Setelah memberikan “salam damai” kepada gembong mafia Abram Tarasov (Peter Stomare), John Wick (Keanu Reeves) kembali ingin menikmat masa pensiunnya sambil menenggelamkan diri di dalam kesedihan kehilangan sang istri. Namun belum lama, Wick hidup dalam damai, dia didatangi mantan koleganya sesama assassin, Santino D’Antonio (Riccardo Scamarcio) yang karena posisinya tinggi di organisasi pembunuh bayaran, pernah membantu Wick untuk keluar dari dunia hitam tersebut. Santino menagih hutang budi kepada Wick dengan mengutusnya untuk membunuh Gianna (Claudia Gerini), adiknya, yang menduduki jajaran kursi tertinggi di organisasi tersebut. Namun setelah Gianna mati, Wick dijadikan kambing hitam dan Santino mengerahkan seluruh assassin untuk membunuh Wick dengan bayaran 7 juta dollar. Termasuk Cassian (Common), mantan bodyguard Gianna dan Ares (Ruby Rose), pengawal Santino.

Review:

c78271b579196da417ab1aea7d4dab3d511bf216

Belakangan ini dunia perfilman Hollywood kembali dimeriahkan dengan hadirnya fim- film aksi yang mengingatkan dengan tahun 80-an. Dan Alhamdulillah, tidak sedikit yang kemudian menjelma menjadi franchise karena respon positif yang didapat. Seperti film The Expendables, Olympus Has Fallen, The Equalizer, John Wick, dan dengan bangga, Indonesia ikut menyumbang dengan sebuah film yang memberikan udara segar, The Raid. Film- film tersebut berhasil mengobati kerinduan penggemar laga, dengan format film kelas B, yang tidak memperdulikan kualitas cerita dan hanya mengejar adegan aksi laga yang seru. Dan tentunya tidak melupakan kadar violence yang cukup tinggi. Dan ternyata bagaikan trend mode rambut atau pakaian, hal ini kembali mengangkat genre aksi 80-an tersebut kembali digemari. Bahkan oleh penonton baru.

JW2_D29_8085.cr2

John Wick, yang dirilis tiga tahun lalu seakan ikut memberikan ke-happy-an dan film yang cukup fresh. Dengan mengandalkan koreografi Gun Kata yang cukup apik ternyata mampu menampilkan pesona film aksi yang cukup efektif. Belum lagi plot cerita yang sangat cheesy. Mana ada film aksi laga keras berat yang menjadikan anjing dibunuh dan mobil dicuri menjadi alasan sang protagonis untuk membunuh puluhan orang dan menyatakan perang dengan gembong mafia? Namun jika ditilik lagi, sebenarnya itu merupakan hal yang cukup manusiawi. Coba, kita saja yang orang awam jika dompet dicopet, pengen rasanya tuh copet dapat hukuman yang berat. Minimal pengen ikut gebukin. Apalagi seorang mantan pembunuh bayaran? Tapi di film keduanya ini, duet penulis naskah- sutradara Derek Kolstad dan Chad Stahelski memilih untuk memberikan cerita yang sedikit kompleks dan jauh dari kesan cheesy sambil memberikan base universe tersendiri bagi franchise ini.

john-wick-chapter-2-trailer

 

Dengan mencomot sedikit tema Wanted, Kolstad- Stahelski menggambarkan universe John Wick memiliki ratusan assassin yang sepertinya menjadi pilihan profesi umum layaknya dokter, pengacara, dan akuntan. Bahkan layaknya dokter yang memiliki IDI, profesi assassin digambarkan memiliki organisasi profesi yang untuk menetapkan standar kode etika profesi tersendiri. Dan bagaikan pengacara, yang di luar saling mengenal satu sama lain namun bisa jadi di dalam persidangan saling menyerang dengan sekuat tenaga, assassin juga digambarkan saling mengenal pribadi satu sama lainnya namun tidak menutup kemungkinan suatu saat harus saling berhadapan mengadu nyawa jika memiliki kontrak yang berseberangan atau mungkin kontrak untuk membunuh salah satu di antara mereka.

john-wick-chapter-2-2

Untuk aksi laga sudah tidak perlu ditanya lagi. Ibaratnya anekdot “don’t change the winning team”, studio tahu betul untuk tetap mempertahankan jajaran cast and crew lama untuk kembali memberikan usaha terbaiknya di sekuel ini. Mungkin hal itu juga yang membuat John Wick: Chapter 2  masih layak ditonton. Deretan adegan koreografi Gun Kata yang masih mampu memacu adrenalin. Sedikit informasi, Gun Kata atau Gun Fu atau Bullet Ballet atau Gymnastic Gunplay adalah perpaduan antara aksi bela diri yang dipadukan dengan penggunaan senjata api. Koreografi ini tidak lepas dari pengaruh perfilman Hong Kong seperti A Better Tomorrow dan film- film Hollywood yang ikut terpengaruh seperti Equilibrium dan Ultraviolet. Kembali ke review, selain adegan aksi laga yang efektif, film ini juga masih menggunakan sinematografi yang didominasi warna biru tua sebagai representasi kesendirian yang dirasakan oleh John Wick. Bukan hanya kehilangan sang istri. Namun kesendirian saat rekan- rekannya berusaha untuk membunuh dirinya.

nefnnzd5xuu1jh_1_b

Sebagai penutup, John Wick: Chapter 2, bisa dikatakan berhasil mengekskalasi kadar keasyikan dari film pertamanya. Tidak menutup kemungkinan franchise ini akan berkembang. Layaknya film Pirates of The Carribbean, paska kesuksesan film pertama langsung dipersiapkan film kedua dan ketiga yang bersambung. Ending jilid kedua ini mengisyaratkan film lanjutan yang akan lebih epic dibandingkan sebelumnya. Selain film, tidak menutup kemungkinan juga nantinya akan ada video game jika ada developer game yang berminat. Melihat template dan aksi Gun Kata memang sangat memungkinkan John Wick dibuatkan video game-nya. Misal bercerita tentang prekuel sebelum kejadian di film pertamanya sebelum Wick pensiun dari profesi haramnya. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

xXx: Return of Xander Cage (2017)

Poster

Directed By: DJ Carusso

Cast: Vin Diesel, Donnie Yen, Deepika Padukone, Kris Wu, Tony Jaa, Ruby Rose, Nina Dobrev, Rory McCann, Michael Bisping, Toni Collette, Samuel L. Jackson, Neymar Jr., Hermione Corfield

Synopsis:

Sekelompok teroris menerobos masuk ke kantor CIA dan berhasi mencuri sebuah alat bernama Pandora Box, yang bisa merusak dan menjatuhkan satelit ke bumi. Salah satu korban dari satelit jatuh tersebut adalah Augustus Gibbons (Samuel L. Jackson). Untuk melawan geng teroris yang dipimpin oleh Xiang (Donnie Yen), agen CIA, Marke (Toni Collette) memanggil kembali agen xXx, Xander Cage (Vin Diesel) untuk melacak dan merebut kembali Pandora Box.

Review:

1

Medio pergantian Milenium menjadi masa keemasan bagi Vin Diesel. Pasalnya, pada masa- masa itu, aktor yang memiliki saudara kembar ini, mendapatkan predikat sebagai aktor aksi laga baru. Bersama mantan pegulat bebas, Dwayne Johnson, Diesel dinobatkan sebagai the next Stallone dan Schwarzenegger. Berkat 3 film yang melejitkan namanya; Pitch Black, xXx, dan The Fast and The Furious. Meledaknya film- film yang tadinya dianggap sebagai kuda hitam, membuat para pemodal ingin memanfaatkan popularitas Diesel yang kala itu sedang menanjak untuk meneruskan film- film aksi tersebut menjadi sebuah franchise. Namun Diesel lebih memilih untuk meneruskan perannya sebagai Richard B. Riddick dan menolak membintangi sekuel dua film lainnya. Namun ternyata pilihannya kurang tepat, karena pasalnya The Chronicles of Riddick, yang mengusung tema lain daripada Pitch Black menjadi bulan- bulanan kritikus.

2

Namun untungnya Diesel menyadari kesalahannya tersebut. Dengan kembalinya memerankan Dominic Toretto lewat penampilan cameo-nya dalam jilid ke-3 The Fast and The Furious, Diesel menyatakan untuk kembali ke franchise yang sekarang menjadi salah satu ladang emas bagi Universal Pictures itu. Mungkin digamangi oleh kecemasan orang bosan dengan film balap- balapan, pada tahun 2006 Diesel mengumumkan untuk meneruskan sepak terjang Xander Cage lewat installment ketiga xXx, meski pada film keduanya sudah diceritakan tewas di Bora Bora.

3

Saat melihat film ketiganya, yang memiliki style berbeda dengan kedua film pertamanya, membuat kita mengingat franchise Mission: Impossible, yang setiap serinya memiliki style beragam mengikuti ciri khas sutradaranya. Jika pada jilid kedua, nuansa Afro American- nya kental sekali, pada jilid ketiga ini D.J. Carusso semakin mengentalkan aura generasi MTV yang ditonjolkan lewat hingar bingar, hura- hura, dan alunan musik kerasnya. Lah, sama dong sama film pertama? Untuk membedakannya, Carusso menambahkan unsur komedi konyol yang lebih banyak dan malah terkadang seperti meledek peran para aktor di film lainnya. Selain itu, dengan mengkopi style Tom Cruise pada Mission: Impossible atau Sylvester Stallone pada The Expendables, Diesel merubah template film menjadi team action movie yang hanya menonjolkan satu karakter utama saja.

4

Namun atmosfir The Fast and The Furious kental terasa dalam film ini. Apalagi dengan memainkan unsur teamwork yang kebanyakan dilakoni aktor- aktris kurang terkenal. Dengan ini, Diesel mencoba bermain aman. Dalam arti, Diesel mencoba untuk mem-familiar-kan plot filmnya di mata para fans. Dan para aktris/ aktor baru juga bisa berdoa syukur- syukur bisa ikut terkenal. Namun bisa jadi bumerang juga. Takutnya seperti Gal Gadot dan Sung Kang yang “dimatikan” dalam franchise kebut- kebutan, sebagai bentuk konsekuensi kekurang tenarannya, agar franchise tidak terlalu penuh dan memberikan ruang untuk aktor- aktor lebih terkenal seperti The Rock dan Jason Statham. Bisa jadi hal ini akan cukup mencemaskan bagi jajaran pendatang baru di film ketiga ini, kalau- kalau karakter mereka terpaksa “dipensiunkan” demi masuknya aktor yang lebih menjual.

5

Melihat film ini ada 2 catatan yang bisa kita perhatikan. Yang pertama adalah, Return of Xander Cage mengikuti film- film belakangan ini yang seperti ingin mengakrabkan diri dengan pasar RRC. Seperti kita ketahui, banyak film unggulan belakangan ini yang memakai bintang mandarin untuk memancing minat penonton RRC. Dalam film ini diwakilkan oleh Donnie Yen; yang menggantikan Jet Li, Kris Wu, dan Tony Jaa (yang meskipun bukan dari RRC, tapi film- filmnya sangat akrab di mata penonton Asia. Yang kedua adalah film ini cowok banget. Seperti jajaran cewek cakep (Ruby Rose, Deepika Padukone, Nina Dobrev, Hermione Corfield, dan Ariadna Gutierrez- Arevalo) yang pastinya akan memanjakan mata para wanita, juga adegan aksi yang sangat menegangkan. Ditambah bonus penampilan pemain depan Barca berkebangsaan Brazil, Neymar Jr.

6

Secara garis besar, film ini masih cukup menghibur. Meskipun masih jauh di bawah kualitas film pertamanya (tapi masih di atas film kedua) dan barisan cameo yang cukup menarik. Ditambah twist di akhir kisah yang sangat menggelitik. Plot dan skenario tidak perlu diambil pusing. Meski dipenuhi banyak plothole tidak jadi masalah. Karena bukan skenario yang dicari saat menonton film ini. Akhir kata, saya ingin mengkutip kalimat dari Agent Gibbons “Let me simplify for you. Kick some ass, get the girl, and try to look dope while you do it.” (dnf)

Rating:

7.5/10

 

The Great Wall (2016)

Poster

Directed By: Zhang Yimou

Cast: Matt Damon, Pedro Pascal, Andy Lau, Willem Dafoe, Tian Jing

Synopsis:

William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascal) adalah dua tentara bayaran yang selamat dari tim ekspedisi untuk mencari bubuk mesiu di daratan Cina kuno. Mereka berlindung di tembok panjang yang ternyata berfungsi untuk menghalau monster kuno yang gemar memakan daging manusia. Merekapun mau tidak mau harus ikut membantu para pejuang, yang di antaranya adalah Komandan Lin Mei (Tian Jing) dan ahli strategi Wang (Andy Lau).

Review:

1

Tembok Cina merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia yang dijadikan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1987. Tembok yang dibangun secara bertahap selama lebih dari 2000 tahun ini sebenarnya merupakan kesatuan dari berbagai macam tembok. Meski banyak spekulasi tentang fungsi dibangunnya tembok ini, namun salah satu yang paling terkenal adalah sebagai penghalang dari serangan bangsa dari utara. Sehingga seringkali tembok cina dianggap sebagai simbol kesatuan dari rakyat Cina, yang pada saat itu terdiri dari berbagai macam kerajaan. Sama halnya dengan situs- situs warisan budaya di dunia, tembok Cina juga diselimuti dengan berbagai macam legenda, mitos, serta cerita rakyat. Tidak sedikit malahan kisah fiksi baru yang dibuat untuk menggambarkan latar belakang bangunan tersebut. Salah satunya adalah film The Great Wall ini.

2

Zhang Yimou telah membuktikan sekali lagi kemampuannya untuk mencampur gaya perfilman Hong Kong serta Hollywood. Seperti yang pernah dia lakukan lewat The Flowers of War tahun 2011 lalu. Salah satu kekuatan dari film ini adalah kemampuan tim sinematografi hasil kerjasama antara Stuart Dryburgh dan Xiaoding Zhao. Dryburgh yang kemampuannya dalam sisi pewarnaan telah kita nikmati lewat The Secret Life of Walter Mitty sangat sempurna saat mengkolaborasikand iri dengan Zhao yang tangannya sangat cekatan dalam memadukan warna- warni yang kontras. Sehingga, seperti bisa dilihat dari pemilihan warna kostum, film ini layaknya membaca komik tiongkok atau kartun mandarin yang biasanya warna- warni kostum sangat dominan dan berwarna- warni.

3

Tanpa drama dragging yang terlalu berbelit- belit khas film Mandarin, film The Great Wall menyajikan tempo kisah yang sangat cepat. Bahkan dari awalpun, film sudah dibuka dengan sajian penyerangan para monster yang cukup menegangkan sambil menunjukkan kemampuan tempur para tokoh. Hanya saja pertempuran klimkas kurang begitu digarap dengan baik, meskipun sebenarnya masih cukup watchable. Penyelesaian yang ditawarkan terlalu simple untuk suatu wabah yang sudah meneror daratan Tiongkok selama ribuan tahun ini.

4

Pemilihan pemain juga sangat pas. Dan yang cukup menarik perhatian adalah Pedro Pascal, yang kembali bisa berperan sebagai sidekick yang setia dan manusiawi, seperti yang pernah dia bawakan dalam serial Narcos. Dan yang benar- benar paling menarik adalah Tian Jing. Apalagi kalau bukan dari segi bentukan yang memang benar- benar menyegarkan mata. Aktris yang ke depannya akan mendapatkan peran- peran yang cukup signifikan dalam film- film unggulan seperti Kong: Skull Island serta sekuel Pacific Rim ini bisa saja akan menjadi Michelle Yeoh berikutnya yang namanya cukup terdengar di perfilman Hollywood. Who Knows?

5

^^^^^^^ INI DIA TIAN JING… Cakep kan…!!!!

Rating:

7.5/10

Headshot (2016)

tiff-2016-headshot-poster

Directed By: Timo Tjahjanto, Kimo Stamboel

Cast: Iko Uwais, Julie Estelle, Chelsea Islan, Sunny Pang, Very Tri Yulisman, Zack Lee, David Hendrawan, Ganindra Bimo

Synopsis:

Seorang pemuda (Iko Uwais) ditemukan tidak sadarkan diri dengan luka tembakan di kepala. Dirinya dirawat di Rumah Sakit oleh seorang mahasiswi kedokteran Ailin (Chelsea Islan). Tidak mengetahui namanya sendiri, Ailin memberikan nama Ishmael. Namun ternyata, Ishmael, yang kemudian diketahui memiliki nama asli Abdi, menjadi incaran seorang gembong kriminal, Lee (Sunny Pang) yang mengutus anak buah- anak buahnya, Rika (Julie Estelle), Besi (Very Tri Yulisman), Tano (Zack Lee), dan Tejo (David Hendrawan) untuk membunuh Abdi.

Review:

1

Paska kesuksesan The Raid pada tahun 2011, yang diikuti sebuah sekuel 3 tahun kemudian, melahirkan trend baru di dunia perfilman Nasional. Kesuksesan, baik secara finansial maupun secara respon, membuat banyak produser yang tergiur untuk sedikit mengecap dan memanfaatkan momen tersebut. Ada beberapa yang beruntung bisa mengajak alumni The Raid, sebut saja seperti Iko Uwais, Cecep Arif Rahman, atau Kang “Greget” Yayan Ruhiyan. Tapi ada juga yang mencoba dengan bintang baru (dalam dunia perfilman). Namun tidak banyak yang bisa menyamai kualitas film arahan Gareth Evans tersebut. Kebanyakan masuk kategori “numpang lewat” saja. Di antara beberapa sineas yang mencoba untuk mengikuti jejak The Raid adalah duet sutradara yang terkenal dengan film- film “sakit” nya, Mo Brothers.

2

Secara materi promosi, film ini cukup berhasil menarik minat pecinta film nasional. (meskipun banyak yang suka ngomong “ah film Indonesia.. pasti jelek” atau “ah 2 bulan lagi juga masuk TV) —> shame on you, guys! Apalagi dengan masuknya 3 aktor gawang terdepan sekuel The Raid dan track record Mo Brothers yang selalu melahirkan karya berkualitas. Ditambah dengan strategi mereka yang selalu menayangkan terlebih dahulu di festival- festival film Internasional, sudah pasti akan menjadi daya jual tersendiri. Trailer yang dirilis juga berhasil mencuri perhatian (siapa sih yang gak meleleh lihat Chelsea Islan tampang baik- baik pakai kacamata?). Namun sayangnya, hasil akhirnya tidak sehebat yang diharapkan. Oke, secara kualitas film aksi sudah cukup bagus, tapi secara keseluruhan film cukup disayangkan.

3

Kita sudah pasti tidak mengharapkan cerita yang sangat kompleks atau bagus. Jika kita menoleh ke belakang, The Raid memiliki cerita standar, namun menonjolkan kualitas aksi, yang bahkan menjadi trend setter tersendiri secara internasional. Namun berbanding terbalik dengan sekuelnya. Meskipun secara kualitas aksi mengalami peningkatan dan tidak mengecewakan, namun cerita yang terlalu dibuat kompleks malah menjadi bumerang tersendiri dengan adanya kekecewaan- kekecewaan penonton. Seharusnya Mo Brothers bisa belajar dari situ. Secara premis, memang film Headshot sangat simple. Dengan perpaduan antar plot Hard to Kill, The Bourne Identity, dan Ninja Assassins, penonton mengharapkan aksi yang full package. Namun hasil akhirnya, ternyata Mo Brothers mencoba untuk memberikan sub plot yang cukup dragging.

4

Sebenarnya jika ingin membuat cerita lebih kompleks, akan lebih menarik jika unsur yang ditonjolkannya adalah pergolakan batin Abdi dalam melawan saudara- saudara angkatnya dalam perkelahian sampai mati ketimbang mengedepankan unsur romance nanggung yang malah membuat film terasa cheesy. Tensi ketegangan juga relatif menurun sejalan dengan durasi film. Adegan pembuka yang memperkenalkan sosok Lee yang sadis, manipulatif, dan pintar cukup memberikan janji positif terhadap penonton. Hingga pertengahan film, bisa dikatakan adegan aksinya cukup menegangkan. Sayangnya di pertengahan sempat mengalami penurunan. Namun Uwais Team kemudian membayarnya dengan pertarungan klimaks antara Abdi dan Lee yang sedikit mengingatkan kita kepada pertarungan Mad Dog melawan Rama dan Andi di film The Raid.

5

Saya merasa skill Iko kurang begitu dikeluarkan secara maksimal di dalam film ini. Kita masih ingat bagaimana dia dan tim menjadi bagian koreografi dalam film The Raid 2, yang cukup berhasil dan efektif. Di sini kualitas koreografinya mengalami penurunan. Namun saya cukup maklum, mengingat film ini tidak murni hanya martial arts. Penggunaan senjata api juga menjadi bagian penting di beberapa action sequence. Tapi jika berbincara mengenai jajaran cast, pemilihan pemain sudah cukup baik. Masing- masing bintang filmnya sudah berhasil membawakan karakternya masing- masing lebih hidup. Apalagi Sunny Pang yang berhasil memainkan karakter villain dengan sangat baik. Dan aktor Singapura ini menunjukkan kebolehannya dalam berbahasa Indonesia.

6

Jika ingin diambil kesimpulan, film Headshot masih masuk kategori watchable. Apalagi bagi kalian yang kangen dengan penampilan Iko Uwais ngebantai lawan- lawannya. Meskipun masih memiliki banyak kekurangan di sana- sini, namun setidaknya film ini masih memiliki kualitas yang cukup baik dibandingkan dengan pengekor- pengekor The Raid lainnya. Saya berharap di film berikutnya, The Night Comes For Us, Timo bisa membuat film aksi laga yang lebih brutal dan mengurangi scene- scene dragging-nya. Lho? Jadi diproduksi ya The Night Comes For Us? Insya Allah jadi brosis… Di antara jajaran pemain ada nama- nama Iko Uwais, Joe Taslim, Sunny Pang, Julie Estelle, Zack Lee, Abimana Aryasatya, Hannah Al Rasyid, Shareefa Daanish, dan (ehem ehem ehem)… Dian Sastro. (dnf)

Rating:

7.5/10

 

Sing (2016)

sing2016

Directed By: Garth Jennings, Christophe Lourdelet

Cast: Matthew McConaughey, Reese Witherspoon, Seth McFarlane, Scarlett Johansson, John C. Reilly, Tori Kelly, Taron Egerton, Nick Kroll

Synopsis:

Buster Moon (Matthew McCognauhey) adalah seekor koala yang sangat mencintai theatre. Cita- citanya tercapai ketika dia berhasil memiliki theatre yang menjadi cinta pertamanya itu. Hanya saja, dirinya kurang beruntung dalam berbisnis. Untuk memulihkan keadaan ekonominya, Moon mencoba untuk mengadakan audisi tarik suara yang kemudian memilih beberapa ekor finalis; Mike si tikus (Seth McFarlane), Meena si gajah (Tori Kelly), Johnny si gorilla (Taron Egerton), Ash si landak (Scarlett Johansson), dan duo babi, Rosita (Reese Witherspoon) dan Gunter (Nick Kroll).

Review:

1

Bagi yang mengikuti industri musik pasti mengetahui paska munculnya kontes adu bakat yang dimotori oleh World Idol, melahirkan banyak sekali bakat- bakat alami penyanyi amatir yang membangun mimpi untuk menjadi artis. Selain itu dengan kesuksesan franchise acara tersebut, melahirkan acara- acara sejenis di setiap negara. Seperti The Voice, Akademi Fantasi, dan mungkin yang sedang booming di negara kita Dangdut D’Academy. Tak heran jika kemudian membuat anak- anak muda tertarik untuk menekuni bidang ini, setelah sebelumnya hingga medio 90-an, anak- anak remaja berbondong- bondong untuk mendirikan band amatir. Beberapa filmpun telah menceritakan perihal dunia tarik suara (bukan film musikal), seperti Pitch Perfect dan Duets yang berfokus masing- masing kepada Group Acapella Performance dan Duet.

 

Adapun seperti kebanyakan film yang menonjolkan musik, yang perlu diperhatikan adalah cast harus memiliki kualitas olah vokal yang menjual. Begitu juga dengan film ini. Meskipun nama- nama yang dipilih masuk ke dalam jajaran cast kebanyakan adalah bintang film populer, namun dengan pedenya mereka mampu menyanyikan lagu layaknya seorang biduan. Wallahu A’lam sih pake effect apa di mix macem- macem. Hanya saja, tidak sedikit yang menduga bahwa performance suara pada saat karakter sedang bernyanyi dibawakan oleh voice cast berbeda dengan aktor tersebut. Sebut saja Seth McFarlane yang mampu bernyanyi ala Frank Sinatra, Johansson yang mamppu menghidupkan karakter yang berkiblat pada Avril Lavigne, Taron Egerton yang bisa membawakan versi gorillanya Bruno Mars, dan Reese Witherspoon yang memiliki karakter penyanyi seperti Taylor Swift.

4

Kumpulan tembang populer yang dipilih dan di remix cukup menarik. Musik yang dipilih dari berbagai macam genre memang sangat menghibur. Hanya saja, terkadang penempatan musik dirasa kurang tepat. Seperti ada satu karakter yang dipersiapkan untuk tampil sebagai biduan pamungkas, malah di penampilan akhirnya tampil dengan performance yang menurun jika dibandingkan dengan performance di beberapa scene sebelumnya. Ibarat kata, seorang finalis kontes adu bakat dari audisi sampai semi final berhasil memikat hati, namun pada saat grand final malah salah memillih lagu dan mengalami penurunan kualitas. Oke, mungkin bukan kesalahannya. Mungkin kesalahan pemilihan lagu dan komposer yang kurang oke dalam mempersiapkan tembang final tersebut.

3

Sayangnya dari segi cerita sangat biasa- biasa saja. Apalagi belum lama ini ada animasi Moana, yang memang sangat bagus dalam segi cerita. Terlihat memang fokus dalam film ini adalah performance tarik suara dan bukan dari plot kisah. Untungnya masih tertolong dengan design karakter yang cukup bersahabat (mengingatkan Zootopia malahan) dan joke yang masih tepat sasaran. Dengan kata lain, Sing bisa dijadikan hiburan pilihan. Terutama bagi anda yang menggemari dunia tarik suara (seperti saya). Dijamin akan terhibur. Saya sangat sangat dan sangat mengharapkan sekuelnya. Karena memang ceritanya bisa dikembangkan lebih luas lagi. (dnf)

Rating:

8.5/10

 

 

Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

fantastic_beasts_and_where_to_find_them_ver4_xxlg

Directed By: David Yates

Cast: Eddie Redmayne, Collin Farrell, Katherine Waterston, Alison Sudol, Dan Fogler, Ezra Miller

Synopsis:

Newt Scamander (Eddie Redmayne) adalah seorang penulis yang mendarat di kota New York dalam rangka melengkapi misinya untuk melestarikan hewan- hewan fantasi yang ada di seluruh dunia. Dia terjebak di sebuah insiden yang dapat membahayakan dunia sihir dan dunia manusia, setelah beberapa hewan fantasinya lepas. Dengan dibantu oleh dua penyihir adik- kakak, Tina (Katherine Waterston) dan Queenie (Alison Sudol) serta seorang manusia biasa, Kowalski (Dan Fogler) mereka harus menyelamatkan hewan- hewan fantasi sebelum menjadi kambing hitam dari semua insiden tersebut.

Review:

ghostbusters-2016-reboot-movie-review-chris-hemsworth

Siapa yang tidak tahu Harry Potter? Nama penyihir paling terkenal tersebut sudah menjadi salah satu ikon industri hiburan, layaknya James Bond, Superman, ataupun Batman. Pasalnya karakter yang diangkat dari buku seri hasil imajinasi J.K. Rowling ini bisa dikatakan cukup sukses di tangga box office dan kerap mendapatkan rating positif dari berbagai macam situs review film. Keberadaannya juga telah menciptakan trend tersendiri di genre aksi fantasi yang diekori oleh pengadaptasian literatur- literatur Young Adult lainnya. Namun sampai sekarang belum ada satupun yang berhasil mencetak rekor adaptasi keseluruhan ceritanya. Kecuali Twilight yang bagi saya pribadi berbeda dengan genre yang diusung oleh Harry Potter. Jika dibandingkan Harry Potter mungkin lebih mirip dengan karya- karya Rick Riordan.

2

Lalu ketika film dan bukunya tamat apakah berhenti sampai di situ saja? Well, siapa sih yang gak doyan duit? Selama masih ada permintaan dan kans yang baik di pasar, sudah pasti tidak akan disia- siakan. Beberapa di antaranya adalah menerbitkan buku Quiditch Throught The Ages dan Fantastic Beasts and Where to Find Them yang merupakan buku yang diposisikan sebagai buku yang dibaca Harry Potter. Dan yang belum lama ini adalah dengan membuat naskah drama Harry Potter and The Cursed Child yang sempat menuai kontroversi karena me-negro-kan karakter Hermione. Khusus buku Fantastic Beasts and Where to Find Them didaulat sebagai ensiklopedia hewan- hewan fantasi di dunia Harry Potter, baik yang sempat tampil maupun yang belum. Menariknya lagi, buku yang merupakan salah satu buku kurikulum di tahun pertama sekolah sihir Hogwarts ini ditulis oleh Newt Scamander, karakter fiksi yang sempat disebut dalam beberapa kisah dan menjadi nama pena Rowling dalam menulis buku ini. Namun untuk filmnya, dikisahkan sebagai latar belakang kisah pembuatan buku ini oleh Scamander yang direncanakan akan bergulir selama 5 seri.

sfsfsdfs

Dua hal yang sangat menarik dalam film ini. Yang pertama adalah casting yang nyaris sempurna. Eddie Redmayne memang sangat pas dalam menghidupkan karakter Scamander. Dan memang dirinya merupakan pilihan tepat untuk memerankan karakter- karakter aneh dan freak, seperti yang pernah dibawakannya lewat The Theory of Everything dan The Danish Girl. Berikutnya nama Dan Fogler memberikan sisi komikal dalam film ini yang mengingatkan kita pada karakter sidekick Ron Weasley. Dan mungkin jika ingin menyebutkan satu aktor lagi, Collin Farrell bermain sangat pas sebagai karakter antagonis. Yang kedua yang mampu membuat film ini menjadi menarik adalah polesan CGI yang begitu indah. Apalagi dalam menampilkan karakter mahluk- mahluk fantasi yang lucu dan juga mengerikan. Layaknya film- film Harpot lainnya, CGI menjadi salah satu unsur utama yang sangat diperhatikan dalam membawakan dunia magis ke dalam layar.

maxresdefault

Dengan memilih film ini sebagai adaptasi bebas dari buku yang juga dikarangnya, membuat J.K. Rowling menjadi bebas berekspresi tanpa harus terikat oleh buku yang biasanya menjadi kendala dalam mengadaptasi cerita. Seperti yang sudah diketahui oleh penonton, saat mengadaptasi buku biasanya membuat sebuah film kehilangan esensi dan tidak lagi semenarik saat membaca buku. Terbatasnya imajinasi yang dipatok dalam sebuah film serta plot yang mungkin diperingkas untuk keperluan durasi, yang terkadang menjadi bumerang bagi studio dan mendatangkan hujatan dari fans setianya. Tapi saat membuat cerita bebas dari buku yang sudah ada, menjadi sebuah ceritaan yang menarik dan tentunya akan terbebas dari kekangan- kekangan yang seperti saya sebutkan tadi. Dan hal itu sangat dimanfaatkan oleh penulis yang tercatat sebagai penulis buku terkaya itu. Eksplorasi imajinasinya terlihat dalam lebih fokusnya dia dalam membuat sajian sihir- sihiran, meski secara plot tidak sehebat seri Harpotnya. Namun hal tersebut tidak menjadi ganjalan karena akhirnya menjadikan film ini mudah dinikmati oleh setiap kalangan. Ditambah lagi sebuah “kejutan” di akhir kisah yang pastinya akan memuaskan bukan hanya Potterhead semata, tapi seluruh penonton.

FTB933_FBST_DTR4 2055.tif

Fantastic Beats and Where to Find Them berhasil meneruskan tongkat estafet Harpot franchise yang telah berakhir lewat Harry Potter and The Deadly Hallows: Part II pada tahun 2011 lalu. Dengan harapan, nantinya mampu menyaingi MCU atau jika memungkinkan Star Wars dan James Bond dalam eksis di industri layar perak. Tidak menutup kemungkinan jika nantinya seri ini sukses sampai 5 seri, seperti yang sudah direncanakan, Warner Bros akan meneruskan dengan mengadaptasi secara bebas buku Quidicth Through The Ages. (dnf)

Rating:

7.5/10